Tag: mtq nagan raya

Bupati Sarjani Berikan Bonus ONH untuk Juara Satu MTQ Asal Pidie

Bupati Sarjani Berikan Bonus ONH untuk Juara Satu MTQ Asal Pidie

SIGLI – Bupati Sarjani Abdullah menyambut kontingen Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Pidie yang beberapa waktu lalu kembali dari Nagan Raya di Pendopo, Kamis, 3 September 2015. Kafilah Pidie berhasil meraih peringkat ke lima di MTQ ke 32 tingkat Aceh tersebut.

Bupati Pidie Sarjani Abdullah dalam sambutannya mengatakan hasil yang dibawa pulang lebih baik dari sebelumnya dan terus meningkat. Dia mengatakan pada MTQ ke-30, Pidie menduduki peringkat sembilan. Sementara pada MTQ ke 31 di Subulussalam, Pidie berada pada peringkat ke tujuh.

“Kita berharap pada MTQ yang akan datang Pidie dapat meraih gelar juara umum. Belajarlah dengan tekun dan tingkatkan kemampuan agar nama Pidie harum bersama kalian anak-anak kami,” ujar Sarjani di hadapan para kafilah.

Bupati Sarjani turut menyerahkan ONH ditambah uang pembinaan sebesar Rp 5 juta untuk mereka yang berhasil meraih juara satu di MTQ ke 32 tersebut. Adapun kafilah yang berhasil meraih juara satu adalah Nurul Fajri hafiz 30 juz putri, Nabilatul Adawiyah hafiz 10 juz putri, dan Farhataniah hafiz 10 juz tambah tilawah putri.

“Tahun 2015 ini, 3 orang kafilah yang kita berikan ONH. Saya harap untuk MTQ ke 33 tahun 2017 nanti bonus ONH yang akan diserahkan dapat kepada seluruh cabang yang kita ikuti,” katanya.

Selain itu Bupati Sarjani mengatakan untuk meningkatkan dan melahirkan kader-kader terbaik, Pidie merencanakan akan segera mendirikan Laborotarium MTQ. Pidie juga akan membentuk himpunan qari dan qariah, dan terus melakukan pengembangan Madrasah Ulumul Quran Pidie.

Untuk itu dia meminta TAPD dan Tim Anggaran DPRK untuk menyiapkan anggaran tahun 2016 secara khusus untuk persiapan MTQ ke 33 yang akan berlangsung pada 2017 nanti.

“Kita akan terus mengembangkan MUQ Kabupaten Pidie. Tahun ini, 12 orang peserta dari 14 peserta yang masuk final merupakan santri MUQ. Ini bukti MUQ Pidie konsisten melahirkan qari dan qariah terbaik, dari tahun ke tahun Kabupaten Pidie di perhelatan MTQ selalu dapat memperbaiki peringkat, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk MTQ tahun 2017 Kabupaten Pidie akan meraih juara umum,” katanya.[](bna)

Kaligrafi Mengantarkan Ikmal Jadi PNS

Kaligrafi Mengantarkan Ikmal Jadi PNS

NAGAN RAYA – “Ketika Allah berkehendak tidak ada manusia yang mampu menghalanginya. Langkah, rezeki, petemun dan maut sudah ditentukan-Nya”. Ikmal, yang terombang-ambing akibat konflik, bahkan kebun kopi sebagai harapanya diterlantarkan. Namun dia sama sekali tidak menduga akhirnya bakal menjadi PNS.

Dikutip dari siaran pers dikirim Humas Pemkab Aceh Tengah kepada portalsatu.com, Jumat, 28 Agustus 2015, saat ditemui di Blang Teungoh, penginapan kafilah Aceh Tengah pada MTQ ke-32 tingkat Aceh di Nagan Raya, Ikmal, guru MTsN 1 Takengon, ini bagaikan mengulang kisah masa lalunya yang pahit. “Konflik Aceh telah menghancurkan sumber kehidupannya, namun Allah memberikan jalan yang lain”.

