Tag: megawati

Survei: Menteri Susi Paling Memuaskan, Menteri Puan…

Survei: Menteri Susi Paling Memuaskan, Menteri Puan…

Jakarta – Masyarakat ditengarai masih banyak yang belum mengetahui kinerja menteri kabinet Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini tercermin dari hasil survei lembaga Indo Barometer mengenai keberhasilan dan kegagalan setahun pemerintahan Jokowi-JK. Dalam survei disebutkan sebanyak 16,2 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Adapun hasil survei menunjukkan secara garis besar kinerja menteri kabinet Jokowi-JK belum memuaskan.

“Responden yang menjawab tidak puas sebesar 3,9 persen, kurang puas 42,8 persen, cukup puas 36,3 persen, dan paling rendah sangat puas 0,8 persen,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari dalam presentasinya di Century Hotel Park, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2015.

Responden paling banyak menjawab tidak tahu untuk Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan dengan persentase 64,5 persen, selanjutnya disusul Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi 63,7 persen, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara 63,6 persen.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti merupakan menteri yang patut diapresiasi dengan persentase kepuasan sebesar 71,9 persen dan kurang puas atau tidak puas sama sekali sebesar 7,5 persen. Sebagian besar masyarakat juga mengetahui sepak terjang Menteri Kelautan dan Perikanan. Hal ini dilihat dengan persentase ketidaktahuan yang terendah, yaitu sebesar 20,7 persen.

Menurut pengamat ekonomi, Ichsanuddin Noorsy, mengatakan bahwa nilai kepuasan merupakan salah satu indikator kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Hal yang patut disayangkan adalah masih banyaknya masyarakat yang kurang puas dengan kinerja menteri.

Dari hasil survei, publik paling tidak puas terhadap Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, yaitu sebesar 34,6 persen. Sebanyak 29,4 persen menyatakan cukup puas atau sangat puas, sementara 36 persen menjawab tidak tahu.

Meskipun demikian menteri yang memiliki persentase kepuasan publik terendah adalah Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution sebesar 15 persen. Ketidakpuasan pada Darmin persentasenya sebesar 32 persen dan yang menjawab tidak tahu 53 persen.

Survei ini dilakukan Indo Barometer dan dilaksanakan di 34 provinsi pada tanggal 14–22 September 2015. Survei ini mengumpulkan informasi dari 1.200 orang responden dengan margin error sebesar 3,0 persen. Adapun kategori responden dibagi ke dalam jenis kelamin, wilayah desa atau kota, suku bangsa, dan provinsi.

Responden dipilih dengan metode multistage random sampling untuk menghasilkan responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa Indonesia yaitu yang berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. | sumber: tempo.co

Megawati: Bubarkan KPK

Megawati: Bubarkan KPK

JAKARTA-  Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menghendaki Komisi Pemberantasan Korupsi agar segera dibubarkan. Presiden RI kelima itu menilai KPK sudah melewati kewenangannya sebagai lembaga ad hoc.

Megawati menyatakan KPK dibentuk di masa pemerintahannya sebagai lembaga yang bersifat sementara. Kini setelah lebih dari satu dekade, kata Mega, KPK sudah waktunya untuk mengakhiri peran di Indonesia.

“Komisi yang sifatnya ad hoc ini harus diselesaikan, harus dibubarkan,” ujar Mega di sela Seminar Nasional Kebangsaan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (18/8).

Mega becerita, selama ini dia bertanya-tanya sampai kapan KPK bakal berdiri di Indonesia. Jawabannya, kata Mega, KPK bakal tetap berdiri selama korupsi ada.

Putri Soekarno itu pun menyimpulkan, kunci berakhirnya KPK ada pada para pejabat. Menurut Megawati, pejabat tak boleh lagi korupsi sehingga KPK tak punya alasan lagi untuk mempertahankan eksistensinya.

