Tag: mualaf

Perkuat Akidah Jeanne Ester Adelaida Jadi Santri

Perkuat Akidah Jeanne Ester Adelaida Jadi Santri

JAKARTA — Praktis hanya Zaenab dan kakaknya yang Muslim, orang tua dan kakaknya yang lain masih Nasrani. Itu sebabnya, ada penolakan dari keluarganya ihwal keputusannya menjadi Muslim. Ia pun diusir karena pilihannya itu.

“Saya bisa menerima itu.  Hingga ayah meninggal, saya masih disalahkan, Kata mereka karena saya ayah meninggal,” kenang dia.

Meski mendapat penolakan, Zaenab tetap menjaga akhlak sebagai seorang anak. Ketika ayahnya jatuh sakit, ia menengok. Memang, niatan baiknya itu dibalas dengan hal yang menyakitkan. Semisal, ketika ayahnya berada di Unit Gawat Darurat, Zaenab diminta melepas jilbab.  “Saya jadi bingung, apa hubungannya melepas jilbab dengan sakitnya ayah saya,” Tanya dia.

Kegigihan Zaenab perlahan mulai melunakan hati keluarganya. Tapi bukan berarti Zaenab diterima kembali. Oleh keluarganya, dia dianggap sebagai anak yang hilang. Berulang kali, keluarganya mengajak ia ke gereja. Lagi-lagi, Zaenab dengan lantang menolak ajakan itu.

“Setiap kali saya ingin mengajak mereka, pasti ujung-ujungnya bertengkar. Saya memahami itu bukanlah hal yang mudah,” kata dia.

Hubungan dengan keluarganya tidak menjatuhkan mental Zaenab. Namun, ia merasa terpukul ketika keluarga kakaknya yang sejak lahir  menjadi Muslim justru menjelek-jelekan ajaran Islam. “Saya memahami banyak pengaruh luar yang membuat keluarga kakak iparnya seperti itu. Jujur, ini menggores hati saya. Saya yang mualaf mencintai Islam, Ini keluarga Muslim kok menghina islam,” kata dia.

Sejak itu, Zaenab kian bertekad mempelajari ajaran Islam. Niatan itu diimplementasikannya dengan masuk pesantren Syahamah di Klender, Jakarta Timur. Di pesantren itu, Zaenab mempelajari Islam mulai dari dasar akidah.  “Saya masuk pesantren bulan Mei 2014,” kata dia.

Awalnya, Zaenab ingin total belajar Islam di pesantren. Namun, ia butuh pekerjaan guna menunjang kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia masih menerima pekerjaan di bidang konstruksi.  “Sebagai seorang mualaf, saya harus membentengi diri saya sendiri. Saya belajar akidah. Ke depan, harapan saya bisa berbagi ilmu kepada siapapun,” kata dia.

Selama belajar di pesantren, Zaenab menyimpulkan Islam tidaklah rumit. Ia merasakan keindahan Islam. Ia melihat ajaran agama lain menyembah apa yang diciptakan Tuhan. Sementara islam mengajarkan Muslim menyembah sosok yang menciptakan kehidupan. “Jadi, saya memahami, apa itu puasa, shalat. Intinya, apa yang diperintahan Allah pencipta kehidupan adalah hal terbaik bagi setiap mahluknya,” kata dia. | sumber: republika

Foto Zaenab Ester Adelaida (Kiri) bersama rekan kerjanya.@Dokpri

“Kalau Saya Percaya Adam Hingga Isa, Mengapa Tidak Dengan Muhammad?”

“Kalau Saya Percaya Adam Hingga Isa, Mengapa Tidak Dengan Muhammad?”

JAKARTA – Tatkala berkeliling ke pelosok negeri itu, ia yakin telah menemukan tempat yang dia kehendaki. Tempat untuk mengembangkan diri, karier, dan kehidupan. Semua orang bersikap baik sejak pertama kali dia datang.

Seiring lekatnya interaksi hari demi hari, Amy mulai tertarik dengan budaya dan tradisi mereka. “Pada waktu itu juga, saya jatuh cinta dengan Oman dan orang-orangnya! Saya kira, itu awal perjalanan saya memeluk Islam,” ungkap Amy.

