Tag: masjid

Masjid-masjid Megah Ini Hanya Dibuka Setahun Sekali

Masjid-masjid Megah Ini Hanya Dibuka Setahun Sekali

DAMMAM — Kebanyakan masjid di dunia ini sama dari segi bentuk maupun pengoperasiannya. Namun berbeda dengan ketiga masjid ini yang hanya dibuka ketika musim haji saja. Ketiga masjid tersebut diantaranya masjid Namirah, masjid Al khaif dan masjid Al Baiaa.

Masjid-masjid tersebut jauh dari pusat kerumunan warga, sehingga ketiganya hanya difungsikan ketika musim haji. Masjid Namirah, yang terkenal dengan menaranya yang megah ini terletak di Arafah dekat Makkah. Jika musim haji sekitar 450 ribu jamaah haji beribadah sepanjang siang dan malam di sana.

Masjid tersebut telah melewati beberapa tahapan masa kehidupan. Dibangun pertama kali selama abad ke-2 Hijriah. Selama era Saudi, terdapat perluasan terbesar sebagai area mencapai sekitar 18.000 meter persegi.

Selain itu, sudah dilakukan renovasi dan peningkatan penyediaan toilet. Sehingga masjid tersebut menjadi masjid terbesar ketiga dalam hal ruang setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Masjid Al Khaif berdiri kokoh dengan warna merahnya yang khas di Mina. Masjid tersebut terkenal dengan sebutan masjid 30 hari, hal itu karena masjid ini hanya dibuka selama 30 hari per tahunnya selama musim haji. Masjid ini sudah beberapa kali mengalami pemugaran, dan kini sudah terdapat banyak pintu masuk untuk perempuan.

Masjid Al Khaif ini menurut informasi dari Arabnews, Sabtu (3/10), dapat menampung sekitar 100 ribu jamaah untuk melakukan shalat lima waktu.

Masjid yang memiliki 403 tiang ini terletak di dekat kantor administrasi Kementerian Keislaman Arab Saudi. Di dekatnya juga dibangun penginapan untuk tamu besar Kementerian Keislaman Arab Saudi.

Masjid Al-Baiaa terletak di bagian timur Makkah. Masjid ini bentuknya masih membawa keaslian sejarahnya. Masjid ini diyakini  dibangun pada era khalifah Abu Jaafar Al-Mansour tahun 144 AH.

Di masjid ini Nabi Muhammad SAW mengikrarkan sumpah kesetiaan 12 pemimpin dari dua suku Arab besar: Al-Aws dan Al-Khazraj, yang berasal dari Madinah.

Masjid sebesar 500 meter persegi sedikit berbeda, karena termasuk bangunan tua yang tidak memiliki atap, menara atau jendela. Masjid tersebut dibangun dari batu dan batu bata dan biasanya ditutup kecuali selama musim haji.[] Sumber: republika.co.id

Foto: Jamaah haji yang tengah melaksanakan ibadah wukuf, menunaikan salat Jumat di sekitar kawasan Masjid Namirah, Arafah, Jumat (2/10). @Reuters

Masjid Bersejarah Bangladesh Terancam Rubuh

Masjid Bersejarah Bangladesh Terancam Rubuh

BANGLADESH – Masjid bersejarah di Bangladesh, Atia, tengah menghadapi ancaman serius. Masjid berusia 406 tahun ini mengalami kerusakan cukup parah dan dapat rubuh setiap saat.

“Ini merupakan peninggalan bersejarah kami,” ujar Ketua Pengurus Masjid Atia, Mohammad Babuluzzaman, kepada Daily Star, dikutip Dream dari onislam.net, Senin, 31 Agustus 2015.

Warga sekitar dan pemerintah lokal tengah berupaya melindungi masjid tersebut. Tetapi, menurut Babuluzzaman, Departemen Arkeologi tampak tidak mendukung langkah mereka.

Masjid Atia merupakan salah satu peninggalan masa kejayaan Kekaisaran Mughal. Masjid yang terletak di tepi sungai Louhajang pada 1609 ini merupakan hadiah dari Kaisar Mughal, Jahangir.

Tidak jauh dari masjid, terletak makam Hazrat Shahan Shah, ulama Kashmir yang menyebarkan Islam di sekitaran Atia sekitar tahun 1508. Bersama 49 pengikutnya, mereka menyebarkan Islam di sana.

Masjid dengan arsitektur seni Bengali yang kuat ini diperindah dengan keramik model terakota. Tetapi, saat ini sejumlah hiasan telah memudar sementara ada sebagian yang rusak.

“Banyak yang rusak. Sebagian hiasan unik jatuh dan atap bocor,” ujar Imam Masjid Atia, Farid Ahmed.

Masjid Atia sebenarnya telah mengalami pembenahan beberapa kali. Pada 1837, masjid ini dipugar setelah terkena gempa pada 1800 oleh seorang pedagang wanita asal Delhi, Rowshan Khatoon Crowdhurani.

Masjid bersejarah ini kini berada di bawah pengawasan dan tanggungjawab Departemen Arkeologi sejak 1978.

Pada tahun 2000 dan 2009, masjid ini hanya mengalami renovasi pada sebagian ruangan. Renovasi ini dijalankan oleh Monirul Haque.