Saat masih pengantin baru, dia mencoba peruntungan dengan membuka lahan perkebunan di Tanoh Depet, Celala. Namun konflik Aceh yang meledak dan adanya insiden di Pasantren Bantaqiyah, membuat dia meninggalkan Tanoh Depet. Kebun itu tak lagi terawat sempurna.

 Kemudian dibuka lagi lahan di Datar, itu juga terpaksa dia tinggalkan. Semuanya diikhlaskan Ikmal, hilang dari bagian hidupnya. Lelaki alumnus Gajah Putih jurusan Bahasa Arab (2006) ini ternyata memiliki keahlian dalam lukisan kaligrafi.

Setahun setelah lulus dari STAI Gajah Putih, dia diangkat menjadi guru. Tetapi ijazah yang dipergunakanya bukan S1, melainkan MAN. Ikmal menjadi guru MIN Gunung Bukit. Barulah kemudian dengan proses panjang dia menyesuaikan ijazahnya dan kini menjadi guru Bahasa Arab di MTsN 1 Takengon.

Sebelum menikah dan membuka kebun di Tanoh Depet, dia sudah mengikuti perlombaan kaligrafi. Pada tahun 1998 Ikmal meriah juara pertama di Bintang. Saat itu dia baru tamat MAN 2 Takengon, namun karena keahliannya dia dipercayakan honor di MAN 2 mengajar muatan lokal kaligrafi dan diakui pusat.

Disanalah dia memulai kuliah. Dengan keadaan apa adanya, semua dilaluinya dengan tabah. Suka duka semuanya diimaninya sebagai pembesar diri untuk hidup. Ikmal terus mengasah diri mendalami ilmu kaligrafi.

Ketika itu, Kepala MAN 2 Takengon dijabat Amrun Saleh, yang kini menjadi Kemenag Aceh Tengah. Amrun mendukung Ikmal sebagai tenaga honor dan memberikan sugesti. Akhirnya di Nagan mereka bertemu, Ikmal sebagai pelatih kaligrafi dan Amrun sebagai pimpinan kontingen bersama Alam Syuhada.

Ternyata ketabahan Ikmal juga diikuti Hilaili Fitri, guru Bahasa Jepang dan Inggris di MAN 2 Takengon. Saat Aman dan Inen Manyak keduanya hidup dalam serba kekurangan dan nekat membuka kebun di Tanoh Depet.

Namun konflik Aceh membuat mereka bagaikan hilang sumber pengihupan dan harus meninggalkanya. Kini Ikmal dikarunia dua buah hati, Faradillah (SMA Porta) dan Nazwa Kalila yang masih duduk dibangku TK.

Namun ada juga hikmahnya, Ikmal pernah menjadi musisi pascatsunami Aceh dalam klip tsunami berpusat di Nandu Tamil. Ikmal saat itu menunjukkan kebolehan dalam” mengguel “ suling.

“Ternyata Allah menyiapkan sebuah kejutan”. Dua-duanya menjadi pegawai negeri sipil/PNS. Ikmal berhasil menjadi pegawai negeri karena kemampuannya dikaligrafi. Sejumlah pengalaman sudah dilaluinya, sejak 1998 berturut-turut menjadi peserta MTQ hingga ke MTQ di Tamiang, baru dinobatkan sebagai pelatih kaligrafi hingga sekarang.

Kini Ikmal merasakan ada kekuatan luar biasa yang diberi Allah melalui goresan tangannya di atas kanvas. Ukiran kaligrafi yang keluar dari hatinya, telah membuatnya jadi PNS.

Alhamdulilah, ternyata Allah sudah menyiapkan hal yang tidak pernah kita pikirkan,” sebut Aman Fara, penduduk Kala Kebayakan ini.[]

Foto Ikmal.

Ternyata Ada Polisi Gayo yang Menjadi Peserta MTQ di Nagan

Ternyata Ada Polisi Gayo yang Menjadi Peserta MTQ di Nagan

NAGAN RAYA – Aman Manyak (pengantin baru) ini meninggalkan istri dan tugasnya di Mapolres Aceh Tengah demi mengikuti MTQ ke-32 tingkat Provinsi Aceh di Nagan Raya. Lebih sepekan dia meninggalkan “kebiasaan” rutinnya. Sampai di Nagan, kuas, kanvas, dan huruf Arabiah yang menjadi temanya.

