Tag: nisam

Diduga OTK, Polsek Nisam Amankan Pria Paruh Baya

Diduga OTK, Polsek Nisam Amankan Pria Paruh Baya

LHOKSUKON Petugas dari Polsek Nisam, Kabupaten Aceh Utara, mengamankan seorang pria paruh baya di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Nisam, Sabtu malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Menurut informasi masyarakat, pria tersebut tidak dikenali warga namun berkeliaran di desa setempat pada malam harinya.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Cahyo Hutomo melalui Kapolsek Nisam, Iptu Abdul Latief, kepada Portalsatu.com, mengatakan pria yang diamankan pihaknya ini berkeliaran di Desa Meunasah Alue pada malam hari, namun warga sekitar tidak ada yang mengenalinya.

Menurut perkiraan pihaknya, pria tersebut diduga mengalami gangguan jiwa serta tidak mau diajak berbicara. Selain itu, pada pria ini juga tidak ditemukan kartu identitas apapun.

“Sehingga untuk mewujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat, serta menghindari hal-hal tidak diinginkan, polisi menjemput pria tersebut. Pria tersebut oleh anggota polsek diantar ke Puskesmas Nisam, namun ditolak karena tidak memiliki kartu identitas. Dia tidak punya KTP, katanya tidak bisa dilayani oleh Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA), maka kita amankan sementara di Mapolsek,” ujar Kapolsek.

Akhir April lalu, katanya, Polsek Nisam juga mengamankan seorang pria diduga gangguan jiwa di Desa Keude Amplah, lalu pria tersebut diserahkan ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) untuk ditangani.

“Rencananya pria tersebut akan segera diserahkan ke petugas medis  untuk ditangani, maka mereka akan berkoordinasi dengan RSUCM dan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh Utara untuk menanganinya,” kata Kapolsek Nisam.

Laporan : Datuk Haris Molana

Rumah Mantan Geuchik di Nisam Aceh Utara Terbakar

Rumah Mantan Geuchik di Nisam Aceh Utara Terbakar

ACEH UTARA – Rumah berkonstruksi semipermanen milik M. Yusuf H. Thaib, mantan Geuchik Desa Cot Euntung, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, ludes terbakar, Rabu, 29 April 2015 sekitar pukul 03.00 WIB dinihari tadi. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

“Rumah mantan Geuchik Suh (M. Yusuf) habis terbakar, tapi tidak ada korban jiwa maupun yang terluka. Beliau bersama istrinya, Buk Laila, dan anak-anaknya berhasil menyelamatkan diri,” kata Barmawi, 22 tahun, warga Cot Euntung saat dihubungi lewat telpon seluler tadi sekitar pukul 09.40 WIB.

Barmawi menyebut sejauh ini belum diketahui pasti sumber api peyebab kebakaran tersebut. Namun, kata dia, dugaan sementara sumber api akibat konsleting (hubungan arus pendek) listrik di bagian belang rumah itu. “Karena mulanya terbakar bagian belakang,” ujarnya.

Menurut Barmawi, M. Yusuf bersama keluarganya berhasil menyelamatkan sepeda motor dan beberapa barang sebelum kobaran api meratakan rumah itu. Kata dia, mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian setelah api menghangus rumah tersebut sekitar pukul 05.30 WIB.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Nisam Iptu Abdul Latif mengaku sudah menerima informasi terkait kebakaran rumah milik mantan geuchik di Desa Cot Euntung. Sejauh ini polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.[]

Sumber foto: Foto dikirim warga Cot Euntung

Gubernur Siap Perangi Semua Aktor Perusak Damai Aceh

Gubernur Siap Perangi Semua Aktor Perusak Damai Aceh

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah menyatakan, pihak keamanan di Aceh siap untuk memerangi para perusak damai. Baik itu mereka yang membunuh dua anggota Kodim Aceh Utara di kawasan Nisam Antara, Senin (23/3) malam, maupun pengedar narkoba yang menembak mati seorang anggota Sabhara Polres Pidie, di Tangse, Rabu (25/3) siang, tak terkecuali para penculik yang meminta uang tebusan dari keluarga korban.

