Tag: mualaf

Yahudi yang Akhirnya Mencintai Alquran (1)

Yahudi yang Akhirnya Mencintai Alquran (1)

WASHINGTON — Pria bernama William ini aktif membela Amerika Serikat dengan menjadi salah satu personil kepolisian. Sekaligus pemeluk Yahudi yang taat.

William yang tinggal di pinggiran kota Midwestern bersama istri dan anaknya memiliki keluarga mapan dan karier cemerlang. Kadang-kadang, lelaki itu suka bepergian dengan truk pick up sambil mengenakan sepatu bot koboi. Khas sosok koloni Redneck yang bergaya hidup konservatif dan rasis.

Di antara figur Yahudi Amerika yang kuat tadi, ternyata William adalah seorang Muslim. Tentu saja status tersebut sangatlah kontras. Maka, William pun memaparkan keunikan identitasnya di acara The Deen Show, Rabu (26/8).

“Saya mengenal Islam ketika bertemu Nasir, lewat sebuah hubungan kerja pada akhir tahun 1980-an,” ungkapnya.

William terkesan dengan sopan santun dan cara Nasir memperlakukan dia. Lewat Nasir, Wliliam mendapat kesan mendalam tentang Islam dan pemeluknya. Persahabatan di antara mereka mulai terjalin.

Selama bertahun-tahun, ia melihat Nasir menyelesaikan beragam urusan dan berhadapan dengan aneka situasi yang berbeda. Ia terkesan akan kebijaksanaan dan kesabaran sahabatnya. Nasir selalu mengatasi setiap masalah dengan tepat.

Kadang William bertanya, mengapa ia melakukan kebaikan-kebaikan itu. Nasir selalu menjawab, ada kebijaksanaan yang memandunya untuk melakukan perbuatan itu.

Ia menjelaskan segala sesuatu dengan cara lemah lembut, seolah-olah sedang mengajarkan pada seorang anak. Di kemudian hari William menyadari, sebagian besar kebijaksanaan itu berasal dari Alquran.

Sekitar musim dingin tahun 2000, William mulai menaruh minat serius pada Islam. Ia pun belajar membaca Alquran. Mulanya, ia merasa tidak bisa memahami Alquran. Tapi, ia pantang menyerah.

Sembari itu, ia juga membaca buku-buku tentang Islam. Ia mempelajari banyak hal dengan pendekatan akademis.

“Saya selalu memeriksa ulang tiap kali menemukan penemuan modern yang telah dibahas dalam Alquran, dan sangat terkejut dengan apa yang saya temukan,” kenang William.

Sekali lagi, ia  mencoba membaca Alquran. Kini, ia memutuskan untuk meminta bantuan Nasir. | Sumber: republika.co.id

Foto Orang Yahudi dan bendera AS.ilustrasi. @nleresource.com

Penyanyi Malaysia: Saya Jatuh Cinta dengan Islam

Penyanyi Malaysia: Saya Jatuh Cinta dengan Islam

KUALA LUMPUR — Seorang penyanyi Pop Malaysia Stracie Angie Anam jatuh cinta kepada Islam.

“Ya, saya telah masuk Islam secara resmi kemarin. Hari itu adalah hari terindah dalam hidup saya, “penyanyi lokal Stracie Angie Anam atau Stacy AF dikutip dari News Straits Times Online, Rabu (26/8).

Awalnya, Anam tidak ingin menghebohkan para penggemar seputar perpindahan agamanya. Hanya saja rumor dirinya memeluk Islam terus berkembang. Apalagi, publik melihatnya dalam sebuah video ia terlihat sedang mengenakan jilbab dan melakukan syahadat.

“Jika Anda merasa rasa hormat untuk seseorang, silakan berhenti berbagi dan menghapus video yang direkam tanpa izin,” tulis penyanyi menulis di Twitter.

Ia merasa privasinya telah dilanggar dengan penyebaran video tersebut. Meski demikian, kejadian dalam rekaman video tersebut merupakan masa terindah dalam hidupnya dan ingin dinikmatinya khusus antara dirinya dan Allah.