Namanya, Brigadir Zidni Amar Haq. Dia membela Aceh Tengah dalam cabang kaligrafi kontemporer putra. Anak keempat pasangan almarhum Hattadin dan Zurani, dari Bies Arul Latong, Aceh Tengah, ini merupakan pelukis kaligrafi . Dia meraih juara pertama saat dilangsungkan MTQ se-Kabupaten Aceh Tengah di Celala.

Itu sebabnya, Brigadir Zidni diboyong ke Nagan Raya. Saat di Nagan, dia meninggalkan atributnya sebagai polisi. Dia sama dengan peserta lainnya, menekuni bidangnya masing-masing. “Asam” dan “garam” yang sudah dirasakanya, belum membuat Zidni beruntung, beberapa kabupaten lain ternyata lebih tangguh dalam bidang kaligrafi putra.

Melalui siaran pers dikirim Humas Pemkab Aceh Tengah kepada portalsatu.com, Jumat, 28 Agustus 2015, malam, Zidni mengakui bidang kaligrafi sudah merasuk dalam darahnya. Anak almarhum mantan kepala SD 2 Pasing ini dan Zurani, guru SD 3 Bies, ini sudah menggemari kaligrafi sebelum masuk polisi. Sejak duduk di bangku MAN, dia sudah diperkenal Ikmal, tentang kaligrafi.

Pertama dia meraih juara di Angkup untuk klasifikasi hiasan mushaf. Kemudian ketika dilangsungkan MTQ di Langsa, dia mewakili Bener Meriah. Dunia kaligrafi tidak bisa dihilangkan dari jiwanya. Kembali dia mengikuti kompetisi kaligrafi tingkat kabupaten.

Untuk level kabupaten, suami dari Ayu Konella Melala, tetap menjadi juara pertama. Bahkan di Celala, dia mengikuti klasifikasi kontemporer, dan berhak mewakili Aceh Tengah ke Nagan Raya.

Anak didik Alwi Umar, Ikmal dan Hirman, ini menjadi polisi pada tahun 2006. Beragam tugas sudah dijalaninya di Satuan Reskrim (PPAT, Tipiter) dan kini di bagian Satuan Binmas. Menurut Zidni, ada seorang polisi lainnya yang juga ahli kaligrafi, yakni Brigadir Rijal di Pos Polisi Bies.

Mengikuti event provinsi, menurut Zidni, selain menambah pengalaman, juga harus benar-benar mempersiapkan diri. “Walau kita sudah berlatih dan siap, ternyata pihak lain juga melakukan hal yang serupa, bahkan mereka belajar ke luar daerah untuk kemudian diterjunkan ke MTQ Nagan,” sebutnya.

Pengalaman Zidni, menjadi catatan untuk pihak penyelenggara MTQ Aceh Tengah. Sebelum bertanding di arena, tidak ada salahnya mereka dikirim ke luar daerah untuk menimba ilmu dan pembinaan secara kontinu.[]

Foto Brigadir Zidni Amar Haq. @Ist

Aceh Tengah Raih 4 Tropi, Bener Meriah 1 di MTQ ke-32

Aceh Tengah Raih 4 Tropi, Bener Meriah 1 di MTQ ke-32

NAGAN RAYA – Kafilah Aceh Tengah mendapatkan empat tropi hasil MTQ ke-32 tingkat Provinsi Aceh di Nagan Raya. Ermi Daini, ahli kaligrafi komtemporer meraih juara dua, setelah kalah poin sangat tipis.

Sementara Yasarah dan Dian Fitri, meraih juara 3. Yasarah yang memiliki suara merdu harus puas di peringkat ketiga walau sebelumnya diperhitungkan menduduki peringkat kedua dalam tilawah remaja putrid. Namun Yasarah juga kalah tipis dengan qariah dari Sabang yang menduduki peringkat kedua.

