Tag: pelabuhan

Trayek Tol Laut Masih Kurang Peminat

Trayek Tol Laut Masih Kurang Peminat

BANDAR LAMPUNG – Kapal penyeberangan tol laut Lampung – Surabaya baru diminati 30 persen penumpang. Menurut sumber dari PT Atosim Pelayaran Lampung yang enggan disebut namanya, pada Rabu (12/8/2015), sebagian besar penumpang adalah sopir truk yang membawa muatan barang.

“Awalnya pernah sampai 80 persen, tapi sekarang maksimal sekali jalan kapal kami hanya penuh 30 persen,” kata dia, Rabu.

Ada dua kapal yang beroperasi, yakni KMP Mutiara Persada III dan KMP Mutiara Sentosa. Dalam seminggu secara bergantian tiga kali perjalanan. Tarif yang ditawarkan trayek Pelabuhan Panjang – Tanjung Priok relatif murah. Untuk kelas ekonomi penumpang dewasa Rp 350.000, sudah termasuk makan selama perjalanan dan Rp 15 juta untuk kendaraan golongan IX atau truk tronton dan Rp 2,5 juta untuk kendaraan pribadi.

Udin (45), sopir truk pengangkut komoditas mengaku terbantu dengan adanya tol laut Lampung-Surabaya.

“Hemat di ongkos dan cepat sampai ke tujuan,” katanya.

Namun demikian, ia juga mengeluhkan perjalanan melalui tol laut tak menguntungkan bagi dirinya dan sopir lainnya untuk mendapatkan seseran di jalan.

“Pakai tol laut ini kalau sifatnya urgen saja. Tapi kawan-kawan lainnya lebih memilih jalur darat saja,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Panjang Bandarlampung Hendry Tondang mengatakan, kehadiran tol laut memiliki prospek yang baik ke depan.

“Keliatannya animonya adalah ya, tapi sejauh ini baru satu operator yang beroperasi, belum ada investor lain yang masuk,” katanya.

Ia sepenuhnya mendukung program tol laut yang dijalankan pemerintah pusat. Ini merupakan proyek percontohan di Indonesia. | sumber : kompas


Direktur PT Pelindo I: Baru Dua Importir yang Beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukueh

Direktur PT Pelindo I: Baru Dua Importir yang Beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukueh

BANDA ACEH – Direktur PT Pelindo I Cabang Lhokseumawe, Wayan, mengatakan baru dua importir yang beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukuh sejak dibuka 2013 lalu.

“Satu importir dengan menggunakan kapal kayu dan satu importir yang menggunakan kapal peti kemas,” katanya dalam rapat dengan Komisi I DPR Aceh, Senin, 29 Juni 2015.

Wayan mengatakan saat ini pihaknya sudah memberikan kemudahan-kemudahan bagi para importir, sehingga barang-barang yang selama ini diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh mau dialihkan ke Pelabuhan Krueng Geukuh.

Namun dia menilai hingga kini belum terlihat adanya kebijakan yang memudahkan importir di Aceh. “Sehingga Pelabuhan Krueng Geukuh yang baru mencoba untuk bergerak belum menjadi pilihan para pengusaha,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Aceh, Saifullah, mengatakan pihaknya tidak pernah membedakan perlakuan antara importir pengguna kapal kayu dengan importir pengguna peti kemas.

“Oleh karena itu saya berharap kepada pihak DPR Aceh agar mendorong pengusaha Aceh untuk melakukan aktivitas ekspor-impor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh,” katanya.[](bna)