Tag: narkoba

Selundupkan Sabu, Dua Ibu Rumah Tangga Asal Aceh Ditangkap di Jakarta

Selundupkan Sabu, Dua Ibu Rumah Tangga Asal Aceh Ditangkap di Jakarta

JAKARTA – AP (33) dan AH (30) yang merupakan kakak beradik asal Aceh ini harus mendekam di penjara Polres Jakarta Barat. Keduanya ditangkap saat sedang membawa 1 kilo sabu di wilayah Tangerang.

Menurut KBO Narkoba Polres Jakarta Barat, AKP Alrasyidin Fajri, keduanya ditangkap berdasarkan hasil penggerebekan di depan sebuah hotel di kawasan Benda Kerep, Tangerang. Keduanya berhasil membawa 1 kilogram sabu lewat Bandara Soekarno Hatta.

“Pelaku bisa lolos dari sistem pengamanan bandara setelah berhasil menyembunyikan sabu melalui konde rambut yang disumpal oleh kerudung dan lipatan kemben yang disimpan dalam perut. Dari tangan keduanya kami berhasil mengamankan 1 Kg sabu,” terang Fajri, Kamis (8/10/2015).

Awal mula penangkapan berdasarkan laporan warga yang mengatakan di kawasannya kerap dijadikan sarang narkoba oleh sejumlah orang. Mendapati hal itu, Unit narkoba di bawah pimpinan Kasubnit 1 tim 2 Narkoba Polres Jakbar, Ipda Subartoyo langsung melakukan investigasi dan penelusuran terhadap informasi tersebut.

“Hasilnya, kami mencurigai dua orang yang tengah hilir mudik di depan hotel. Setelah yakin, kami langsung menggerebek keduanya,” terang Fajri.

Upaya pengembangan terhadap jaringan ini pun sempat dilakukan Satuan Narkoba pasca ketangkepnya wanita asal Aceh ini. Melalui sedikitnya informasi, anggota narkoba pun berangkat ke Surabaya untuk mencari seorang pelaku bernama Babe yang diduga menjadi penyelundup sabu itu.

“Kami juga tengah memburu satu pelaku lain yang kabur saat penggrebekan itu,” jelas Fajri.

Atas perbuatannya, kedua ibu beranak dua inipun terjerat dengan pasal 114 UU no 35 tahun 2009 tentang narkoba dan terancam hukuman penjara di atas 12 tahun. | sumber: detik.com

Empat Bandar Ganja Sindikat Aceh Dituntut Mati oleh Kejari Jakbar

Empat Bandar Ganja Sindikat Aceh Dituntut Mati oleh Kejari Jakbar

JAKARTA – Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar) menyatakan perang terhadap pada narkoba. Hal itu dibuktikan dengan menuntut mati 4 orang pengedar ganja kelas kakap jaringan Aceh. 4 Terdakwa itu dianggap sangat berbahaya dan harus diberikan vonis maksimal.

Mereka adalah Muhammad Nasir, Bambang Andrianto, Masykur dan Zaini Jamalluddin. Mereka ditangkap saat hendak membawa ganja 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta menggunakan sebuah truk pada 24 Desember 2014.

Saat itu Kanit Reskrim Polsek Kalideres AKP Andika menangkap sopir kontainer yang membawa 1,3 ton, Zaini, di Jalan Pluit Raya, Jakarta Utara. Dari penangkapan Nasir, Unit Narkoba Polres Jakarta Barat mengembankan kasus ini. Setelah diselidiki, Kasat Narkoba Polres Jakarta Barat AKBP Gembong Yudha akhirnya menangkap atasan pelaku yaitu Nasir pada 30 Desember 2014.

Polisi bergerak ke hulunya dan berhasil menggagalkan upaya penyelundupan lain di Riau. Di Riau polisi menangkap Masykur dengan barang bukti ganja ratusan kilogram. Penangkapan itu terjadi pada 11 Februari 2015.

Setelah Masykur polisi kembali menangkap jaringan mereka yaitu Bambang Andrianto. Ketiganya mempunyai tugas masing-masing dalam upaya penyelundupan ganja tersebut. Nasir sebagai sopir, Zaini sebagai bos dan Masykur serta Bambang sebagai koordinator.

“Empat orang itu dituntut mati dan sudah dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) minggu lalu,” ujar Kajari Jakbar, Reda Mantovani, saat dihubungi wartawan, Rabu (7/10/2015).

Reda menjelaskan, mereka yang dituntut mati dianggap melanggar pasal 114 ayat 2 UU Narkotika. Tidak ada ampun bagi mereka, jaksa menuntut mereka dengan hukuman maksimal yaitu hukuman mati.

