Tag: muslim

Mengenal Singa Mali, Orang Terkaya Sepanjang Sejarah

Mengenal Singa Mali, Orang Terkaya Sepanjang Sejarah

SEJARAH mencatat, Afrika bagian barat, Mesir, hingga Saudi Arabia pernah mengalami inflasi parah pada abad ke 14. Harga-harga barang melonjak sementara harga emas jatuh di harga paling rendah. Kondisi ini berlarut selama hampir 20 tahun. Apa sebabnya?

Penyebab krisis itu ternyata rombongan karavan Raja Mansa Musa dari Mali di Afrika Barat yang hendak menunaikan ibadah haji. Apa hubungannya ?

Begini kejadiannya. Pada 1324, Raja Mansa berangkat dari Mali menuju tanah suci Mekah. Saat itu Mali dikenal sebagai kerajaan yang teramat sangat kaya karena menjadi penghasil emas terbesar dunia. Tak heran jika rombongan calon haji itu menjadi arak-arakan besar dan mewah. Rombongan itu jumlahnya tak kurang dari 60 ribu lelaki, 12 ribu diantaranya para pelayan.

Setiap pelayan sekurangnya membawa dua kilogram emas batangan, baju sutra bertahta emas, ribuan kuda, dan berkoli-koli perbekalan. Di dalam rombongan juga terdapat 100 ekor unta yang masing-masing memanggul sekurangnya 100 kilogram emas. Sehingga rombongan haji itu setidaknya membawa bekal 34 ton emas batangan.

Perjalanan yang memakan waktu hampir satu tahun itu tentu saja membutuhkan perawatan dan belanja yang cukup besar. Sang Raja sendiri dikenal sangat dermawan. Di setiap tempat yang dilewati, mereka tak sungkan-sungkan membayar menggunakan emas dengan nilai yang lebih besar dari harga barang. Mungkin sekalian sedekah dan beramal.

Saat rombongan sampai di Kairo, Mesir, mereka berkemah selama tiga hari di dekat kompleks piramida. Saat itu Raja Mali memberikan hadiah 50 ribu dinar emas kepada Sultan Mesir, Mamluk Al-Nasir Muhammad. Setiap wilayah yang dilewati rombongan menikmati hujan emas yang berlimpah. Mereka menerima rombongan dengan sajian terhebat, pelayanan nomer wahid, dan jaminan keamanan yang terbaik.

Kisah perjalanan haji Raja Mansa Musa ini bukanlah hikayat semata. Hampir semua sastrawan di sepanjang wilayah yang dilewati rombongan, menulis dengan akurasi yang nyaris serupa.

David Tschanz, dalam esainya Lion of Mali: The Hajj of Mansa Musa edisi Mei 2012, menulis, Musa tak hanya memberikan emasnya ke kota-kota yang ia singgahi, termasuk Kairo dan Madinah, tetapi juga menukarnya dengan souvenir. Ia dilaporkan juga membangun sebuah masjid setiap hari Jumat.

Meski pundi-pundi emas Musa terus dibagikan saat berhaji, sumur rejekinya tak pernah kering. Maklum raja muslim itu menguasai tambang emas dan menguasai rute trans Sahara.

Namun apa yang terjadi kemudian? Setelah berlalunya rombongan, nilai emas langsung anjlok. Karena emas yang beredar berlimpah yang terjadi bukan orang berburu emas, tetapi orang berebut menjual emas. Berlimpahnya uang hasil penjualan emas, membuat harga-harga barang melonjak naik. Kondisi ini tidak hanya terjadi satu atau dua tahun, namun berlarut-larut hingga 20 tahun.

Melihat situasi itu, Raja Mali merasa prihatin. Emas produksi Mali yang selama ini bisa dijual ke negara-negara Timur Tengah juga merosot permintaannya. Guna menggendalikan situasi, Raja Mansa Musa mengambil keputusan membeli atau meminjam (layaknya pegadaian) sebanyak mungkin emas yang pernah dia bagi-bagikan. Bahkan sang Raja siap memberi imbalan dengan harga tinggi.

Membaca kisah tersebut terbayang seberapa kayanya Raja Mansa Musa. Dia bukan hanya kaya pada jamannya, namun diakui sebagai orang paling kaya yang pernah ada di muka bumi, hingga hari ini.

Majalah Time mencatat, jika disesuaikan dengan inflasi saat ini Mansa Musa mempunyai kekayaan senilai US$ 400 miliar (Rp 6.000 trilliun). Angka itu mengungguli harta keluarga Rothschild (US$ 350 miliar), John D Rockefeller (US$ 340 miliar), ataupun Henry Ford (US$ 199 miliar).

Bersujud di Hadapan Allah

Kerajaan Mali pada masa jayanya, terbentang dari Samudera Atlantik di barat hingga Sungai Niger di timur. Sepanjang wilayah ini dianggap sebagai penyimpanan garam dan emas terbesar di dunia. Raja Mansa Musa berkuasa selama 1312 hingga 1337.

Mengutip laporan theroot.com, selama tiga bulan tinggal di Kairo, Mesir, Musa sempat menceritakan kisahnya hingga menjadi Raja Mali kepada seorang penulis sejarah.