Dian Fitri yang mengikuti cabang kaligrafi naskah/ mushaf, meraih tropi juara tiga. “Kita sudah berusaha maksimal dan kemampuan Aceh Tengah sudah baik dalam kualitas, sesuai dengan penilaian tim dewan juri,” ujar Alam Syuhada, Ketua Kafilah Aceh Tengah sebagaimana dikutip dari siaran pers diterima portalsatu.com, Jumat, 28 Agustus 2015, malam.

Sementara itu peraih tropi lainya dalam tim beregu Syarhil Quran. Tiga putri Aceh Tengah, Raidani, Rika Wulan Dari dan Widadianti Munthe, meraih juara harapan tiga. Anak didik Zulfan, Azharia dan Tgk. Ramli ini, bisa menjadi obat untuk Syarhil, karena masuk dalam enam besar.

Sedangkan Bener Meriah, hanya meloloskan satu putri andalannya dalam cabang MMQ. Rastina Arianti, meraih juara dua. Munculnya Rastina merupakan penawar sejuk bagi kabupaten “adiknya” Aceh Tengah ini, karena hanya dia satu-satunya dari Bener Meriah yang mampu meraih tropi.

Ridwan Qari, Kepala Kemenag Bener Meriah, jauh-jauh hari dalam rapat sudah mengingatkan agar kabupaten ini mengirim manusia berkualitas yang siap tanding. Berbagai upaya untuk menyiapkan itu dibutuhkan, seperti mengirim peserta untuk latihan ke luar daerah agar ketika dibawa ke Nagan sudah benar-benar siap.

“Saya sudah usulkan agar Bener Meriah jangan ‘menolak mobil yang mogok’, namun mempersiapkan diri untuk event ini. Tapi upaya untuk mempersiapkan diri nampaknya belum maksimal,” kata Ridwan Qari.[]

‘Qari-Qariah Harus Diangkat Jadi PNS’

‘Qari-Qariah Harus Diangkat Jadi PNS’

NAGAN RAYA – Pemerintah Aceh dan kabupaten kota diminta untuk memberi perhatian khusus terhadap qari-qariah penghafal Alquran di Aceh. Perhatian tersebut diberikan pemerintah dengan cara menjadikan mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup pemerintahan setempat.

Hal tersebut menjadi rekomendasi Rapat Kerja Daerah Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (Rakerda LPTQ) Aceh yang berlangsung, Senin-Selasa, 24-25 Agustus 2015, di aula Taman Teuku Zulkarnaini, ibu kota Suka Makmue, Nagan Raya.

“Bagi qari dan qariah berprestasi, kita harap pemerintah memberi pekerjaan sebagai PNS di daerahnya masing-masing,” kata Hasanuddin MH, dalam Rakerda LPTQ Aceh di Suka Makmue, Nagan Raya, Selasa 25 agustus 2015.

Katanya, sebelum memberi lapangan pekerjaan, penghafal firman Allah yang sedang menempuh pendidikan ini juga direkomendasikan agar pemerintah secara prioritas memberi mereka beasiswa, baik dari pemerintah Aceh maupun kabupaten kota agar mereka mandiri dan menjadi motivasi bagi generasi lain serta masyarakat sebagai insan cinta kitabullah.

Sebelumnya, Bupati Nagan Raya, Teuku Zulkarnaini juga mengharapkan lahir sekolah hafalan Alquran dan berbagai cabang yang dilombakan pada MTQ. Tujuannya, untuk mengkaji kandungan alquran sebagai pedoman hidup dalam masyarakat. Selain itu, sekolah Alquran juga dibutuhkan agar generasi qari/ah Aceh mampu bersaing dilevel nasional dan internasional.

Sementara itui, Kepala Syariat Islam Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas MA berjanji akan menjalankan hasil rekomendasi Rakerda Aceh 2015 ini. Syarizal berharap dukungan DPR Aceh dan pemangku kepentingan lain agar bersirnergis bekerjasama membantu mewujudkannya tujuan tersebut.