“Kemungkinan pekan depan mereka akan menjalani sidang putusan,” pungkas Reda. | sumber: detik.com

 

Secara Nasional, Aceh Urutan 8 Darurat Narkoba

Secara Nasional, Aceh Urutan 8 Darurat Narkoba

Tapaktuan  –  Aceh saat ini berada diurutan delapan secara nasional darurat narkoba. Hal ini dibuktikan dengan 50 hingga 70 persen penghuni Lapas di daerah itu tersangkut persoalan narkoba, demikian data dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh,

Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH dalam pidatonya pada acara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015 di Gedung Rumoh Agam, Tapaktuan, Selasa mengatakan, masalah narkoba di Indonesia telah memasuki fase darurat.

Status kondisi darurat narkotika bukan hanya retorika dan isu belaka, tapi sudah terbukti sesuai fakta dan realita di lapangan, ujar Bupati.

Menurutnya, jumlah penyalahguna narkotika di Indonesia sudah mencapai lebih dari 4 juta jiwa. Mereka bukan hanya dari kalangan dewasa semata, namun yang lebih tragis lagi juga berasal dari kalangan remaja dan anak-anak. Ironisnya, bukan hanya dari kalangan masyarakat berpendidikan rendah saja menjadi korban, tapi juga telah meracuni masyarakat berpendidikan tinggi.

“Permasalahan narkotika merupakan masalah global yang selalu menjadi perhatian di seluruh dunia, karena sampai saat ini belum mampu ditangani dengan baik bahkan cenderung mengalami peningkatan, secara kualitas maupun kuantitas,” kata Sama Indra.

Dikatakannya, permasalahan narkotika tidak akan dapat diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh elemen bangsa khususnya para orang tua.

“Ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian kita bersama dalam upaya penanganan kondisi darurat narkotika tersebut,” tegasnya.

Pertama, kata Bupati, penanganan penyalahguna dan pecandu narkotika tidak ada jalan lain kecuali melalui upaya pemulihan atau rehabilitasi,  tetapi hal tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan layanan rehabilitasi ketergantungan narkotika yang memadai. Karena itu, pihaknya berharap kepada semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk turut berpartisipasi menyediakan layanan rehabilitasi ketergantungan narkotika.

Kedua, penanganan terhadap penjahat narkotika hanya dapat dihentikan dengan pemberian hukuman yang setimpal termasuk hukuman mati. Pemberian hukuman mati kepada penjahat narkotika merupakan hukuman yang konstitusional dan tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.Serta perampasan aset yang terkait dengan hasil tindak kejahatan narkotika.

“Hal ketiga adalah, faktor dan aktor utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika adalah keluarga. Keluarga yang harmonis, penuh kedamaian, ketentraman, dan kasih sayang serta mampu menanamkan tata nilai bahwa narkotika membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi secara illegal,” pungkas Sama Indra.

Hadir dalam acara tersebut antara lain seluruh pejabat unsur forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Aceh Selatan,utusan BNN Propinsi Aceh yang diwakili Kabag umum Drs. M. Yusuf.D, dan peserta yang terdiri dari Siswa/i SMA sederajat dan dari kalangan masyarakat serta para camat di daerah itu.

Rangkaian kegiatan HANI dengan mengusung tema “hidup sehat tanpa narkoba” meliputi Penandatangan Deklarasi Gerakan Rehabilitasi 100 ribu penyalah guna Narkoba, Penandatangan nota Kesepahaman bersama, Pembacaan Panca Anti Narkoba serta lomba foto selfi anti Narkoba dan pagelaran seni.

“Melalui peringatan HANI yang diselenggarakan setiap tahunnya, kiranya dapat menyadarkan kita akan bahaya narkoba,” kata kepala BNN Kabupaten Aceh Selatan Nuzulian,S.Sos dalam laporannya.

Pada kesempatan itu Nuzulian yang baru dua bulan menjabat sebagai kepala BNNK Aceh Selatan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk secara bersama mendorong generasi muda harapan bangsa, untuk menanamkan tentang Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P2GN).

Acara peringatan HANI dikabupaten yang terkenal dengan penghasil pala itu, diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama serta penandatanganan Deklarasi anti narkoba oleh Forkopimda setempat. | sumber: antara

Bawa Ganja ke Lapas Lhokseumawe, Wanita Sawang Ditangkap

Bawa Ganja ke Lapas Lhokseumawe, Wanita Sawang Ditangkap

LHOKSEUMAWE – Petugas Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Lhokseumawe bekerja sama dengan Satuan Narkoba Polres setempat menangkap seorang wanita yang ingin memasok ganja kepada narapidana (Napi), Kamis, 1 Oktober 2015, sekitar pukl 10.00 WIB.