“Sebenarnya kejadian-kejadian itu tidak boleh terjadi lagi di Aceh yang masyarakatnya saat ini sedang menikmati iklim damai. Tapi, kita sangat menyayangkan karena hal itu telah terjadi. Insya Allah, kita akan perangi semua aktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut di Aceh,” kata Gubernur Zaini Abdullah saat menyampaikan sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di pusat pasar Beureunuen, Pidie, Minggu (5/4) malam, dengan menghadirkan penceramah Syeikh Ali Jaber.

Menurut Gubernur Zaini, saat ini Aceh sedang membangun. Kesempatan tersebut tidak boleh diulur-ulur, mengingat masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk pembangunan Aceh di masa mendatang. Masyarakat harus memberikan dukungan penuh kepada pemerintah agar pembangunan yang diinginkan masyarakat cepat terealisasi.

“Allah akan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada Aceh sehingga provinsi ini bisa mengembangkan sayap pembangunannya ke arah yang lebih baik,” kata Zaini di depan ribuan pengunjung.

Ia juga merinci bahwa tindak kekerasan telah terjadi di beberapa tempat di Aceh yang berpotensi mengusik suasana damai. Mulai dari terbunuhnya dua anggota Kodim Aceh Utara, Sertu Indra Gunawan (41) dan Serda Hendrianto (36), maupun penembakan Bripda Sayed Muhammad Reza, anggota Polres Pidie, saat membeli ganja secara menyamar (undercover buy) di Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Pidie, Rabu (25/3) siang.

Gubernur Zaini juga menyerukan kepada hadirin agar ceramah agama yang disampaikan Syeikh Ali Jaber itu sedianya menjadi pegangan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas. Apalagi, Syeikh Ali Jaber yang merupakan ulama asal Madinah, Arab Saudi, bersedia datang ke Pidie untuk menyampaikan pengetahuan tentang agama Islam.

Dalam ceramahnya, Syeikh Ali Jaber, antara lain menjelaskan, orang Aceh telah lama menderita akibat gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada akhir 2004. Peristiwa tersebut tidak mudah dilupakan karena tsunami merupakan satu peristiwa dahsyat. Tapi sayangnya, Aceh belum bisa bangkit pascatsunami. Bandingkan dengan Jepang yang dibom Amerika tahun 1945, tapi dalam tempo sepuluh tahun mereka berhasil menjadi negara paling kuat ekonominya. “Maka sudah saatnya Aceh bangkit kembali menjadi Serambi Mekkah melalui pemimpin yang sekarang. Ini momentum baik bagi pemimpin bersama masyarakat dalam membangun Aceh pascatsunami. Saya yakin, Aceh bisa bangkit jika orang Aceh tidak ada lagi yang meninggalkan shalat. Orang muslim meninggalkan shalat itu musibah paling besar,” kata Syeikh Ali Jaber.

Di sisi lain, menurutnya, orang Yahudi terus berusaha menghancurkan Islam, tapi Allah telah menyatukan umat Islam di seluruh dunia sebagai umat yang kompak melalui tali ukhuwah islamiah. Salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada umat Islam, menurutnya, adalah sinar Islam akan dijamin akan terang menderang di muka bumi, walaupun orang Yahudi berusaha memadamkan sinar tersebut. “Tapi yang saya takut, Islam justru akan hancur oleh umat Islam itu sendiri,” imbuhnya.

Itu terjadi, menurut Ali Jaber, karena perbuatan seorang muslim mulai jauh dari tuntunan agama Islam. Misalnya, muslim tidak lagi shalat lima waktu dan masih suka berbohong serta melakukan berbagai perbuatan negatif lainnya. Padahal, Islam merupakan agama yang cukup sempurna karena Allah memberikan kebaikan di dunia dan akhirat bagi hamba-Nya yang benar-benar bertakwa.

“Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya, kecuali hamba-Nya itu sendirilah yang mencari masalah. Misalnya, saat Allah meminta kita menjaga shalat lima waktu, tapi kita abaikan. Apakah itu bukan mencari masalah sendiri?” tukas Syeikh Ali Jaber.

Dikatakan, saat ini jumlah umat Islam terbesar di dunia. Namun, sayang umat Islam masih banyak yang bodoh agama. Lalu, muncullah muslim fanatik (keras kepala) dan muslim keturunan atau muslim KTP, sehingga kerap terjadi permusuhan di antara sesama muslim.

Sementara itu, sumber Serambi di jajaran Pemerintah Aceh mengatakan, Gubernur Zaini akan rapat dengan Forum Pimpinan Daerah (Forkompinda) pada 8 April 2015 di Pendapa Gubernur Aceh.

Rapat itu sebagai lanjutan rapat kerja Komisi I DPRA dengan Forkopimda Aceh yang saat itu dihadiri Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, Kapolda Aceh Irjen Pol Husein Hamidi, dan Gubernur Aceh yang diwakili Sekda Dermawan MM.

Rapat Forkopimda yang akan dilakukan Gubernur Aceh itu, kata sumber Serambi, untuk membahas kondisi keamanan Aceh terkini sekaligus mengevaluasi proses pemburuan kelompok bersenjata api di Aceh, pengejaran pembunuh dua anggota TNI Kodim Aceh Utara dan seorang polisi Polres Pidie, dan berbagai masalah lain yang terkait dengan gangguan kamtibmas.

Materi yang akan disampaikan nantinya, lanjut sumber tadi, adalah hasil kesepakatan Forkompinda yang akan dijalankan Pemerintah Aceh bersama instansi vertikal (TNI/Polri) untuk menyikapi berbagai masalah gangguan keamanan di Aceh yang terjadi akhir-akhir ini.[] sumber: tribunnews.com

Penembak Intel TNI Belum Ditemukan

Penembak Intel TNI Belum Ditemukan

LHOKSEUMAWE –  Aparat keamanan hingga kini belum berhasil menangkap pelaku penembakan yang menewaskan dua intelijen TNI di Nisam Antara, Aceh Utara.

“Belum ada perkembangan terbaru soal pelaku, masih terus dicari, posisi kita memback-up polisi,” kata Danrem-011/Lilawangsa Kol Inf Achmad Daniel Chardin saat dihubungi portsalsatu.com lewat telpon seluler, Selasa, 7 April 2015, usai siang.

Pantauan portalsatu.com di kantor Pos Polisi dan Koramil Nisam AntaraSenin kemarin usai siang, hanya ada beberapa personel polisi dan tentara tengah bersantai. Kendaraan pengangkut personel TNI/Polri juga hanya tampak empat unit. Kondisi tersebut beda jauh dengan pekan lalu, di mana pada siang hari terlihat banyak personel TNI/Polri, dan truk reo “menumpuk” di halaman Markas Pos Polisi dan Koramil itu.

Anggota DPR Aceh Azhari alias Cage dan Tarmizi alias Panyang yang berkunjung ke Nisam Antara, sempat singgah di Markas Pos Polisi setempat, kemarin siang. Cage ingin menjumpai Kapolres Lhokseumawe AKBP Cahyo Hutomo yang dikabarkan “pindah kantor” ke Nisam Antara untuk memimpin pengejaran kelompok bersenjata. (Cage DPR Aceh Pantau Kondisi Nisam Antara).

Akan tetapi, Cage dan Panyang gagal bertemu Kapolres Cahyo lantaran yang bersangkutan tidak berada di Markas Pos Polisi. Satu sumber menyebutkan kapolres sudah berangkat ke Banda Aceh, namun informasi lainnya mengatakan kapolres tengah berada di lapangan bersama pasukannya. Cage kemudian menanyakan kepada Kepala Pos Polisi Nisam Antara, Iskandar tentang situasi terkini di kecamatan tersebut.

“Situasinya sudah normal, dan pasukan yang sebelumnya dikerahkan ke sini, sudah dikurangi,” ujar Iskandar menjawab pertanyaan Cage. (Baca: Masyarakat Nisam Antara Pertanyakan Sikap DPR Aceh).