Dia menjelaskan, sebagian rekomendasi Rakerda LPTQ Aceh di Subussalam, telah terlaksana dengan baik, meskipun sebagian lainnya masih jalan ditempat. Dia mengaku, pihaknya sedang merampungkan data-base qari/ah Aceh untuk dipublikasi melalui website dengan tujuan untuk melahirkan buku terkait sejarah MTQ dan buku pedoman MTQ Aceh jangka panjang.

“Kita juga menggenjot qanun. Namun minimalnya, peraturan gubernur Aceh,” ujarnya. [] (mal)

Minat Baca Alquran Generasi Aceh Rendah

Minat Baca Alquran Generasi Aceh Rendah

NAGAN RAYA – Anggota pengawas MTQ Aceh, Drs. H. Azhari Basyar, mengajak seluruh generasi muda untuk menggalakkan membaca Alquran dan mengamalkan isi kandungannya.

Ia juga meminta agar setiap orang tua dapat mengawasi anak-anaknya untuk terus menerapkan ilmu-ilmu agama untuk bekal kepada anak. Tujuannya, agar ketika anak dewasa dapat menjadi insan qurani.

azhari

Azhari mengaku generasi Aceh dewasa ini telah kehilangan salah satu warisan ‘indatu’ sebagai insan yang gemar membaca Alquran.

“Ini tidak dapat kita pungkiri. Kalau zaman dulu, setiap magrib paling tidak selalu kita dengarkan lantunan kalam Allah disetiap rumah-rumah warga. Tapi zaman modern ini banyak malah generasi atjeh yang tidak tau membaca Alquran,” kata H. Azhari saat ditemui portalsatu.com di arena MTQ Aceh ke-32 di Nagan Raya.

Ia juga mengajak agar setiap orang tua untuk menggalakkan pembacaan ayat suci Alquran kepada anak sejak dini.

Event-event MTQ, menurutnya, salah satu cara membangkit semangat dan minat anak untuk gemar membaca Alquran.

“Ajak anak-anak ke MTQ secara rutin. Agar minat dia tumbuh dan gemar untuk membaca Alquran,” ujarnya.

Ia juga menilai penyelenggaraan MTQ Aceh yang diselenggarakan di Nagan Raya dinilai sukses. Baik dari segi infrastruktur maupun kuota pengunjungnya.

“Kalau kekurangan ada beberapa laporan seperti tempat penginapan kofilah, jarak transportasi dan beberapa hal lain yang memang perlu kita benahi. Namun ini tidak menjadi kendala. Ini menjadi koreksi kita kedepan,” katanya.

Untuk panitia penyelenggara MTQ ke-33 mendatang, H. Azhari berpesan agar panitia yang menjadi tuan rumah dapat mempersiapkan diri lebih matang guna menyukseskan penyelenggaraan MTQ yang lebih sempurna.

Nagan Raya Raih Juara Stan Terbaik di MTQ ke 32 Aceh

Nagan Raya Raih Juara Stan Terbaik di MTQ ke 32 Aceh

NAGAN RAYA – Tuan rumah Nagan Raya berhasil keluar sebagai juara terbaik satu dalam stan terbaik dalam MTQ ke 32 Aceh. Nagan raya berhasil meraih nilai 806,86.

Sementara terbaik dua disusul oleh Aceh Jaya dengan perolehan nilai 344,99 dan posisi ketiga direbut oleh Kota Lhokseumawe dengan perolehan nilai 743,47.

Sedangkan harapan terbaik satu direbut oleh Aceh Barat dengan perolehan nilai 715,91. Posisi harapan dua berhasil diraih oleh Aceh Singkil dengan perolehan nilai 710,18 serta posisi ketiga jatuh kepada Aceh Selatan dengan perolehan nilai 708,04.

