Tag: munir

Kata Anak Sabang Ini, Munir Adalah Aceh dan Aceh adalah Munir

Kata Anak Sabang Ini, Munir Adalah Aceh dan Aceh adalah Munir

BANDA ACEH – Setiap 7 September, diberbagai tempat, selalu digelar aksi mengenang Munir. Munir Said Thalib yang “dibungkam” dengan cara diracun saat berada di atas langit Rumania, sebelas tahun lalu, tepatnya 7 September 2004, terus saja dikenang, termasuk di Aceh.

Kemarin, sekitar pukul 10.00 WIB, berbagai elemen sipil berkumpul mengenang Munir, sekaligus menyuarakan tuntutan. Bertempat di bundaran di Simpang Lima, Banda Aceh, salah seorang orang muda yang ikut aksi adalah Teuku Muhammad Jafar Sulaiman, atau yang kerap disapa Jafar.

Siapa Munir di mata Program Manajer The Aceh Institute yang sebelumnya juga pernah menjabat Kepala Divisi Kajian KontraS Aceh, 2008-2009. Liputan “Membidik Orang Muda Bicara” kali ini mewartakannya untuk pembaca.

Bagi anak muda Sabang kelahiran 1980 ini, Munir adalah sosok langka yang lahir dari rahim perlawanan. “Munir adalah pasangan jiwa dari kata dan perbuatan,” kata lulusan S2 UIN Ar-Raniry ini.

Bagi sosok yang kaya pengalaman riset ini, Aceh adalah negeri yang tidak bisa lepas dari sosok Munir. “Munir adalah Aceh, dan Aceh adalah Munir,” katanya tegas.

Menurutnya, kecintaan Munir pada Aceh, dibayarnya dengan keberanian melawan ketidakadilan negara, mengungkap segala bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh.

“Jadi, Aceh tidak mungkin melupakan Munir. Selama perlawanan masih ada, maka Munir-Munir lain tetap akan ada,  dan terus berlipat ganda,” kata Jafar, yang juga kerap menjadi narasumber diberbagai pertemuan.

Menurut sosok yang aktif menulis artikel dan terlibat dalam penulisan ragam buku, dari seorang munir orang-orang bisa belajar satu hal penting, yaitu keberanian melawan ketakutan.

“Tidak ada kamus takut bagi seorang Munir,” tegas Jafar.

Baginya, Munir adalah sosok yang mengajarkan kepada orang banyak,  bagaimana membongkar ketakutan dan mengubahnya manjadi kekuatan perlawanan, melawan segala ketidakadilan terhadap manusia.

Jafar menegaskan bahwa Munir tidak boleh dilupakan, karena Munir sampai akhir hayatnya adalah sosok yang membuktikan bahwa “melawan” adalah pembutkian sah nya kita sebagai manusia yang tidak bisa melihat ketidakadilan.

“Sebelas tahun sudah Munir pergi. Tapi bagi Aceh, Munir tetap hidup, terkenang abadi. Munir, terus mengajak kita melawan segala bentuk pelanggaran HAM. Dan karena itu “melawan” adalah munir,” kata Jafar, dosen di Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry. []

Wapres JK Anggap Selesai Kematian Munir

Wapres JK Anggap Selesai Kematian Munir

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir Said Talib, sudah usai. Ketika sejumlah aktivis memperingati sebelas tahun kematiannya, Kalla menyatakan pemerintah telah mengungkap misteri kematian Munir. “Sudah diselesaikan, jangan lupa kan ada yang masuk penjara terkait kasus pembunuhan itu,” kata Kalla, di kantornya, Senin, 7 September 2015. “Si Pollycarpus itu.”

Artinya, menurut JK, kasus pembunuhan Munir sudah tak perlu dipermasalahkan kembali. Meski, Pollycarpus dibebaskan, Kalla menilai putusan pengadilan sudah mengungkap dalang pembunuhan itu. “Yang tentukan itu pengadilan kan bukan lembaga swadaya masyarakat. Pengadilan putus begitu, gimana. Ini kan negara hukum bukan negara LSM.”