“Saya adalah seorang Kristen sebelum dan saya bangga akan hal itu. Tapi ini adalah masalah hati, dan saya telah jatuh cinta dengan Islam dan saya siap untuk menerimanya dengan sepenuh hati,”kata bintang berusia 25 tahun.

Setelah resmi memeluk Islam di kantor agama Johor Baru, Stacy mengganti namanya menjadi Ummu Syaikhah Stacy binti Anam. Ia berharap dengan keputusannya memeluk Islam dapat dihormati oleh semua orang, termasuk para penggemarnya. | sumber: republika.co.id

Foto: penyanyi Pop Malaysia Stracie Angie Anam.@OnIslam

Proklamasi Kemerdekaan Seorang Muslim

Proklamasi Kemerdekaan Seorang Muslim

Oleh: Meliana

Dua kalimat syahadat, “Asyahu an laa ila illah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” sejatinya adalah bentuk proklamasi kemerdekaan diri seorang Muslim.

Yaitu, proklamasi kemerdekaan dari menghamba Tuhan-Tuhan selain Allah dan proklamasi kemerdekaan dari mencari uswah selain Rasulullah. Dengan kata lain, dengan bersyahadat, seorang Muslim secara sadar telah memproklamasikan dirinya merdeka dari belenggu nafsu dan setan.

Dengan bersyahadat juga berarti seseorang telah bersumpah untuk membaktikan dirinya secara total kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’am [6]: 162).

Selain itu, dengan bersyahadat, berarti seseorang telah menyerahkan penghambaan dan permohonan hanya kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS al-Fatihah [1]: 5).

Namun, dalam perjalanannya, sering kali seseorang lupa akan proklamasi tersebut. Terjebak pada rutinitas kehidupan yang kadang melenakan, membuat diri mengikuti jalan kemungkaran (setan) hingga terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Hal ini dapat terjadi jika seseorang terkalahkan oleh hawa nafsunya. Ingat, setan tidak akan pernah berhenti dari membuat buaian kepada manusia.

Padahal, Allah SWT telah menegaskan, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan, hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Dan, sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?” (QS Yasin [36]: 60-62).

Dalam ayat lain, Allah menjanjikan surga bagi seseorang yang dapat menolak keinginan nafsunya. “Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. Maka, sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” (QS an-Nazi`at [79]: 40-41).

Dengan demikian, melalui proklamasi kemerdekan diri secara totalitas ini akan dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan sejati. Yaitu, kebahagaiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa yang selalu dilantunkan oleh setiap Muslim pada setiap saat.

“Rabbana atina fiddunyaa hasanah wafil-akhirati hasanah waqina ‘adzabannar”. (Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).” (QS al-Baqarah [2]: 201).

Semoga Allah membimbing kaum Muslimin agar senantiasa istiqamah dalam merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Amin. | sumber : republika

Wanita Yahudi Temukan Kedamaian Usai Dengar Lantunan Adzan

Wanita Yahudi Temukan Kedamaian Usai Dengar Lantunan Adzan

OTTAWA — Perjalanan mencari kedamaian terkadang justru datang dari hal-hal tak terduga. Sandra, seorang wanita kelahiran keluarga Yahudi terpesona dengan lantunan azan.

Saat Jerman dalam keadaan genting tahun 1957, Sandra dan keluarganya bermigrasi dari Mannheim, Jerman, menuju Kanada. Mereka bersembunyi selama peperangan berlangsung. Beberapa keluarganya tertangkap dan dimasukkan dalam kamp.

Setelah perpindahan tempat tinggal tersebut, kedua orang tua Sandra bersepakat memulai hidup baru. Keluarga ini berusaha keras menjadi orang Kanada hingga mengubah nama mereka, namun Sandara justru tetap pada keyakinannya sebagai Yahudi karena merasa masih ada hal yang perlu ia cari dan ketahui.

Pencarian pertamanya bermula saat gadis berusia 13 tahun tahun 1970-an ini mengetahui Cat Stevens masuk Islam. Cat Stevens mengubah namanya menjadi Yusuf Islam dan membuat Sandra ingin mengetahui tentang Islam.