“Saya sadar dengan pernyataan ini, saya bakal di-bully di media sosial. Tapi tentu saja menurut saya ini pemikiran yang logis,” ujar Mega.

KPK didirikan pada 2002 untuk membantu kinerja Kejaksaan Agung dan Kepolisian yang kala itu dianggap kurang bagus dan minim mengantongi kepercayaan publik. | sumber: cnnindonesia.com

Bertemu Megawati, Wagub Mualem Minta Kekhususan Aceh Jadi Perhatian Pusat

Bertemu Megawati, Wagub Mualem Minta Kekhususan Aceh Jadi Perhatian Pusat

BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, di Hotel Diamond Solo, Kamis malam, 11 Juni 2014.

Kedua tokoh ini memiliki agenda yang berbeda dan kebetulan dilaksanakan pada hotel yang sama.

Kehadiran Megawati ke Solo juga dalam rangka menghadiri pernikahan putra sulung Presiden Joko Widodo.

Dalam pertemuan dadakan ini, Wagub Mualem sempat menyampaikan beberapa hal kepada Megawati. Salah satunya, persoalan kekhususan Aceh yang kini masih setengah hati dilaksanakan Pemerintah Pusat.

“Selaku partai pemenang di tingkat nasional, PDI Perjuangan memiliki peran yang besar di Pemerintah Pusat. Mualem meminta Megawati mendukung kekhususan Aceh dan meminta Megawati untuk mendorong kadernya guna mendukung implementasi semua aturan turunan UUPA,” kata Syukri Ibrahim, tokoh Aceh yang mendampingi Wagub Mualem di Solo kepada portalsatu.com, Kamis malam, 11 Juni 2015.

Syukri Ibrahim diundang ke pernikahan putra sulung Jokowi sebagai Direktur Utama PDPA.

Mualem juga mengatakan ada sejumlah aturan yang diterbitkan Pemerintah Pusat yang masih belum sesuai dengan kesepakatan damai. Salah satunya soal PP Pertanahan.

“Wagub Mualem minta semua persoalan ini segera dituntaskan. Sedangkan Megawati mengaku akan menyampaikan hal ini kepada Presiden Joko Widodo,” kata Syukri Ibrahim.

Selain persoalan serius, baik Mualem dan Megawati juga sempat membahas berberapa persoalan nasional lainnya.

“Mereka sempat membahas beberapa persoalan yang menjadi isu nasional lainnya. Namun pembicaraan ini berlangsung santai,” kata Syukri.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf menghadiri pesta pernikahan putra sulung Presiden Joko Widodo, di Solo, Kamis 11 Juni 2015. Wagub Aceh didampingi Syukri Ibrahim. Dalam undangan, Syukri Ibrahim disebut sebagai Direktur Utama Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA).

“Selama acara tadi, hanya dua orang terlihat dari Aceh. Saya dan Mualem. Saya diundang sebagai Direktur Utama PDPA. Alhamdulillah, biarpun Gubernur Aceh tidak mau mengakui saya sebagai Dirut PDPA, ternyata Pak Jokowi mengakuinya,” kata Syukri Ibrahim kepada portalsatu.com, Kamis 11 Juni 2015. [] (mal)

Foto: Wagub Aceh saat bersalaman dengan Megawati. @ Syukri Ibrahim

Delegitimasi dan Keteladanan

Delegitimasi dan Keteladanan

BEBERAPA hari lalu kita melihat bagaimana Presiden Jokowi dan Wapres dilegitimasi oleh PDIP (Megawati). Hadir di kongres partai pengusung, tapi tidak diberi kesempatan berpidato. Yang ada Megawati dengan congkaknya menghujat pemerintah Jokowi-JK.
‎Bayangkan apa jadinya pemerintah yang baru seumur jagung itu didelegitimisi oleh partai pengusung utama. Ini menunjukkan bahwa PDIP yang identik dengan Megawati lebih mementingkan partai dan keinginannya.

