Tag: muntasir hamid

Politisi Sabang Ajak Semua Pihak Hormati Golkar

Politisi Sabang Ajak Semua Pihak Hormati Golkar

BANDA ACEH – Mantan Wakil Wali Kota Sabang, Islamuddin Ismady, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Departemen Organisasi DPP Golkar Kubu Agung Laksono, mengajak semua pihak untuk menghormati Partai Beringin.

Dia juga mengajak pengurus Golkar Aceh dari Kubu ARB untuk menjaga kehormatan partai tersebut. Di sisi lain dia juga meminta anggota DPR Aceh yang sedang mengemban amanah rakyat untuk tidak saling berebut jabatan di DPR Aceh.

Beuna male ngoen rakyat (malu dengan rakyat),” katanya.

Menurutnya pelengseran Sulaiman Abda dari pimpinan DPR Aceh sangat tidak patut. Islamuddin menilai tindakan tersebut terkesan lupa sejarah dan abai terhadap amanah yang sudah dibebankan di atas pundak Sulaiman Abda.

“Kita tidak boleh menutup mata dengan prestasi yang sudah ditoreh Sulaiman Abda, termasuk perolehan suara pribadi beliau,” katanya.

Islamuddin juga mengajak rekan-rekan pengurus partai politik lain untuk menghormati Golkar.

Bek tamah culok kaye bak apui yang teungoh hu. Meutamah tutong (jangan menambah bara api. Tambah terbakar),” katanya.

Islamuddin turut mengajak semua partai untuk membantu Golkar dengan cara tidak mendorong atau mendukung langkah pemecatan, dan pelengseran. “Bagaimana jika ke depan konflik juga terjadi di partai Anda?,” katanya.

Sampai saat ini sengketa Golkar masih belum selesai. Menurutnya selama sengketa belum selesai, tidak boleh ada tindakan yang berjalan sendiri-sendiri.

“Pencalonan kepala daerah juga mesti ada kesepakatan bersama. Tanpa ada kesepakatan, itu namanya dukungan fiktif. Begitu juga dengan PAW atau perombakan di DPR Provinsi atau di Kabupaten/Kota, mesti ada rekomendasi dari kedua kubu di Golkar,” ujarnya.

Dia juga mengajak Fraksi Partai Golkar di DPR Aceh untuk membuang intrik sesama anggota. “Pu hana le male ngon rakyat. Hana pu takot dengan politik preman (Apa tidak malu dengan rakyat. Jangan takut dengan politik preman). Rakyat di belakang Anda, jika memang Anda berkerja untuk rakyat,” katanya.[](bna)

Ketua AMPI Aceh Barat: Anggota Fraksi Golkar Aceh Wajib Mundur

Ketua AMPI Aceh Barat: Anggota Fraksi Golkar Aceh Wajib Mundur

BANDA ACEH – Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Aceh Barat, Fuad Hadi, mendesak ketua dan seluruh anggota Fraksi Golkar mundur serta melepas keanggotaannya dari DPR Aceh. Pasalnya mereka dinilai telah memalukan seluruh kader dan menciderai marwah Partai Golkar.

“Pernyataan Fraksi Golkar Aceh yang menyatakan 99 persen anggota partai sepakat menurunkan posisi Sulaiman Abda sebagai Wakil Ketua DPR Aceh menjadi bukti bahwa Fraksi Golkar Aceh, secara etika politik telah melakukan perbuatan tercela,” kata Fuad Hadi didampingi Ketua Barisan Muda Kosgoro Aceh Barat, Agussalim, kepada portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015.

Menurutnya Fraksi Golkar Aceh secara sengaja mengabaikan pengetahuan politik, hukum dan peraturan. Padahal, kata Fuad, secara tegas telah disampaikan untuk partai bersengketa dilarang melakukan tindakan yang dapat berdampak secara hukum.

