Tag: meurhom daya

Foto: Adat Seumuleung di Nanggroe Daya

Foto: Adat Seumuleung di Nanggroe Daya

BANDA ACEH – Sejumlah raja di Aceh hari ini berkumpul di tradisi Seumeulung, penabalan raja Meureuhom Daya, di Aceh Jaya, Sabtu, 26 September 2015. Raja-raja yang hadir di antaranya Raja Teunom, Raja Rigah, dan Kuala Batee serta pewaris Sultan Mahmudsyah dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Selain para raja, turut serta anggota Majelis Zikrullah pimpinan Ustadz Samunzir ke lokasi, tim Peusaba, Aceh Lamuri Foundation, dan SILA. Hadir juga dalam kegiatan ini Teungku Abdurrahman Kaoy dari Majelis Adat Aceh dan sejumlah tamu lainnya.[] (Baca: Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15)

raja daya
@Dok ALIF
seumuleung1
@Dok ALIF
seumuleung3
@Dok ALIF
Raja Daya Ke 13 Harapkan Orang Aceh Tidak Kehilangan Jati Diri

Raja Daya Ke 13 Harapkan Orang Aceh Tidak Kehilangan Jati Diri

BANDA ACEH – Pewaris Raja Daya ke 13, Tuanku Raja Saifullah Alaiddin Riayat Syah, mengatakan 80 persen rakyat Aceh merindukan tegaknya kembali hukum Islam dan hukum adat di daerah ini.

“Saya juga berharap seperti itu. Orang Aceh tidak kehilangan jati dirinya,” kata Tuanku Raja Saifullah kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Sabtu, 26 September 2015.

Dia mengatakan kondisi orang Aceh sekarang sedang kehilangan identitasnya. “Ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa lalu dimana hukum itu teratur, yang hak mendapatkan haknya,” katanya.

Di sisi lain, Tuanku Raja Saifullah, juga mengatakan saat ini pewaris raja-raja di Aceh luput dari perhatian pemerintah. “Berbeda dengan Jogja ataupun Solo. Terutama kurangnya perhatian dari Pemerintah Aceh yang seharusnya memperjuangkan hal ini melalui qanun-qanun. Kemudian juga luput dari perhatian Pemerintah Pusat. Ibaratnya kita mencangkul lebih dahulu baru orang menjalankan traktor,” ujarnya.[]

Nasib Pewaris Raja Daya Jauh Berbeda dengan Sultan Jogja

Nasib Pewaris Raja Daya Jauh Berbeda dengan Sultan Jogja

DIA adalah pewaris tahta Raja Daya Sultan Alaidin Riayat Syah Meurhom Daya. Namanya Tuanku Raja Saifullah Alalidin Riayat Syah. Hari ini, Tuanku Raja Saifullah baru saja ditabalkan menjadi Raja Daya penjaga marwah bangsa melalui prosesi adat Seumulueng di Makam Po Teumeurhom, Aceh Jaya, Sabtu, 26 September 2015.

Meskipun sebagai pewaris raja, nasib Tuanku Raja Saifullah jauh berbeda dengan sultan-sultan di Jogjakarta atau Solo. Kesehariannya Tuanku Raja Saifullah berprofesi sebagai penarik becak yang sudah dilakoninya sejak lama.

“Saya hanya masyarakat biasa, bukan pegawai negeri. Terkadang mencari rezeki apa yang bisa dilakukan, bahkan menjadi penarik becak. Tidak ada pekerjaan yang tetap dan juga kekurangan modal usaha,” ujar Tuanku Raja Saifullah kepada portalsatu.com.

Sebagai keturunan bangsawan di Aceh, kehidupan Tuanku Raja Saifullah belum mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan dia mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya.

“Anak-anak tahu (mereka keturunan raja) karena sering mengikuti prosesi adat. Anak atau istri tidak pernah menuntut, bahkan mereka malu disebut sebagai keturunan raja,” katanya.

Tuanku Raja Saifullah memiliki tiga orang anak. Anak tertuanya, Tuanku Raja Riski Rahmadana kini telah duduk di kelas 3 SMP. Sementara anak keduanya, Pocut Anggi Ariska sedang menempuh pendidikan di kelas 5 SD, dan anak bungsunya Teuku Raja Sultan Ar Rafah masih berusia 3,5 tahun.

Dia mengatakan menjadi pewaris Raja Daya merupakan takdir bagi kehidupannya.