Ia menceritakan bahwa pendahulunya, Abubakari II, berlayar menyeberangi Atlantik dengan 2.000 kapal, plus tambahan 1.000 perahu untuk membawa perbekalan dan air. Mereka tidak pernah kembali, dan tidak ada yang tahu nasib ekspedisi tersebut.

Para peneliti modern mengetahui tentang Mansa Musa melalui tenun dari Arab, sejarah lisan, dan mungkin yang paling penting, sejarawan abad ke-17 dari Timbuktu, Ibn al-Mukhtar. Pendiri dinasti Musa adalah Sundiata yang kemungkinan adalah kakek atau paman Musa, menurut ensiklopedia Britannica.

Musa digambarkan sebagai seorang raja saleh dan sangat dihormati di seluruh Afrika. Ia sangat antusias dalam mempelajari Alquran. Ia seorang yang tegas dan enggan bersujud pada penguasa lain. Ia hanya mau bersujud dihadapan Allah.

Sang raja akhirnya memutuskan berhaji. Perjalanan panjang melewati gurun Sahara membawanya ke Mekah, kiblat bagi umat Islam. Saat itu, perjalanan ke Mekah terasa seperti ekspedisi ke sebuah planet nun jauh.

Tapi itu menunjukkan nenek moyang Afrika ingin tahu tentang dunia luar dan bepergian seperti penjelajah lainnya. Ini bertentangan dengan stereotip, mereka tetap tinggal di rumah mereka di benua menunggu untuk ‘ditemukan’.

Legenda ‘Singa Mali’

Selama bertahun-tahun setelah kunjungan Mansa Musa, rakyat jelata di jalan-jalan di Kairo, Mekah dan Baghdad membicarakan tentang perjalanan haji yang megah hingga menyebabkan ekonomi Timur Tengah terguncang selama dua dekade itu.

Saat perjalanan pulang yang panjang dari Mekah pada 1325, Musa mendengar berita pasukannya telah merebut kembali Gao. Ini adalah wilayah ramai yang menjadi pusat perdagangan penting pada saat itu. Musa kemudian meminta Muslim Abu Ishaq sebagai arsitek untuk memulai program pembangunan besar-besaran. Musa mendirikan masjid dan madrasah di Timbuktu dan Gao.

Yang paling terkenal adalah pusat studi Islam kuno, Madrasah Sankore atau Universitas Sankore yang dibangun pada masa pemerintahannya. Musa juga melakukan hubungan diplomatik dengan Maroko. Dia mengirim mahasiswa belajar ke luar negeri.

Sayang, puncak kejayaan Mali itu hanya berlangsung sekejap. Musa meninggal pada 1337 setelah 25 tahun memerintah Mali. Negeri yang dulu gemah ripah loh jinawi berubah 180 derajat. Sekarang justru masuk dalam daftar termiskin di dunia.

Sepanjang sejarah Mali, tak ada raja pengganti yang mampu menandingi kualitas Mansa Musa. Meski Musa telah meninggal 678 tahun silam, tapi legendanya sebagai ‘Singa Mali’ tetap dikenang.[] sumber: dream.co.id

Mengenal Raja Muslim India Terkaya Sepanjang Masa

Mengenal Raja Muslim India Terkaya Sepanjang Masa

PAGI itu sang raja itu duduk dengan tenang di singgasana. Tangan kirinya berada di atas lutut. Sementara tangan kanannya ditopang sebilah pedang berbungkus kulit hewan langka.

Di hadapan pria itu, orang-orang petingi negeri India sudah duduk berkumpul. Hari itu mereka tengah menggelar rapat dengan sang raja.

“Selama ini kita mengirim rempah-rempah ke Inggris dengan harga yang mereka tentukan. Saya ingin kita sendiri yang menjual rempah-rempah itu,” kata raja itu berwibawa. Raja itu adalah Jalaluddin Muhammad Akbar.

Hadirin terdiam. Memikirkan maksud perkataan pria yang begitu dihormati tersebut. Sejenak, sebagian hadirin mulai menyatakan pendapat. Mereka semua menyetujui pikiran jenius tersebut.

Hari itu kemudian akan dikenang sebagai hari ketika ekonomi India berubah total. Dari sebelumnya hanya sebatas negara penyedia rempah-rempah atas permintaan Inggris, lalu beralih menjadi penentu harga.

Alhasil, India menjadi salah satu negara pengekspor sekaligus penentu harga rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan dunia kala itu.

Pikiran itu keluar dari seorang muslim penguasa tanah India. Sosoknya tegas, namun bersahaja. Semua orang di seluruh penjuru tanah Hindustan begitu mengagungkan pria ini lantaran mampu memadukan ketegasan dengan kemurahan hati.

Dialah Jalaluddin Muhammad Akbar, Raja Mughal yang menguasai sebagian besar tanah India. Akbar hidup antara tahun 1542 hingga 1605 Masehi dan merupakan Raja Mughal ketiga setelah Babur dan Humayun.