Tahun 2005 menjadi titik balik Sandra mengenal Islam. Setelah dua minggu kematian ibunya karena penyakit kanker, ia terbang menuju India. Saat itu merupakan bulan Ramadhan.

Saat hari pertama di India, ia sedang tidur dan terkagetkan dengan suara adzan pukul lima pagi. Ia merasa ada kekuatan dalam suara adzan tersebut.

“Aku pergi ke jendela dan berdiri di sana dan merasa perasaan kebahagiaan lengkap, perdamaian yang bisa dirasakan. Itu adalah momen yang membuat aku mengambil lompatan itu, lompatan iman,” ujar Sandra yang mengubah namanya menjadi Selma setelah bersyahadat masuk Islam, dilansir dari OnIslam, Ahad (23/8).

Awal perjalanan Selma masuk Islam memang penuh kegugupan. Ia harus memperkenalkan diri kembali kepada teman dan keluarga bahwa ia berpindah agama, terlebih lagi saat ia memutuskan menggunakan jilbab.

Untung saja, Selma berada di Kanada, ia merasa memiliki perbedaan jika berada di Amerika Utara. Di Amerika Utara, melihat seorang wanita berjilbab sebagai tertindas dan tunduk, sedangkan di Kanada individu diberikan kebebasan untuk memilih. Ia dapat merasakan kedamaian dan ketenangan setelah memeluk ajaran Islam. | sumber: republika.co.id

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (2-habis)

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (2-habis)

Carolyn Erazo terbangun sangat awal untuk menemukan sebuah masjid yang telah ia cari sejak malam sebelumnya. Ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya. Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam.

Perempuan itu mulai mengemudikan mobilnya di sekitar lokasi, tapi tak bisa menemukan masjid itu, padahal ia sudah memegang alamatnya. Singkat cerita, Carolyn sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan.

Kendati gemetar, Carolyn mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Carolyn lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam masjid.

Ia diberitahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah imam datang. Carolyn menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara padanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Carolyn harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa Imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia malam itu.

Carolyn kembali datang ke masjid. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang imam dan memperkenalkan diri. Tapi, dengan cepat imam itu menolak uluran tangannya, meminta maaf, sambil menjelaskan alasan.

“Saya ingat dengan jelas. Saya kira itu benar-benar hal pertama yang membuat saya terkesan,” kenang Carolyn. Kendati, ia merasa malu. Sampai-sampai, ia ingin marah pada bosnya lantaran tidak memberi tahu ada aturan itu sebelumnya.

Imam Abdul Lateef mengajaknya duduk dan menanyakan semua persoalan yang ia alami. Carolyn mulai menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pencarian. Ia sudah menjelajahi kekristenan dan mengungkapkan argumen mengapa ia gagal menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen.

Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Carolyn mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah Imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut. Apa yang menjadi kegelisahan Carolyn selama ini mulai menemukan jawaban.

Saat ia perhatikan, apa yang dikatakan Imam tampaknya benar. Tak kurang dari dua jam, Carolyn terus membombardir Imam dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin benar-benar meyakinkan diri atas pilihannya.

Ketika ia merasa cukup dan beranjak menuju pintu, Abdul Lateef berkata, “Terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan Anda. Saya berharap, ketika Anda meninggalkan tempat ini, Anda tahu apakah Anda Muslim atau non-Muslim.”

Carolyn memikirkan kata-kata itu setiap  malam, selama lebih dari seminggu. Ucapan itu terngiang-ngiang dan membebani otaknya. Tiga hari berlalu, Imam Abdul Lateef kembali menelepon. Ia seolah tahu bahwa Carolyn sedang membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka berbicara panjang lebar hingga satu jam lewat telepon.

Selama beberapa bulan kemudian, Carolyn melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Carolyn, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam.

Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati, ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

“Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami,” kata Carolyn, yang berkulit putih dan asli Amerika.