“Ini mengikuti amanah dari moyang kita, bertekad menjaga warisan nanggroe dan sebagai penjaga bani Alaidin tertua di Puncak Glee Kandang, Lamno, Kuala Daya, Aceh Jaya Negeri Meurhom Daya,” ujar pria kelahiran 29 Desember 1971 tersebut.[]

Foto: Tuanku Raja Saifullah Alaiddin Riayat Syah (baju kuning) adalah pewaris ke 13 Kerajaan Daya. @Dok acehraya.co.id

Ini Kata Pewaris Raja Daya Soal Adat Seumuleung

Ini Kata Pewaris Raja Daya Soal Adat Seumuleung

BANDA ACEH – Keturunan Sultan Alaidin Riayat Syah Meurhom Daya ke 13, Tuanku Raja Saifullah Alaiddin Riayat Syah, mengatakan prosesi Seumulueng diadakan setiap tahun di Hari Raya Idul Adha. Prosesi Seumulueng ini berarti suap yang bermakna dilakukan dalam penabalan sultan sejak 1480 Masehi.

“Pertama kali dilaksanakan pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah. Setiap tahun dilaksanakan, tapi bukan berarti setiap tahun ada penabalan raja, melainkan seremoninya,” kata Tuanku Raja Saifullah kepada portalsatu.com, Sabtu, 26 September 2015.

Pewaris Raja Daya ini mengatakan prosesi adat Seumulueng pernah ditiadakan usai tsunami melanda Aceh. Pada saat itu, kata dia, banyak warga yang mengungsi, bahkan ada keluarga raja yang ikut menjadi korban. Selain itu, bangunan-bangunan tempat diadakan prosesi Seumuleung ikut musnah akibat gelombang gergasi.

“Saat ini bangunan-bangunan tersebut sedang diperbaiki,” katanya.[]

Foto: Ilustrasi prosesi adat Seumuleung di Meurhom Daya. @Dok Antaranews.com

Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

BANDA ACEH – Sejumlah raja di Aceh hari ini berkumpul di tradisi Seumeulung, penabalan raja Meureuhom Daya, di Aceh Jaya, Sabtu, 26 September 2015. Raja-raja yang hadir di antaranya Raja Teunom, Raja Rigah, dan Kuala Batee serta pewaris Sultan Mahmudsyah dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Selain para raja, turut serta anggota Majelis Zikrullah pimpinan Ustadz Samunzir ke lokasi, tim Peusaba, Aceh Lamuri Foundation, dan SILA. Hadir juga dalam kegiatan ini Teungku Abdurrahman Kaoy dari Majelis Adat Aceh dan sejumlah tamu lainnya.

“Sangat luar biasa adat Seumeulung di Nanggroe Daya,” ujar Koordinator Alif, Mawardi Usman, kepada portalsatu.com.

Dia mengatakan adat Seumeulung ini paling lama bertahan sejak 1480 hingga 2015. Menurutnya, Seumulung dilaksanakan pertama kali di masa Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah Ibnu Sultan Inayat Syah yang adalah Raja Darul Kamal.

“Jadi adat Seumuleung ini bermakna menyuap nasi bagi raja yang dinobatkan. Adat ini dimulai setelah Portugis mencoba mengadu domba kerajaan-kerajaan di Aceh karena kepentingan perdagangan di pesisir barat Aceh,” kata pria yang konsen pada sejarah dan budaya Aceh ini.

Saat itu, kata dia, Raja Darul Kamal Sultan Salatin Alaudin sebagai sultan yang mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam mendengar rencana Portugis ini. Dia kemudian bergerak ke Nanggroe Daya untuk mengusir Portugis dan kemudian menabalkan raja di daerah tersebut sebagai perwakilan kerajaan Aceh.

“Sultan Salatin-lah yang kemudian dikenal dengan sebutan Po Teumeurhom. Adat penabalan ini kemudian dilakukan selama setahun sekali sesudah masa Sultan Salatin hingga sekarang. Jadi prosesi ini berjalan hingga saat ini, bahkan saat Aceh masih dilanda konflik tidak mempengaruhi adat Seumuleung,” katanya.

“Pada awalnya, adat Seumuleung dilaksanakan bak uroe phon Idul Adha nibak seupot uroe (pada petang hari pertama Idul Adha). Hal ini tetap dilakukan hingga sekarang, tapi bergeser seremonialnya jeut keu uroe ke lhee Idul Adha (menjadi hari ke tiga Idul Adha). Pertimbangannya karena banyak tamu jauh yang tidak bisa berhadir di hari pertama Idul Adha lantaran mengikuti salat Id. Makanya seremoninya digeser menjadi hari ke tiga,” katanya lagi.

Dia mengatakan, adat Seumeulung kali ini merupakan penabalan terhadap raja penerus Daya. “Sultan Daya sekarang adalah Sultan Alaiddin Riayat Syah ke 13 yaitu Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah,” ujarnya.[]