Di tangan Akbar, Mughal dikenal sebagai dinasti yang paling berpengaruh di India, dengan jumlah kekayaan sebesar 25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia saat itu. Pakar sejarah ekonomi Angus Madison sampai menyebut kekayaan Akbar kala itu setara dengan harta Ratu Elizabeth saat jaya, meski tidak disebutkan angka secara pasti.

Hal itu dikuatkan oleh Ekonom Bank Dunia Branko Milanovic. Dalam salah satu penelitiannya tentang ketidaksetaraan di India, Branko menyebut Akbar merupakan raja yang mampu menciptakan kesetaraan dalam kesejahteraan rakyat India kala itu, juga penerapan sistem birokrasi yang sangat efektif.

***

Pencetus Modernitas Tata Kelola Pajak

Akbar lahir pada 15 Oktober 1542 di Umarkot, Sindh, yang saat ini menjadi wilayah Pakistan. Dia sebenarnya tidak memiliki darah India. Ayahnya adalah keturunan bangsa Mongol dan ibunya merupakan orang Persia. Kakeknya, Babur, memiliki garis keturunan dengan Gengis Khan, Raja Mongol.

Akbar menggantikan peran ayahnya sebagai raja di usia yang masih sangat muda, 14 tahun. Sang ayah, Humayun, meninggal dalam sebuah pertempuran. Saat itu, Akbar tidak sepenuhnya berkuasa meski sudah resmi menjadi raja. Kendali pemerintahan dipegang oleh orang kepercayaan ayahnya, Bairam Khan.

Di tengah perjalanan, Bairam Khan ingin menguasai wilayah utara India yang notabene masuk kekuasaan Mughal. Bairam berdalih, dia berhak atas tanah utara India meliputi Afganistan lantaran berhasil mengalahkan Raja Hindu Hemu dalam Perang Paripat.

Setelah cukup dewasa, di tahun 1560, Akbar mengambil alih kekuasaan dari tangan Bairam dan sepenuhnya memegang kendali pemerintahan. Bairam berusaha melakukan pemberontakan, tetapi Akbar mampu meredamnya.

Setelah memegang kekuasaan penuh, banyak persoalan yang harus diselesaikan Akbar. Baik kakek maupun ayahnya tidak punya cukup waktu untuk menata pemerintahan. Sementara wilayah yang menjadi kekuasaannya begitu luas dengan penduduk yang majemuk. Alhasil, Akbar harus memutar otak.

Akbar lalu melakukan perombakan total pada sistem administrasi dan keuangan kerajaan. Dia mulai menata administrasi dengan membentuk sejumlah badan yang dipimpin oleh tenaga-tenaga sipil maupun militer. Sistem itu dikenal dengan istilah Mansabdari, dengan pekerjanya mendapat mansab, sejenis bayaran dan mereka disebut sebagai Mansabdar.

Setiap orang yang bekerja di badan tersebut mendapat upah resmi dari kerajaan. Ada dua cara pembayaran mansab. Cara pertama dengan memberikan tanah, sedangkan cara kedua dengan memberi upah bulanan. Langkah tersebut dinilai oleh sejumlah pakar sejarah sebagai terobosan cemerlang yang dibuat Akbar.

Dalam dunia modern, Mansabdari dapat diibaratkan dengan sistem pemerintahan berjenjang. Pusat kekuasaan ada di tangan Raja, kemudian dijalankan oleh badan-badan yang tersebar di setiap daerah kekuasaan Mughal. Atau bisa diibaratkan sebagai pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota.

Untuk pemasukan negara, Akbar menerapkan sistem pajak terpusat. Para Subah, pejabat sekelas gubernur mendapat mandat untuk mengawasi pemungutan pajak. Sedangkan pemungutan pajak sendiri dilakukan petugas khusus, terpisah dari gubernur.

Para petugas pemungut diwajibkan membuat catatan pajak yang berhasil ditarik. Pajak yang sudah dipungut wajib langsung dikirimkan ke pusat. Sementara catatan mereka harus diserahkan secara berkala. Cara ini menciptakan sistem check and balances yang stabil.

Semua kendali keuangan ada di pemerintah pusat. Para pejabat mendapat upah, tetapi tidak diberi fasilitas pasukan. Sementara pasukan digaji langsung dari pemerintah pusat. Hal itu menjamin tidak adanya upaya pemberontakan dari masing-masing pejabat daerah.

Tidak hanya itu, Akbar juga membuat beberapa kategori jenis tanah sebagai sumber penghasilan. Terdapat empat kategori tanah yang dibuat Akbar berdasarkan jangka waktu pemanfaatan.

Keempat kategori tersebut yaitu Tanah Polaj, yaitu tanah yang digarap secara rutin. Kemudian, Tanah Parauti, yaitu tanah yang digarap untuk musim tertentu. Lalu ada istilah Chachhar, yaitu tanah yang tidak dimanfaatkan dalam jangka waktu tiga sampai empat tahun. Terakhir, Banjar, yaitu tanah yang sudah tidak digarap selama lebih dari empat tahun.

Kategori tersebut digunakan untuk menetapkan tarif pajak sekaligus insentif bagi para petani yang bersedia menggarap lahan tersebut.