Munir Said Talib merupakan aktivis HAM kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 dan meninggal 7 September 2004. Dia meninggal saat perjalanan udara dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda, dengan pesawat Garuda saat akan melanjutkan studinya di Negeri Kincir Angin itu. Munir dinyatakan diracun dengan arsenik dan meninggal di dalam pesawat saat perjalanan.

Polisi menetapkan satu orang tersangka dalam kasus pembunuhan itu. Adalah Pollycarpus Budihari Prianto. Namun, terpidana kasus pembunuhan pegiat hak asasi manusia itu telah mengirup udara bebas sejak Jumat, 28 November 2014. Kasus pembunuhan Munir masih menjadi misteri hingga kini. | sumber: tempo

KontraS: Pemerintah Aceh Tidak Berjuang untuk KKR

KontraS: Pemerintah Aceh Tidak Berjuang untuk KKR

BANDA ACEH – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Hendra Saputra, mengatakan pemerintah Aceh belum berjuang untuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Pemerintah Aceh juga dianggap tidak sepenuhnya menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

“Kita lihat pemerintah Aceh tidak berjuang untuk KKR, padahal kita sudah punya qanun dan tinggal menjalankan qanun saja. Apakah pemerintah tidak mampu menjalankan qanun,” kata Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra di sela-sela aksi memperingati hari kematian aktivis HAM, Munir, di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Senin, 7 Agustus 2015.

Hendra mengatakan di Aceh sangat banyak kasus pelanggaran HAM yang belum diselesaikan dengan baik. Padahal Aceh sudah punya Qanun No 17 tahun 2013 terkait KKR dan itu adalah produk hukum yang harus dijalankan.

“Di Aceh ada beberapa kasus pelanggaran HAM masa lalu yang sudah sangat terkuak tapi pemerintah belum mau menyelesaikannya, padahal kita sudah punya KKR sebagai mekanisme menyelesaikan hal ini,” kata Hendra.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Foto: Elemen sipil di Aceh memperingati hari kematian pejuang HAM, Munir Said Thalib di Simpang Lima Banda Aceh, Senin, 7 September 2015. @Risman A Rachman

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia Belum Menyentuh Aktor Intelektual

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia Belum Menyentuh Aktor Intelektual

BANDA ACEH – Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra, mengatakan kasus pelanggaran HAM di Indonesia tidak ditangani dengan baik dan terkesan ditutup-tutupi. Salah satunya adalah penyelidikan kasus Munir yang hanya menyentuh aktor lapangan.

“Sedangkan aktor intelektualnya sampai sekarang belum terungkap,” ujar Hendra saat ditemui portalsatu.com di sela-sela aksi memperingati hari kematian Munir Said Thalib di Simpang Lima Banda Aceh, Senin, 7 September 2015.

Dalam aksi tersebut, elemen sipil pemerhati kasus HAM mendesak beberapa hal. Di antaranya mendesak pemerintah Jokowi-JK untuk segera menuntaskan kasus pembunuhan Munir dan mengungkap aktor intelektualnya, mencabut surat klarifikasi terkait Qanun No 17 Tahun 2013 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi serta meminta pemerintah untuk menjalankan qanun tersebut. Mereka juga meminta pemerintah untuk menuntaskan seluruh kasus pelanggaran HAM lainnya yang terjadi di Indonesia.

“Di Aceh ada beberapa kasus pelanggaran HAM masa lalu yang sudah sangat terkuak tapi pemerintah belum mau menyelesaikannya. Padahal kita sudah punya KKR sebagai mekanisme meyelesaikan hal ini,” kata Hendra yang juga koordinator aksi.

Kasus Munir yang terjadi 11 tahun yang lalu sudah sangat tua dan sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana kasus tersebut akan berakhir. Pemerintah terkesan tidak tegas dalam menyelesaikan kasus tersebut. Hal itu ditakutkan akan terjadi kasus serupa di kemudian hari dan mengulang kasus yang terjadi pada Munir.

