Tag: pembunuhan

Wanita Pembunuh Paling Ditakuti Tertangkap

Wanita Pembunuh Paling Ditakuti Tertangkap

Salah satu wanita pembunuh paling terkenal di Meksiko, yang dikenal sebagai “La China”, telah ditangkap setelah pacarnya berkicau di hadapan polisi.

Melissa Margarita Calderon Ojeda, 31 tahun, adalah wanita pembunuh paling kejam di Meksiko. Dia diyakini terkait dengan lebih dari 150 pembunuhan, baik secara langsung dan tidak langsung.

Hingga penangkapannya pada akhir pekan, dia adalah pemimpin dari kelompok pembunuh, atau di Meksiko dikenal sebagai “sicaria”, yang bekerja untuk geng kriminal, Los Antrax.

“Dia benar-benar kejam dalam membunuh orang. Dia sangat disegani dan merupakan pembunuh berdarah dingin,” kata Mike Vigil, mantan kepala DEA kepada San Antonio Express-News.

Los Antrax dikenal sebagai kaki tangan Kartel Sinola, yang dianggap kelompok kartel narkoba dan perdagangan manusia terkuat di dunia oleh unit intelijen Amerika Serikat.

Calderon Ojeda mengepalai sekitar 50 anggota yang disebut Los Damasco, yang telah menerima pelatihan dalam taktik militer dan bertanggung jawab untuk operasi khusus di dalam Los Antrax.

Dia diyakini mulai bekerja sebagai seorang pembunuh beberapa tahun yang lalu ketika ia mulai berkencan dengan salah satu anggota Los Damasco, Erick Davalos Von Borstel. Saat itu usianya baru 20 tahun.

Baru-baru ini Calderon Ojeda diperintahkan untuk menyerahkan pucuk pimpinan unit pasukan khusus kepada anggota kartel lainnya yang baru dibebaskan dari penjara.

Dalam perebutan tersebut, Calderon Ojeda yang dijuluki El Grande dilaporkan telah mencekik mantan kekasihnya karena berbicara terlalu banyak.

Dia juga memutuskan untuk menyerang sendirian dan berusaha untuk merebut kendali Los Damasco.

Sayangnya pacar barunya, Hector Pedro Camarena Gomez, yang dikenal sebagai “El Chino”, yang menyerahkan dia kepada DEA.

El Chino adalah wakil ketua Los Damasco sampai ia ditangkap oleh polisi. Dia dilaporkan menunjukkan kuburan massal dari beberapa korban Calderon Ojeda dan berbagi informasi tentang polisi korup di bawah kendalinya, dengan imbalan pengurangan hukuman.

Calderon Ojeda dilaporkan ditangkap pada akhir pekan dekat bandara internasional di Cabo San Sucas, Meksiko. Saat itu dia mencoba untuk melarikan diri ke barat laut kota Culiacan, Sinaloa.

Identitasnya dilaporkan dikonfirmasi oleh sidik jari, mugshots masa lalu, dan tatonya berupa kupu-kupu di perut dan bahu kanannya serta ikan, bunga dan huruf Mandarin di punggungnya dan huruf “A” di lengan kanannya.

Alvaro de la Pena, sekretaris jenderal Baja California Sur, membenarkan kabar penangkapan Ojeda pada hari Minggu lalu. “Kami berhasil menangkapnya dengan cara yang benar-benar bersih, tanpa ada peluru,” kata La Pena kepada Fox News.[] Sumber: dream.co.id

PN Takengon Gelar Sidang Lanjutan Kasus Pembunuhan Kepala Pegadaian

PN Takengon Gelar Sidang Lanjutan Kasus Pembunuhan Kepala Pegadaian

TAKENGON – Pengadilan Negeri Takengon kembali menggelar sidang lanjutan kasus pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon dengan agenda mendengar keterangan saksi, Rabu, 7 Oktober 2015 sekitar pukul 10.15 WIB.