Lantaran mayoritas warga Oman memeluk Islam, Amy tertarik mempelajari Islam. Ia mulai membaca Alquran yang dibawakan Nishat Furkunda, koleganya asal India. Amy bahkan bertanya pada beberapa rekan senegara soal Islam.

Tapi, kebanyakan menjawab dengan nada negatif.

Pada 2013 menjadi masa pencarian kehidupan spiritual perempuan tersebut. Ia mengamati agama dan pengaruhnya terhadap perilaku siswa. Amy terkesan. Anak-anak mengatakan, InsyaAllah, setiap kali dia menyuruh mereka mengerjakan sesuatu.

Pemisahan siswa laki-laki dan perempuan di kelas juga menarik perhatian Amy. Itu menjadi semacam “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Suzanne Plunk, Reuters islamicaxis.com antitesis atas apa yang ia perjuangkan sebagai kesetaraan jenis kelamin.

Ketika dia membaca Alquran dan buku-buku keislaman, Amy menemukan, baik Kristen maupun Islam berlandaskan pada ajaran cinta, kasih sayang, dan kebaikan. Hanya saja, perbedaan antara keduanya juga cukup memukul hati Amy.

Iman Kristiani yang menganggap Yesus sebagai anak Allah tidak cocok dengan Islam. Islam hanya menganggap Yesus atau Isa sebagai seorang Nabi yang membawa pesan Tuhan kepada kaumnya.

Amy memikirkan hal ini untuk waktu yang sangat lama. Dia bertanya pada diri sendiri, apakah dia bisa menerima gagasan ini. Ketika Amy membaca Alquran, disebutkan Isa Al Masih akan turun untuk kedua kalinya pada hari kiamat. Lalu, tanya Amy, di mana peran Nabi Muhammad saat itu? Benarkah Muhammad seorang nabi? Ia menjadi gelisah dan tidak yakin dengan informasi yang dia terima.

Suatu sore, seorang kenalan di Oman yang bekerja untuk Pusat Informasi Islam di Muskat menyerahkan publikasi tentang Nabi Muhammad. Membaca publikasi itu, semua menjadi jelas. Muhammad adalah utusan Allah. Dia membawa ajaran yang sama seperti ajaran Nabi-Nabi sebelumnya; tauhid.

“Jadi, saya pikir kalau saya percaya semua Nabi sejak Adam sampai Isa, mengapa saya tidak percaya pada Muhammad?” Sampai di sini, Amy belum bersyahadat.

Puncaknya, saat Amy menghadiri ceramah di Departemen Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Nizwa yang disponsori Islamic Information Center Masjid Agung Sultan Qaboos. Fatima Al Harrasi, seorang pembicara, melemparkan pertanyaan pada Amy. “Mengapa Allah menciptakan kita?”

Amy menjawab, “Ada dua alasan; untuk menyembah-Nya dan mencintai ciptaan- Nya.” Jawaban itu sangat tepat. Bagi Amy, itu meyakinkan bahwa imannya sejalan dengan Islam. Ia merasa semua semakin logis. “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Amy kemudian menelepon Saud, rekan dekatnya di kantor. Perempuan itu menangis saat berbicara di telepon. Saud meyakinkan. Tidak ada gunanya menunda keputusan untuk menjadi seorang Muslim.

Akhirnya, Amy memutuskan masuk Islam tepat pada 3 Mei 2015. Ia tak henti gemetar menjelang ikrar syahadat.

“Saya telah menemukan kebenaran. Seperti banyak mualaf yang mengalami kekosongan hidup, saya berusaha mencari makna. Menjadi seorang wanita Muslim di masa kontemporer adalah sumber sukacita dan kebahagiaan di tengah dekadensi yang merusak dunia,” aku Amy.

Kedamaian dan kebahagiaan luar biasa ia rasakan setiap kali sujud, saat dahinya menyentuh tanah. Perempuan itu kini sibuk menjadi dosen bahasa Inggris di Nizwa College of Technology, Oman.[] sumber: republika.co.id

Curhat Mualaf Soal Indahnya Sujud dalam Islam

Curhat Mualaf Soal Indahnya Sujud dalam Islam

JAKARTA — Tatkala berkeliling ke pelosok negeri itu, ia yakin telah menemukan tempat yang dia kehendaki. Tempat untuk mengembangkan diri, karier, dan kehidupan. Semua orang bersikap baik sejak pertama kali dia datang.