“Fraksi Partai Golkar Aceh di DPR Aceh juga tidak menjaga persaudaraan keluarga besar Partai Golkar, yang selama ini telah membantu mengantar mereka menjadi anggota DPRA sekaligus memulihkan citra politik Golkar di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya juga mendesak Fraksi Partai Golkar untuk membubarkan diri, mengundurkan diri, dan juga meminta maaf kepada keluarga besar Partai Golkar di seluruh Aceh.

“Saudara Aminuddin dan M. Saleh, S. Pdi wajib mundur dan mendesak para senior untuk mengutuk tindakan bunuh diri politik,” katanya.[](bna)

Aktivis Himab: Pemikiran Sulaiman Abda Masih Dibutuhkan Aceh

Aktivis Himab: Pemikiran Sulaiman Abda Masih Dibutuhkan Aceh

BANDA ACEH – Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (Himab), Fakhrurazi, S.Pd menilai keberadaan Sulaiman Abda masih dibutuhkan oleh DPD Golkar Aceh. Menurutnya partai berlambang pohon beringin tersebut beruntung memiliki sosok yang biasa disapa Bang Leman.

“Sangat disayangkan kalau beliau akan PAW, menurut saya di Aceh setiap membicarakan Golkar maka nama Sulaiman Abda yang terlintas,” kata Fakhrurrazi melalui pesan singkat yang dikirimnya ke Portalsatu.com, Rabu, 30 September 2015, malam.

Fakhrurazi juga menyebutkan, secara pribadi dia melihat peran dan pemikiran Sulaiman Abda juga masih dibutuhkan oleh DPR Aceh untuk menjawab dinamika politik dan pembangunan di daerah ini.

“Saya pribadi hanya melihat kondisi rill di lapangan, dan statemen ini tanpa kepentingan apapun selain kepentingan untuk Aceh ke depan,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin, mengatakan pergantian Wakil Ketua DPR Aceh dari Sulaiman Abda ke M. Saleh tidak diartikan sebagai PAW. Hal itu dikatakan Teungku Muharuddin kepada portalsatu.com, Rabu malam 30 September 2015.

“Sulaiman Abda masih wakil ketua DPR Aceh hingga SK dikeluarkan. Ini jangan diartikan PAW. Ini pergantian posisi, reposisi ini,” ujar Teungku Muharuddin kepada wartawan.

Ia mengatakan keputusan malam ini akan diserahkan ke gubernur dan gubernur akan menyerahkan ke Kementerian Dalam Negeri.

“Yang kita bahas malam ini adalah reposisi dan bukan PAW,” ujarnya lagi.

Rapat akhirnya selesai pukul 23.33 WIB dengan keputusan Sulaiman Abda masih menjadi wakil Ketua DPR Aceh selama SK belum dikeluarkan menteri.[](bna)

Muntasir Hamid: Golkar Aceh Dukung Sikap Mualem

Muntasir Hamid: Golkar Aceh Dukung Sikap Mualem

BANDA ACEH – Golkar Aceh mendukung sikap Ketua Partai Aceh (PA)/Komite Peralihan Aceh (KPA), Muzakir Manaf atau kerap disapa Mualem, yang mencalonkan dirinya di Pilkada 2017 mendatang. Partai politik ini juga merespon positif kebijakan Mualem yang bakal menggaet tokoh partai nasional untuk mendampinginya di Pilkada mendatang.

“Kami dari Partai Golkar Aceh juga menyambut baik dan sangat mendukung sikap Mualem yang telah memutuskan untuk kebersamaan akan berkoalisi dengan parnas pada Pilkada 2017,” ujar Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, kepada portalsatu.com, Sabtu, 26 September 2015.

Dia mengatakan Partai Aceh memiliki 29 kursi di DPRA dan ini merupakan jumlah mayoritas di parlemen. Padahal, kata dia, dengan jumlah kursi tersebut Partai Aceh dapat mengusung paket calon gubernur dan calon wakil gubernurnya sendiri tanpa harus berkoalisi dengan partai manapun.