Jaksa Penuntut Umum menghadirkan empat saksi dalam sidang itu termasuk Said Thaha yang juga suami Siti Jamilah, korban pembunuhan. Saksi lainnya adalah pasangan suami isteri Sofyan Arif-Sudarsih (tetangga korban) dan Dodi Kurniawan selaku petugas keamanan Kantor Pegadaian Cabang Takengon. Sementara Lili Suparli, SH, MH dan Rudi Hermawan, SH, bertindak sebagai JPU.

Sidang dipimpin oleh Nasri SH, MH sebagai hakim ketua dan Rahmawan SH, serta Edo Junian sebagai hakim anggota.

Said Thaha dalam keterangannya mengaku komunikasi terakhir dengan korban dilakukan pada 19 Maret 2015 sekitar pukul 17.30 WIB. Dia mengatakan setelah maghrib dirinya sempat kembali menghubungi Siti Jamilah. Namun korban tidak mengangkat telepon masuk.

Said kemudian menghubungi Sofyan Arifin, tetangga korban, untuk mengecek keadaan Siti Jamilah. Namun pintu tertutup saat Sofyan Arifin bersama istrinya, Sudarsih, menyambangi rumah korban. Mereka kemudian pulang.

Sofyan Arifin lantas menghubungi Said Thaha untuk mengatakan korban tidak membuka pintu rumahnya sekitar pukul 21.30 WIB.

Keeseokan harinya, Sofyan Arifin bersama istrinya Sudarsih dan anaknya Desi serta Dodi Kurniawan yang bertugas sebagai Satpam Kantor Pegadaian kembali mendatangi rumah korban. Mereka ingin memastikan kondisi Siti Jamilah yang tidak menjawab salam dan membuka pintu rumah pada malam sebelumnya.

Saat itulah mereka terkejut melihat kondisi Siti Jamilah yang tergeletak bersimbah darah di ruang tamu rumahnya.

“Sesudah itu langsung kami kabari kepala dusun, dan warga langsung berkerumun di tempat kejadian perkara,” kata Sofyan.

Kabar ini kemudian sampai ke Said Thaha, suami korban, sekitar pukul 07.30 WIB.

“Saya langsung ke Takengon dan begitu melihat keadaan isteri saya saat itu yang telah berada di ruang jenazah BLUD Datu Beru, saya langsung lemas dan tak berdaya menahan sedih,” kata Said Thaha, sembari beberapa kali mengusap air matanya.

Hakim kemudian menunda sidang pembunuhan tersebut usai mendengar keterangan empat saksi. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengar saksi lanjutan pada 26 Oktober 2015 mendatang.

Ke empat terdakwa kasus pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon turut dihadirkan dalam sidang tersebut. Mereka turut didampingi oleh pengacaranya. Usai sidang, ke empat terdakwa kembali dititipkan ke Rumah Tahanan kelas II-B Takengon.

Ditemui secara terpisah, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Takengon, Eprin, SH, mengatakan, ke empat terdakwa bakal dijerat dengan pasal 340 KUHP, 339 KUHP, 365 KUHP (dakwaan kombinasi) tentang pembunuhan berencana. Jika terbukti bersalah, terdakwa bisa terancam hukuman mati, penjara seumur hidup, atau 20 tahun penjara.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Pegadaian Cabang Takengon, Siti Jamilah, 40 tahun, ditemukan tewas mengenaskan di rumah kontrakannya, di Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, pada Jumat, 20 Maret 2015 lalu. Korban ditemukan warga dengan kondisi berlumuran darah dan mulut tersumpal kain serta terdapat luka sobek di bagian leher.

Dalam kasus itu, polisi telah menetapkan empat tersangka. Tiga tersangka di antaranya berasal dari Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Mereka adalah Rizki (22 tahun), Rudi (39 tahun), dan Roni Chandra (35 tahun).

Sementara tersangka ke empat adalah Rahmat, 31 tahun, warga Kampung Cinta Damai, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah.