Seiring lekatnya interaksi hari demi hari, Amy mulai tertarik dengan budaya dan tradisi mereka. “Pada waktu itu juga, saya jatuh cinta dengan Oman dan orang-orangnya!  Saya kira, itu awal perjalanan saya memeluk Islam,” ungkap Amy.

Lantaran mayoritas warga Oman memeluk Islam, Amy tertarik mempelajari Islam. Ia mulai membaca Alquran yang dibawakan Nishat Furkunda, koleganya asal India. Amy bahkan bertanya pada beberapa rekan senegara soal Islam.
Tapi, kebanyakan menjawab dengan nada negatif.

Pada 2013 menjadi masa pencarian kehidupan spiritual perempuan tersebut.  Ia mengamati agama dan pengaruhnya terhadap perilaku siswa. Amy terkesan.  Anak-anak mengatakan, InsyaAllah, setiap kali dia menyuruh mereka mengerjakan sesuatu.

Pemisahan siswa laki-laki dan perempuan di kelas juga menarik perhatian Amy. Itu menjadi semacam “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Suzanne Plunk, Reuters islamicaxis.com antitesis atas apa yang ia perjuangkan sebagai kesetaraan jenis kelamin.

Ketika dia membaca Alquran dan buku-buku keislaman, Amy menemukan, baik Kristen maupun Islam berlandaskan pada ajaran cinta, kasih sayang, dan kebaikan. Hanya saja, perbedaan antara keduanya juga cukup memukul hati Amy.

Iman Kristiani yang menganggap Yesus sebagai anak Allah tidak cocok dengan Islam. Islam hanya menganggap Yesus atau Isa sebagai seorang Nabi yang membawa pesan Tuhan kepada kaumnya.

Amy memikirkan hal ini untuk waktu yang sangat lama. Dia bertanya pada diri sendiri, apakah dia bisa menerima gagasan ini. Ketika Amy membaca Alquran, disebutkan Isa Al Masih akan turun untuk kedua kalinya pada hari kiamat. Lalu, tanya Amy, di mana peran Nabi Muhammad saat itu? Benarkah Muhammad seorang nabi? Ia menjadi gelisah dan tidak yakin dengan informasi yang dia terima.

Suatu sore, seorang kenalan di Oman yang bekerja untuk Pusat Informasi Islam di Muskat menyerahkan publikasi tentang Nabi Muhammad. Membaca publikasi itu, semua menjadi jelas. Muhammad adalah utusan Allah. Dia membawa ajaran yang sama seperti ajaran Nabi-Nabi sebelumnya; tauhid.

“Jadi, saya pikir kalau saya percaya semua Nabi sejak Adam sampai Isa, mengapa saya tidak percaya pada Muhammad?”Sampai di sini, Amy belum bersyahadat.

Puncaknya, saat Amy menghadiri ceramah di Departemen Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Nizwa yang disponsori Islamic Information Center Masjid Agung Sultan Qaboos. Fatima Al Harrasi, seorang pembicara, melemparkan pertanyaan pada Amy. “Mengapa Allah menciptakan kita?”

Amy menjawab, “Ada dua alasan; untuk menyembah-Nya dan mencintai ciptaan- Nya.” Jawaban itu sangat tepat. Bagi Amy, itu meyakinkan bahwa imannya sejalan dengan Islam. Ia merasa semua semakin logis. “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Amy kemudian menelepon Saud, rekan dekatnya di kantor. Perempuan itu menangis saat berbicara di telepon. Saud meyakinkan.  Tidak ada gunanya menunda keputusan untuk menjadi seorang Muslim.

Akhirnya, Amy memutuskan masuk Islam tepat pada 3 Mei 2015. Ia tak henti gemetar menjelang ikrar syahadat.
“Saya telah menemukan kebenaran. Seperti banyak mualaf yang mengalami kekosongan hidup, saya berusaha mencari makna. Menjadi seorang wanita Muslim di masa kontemporer adalah sumber sukacita dan kebahagiaan di tengah dekadensi yang merusak dunia,” aku Amy.

