Tag: papua

Polri-TNI Amankan Idul Adha di Tolikara, Ratusan Personel Dikerahkan

Polri-TNI Amankan Idul Adha di Tolikara, Ratusan Personel Dikerahkan

Mabes Polri memantau secara intensif pengamanan hari raya Idul Adha di Tolikara, Papua. Personel Polri yang dibantu TNI sudah siap diterjunkan ke lokasi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Agus Rianto mengatakan, personel yang diterjunkan ke lokasi sudah ditambah. Namun Agus mengaku belum bisa menyebut berapa jumlah personel tambahan lantaran personel yang ditambah akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi lokasi pengamanan.

“Personel yang diturunkan pastinya sesuai kebutuhan, angkanya bisa berubah. Personel Polri dari Brimob, dibantu aparat TNI, dan lainnya siap mengamankan,” ujar Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (23/9).

Penambahan personel diupayakan bisa mengamankan perayaan Idul Adha serta menjamin ketenangan umat muslim Tolikara dalam menjalankan ibadahnya.

“Kami jamin dengan menghadirkan aparat di sana, saudara saudari umat Muslim di Tolikara bisa melaksanakan ibadah dengan aman, tertib, dan lancar,” ujar Agus.

Saat dihubungi terpisah, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan 374 personel siap diterjunkan ke lokasi pengamanan Idul Adha besok.

“374 Personel, itu dari Polda dan Polres Jayawijaya. Di-back-up TNI,” ujar Paulus.[] Sumber: merdeka.com

Foto ilustrasi

Menko Polhukam Tolak Negoisasi dengan OPM Terkait Tahanan Narkoba

Menko Polhukam Tolak Negoisasi dengan OPM Terkait Tahanan Narkoba

JAKARTA – Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyandera 2 WNI di Papua Nugini. Mereka ingin menukar 2 WNI dengan rekan mereka yang jadi tahanan narkoba dan juga ingin berunding satu meja dengan pemerintah RI. Bagaimana respons pemerintah?

Menanggapi hal ini, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan menampik mentah-mentah tawaran OPM. Pemerintah RI tidak akan mau berunding satu meja dengan OPM.

Nggak ada negoisasi, lakukan langkah-langkah diminta dilepas,” kata Luhut di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Senin (14/9/2015).

Nggak ada, nggak ada itu barter-barteran,” tambahnya.

Soal 2 WNI yang disandera di Papua Nugini oleh OPM, dinilai Luhut sebagai sebuah tindakan kriminal. Sebab kelompok OPM itu juga menewaskan 1 WNI saat penyerangan di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9).

“1 Meninggal, 2 melarikan diri dan 2 disandera. Atase RI di sana sudah komunikasi untuk menyelesaikan masalah ini. Kemudian Kodam dan Polda sudah melakukan langkah-langkah, kita lihat,” ucapnya.

Menurutnya penyanderaan itu tidak ada kaitannya dengan masalah politik. Luhut juga tak akan memenuhi permintaan OPM yang ingin berunding satu meja dengan pemerintah RI.

“Kaitannya belum tahu, itu masalah kriminal nggak ada soal politik,” ucap Luhut.

Kelompok OPM ini merupakan kelompok Jerry. Mereka menyerang warga yang sedang bekerja menebang kayu di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9). Mereka melepaskan tembakan dan membuat satu orang WNI tewas, 1 berhasil kabur dan 2 lainnya yakni Sudirman dan Badar dibawa OPM hingga ke wilayah Skouwtiau, Papua Nugini. Keduanya disandera.

Saat ini pemerintah RI terus berkoordinasi dengan tentara Papua Nugini. Dalam proses pembebasan sandera, Pemerintah RI tidak bisa terjun langsung karena sudah masuk wilayah PNG sehingga konsulat RI di sana meminta bantuan kepada tentara PNG dan pemda setempat untuk bernegosiasi dengan OPM.

OPM meminta dua tahanan itu dibarter dengan rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom, Papua yang terlibat kasus narkoba jenis ganja. Pemerintah RI belum mengambil keputusan apakah akan melakukan barter ini atau tidak. Saat ini negosisasi masih terus dilakukan oleh tentara PNG dengan kelompok OPM. Diharapkan proses negosiasi berjalan baik tanpa ada tindak kekerasan.[] sumber: detik.com

Apa Kabar Dua WNI yang Hilang di Perbatasan Papua?