Ketika ingin mengonfirmasi tentang pengejaran terhadap kelompok bersenjata, Iskandar minta portalsatu.com menghubungi Kapolres Lhokseumawe. Dihubungi lewat telpon seluler, Selasa usai siang, Kapolres Cahyo menolak diwawancarai. “Mohon dihubungi Kabid Humas Polda, biar satu pintu,” katanya.

Menurut Danrem, sebagian personel TNI telah ditarik dari Nisam Antara. “Sebagian lainnya sudah disebarkan ke tempat lain untuk memback-up polisi dan memberi rasa nyaman kepada masyarakat dalam melaksanakan aktivitas seperti berkebun, dan sekarang masyarakat sudah hidup normal,” ujar Daniel.

Diberitakan sebelumnya, dua intelijen TNI dari Kodim Aceh Utara diculik dan ditembak hingga tewas oleh kelompok bersenjata di Nisam Antara, Senin, 23 Maret lalu. Kedua korban adalah Sertu Indra Irawan dan Serda Hedrianto.[]

Gerindra Aceh Minta Menhan Jangan Asal Statemen Soal Nisam

Gerindra Aceh Minta Menhan Jangan Asal Statemen Soal Nisam

BANDA ACEH – Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyebutkan akan memberlakukan kembali daerah operasi militer (DOM) di Aceh jika masih terjadi penembakan terhadap TNI, masih terus mendapatkan tanggapan dari masyarakat Aceh.

Ketua DPD Partai Gerindra Aceh, TA Khalid meminta Menhan Ryamizard Ryacudu jangan mengeluarkan pernyataan yang bisa memancing konflik kembali di Aceh. TA Khalid mengatakan, pihak keamanan di Aceh telah menyatakan bahwa insiden Nisam adalah murni kriminal dan pemerintah Aceh juga telah meminta pihak keamanan untuk mencari dan menindak tegas pelakunya.

“Pak Ryamizard jangan asal mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kondisi di Aceh, karena dapat memancing konflik dan menjadi petaka di Aceh. Masak kasus kriminal solusi penyelesaian dengan memberlakukan DOM,” kata TA Khalid melalui SMS seperti dilansir aceh.tribunnews.com, Sabtu, 4 April 2015.

Beberapa waktu lalu, sejumlah situs berita nasional memberitakan pernyataan Menhan Ryamizard Ryacudu yang berharap kasus penembakan 2 anggota Kodim di Aceh Utara tidak terjadi lagi. Ia menyatakan, jika kasus serupa terulang lagi, maka dikhawatirkan akan ada lagi daerah operasi militer (DOM). DOM di Aceh pernah diberlakukan pada 1990-1998 untuk melawan GAM.

Pernyataan Menhan ini kemudian mendapat tanggapan dari mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Darwis Jeunib. Ia mengatakan, kejadian tersebut murni kriminal terpisah dari konflik internal antara separatis dan TNI/Polri. “Daripada memberlakukan DOM lagi di Aceh, lebih baik menyerahkan senjata lagi kepada mantan kombatan untuk meringkus kawanan pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat,” ujarnya pekan ini, seperti ditulis Kompas.com.

Ketua DPD Gerindra Aceh, TA Khalid berharap Menhan Ryamizard Ryacudu harus menyadari perdamaian hanya dapat dijaga dengan kebijaksanaan kata, sikap, dan tindakan yang baik, bukan dengan kekuatan senjata. “Saya mengajak semua pihak terutama rakyat Aceh, mari kita jaga perdamaian di negeri kita sendiri. Jangan terpancing dengan statemen pihak-pihak yang menginginkan Aceh bergolak dan berdarah lagi,” ujarnya.

