Tag: meugang

Ini Data Ternak untuk Daging Meugang se-Aceh

Ini Data Ternak untuk Daging Meugang se-Aceh

BANDA ACEH – Sebanyak 11.743 ekor sapi, 5.059 ekor kerbau, 11.257 ekor kambing maupun domba, dan 752.994 ekor unggas untuk persediaan ternak hari meugang Idul Adha 1436 H terhitung sejak 22 hingga 23 September di seluruh Provinsi Aceh.

Berikut data diperoleh portalsatu.com dari Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh, Selasa, 22 September 2015:

Aceh Besar: 1.520 ekor sapi dan kerbau, 934 kambing atau domba, 25.390 ekor ungags

Pidie: 1.232, 850, 25.935 (jenis ternak berurutan seperti Aceh Besar).

Aceh Utara: 1.940, 1.625, 70.500

Bireuen: 1.935, 1.289, 59.868

Lhokseumawe: 765, 265, 50.000

Aceh Timur: 974, 197, 17.500

Langsa 1.055, 282, 47.000

Aceh Tamiang: 345, 292, 47.000

Aceh Tengah: 565, 379, 8.766

Bener Meriah: 498, 978, 49.648

Aceh Tenggara: 493, 158, 4.000

Gayo Lues: 781, 785, 22.500

Aceh Barat: 663 ekor sapi dan kerbau, 350 kambing atau domba, dan 5.350 ekor unggas.

Aceh Jaya:  275, 189, 9.320

Nagan Raya: 503, 244, 3.000

Aceh Selatan: 251, 328, 76.000

Abdya: 402, 200, 11.134

Aceh Singkil: 300, 210, 928

Banda Aceh: 251, (kambing atau domba tidak ada), 14.095

Kota Sabang: 161, 120, 3.220

Simeulue: 381, 242, 16.340

Subulussalam: 232, 148, 6.400

Pidie Jaya: 1.280 ekor sapi dan kerbau, 1.192 kambing atau domba, dan 179.100 unggas.

Sementara harga sapi dan kerbau minimal Rp130 ribu, maksimal Rp150 ribu, kambing atau domba Rp60 ribu hingga Rp100 ribu, dan unggas minimal Rp25 ribu dan maksimal Rp120 ribu.

“Kalau tahun sebelumnya (2014), jumlah pemotongan ternak sapi, kerbau, kambing atau domba, dan unggas pada hari meugang Idul Adha berjumlah 5.128 ekor sapi, 1.765 ekor kerbau, 6.056 ekor kambing atau domba, dan  254.436 ekor unggas,” kata Millia, pegawai Bagian Kesmavet ditemui portalsatu.com di ruang kerjanya pagi tadi.[]

Foto ilustrasi

Foto: Suasana Meugang di Lhoksukon

Foto: Suasana Meugang di Lhoksukon

LHOKSUKON – Harga daging meugang di kota Lhoksukon, Aceh Utara. tadi pagi mencapai Rp150 ribu per kilogram. Namun menjelang pukul 10.00 WIB mulai turun menjadi Rp140 ribu hingga Rp130 ribu. Itu terjadi karena minim pembeli daging.[] (Baca: Daging Meugang Rp150 Ribu, Pasar Lhoksukon Sepi)

suasana meugang6
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
suasana meugang5
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
suasana meugang4
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
suasana meugang3
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
suasana meugang2
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
suasana meugang1
Warga berburu daging meugang di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 22 September 2015. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com
Daging Meugang Rp150 Ribu, Pasar Lhoksukon Sepi

Daging Meugang Rp150 Ribu, Pasar Lhoksukon Sepi

LHOKSUKON – Harga daging meugang di kota Lhoksukon, Aceh Utara. tadi pagi mencapai Rp150 ribu per kilogram. Namun menjelang pukul 10.00 WIB mulai turun menjadi Rp140 ribu hingga Rp130 ribu. Itu terjadi karena minim pembeli daging.

H. Pudin, pedagang daging meugang di Kecamatan Lhoksukon kepada portalsatu.com, Selasa, 22 September 2015 menyebutkan, harga daging kali ini lebih murah dari meugang sebelumnya.

“Meugang kali ini sepi. Lihat saja sekarang sudah pukul 10.30 WIB,
tapi pembeli bisa dihitung dengan jari. Lihatlah daging yang bergantungan di
lapak pedagang yang masih banyak, bahkan sebagian masih utuh,”
katanya.