Apa Kabar Dua WNI yang Hilang di Perbatasan Papua?

JAYAPURA – Polda Papua belum bisa memastikan kabar dua WNI yang disandera di Papua Nugini. Mereka masih fokus pada upaya pencarian dua WNI tersebut karena laporan awalnya sebagai orang hilang.

Dua WNI yang hilang di perbatasan RI – NG di Skouwtiua, Papua pada Rabu (9/9), bernama Sudirman (28) dan Badar (30). Pihak TNI dan Kementerian Luar Negeri memastikan ada penyanderaan, namun polisi mengatakan isu itu belum terverifikasi.

“Informasi tentang kedua warga itu masih simpang siur, ada yang menyatakan disandera oleh kelompok bersenjata di bawah pimpinan Jeffry Pagawak. Namun pihak kepolisian Polda Papua sendiri belum bisa mengatakan, kalau keduanya disandera oleh kelompok tertentu, karena tidak ada data dan fakta,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw kepada wartawan di Jayapura, Senin (14/9/2015).

Laporan yang diterima pihak kepolisian dari kelurga, baru sebatas keduanya hilang, sejak kejadian penembakan tanggal 9 September lalu di kampung Skopro, Keerom. “Sampai sekarang sudah dilakukan upaya-upaya pencarian dari kami pihak kepolisian bantu teman-teman TNI dengan para tokoh masyarakat. Namun, sampai sekarang belum ada kejelasan keduanya berada dimana,” kata Waterpauw.

Bahkan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Konsulat Jenderal RI di Vanimo, Elmar Lubis, untuk mencari keberadaan dua WNI benar disandera di wilayah PNG. Pihak Konsulat RI di Vanimo juga telah minta bantuan Army PNG melakukan pencarian sekaligus identifikasi kejelasan keberadaan dua WNI di wilayah PNG.

“Kami sudah komunikasi dengan pihak Konsulat kita di Vanimo, PNG untuk menanyakan tentang infomasi kalau dua WNI disandera di wilayah PNG, dan pihak Konsul mengatakan akan mengkomunikasikan dengan Army PNG,” katanya.

Polda Papua telah membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) sejak kejadian penembakan beberapa hari lalu dan mengutus tiga tokoh masyarakat di perbatasan untuk mengkomunikasikan dengan masyarakat di PNG.

“Kami sudah mengutus tiga tokoh masyarakat di perbatasan RI-PNG yang mungkin ada hubungan komunikasi dengan masyarakat di wilayah PNG, tapi sampai sekarang kami belum menerima informasi dari tiga tokoh itu,” tuturnya.

Kapolres Keerom, Papua, AKBP Tober Sirait menambahkan, sampai saat ini tidak ada permintaan barter tahanan dengan pihak-pihak tententu di wilayah Keerom dan perbatasan RI-PNG. Terkait dengan hilangnya WNI di perbatasan negara RI-PNG pihak kepolisian sendiri tidak menyatakan kedua telah disandera oleh kelompok KSB.

“Sampai saat ini kami baru menerima laporan dari pihak keluarga kalau anggota keluarganya hilang di hutan perbatasan RI-PNG saat terjadi penembakan terhadap pekerja kayu pada Rabu (9/9/2015) lalu,” kata Kapolres Keerom, Papua, AKBP Tober Sirait saat dihubungi, Senin (14/9/2015).

Kapolres Tober Sirait mengakui kalau ada dua orang tahanan di Polres Keerom, warga negara PNG, di mana mereka terkait kasus narkotika membawa ganja dari PNG yakni Nelek Woi (NW) warga negara PNG dan Tinus Pagawak (TP) WNI, tetapi sampai sekarang tidak ada permintaan dari siapa pun untuk membebaskan mereka, apalagi meminta barter dengan kedua WNI yang hilang.

Kapolres menjelaskan, berdasarkan pengakuan para korban, ada lima orang berangkat ke hutan untuk mencari kayu senso. Saat tiba di kamp mereka dihadang oleh kelompok sipil bersenjata (KSB) yang tak dikenal. KSB tersebut melakukan penembakan terhadap salah satu teman mereka bernama Kuba dengan senjata api dan panah menyebabkan kena di kepala dan saat ini Kuba masih dirawat di RS Bhayangkara, Jayapura.

