Tag: NASA

NASA Gandeng Pelajar untuk Pembuatan Pesawat Planet Mars

NASA Gandeng Pelajar untuk Pembuatan Pesawat Planet Mars

Planet Mars memang menjadi salah satu penelitian para ilmuwan selama ini, termasuk The National Aeronautics and Space Administration (NASA). Setelah kemarin banyak diperbincangkan mengenai penemuan air di Planet Mars, sekarang NASA sedang bekerja keras merancang pesawat untuk mendarat di Mars.

Beberapa minggu yang lalu, mereka sedang menguji bentuk sayap baru yang akan digunakan untuk Red Planet-bound planes. Tidak hanya ilmuwan dalam saja, NASA juga mengajak beberapa pelajar untuk membantunya mengadakan penelitian desain Aerodinamika atau Prandtl-m aircraft.

Para pelajar tersebut membangun sebuah pesawat berbentuk bumerang yang terbuat dari serat karbon, kemudian diuji dengan ketinggian yang lebih besar di luar ruangan. Namun sayangnya, percobaan ini belum seperti yang diharapkan karena kompleksitas sistem peluncuran.

Salah satu caranya adalah dengan membuat pesawat radio kontrol yang bisa dilakukan untuk penelitian dengan ketinggian yang bisa disesuaikan. Mahasiswa dan NASA Flight Scholars juga membuat modifikasi bentuk sayap dengan bahan-bahan baru menggunakan ilmu aerodinamis agar stabilitas pesawat tetap terjaga.

Banyaknya percobaan dan kesalahan memang bagian dari setiap program ini. Namun jika suatu saat berhasil, kita bisa mendapatkan informasi berharga mengenai lokasi pendaratan di Planet Mars untuk dieksplorasi lebih jauh. | sumber : merdeka

Foto: Pembuatan pesawat ke planet Mars. ©2015 engadget.com

Tokek Jadi Inspirasi Pembuatan Jangkar NASA

Tokek Jadi Inspirasi Pembuatan Jangkar NASA

ILMUWAN NASA tengah menciptakan jangkar yang akan digunakan untuk proses reparasi di stasiun antariksa ISS. Jangkar itu memiliki struktur genggam seperti tokek.

Melakukan kegiatan di antariksa tentunya jauh lebih susah daripada di Bumi. Di sana, semuanya dengan mudah melayang karena nihilnya gravitasi.

Dengan pendekatan biomimetik, NASA tengah meneliti kemungkinan untuk mengaplikasikan sistem genggam tokek untuk membantu robot menempel di mesin-mesin instalasi di stasiun luar angkasa ISS.

Tim NASA memang terinspirasi oleh kuatnya genggaman yang dimiliki tokek. Di alam, tokek punya kemampuan hebat untuk memanjat sesuatu dan bertahan di atasnya karena memiliki kaki dengan jutaan rambut kecil yang kuat menggenggam targetnya. Dengan jutaan ambut kecil tersebut, permukaan kaki tokek menggenggam targetnya dengan gaya fisika yang dikenal sebagai gaya van der Waals.

Gaya van der Waals terjadi saat elektron yang mengorbit inti dari sebuah atom didistribusi secara tidak merata, menghasilkan medan listrik dengan kutub positif dan negatif. Medan listrik itu menciptakan polar yang pas untuk molekul terdekat, membentuk efek adesif sementara di antara kaki tokek dan permukaan yang dipijaknya.

Dengan menciptakan bahan sintesis yang tersusun dari tangkai-tangkai halus yang lebih kecil daripada rambut manusia, ilmuwan NASA meniru kemampuan menggenggam tokek tersebut.

Gambar di atas menunjukkan robot LEMUR—Limbed Excursion Mechanical Utility Robot, salah satu robot yang sudah memiliki sistem tangan tokek yang digunakan NASA untuk memanjat lambung-lambung ISS dan melakukan reparasi pada bagian yang rusak.[] sumber: National Geographic

NASA Rekam Keberadaan Alien ‘Wanita’ di Mars?

NASA Rekam Keberadaan Alien ‘Wanita’ di Mars?

Jakarta – Sebuah gambar yang diklaim sebagai foto yang diambil oleh Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) di Mars menunjukkan bahwa ada penampakan makhluk asing–yang biasa disebut alien–wanita di planet merah tersebut.

Gambar yang diambil oleh robot penjelajah Mars, Mars Curiosity, seperti dimuat dalam situs lembaga itu, menunjukkan seorang wanita sedang berdiri. Ia tampak memiliki rambut panjang, mengenakan gaun, dan memiliki payudara.

“Sepertinya wanita berjubah. Wanita itu tampaknya memiliki payudara…ditunjukkan oleh bayangan di bagian dada. Kami juga melihat dua lengan yang lebih ringan dalam warna dan apa yang tampak seperti kepala dengan rambut panjang,” tulis situs tersebut.

Seperti yang dilansir RT News, Rabu, 5 Agustus 2015, selain di situs Mars Curiosity, gambar itu juga muncul di situs pecinta UFO seperti areazone51ufos.blogspot.be dan UFO Sightings Daily, website yang ditujukan untuk memungkinkan pendeteksian UFO.