TA Khalid juga meminta pemerintah pusat harus lebih fokus dan ikhlas untuk merealisasikan semua butir perjanjiannya yang telah disepakati dalam MoU Helsinky agar tidak ada pihak yang merasa terkhianati dan terzalimi demi NKRI. [] sumber: aceh.tribunnews.com

KAM-K: Keterlibatan TNI di Nisam Jangan Picu Konflik Baru

KAM-K: Keterlibatan TNI di Nisam Jangan Picu Konflik Baru

BANDA ACEH – Komite Aksi Mahasiswa Kota (KAM-K) meminta TNI dan Polri untuk bersinergis menyelesaikan kasus penembakan dua intel di Nisam, Aceh Utara. Mereka menilai keterlibatan TNI dalam upaya mengusut kasus ini patut menjadi sorotan lantaran berpotensi membuka ruang konflik baru.

“Berpedoman pada aturan yang berlaku, ini pidana umum yakni pembunuhan terkait pasal 338 KUHP, otomatis Polri sebagai leading sector-nya,” kata Ketua Umum KAM-K, Rizky Burnama, kepada portalsatu.com, Jumat, 3 April 2015.

Ia turut menyayangkan statemen Menhan Ryamizard Ryachudu yang dinilai mengancam dan sangat berpotensi mengganggu perdamaian Aceh.

“Pihak yang berwenang harus lebih jeli dalam upaya penyelesaian kasus ini,” ujarnya.[] (bna)

IMPKL: Kondisi Ekonomi Jadi Salah Satu Faktor Pemicu Kriminal di Aceh

IMPKL: Kondisi Ekonomi Jadi Salah Satu Faktor Pemicu Kriminal di Aceh

BANDA ACEH – Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Kota Lhokseumawe (IMPKL) menilai maraknya kejahatan yang terjadi di Aceh tidak terlepas dari faktor ekonomi. Apalagi jika tingkat ekonomi masyarakat Aceh sekarang yang merosot, ditambah harga barang naik, dan peluang kerja terbatas.

“Tugas pemerintah sekarang adalah bagaimana mereka menghasilkan solusi konkrit untuk permasalahan ekonomi rakyat yang sedang carut marut,” kata Ketua IMPKL, Abu Hurairah, kepada portalsatu.com, Jumat, 3 April 2015.

Menurutnya salah satu usaha dan pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah membuka lapangan kerja untuk warga lokal di Aceh. Selain itu, pemerintah juga diminta meningkatkan tingkat investasi yang tidak menyengsarakan rakyat.

Dia menilai maraknya peredaran narkoba di Aceh juga tidak terlepas dari beban ekonomi yang kian menghimpit. Hal itu membuat para pelaku lebih cenderung berfikir singkat dengan cara mencari alternatif yang lebih menggiurkan.

Dia juga menyarankan kepada pihak keamanan untuk lebih meningkatkan sosialisasi anti narkoba yang bisa bekerja sama dengan para pemuka agama. Selain itu, Abu Hurairah meminta aparat keamanan untuk memberantas narkoba tanpa pandang bulu.

“Kembali lagi pada faktor yang sebelumnya, orang menjadi pengedar disebabkan faktor ekonomi dan orang menjadi pengguna disebabkan faktor sosial yang terjadi saat ini. Jadi permasalahan narkoba tidak cukup jika melakukan sosialisasi dari pihak keamanan semata, tapi pembekalan agama dengan melibatkan para pemuka agama sangatlah diperlukan,” katanya.[] (bna)

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

BIREUEN — Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyebutkan akan memberlakukan kembali daerah operasi militer (DOM) di Aceh jika masih terjadi penembakan terhadap TNI dikecam oleh mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Darwis Jeunib.

Ia mengaku kejadian kemarin murni kriminal terpisah dari konflik internal antara separatis dan TNI/Polri. “Daripada memberlakukan DOM lagi di Aceh, lebih baik menyerahkan senjata lagi kepada mantan kombatan untuk meringkus kawanan pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat,” ujarnya pekan ini, seperti ditulis Kompas.com.

Dia mengakui, masyarakat Aceh tak mau lagi konflik berulang hingga menyebabkan duka akibat kehilangan nyawa dan harta benda mereka. Aceh kini sudah lelah hidup dalam kungkungan konflik yang menyisakan luka.