Dua orang dari mereka lari kembali ke rumah di Arso, kabupaten Keerom, Papua, sedangkan dua orang lagi lari ke arah perbatasan RI-PNG yang jaraknya dari lokasi kejadian sekitar 1 km dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaanya.

“Sampai sekarang kita tidak mengetahui keberadaan keduanya dan anggota masih tetap melakukan pencarian dengan melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian,” ujar Kapolres Keerom.

Kapolres juga mengakui kalau ada infomasi yang beredar bahwa kedua orang yang hilang itu disandera kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KSB).

“Memang ada informasi mereka itu disandera kelompok tertentu, namun pihak itu tidak mengakui kalau itu dilakukan mereka. Dan kalau ada pihak yang melakukan penyanderaan, pasti mereka menyatakan kalau melakukan menyanderaan dan pasti ada permintaannya, tetapi sampai saat ini hal itu tidak ada yang kita terima,” tambahnya.

Sedangkan Jeffry Pagawak sendiri yang disebut-sebut sebagai pelaku penembakan terhadap Kuba dan melakukan penyanderaan terhadap dua WNI tidak memberikan komentar terkait dengan kejadian itu. Saat dihubungi melalui satu temannya di Jayapura yang minta namanya dirahasiakan, Jeffry hanya diam. “Jeffry ketika saya tanya melalui telepon selularnya, dia diam,” kata sumber tersebut.

Rekam Jejak Jeffry

Jefrison Pagawak yang biasa dipanggil Jeffry lahir di Pengunungan Papua posisi coordinator lapangan demo KPNB Papua. Dia merupakan seorang anti militer sejak 1 Desember 2005 saat berdemo memperingati hari Independence Day di Jayapura. Berikut sejumlah catatannya:

– 23 Januari dan 20 Februari 2006 koordinator demo menuntut penarikan anggota TNI dari Papua.

– 22 Februari 2006 penggerak demo di Universitas Cendrawasih, Abepura, kota Jayapura.

– 23 Februari 2006 bergabung dengan kelompok Pendemo menuntut penutupan perusahaan Freeport.

– 27 Februari 2006 pelaku mempersiapkan penghadangan mobil perusahaan di check point Mile 28 Freeport, Timika

– 16 Maret 2006 salah satu pelaku Uncen berdarah dimana aksi demo Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menyebabkan 4 anggota Polisi dan satu TNI meninggal dunia, sejak saat itu dia menjadi buronan polisi yang masuk dalam daftar DPO Polda Papua. [] sumber: detik.com

Muslim Tolikara Rayakan Idul Adha di Masjid Baru

Muslim Tolikara Rayakan Idul Adha di Masjid Baru

Karubaga – Umat muslim di Kabupaten Tolikara, Papua, akan merayakan Idul Adha 1436 Hijriah pada Kamis, 24 September 2015, di masjid yang baru dibangun setelah amuk massa pada Idul Fitri, 17 Juli 2015.

Masjid yang berlokasi di lahan Markas Koramil 1702-11 Karubaga, Ibu Kota Tolikara, itu akan diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 23 September mendatang. “Sesuai jadwal yang kami terima, belum ada perubahan,” kata juru bicara Pemerintah Daerah Tolikara Derwes Yikwa kepada Tempo pada Ahad, 13 September 2015.

Bersama Jusuf Kalla, Derwes menerangkan, hadir pula Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan serta Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Dalam keterangan pers dijelaskan bahwa areal masjid sudah bisa digunakan untuk kegiatan ibadah serta pemotongan hewan kurban. Alat pengeras suara juga sudah dapat dipergunakan dengan volume suara disesuaikan dengan lokasi serta jumlah jemaah. “Umat Islam perempuan boleh menggunakan jilbab,” ujar Derwes.

Umat Nasrani Gereja Injili di Indonesia (GIDI) juga memberikan jaminan keamanan bagi umat muslim selama perayaan Idul Adha di Tolikara.[] Sumber: tempo.co

Foto: Bangunan masjid baru Tolikara tampak dari depan Jalan Koramil Karubaga. Masjid yang sempat terbakar saat Lebaran lalu, kini dapat kembali dipergunakan kembali. Foto: Derwes Yikwa

Pangdam Instruksikan Larangan Membawa Senjata

Pangdam Instruksikan Larangan Membawa Senjata

TIMIKA – Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen (TNI) Hinsa Siburian langsung mengeluarkan perintah kepada jajarannya pascapenembakan oleh oknum anggota TNI yang menewaskan dua warga sipil di Timika, Papua beberapa waktu lalu. Perintah dia adalah tidak lagi ada prajurit TNI yang menyandang senjata di kawasan Kota Timika, maupun tempat umum selain untuk kepentingan tugas.