Sebagian netizen meragukan gambar tersebut, dan menganggapnya sebagai patung. Namun, penulis artikel meragukan jika itu patung. “Patung yang kecil akan terkikis dan hancur dengan mudah, sehingga besar kemungkinan itu menjadi makhluk hidup.”

Beberapa waktu yang lalu penggemar UFO digegerkan dengan penampakan di Mars. Pengguna media sosial melihat makhluk aneh di permukaan planet merah. Pecinta UFO menjulukinya “Spider”, “Alien”, “John Carter”, dan bahkan “Kepiting Luar Angkasa”. | sumber: Tempo.co

Foto penampakan wanita berambut panjang yang terlihat di Mars, yang menjadi perhatian para penggemar UFO. Nasa/RT

Wajah Planet Bumi dari Jarak 1,6 Juta Kilometer

Wajah Planet Bumi dari Jarak 1,6 Juta Kilometer

Dari luar angkasa, planet Bumi tempat kita tinggal tampak seperti “kelereng biru” yang Indah. Sebagian gambaran ini diperoleh dari foto “Blue Marble” hasil jepretan roket Apollo tahun 1972. Ketika itu foto bumi diambil dari jarak 45.000 kilometer di luar angkasa.

Kini, lembaga antariksa AS, NASA, telah mengambil foto terbaru yang diambil dari jarak 1 juta mil atau sekitar 1,6 juta kilometer.

Seperti dirangkum Nextren dari Cnet, Kamis (23/7/2015) foto anyar yang diambil pada 6 Juli lalu tersebut merupakan kombinasi dari tiga gambar yang dijepret oleh unit kamera EPIC (Earth Polychromatic Imaging Camera) yang terpasang di salah satu satelit NASA.

Hasilnya adalah foto yang dengan rinci memperlihatkan keindahan Bumi dari angkasa, dari struktur padang pasir, sistem sungai, hingga pola awan yang rumit.

“Kualitas tinggi dari gambar-gambar EPIC melebihi semua ekspektasi kami dalam hal resolusi,” ujar anggota tim proyek Dscovr NASA, Adam Szabo, dalam  sebuah posting di situs NASA.

Dscovr merupakan proyek gabungan antara NASA dengan National Oceanic and Atmospheric Admnistration serta Angkatan Udara Amerika Serikat.

Diluncurkan pada Februari tahun ini, Dscovr bertujuan memonitor angin matahari (solar wind) sehingga para ilmuwan bisa memprediksi kedatangan badai matahari yang mampu merusak sistem telekomunikasi dan listrik di Bumi.

Dalam menjalankan misi itu, kebetulan, satelit Dscovr sempat pula memotret Bumi dari jarak jauh. NASA berencana mengumpulkan gambar-gambar jepretan baru ini dalam sebuah situs internet khusus pada September mendatang. | sumber : nextren

Foto: penampakan bumi yang diambil dari jarak 1,6 juta kilometer oleh satelit NASA @NASA via nextren

Russia Bakal Investigasi Pendaratan Pertama Amerika di Bulan

Russia Bakal Investigasi Pendaratan Pertama Amerika di Bulan

MOSKOW – Juru Bicara Komite Investigasi Rusia, Vladimir Markin, menyerukan investigasi pada misi pendaratan bulan pertama oleh Amerika Serikat lewat tulisan di koran Izvestia.

Tulisan Markin muncul setelah adanya langkah Amerika Serikat untuk menyelidiki kasus korupsi di tubuh Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) yang melibatkan presiden lembaga itu, Sepp Blatter, yang kini telah mengundurkan diri.

Markin mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah melanggar batas dengan ikut serta mendorong investigasi pada kasus korupsi itu.

Selanjutnya, Markin, seperti diberitakan The Independent, Kamis (18/6), mengatakan, jika Amerika Serikat bisa menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan orang Rusia, Rusia juga bisa menyelidiki skandal Amerika Serikat pada masa lalu, soal pendaratan di Bulan.

Markin akan mendukung investigasi tentang hilangnya footage asli pendaratan di bulan dan batuan yang didapatkan dari satelit bumi itu.

“Kami tidak mengatakan bahwa mereka tidak benar-benar terbang ke Bulan dan hanya membuat film tentangnya. Namun, semua artefak ilmiah, atau mungkin kultural, yang didapatkan dari misi itu adalah milik manusia, dan kehilangannya adalah kehilangan kita semua,” urainya.

Investigasi akan mengungkap hilangnya footage misi pada tahun 1969 itu, dan bagaimana ceritanya batuan seberat hampir 400 kilogram yang diambil dari Bulan bisa lenyap.

Tulisan Markin sepertinya tidak akan mengguncang Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Tahun 2009, NASA mengakui bahwa mereka telah menghapus rekaman asli pendaratan di Bulan untuk menghemat biaya. Namun, mereka telah berusaha mendapatkan footage dari hasil siaran televisi, seperti dari CBS News.