Kedamaian dan kebahagiaan luar biasaa ia rasakan setiap kali sujud, saat dahinya menyentuh tanah. Perempuan itu kini sibuk menjadi dosen bahasa Inggris di Nizwa College of Technology, Oman. | sumber: republika.co.id

Mualaf Ini Sempat Percaya Islam Identik dengan Terorisme

Mualaf Ini Sempat Percaya Islam Identik dengan Terorisme

JAKARTA — Kisah perjalanan pemilik nama lengkap Amy Luz U Catalan menemukan hidayah Islam, berawal dari kegundahan dan kehampaan yang melanda dirinya. Kesuksesan karier dan gelar akademik yang disabet perempuan dari keluarga Katolik taat ini, tak membuat ruang hatinya terisi dengan penuh, bahkan ia selalu merasa ada yang hilang dari hidupnya.

Padahal, sejak kecil Amy, begitu kerap disapa, mendapatkan pendidikan agama dari sang ayah yang menjadi jemaat Lasallian, sebuah kelompok agama yang didirikan pendeta Prancis Jean Baptiste de La Salle. Ayahnya sampai ke Filipina dalam rangka menyebarkan misi pendidikan Lasallian.

Pendidikan formal pun ia tuntaskan di lembaga pendidikan Katolik. Demikian halnya dengan perguruan tinggi, dua gelar sarjana sekaligus ia tempuh di De La Salle University, Manila, yaitu jenjang strata satu dan doktoral.

Ketidakpuasan merayap dalam setiap jengkal hidupnya. Perasaan itu terakumulasi selama bertahun-tahun. Waktu itu, Amy merasa ada sesuatu yang hilang yang bahkan tidak bisa ditambal oleh penghargaan akademik atau hubungan asmara antaranak manusia. Ditambah lagi, kematian ayah tercinta pada 2011 mem perburuk rasa kehilangan dan kekosongan itu.

“Saya merasa hanya bekerja untuk bertahan hidup, bukan untuk menikmati hidup. Saya telah berharap terlalu banyak,” ungkapnya.Jauh di lubuk hati, Amy menghadapi krisis kerohanian. Ia berhenti ke gereja dan mendengarkan misa. Pada saat itu gereja Katolik tengah dilanda masalah internal.

Amy mulai mempertanyakan doktrin dan ajaran yang dia pelajari dari pendidikan Katolik. Para imam berkhotbah tentang keadilan dan cinta, sedangkan mereka sendiri melakukan pelanggaran paling mengerikan terhadap umat mereka.

Amy kecewa. Sederhana saja, orang yang mengaku paling memiliki otoritas keimanan pada Tuhan, bahkan menjadi perantara Tuhan, sudah melanggar prinsip-prinsip dasar keimanan. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Keluar dari Katolik, Amy mencoba belajar agama Buddha. Tapi, itu hanya sebuah pertemuan singkat lantaran doktrin itu tidak menarik bagi dia. Ajaran yang menurut Amy tidak jelas sama sekali. Ia bahkan lebih bingung tentang tujuan hidupnya. Tahun demi tahun terlewati.

Perjalanan Amy ke negara-negara lain untuk menyajikan makalah dan menghadiri konferensi internasional juga tidak banyak membantu. Amy masih merasa kosong. Hingga, datanglah kesempatan itu, saat Amy pergi ke Oman pada 2012. Ia tak pernah menyangka kedatangannya ke negara ini untuk pertama kali bisa menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya. Amy sebelumnya tidak tahu banyak tentang negara itu sampai dia diminta menjadi instruktur di Technical and Administrative Training Institute (TATI) Oman.

Keberadaannya di wilayah jazirah Arab ini pun murni untuk keperluan pendidikan. Amy sama sekali tidak berharap menjadi seorang Muslim. Muslim terlalu akrab dengan kata `terorisme’ dan `jihad’. | sumber: republika.co.id

Pamflet di Bus Membuat Warga Chicago Bersyahadat

Pamflet di Bus Membuat Warga Chicago Bersyahadat

CHICAGO — Seorang guru dari Chicago, Amerika Serikat Leslie C. Toole sebenarnya telah mempertimbangkan memeluk Islam selama 10  tahun terakhir. Tapi ketika dirinya melihat iklan sederhana di bus umum, ia tahu saat itu telah tiba.