Polisi juga telah menetapkan tersangka utama dalam kasus terserbut, yakni Roni Chandra, 35 tahun, yang diringkus di Sumatera Utara beberapa waktu lalu.[](bna)

Din Minimi Jadi Terduga Eksekutor Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

Din Minimi Jadi Terduga Eksekutor Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Faisal Rani alias Komeng mengatakan ada enam orang yang terlibat membunuh dua anggota TNI dari Kodim 0103 Aceh Utara pada 23 Maret 2015 lalu. Hal tersebut diakui oleh Komeng dalam rekonstruksi pembunuhan dua anggota TNI di Mapolres Lhokseumawe, Selasa, 6 Oktober 2015.

Komeng mengatakan dalam eksekusi tersebut ada sekitar 30-an orang bersenjata api anggota komplotan Din Minimi. Komeng juga mengatakan penembakan terhadap salah satu korban awalnya dilakukan oleh Nurdin Ismail alias Din Minimi. Kemudian diikuti oleh Azhar alias Bahar (DPO), Alue alias Anak Yatim (DPO), Jalfanir alias Teungku Plang (P-21), dan Yusrizal (tewas).

Setelah tersungkur, lalu Faisal alias Komeng kembali menembak untuk memastikan korban tewas. Sementara Alue alias Anak Yatim memeriksa kondisi korban seraya membuka borgol dan tali di tangan ke dua anggota TNI tersebut.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir, SE, mengatakan, rekonstruksi ini sengaja digelar di Mapolres Lhokseumawe karena hasil dari koordinasi antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lhoksukon. Rekonstruksi ini juga turut melibatkan pihak JPU.

“Hal itu juga untuk menjaga keamanan dikarenakan kasusnya sangat atensi. Apalagi korban tersebut juga dari kalangan aparat, untuk keselamatan dari pada tersangka dan suasana dari rekonstruksi tidak terhambat, maka dari itu kita lakukan di halaman Mapolres Lhokseumawe,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dia mengatakan kasus tersebut sedang menunggu proses pemberkasan. “Kalau memang ini sudah tuntas semuanya dan telah P21, lalu akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhoksukon untuk diproses lebih lanjut,” katanya.[] (bna)

Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Penyidik Kepolisian Resort Lhokseumawe menggelar rekonstruksi kasus penculikan disertai pembunuhan terhadap Sertu Indra Irawan (41) dan Serda Hendrianto (36) di Mapolres Lhokseumawe, Selasa, 6 Oktober 2015. Kedua korban merupakan anggota TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0103 Aceh Utara.

Rekonstruksi tersebut digelar dengan disaksikan oleh tim dari Kejaksaan Negeri Lhoksukon. Polisi turut menghadirkan tersangka Faisal Rani alias Komeng yang bertindak sebagai komandan operasional kelompok tersebut.

Dalam rekonstruksi itu, personil penyidik memeragakan enam adegan mulai dari penculikan hingga proses eksekusi tewasnya dua anggota TNI tersebut. Faisal Rani alias Komeng dalam rekonstruksi menyebutkan ada sekitar 30-an orang saat eksekusi terjadi. Mereka adalah komplotan bersenjata Din Minimi dan juga kelompok Abu Razak cs.

Awal peragaan tersebut, Komeng beserta lima temannya tersesat di hutan. Kemudian mereka bertemu dengan Azhar alias Bahar (DPO) beserta kawan lainnya di kawasan jembatan kecil Desa Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Azhar alias Bahar tersebut memberikan hukuman kepada Komeng cs karena telah tersasar. Tak lama kemudian, tiba satu unit Mobil Kijang LGX warna hitam yang ditumpangi korban. Abu Azis (DPO) dan Alue alias Anak Yatim (DPO) menyetop mobil tersebut dengan menodongkan senjata.