Pemenang ini diputuskan dengan nomor penetapan 451.15/001/tj/2015 tentang penetapan peserta terbaik pameran islami stan di MTQ ke-32. [] (mal)

Langsa Optimis Raih Juara Pertama Cabang Khat Kontemporer

Langsa Optimis Raih Juara Pertama Cabang Khat Kontemporer

SUKA MAKMUE – Dua kafilah asal Langsa dinilai mampu meraih juara satu di final cabang khat kontemporer putra-putri MTQ ke 32 tingkat Aceh yang dilaksanakan di Nagan Raya, Rabu, 26 Agustus 2015. Kedua kafilah tersebut adalah Munadianuur Husni dan Nisfah Juwita.

“Kita sangat yakin sekali dua orang ini sangat berpeluang memperoleh juara satu pada cabang khat kontemporer (kaligrafi) karena hasil kedua karya mereka benar-benar memukau perhatian dewan hakim dan seluruh pengunjung,” ujar Ketua Kafilah Kota Langsa, Tgk. H. Kamarullah, S.Ag.

Dia mengatakan hasil penilaian juri memang baru akan diumumkan nanti malam. Namun menurutnya penampilan dua kafilah tersebut mampu memukau dewan juri saat babak final yang berlangsung di Gedung SKB Nagan Raya pada Selasa, 25 Agustus 2015 kemarin.

Kamarullah mengatakan kafilah Langsa lainnya yang berhasil masuk final adalah Nur Balqis dari cabang Tafsir Bahasa Indonesia putri dan Fhadil Ramadhan dari cabang Hafidz Quran 30 Juz putra.

“Insya Allah, kedua cabang ini bila kita lihat penampilannya pada babak final sangat berpeluang sekali memperoleh juara satu atau dua,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Abon ini juga mengatakan kafilah asal Langsa berhasil menyabet juara pertama di cabang Fahmil Quran putra. “Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang diselenggarakan di Subulusalam, (penampilan) Kafilah Kota Langsa sangat memuaskan sekali karena mengalami peningkatan perolehan juara pada 12 cabang,” katanya.[](bna)

Foto: Kafilah Kota Langsa Cabang Khat Kontemporer (kaligrafi) putra, Munadiannur Husni. @Dok

Dian Fitri, Anak Petani Kopi di MTQ Nagan

Dian Fitri, Anak Petani Kopi di MTQ Nagan

SUKA MAKMUE – Dia pernah menguji kemampuannya dalam menggores kuas di Sukabumi dan Banten. Karya-karya kaligrafinya dalam kelas naskah/mushaf, kini benar-benar diharapkan mampu membawa harum nama Aceh Tengah. Namanya Dian Fitri.

Remaja asal Gegarang, Kecamatan Jagong Aceh Tengah, tersebut berhasil masuk final MTQ ke 32 tingkat Aceh yang berlangsung di Nagan Raya.

“Saya pernah mengikuti perlombaan kaligrafi di Banten dan Sukabumi. Ilmu yang saya dapat di sana akan saya praktekkan di sini demi Aceh Tengah. Tolong doakan saya,” kata Dian Fitri ketika ditemui di Blang Teugoh, Nagan Raya tempat kafilah Aceh Tengah menginap.

Sebenarnya putri pasangan Sudadi dan Suprapti ini pernah kesulitan mendalami ilmu agama. Pasalnya dia kerap kerasukan saat belajar di MAS Al Muslimun, Lhoksukon. Beberapa orang memintanya berhenti melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut dan kembali ke Gegarang.

“Ada yang mengajak saya pulang, bahkan orangnya banyak,” kata Dian.

Anak pertama dari empat bersaudara tersebut akhirnya kembali ke Gegarang setelah sebulan mencoba bertahan di Lhoksukon. Dia tidak ingin melanjutkan pendidikan. Namun sang ayah yang mengandalkan hidup dari kopi, bersikeras agar anaknya menimba ilmu agama dan harus bisa melawan tantangan hidup.

Setelah menjalani terapi, akhirnya putri kelahiran 16 Februari 1995 ini mampu menyelesaikan sekolahnya. Dia lantas melanjutkan pendidikannya ke STKIP Suluh Bangsa di Suka Bumi jurusan Tarbiyah Bimbingan Konseling (BK).

