Tag: meugang

Pedagang Musiman Sesaki Jalan Pusat Kota Langsa

Pedagang Musiman Sesaki Jalan Pusat Kota Langsa

LANGSA – Hari meugang, pedagang musiman sesaki sejumlah ruas jalan di seputaran pusat kota Langsa. Di antaranya, jalan pasar ikan, dan jalan pasar baru, Rabu, 23 September 2015

Pantauan wartawan, jalan tersebut biasanya tidak macet ketika warga melintasi menuju ke pusat kota. Namun hari meugang atau sehari menjelang lebaran Idul Adha,  pedagang musiman memadati jalan tersebut hingga terjadi kemacetan.

Pagi tadi sampai pukul 11.00 WIB warga terlihat bersesakan untuk membeli keperluan meugang dan lebaran. Seperti daging, bumbu, kue lebaran dan kebutuhan lainnya yang dijual di sepanjang jalan tersebut.

 Salah seorang pedagang daging, Mukhtar kepada portalsatu.com, mengatakan pihaknya berjualan di kawasan itu karena izin dari Disperindagkop Langsa dengan menyiapkan tempat supaya lebih tertib dan tidak terjadi kemacetan. “Soal kebersihan juga dipertimbangkan, apalagi jual daging tentu memengaruhi lingkungan,” katanya.[]

Daging Meugang di Simpang Ulim ‘Naik Turun’

Daging Meugang di Simpang Ulim ‘Naik Turun’

ACEH TIMUR – Harga daging meugang lebaran Idul Adha 1436 Hijriah di Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, “naik turun”. Pagi tadi mencapai Rp160 ribu, kemudian turun menjadi Rp140 ribu perkilogram.

Akan tetapi, harga daging meugang kemudian mulai turun. “Subuh tadi 160 ribu perkilo. Sekitar jam delapan sudah mulai murah, ada juga yang dipasarkan 140 (ribu),” kata Saidah, warga Simpang Ulim kepada portalsatu.com.

Sebelumnya, Selasa/kemarin, kata Saidah, harga daging meugang di Simpang Ulim Rp150 ribu per-Kg.

“Saya tidak tahu penyebab naik harganya, tapi sudah lama harga daging ini antara 150 hingga 160 ribu perkilo,” ujarnya.[]

 

Dosen Sejarah: Tradisi Meugang Tak Mungkin Hilang di Aceh

Dosen Sejarah: Tradisi Meugang Tak Mungkin Hilang di Aceh

BANDA ACEH – Dosen FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala, Teuku Abdullah atau yang akrab disapa TA Sakti, mengatakan tradisi meugang tak mungkin bisa hilang di Aceh. Pasalnya, pelaksanaan tradisi meugang sudah ratusan tahun di Aceh.

“Tradisi meugang tak mungkin hilang. Ini sudah berlangsung ratusan tahun sejak masa raja-raja terdahulu,” kata TA Sakti kepada portalsatu.com, Selasa 22 September 2015.

Katanya, hasil diskusi dirinya dengan salah seorang pakar sejarah di Riau, tradisi serupa (meugang-red) sebenarnya pernah berlangsung di salah satu daerah di Pekan Baru. Namun tradisi membeli daging sebelum lebaran di sana sudah sedikit menghilang.

“Di Aceh, saya pikir tak mungkin hilang. Ini soalnya tradisi ini sudah turun temurun. Bahkan, seorang laki-laki akan merasa hilang marwahnya jika tak mampu membeli daging meugang untuk keluarganya,” kata dosen sejarah ini lagi.

“Hal ini pula yang menyebabkan harga daging cenderung tinggi di Aceh saat meugang. Namun saya rasa ini hal yang wajar,” ujarnya lagi. [] (mal)

Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

BANDA ACEH – Dosen FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala, Teuku Abdullah atau TA Sakti, mengatakan tradisi meugang di Aceh begitu kental dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Ini karena tradisi ini sudah diwariskan secara turun temurun.

“Sejak masa raja-raja terdahulu. Oleh karena itu sulit untuk dihilangkan,” kata TA Sakti kepada portalsatu.com, Selasa 22 September 2015.

Kata TA Sakti, pada masa raja-raja terdahulu, termasuk Sultan Iskandar Muda, kerajaan membuat aturan khusus soal meugang. Dimana, pihak kerajaan mendata seluruh fakir miskin dan janda untuk diberikan uang, daging serta pakaian di satu hari jelang lebaran.