Dia kemudian memerintahkan korban turun dari mobil. Para korban juga diperintahkan untuk tiarap. Tersangka lantas memborgol kedua korban sementara Ridwan (tewas) bertugas memindahkan mobil ke semak-semak.

Korban kemudian diintruksikan untuk jalan dengan ditodong senjata oleh Abu Azis dan Alue alias Anak Yatim. Tersangka Abu Azis kemudian mengambil senjata FN milik korban dan menyerahkannya kepada Nurdin alias Din Minimi (DPO). Korban kemudian diperintahkan untuk berjalan dengan tangan terikat dan terborgol.

Pada adegan terakhir, tim penyidik memeragakan eksekusi penembakan korban. Menurut rekonstruksi tersebut, penembakan terhadap korban diawali oleh Nurdin alias Din Minimi (DPO) kemudian diikuti Azhar alias Bahar, Alue alias Anak Yatim, Jalfanir alias Teungku Plang, dan Yusrizal alias Krape.

Setelah korban tersungkur, tersangka Faisal Rani alias Komeng kembali menembak untuk memastikan korban tewas. Terakhir, Alue alias Anak Yatim membuka borgol dan tali.[](bna)

Pembunuh Mantan Istri Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Aceh Utara

Pembunuh Mantan Istri Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Aceh Utara

LHOKSUKON – Muhammad Ali, 27 tahun, terdakwa pembunuh mantan istri dijatuhi hukuman seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Senin, 5 Oktober 2015 pukul 15.00 WIB. Hukuman itu sama persis dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Zainal Hasan SH, Teuku Almadian SH, Abdul Wahab SH dengan panitera Fauziah. Dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) hadir M Alfiandi Hakim SH. Sementara terdakwa didampingi penasehat hukum Taufik SH.

Usai mendengar putusan dari majelis hakim, JPU dan penasehat hukum menyatakan pikir-pikir dulu. Untuk itu majelis hakim memberi tenggang waktu sepekan untuk hal tersebut.

Dalam persidangan terdakwa terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Pasalnya, saat menemui korban, terdakwa sengaja membawa pisau yang diselipkan di kantong sebelah kiri miliknya.

Untuk diketahui, terdakwa Muhammad Ali, 27 tahun, merupakan warga Desa Panigah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Sementara korban (mantan istrinya), Nuti Sara, 25 tahun adalah warga Desa Tanjong Kemala, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Pembunuhan itu terjadi pada Minggu, 1 Maret 2015 pukul 01.00 WIB. Lokasi pembunuhan berjarak 6 meter dari rumah korban. Sebelum membunuh korban, keduanya sempat cek-cok mulut karena korban menolak diajak rujuk oleh terdakwa.

Terdakwa berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian di kawasan Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Senin, 2 Maret 2015 sekitar pukul 03.00 WIB. Persidangan perdana digelar di Pengadilan Negeri Lhoksukon pada Senin, 8 Juni 2015 lalu.

Terdakwa dituntut hukuman seumur hidup oleh JPU pada persidangan sebelumnya yang digelar Rabu, 26 Agustus 2015.[](bna)

AS Suntik Mati Pria Cacat Mental Atas Pembunuhan Berantai

AS Suntik Mati Pria Cacat Mental Atas Pembunuhan Berantai

Virginia, – Otoritas Virginia di Amerika Serikat mengeksekusi mati seorang terpidana pembunuh berantai. Eksekusi tetap dilakukan meski pria yang hanya ber-IQ 66 itu mengklaim dirinya mengalami keterbelakangan mental.

Alfredo Prieto, pria berumur 49 tahun itu, disuntik mati dan dinyatakan meninggal di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Greensville pada Kamis (1/10) pukul 21.17 waktu setempat. Demikian disampaikan pihak LP dalam statemen seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (2/10/2015).

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pengacara saya, semua pendukung saya, dan semua anggota keluarga saya. Selesaikan ini,” demikian kata-kata terakhir yang disampaikan Prieto.