Batuan dari Bulan itu dikatakan disimpan di Lyndon B Johnson Space Center in Texas.[] sumber: National Geographic

Pemuja Teori Konspirasi Ramalkan Kiamat September Ini

Pemuja Teori Konspirasi Ramalkan Kiamat September Ini

PARA pemuja teori konspirasi menyebut akhir dunia alias kiamat semakin dekat. Bahkan kiamat diperkirakan akan terjadi pada September tahun ini.

Seperti diberitakan laman Daily Mirror, Minggu (7/6), para pakar teori konspirasi menyebut akan ada bencana iklim dahsyat yang bakal memusnahkan peradaban hanya dalam beberapa bulan ke depan. Merujuk pada sejumlah blog, para peramal menyebut akhir dunia itu akan terjadi antara tanggal 22-28 September karena ada benda langit semacam asteroid besar menghantam Bumi.

Sebelumnya para ahli Injil sudah mengingatkan doktrin tentang peristiwa pengangkatan sebelum masa kesukaran yang akan berlangsung selama 7 tahun. Doktrin yang beredar di kalangan terbatas itu juga diperkuat dengan tanda-tanda kiamat dalam Alkitab yang menyebut matahari akan gelap, bulan tak lagi bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan.

Namun, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) menepis ramalan itu. NASA merasa punya data karena menempatkan deteksi atas gerak asteroid sebagai prioritas utama.

“NASA tahu bahwa tidak ada asteroid atau komet yang yang berada pada satu lintasan dengan Bumi, jadi kemungkinan tentang tabrakan besar itu sangat kecil,” kata juru bicara NASA.

Dan hasil pemantauan NASA ada yang lebih menggembirakan. “Faktanya sampai saat ini tidak ada objek besar dari antariksa yang mengarah ke Bumi dalam beberapa ratus tahun ke depan.”

Dan yang lebih beruntung, hampir semua asteroid langsung terbakar hebat saat memasuki atmosfer Bumi. Karenanya asteroid pun hancur sebelum menghantam permukaan tanah.

Namun, tetap saja penjelasan NASA itu tak memupus  para pemuja teori konspirasi yang menyebut kiamat akan datang pada September nanti. Para penganut teori konspirasi percaya hantaman asteroid akan memicu bencana iklim.

Mereka bahkan menyebut para politikus ternama dunia sebenarnya sudah tahu soal bencana yang akan mengarah ke akhir dunia itu. Namun, para politikus itu sengaja menyimpan informasi itu.

Para penganut teori konspirasi juga menyebut peristiwa itu akan menjadi pintu masuk bagi kelompok Illuminati, sebuah kelompok persaudaraan rahasia yang menyeponsori terbentuknya tata dunia baru atau yang dikenal juga sebagai novus ordo seclorum. Salah satu blogger penganut teori konspirasi lantas merujuk alat penumbuk hadron raksasa (large hadron collider/LHC) milik Badan Riset Nuklir Eropa (CERN), di Swiss. Logo CERN pun diyakini sebagai 666, sebuah kombinasi angka yang dikenal sebagai simbol iblis dan dikaitkan dengan Illuminati.

Bahkan, di LHC pula ada simbol mirip mata yang selama ini melekat dengan Illuminati. “Alat penumbuk CERN tampat seperti mata yang melihat ke semua atau stargate yang kita bisa melihat banyak hal,” tulis salah satu blogger.[] sumber: jpnn.com

Pemenang Nobel Termuda Malala Jadi Nama Asteroid

Pemenang Nobel Termuda Malala Jadi Nama Asteroid

AMERIKA SERIKAT – Astronom dari The National Aeronautics and Space Administration Amy Mainzer menamai sebuah asteroid sama dengan aktivis pendidikan remaja Pakistan dan peraih Nobel Perdamaian termuda Malala Yousafzai. Astronom di Kalifornia ini menemukan asteroid baru yang mengorbit di antara Planet Mars dan Jupiter.

“Ini kehormatan besar untuk menamai asteroid dengan nama Malala,” kata Mainzer.

Ada ratusan asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter. Mainzer yang bekerja di The Jet Propulsion Laboratory menemukan Asteroid 316201 pada Juni 2010. Penemuan ini membuat Mainzer berhak memberikan nama asteroid yang mengorbit Matahari dalam kurun 5,5 tahun.

Nama Malala dipilih setelah Mainzer membaca kisah remaja Pakistan tersebut bersama salah satu murid postdoctoral-nya, Carrie Nugent. Nama asteroid tersebut menjadi 316210 Malala atau 2010 ML48. Asteroid ini memiliki diameter sekitar empat kilometer dengan permukaan yang sangat gelap.

“Banyak asteroid telah diberikan nama, tapi sangat sedikit yang diberi nama untuk menghormati kontribusi perempuan, terutama perempuan kulit berwarna,” kata Mainzer.

Malala menerima hadiah Nobel Perdamaian bersama dengan aktivis hak anak di India, Kailash Satharthi, tahun lalu. Malala berjuang untuk hak pendidikan bagi remaja Pakistan. Perjuangannya ini mendapat perlawanan dan serangan dari Taliban pada 2012. Taliban menyerang dan menghancurkan ratusan sekolah sebagai bentuk ancaman pada perempuan yang ingin menempuh pendidikan. | sumber : tempo