Andai dia berpikir untuk bangsa ini, maka seburuk apapun Jokowi-JK takkan diumbar di depan umum. Sebab bila mereka saja sudah tidak lagi mempercayai pemerintah ini bagaimana orang atau partai lain. Pemerintah yang ‎kehilangan kepercayaan gerbong sendiri apa mungkin dipercaya orang lain?

Bila sudah begini dunia usaha tidak percaya stabilitas politik, maka mereka akan takut berinvestasi. Bila sudah begitu anda sambung-sambung saja kesimpulannya.

Aceh hal itu lebih kurang terjadi. Pemerintah Aceh hasil Pilkada 2012 sepertinya berbeda platfon dengan partai pengusung utama. Yang membedakan keduanya adalah di Aceh, pemerintah yang meninggalkan pengusungnya. Kasat mata ini terlihat bagaimana keduanya saling berbeda. Lihat saja saat pembahasan APBA 2015.

Sebenarnya kenapa hal ini bisa terjadi? Karena masing-masing pihak merasa benar. Lebih mementingkan diri sendiri dan kroninya, tidak mau saling mengalah, tidak lagi melihat tujuan.

Kehilangan atau memang tidak punya sikap keteladan. Pemimpin itu panutan. Pemimpin adalah patron. Perbuatan baik akan efektif bila dimulai dengan keteladan. Keteladan ini dimulai dari atas (pemimpin). Di Indonesia dan di Aceh, kita krisis keteladanan. Pemilik otoritas tidak menunjukkan sikap yang patut diteladani. Ego dan rasa berkuasa memupuskan kearifan. Rasa malu hilang karena ditutupi nafsu. Sepertinya mereka pemilik kebenaran. Dan para pengikut dan penjilatnya membuat pembenaran. Jadilah para pemilik otoritas itu di menara gading. Merasa benar sendiri. Merasa paling paham.

Aceh saat ini dalam banyak statistik serba wah. Pengangguran tertinggi, pendidikan buruk, gizi buruk, pelayanan kesehatan buruk. Namun lihatlah ada yang mengaku bersalah? Ada yang mengakui gagal? Atau adakah evaluasi yang melahirkan reward dan punishmant?

Yang ada banyak pihak mencari pembenaran, mencari alasan, membuat analogi. Yang paling lucu di media ada yang mengaku heran, miris, sedih atau mengecam. Mereka yang mengatakan ini berada dalam sistem. Namun setelah itu apakah mereka bergegas mencari sebab dan pemecahannya? Semua menguap seperti kabut pagi.

Kita rindu ada pemimpin yang menunjukkan keteladanan, bila gagal atau tak memenuhi target kemudian menghukum dirinya. Misalnya dengan mengurangi fasilitas untuk dirinya. Tiap tahun Silpa begitu besar, tapi fasilitas untuk para pemimpin tetap saja maksimal.

Para pemimpin malah mencari celah untuk mencari lebih walaupun dengan jalan haram. ‎Kita mengaku muslim dan pengikut Rasulullah, tapi Rasulullah menunjukkan keteladannya. Beliau orang pertama kelaparan dan orang terakhir kenyang sepanjang kepemimpinan beliau. Pemimpin kita bagaimana?[]

Megawati: Saya Seperti Presiden, Anak Buah Banyak..

Megawati: Saya Seperti Presiden, Anak Buah Banyak..

DENPASAR – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyebutkan, dirinya tak beda dengan presiden yang memiliki puluhan juta kader yang tersebar dari Sabang sampai Marauke, yang diibaratkan seperti rakyat Indonesia.

“Kalau saya ini seperti presiden, karena anak buah saya banyak, dan itu sampai di tingkat ranting, kalau pemerintah sampai di RT saya punya anak ranting mungkin di bawahnya,” kata Megawati dalam pidato penutupan Kongres ke IV PDIP di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (11/4/2015).