Pudin memperkirakansepinya pembeli karena ekonomi masyarakat saat
ini tidak stabil. Kata dia, warga hanya membeli daging alakadarnya saja.

“Jika suasana masih begini hingga siang nanti, bisa dipastikan harga
daging akan terus turun hingga 100 ribu per kilogram. Hal itu
terpaksa dilakukan pedagang, daripada rugi. Saat ini ada juga
pedagang yang menjual daging Rp140 ribu,” ujarnya.

Pudin menambahkan, pagi tadi harga daging kualitas bagus dan hati Rp150 ribu/kilogram, jeroan jenis usus Rp70 ribu, tulang rusuk dan buntut
berkisar Rp70 ribu dan Rp80 ribu, dan paru-paru Rp80 ribu.

Sementara itu, Salmiah, 33 tahun, warga Kampung Baru, Lhoksukon
mengatakan, ia dan keluarganya tidak berminat membeli daging di
meugang kali ini. Kata dia, harga daging yang mahal tidak “terjangkau isi kantong”.

“Pagi tadi saya sudah ke pasar dan saya tidak jadi beli karena harga
daging Rp150 ribu. Nanti siang sekitar pukul 12.00 rencananya mau
balik lagi ke pasar, mana tau harga turun,” ujarnya.[] (idg)

Foto: Pedagang daging di pasar Lhoksukon, Aceh Utara.

Foto: Suasana Pasar Daging Jelang Meugang di Banda Aceh

Foto: Suasana Pasar Daging Jelang Meugang di Banda Aceh

BANDA ACEH – Harga daging meugang di Banda Aceh mencapai Rp 150 ribu per kilogram pada Selasa, 22 September 2015 pagi. Harga tersebut berlaku untuk daging sapi maupun kerbau.[] (Baca: Harga Daging Meugang di Banda Aceh Rp150 Ribu Sekilo)

meugang3
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
meugang5
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
meugang2
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
meugang1
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
harga daging meugang
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
meugang6
Harga daging mencapai Rp 150 ribu per kilogram di Banda Aceh. @Zahratil Ainiah
Harga Daging Meugang di Banda Aceh Rp150 Ribu Sekilo

Harga Daging Meugang di Banda Aceh Rp150 Ribu Sekilo

BANDA ACEH- Harga daging meugang di Banda Aceh pagi tadi mencapai Rp150 ribu per kilogram, baik daging sapi maupun kerbau.

Azhari, 40 tahun, salah satu pedagang daging mengatakan harga tersebut meningkat sejak hari ini dari sebelumnya Rp120 ribu per Kg. Namun hari ini ada juga yang menjual Rp140 ribu, tergantung kualitas daging.

“Hari ini kan sudah meugang kanto, harga daging dan harga seluruh pasaran memang 150 (ribu), tetapi masih bisa kurang,” kata Azhari yang juga warga Lamcot, saat ditemui portalsatu.com di tempat penjualan daging, Ajun Jempet, Banda Aceh, pagi tadi.

Hal sama diutarakan Zainuddin, 65 tahun, penjual daging di Ketapang, Banda Aceh. “Harga daging hari ini 140 (ribu), itu sudah standar pasaran semua di hari meugang, tetapi ada juga yang jual 150 (ribu) per kilogram,” ujar Zainuddin.

“Saya hari-hari biasanya juga membeli daging, tetapi beda rasanya kalau meugang tak beli daging, karena ini memang sudah tradisi kita orang Aceh. Rencana saya hari ini mau masak sop,” kata Andriani, 44 tahun, warga Mibo, Banda Aceh, salah satu pembeli daging meugang.[] (idg)

Curi Kambing Untuk Meugang, Dua Pria Babak Belur di Aceh Utara

Curi Kambing Untuk Meugang, Dua Pria Babak Belur di Aceh Utara

LHOKSUKON – Dua pria babak belur diamuk massa di Desa Reudep, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Senin 21 September 2015 pukul 16.00 WIB karena kedapatan mencuri kambing. Warga yang marah juga ikut membakar satu unit sepeda motor matic jenis Honda Beat warna hitam.

Keduanya berasal dari Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Masing – masing, Sufri, 19 tahun, mekanik asal Desa Rawang Iteik dan Syahruddin, 39 tahun, asal Desa Biara Timu.

“Dua pria itu telah mencuri kambing milik warga Buket Sentang, Kecamatan Lhoksukon. Mereka babak belur dipukuli warga Buket Sentang di Desa Reudep,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi, melalui Kasat Reskrim AKP Mahliadi kepada portalsatu.com.