“Berdasarkan perintah Pangdam, dengan adanya kejadian ini bahwa tidak ada lagi anggota TNI yang menyandang senjata ketika berada di dalam kota,” kata Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol (Inf) Andi Kusworo, saat melakukan briefing dengan para perwiranya di halaman Gereja St Fransiskus Asisi Koperapoka, Sabtu (29/8).

Adanya tindakan tak terpuji yang telah melukai hati rakyat dilakukan oknum anggota TNI tersebut, Dandim pun memerintahkan para perwiranya untuk melakukan pengawasan ekstra dengan mengontrol pergerakan semua personel di lingkup Kodim 1710/Mimika.

“Intinya dengan kejadian ini, tingkatkan pemantauan kepada anggota kita satu per satu, kalau memang sudah pernah dikasih tahu bahwa si A kelakuannya begini, si B kelakuannya jelek begitu, kan dikasih tahu, jangan diam-diam saja,” ujar Dandim.

Pasalnya, lanjut Dandim, apabila terjadi perbuatan yang menyimpang dari salah seorang prajurit TNI, maka hal itu akan menjadi masalah besar bagi institusi. Apalagi jika tindakan itu merugikan masyarakat.

“Satu orang saja buat masalah, masalahnya akan menjadi besar. Tolong ini disampaikan ke anggota, cek betul perbidang masing-masing kemudian jabarkan,” paparnya. Peristiwa penembakan terhadap warga oleh prajurit TNI di Koperapoka, katanya, telah mencoreng citra TNI lebih khusus TNI-AD.

Karena itu, peristiwa tersebut dapat menjadi pengalaman berharga, agar dikemudian hari tidak terulang kembali. Terutama tindakan brutal oknum TNI yang secara membabi buta menembak warga Suku Kamoro, merupakan perbuatan yang sangat disayangkan.

Sebab, warga Suku Kamoro dikenal sangat menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bukan separatis yang semestinya dihadapkan dengan moncong senjata. “Dari pihak keluarga besar Kamoro itu sudah banyak pernyataan bahwa mereka merupakan suku merah putih, jadi itu keluarga kita semua,” katanya.

Sementara itu, Dandim juga memerintahkan para jajarannya agar menindak lanjuti persoalan Minuman Keras (Miras), yang telah menjadi sorotan, dan merupakan salah satu penyebab terjadinya insiden penembakan warga lantaran oknum anggota TNI diduga dalam pengaruh Miras sehingga kehilangan kontrol melakukan tindakan kekerasan.

Dandim menambahkan, Pangdam Cenderawasih juga telah memerintahkan bahwa pos pengamanan di Gorong-gorong, Timika, tidak lagi menjadi urusan Kodim 1710/Mimika karena merupakan kewenangan Satgas Amole, Pengamanan Obyek Vital Nasional PT Freeport Indonesia (PTFI). [] sumber: JPNN.com

Oknum TNI Tembak Warga, Dua Tewas Empat Terluka

Oknum TNI Tembak Warga, Dua Tewas Empat Terluka

TIMIKA – Oknum Anggota TNI melakukan penembakan terhadap warga sipil di Koperapoka, Timika, Papua Jumat (28/8) dini hari WIT. Total ada enam warga sipil yang menjadi korban, dua korban diantaranya dinyatakan tewas.

Seperti dilaporkan Radar Timika (JPNN Goup), mereka yang tewas adalah Yulianus Okoware dan Imanuel Mairimau. Sementara itu, empat warga lainnya hingga kini masih menjalani perawatan intensif.

Korban dilarikan ke dua rumah sakit berbeda, yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika dan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Timika.

Di sisi lain, tiga oknum anggota TNI yang diduga sebagai pelakupenembakan, yang berasal dari Kodim 1710/Mimika dan Yonif 754/ENK sudah ditahan di sel Subden POM AD, beberapa saat setelah kejadian.

