Tag: nisan

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Vahlevi, mengatakan Aceh memiliki 400-an situs bersejarah yang kondisinya berbeda-beda. Situs-situs tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik menjadi destinasi wisata sejarah baru atau mesin ATM untuk dunia pariwisata Aceh.

“Ada yang baik, ada yang memang masih butuh peningkatan, dan sebagainya. Ada yang membutuhkan pembersihan dan sebagainya. Semua itu kita legalkan dulu, harus punya dasar hukum, yang sebelumnya dikaji oleh kajian,” katanya di sela-sela pameran 100 Tahun Museum Aceh di Banda Aceh saat ditanyakan oleh portalsatu.com, Kamis, 30 Juli 2015 kemarin.

Dia mengatakan banyak nisan-nisan atau situs bernilai sejarah yang ditemukan oleh komunitas-komunitas peduli sejarah Aceh. Sebagian situs ada yang telah dikaji sendiri oleh komunitas tersebut.

“Setelah (mendapat hasil kajian) itu nanti ditetapkan sebagai situs kalau dia memang mengandung nilai sejarah. Itu setelah ditetapkan, yang bisa mendapatkan dukungan pemeliharaan, penjagaan. Dari sekian banyak, ya belum mampu kita lakukan secara cepat dan ada tahapannya. Ini juga nantinya melibatkan kabupaten kota di Aceh,” katanya.[]

Jaga Warisan Indatu, PuKAT Sarankan Universitas di Aceh Buka Jurusan Arkeologi

Jaga Warisan Indatu, PuKAT Sarankan Universitas di Aceh Buka Jurusan Arkeologi

BANDA ACEH – Banyaknya benda arkeologi yang tersebar dan ditelantarkan di seluruh Aceh sangat membutuhkan perhatian arkeolog, terutama dari generasi muda. Namun ilmuwan yang fokus dalam hal ini sangat sedikit di Aceh lantaran tidak ada universitas atau perguruan tinggi yang membuka fakultas atau jurusan arkeologi.

“Arkeologi adalah sebuah bidang yang memiliki masa depan cerah di Aceh sehingga harus ada wadah resmi tempat belajarnya,” ujar Ketua Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), Thayeb Loh Angen, di salah salah satu warung kopi di Banda Aceh, Kamis, 2 April 2015.

Menurutnya Fakultas Adab dan Humaniora yang ada di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh adalah salah satu yang memiliki syarat cukup untuk membuka prodi arkeologi. Apalagi, benda arkeologi yang berada di Aceh sebagian besar merupakan warisan peradaban Islam.
“Seharusnya Fakultas Arkeologi itu sudah dibangun sejak dulu,” kata Thayeb.

Penulis novel Aceh 2025 ini mengatakan tanpa adanya jurusan arkeologi, maka universitas dan perguruan tinggi di Aceh telah menelantarkan kekayaan yang harganya sangat mahal.

“Kami meminta rektor UIN Ar-Raniry dan Dekan Fakultas Adab dan Humanioranya untuk melihat kepentingan yang mendesak ini. Semuanya sudah ada, hanya maksud baik dan tindakan cepat yang perlu dilakukan,” ujar Thayeb.[] (bna)