“Tapi Mualem mengalah dan ikhlas memilih cawagubnya dari Parnas untuk kebersamaan. Maka sangat naif jika ada partai yang kursinya sedikit dan tidak dapat mengusung paket kandidatnya sendiri, tidak mau bergabung dan mendukung Mualem demi kebersamaan untuk membangun Aceh yang lebih baik,” ujarnya.

Dia tidak menampik jika semua partai menginginkan untuk dapat menjadi calon wakil gubernur. Apalagi untuk menjadi calon wakil gubernur dari cagub Muzakir Manaf yang diprediksikan pasti menang.

“Tapi pernyataan sikap Mualem telah membuka mata hati kita bahwa kebersamaan untuk membangun Aceh, jauh lebih penting dari pada sebuah jabatan cawagub. Maka kami Partai Golkar sepakat untuk mendukung Mualem menjadi Cagub 2017, dan Cawagubnya dari perwakilan parnas tersebut kami serahkan sepenuhnya untuk dipilih sendiri oleh Mualem dari parnas manapun,” katanya.[]

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

“Saya sudah menjadi nakhoda Golkar, dan kalian semua ada dalam pikiran dan hati saya. Nanti, giliran kalian yang membawa Golkar, apakah saya juga ada di hati dan pikiran kalian?” — Sulaiman Abda

+++

MALAM itu, usai salat isya saya makan malam bersama Sulaiman Abda, di rumahnya. Sebelumnya, kami baru saja kembali dari kunjungan silahturahmi ke Dayah MUDI, Samalanga, Kamis, 17 September 2015.

Di meja makan, hanya ada nasi putih dan ikan lado. Bang Leman, panggilan akrab Sulaiman Abda, hanya mengambil sedikit nasi. Lalu beliau mengajak saya untuk ikut makan. “Jak pajoh bu, Man (ayo kita makan, Man).”

Saya hanya mengangguk. Selebihnya, mata saya memperhatikan wajah Bang Leman. Kelihatan lebih segar dibanding setahun lalu, saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar.

Sejenak saya jadi kepikir angka kepercayaan rakyat yang diperoleh Bang Leman di Dapil I pada Pileg 2014. Jika tidak salah, sekitar 17 ribuan. Ini bukan angka kepercayaan yang sedikit. “Man, ka pajoh laju bu,” ujar Bang Leman lagi.

Saya mencoba menepis ingatan soal Golkar. Tapi, tidak bisa. Padahal, sebelumnya saya sudah memaklumkan untuk tidak dahulu bicara Golkar, sampai badai konflik hukum di tubuh Golkar benar-benar berlalu.

Sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring, saya kembali melirik sosok Ketua Golkar Aceh yang dilantik 17 Januari 2010 itu. Saat itu, Bang Leman menggantikan Sayed Fuad Zakaria yang terpilih sebagai anggota DPR RI.

Sosok yang sedang berada di hadapan saya ini bukan orang baru, apalagi sekedar penumpang gelap di Golkar. Sebelumnya, selama dua periode Sulaiman Abda duduk di posisi Wakil Ketua.

Rintisan jalannya menuju pucuk pimpinan Golkar Aceh benar-benar merangkak dari bawah. Usai berkhitmad di KNPI, Bang Leman masuk Golkar. Beliau ditempatkan di Biro Pemuda Golkar Aceh tahun 1994.

Baru delapan tahun kemudian Bang Leman berhasil duduk di jajaran Wakil Ketua. “Sangat dramatis. Kalau sekarang, hanya dalam sejenak posisi strategis di Golkar bisa didapat,” bisik hati saya.

Sejenak sayapun jadi mengingat diri sendiri. Saya masuk Golkar usai Sulaiman Abda terpilih sebagai Ketua Golkar, Desember 2009. Bang Lemanlah yang berhasil “menaklukkan” saya untuk bergabung di Golkar. Oh ya, juga Bang Husein Banta.