Seandainya ia cocok dengan kekristenan, barangkali tidak masalah. Pasalnya, Carolyn merasa tidak cocok. Ia tidak bisa menolak takdir dan iman dia. Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk, Ramadhan. Ia takut akan kewajiban puasa itu.

Carolyn ingat dengan jelas apa yang dikatakan Imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya.

“Saudariku, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir,” kata dia.

Tebakan Imam Abdul Lateef benar! Dua minggu selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat.

Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Carolyn tinggal menunggu momentum.

Kebahagiaan Carolyn menuai masalah saat orang-orang di lingkungan sekitarnya mengetahui keislaman perempuan itu. Ia mendapat banyak penentangan. Setiap ejekan seolah sengaja dilontarkan untuk membuat dia marah. Sepanjang waktu, Carolyn mencoba bertahan.

Juni 2015 ini, tepat tiga tahun Carolyn masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf.

“Saya akan terus belajar memberikan respon-respon cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya,” ucapnya yakin.  | sumber: republika.co.id

Foto: Carolyn Erazo.@muslimvillage

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (1)

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (1)

WASHINGTON — Sedari kecil, Carolyn Erazo sering berharap supaya tidak perlu pergi ke gereja meski  dididik dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen.

“Saya adalah tipikal gadis Amerika tulen,” katanya memulai cerita pada Muslim Village, Kamis (20/8).
Carolyn mengaku tidak senang dengan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Ahad itu. Ia tidak pernah percaya dengan apa yang diajarkan.

Ada banyak inkonsistensi tampak di hadapannya, tapi tidak sedikitpun terbersit keinginan di hati Carolyn untuk mencari tahu. Ia hanya sekadar berpikir, bagaimana kita bisa mempercayai apa yang tidak kita ketahui?

Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah buku cerita yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Carolyn menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya Carolyn memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual.

Ia merefleksi kejadian-kejadian yang telah lampau. Di satu sisi, ia bersyukur, semenjak kecil telah menerima banyak kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Pada hari terakhir retret, Carolyn berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan.

Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dialah satu-satunya penolong.

Carolyn menyatakan, peristiwa itu begitu membekas dan mengubah jalan berpikirnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari iman, yang menurut dia, tidak akan pernah dia temukan.

Saat itulah, mendadak air mata hangat mengalir di wajah Carolyn. Ia menyerah pada Tuhan. “Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya,” ujar Carolyn saat itu.

Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apapun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Carolyn semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban.

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Carolyn takjub melihat sikap si ibu yang baru saja kehilangan anak di pemakaman itu.

Perempuan yang tengah berduka cita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan.

Carolyn heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.

Carolyn butuh waktu seminggu sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia tidak bisa hanya terus-menerus mencari pembenaran. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya.

“Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan,” kata Carolyn. Ia pun duduk di gereja selama berminggu-minggu untuk mendengarkan ceramah.

Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Carolyn pun memperluas skala pencarian. | sumber: republika.co.id

Foto: Carolyn Erazo.@linkedin

Damianna Pearson, Pembenci Islam yang Bersyahadat

Damianna Pearson, Pembenci Islam yang Bersyahadat

WASHINGTON — Awalnya, Damianna Pearson begitu membenci Islam. Pada akhirnya, ia menemukan nikmat Islam setelah mempelajari Alquran.

Ketakutan terhadap Islam atau dikenal Islamfobia akan mudah didapatkan di negara-negara Barat. Pemberitaan seputar perang dan kekerasan di daratan Timur Tengah banyak menjadi penyumbang munculnya Islamfobia.

Perempuan kelahiran Amerika Serikat ini memulai kebenciannya terhadap Islam setelah kejadian 9/11 di AS. Peristiwa tersebut membuatnya sangat ketakutan meski ia belum pernah mendengar tentang Islam bahkan Muslim. Peristiwa 9/11 membawa dirinya dan anak-anaknya yang berumur 3 dan 6 tahun menjadi umat Kristen.

“Sekarang kita kan menjadi orang Kristen! Jika ada orang-orang gila datang ke sini dan akan membom kita, saya perlu tahu bahwa kita aman,” alasannya saat memutuskan memilih agama Kristen.