Prieto dinyatakan bersalah atas pembunuhan sepasang kekasih di Virginia pada tahun 1988 dan telah mendapat vonis mati di California. Dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan setidaknya 9 orang.

Mahkamah Agung AS pada Kamis (1/10) waktu setempat menolak permohonan untuk menunda eksekusi. Padahal pengacara Prieto mengatakan, penundaan akan memberikan waktu bagi pengadilan di California untuk memutuskan soal klaim bahwa Prieto cacat secara intelektual. Para pengacara Prieto mengatakan, klien mereka memiliki IQ 66, sehingga secara konstitusi dia tak bisa dieksekusi.

Eksekusi ini merupakan yang pertama di negara bagian Virginia sejak Januari 2013 lalu. Negara bagian itu telah melakukan 111 eksekusi sejak Mahkamah Agung AS kembali memberlakukan hukuman mati pada tahun 1976.[] Sumber: detik.com

Foto ilustrasi

Nekat Tikam Istri, Suami Halimah Diduga Mengalami Gangguan Jiwa

Nekat Tikam Istri, Suami Halimah Diduga Mengalami Gangguan Jiwa

IDI RAYEUK – Mahdi, suami Halimah, diduga mengalami gangguan jiwa sehingga nekat menghabisi nyawa istrinya. Hal ini disampaikan oleh Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 16.30 WIB.

“Selama ini yang kita lihat dia sedikit mengalami ganguan jiwa. Namun tingkahnya di dalam masyarakat baik-baik saja,” kata Asnawi.

Asnawi mengatakan Mahdi saat ini telah dibekuk petugas Polsek Peudawa. Sementara jenazah Halimah sedang dimandikan di rumah duka dan akan dikebumikan di TPU setempat.

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan almarhumah Halimah meninggalkan enam orang anak.

Sebelumnya diberitakan, Halimah, warga Desa Matang Bungong Kecamatan Peudawa Puntong, Kabupaten Aceh Timur, tewas dibunuh pada Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB. Korban diduga ditusuk dengan pisau oleh suaminya, Mahdi.

“Sebelum kejadian mereka sempat cek cok di dekat kedai setempat yang tidak jauh dengan rumah korban,” ujar Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com.[](bna)

Sempat Cekcok, Halimah Akhirnya Tewas Ditikam Suami

Sempat Cekcok, Halimah Akhirnya Tewas Ditikam Suami

IDI RAYEUK – Halimah, salah satu warga Desa Matang Bungong, Kecamatan Peudawa Puntong, Kabupaten Aceh Timur, tewas dibunuh pada Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB. Korban diduga ditusuk dengan pisau oleh suaminya, Mahdi.

“Sebelum kejadian mereka sempat cekcok di dekat kedai setempat yang tidak jauh dengan rumah korban,” ujar Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com.

Menurutnya Halimah meninggal dunia dalam perjalanan saat dibawa ke Rumah Sakit Umum dr. Zubir Mahmud. Almarhumah mengalami pendarahan hebat akibat luka tusukan di bagian punggung dan lengan kanannya.

Asnawi mengatakan jenazah Halimah kini telah dibawa pulang ke rumah duka di Desa Matang Bungong untuk disemayamkan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Aceh Timur, AKP Budi Nasuha Waruwu, yang hendak dikonfirmasi oleh portalsatu.com membenarkan kejadian tersebut. “Kita sekarang sedang berada di lapangan,” katanya singkat via selular.[](bna)

PN Takengon Gelar Sidang Perdana Empat Terdakwa Pembunuhan Kepala Pegadaian

PN Takengon Gelar Sidang Perdana Empat Terdakwa Pembunuhan Kepala Pegadaian

TAKENGON – Empat terdakwa pembunuh Kepala Pegadaian Cabang Takengon mengikuti sidang perdana di Pengadilan Negeri Takengon, Rabu, 30 September 2015. Sidang dimulai pukul 11:45 WIB dengan agenda mendengarkan tuntutan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum.