Kepala Kepolisian Resort Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono didampingi Kasat Narkoba AKP Sofyan saat konferensi pers di Mapolres setempat, siang tadi, mengatakan wanita itu berinisial RO, 55 tahun, warga asal Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Menurut Kapolres Anang, penangkapan tersebut hasil kerja sama pihaknya dengan Lapas untuk mencegah peredaran narkoba. Kata dia, petugas Lapas dan anggota polisi yang bertugas di Lapas selalu memeriksa tamu guna mencegah masuknya barang haram.

“Informasi dari petugas Lapas, pagi tadi, ada seorang wanita yang hendak menjenguk kerabatnya. Sebelum masuk, wanita itu diperiksa terlebih dahulu. Hasil pemeriksaan ditemukan satu kantong ganja seberat 1 kilogram yang terbungkus rapi,” ujar Kapolres Anang.

Menurut Anang, setelah menerima laporan tersebut, tim Satuan Narkoba langsung ke Lapas untuk menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut. Hasil pemeriksaan, RO mengaku mengantarkan ganja tersebut kepada MH, 35 tahun, seorang Napi di Lapas itu. Selain RO, polisi turut mengamankan MH untuk pengembangan kasus tersebut.

“Kasus ini akan kita lakukan pengembangan lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan ada tersangka lainnya,” kata Anang.

Ditemui terpisah, RO mengaku mengenal MH beberapa waktu lalu ketika ia menjenguk kerabatnya di Lapas Lhokseumawe. “Setelah itu, MH minta saya membawa ganja,” ujarnya.

RO menjual ganja tersebut kepada MH Rp400 ribu. Hal ini dibenarkan MH yang merupakan Napi perkara narkoba dengan hukuman penjara enam tahun, namun baru dijalani empat tahun. Sedangkan RO adalah mantan Napi narkoba yang ditangkap di Medan. Ia bebas sekitar setahun lalu setelah menjalani hukuman penjara di Lapas Tanjung Gusta empat tahun.[] (idg)

Foto: Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono menggelar konferensi pers penangkapan tersangka kasus narkoba. @Datuk Haris Molana/portsaltu.com

Polisi Tangkap 2 Tersangka 2 Kilo Sabu

Polisi Tangkap 2 Tersangka 2 Kilo Sabu

LHOKSEUMAWE – Tim Satuan Reserse Kriminal dan Satuan Reserse Narkoba Polres Lhokseumawe menangkap dua tersangka dan barang bukti sabu seberat 2 kilogram. Keduanya ditangkap di dua lokasi terpisah, Minggu dan Senin, 27 dan 28 September 2015. Sabu tersebut diperkirakan senilai Rp1,8 miliar.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono didampingi Kasat Reserse Narkoba AKP Sofyan saat konferensi pers di Mapolres setempat, Kamis, 1 Oktober 2015, mengatakan,  ke dua tersangka berinisial JA, 43 tahun, warga Desa Drang, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, dan ML, 44 tahun, warga Desa Cot Tarom Tunong, Kecamatan Jeumpa, Kebupaten Bireuen.

Menurut Kapolres Anang, penangkapan dua tersangka sabu itu berawal dari informasi masyarakat tentang pengedar sabu di Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Kata dia, hasil penyelidikan tim gabungan Satuan Reskrim dan Satuan Reserse Narkoba kemudian ditangkap tersangka JA di rumahnya, Minggu, 27 September 2015 sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. “Dia berperan sebagai pembeli dan penjual,” kata Anang.

Kapolres Anang menjelaskan, awalnya petugas tidak menemukan barang bukti (BB) sabu dari JA. Hasil interogasi lanjutan, kata dia, tersangka mengaku menyimpan sabu di rumah mertuanya di Desa Lhok Jok, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

“Setelah menggeledah rumah mertua tersangka, petugas berhasil menemukan BB berupa sabu dua bal atau seberat 2 kilogram yang disimpan dalam sebuah tong penyimpanan beras. Dan juga ditemukan empat bungkus plastik transparan dan dua timbangan elektrik yang disimpan dalam lemari,” ujar Kapolres Anang.