“Aku tidak pernah benar-benar berkomitmen, namun ketika aku melihat tanda tersebut, aku tahu itu tanda akhir untuk menyelesaikan langkah saya,” ujarnya pada Onislam.net, Jumat (10/9).

Toole telah menemukan Islam ketika seorang pria menyerahkan pamphlet tentang cara menemukan pencerahan di dalam diri.

Berselang sebulan, tulisan tentang Islam tersampir di salah satu bus Chicago Transit Authority. “Bagaimana menjadi anggota Islam adalah pertanyaan utama saya,” kata dia.

Toole masuk Islam pada 29 September tahun lalu. Kisahnya mirip dengan 17 warga Chicago lainnya yang bersyahadat berkat melihat kampanye iklan Islam dari GainPeace.

Pamphlet tersebut adalah sebuah program Lingkaran Islam Amerika Utara (ICNA). Kelompok ini menghabiskan menempatkan pamphlet di 25 bus umum Chicago. | sumber: republika.co.id

Ingrid Mattson Belajar Islam dari Muslim Senegal

Ingrid Mattson Belajar Islam dari Muslim Senegal

CHICAGO —  Menjadi salah satu acara silaturahim terbesar di Amerika Utara, Islamic Society of North America (ISNA) membuka sesi berbagi cerita. Mereka yang harus menempuh pencarian untuk masuk Islam mendapatkan tempat untuk membagikan kisahnya, termasuk Ingrid Mattson.

“Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma dan saya sangat berterima kasih kepada komunitas tersebut,” kata Dr Ingrid Mattson, mantan Presiden ISNA menceritakan kisah pencariannya dikutip dari OnIslam, Selasa (8/9).

Menurutnya, saat ia masih menjadi seorang Katolik, para biarawati mengajarkannya tentang rasa keadilan sosial dan aktivitas sosial. Hanya saja ia memiliki ganjalan dengan gereja dan juga teologi Katolik.

Setelah itu, Mattson menceritakan bahwa awal perkenalannya dengan Islam saat ini bergaul dengan beberapa mahasiswa Senegal di Paris. Ini menjadi langkah awal yang membawanya masuk dalam pencarian Islam.

“Karena kontak ini saya mulai membaca Alquran dan mencari tahu tentang Islam,” ujar Mattson.

Mattson menceritakan, bahwa orang-orang Senegal merupakan contoh terbaik dari umat Islam. Baginya, karakter, kemurahan hati, inklusivitas mereka merupakan contoh yang sangat baik. Dan hal itu yang membuatnya tertantang untuk bisa seperti mereka. | sumber: republika.co.id

Foto Muslim Senegal.@ ilustrasi

Titiana: Mengapa Orang Hanya Berdoa di Depan Gambar (Habis)

Titiana: Mengapa Orang Hanya Berdoa di Depan Gambar (Habis)

JAKARTA —  Kesadaran beragama Titiana  tumbuh sangat perlahan, langkah demi langkah. Tidak ada paksaan. Setiap hari, Titiana belajar sesuatu yang baru. Ada fakta-fakta sederhana yang menarik dalam Islam.

Yang paling menarik, kata Titiana, dalam Islam tidak perlu ada perantara antara kita dan Allah SWT. Setiap Muslim dapat meminta langsung kepada Allah, tidak perlu me minta lewat Bapa Pendeta di gereja atau otoritas keagamaan semacam itu. Muslim bebas memanjatkan doa kepada-Nya, kapan pun.

Keyakinan itu bertambah kuat dari hari ke hari. Menurut Titiana, Allah telah membukakan hati, mata, dan telinganya.
Ia pun memutuskan untuk mengikrarkan syahadat. Memulai menempuh kehidupan baru. “Saya tidak akan lupa hari indah ini. Alhamdulillah,” ucap Titiana penuh syukur.

Kini, gadis itu tampak cantik dengan tampilan gamis dan jilbab lebar berwarna cerah yang selalu ia kenakan. Setelah berikrar syahadat, Titiana pun berganti nama menjadi Tasnim. Nama indah yang berarti air terjun atau mata air di surga.