***

Pengendali Komoditas Rempah-rempah Dunia

Pemerintahan Akbar diakui sebagai pemerintahan yang paling efektif di seluruh India. Dia menerapkan sistem birokrasi yang begitu ringkas, sehingga setiap permasalahan dapat segera tertangani.

Tidak hanya itu, Akbar juga terkenal sebagai raja yang memiliki kemampuan diplomasi begitu baik. Hal ini terbukti dengan berhasilnya dia menjalin hubungan dagang dengan Inggris dan Perancis.

Alhasil, perdagangan India maju dengan begitu pesat. Mughal kala itu menjadi salah satu pemasok utama rempah-rempah untuk kebutuhan pasar Eropa.

Atas kejayaan tersebut, Majalah Time kemudian memasukkan Akbar sebagai salah satu dari 10 tokoh paling kaya sepanjang sejarah umat manusia. Sebagai seorang muslim, ia berada di urutan ketiga dari 10 orang terkaya sepanjang sejarah.

Berapa besar harta Raja Akbar? Majalah Time tidak menyebut angka secara rinci. Tapi jumlah kekayaannya diperkirakan seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) dunia saat itu. Jadi, jika PDB dunia saat itu sudah mencapai 2 trilyun dolar AS, maka kekayaannya mencapai 500 milyar dolar AS. Sungguh luar biasa besar.[] sumber: dream.co.id

Muslim Amerika Hadapi Gelombang Baru Islamofobia

Muslim Amerika Hadapi Gelombang Baru Islamofobia

CALIFORNIA —  Muslim Amerika sedang menghadapi pertumbuhan gelombang baru Islamofobia yang didorong dua calon presiden paling populer dari Partai Republik, Donald Trump dan Ben Carson.

Di Islamic Institute of Orange County, yang menampung sebuah masjid dan sekolah di Anaheim, California selatan, ketegangan sudah terjadi sejak sekelompok orang kulit putih meneriaki beberapa ibu dan anak-anak pada peringatan 11 September tahun ini. Sekelompok kulit putih itu menyebut Muslim bukan bagian dari Amerika.

Dilansir dari Thomson Reuters Foundation, Selasa (22/9), banyak Muslim di negara berpopulasi 2,8 juta Muslim itu menilai ketegangan tersebut dapat menjadi lebih buruk selama pemilihan presiden. Pasalnya, sekarang saja para calon presiden sudah menguatkan nada kemarahan dan kefanatikan.

“Ini cukup mengganggu, mengingat orang yang mencalonkan diri sebagai presiden bisa membuat klaim tersebut,” kata Zuhair Shaath, seorang keturunan Palestina-Amerika, merujuk pernyataan Carson pada Ahad (20/9).

Carson saat itu menyatakan Muslim tidak layak menjadi presiden Amerika Serikat.

Dalam kampanye Senin (21/9), Carson membela komentarnya. Carson mengatakan dirinya tidak menyuruh seorang Muslim harus dilarang mencalonkan diri sebagai presiden.

api, ia tidak menganjurkan Muslim menjadi pemimpin dan tidak akan mendukungnya. Pernyataan rasis semacam itu juga diucapkan Trump dan pendukungnya.

Beberapa Muslim mengaku takut pernyataan itu bisa memperkuat daya tarik Carson dan Trump, di mana komentar tumpul bercampur dengan pernyataan misogyny dan xenofobia. Insiden penahanan Ahmed Mohamed, siswa Muslim 14 tahun di Dallas pekan lalu turut memicu kekhawatiran.

Nihad Awad, direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam, menyerukan Carson untuk menarik diri dari pemilihan presiden Amerika karena dia tidak layak untuk memimpin. “Pandangannya bertentangan dengan Konstitusi Amerika Serikat,” tegas Nihad. | sumber: republika.co.id

Foto muslim amerika .@huffingtonpost.com

Sanders: Presiden Amerika Serikat Tak Dipilih karena Agama

Sanders: Presiden Amerika Serikat Tak Dipilih karena Agama

Washington – Calon presiden dari Demokrat, Bernie Sanders, menyatakan calon Presiden Amerika Serikat tak dipilih berdasarkan agama atau warna kulit. Pernyataan ini disampaikan pada Ahad, 20 September 2015, untuk menanggapi ucapan calon presiden dari Republik, Ben Carson, dalam sebuah wawancara. Carson, yang berkulit hitam, menyebutkan muslim tidak bisa menjadi Presiden Amerika Serikat.

Sanders menegaskan, “Kita terlalu lama curiga terhadap calon presiden dari Katolik atau keturunan Afrika.” Dia menambahkan, “Masyarakat harus memilih presiden berdasarkan pemikirannya, bukan karena agama atau warna kulitnya.”

Pernyataan rasis Carson juga mendapat reaksi keras dari kelompok kebebasan sipil Amerika Serikat. Mereka mendesak Carson mencabut pernyataan yang disampaikan dalam acara “Meet the Press” itu. Dalam acara tersebut, Carson  juga menyatakan ketidaksetujuannya muslim berada di Gedung Putih.