Setelah itu, ia mendukung terjadinya perang di Irak dan segala kekerasan yang terjadi. Pearson bahkan mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan bersama pemboman yang terjadi di Afganistan, dan mengatakan itu merupakan hal yang tepat untuk dilakukan, meski faktanya ia mengaku bahwa saat itu Pearson tidak mengetahui di mana itu letaknya Timur Tengah.

“Aku tahu apa-apa tentang Irak, Iran, Afghanistan, Palestina, sama sekali. Tapi, saya menghabiskan tahun-tahun menyebarkan kebencian, dan kebohongan mengerikan tentang orang, tempat, dan agama, saya tidak tahu apa-apa tentang  itu. Dan  Saya senang melihat mereka sedang dibom,” ujarnya dilansir dari OnIslam, Kamis (20/8).

Untuk menambah kadar kebenciannya terhadap Islam, ia mencoba mencari ayat-ayat kebencian dalam Alquran, tapi justru Pearson tidak menemukan itu semua. Alquran malah membuat hati dan hidupnya berubah.

Dalam Alquran, ia menyadari bahwa tidak ada ajaran yang menebarkan kebencian seperti yang ia lakukan kepada umat Muslim. Alquran membuat pikirannya terbuka dalam melihat orang-orang di sekitarnya.

Setelah kejadian itu, Pearson mulai mencari tahu seputar kejadian yang terjadi dari peristiwa di pelbagai tempat, termasuk kebenaran yang terjadi di Timur Tengah.  Saat mempelajari semua itu, ia tersadar bahwa penuh berita yang dimanipulatif sehingga menyebarkan kebencian.

“Saya menangis begitu banyak air mata, Saya hampir dehidrasi. Semua nyawa tak berdosa hilang karena saya berbohong. Itu adalah hal yang paling sulit yang pernah saya harus hadapi. Untuk melihat diri saya di cermin saja sulit,” katanya.

Kejadian tersebut sangat membekas pada dirinya. Dan semenjak itu ia memutuskan untuk memulai menyebarkan kebenaran. Ia berharap dapat menjangkau lebih banyak orang untuk menyebarkan kebenaran  daripada saat ia melakukannya dengan kebohongan. | sumber: republika.co.id

Anak Keluarga Pendeta Masuk Islam dalam Parade Tauhid

Anak Keluarga Pendeta Masuk Islam dalam Parade Tauhid

JAKARTA – ParadeTauhid Indonesia yang digelar Ahad (16/8) kemarin telah mengubah jalan hidup seorang non-Muslim. Steven Indra Wibowo dari Mualaf Centre Indonesia membenarkan dirinya telah mengislamkan seorang pemuda Protestan dalam Parade Tauhid di Gelora Bung Karno, Senayan.

“Dia peserta jogging,” kata Indra kepada Republika, Selasa (18/8).

Steven mengisahkan, layaknya hari biasa, setiap Ahad, Senayan ramai dijadikan tempat jogging oleh warga Jakarta. Bowie (25 tahun), nama mualaf tersebut, pagi itu tengah jogging di arena belakang panggung Parade Tauhid.

Ia heran menyaksikan ratusan ribu umat Islam berkumpul. Steven kebetulan berada di sana. Waktu itu, ia mengaku sedang memperbaiki drone yang digunakan untuk meliput acara Parade Tauhid. Setelah para peserta parade berangkat, Bowie menghampirinya dan bertanya-tanya.

Keduanya berkenalan dan ngobrol beberapa hal selama kurang lebih satu jam. Termasuk, dia bertanya kenapa bukan orang Islam saja yang masuk Kristen. Ia berargumen, dalam Alquran juga disebutkan kalau nabi Isa akan turun lagi untuk menyelamatkan. Bahkan, kata Bowie, nabi Isa lebih banyak disebut dibandingkan Muhammad di dalam Alquran.