Sebelumnya, kedua korban itu diketahui tertembak oleh oknum aparat TNI saat sedang melaksanakan ritual (pukul tifa) di Jalan Bhayangkara sekitar Pukul 02.20 WIT, Jumat (28/8).

Ritual digelar untuk persiapan syukuran salah satu putra asli Suku Kamoro, Leonardus Umuka, yang baru saja menyelesaikan study dengan gelar Doktor (S3) di Filipina. Karena kejadian penembakan ini, syukuran yang rencananya digelar pada Jumat (28/8) siang pun dibatalkan.[] sumber: JPNN.com

101 Personel Brimob Aceh Ditugaskan ke Papua

101 Personel Brimob Aceh Ditugaskan ke Papua

BANDA ACEH – Sebanyak 101 personel Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Aceh dikirim ke Papua untuk melakukan pengamanan PT Freeport Indonesia.

Kapolda Aceh Irjen Pol M Husein Hamidi di Banda Aceh, Rabu, 19 Agustus 2015, mengatakan seratus lebih personel Brimob Aceh tersebut ditugaskan di bawah kendali operasi (BKO) Polda Papua,

“Mereka ini dikirim ke Papua, menggantikan personel Brimob Polda Riau. Mereka melakukan pengamanan di areal PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika selama tiga bulan,” ungkap Kapolda Aceh.

Sebelum diberangkatkan ke Papua, kata dia, seratus lebih personel Brimob Polda Aceh tersebut diberi pembekalan, termasuk latihan, baik taktis maupun teknis.

Mereka, kata Irjen Pol M Husein Hamidi, juga dibekali pengetahuan karakteristik keadaan wilayah, seperti adat istiadat maupun situasi dan kondisi wilayah tugas.

“Mereka bertugas selama tiga bulan. Namun, tidak tertutup kemungkinan masa tugas diperpanjang. Apalagi Aceh tidak ada pilkada serentak, yang membutuhkan personel pengamanan,” kata dia.

Kapolda menyebutkan tujuan pengamanan untuk mencegah dan menanggulangi kejahatan bersenjata yang dapat mengancam stabilitas keamanan yang dapat menghambat areal kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Kapolda Aceh mengatakan situasi keamanan di wilayah Kabupaten Timika, Papua, khususnya di area PT Freeport Indonesia secara umum relatif kondusif. Namun begitu, personel Brimob Polda Aceh diminta tetap mewaspadai gangguan keamanan yang terjadi.

“Saya mengingatkan personel Brimob Polda Aceh yang ditugaskan ke Papua mengedepankan kegiatan penjagaan, pengawalan, serta penegakan hukum,” kata Irjen Pol M Husein Hamidi.[] sumber: antaranews.com

Pesawat Trigana Hilang Kotak di Papua

Pesawat Trigana Hilang Kotak di Papua

Jayapura –  Pesawat Trigana Air Service jenis ATR 42 PK YRN dengan nomor penerbangan IL 267 yang terbang pada pukul 14.21 WIT, Minggu, 16 Agustus 2015, dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura tujuan Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua dikabarkan hilang kontak hingga saat ini.

“Pesawat ini diestimasi akan landing di Bandara Oksibil sekitar pukul 15.15 WIT atau waktu tempuh dari Sentani ke Oksibil sekitar 55 menit,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Polisi Rudolf Patrige yang membenarkan hilangnya pesawat milik masakapai Trigana ini, Ahad 16 Agustus 2015.

Menurut Patrige, dari data yang didapat, pesawat ini membawa  54 penumpang. Terdiri  lima  kru, 49 penumpang yang terdiri dari  44 orang dewasa, 3 anak-anak dan bayi ada dua orang . “Pilot pesawat bernama  Hasanudin, co-pilot  Aryadi, mekanik bernama Mario serta dua pramugari  Dita dan Ika,” jelasnya.

Kepala SAR Jayapura, Ludianto mengatakan, pencarian pesawat ini sedang dilakukan. “Kami sudah melakukan koordinasi dengan Trigana,” ucap Ludianto.

Ludianto mengatakan pihaknya sudah melakukan penyisiran rute yang dilalui pesawat ini menggunakan jenis pesawat yang sama, Namun hingga  tim balik sekitar pukul 17.26, hasilnya belum ada.