“Ini berlaku ratusan tahun. Makanya kemudian berkembang menjadi tradisi. Seolah-olah membeli daging dan membawa pulang ke rumah adalah kewajiban. Seorang pria Aceh yang tak membawa pulang daging meugang akan merasa hilang marwahnya,” ujar TA Sakti.

Usai masa kerajaan, kata TA Sakti, minat masyarakat membeli daging saat meugang tetap tinggi.

“Masyarakat meuripee (patungan-red) membeli daging. Yang tidak punya uang akan membayar usai panen padi. Yang pasti, meugang tetap berlangsung,” kata TA Sakti.

Kata TA Sakti, demikian juga dengan saat ini. Animo masyarakat membeli daging meugang tetap tinggi.

“Jadi adalah hal yang wajah jika harga daging meugang tinggi di Aceh. Bagi laki-laki Aceh, membawa pulang daging meugang ke rumah adalah marwah, walaupun harus mengutang,” katanya. [] (mal)

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Serahkan Hewan Qurban

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Serahkan Hewan Qurban

BANDA ACEH – Civitas Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyerahkan enam ekor hewan qurban kepada masyarakat Gampong Lam Neuheun, Kuta Baro, Aceh Besar.

Keenam ekor hewan qurban itu diserahkan oleh wakil dekan I bidang Akademik, Dr Jauhari Hasan M Si di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Selasa, 22 September 2015.

Dr Jauhari Hasan M Si mengatakan hewan qurban tersebut berasal dari Civitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Ranairy dengan tujuan menghidupkan syiar Islam melalui semangat berqurban dan untuk merajut silaturahmi dengan desa binaan di sekitar Aceh Besar.

“Hewan qurban tersebut telah diamanahkan kepada perangkat gampong yang telah membentuk panitia pelaksana qurban untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Jauhari Hasan

Jauhari juga mengatakan, keeenam ekor itu adalah satu ekor lembu diberikan kepada masyarakat Gampong Lam Neuheun, satu kambing kepada anak yatim di Gampong Neuheun, Mesjid Raya, Aceh Besar, dan empat ekor kambing untuk para petugas kebersihan dan para pegawai kontak di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

 Geusyik Gampong Lam Neuheun, Syahrizal mengucapkan terima kasih kepada Civitas akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi atas nama masyarakatnya, yang telah punya kepedulian berbagi hewan qurban, dan semoga menjadi amal ibadah. [] (mal)

Dinas Peternakan dan Hewan: Kesehatan Hewan Kurban Sudah Dicek

Dinas Peternakan dan Hewan: Kesehatan Hewan Kurban Sudah Dicek

BANDA ACEH- Terkait kondisi kesehatan hewan yang akan dikurbankan pada meugang dan Idul Adha nanti, Dinas Peternakan dan Hewan Provinsi Aceh mengaku telah memantau dan memeriksa kondisi kesehatan hewan kurban, Selasa, 22 September 2015.

“Kondisi kesehatan yang terjangkau dengan kita sudah kita periksa terutama Aceh Besar dan Kotamadya disini Banda Aceh. Kita sudah mengecek hewan-hewan yang akan disembelih,” kata drh. Marjuani, sekretaris dinas saat ditemui portalsatu.com di ruang kerjanya pagi tadi.

Hewan-hewan yang akan disembelih itu, katanya, diyakini benar-benar sehat karena akan dikonsumsi oleh masyarakat banyak nantinya. Sementara untuk wilayah lain diluar Banda Aceh dan Aceh Besar yang berada di Provinsi Aceh akan dicek kesehatan hewan melalui dinas kabupaten kota.

“Jadi tugas mereka untuk melakukan kesehatan hewan disana dan untuk selama ini tindakan mengecek sudah dilaksanakan. Tentunya pun hewan kurban yang disediakan adalah hewan ternak yang bagus. Kalau misalnya dari segi kegiatan kita harapkan semua kabupaten kota untuk bergerak melakukan pengawasan,” ujarnya. [] (mal)

 

Pedagang Daging Musiman Banjiri Banda Aceh dan Aceh Besar

Pedagang Daging Musiman Banjiri Banda Aceh dan Aceh Besar

BANDA ACEH- Sejumlah pedagang musiman pada titik tertentu menjajakan daging meugang di sepanjang jalan mulai dari Lhoknga, Aceh Besar hingga Banda Aceh, Selasa, 22 September 2015.

Amatan portalsatu.com terdapat penjual daging di Simpang Meunasah Baro, Lhoknga, Keude Bing, dan Lampeunerut, Aceh Besar serta Simpang Ajun Jempet, Ketapang, dan Jalan T. Iskandar Beurawe Banda Aceh.