Presiden Ke-5 Indonesia itu juga mengaku seluruh kader- PDIP sangat patuh kepadanya, bahkan menurutnya kader PDIP lebih patuh ketimbang rakyat Indonesia.

“Kalau saya minta bergerak semua bergerak,” kata Mega.

Lebih lanjut dirinya meminta kepada seluruh kader patuh terhadapnya demi memperjuangkan nilai-nilai luhur trisakti dan empat pilar kebangsaan yang digagas oleh Taufiq Kiemas.

Sejumlah pernyataan tegas Megawati dalam arena kongres menunjukkan ketegasannya.

Salah satunya,  Megawati Soekarnoputri meminta semua kadernya yang ada di jajaran eksekutif dan legislatif untuk menjalankan tugas sesuai dengan garis perjuangan partai. Instruksi itu diberikan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati tanpa bisa ditawar. | sumber: tribunnews.com

Megawati: Jika Tidak Mau Disebut Petugas Partai, Keluar!

Megawati: Jika Tidak Mau Disebut Petugas Partai, Keluar!

BALI – Kongres IV PDIP resmi ditutup. Dalam pidato penutupan, Megawati menegaskan bahwa seluruh kader PDIP adalah petugas partai yang harus ikut instruksi partai.

“Untuk kader di DPR dan Fraksi PDI Perjuangan, ingatlah bahwa kalian adalah petugas partai dan merupakan perpanjangan tangan partai,” kata Megawati di Grand Inna Bali Beach Sanur, Bali, Sabtu (11/4/2015).

“Jika tidak mau disebut petugas partai, keluar! Petugas partai wajib melakukan instruksi partai,” imbuh Megawati.

Megawati mengatakan dirinya juga termasuk petugas partai. Tugasnya di PDIP adalah memimpin PDIP hingga 2020. Dengan status sebagai pemenang pemilu yang dipercaya rakyat, Megawati mengatakan kader PDIP tak perlu malu menjadi petugas partai.

“Bayangkan sekian juta orang memilih kita karena mereka melihat bendera PDI Perjuangan. Partai ini membantu untuk berkeadilan sosial dan menyejahterakan rakyat,” ujarnya. | sumber: detik.com

Kader PDIP Kena Serangan Jantung Saat Dengar Megawati Pidato

Kader PDIP Kena Serangan Jantung Saat Dengar Megawati Pidato

JAKARTA – Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato politik pada pembukaan Kongres IV PDIP di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Kamis 9 April 2015.

Dalam pidato politiknya, Megawati menyoroti banyak hal. Mulai dari Konferensi Asia Afrika, revolusi mental, kontrak migas dan BUMN hingga hubungan politik antara PDIP dan Presiden Joko Widodo.

Namun, saat tengah asyik berpidato, tiba-tiba seorang kader PDIP tumbang. Ia pingsan. Kader tersebut terkena serangan jantung.

Kader itu adalah Cornelis Lay. Cornelis merupakan salah satu penulis pidato politik Joko Widodo yang disampaikan di DPR RI di awal terpilih sebagai Presiden RI ketujuh.

“Tadi waktu menyaksikan pidato politik Ibu Megawati, Cornelis jatuh,” kata staf Humas Panitia Lokal Kongres IV PDIP, I Gede Jhony Suhartawan, saat berbincang dengan VIVA.co.id.

Menurut Jhony, dari informasi yang diterimanya, Cornelis terkena serangan jantung. “Tadi saya lihat waktu digotong dia berkeringat dan wajahnya membiru. Informasinya terkena serangan jantung,” jelas dia.

Cornelis kemudian dievakuasi ke tim kesehatan yang sudah disediakan panitia. “Tadi langsung dibawa ke ambulans untuk diberi pertolongan pertama. Selanjutnya saya belum dapat informasi dia dirujuk ke rumah sakit mana,” ujar Jhony.[] sumber: viva.co.id