Sekarang, Tasnim pindah ke Dubai dari Kirgistan. Ia telah tinggal di sana kira- kira sembilan bulan. Tantangan Hidayah datang, cobaan pun datang. Keislaman Titiana mendapat penolakan keras dari keluarga. Terutama, dari kedua orang tua dan nenek yang selalu mencintainya. Titiana pantang menyerah, meski beroleh protes dari keluarga. Ia belajar mendirikan shalat lima waktu.

Setahun yang lalu, gadis itu malah sudah mulai memakai jilbab. “Saya berdoa, ya Allah, jadikan hamba-Mu ini lebih kuat lagi, lebih kuat lagi,” tutur Titiana.

Titiana Gadis itu mengajar di sebuah universitas. Setiap hari, ia bertemu koleganya sesama dosen dan profesor. Ada lebih dari 2.500 orang di kampus. Setiap waktu, ada saja orang datang kepadanya dan bertanya alasan dia berjilbab.

Tidak semudah menjawab pertanyaan rekan kerja, persoalan hijab menjadi konflik besar di tengah keluarga. Mereka menggugat. Mengapa dia harus menutupi wajah? Mengapa dia mengenakan jilbab? Mengapa dia mengenakan pakaian yang berbeda?

Suatu kali, Titiana meminta saran ibunya ketika hendak berangkat ke universitas. “Warna jilbab apa yang cocok dikenakan dengan pakaianku hari ini?” Ibunya menjawab singkat, “Tidak ada. Kamu jauh lebih baik tanpa jilbab.” Ia hanya bisa diam dan bersabar.

Kesabaran Titiana membuahkan hasil. Selang sebulan kemudian, ibunya mulai memahami dan memberikan hadiah pada gadis itu. Ketika dibuka, ternyata sehelai jilbab berwarna hijau! Bagi Titiana, ini pertanda besar dari-Nya bahwa sang ibu mulai memahami pilihan si buah hatinya dalam berislam.

“Itu perubahan yang sangat serius bagi saya,” ungkap Titiana. | sumber: republika

Foto: ilustrasi mualaf

Titiana: Mengapa Orang Hanya Berdoa di Depan Gambar (1)

Titiana: Mengapa Orang Hanya Berdoa di Depan Gambar (1)

JAKARTA — Sejak kecil, pemilik nama asli Titiana ini terlahir dari keluarga besar Kristen Ortodok. Ia dibiasakan pergi ke Gereja Ortodoks Rusia oleh neneknya. Gadis itu juga aktif dalam paduan suara gereja. Ia biasa diundang untuk menyanyikan lagu-lagu Kristiani.

Titiana mengaku senang. Kendati, tak dimungkiri ada banyak pertanyaan mengendap di benaknya. Setiap kali pergi ke gereja, gadis itu tidak bisa mengerti mengapa orang-orang berdoa di depan gambar dan patung. Itu adalah konflik besar dalam hati dan jiwa Tasnim.

Sempat dalam beberapa kali kesempatan, gadis asal sebuah kota sekitar 60 kilometer dari Bishkek, ibu kota Kirgistan, ini bertanya kepada neneknya. “Mengapa orang hanya berdoa di depan gambar?” ungkap Tasnim, mengenang pertanyaannya semasa kecil. Tidak ada yang bisa memberinya jawaban yang benar. Sayangnya, ia juga masih terlalu kecil untuk bisa mengerti.

Ke mana pun berlari, ia terus-menerus terantuk pada pertanyaan masa kecilnya. Mengapa orang berdoa di hadapan gambar atau patung? Atas dasar ini, ia terus melanjutkan pencarian spiritualnya. Titiana ingin menemukan agama yang benar-benar memuaskan jiwa. Ia mencoba melihat berbagai agama yang berbeda.

Titiana mulai bersikap kritis ketika berusia sekitar 19 atau 20 tahun. Layaknya generasi muda era digital, ia menyusuri agama-agama yang berbeda di seluruh dunia lewat buku-buku, perpustakaan, dan internet. Gadis itu mengaku sempat tertarik pada agama Hindu dan Buddha. Meski, menurut dia, sebatas mengenali konsep agama itu.

Titiana juga mulai membaca Alkitab dengan lebih teliti. Pertanyaan-pertanyaan seputar eksistensi menggelitik gadis itu. Seperti, mengapa kita di sini? Mengapa Tuhan menciptakan manusia?
Apa yang kita lakukan di sini, di bumi ini? Bagaimana dengan bintang gemintang, alam semesta, dan segala sesuatu?