Fadhil, 42 tahun, pedagang daging di Beurawe mengatakan pembeli daging hari ini sudah mulai ramai sejak pagi tadi, meskipun masih meugang kanto. “Saya menjual daging saat makmeugang saja dan pembeli saya lihat mulai ramai sejak pukul 07.00 hingga 08.00 WIB pagi tadi,” katanya saat ditemui portalsatu.com.

Hal serupa dikatakan Azhari, 40 tahun, salah satu pedagang daging yang saban tahun menjual daging kala meugang karena menurutnya hari meugang tak ada masyarakat Aceh yang tidak membeli daging meugang. “Ini sudah tradisi kita orang Aceh, dan saya mengambil kesempatan ini untuk menjual daging,” kata Azhari.

Begitu juga dengan Zainuddin, 65 tahun, penjual daging di Ketapang, Banda Aceh. “Harga daging biasanya meningkat di hari meugang. Jika biasanya 120 ribu per kilo, sekarang mencapai 140 ribu,” ujar Zainuddin. [] (mal)

 

Menjelang Sore, Harga daging di Lhokseumawe Turun

Menjelang Sore, Harga daging di Lhokseumawe Turun

LHOKSEUMAWE – Harga daging meugang di pasar Inpres Kota Lhokseumawe menjelang Selasa sore mulai turun menjadi Rp130 ribu hingga Rp120 ribu. Sebelumnya, Selasa pagi tadi, para pedagang tersebut membanderol daging lembu hingga mencapai Rp.50 ribu.

Imran Ismail, pedagang daging di Pasar Inpres Lhokseumawe, kepada portalsatu.com, mengatakan turunnya harga daging disebabkan minat para pembeli pada lebaran Idul Adha tahun ini berkurang.

Menurutnya, kurangnya minat tersebut diduga karena ekonomi masyarakat saat ini lesu.

“Tahun ini harga daging anjlok, dengan demikian untung para penjual pun menipis,” kata Imran Ismail.

Dia menambahkan daging yang dijualnya tersebut merupakan lembu jenis lokal, yang diambil dari beberapa daerah di seputaran Kabupaten Aceh Utara.

“Jika suasana masih begini hingga siang nanti, bisa dipastikan harga daging akan terus turun. Ketika tidak diturunkan para pedagang akan merugi,” katanya.

Sementara itu, masih di seputaran Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, harga ayam potong hari ini mencapai Rp45 ribu per ekornya. Harga ini masih dianggap stabil oleh sebagian para penjual, disebabkan sebelumnya harga ayam potong tersebut mencapai Rp 40 ribu per ekornya.

Musliadi, pedagang ayam pada pasar tersebut mengatakan harga ini masih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, sampai hari ini minat para pembeli ayam masih terjangkau.

“Biasa tiap harinya saya habis menjual ayam hingga 50 ekor perhari, namun dari kemarin hingga sekarang ayam laku terjual hingga 100 ekor dan ini tidak menutup kemungkinan besok akan bertambah lagi,” kata Musliadi. [] (mal)

Video: Mualem Bagi Uang Meugang di Pendopo

Video: Mualem Bagi Uang Meugang di Pendopo

BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf memberikan uang meugang kepada 600 fakir miskin di rumah dinasnya, Selasa, 22 September 2015. Kegiatan bersifat sosial ini kerap dilakukan oleh pria yang akrab disapa Mualem tersebut setiap menjelang lebaran sejak terpilih dalam Pilkada 2012 lalu.

Lihat video proses pembagian uang meugang seperti didokumentasikan oleh Humas Pemerintah Aceh berikut ini:

[Foto]: Ratusan Warga Dapat Uang Meugang dari Wagub Mualem

[Foto]: Ratusan Warga Dapat Uang Meugang dari Wagub Mualem

RATUSAN warga dari berbagai pelosok Aceh memadati pendopo Wakil Gubernur (Wagub) Muzakir Manaf, Selasa 22 September 2015.

Wakil Gubernur Aceh menyantuni kurang lebih 600 orang fakir miskin. Santunan berupa uang meugang.

Aminah, salah seorang warga dari Ulee Glee Pidie Jaya, mengatakan sangat berterimakasih kepada Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang sudah memberikan santunan uang meugang kepada masyarakat miskin dan kurang mampu serta penyandang cacat.

Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama pembagian uang meugang berlangsung:

uang meugang 5

uang meugang 4

uang meugang 3

uang meugang 2