 Ia mengatakan, untuk meredam kemarahan warga, pihaknya terpaksa meletuskan dua kali tembakan peringatan ke udara. Pasalnya kala itu massa hendak membakar kedua pelaku bersama kambing, setelah membakar sepeda motor.

“Tersangka telah kami amankan di Polres Aceh Utara. Selain itu juga ikut diamankan barang bukti sepeda motor yang telah dibakar dan seekor kambing yang telah disembelih untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” ujar AKP Mahliadi.

pencuri kambing

Dalam pemeriksaan sementara, kedua tersangka mengakui perbuatannya telah mencuri kambing. Mereka mengaku kambing itu untuk diguling (dibakar) nanti malam.

“Kami jalan jalan di kawasan pedalaman Kecamatan Lhoksukon. Kami lihat ada kambing yang terjerat tumbuhan. Kami berencana menjadikan kambing guling nanti malam (meugang). Makanya kami gorok kambing itu. Tapi saat hendak mau bawa pulang dengan sepeda motor ketauan warga. Kami pun langsung dipukuli,” jelas tersangka.

Foto : Dua tersangka yang mencuri kambing babak belur dipukuli warga di Desa Reudep, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Setelah sebelumnya sempat hendak dibakar bersama dengan kambing yang dicurinya.@Zulkifli Anwar/portalsatu.com

Jelang Meugang, Harga Cabai Petani Aceh Timur tak ‘Pedas’

Jelang Meugang, Harga Cabai Petani Aceh Timur tak ‘Pedas’

IDI RAYEUK- Biasanya harga cabai merah melonjak menjelang meugang hari raya. Akan tetapi, menjelang meugang hari raya Idul Adha tahun ini, harga cabai merah hasil panen petani Aceh Timur justru anjlok.

Safrani,  warga Desa Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur kepada portalsatu.com, Senin, 21 September 2015, mengatakan harga cabai menjelang meugang kali ini anjlok dari Rp25.000 menjadi Rp10.000 perkilogram.

“Harganya turun mencapai 50 persen lebih, ini membuat pendapatan petani cabai menjelang meugang ini tidak maksimal,” ujar petani cabai ini.

Safrani menyebut tak ‘pedasnya’ harga cabai merah lantaran pasokan dari pedagang pengumpul ke pasar tradisional membludak. “Salah satu penyebabnya pasokan cabai saat ini ‘banjir’ di pasar, jadi harganya bisa murah seperti ini”, katanya.

“Kita berharap harga cabai bisa meningkat, minimal harganya bisa menutupi modal usaha kami,” ujar Safrani lagi.

Sementara itu, Syukri salah satu pedagang di Pasar Lhok Nibong membenarkan harga cabai saat ini murah. “Kami bisa membeli dari petani dengan harga 10.000, dan bisa kita jual lagi kepada masyarakat 11.000 hingga 12.000 per kilogram,” katanya.[] (idg)

Foto: Cabai merah hasil panen petani Aceh Timur. @Maulana Amri/portalsatu.com

Daging Meugang di Simpang Ulim Capai Rp160 Ribu

Daging Meugang di Simpang Ulim Capai Rp160 Ribu

ACEH TIMUR – Harga daging meugang di Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur capai Rp160 ribu per kilogram, Kamis, 16 Juli 2015.

Meugang hari pertama kemarin Rp150 ribu per kilo. Hari ini Rp160 ribu, saya beli empat kilo, tidak ada kurang sedikit pun harganya,” kata Saidah, salah seorang warga sembari menunjukkan bungkusan daging sapi kepada portalsatu.com  di Simpang Ulim.

Saidah menyebut saat meugang menyambut puasa sebulan yang lalu, harga daging di Kecamatan Simpang Ulim hanya Rp140 ribu hingga Rp.150 ribu per kg.

Anehnya, menurut Saidah, kini harga daging semakin ‘melambung’ walaupun di pasar tampak jumlah pedagang membludak. “Orang jualan saya lihat cukup banyak, tapi harga daging malah lebih tinggi. Kalau barang lain biasanya semakin banyak orang jualan semakin murah,” ujarnya.[]

Foto ilustrasi.