Pengakuan tersangka JA, kata Kapolres Anang, sabu tersebut diperoleh dari salah seorang warga Bireuen berinisial PS yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kapolres Anang menyebut hasil pengembangan lanjutan ke Kabupaten Bireun, petugas menangkap tersangka ML, Senin, 28 September 2015 sekitar pukul 11.00 WIB. “Dia berperan sebagai perantara jual beli antara tersangka JA dan PS,” katanya.

Menurut Kapolres Anang, selain sabu 2 kilogram yang diperkirakan senilai Rp1,8 miliar dan BB lainnya, petugas turut menyita dua handphone dari dua tersangka kasus sabu itu.

“Ke dua tersangka akan dikenakan pasal 112 ayat 2, juncto pasal 114 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun dan atau seumur hidup,” kata Kapolres Anang.

Kapolres Anang menambahkan, ke dua tersangka diduga jaringan sabu dari kasus tersangka lainnya yang ditangkap Polres Bireuen beberapa waktu lalu, juga di kawasan Aceh Tamiang, dan Aceh Utara. “Sepertinya mereka mengarah dalam jaringan internasional,” ujarnya.[] (idg)

Foto: Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono dan Kasat Narkoba AKP Sofyan menunjukan barang bukti sabu saat konferensi pers di Mapolres. @Datuk Haris Molana/portalsatu.com

3 Kurir Sabu Internasional Diringkus di Medan

3 Kurir Sabu Internasional Diringkus di Medan

Medan – 3 Orang kurir narkoba jenis sabu jaringan internasional diringkus polisi. Dari ketiga pelaku, sabu seberat 1 Kilogram disita.

Kapolsekta Medan Barat, Kompol Siswandi menyatakan, pelaku tersebut berinisial CS (68) dan RY (35), keduanya merupakan ibu rumah tangga. Selain itu, ditangkap pula ED (56), seorang lelaki yang berprofesi sebagai wiraswasta. Ketiganya merupakan warga Medan.

“Penangkapan tersebut pada tiga hari yang lalu. Berawal dari petugas yang menyaru sebagai pembeli dengan memesan ekstasi kepada pelaku CS dan RY di kawasan Jalan KL Yos Sudarso, Medan. Saat bertransaksi, kita langsung amankan mereka berikut ekstasi sebanyak 200 butir,” kata Siswandi kepada wartawan di Polsekta Medan Barat, Jalan Budi Pembangunan II, Medan, Minggu (27/9/2015).

Dijelaskan Siswandi, setelah menangkap kedua pelaku tersebut, pihaknya melakukan pengembangan dan menangkap ED di lokasi yang sama. Dari tangan ED, petugas juga mengamankan 10 bungkus sabu yang beratnya 1 Kilogram. Bila dipasarkan, sabu tersebut harganya mencapai Rp 1 Miliar.

“Diduga sabu ini berasal dari Malaysia. Ketiga pelaku ini mengedarkan sabu di sejumlah kawasan di Medan dan sekitarnya. Mereka mendapatkan upah Rp 3 juta untuk sekali transaksi,” terang Siswandi.

Siswandi menambahkan, ketiga pelaku ini sudah melakukan aksinya sebanyak 10 kali. Terkait hal ini, pihaknya masih melakukan pengembangan. “Kita masih mendalami apakah pelaku ini memperoleh narkoba tersebut dari jalur darat atau laut,” tuturnya.

Selain sabu dan ekstasi, turut diamankan, 1 unit mobil Avanza dengan nomor polisi BK 360 NZ, 4 unit telepon genggam, 1 unit sepeda motor Vario BK 5950 AFU dan sejumlah buku tabungan.

Akibat perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 112, 114 ayat 1 dan ayat 2 Nomor 35 Tahun 2009 UU Narkotika dengan ancaman di atas 20 tahun penjara. | sumber: detik.com

BNN: Peredaran Narkoba Dilakukan Oknum Pejabat Publik

BNN: Peredaran Narkoba Dilakukan Oknum Pejabat Publik

Palembang  – Kepala Badan Narkotika Nasional Sumatera Selatan, Komisaris Besar Polisi Iswandi Hari, mengatakan, peredaran narkoba sekarang ini tidak hanya di kalangan masyarakat biasa, tetapi juga oknum pejabat publik.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) saat ini bukan hanya melanda masyarakat biasa, melainkan kalangan oknum pejabat publik yang seharusnya menjadi contoh baik di kalangan PNS dan masyarakat, kata Hari, di Palembang, Rabu.