Juru bicara kampanye Carson, Doug Watts, menjelaskan, Carson akan mendatangi komunitas muslim untuk menjelaskan apa yang disampaikan. Menurut dia, wawancara di televisi itu harus disaksikan dan dibaca dengan hati-hati.

“Beliau tidak mengatakan bahwa seorang muslim harus dicegah mengikuti pemilihan presiden,” ucapnya. “Beliau hanya tidak yakin bahwa bangsa Amerika siap dipimpin seorang muslim.”

Dewan Hubungan Bangsa Amerika-Islam, Ahad, 20 September 2015, meminta Carson menarik pernyataan rasis tersebut. “Carson jelas tidak mengerti atau peduli terhadap konstitusi yang menyatakan bahwa agama seorang calon sama sekali tidak dipersoalkan untuk menjabat presiden,” ucap direktur eksekutif nasional kelompok ini, Nihad Awad, dalam sebuah pernyataan. | sumber: tempo

Foto Bernie Sanders, senator A.S dan kandidat presiden dari partai Demokrat. REUTERS/Mike Stone

 

Capres Ben Carson: Muslim Tak Cocok Jadi Presiden AS

Capres Ben Carson: Muslim Tak Cocok Jadi Presiden AS

Washington – Isu agama marak disebut-sebut dalam debat calon presiden Amerika Serikat.

Dalam sebuah acara televisi, Ahad,  kandidat calon presiden (capres) dari Partai Republik Ben Carson menyebut umat Islam tidak layak dan cocok untuk menjadi presiden Amerika Serikat, dengan alasan iman mereka tidak konsisten dengan prinsip-prinsip Amerika.

“Saya tidak akan menganjurkan bahwa kita menempatkan Muslim bertanggung jawab atas bangsa ini. Saya benar-benar tidak setuju dengan itu,” kata Carson kepada NBC di acara “Meet the Press“, sebagaimana dikutip dari Reuters, 21 September 2015.

Pernyataan Carson disampaikan setelah sebelumnya Donald Trump, kandidat presiden lainnya, menolak untuk menanggapi komentar-komentar anti-Muslim yang diusung para pendukungnya pada Jumat pekan lalu.

Carson, yang beragama Kristen mengatakan gagasan dia berasal dari Alkitab. Menurutnya,  iman presiden AS harus “konsisten dengan Konstitusi.”

Ketika ditanya apakah ia tidak pernah berpikir  bahwa Islam cocok dengan prinsip itu, pensiunan ahli bedah saraf menegaskan, “Tidak, saya tidak mendapatinya.”

Sementara itu, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kelompok hak-hak asasi Muslim terbesar di Amerika mengutuk Carson atas pernyataannya, menuntut harus mendiskualifikasi dia dari kontes presiden karena Konstitusi AS tidak melakukan tes agama untuk seseorang yang ingin memegang jabatan publik.

“Ini di luar batas dan dia harus mundur,” kata juru bicara Dewan Hubungan Amerika-Islam Ibrahim Hooper.

Perwakilan Demokrat Minnesota Keith Ellison, yang menjadi orang pertama Muslim terpilih sebagai anggota Kongres, mengatakan: “Ini tak terbayangkan bahwa calon presiden Partai Republik terkemuka menjual ketakutan untuk kepentingan kampanye mereka.” Ellison menambahkan dalam pernyataannya bahwa “setiap warga Amerika harus terganggu bahwa tokoh nasional ini terlibat dalam dan mentoleransi secara terang-terangan tindakan kefanatikan agama. ”

Dalam sebuah pernyataan setelahnya pada hari yang sama, juru bicara kampanye Carson Doug Watts menyampaikan klarifikasi, mengatakan bahwa Carson sangat percaya pada jaminan konstitusional kebebasan beragama, tetapi ia juga percaya bahwa orang-orang Amerika masih jauh dari siap untuk menerima seorang Muslim sebagai Presiden dalam masyarakat mayoritas Yahudi-Kristen.

“Tanpa pertanyaan, ada perbedaan yang kompleks antara praktek agama Islam dan konstitusi kita, perbedaan yang sangat nyata dan sangat bertentangan dengan satu sama lain,” kata Watts.

Carson, dilansir dari laman Reuters, dikatakan semakin meningkat popularitasnya dalam jajak pendapat, meskipun ia tergelincir dalam jajak pendapat CNN / ORC dirilis pada Minggu, ke tempat ketiga dari kedua dengan dukungan 14 persen.

Jajak pendapat CNN / ORC menunjukkan Donald Trump, maestro real estate, masih terus memimpin kontes dengan dukungan 24 persen pemilih terdaftar, turun dari 32 persen dalam jajak pendapat sebelumnya. | sumber: tempo.co

Foto Dr. Ben Carson Sr. (kiri) menerima penghargan ROBIE Lifetime dari aktor actor James Pickens, Jr. di New York. Foto: AFP/Stan Honda

Penyebab Doa Umat Islam Ditolak Allah SWT

Penyebab Doa Umat Islam Ditolak Allah SWT

UMAT Islam sebagai hamba Allah Swt adalah makhluk yang lemah dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya, sehingga perlu mendapat pertolongan dari Sang Khalik. Pertolongan tersebut akan datang setelah kita melakukan permohonan kepada Allah Swt lewat doa-doa yang sering dibacakan sehari-hari dalam kehidupan.