Warga Aceh Buru Daging Meugang

Warga Aceh Buru Daging Meugang

JANTHO – Warga berburu daging meugang pada di sejumlah pasar di Aceh Besar, Kamis, 16 Juli 2015. Meugang merupakan tradisi yang sudah turun temurun di Aceh dengan memasak daging dan makan bersama anggota keluarga. Biasanya di Aceh meugang setahun tiga kali: meugang Puasa, meugang Idul Fitri, dan meugang Idul Adha.

Amatan portalsatu.com, sepanjang perjalanan dari Leupung, Aceh Besar ke Banda Aceh, para pedagang sibuk melayani pembeli daging. Tampak keramaian transaksi jual beli daging di Simpang Meunasah Baro Lhoknga, Kedeebing, Simpang Jeumpet Ajun, Ketapang, Lampeunerut hingga Lambaro, Aceh Besar dan Peunayoeng, Banda Aceh.

“Semua jalan macet, banyak sekali orang hari ini baik pedagang maupun pembeli, tetapi lebih ramai awal pagi tadi, kata Dabit, 45 tahun, salah satu pedagang di Peunayong pagi tadi.

Pemandangan sama dilaporkan terlihat di Lamno, Aceh Jaya. Harga daging saat Subuh tadi Rp150.000 per kilogram.

“Kebiasaan meugang puasa kemarin harga mulai menurun sekitar pukul 10.00 WIB,” kata Zulkiram, 34 tahun, warga Lamno kepada portalsatu.com melalui handphone pagi tadi.

“Semua warga dari segenap pelosok menyerbu ke pasar Lamno, Aceh Jaya, dan cuaca pagi sangat menjanjikan cerah, tidak seperti minggu sebelumnya yang selalu diguyur hujan siang dan malam,” ujar Zulkiram.[]

Foto ilustrasi.

Tradisi Makmeugang, Saat Daging Berada di Setiap Dapur Rumah

Tradisi Makmeugang, Saat Daging Berada di Setiap Dapur Rumah

RAMADAN tersisa beberapa jam. Tetapi atmosfir kegembiraan menyambut hari kemenangan sudah terasa. Ratusan orang meriung di pinggir jalan Beurawe, Banda Aceh. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan. Mereka berjejal. Berdesakan di lapak bambu beratap terpal yang muncul dadakan.

Bau amis bercampur aroma keringat berebutan menyusup ke dalam hidung. Panasnya matahari siang itu tidak menyurutkan gairah belanja orang-orang yang sejak tadi berebut tempat.

Sementara dengan sedikit beraksi, pedagang memamerkan daging-daging segar dan merah yang mereka gantung di bawah atap lapak. Pembeli membolak-balik daging meneliti dan memilih bagian daging untuk mereka beli.

“Ayo dipilih. Dijamin masih segar,” teriak si pedagang sambil pamer suara bilah pisaunya yang terus diasah.

Yang terpikat buru-buru mengoroh kocek. Tanpa menawar. Sebagian masih usaha meminta potongan harga. Maklum banderol daging sapi naik ‘gila-gilaan’, dua kali lipat. Jika di hari biasa Rp80 ribu perkilogram, kini Rp160 ribu perkilogram.

Tapi itu tidak menghalangi warga di sana membeli daging demi tradisi Meugang menyambut hari raya Idul Fitri, esok hari.

Menurut riwayat, Meugang pertama kali dilakukan pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Sang Sultan, Iskandar Muda memerintah dari 1607 hingga 1636 M. Istilah Makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan.

Semua berawal ketika Sultan ingin memastikan rakyatnya bisa menikmati daging. Kerjaaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging.

Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis. “Ini sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran kerajaan, raja mengajak rakyatnya ikut bergembira,” kata Badruzzaman Ismail Ketua Majelis Adat Aceh, menceritakan asal mula adat Meugang.

Sultan kemudian memaklumkan kebiasaan ini menjadi tradisi menyambut puasa, Idul Fitri dan Idul Adha, Ketika Belanda menginvasi Aceh pada 1873, kerajaan kalah dan bangkrut.

Tradisi dari Sultan boleh berakhir, namun rakyat Aceh tetap melanjutkan kebiasaan itu dengan membeli sendiri daging. Sebagian pada hari itu, warga mengundang anak yatim ke rumahnya untuk makan daging sapi bersama. Ada juga yang membawanya ke masjid, santap bareng tetangga dan warga lain.

Badruzzaman bahkan menyebut warga Aceh akan merasa sedih bila hari Meugang tidak membeli atau makan daging sapi. Bahkan bagai aib. Kaya miskin seakan wajib memilikinya.[] sumber: dream.co.id