Dian menjadi pioner bagi warga Jagong, khususnya Gegarang. Berkat kegigihanya menuntut ilmu di Dayah Al Muslimun ini, sekarang anak-anak Gegarang dan Jagong mulai mengikuti jejaknya. “Kini dari sana sudah ada satu mobil anak-anak yang bersekolah di MAS Muslimun Lhoksukon,” kata Dian.

Saat sedang menimba ilmu di Sukabumi, Dian diminta kembali untuk membela daerahnya. Sebagai putri dari negeri dingin Gayo Lut, Dian siap dan menunjukkan kemampuannya di Nagan Raya. Kegemaran akan kaligrafi sudah ditekuni oleh Dian Fitri sejak kelas 3 MTsN.

“Mereka sudah berusaha maksimal. Ada nilai plus dalam MTQ kali ini. Rata-rata kontingen Aceh Tengah bertengger diantara 4 sampai 10 besar, walau hanya tiga ke final. Namun yang semi final belum diketahui apakah masuk juara harapan,” kata Kepala Kemenag Aceh Tengah, Amrun Saleh.[](bna)

Dewan Juri  MTQ: Kafilah Aceh Tengah Semakin Baik

Dewan Juri MTQ: Kafilah Aceh Tengah Semakin Baik

NAGAN RAYA – Penampilan kafilah Aceh Tengah di MTQ ke 32 dinilai lebih baik dari sebelumnya. Hal ini diungkapkan salah seorang dewan juri MTQ.

“Peserta MTQ dari Aceh Tengah  sudah menunjukkan perbaikan kualitas, bila dibandingkan dengan even MTQ sebelumnya,” kata Teungku Saleh Syamaun, salah seorang dewan juri tilawah MTQ di Nagan Raya, Rabu  26 Agustus 2015.

Aceh Tengah, katanya, sudah melahirkan manusia berkualitas pada MTQ ini, tidak langsung berguguran pada babak pertama. Namun, memberikan persaingan yang ketat dengan kontingen lain.

“Rata-rata Aceh Tengah masuk nominasi, berkisar antara 4 sampai 8 besar dan ada 3 yang masuk final,” ujar Saleh.

Adanya peraturan baru yang diterapkan pemerintah Aceh dalam MTQ, membuat qari dan qariah  terbaik bermunculan dari berbagai daerah.

“Sudah ada pemerataan tidak lagi didominasi kabupaten tertentu,” ucapnya.

Peraturan baru untuk MTQ, dimana putra daerah asal harus membela daerahnya. Keputusan ini membuat kabupaten yang selama ini unggul dalam menarik qari dan qariah untuk membawa bendera mereka, pada MTQ kali ini tidak lagi bisa melakukan hal itu.

Misalnya, ada putra dan putri Aceh Tengah, memiliki prestasi namun tinggal di kabupaten lain, karena menuntut ilmu atau aktifitas lainya. Tidak boleh kabupaten tersebut menariknya untuk menjadi bagian dari mereka, dengan merubah KTP atau identitas lainnya demi menjadi peserta MTQ.

Adanya sistim ini, membuat setiap daerah bermunculan putra dan putri terbaiknya. Dan ini sangat bagus untuk pemerataan. Akhirnya pemimpin  memberikan motivasi. Ada kabupaten yang menjanjikan bonus Rp 30 juta bagi putra terbaik.

“Dan yang mendapatkan bonus juga bukan lagi orang luar yang akan kembali ke daerahnya usai dilaksanakan MTQ. Di lain sisi penilaian dewan juri sudah lebih bagus. Tidak lama usai perlombaan langsung dapat dilihat nilainya, walau belum mempergunakan informasi melalui tehnologi,” kata mantan Kadis Syariat Islam Aceh Tengah ini.

“Bila Aceh Tengah terus dibina dengan baik dan kontinu, akan bermunculan putra dan putri terbaik di negeri ini yang dapat berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi lagi. Untuk MTQ di Nagan, Aceh Tengah sudah menunjukan kualitas tidak berada di level bawah,” katanya. [] (mal)