Gadis Kirgistan itu menelusuri ayat-ayat Perjanjian Lama di Alkitab. Namun, semua informasi yang muncul sangat berbeda ketika ia membaca Perjanjian Baru. Itu menimbulkan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban bagi Titiana. Tak ada pretensi apa pun, Titiana ha nya ingin mene mukan kebenaran.

Di tengah ke gelisahan itu, dia menemukan sebuah komunitas yang mendakwahkan Islam. Islam bukan agama yang asing bagi Titiana. Mayoritas penduduk negara republik di Asia Tengah ini memeluk Islam.
Pemeluk Gereja Ortodoks Rusia di wilayah yang pernah dikuasai Uni Soviet ini berada di urutan kedua.
Titiana mulai mendapatkan berbagai pengetahuan keislaman.

Mereka menjelaskan banyak hal tentang prinsip-prinsip Islam. Mereka juga mengajari wudhu dan shalat. Ia takjub mendengar hadis Nabi Muhammad tentang kehidupan. “Apa yang harus kita lakukan dan apa yang seharusnya tidak kita lakukan,” ucap Titiana. | sumber: republika

Foto ilustrasi mualaf

 

Kagumi Universalitas Hukum Islam, Pemuda Jadi Mualaf

Kagumi Universalitas Hukum Islam, Pemuda Jadi Mualaf

Islam merupakan agama dengan sistem hukum yang rasional. Perangkat hukum Islam mengatur tatanan di dunia dan seluruh isinya lewat penjelasan yang begitu logis.

Faktor itulah yang membuat Isa merasa kagum. Alhasil, dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf.

Sebelum memeluk Islam, Isa memiliki banyak pertanyaan tentang segala hal, termasuk hukum alam. Dia beranggapan semua yang ada di dunia mengikuti hukum tertentu yang membuatnya berjalan harmonis.

Semua hal di dunia serasa bergerak dalam satu keteraturan. Tetapi, dia menemukan perbedaan ketika melihat manusia.

“Manusia memiliki kemampuan untuk membuat pilihannya sendiri yang sering bersifat subjektif,” katanya.

Menurut Isa, demi menyenangkan dirinya, manusia membuat hukum yang cenderung subjektif, baik dalam hal sosial, ekonomi, moral, dan politik. Isa melihat hukum manusia di dunia ini hanya dari satu arah.

“Jadi yang menjadi pertanyaan saya, adakah seperangkat aturan dan bimbingan lain yang membuat saya punya pegangan kuat?” ujarnya.

Isa berharap hukum tersebut tidak subjektif dan bersifat universal serta menyerukan kebaikan untuk semuanya.

Dia kemudian memulai pencarian dengan mempelajari berbagai agama, termasuk Islam. Sebagai seorang non-Muslim, Isa sempat ragu Islam bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikirannya.

Tetapi ketika melihat dari dekat dan menganalisis Islam, Isa menyadari bahwa semua yang berkecamuk dalam dirinya seolah menemukan jawabannya.

Islam menunjukkan semuanya secara rasional dan sangat objektif tanpa melibatkan emosi, serta tidak memiliki pertentangan di dalamnya.

“Dengan jujur saya katakan Islam telah berhasil meyakinkan saya dan saya tidak akan melepasnya.”

Selain itu, Isa juga sangat mengagumi Alquran. Salah satu aspek yang paling menarik yang dipelajari Isa dari Alquran adalah kajian ilmiah yang maju yang ditulis 1.400 tahun yang lalu.

“Alquran telah memberikan wawasan terhadap hal-hal yang hanya kita ketahui dalam dua puluh tahun terakhir ini.” | sumber: dream.co.id

Foto Isa, Mualaf Yang Kagum Pada Universalitas Hukum Islam. @ onislam.net

Yahudi yang Nasionalis Amerika Itu Akhirnya Mencintai Alquran (2-habis)

Yahudi yang Nasionalis Amerika Itu Akhirnya Mencintai Alquran (2-habis)

WASHINGTON – Belum lagi terlaksana niatan itu, insiden 11 September 2001 telah pecah dan menggegerkan dunia. Semua orang memaparkan Islam dengan cara negatif. Sebagai komandan polisi, ia terus menerus menerima laporan mengenai ancaman Muslim terhadap rakyat Amerika. Orang-orang di sekitarnya menganggap Islam sebagai musuh.