Sidang pertama diikuti oleh terdakwa Roni Candra bin Rasman Teguh, 31 tahun, warga Blang Kolak I, Kecamatan, Bebesen, Aceh Tengah. Sementara tuntutan dakwaan dibacakan oleh jaksa Rudi Hermawan, SH.

Terdakwa Roni Candra dalam persidangan mengatakan telah menjalani masa tahanan sejak 8 April 2015 hingga 30 September 2015.

Sidang kedua dilanjutkan dengan terdakwa Rahmat Andrian bin Tasmin, 31 tahun, warga Cinta Damai, Kecamatan Wieh Pesam, Aceh Tengah. Surat dakwaan dibacakan oleh jaksa Akbarsyah, SH.

Terdakwa Rahmat dijerat dengan pasal 340 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sama halnya dengan Roni, terdakwa Rahmat juga mengaku telah menjalani masa tahanan sejak 3 April 2015 hingga 30 September 2015.

Terdakwa ketiga adalah Rudi Hariyanto bin Djukimin, 39 tahun, warga Blang Kolak I, Bebesen Aceh Tengah dan terdakwa keempat adalah Ariski Yovi bin Irwansyah, 23 tahun, warga Blang Kolak I, Bebesen, Aceh Tengah.

Dalam sidang perdana, terdakwa Ariski Yovi tidak didampingi oleh kuasa hukumnya. Kendatipun hakim menunjukkan kuasa hukum pengganti terhadap terdakwa dan disetujui oleh terdakwa Ariski Yovi.

Dalam sidang empat terdakwa kasus pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon itu dipimpin oleh Hakim Ketua Nasri, SH, MH dengan anggota Rahmawan, SH, dan Edo Junian.

Sidang ke empat terdakwa pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon tersebut dilanjutkan dengan agenda mendengar keterangan saksi, pada 7 Oktober 2015.

Secara terpisah, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Takengon, Eprin, SH mengatakan, ke empat terdakwa itu akan dijerat dengan pasal 340 KUHP, 339 KUHP, 365 KUHP atau dakwaan kombinasi tentang pembunuhan berencana. Jika terbukti bersalah, terdakwa bisa terancam hukuman mati, penjara seumur hidup, atau 20 tahun penjara.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Pegadaian Cabang Takengon, Siti Jamilah, 40 tahun, ditemukan tewas mengenaskan di rumah kontrakannya, di Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, pada Jumat, 20 Maret 2015 lalu. Korban ditemukan warga dengan kondisi berlumuran darah dan mulut tersumpal kain serta terdapat luka sobek di bagian leher.

Dalam kasus itu, polisi telah menetapkan empat tersangka. Tiga tersangka di antaranya berasal dari Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Mereka adalah Rizki (22 tahun), Rudi (39 tahun), dan Roni Chandra (35 tahun).

Sementara tersangka keempat adalah Rahmat, 31 tahun, warga Kampung Cinta Damai, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah.

Polisi juga telah menetapkan tersangka utama dalam kasus terserbut, yakni Roni Chandra, 35 tahun, yang diringkus di Sumatera Utara beberapa waktu lalu. [](bna)

Tersangka Pembunuh Pegawai PDAM Tirta Daroy Tertangkap Lantaran Tabrak Anjing?

Tersangka Pembunuh Pegawai PDAM Tirta Daroy Tertangkap Lantaran Tabrak Anjing?

JANTHO – Personel Polres Aceh Besar berhasil meringkus tersangka pembakar pegawai PDAM Tirta Daroy, Banda Aceh, Bulqiah Zainal al-Bukharimi (25), warga Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Kapolres Aceh Besar, AKBP Heru Novianto SIK melalui Kasat Reskrim AKP Machfud SH MM yang dihubungi Serambi (Tribunnews.com network) Jumat (25/9/2015) malam, membenarkan adanya penangkapan itu.