Sungguh, awalnya saya pernah membuat surat pengunduran diri. Tapi hanya sampai di meja sekretariat. “Nanti saya bicara dulu dengan ketua,” kata Taufik kala itu.

Akhirnya saya tidak jadi keluar. Saya diberi kesempatan untuk memperbaiki tata kelola Golkar agar lebih terbuka, lebih akomodatif terhadap kader muda dan kader perempuan.

Buahnya, Golkar Aceh mendapat penghargaan keterbukaan Informasi dari Komisi Informasi Aceh, Desember 2014. Sayapun diberi kepercayaan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, dan diberi kepercayaan menata Golkar agar lebih responsif gender.

Bagaimana nasib Golkar di tangan sosok kelahiran Geulumpang Payong, Pidie ini? Apakah “partai beringin” ini mati di tangan Sulaiman Abda?

Sulaiman Abda diwarisi Golkar Aceh dalam posisi kursi yang turun drastis, 59 kursi DPRK, 8 kursi DPRA, dan 2 kursi DPR-RI. Ini perolehan kursi hasil Pileg 2009.

Pada Pileg 2014, Sulaiman Abda berhasil menaikkan angka kursi Partai Golkar menjadi 80 kursi DPRK di kabupaten/kota. Kader Golkar berhasil meraih lima kursi ketua DPRK dan tujuh kursi pada posisi Wakil Ketua DPRK.

Di samping itu, juga sukses meraih 9 kursi  DPRA dan 2 kursi untuk DPR-RI. Ini hasil Pileg 2014 di bawah kepemimpinan Sulaiman Abda. Posisi Golkar nomor dua setelah Partai Aceh. Golkar Aceh berhasil bertahan dari “serbuan” parnas baru, Nasdem yang sejak kemunculannya banyak menarik perhatian publik.

Lebih dari itu, khusus untuk DPRA, 4 dari 9 kursi yang diraih Partai Golkar diisi oleh perwakilan perempuan, yaitu Fauziah, Yuniar, Nuraini Maida, dan Nurlelawati.

“Ini pengabdian terakhir saya untuk rakyat melalui DPR Aceh,” katanya suatu waktu usai dilantik sebagai anggota DPRA.

Kala itu, Bang Leman menegaskan hanya akan mengabdi sepenuhnya untuk Aceh. “Saya sudah menjadi milik Aceh, dan saya ingin pengabdian terakhir sebagai anggota DPR Aceh benar-benar bermanfaat untuk Aceh,” katanya kala itu.

Pernyataan itu, menurut Bang Leman adalah kunci kebangkitan Golkar Aceh. Golkar Aceh hanya mungkin dipercaya rakyat manakala kadernya mengabdi penuh untuk Aceh. Golkar jangan sampai dianggap parnas asing, dengan kepentingan asing. Golkar Aceh mesti bermanfaat bagi Aceh.

“Ini kunci kemenangan Golkar di Pilkada dan Pileg nanti,” kata Bang Leman saat itu.

Sayangnya, turbulensi politik di Golkar pusat akhirnya menyeret kader-kader Golkar di daerah ke dalam dua kubu hasil Munas, yang saling bertentangan.

Tragisnya, hasil “ijtihad” politik Bang Leman yang memilih bergabung dengan kubu Munas yang diakui pemerintah membuat pihak pendukung kubu Bali berang. Dan, melalui putusan DPP Golkar hasil Munas Bali nomor 27/DPP/Golkar/2015 Sulaiman Abda dipecat sebagai kader Golkar. Tragis!

Kini, buntut pemecatan mulai bercabang. Sulaiman Abda sudah diusul Pergantian Antar Waktu (PAW). Sebegitu besarkah dosa politik Bang Leman sehingga hukumannya bagai hukuman mati? Pemecatan sebagai kader sama artinya seperti hukuman mati karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu kepada rakyat melalui partai. Lebih dari itu, mengapa Bang Leman dipecat sebagai kader? Dan, mengapa sampai terburu-buru dan mengabaikan proses politik dan hukum yang sedang berjalan?