Merasa malu, William pun menahan semua keingintahuannya tentang Islam. Meski, William tidak menutup mata seluruhnya. Ia hanya menunggu saat yang tepat.

Sampai akhirnya, pada akhir musim panas tahun 2004, dalam keinginan dan kondisi emosional yang tiba-tiba menguat, ia datang kepada Nasir untuk minta bimbingan.

Nasir menguraikan padanya tentang prinsip-prinsip ajaran Islam. Yang membuat William lebih terkesan lagi, dia mengungkapkan betapa penting Islam dalam hidupnya dan seberapa kuat keyakinannya. Menurut Nasir, Alquran tidak sekedar firman Tuhan yang harus dibaca, tetapi juga cara hidup.

Nasir dan saudaranya, Riyadh, kemudian memberi dia buku tentang Islam. Buku itu menjawab berbagai pertanyaan yang telah ia pendam. Dengan pengetahuan di tangan, Wiliam kembali mendekati Alquran.

Sekarang, ia menemukan betapa Alquran tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga masuk akal. Wiliam pikir dia hanya tidak siap mental sebelumnya. Atau, dia hanya membutuhkan input tambahan untuk memahami dan memproses informasi yang ada.

Singkat kata, Wiliam membaca dan membaca kembali setiap literatur keislaman yang telah dia miliki. Ia selalu memeriksa ulang fakta-fakta baru yang ia temukan. “Semakin banyak saya membaca, semakin saya terkagum-kagum,” kata William.

Ia menemukan, informasi yang tersedia dalam Alquran tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad SAW, meski dia seorang nabi. Bukan hanya tidak mungkin bagi seorang pria dengan latar belakang dan lokasi geografis seperti itu, tetapi juga tidak mungkin bagi siapapun dari periode itu untuk menyingkap berbagai rahasia alam yang ada dalam Alquran.

Menurut dia, Alquran tidak sekedar memuat informasi tentang abad-abad yang akan datang, tetapi juga sangat detail memaparkan rincian itu. Ada banyak misteri yang belum terungkap sampai abad ini, ternyata sudah diisyaratkan dalam Alquran.

Sampai di situ, William telah meyakini Muhammad sebagai Nabi. Allah telah menurunkan wahyu kepada Muhammad melalui perantaraan malaikat-Nya. Walau demikian, sampai titik itu ia masih menghadapi dilema.

William masih bingung apa yang harus dia lakukan. Segala sesuatu yang selama ini dia pernah percayai tiba-tiba terbalik seratus delapan puluh derajat. Ia bingung bagaimana penjelasan semua itu.

Malam itu juga, ia berdoa supaya mendapat bimbingan dan pemahaman. William hanya percaya pada satu Tuhan, tapi ia tidak tahu agama mana yang harus ia pegang keyakinannya.

Dan, memang itulah yang ia rasakan keesokan harinya. Semua tiba-tiba menjadi jelas. Wiliam sekarang mengerti, semua ritual yang telah dia praktikkan sebelum ini hanyalah ibadah bikinan manusia. Prinsip-prinsip agamanya telah terdistorsi selama ribuan tahun. Ia merasa gembira dan damai. Pagi itu juga, ia berniat mengucapkan syahadat.

“Saya mengatakan pada Nasir dan dia membawa saya ke sebuah masjid di dekat rumahnya untuk shalat Jumat. Kebetulan waktu itu tepat hari Jumat. Di masjid, saya dibimbing untuk maju ke depan oleh Nasir. Saya mengisahkan alasan kedatangan saya datang ke sana pada jamaah,” tutur Wiliam.

Nasir dan Imam masjid kemudian membantu dia mengulangi pengakuan syahadat dalam bahasa Arab.

Setiap kali William ingat momen itu, satu perasaan damai menyergap. “Walaupun saya masih belajar dalam tahap sangat awal, saya senang dan yakin telah membuat keputusan yang tepat,” ungkap William tegas.| sumber: Republika.co

Foto Muslim dan Yahudi.@manaz.net