Allah akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya, bahkan Allah sangat menyukai hamba yang selalu berdoa. Namun manusia sering mengeluhkan doanya tak kunjung terkabul, meskipun sudah rajin beribadah. Ternyata penyebab doa ditolak adalah faktor kesalahan manusia itu sendiri.

“‎Hari ini kita sudah banyak beribadah, selalu berdoa dalam berbagai kesempatan. Tapi, yang terjadi justru kita lemah walau sudah banyak berdoa, belum terkabul sehingga pertolongan Allah Swt sulit datang, permohonan kita seolah tidak didengar oleh Allah,” ujar Teungku Sulaiman Muda, Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Almukarramah, Paya Bujok, Kota Langsa.

Hal itu disampaikannya saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu 16 September 2015 malam. Pengajian tersebut mengangkat tema: Iman dan sebab doa ditolak (Refleksi ibadah Haji).

Teungku Sulaiman yang juga alumni Dayah Darussa’adah, Blang Blahdeh, Bireuen, ini merincikan, setidaknya ada 10 faktor yang menyebabkan doa umat Islam ditolak oleh Allah karena kesalahan manusia sendiri.

Dijelaskannya, ketika Ibrahim bin Adham, seorang ahli tasawuf yang masyhur berada di tengah-tengah pasar Basrah, beliau dikerumuni orang ramai. Di antara mereka ada yang bertanya, “Mengapakah doa mereka tidak dikabulkan Allah padahal mereka selalu berdoa kepadanya?”

Ibrahim bin Adham lantas menjawab, “karena hati kamu buta disebabkan sepuluh perkara.”

Pertama, kita umat Islam mengaku kenal Allah tapi tidak menunaikan hak Allah secara sungguh-sungguh seperti ibadah meskipun semuanya beragama Islam. Meski memiliki harta pemberian Allah, tapi tidak mau menunaikan haji dan enggan melakukan kurban.

‎”Kita sering beralasan tidak sanggup untuk haji dan kurban, tapi kenapa misalnya untuk bayar kredit sepeda motor mampu Rp 600 ribu per bulan, untuk kurban tak mampu walau dengan arisan Rp 150 ribu per bulan.‎ Ini karena tidak ada niat, bukan alasan ekonomi tak berkurban dan haji,” katanya.

Kedua, kita selalu berkata bahwa cinta kepada Rasulullah SAW tetapi, sering meninggalkan sunnahnya dalam hidup ini.

Ketiga, kita telah membaca Alquran tetapi kita tidak beramal dengan yang diperintahkannya.
“Dalam Alquran itu ada 1.000 ayat berisi perintah Allah, 1.000 ayat tentang sejarah, 500 ayat menyatakan halal haram, 100 ayat doa dan zikir serta 66 ayat nasikh dan mansukh. Tapi kita jarang mengamalkan Alquran dengan baik dalam hidup ini,” ujar penceramah muda di Kota Langsa ini.

Keempat, kita telah banyak merasakan nikmat-nikmat Allah dalam hidup ini sejak kecil hingga sekarang, tetapi sering lupa bersyukur kepada-Nya.

“Akibatnya, Allah sering menegur kita khususnya di Aceh yang kaya ini, tapi banyak kita belum sejahtera karena tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah,” katanya.

Kelima, kita telah berkata bahwa syaitan itu sebagai musuh, tetapi kita tidak menentangnya. Malah sering memperturutkan hawa nafsu dan mengikuti syaitan. Keenam, kita telah berkata bahwa syurga Allah itu benar, tetapi kita tidak beramal untuknya dengan sering meninggalkan perintah Allah dan melakukan larangan-Nya.

Ketujuh, kita telah berkata bahwa neraka itu benar, tetapi banyak di antara kita tidak lari daripadanya. Kedelapan, kita telah berkata bahwa mati itu benar, tetapi kita tidak mau mempersiapkan diri menghadapi kematian yang pasti itu.

Kesembilan, ketika bangun dari tidur pagi hari, lalu kita sibuk dengan keburukan dan aib orang lain, tapi lupa dengan keburukan sendiri, dan kesepuluh, kita selalu melihat orang mati di antara sahabat-sahabat kita dikuburkan, tetapi tidak mengambil iktibar (pelajaran) daripada mereka.‎

“Inilah yang menjadi menjadi beberapa penyebab tertolaknya doa-doa yang kita bacakan sehari-hari. Ini harus menjadi perhatian dan introspeksi kita sendiri,” katanya.

Lebih lanjut, ditambahkannya, 98 persen masyarakat di Aceh mengaku beragama Islam. Bahkan, kata dia, tidak ada tempat di provinsi ini yang tidak tersentuh dengan syariat Islam. Namun kadar keimanan warga Aceh sangat rendah dengan hidayah dan taufik-Nya.