Menurut Ludianto, pesawat jenis ATR 42 PK YRN milik Trigana Air Service yang hilang ini berangkat dari Bandara Sentani sekitar pukul 14.21 WIT dan seharusnya tiba di Bandara Oksibil sekitar pukul 15.15 WIT. “Tapi dari laporan yang kami dapat, pesawat ini lost contac sekitar pukul 14.55 WIT. Rencana besok kami lanjutkan pencarian, malam ini sedang disusun perencanaannya,” katanya. | sumber: tempo.co

Foto Trigana-air.com

Menko Polhukam: Masjid Tolikara Terbakar, Bukan Dibakar

Menko Polhukam: Masjid Tolikara Terbakar, Bukan Dibakar

JAKARTA – Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan dirinya sudah bertemu dengan Gubernur Papua Lukas Enembe dan berbagai tokoh agama termasuk kepala adat Papua terkait peristiwa di Tolikara, Papua. Setelah pihaknya melakukan investigasi, Tedjo mengaku bila Masjid di Tolikara bukan sengaja dibakar yang diduga oleh jemaat GIDI. Tetapi terbakar akibat percikan api yang membakar di kios-kios di dekat masjid.

“Masjid itu terbakar, bukan dibakar ya,” kata Tedjo di dalam seminar dengan tema ‘Suara Untuk Papua’ di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (29/7).

Politikus NasDem itu menambahkan, pihaknya telah melakukan dialog dengan berbagai tokoh dan kepala adat Papua untuk meredam peristiwa tersebut. Hal ini, kata dia, menindaklanjuti perintah dan arahan dari Presiden Joko Widodo.

“Saya laksanakan dialog bagaimana membangun kembali bangunan yang rusak, dengan membangun 85 kios yang terbakar dan 15 untuk masyarakat di sana, dan membangun masjid kembali,” jelas Tedjo.

Seperti diketahui, terjadi penyerangan di Masjid Tolikara, Papua saat penyelenggaraan salat Idul Fitri, Jumat (17/7) pagi. Di mana pada saat itu umat Islam di Tolikara Papua menjalankan salat Idul Fitri.

Akibatnya, puluhan kios dan masjid di Tolikara hangus terbakar. Di satu sisi, Polri sudah menetapkan tersangka dalam insiden ini dari unsur Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Tolikara.[] sumber: merdeka.com

Wapres: Banyak Bendera Israel di Papua Mungkin Karena Ketidaktahuan

Wapres: Banyak Bendera Israel di Papua Mungkin Karena Ketidaktahuan

JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku tidah tahu-menahu perihal banyaknya bendera dan lambang Israel di Papua. Tetapi, berdasarkan kabar yang dia dapatkan, GIDI memiliki hubungan dengan organisasi keagamaan di Israel.

“Saya tidak tahu, Saya coba lihat fotonya, kabarnya GIDI punya hubungan dengan organisasi keagamaan di israel, mungkin ingin memperlihatkan kami ini juga simpatisan Anda. Tapi, itu ya tergantung temuan nantilah, kita tidak bisa berandai-andai itu iya, dia ngaku sendiri ada tamu dari Israel,” kata JK kepada Republika, Selasa (27/7).

JK melanjutkan, kemungkinan lain banyaknya bendera dan lambang negara Israel di Papua karena ketidakmengertian masyarakat di sana. Karena tidak mengerti, maka jumlah bendera negara Israel yang dikibarkan lebih banyak daripada bendera negaranya sendiri.

“Ya, mungkin itu mereka tidak ngerti bahwa itu bendera orang. Emangnya ngerti itu lambang israel?” ungkap pria berusia 73 tahun ini menjelaskan.

Sebelumnya diberitakan, kedekatan GIDI dengan Israel lantaran GIDI mendirikan gereja di Yerusallem. “GIDI mendirikan gereja di banyak negara seperti Papua Nugini, Australia, Israel, dan di seluruh Indonesia,” kata Darwis Zikwa (35) jemaah GIDI asal Tolikara Kamis (23/7) malam.

Berdasarkan infomasi yang dihimpun dari warga, saat seminar berlangsung banyak warga yang menghias kendaraan, rumah, dan kiosnya dengan mengecat lambang negara Israel atau membawa bendera Israel. | sumber: republika.co.id

Foto warga berfoto di depan rumah dengan logo Israel atau Bintang Daud di Tolikara, Papua, Jumat (24/7). (Republika/Raisan Al Farisi)