Tapi, polisi belum bersedia memberikan keterangan tentang penangkapan tersangka, termasuk identitas dan kronologis penangkapannya.

Hal itu dikarenakan Kapolres Aceh Besar AKBP Heru Novianto SIK akan memberikan keterangan langsung dalam konferensi pers yang dilaksanakan Selasa, 29 September mendatang di Mapolres Aceh Besar, sekaligus membeberkan sejumlah kasus besar lainnya yang berhasil diungkap.

Pun demikian, Serambi berusaha melengkapi informasi ini dengan melacaknya dari sejumlah sumber, baik di Rumah Sakit (RS) Satelit Indrapuri, Aceh Besar, maupun di tempat lainnya.

Dari sumber di RS Setelit diperoleh keterangan bahwa benar ada seseorang yang dirawat di rumah sakit itu sejak 20 sampai 23 September 2015.

Sang pasien dirawat karena sepeda motor (sepmor) yang dia kendarai menabrak seekor anjing di salah satu kawasan Indrapuri, Aceh Besar.

Lalu versi lain menyebutkan, tersangka pembakar pegawai PDAM Tirta Daroy Banda Aceh itu akrab disapa F (21), warga Gampong Manggra, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

Tersangka ditangkap Rabu (23/9), saat dirawat di RS Satelit dan berada di satu ruangan dengan seorang anggota polisi saat tersangka dirawat.

Iseng-iseng anggota polisi yang ikut menangani kasus tewasnya pegawai PDAM Tirta Daroy itu menanyakan apa jenis sepmor yang dipakai tersangka saat sepmornya menabrak anjing. Pelaku pun menyebutkan bahwa ia mengendarai Yamaha Vixion saat itu.

Karena rasa ingin tahunya yang kuat, anggota polisi itu pun langsung mengecek Yamaha Vixion tersebut. Ternyata sepmor yang dikendarai tersangka adalah sepmor milik korban Bulqiah Zainal al-Bukharimi, pegawai PDAM Tirta Daroy yang ditemukan tewas dalam kondisi hangus terbakar di kawasan Cot Seubeudak, Gampong Manggra, Kecamatan Indrapuri, 31 Agustus lalu.

Hal itu didasarkan pada nomor mesin dan rangka sepeda motor Yamaha Vixion tersebut yang memiliki kecocokan dengan sepmor milik korban yang dilaporkan ikut raib saat jenazah remaja warga Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar itu ditemukan tewas dalam kondisi hangus terbakar.

Versi lainnya yang diterima Serambi, pada saat pelaku dirawat di RS Satelit akibat luka setelah menabrak anjing, ia menolak permintaan polisi yang menghendakinya sepmornya dihadirkan saat dilakukan olah tempat kejadian di lokasi kecelakaan.

Karena penolakan itulah polisi curiga terhadap pelaku, sehingga polisi melacak keberadaan sepmor yang disembunyikan pelaku yang ternyata Yamaha Vixion milik korban terbunuh.

Belakangan diketahui bahwa Yamaha Vixion yang digunakan pelaku itu disimpan di rumah calon istrinya yang akan dia nikahi dalam waktu dekat.

Seperti diberitakan dua anak-anak yang ingin mengambil ternaknya menemukan sesosok mayat laki-laki dengan kondisi hangus terbakar di kawasan Cot Seubeudak, Desa Manggra, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Senin (31/8) sekitar pukul 15.30 WIB.

Polisi akhirnya mengidentifikasi mayat itu bernama Bulqiah Zainal al-Bukharimi (25), warga Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar yang disebut-sebut pegawai PDAM Tirta Daroy, Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal yang sedang berada di New York, Amerika Serikat, mengucapkan alhamdulillah atas tertangkapnya tersangka pelaku pembunuh pegawai PDAM Tirta Daroy, Banda Aceh itu, sebagaimana ia nyatakan di Grup WA, Diaspora Aceh tadi malam.[] sumber: tribunnews.com