“Ini akan terus berulang karena kita tidak pernah belajar dan menyelesaikan kasus di masa lalu,” ujar Hendra.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Foto: Elemen sipil di Aceh memperingati hari kematian pejuang HAM, Munir Said Thalib di Simpang Lima Banda Aceh, Senin, 7 September 2015. @Risman A Rachman

Dari Aceh Munir Tetap Ada

Dari Aceh Munir Tetap Ada

BANDA ACEH – Baliho berukuran 3 x 3,5 meter itu dibentang di bundaran Simpang lima Banda Aceh, Senin, 7 September 2015. Beberapa orang memegangnya agar tidak rubuh dihempas angin. Baliho itu berisi foto wajah hitam putih Munir Said Thalib. Di dalamnya tertera pesan “Dari Aceh Munir Tetap Ada dan Berlipat Ganda.”

Para aktivis yang setia mengingat Munir ini dengan dengan susah payah menyiapkan alat peraga kampanye. Jumlahnya tidak banyak. Beberapa wartawan mengabadikan kerja penyiapan baliho yang dibuat meninggi, bukan panjang melebar.

Saat baliho diarak ke tugu Simpang Lima juga terlihat tidak mudah. Agar tidak jatuh, beberapa kayu penyangga dibuat dan dipaku.

7 September 2004. Itulah tanggal Munir “dibungkam untuk selamanya.” Satu tahun sebelum Aceh mengakhiri periode konflik panjang. Atau, hanya beberapa bulan sebelum Aceh dilanda gempa yang disusul tsunami.

Seorang penulis, Jodhy Yudono, menulis, “Di atas langit Rumania, atau dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol Amsterdam, Munir menghembuskan nafas terakhir, setelah berjam-jam lamanya dalam penerbangan tersebut dia buang-buang air. Hanya beralaskan selimut di lantai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam, Munir menemui takdirnya, meninggal di negeri jauh, tanpa didampingi keluarga dan orang-orang terdekatnya.”

Munir Said Thalib adalah sosok yang paling vokal dalam menyingkap kasus-kasus pelanggaran HAM di periode konflik Aceh. Munir juga yang menjadi tumpuan bagi banyak kalangan aktivis di Aceh untuk menyuarakan pelanggaran HAM di Aceh di tingkat nasional. Munir menjadi teman akrab bagi banyak aktivis Aceh kala berada di Jakarta usai status Darurat Militer ditetapkan. Bahkan, berkat dukungan Munir itulah berbagai lembaga advokasi di Jakarta melirik dan akhirnya bersolidaritas kuat untuk ragam isu di Aceh, hingga Aceh mendekap damai, 15 Agustus 2005.

Melalui TOA yang kerap macet, tiga tuntutan dibaca dan disampaikan oleh beberapa aktivis di Aceh ini. Pertama, mendesak Jokowi-Jk segera menuntaskan kasus pembunuhan Munir dan mengungkap aktor intelektualnya.

Kedua, mereka mendesak Jokowi-Jk mencabut surat klarifikasi terkait Qanun No. 17/2013 tentang KKR serta memerintahkan Pemerintah Aceh agar segera menjalankan Qanun KKR. Ketiga, meminta pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia dengan membentuk UU KKR.

Orasi yang disampaikan Taufiqurrahman dari LBH Banda Aceh itu kemudian diikuti oleh beberapa orang. Ada Bardan Saidi dan Kautsar dari parlemen Aceh. Ada Asiah dari aktivis politik, Hendra Saputra dari KontraS Aceh, dan lainnya. Di akhir orasi, merekapun berdiri berfoto untuk mengabarkan kepada dunia, bahwa di Aceh masih ada “Munir-Munir” yang tidak lelah dan tidak menyerah menyuarakan pelanggaran HAM. Dan bila belum tuntas kasus Munir maka itu maknanya pembungkaman atas rakyat oleh aparatur negara, masih sangat mungkin terus terjadi. [](bna)