“Saya bilang, ya itu Alquran. Kamu kan bukan Islam, ngapain kamu pakai Alquran untuk jadi pedoman kamu. Kalau kamu percaya bahwa Yesus (Nabi Isa) menyelamatkan kembali seperti di Alquran kamu harus masuk Islam, maka kamu akan diselamatkan,” kata Steven, mengisahkan jawabannya kepada Bowie. Ia mengaku sudah biasa menghadapi hal seperti itu di lapangan.

Sebelum bersyahadat, tutur Steven, Bowie sempat ragu. Lantaran, keluarganya pendeta di Malang sehingga dapat dipastikan akan timbul protes dari keluarga. Ketua Mualaf Centre Indonesia itu meyakinkan, kalau sudah ada niat masuk Islam, akan belajar seiring waktu.

Setelah berdiskusi panjang lebar, Bowie akhirnya memutuskan untuk berislam. “Syahadatnya juga di samping panggung parade,” kata Steven. Beberapa orang dari Mualaf Center Indonesia menjadi saksi prosesi syahadat Bowie.

Meski, kata Steven, keislaman Bowie masih sembunyi-sembunyi karena masalah keluarga. Steven menambahkan, pihaknya sudah mulai melakukan follow-up dengan tim Mualaf Center di Jakarta Barat. Mereka mengajari Bowie cara sholat dan belajar membaca Alquran. | sumber: Republika.co.id

 Foto: Pimpinan Pesantren An-Naba Center, KH Syamsul Arifin Nababan saat membimbing mualaf bersyahadat. @Pesantren Mualaf An-Naba Center

 

Wanita Ini Masuk Islam Usai Tonton Video Ceramah Mualaf di Youtube

Wanita Ini Masuk Islam Usai Tonton Video Ceramah Mualaf di Youtube

NICOLE Queen, seorang perempuan asal Dallas, Amerika Serikat berhasil menemukan jalan Islam melalui pencarian yang cukup panjang. Ia menemukan cahaya Islam melalui tayangan-tayangan video yang diunggah di Youtube.

Ia terlahir sebagai seorang yang beragama kristen. Dengan kegiatan selayaknya umat Kristen di Amerika, ia pergi ke gereja namun selalu dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang begitu mengganggu pikirannya.

“Apakah benar-benar ada surga? Apakah benar-benar ada neraka? Apa yang akan terjadi? Apa yang akan saya katakan kepada Tuhan ketika saya melihat-Nya? Semua pertanyaan ini terlintas dalam pikiranku,” ujar Nicole dilansir dari OnIslam, Selasa (18/8).

Sebelum memeluk Islam pada tahun 2007, ia bekerja sebagai fotografer di sebuah klub malam. Hari-hari Nicole dihabiskan selayaknya warga Amerika, meminum minuman keras serta kegiatan-kegiatan lain yang semakin menjauhkannya dari Tuhan.

Beberapa waktu, akhirnya ia tersadar bahwa harus ada perubahan dalam hidup. Teman-temannya mengatakan bahwa ia bisa mencari suatu pencerahan melalui video di Youtube.

“Dan saya mulai melihat dan mendengarkan semua tentang Islam. Dan saya menjadi kecanduan, seperti saya  terjaga hingga pukul 05:00 di depan komputer untuk menonton ceramah tentang warga Amerika yang telah masuk Islam dan apa saja yang mereka alami,” katanya.

Setelah kejadian tersebut, ia merasa menemukan pencerahan. Perlahan, Nicole mulai merubah sedikit-demi sedikit perilakunya. Hal ini membuatnya yakin untuk mempelajari Islam lebih dalam dan akhirnya memutuskan untuk mulai datang ke masjid.

“Dan ketika saya mengatakan syahadat, saya tidak pernah melihat kembali dan saya mengubah segalanya dalam hidup saya: teman-teman saya, lemari pakaian saya, pekerjaan saya, dan semuanya,” ujar Nicole. | sumber: republika.co.id

Menjadi Mualaf Usai Mempertanyakan Eksistensi Tuhan (2)

Menjadi Mualaf Usai Mempertanyakan Eksistensi Tuhan (2)

JAKARTA — Danielle Lo Duca tidak ingin seperti itu. Secara pribadi, ia tidak pernah menganggap dirinya sengaja untuk mencari Tuhan. Konsisten dengan Bertrand Russel, ia telah memutuskan untuk percaya satu hal; agama hanyalah delusi palsu yang diagung-agungkan.