Dikemukakannya, BNN setempat, Senin (21/9), menangkap JJL seorang oknum PNS kepala unit di Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuasin, di Jalan Kol Burlian KM-6, Palembang.[] Sumber: antaranews.com

Foto ilustrasi

Oknum PM Penembak Warga Sipil Negatif Narkoba

Oknum PM Penembak Warga Sipil Negatif Narkoba

MEDAN – Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan (BB), Enoh Solehuddin, menegaskan pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap Kopral Dua (Kopda) U, tersangka penembakan hingga tewas seorang warga sipil, M Rendi (23) di sekitar Diskotek New Zone, Senin 21 September dinihari.

Personel Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/5 Medan itu sudah mengikuti serangkaian pemeriksaan, termasuk pemeriksaan urine, untuk mengetahui apakah yang bersangkutan di bawah pengaruh narkoba saat menembak.

“Hasilnya negatif. Artinya yang bersangkutan melakukan penembakkan itu secara sadar,” ujar Enoh.

Enoh mengaku, pihaknya juga masih menelusuri motif tersangka melepaskan tembakan. Termasuk aksi tersangka menganiaya rekan korban lainnya.

“Kalau terbukti nanti, sanksi tegas akan kita berikan kepada tersangka. Yang bersangkutan juga harus bisa memberikan penjelasan, kenapa dia bisa berada disana,”‎tegas Enoh.

Seperti diberitakan, M Rendi warga Jalan Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun tewas setelah perut kanannya ditembak Kopda U di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di depan loket pembantu PMH pada Senin 21 September lalu.

Kejadian ini berawal saat korban berlari keluar dari dalam diskotek New Zone di Jalan Wajir, Kecamatan Medan Maimun. Saat itu korban terus dikejar oleh pelaku sembari mengeluarkan dua kali tembakan ke udara.

Korban yang tidak mengindahkan tembakan tersebut, terus lari hingga ke Jalan Brigjen Katamso. Pelaku yang melihat korban terus berlari kembali mengeluarkan tembakan. Seketika korban roboh ke tanah dan mengeluarkan darah segar.[] Sumber:  okezone.com

Foto ilustrasi

Polres Langsa Tangkap Kurir Ganja

Polres Langsa Tangkap Kurir Ganja

LANGSA – Polres Langsa berhasil meringkus wanita tersangka kurir ganja Surtina binti T. Ramli, di Gampong Sungai Leung, Dusun Pendidikan, Kecamatan Langsa Timur, Kamis, 17 september 2015, sekira pukul 08.00 WIB. Bersama tersangka turut diamankan barang bukti ganja sebanyak empat bungkus besar dengan berat empat kilogram.

Hal ini disampaikan Kapolres Langsa AKBP Sunarya, SIK, turut didampingi Waka Polres Langsa Kompol Hadi Saiful Rahman dan Kasat Res Narkoba IPDA Syamsudin, dalam jumpa pers di Mapolres setempat, Senin, 21 September 2015.

“Barang bukti tersebut berupa narkoba jenis ganja sebanyak empat bungkus dengan berat empat kilogram yang diamankan dari tersangka di rumahnya,” kata Kapolres.

Pada saat penangkapan tersebut, kata Kapolres Langsa, pihaknya juga meringkus dua tersangka lain bernama Hermansyah bin Nursani dan Samsuriadi bin Samiun, di tempat yang berbeda.

“Penangkapan keduanya setelah dilakukan pengembangan dari tersangka sebelumnya, Surtina binti T. Ramli. Dari tiga tersangka polisi berhasil mengamankan barang bukti antara lain, empat bungkus ganja berat keseluruhan 4 kilogram, satu bungkus ganja berat 70 gram, dua bungkus ganja berat 30,65, satu unit HP merk Blackbery warna ungu, satu unit HP merk Nokia warna hitam, dan satu unit sepeda motor Honda Vario warna putih nomor polisi BL 5950 UR,” ujar dia.

Katanya, penangkapan tersebut berdasarkan dari penyelidikan kasus ganja sebelumnya atas tertangkapnya tersangka Hasan bin M. Yusuf pada Rabu 16 September 2015 sekira pukul 21.30 WIB bertempat Gampong Sungai Lueng, Dusun Pendidikan, Kecamtan Langsa Timur, bersama salah satu temannya bernama Hermansyah Sembiring bin Erwin Sembiring.

“Kita mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di kedai milik tersangka sering berdatangan orang untuk membeli narkoba jenis ganja. Setelah mendapatkan informasi tersebut langsung diperintahkan untuk melakukan penggeledahan dan penyelidikan sehingga berhasil dilakukan penangkapan beserta barang bukti ganja sebanyak satu paket berat tiga puluh sembilan komadua puluh lima gram,” katanya. [] (mal)