Mengapa untuk agenda Pilkada kedua belah kubu bisa berdamai dalam mencalonkan kadernya dari kedua belah pihak, sedangkan untuk pemecatan tidak dibangun kesepahaman sebelum diambil tindakan? Ada apa di balik percepatan pemecatan Sulaiman Abda sebagai kader Golkar?

Lagi pula, “ijtihad” politik Bang Leman berkenaan dengan tugasnya sebagai anggota DPR Aceh dan bukan semata sebagai pengurus. Mungkin ia berpikir, jika keanggotaannya sebagai wakil rakyat tidak bersandar pada badan hukum yang diakui pemerintah maka tindakan politiknya di DPR Aceh tidak memiliki kekuatan legalitas.

Mungkin ini menjadi dasar ia berpindah kubu. Itu artinya, bila kubu Bali yang diakui oleh pemerintah, tentu Sulaiman Abda akan bertahan di kubu Bali. Intinya, penghargaan atas ruang kader untuk berpikir mestinya dihormati kecuali bila ijtihad politiknya berpindah ke lain partai politik. Tapi, apa yang dilakukan oleh Bang Leman masih dalam lingkungan berwarna kuning.

Pingin rasanya bertanya kepada Bang Leman soal pemecatan dan PAW yang dilakukan oleh kubu Munas Bali. Tapi, saya urungkan. Pasti beliau akan jawab, “Saya bukan di kubu Munas Bali. Tapi di kubu Munas Ancol yang disahkan pemerintah. Bila saya dipecat oleh Kubu Ancol baru saya bisa bereaksi,” duga saya mencoba membaca pikiran Bang Leman.

Lebih dari itu, Bang Leman akhir-akhir ini memang sedang larut mengabdi kepada Aceh. Beragam peristiwa politik di Aceh yang “memanas” menuntun hati dan pikirannya untuk ambil bagian dalam usaha membawa Aceh kembali ke suasana yang diharapkan semua.

Tidak mudah memang. Karena itulah, Bang Leman terlihat sibuk melakukan silahturahmi ke berbagai pihak. Bang Leman sangat yakin bila silahturahmi dilakukan, perbedaan bisa diselesaikan dengan baik. Untuk langkah ini, dengan sangat sabar Bang Leman melakukannya.

Langkah silahturahmi yang dilakukan oleh Bang Leman juga wujud dari penghormatan Bang Leman terhadap seluruh tokoh. Semua dihormati dan ditempatkan dalam posisi terhormat. Tidak ada satupun sosok tokoh yang ingin dilihat kekurangannya. Setiap kali berbincang dengan Bang Leman maka potensi kebaikan sang tokohlah yang mengalir dari suaranya. Itulah Bang Leman, sosok yang tidak pernah lelah membangun komunikasi, dengan siapa saja. []

Foto: Sulaiman Abda Kunjungi Santri Mudi Mesra

Foto: Sulaiman Abda Kunjungi Santri Mudi Mesra

BIREUEN – Ribuan santri Ma’hadal ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya (Mesra) menyambut hangat rombongan Kapolda Aceh yang disertai Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda. Pimpinan Dayah MUDI, yang akrab disapa Abu MUDI pun ikut menyambut tamu rombongan, Kamis, 17 September 2015.[]

sulaiman5
@Risman A Rachman
sulaiman3
@Risman A Rachman
sulaiman2
@Risman A Rachman
sulaiman4
@Risman A Rachman
sulaiman6
@Risman A Rachman
Muntasir Hamid: Ini Pembelajaran Politik Untuk Sulaiman Abda

Muntasir Hamid: Ini Pembelajaran Politik Untuk Sulaiman Abda

BANDA ACEH – Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, menyerahkan surat pemecatan Sulaiman Abda kepada pimpinan DPR Aceh, Teungku Muharuddin, Kamis, 17 September 2015 sekitar pukul 15.05 WIB. Penyerahan surat tersebut sekaligus sebagai pemberitahuan pergantian Wakil Ketua DPR Aceh yang selama ini dijabat oleh Sulaiman Abda kepada M. Saleh S.Pdi.