Walau pada kenyataannya, aku LoDuca, gagasan itu juga tidak dibangun di atas fakta-fakta tegas. Itu hanya asumsi. Ia tidak memiliki bukti. Ketika membaca buku-buku agama, ia sengaja mencari kelemahan. Sebuah pendekatan yang, kata LoDuca, membuatnya tetap objektif.

Terjemah Alquran Sampai suatu hari, sebuah terjemahan Alquran dia peroleh secara gratis. Ia tengah melintasi sekelompok orang yang membagi-bagikan Alquran hari itu. Tanpa memalingkan muka dari ponsel, ia bertanya ketus, “Apakah itu gratis?”

Salah satu dari panitia mengiyakan. Ia meraih salah satu, kemudian melanjutkan perjalanan. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya.

Ia hanya tertarik untuk mengambil buku gratis yang barangkali bisa membuatnya makin menertawakan agama.
Tapi, sejak membaca “kitab kuno itu”, ia menjadi lebih pendiam. Alquran berbeda dari buku-buku agama lain yang juga telah dia kumpulkan.

Danielle bisa memahaminya dengan mudah. Itu sangat jelas.

Seorang teman pernah menyebut Tuhannya Muslim itu pemarah dan pendendam. Ia langsung menghampiri orang itu tanpa sadar. Ia buka lembaran-lembaran Alquran, kemudian menunjukkan kalimat, “Sesungguhnya, Allah Mahapengam pun lagi Mahapenyayang.”

Alquran hanyalah “buku tua nan usang”, tapi entah bagaimana ia berpikir kitab itu sepenuhnya relevan. Ada sesuatu dengan irama dan cara komunikasinya yang intim. Ada semacam keindahan yang belum pernah dia kenal sebelumnya.

Terasa melegakan, seolah berjalan tanpa alas kaki di gurun pasir bermandikan cahaya bintang, kemudian angin berembus ringan dari samping. Alquran telah menarik daya intelektual LoDuca. Ia menawarkan isyarat, kemudian mengajaknya berpikir, merenung, dan mempertimbangkan.

Ia menolak keimanan yang membabi buta, tapi mendorong manusia menggunakan kecerdasan. LoDuca sadar, Alquran sepenuhnya ditujukan bagi kebaikan manusia.

Setelah beberapa waktu, niat itu semakin mengendap. Ia mulai membaca buku-buku tentang Islam. LoDuca menemukan bahwa Nabi Muhammad pernah ditegur dalam Alquran. Fakta itu tampak aneh jika Muhammad dianggap penulis Alquran, sebagaimana anggapan para orientalis.

“Orang ini tidak menunjukkan tanda- tanda seorang pembohong,” kata LoDuca. Ia berdoa pada suatu malam. Memohon ampun lantaran pernah menghina sosok mulia itu.

Suatu malam, LoDuca kian terperangah tatkala membaca surah al-Anbiya’ ayat 30. Konsentrasinya terpecah. Itu teori Big Bang! pikir LoDuca. Ayat itu masih melanjutkan lagi, segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Bukankah itu baru saja ditemukan para ilmuwan?

Ia tercengang.

LoDuca melompat turun dan mulai membaca lebih teliti. Ia memeriksa buku-buku hingga semalaman duduk di Perpustakaan Pratt Institute. Masih dengan mata terbelalak dan tumpukan buku terbuka, LoDuca tersadar. Kebenaran sudah ada di depan mata.

“Saya tidak bisa menyangkal apa yang telah saya temukan. Saya tidak bisa mengabaikannya dan hidup seperti semula. Kini, hanya tersisa satu pilihan,” ungkap LoDuca. Perempuan cerdas itu tahu, ia harus menerima. Akhirnya pada 2002, Danielle Lo Duca resmi masuk Islam. | sumber: republika.co.id

Foto: Ilustrasi