Iman itu pemberian Allah Swt dalam bentuk hidayah yang condong baik dengan syariat Allah.
Taufik Allah itu belum tentu ada‎ jika malas ibadah dan taat kepada Allah menuju ke arah jalan iman.

“Iman itu membenarkan, percaya dan condong hati kepada Allah.‎ Tapi dalam kehidupan kita, iman itu belum terlihat. Karena iman hati sesuai kata dan perbuatan‎. Yang terlihat justru, iman pada mulut saja, tapi sekuler pada perbuatan. Iman masih sebatas di masjid dan tempat ibadah, dan tidak ada di kantor maupun tempat kerja‎ sehingga terjadi penyimpangan dimana-mana,” katanya.

Sehingga sangat wajar ketika ada seorang ulama Mesir‎ mengatakan, “Saya tidak melihat nilai-nilai yang diajarkan Islam‎ di Indonesia, tapi banyak muslim. Sebaliknya, saya tidak melihat muslim di Eropa tapi di sana banyak terlihat nilai-nilai Islam.”[](bna)

Tulisan ini dikirim oleh Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam

Benarkah Alquran Lebih Tua Dibandingkan Era Nabi Muhammad?

Benarkah Alquran Lebih Tua Dibandingkan Era Nabi Muhammad?

ISLAM diperkirakan eksis mulai sekitar 610 Masehi sedangkan komunitas Islam pertama ada di Madina tahun 622 Masehi.

Temuan penggalan Al Quran tertua di Birmingham University pada Juli lalu berujung perdebatan. Riset mengungkap, penggalan Al Quran itu lebih tua dari masa Nabi Muhammad SAW!

Hasil penanggalan karbon menguak, penggalan Al Quran sebanyak dua lembar itu berasal dari masa 568-645 Masehi. Sementara, Muhammad diperkirakan hidup antara 570-632 Masehi.

Tom Holland, sejarawan Inggris yang tak terlibat riset, mengatakan, temuan ini mengejutkan dan mengguncang kemapanan tentang sejarah Al Quran dan Islam.

Keith Small dari Bodleian Library, Oxford University, menambahkan, temuan itu memberi dukungan pada pandangan lain tentang asal-usul Al Quran.

“Seperti bahwa Muhammad dan pengikutnya sebenarnya menggunakan teks yang sudah ada dan mengkonstruksinya sesuai dengan agenda politik dan teologinya, bukan menerima wahyu,” kata Small.

Hasil analisis karbon ini sontak mendapat tentangan dari ilmuwan Muslim. Mustafa Shah dari School of Oriental and African Studies di University of London salah satunya.

“Jika memang begitu, manuskrip ini bertentangan dengan kepercayaan tentang asal-usul Al Quran,” ungkapnya seperti dikutip The Times, Senin (31/8).

Islam diperkirakan eksis mulai sekitar 610 Masehi sedangkan komunitas Islam pertama ada di Madina tahun 622 Masehi. Saat itu, isi Al Quran ditularkan secara lisan.

Hingga kemudian Khalifah Abu Bakar meminta pengikutnya untuk menuliskan pesan Al Quran. Penulisannya sendiri baru selesai pada era Khalifah Utsman, sekitar tahun 650.

Al Quran tertua itu sendiri telah lama berada di perpustakaan Birmingham University. Tersimpan bersama buku-buku dari Timur Tengah lainnya, keberadaan penggalan Al Quran tertua itu luput dari mata.

Hingga kemudian peneliti universitas tersebut mengamati teks yang ditulis dengan aksara Hijazi atau Arab Kuno. Dia kemudian menyadari bahwa teks di atas kulit domba itu merupakan naskah Al Quran.

David Thomas, profesor bidang studi Kristen dan Islam di Birmingham University bulan lalu menyebut temuan itu mengejutkan. “Ini bisa membawa kita mendekati tahun penemuan Islam,” katanya.

“Orang yang menulisnya mungkin bahkan kenal dengan Nabi Muhammad. Dia mungkin melihat dan mendengar Nabi berkhotbah. Mungkin dia juga kenal Nabi, dan itu adalah kemungkinan yang luar biasa,” imbuhnya.[] sumber: nationalgeographic

Seorang Pendeta dan 480 Jemaatnya Sepakat Jadi Mualaf di Afrika

Seorang Pendeta dan 480 Jemaatnya Sepakat Jadi Mualaf di Afrika

KIGALI – Salah satu kasus perpindahan terbesar dari Kristen ke Islam, seorang pendeta Rwanda dan 480 anggota jemaatnya memeluk Islam, dan menjadi perkembangan agama tercepat di dunia dan memperluas kehadiran Islam di benua Afrika.

Seperti dilansir onislam, beberapa media melaporkan Salim Mikdad, seorang mantan pendeta, memeluk Islam setelah memperdalam keyakinannya dari para sarjana Muslim.

Ia berhasil meyakinkan 480 anggota jemaatnya untuk mengambil keputusan serupa akhir Agustus, tepatnya tanggal 25 Agustus lalu. Setelah mereka berganti keyakinan, gereja itu pun berubah menjadi masjid.