“Maka Sulaiman Abda semenjak diberhentikan, apapun fasilitas yang digunakan, Sulaiman Abda bertanggung jawab dengan negara. Misalnya gaji, mobil, itu dikembalikan dan itu tanggung jawabnya Sulaiman Abda dengan negara,” kata Muntasir Hamid yang ditemani oleh Ketua Golkar Aceh versi Aburizal Bakri, Ishak Yusuf, bendahara serta sejumlah pengurus partai lainnya.

Muntasir mengatakan kasus ini menjadi salah satu pembelajaran politik untuk Sulaiman Abda.

Penyerahan surat tersebut dibenarkan oleh Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin. Dia mengatakan akan segera memproses surat tersebut sesuai undang-undang yang berlaku. “Akan segera diproses,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, mengatakan pihaknya membawa surat pergantian Sulaiman Abda di DPR Aceh. Surat ini diserahkan setelah Sulaiman Abda hampir 3 bulan dipecat dari Golkar Aceh.

“Lalu turun surat satu lagi sesuai arahan ketua Golkar, khususnya Golkar di Aceh yang meminta kepada Ketua DPR Aceh untuk memproses posisi Sulaiman Abda yang akan diganti M. Saleh S.Pdi. Ini masih ada proses,” kata Muntasir Hamid kepada portalsatu.com di sela-sela menunggu kedatangan Ketua DPR Aceh.

“Karena surat ini urgent, maka kami akan menunggu kedatangan Ketua DPR Aceh di kantor,” kata Muntasir lagi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi terkait pemecatan dan PAW tersebut dari pihak Sulaiman Abda.[](bna)

Sayap Muda Partai Minta Sesepuh Jadi Penengah Kisruh Golkar

Sayap Muda Partai Minta Sesepuh Jadi Penengah Kisruh Golkar

BANDA ACEH – Juru Bicara Organisasi Sayap Muda Politik Partai Golkar, Hendra Budian, meminta kepada organisasi pendiri dan yang didirikan oleh Partai Golkar untuk tidak berdiam diri melihat dinamika partai berlambang pohon beringin tersebut saat ini. Organisasi yang dimaksud seperti Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) serta para dewan pertimbangan beserta seluruh sesepuh dan senior partai.

“Kondisi Partai Golkar Aceh sudah diambang kehancuran. Partai Golkar Aceh saat ini dijalankan oleh orang-orang yang bukan kader partai,” ujar Hendra melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Senin, 27 Juli 2015.

Dia mengatakan Partai Golkar Aceh sebagai pemenang kedua pada pemilu legislatif 2014 yang lalu, seyogyanya hadir di tengah-tengah masyarakat, memperjuangkan aspirasi politik pemilih, bukan justru membuat onar dan kegaduhan internal. Menurutnya kegaduhan serta arogansi oknum pengurus yang dipertontonkan kepada publik, justru menghancurkan citra baik Golkar Aceh sebagai partai politik besar yang sarat pengalaman.

“Para sesepuh dan senior partai kami minta dapat menjadi penengah yang bijaksana dan arif untuk menjaga konsolidasi partai sampai hadirnya sebuah keputusan hukum yang bersifat final dan mengikat pada konflik internal di Pusat,” katanya.

“Hal ini menurut kami merupakan agenda mendesak yang harus segera dilakukan, mengingat Golkar harus tetap menjadi partai terdepan yang membela kepentingan serta aspirasi politik pemilih pada Pileg 2014 yang lalu,” kata Hendra Budian yang juga menjabat sebagai Ketua OKP DPD I Baladhika Karya Aceh tersebut.[](bna)

Foto: Kampanye Golkar di Aceh Barat. @Tribunnews.com