Di samping itu, sekian lama masyarakat tak bisa melakukan aktivitas memperbaiki ekonomi untuk leluasa bekerja siang dan malam. “Jadi, tak ada alasan untuk DOM kembali berlaku di Aceh. Kami ingin Aceh damai, aman, dan tenteram sampai kapan pun juga,” kata Ketua Partai Aceh (PA) Kabupaten Bireuen itu.

Darwis mengaku perjuangan sudah usai dan ia tak ingin ada kekacauan untuk memorak-porandakan Aceh. Kalaupun ada konflik, dia berharap segala sesuatu dipikirkan dengan pikiran jernih dan musyawarah guna mendapatkan solusi terbaik yang tidak merugikan masyarakat.

“Saat ini yang terpenting adalah membangun komunikasi dan kerja sama agar Aceh tetap menjadi bagian dari kedaulatan NKRI,” kata tokoh GAM ini.[] sumber: tribunnews.com

PB IPPELMAS: Jangan Sampai Ada Oknum yang Mengambil Keuntungan

PB IPPELMAS: Jangan Sampai Ada Oknum yang Mengambil Keuntungan

BANDA ACEH – Pengurus Besar Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Sabang (PB IPPELMAS) berharap semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk mengambil peran penting mengantisipasi maraknya peredaran narkoba dan turut menjaga keamanan di Aceh.

“Jangan sampai dengan kondisi yang seperti ini ada pihak-pihak yang berusaha merusak perdamaian Aceh dan juga para gembong narkoba dengan mudah melakukan aksinya,” kata Ketua Umum PB IPPELMAS, Putra Rizki Pratama, Jumat, 3 April 2015.

Dia juga berharap kepada seluruh elemen untuk tidak memperkeruh kondisi Aceh dengan memberikan pernyataan-pernyataan yang dapat memancing hal-hal yang tidak diinginkan. Di sisi lain, Putra juga meminta Pemerintah Aceh beserta Polisi dan TNI untuk bekerjasama secara riil menjaga keamanan dan perdamaian Aceh.

“Ini tugas berat semua pihak, kriminal dan kejahatan tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat yang semakin terpuruk,” ujarnya.[] (bna)

Nisam Mencekam, GMA: Pihak Keamanan Jangan Terlalu Overaktif

Nisam Mencekam, GMA: Pihak Keamanan Jangan Terlalu Overaktif

BANDA ACEH – Gerakan Mahasiswa Aceh (GMA) sangat kecewa dengan kinerja polisi dan TNI yang dinilai terlalu overaktif dalam mengungkap kasus yang terjadi di Nisam, Aceh Utara. Pasalnya GMA menilai ketidakbecusan pihak keamanan dalam menjalankan tugasnya membuat masyarakat semakin resah.

Sopian, Koordinator GMA mengatakan pihak keamanan juga sudah melewati batas dalam menjaga keamanan di daerah tersebut. Menurutnya sudah seharusnya pihak keamanan baik Polri maupun TNI mengayomi masyarakat, bukan malah membuat masyarakat semakin takut dengan kehadiran anggota Polri dan TNI di Nisam.

“Saya sangat kecewa dengan kerja pihak keamanan yang sampai hari ini belum bisa membuat masyarakat Nisam nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Apa mereka cuma bisa menakut-nakuti masayarakat saja?” kata Sopian.

Menurutnya pihak keamanan sudah seharusnya menjaga ketertiban, kenyamanan serta kedamaian rakyat Indonesia. “Bukan malah menakut-nakuti dengan mobil reo atau panser. TNI sudah menyalahi aturan, berarti selama ini TNI sudah melakukan operasi militer non perang,” katanya.

Ia mengatakan seharusnya kasus Nisam hanya ditangani oleh kepolisian saja karena menyangkut kriminal.

“Kita imbau pihak TNI jangan terlalu aroganlah, bahkan sampai overaktif inikan masalah sepele. Masih bisa diselesaikan dengan pendekatan persuasif oleh pihak kepolisian RI,” katanya.[](bna)