Insiden terbaru ini terjadi di tengah serangkaian konversi serupa di Rwanda. Sebagai negara Kristen, Rwanda telah memperlihatkan peningkatan bertahap dalam populasi Muslim.

Sekitar 56,9 persen dari masyarakat Rwanda adalah Katolik Roma, 26 persen adalah Protestan, 11,1 persen adalah Seventh day Adventist dan hanya 4,6 persen yang Muslim. Kebanyakan dari mereka merupakan Sunni.

Kenaikan tajam dalam populasi Muslim mengikuti genosida pada tahun 1994 di negara itu, ketika kedua gereja Katolik dan Protestan dituduh membantu membuat pembunuhan sekitar 800 ribu orang.

Gereja menjalankan politik etnis sendiri, mendukung Tutsi selama periode kolonial dan beralih kesetiaan kepada Hutu setelah tahun 1959, yang mengirim pesan kalau diskriminasi etnis adalah konsisten dengan ajaran gereja.

Antara April dan Juli 1994, ekstrimis Hutu Rwanda melakukan kampanye terorganisir yang bertujuan memusnahkan minoritas Tutsi. Human Rights Watch sendiri menjelaskan genosida Rwanda sebagai salah satu episode yang paling menakutkan dari kekerasan etnis, yang ditargetkan dalam sejarah dunia baru-baru ini.[] sumber: republika.co.id

Kenapa Internasional Bungkam Saat Muslim di Afrika Tengah Dibantai?

Kenapa Internasional Bungkam Saat Muslim di Afrika Tengah Dibantai?

FLORIDA – Khaled A Beydoun, asisten profesor hukum di Dwayne O Andreas School of Law, Universitas Barry, Florida, AS memberikan pandangan menarik mengenai konflik di Republik Afrika Tengah (CAR).

Dalam tulisannya di Aljazirah, ia mengatakan pembersihan terhadap kelompok Muslim di negara itu telah berlangsung secara massif.

Namun ironisnya, kata dia, perhatian negara di luar Afrika maupaun komunitas hak asasi manusia internasional sangatlah minim.

Ia mencontohkan bagaimana anti-Balaka, kelompok yang terdiri atas kaum radikal Kristen dan animis memaksa Muslim untuk murtad di bawah todongan senjata.

Kalaupun tidak murtad, para milisi ini memaksa Muslim untuk beribadah secara sendiri-sendiri dan meninggalkan busana Muslim. “Tujuan anti-Balaka adalah jelas, menyingkirkan komunitas Muslim dengan cara apapun dari CAR,” ujarnya.

Berbeda dengan ISIS yang menjadi halaman-halaman utama berita dunia, nama terorisme anti-Muslim di Republik Afrika Tengah mungkin jarang sekali terdengar.

Kondisi itu, kata dia, akan berbeda jika pelaku pelanggar HAM di negara itu adalah Muslim. Media-media arus utama mungkin akan melihat hal ini sebagai berita yang menarik.

“Muslim hanya layak diberitakan saat berada belakang senjata, bukan ketika menjadi korban,” singgungnya.

Kericuhan di Republik Afrika Tengah berlangsung sejak 2013. Lebih dari 6.000 orang dikabarkan tewas. Awal tahun ini PBB mengonfirmasi adanya pembersihan etnis Muslim di negara itu.[] sumber: republika.co.id

Mengapa Islam Kian Populer di Amerika Serikat?

Mengapa Islam Kian Populer di Amerika Serikat?

JAKARTA – Imam masjid di New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali, mengatakan Islam semakin diterima di sana. Tragedi serangan teroris di gedung World Trade Center 11 September 2011 lalu membuka mata warga AS.

“Kejadian ini memang bencana tapi sekaligus juga berkah tersendiri bagi umat muslim,” kata Ali ketika berkunjung ke kantor Tempo, Senin, 10 Agustus 2015. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi eksistensi Islam di AS.

Shamsi menambahkan, tak lama sejak peristiwa 11 September kebencian rakyat AS terhadap Islam semakin menjadi-jadi. Musababnya, pelaku penyerangan WTC diotaki oleh Osama Bin Laden.

Namun lama kelamaan, warga AS mencari tahu Islam yang sebenarnya. Shamsi mengaku banyak warga yang datang bertanya tentang Islam. Tak jarang tokoh agama lain maupun politisi ingin berdebat dengannya.

“Karena rasa ingin tahu yang sangat besar, mereka menelisik Islam hingga dalam,” kata Shamsi. Mereka menyadari bahwa jika aksi teroris seperti yang dilakukan Osama Bin Laden bertentangan dengan nilai Islam yang sesungguhnya.

Menurut Shamsi, Islam sudah menjadi bagian dari AS. Sekitar 40 ribu orang warga negeri Abang Sam setiap tahunnya memeluk Islam. Bahkan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi hari libur di New York.

Di AS ada wali kota yang beragama Islam di kota Teaneck, New Jersey bernama Mohammed Hameeduddin yang berpasangan dengan Adam Gussen yang memeluk Yahudi. “Islam itu tak penuh kebencian, justru penuh persahabatan,” kata Shamsi.[] sumber: tempo.co