“Setelah mengirim laporan, pejabat senior Departemen Arkeologi mengunjungi masjid enam bulan lalu untuk melihat kondisi struktur bangunan. Mereka meyakinkan kami renovasi akan dilaksanakan pada tahun ini,” kata Haque.[] sumber: dream.co.id

Gubernur: Sinergikan Pembangunan Aceh Melalui Masjid

Gubernur: Sinergikan Pembangunan Aceh Melalui Masjid

TAKENGON – Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta kepada masyarakat Gayo untuk menjadikan mesjid sebagai tempat membersihkan hati dan membangun sinergi pembangunan.

“Kita jadikan masjid sebagai tempat kita menyatukan hati,” kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat meresmikan masjid bantuan PNS di lingkungan Pemerintah Aceh di Masjid Baitul Marhamah, Gampung Bahgie, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Sabtu, 22 Agustus 2015.

Gubernur yang didampingi Bupati Aceh Tengah Ir Nasaruddin, anggota DPR Aceh Adam Mukhlis Arifin, Ketua DPRK Aceh Tengah Muchsin Hasas, para SKPA, perwakilan Bina Marga, para camat dan reje di Aceh Tengah menyebutkan, sinergi pembangunan adalah agenda utama yang dilakukan pemerintah Aceh.

“Kita harus membangun sinergi untuk pembangunan Aceh,” ujar gubernur.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah hadir di Aceh Tengah untuk meresmikan 3 masjid sekaligus. Ketiga masjid hasil sumbangan PNS di lingkup Pemerintah Aceh ini adalah Masjid Baitul Marhamah Bebesen, Masjid Al Muslim Kampung Dedingin Kute Panang (Aceh Tengah), serta Masjid Kampung Baru di Bener Meriah.[](bna)

Bekas Pub Ini akan Disulap Jadi Masjid

Bekas Pub Ini akan Disulap Jadi Masjid

BIRMINGHAM — Pemerintah kota Birmingham, Inggris akan merelokasi Endwood Pub menjadi masjid dan pusat pendidikan Islam.

Endwood Pub yang berdiri di jalan Hamstead, Handsworth, Birmingham ini telah lama kosong, sekitar lebih dari dua tahun.

Menurut Birmingham Mail, Sabtu (8/8), pub yang telah lama kosong itu akan dibangun menjadi pusat pendidikan Islam yang berkapasitas 150 murid dan menampung hingga 190 jamaah shalat Jumat.
Pub yang dibangun pada tahun 1820 tersebut, awalnya dijadikan rumah pemukiman, Church Hill House.

Pada tahun 1880-an rumah tersebut dimiliki oleh keluarga Muntz, seorang pengusaha yang sekaligus politisi. Selanjutnya pada abad ke-20 rumah tersebut berubah menjadi hotel dan terakhir dijadikan sebagai pub sekaligus tempat konser grup band lokal disana.

Kemudian baru-baru ini dewan daerah setempat baru saja menyepakati akan merelokasi Masjid Quba yang terletak tidak jauh dari pub tersebut, yaitu di dekat jalan Wyecliff, Handsworth. Keputusan yang hampir bulat tersebut menyatakan merelokasi Masjid Quba itu ke bangunan bekas pub itu.

Pihak masjid juga sudah menyetujui rencana relokasi tersebut. Sehingga masjid tersebut akan memperbaiki dan mengembalikan banyak sejarah yang sudah terkisahkan dari bangunan tua itu.

Atas rencana tersebut, dewan daerah mendapatkan 44 keberatan dari masyarakat. Dimana keberatan yang paling banyak dikeluhkan adalah kemacetan lalu lintas yang diakibatkan karena parkir yang penuh, jika tempat tersebut menjadi masjid.

Namun, demikian dewan daerah menegaskan pub tersebut memiliki 61 ruang parkir yang memadai. Bahkan surviy menyatakan bahwa 39 persen jamaah berjalan kaki ketika berangkat ke masjid.

Kemudian Komite Perencanaan, Simon Hodge menyatakan, timnya yakin tidak akan menemui problem yang berarti dalam melaksanakan perencanaan yang sudah mereka buat tersebut.[] Sumber: republika.co.id

Foto: Pub Endwood, Birmingham akan dijadikan masjid.

 

Masjid Ramlie Musofa Dibangun Sejak 2011

Masjid Ramlie Musofa Dibangun Sejak 2011

JAKARTA — Saat Martin, salah seorang petugas jaga di  masjid, mengizinkan masuk ke dalam area masjid, kesempatan ini tentu tak bisa disia-siakan. Tapi dengan cekatan, Martin langsung mengingatkan agar tak boleh ada gambar yang diambil dari dalam masjid yang ternyata belum rampung pembangunannya ini, kecuali bagian luarnya saja.

Di halaman masjid yang berdiri di lahan seluas sekira 500 meter persegi ini, bahan-bahan bangunan dan sisa-sisa bongkaran masih berserakan. Papan-papan, semen, marmer hingga sampah bangunan tampak masih bergelatakan meski tak terlalu semrawut. Terlebih, ada beberapa tanaman yang tampak sudah tumbuh sehingga menjadi penyegar mata saat memandang.

“Memang masjid ini belum selesai, dibangunnya sejak tahun 2011, kabar yang kita dengar Januari baru selesai dan rencananya akan langsung diresmikan,” ujar Satpam lainnya, Yudi.

Meski belum rampung, namun keindahan dari masjid ini sudah bisa dinikmati. Bangunan masjid Ramlie Musofa memadukan gaya bangunan khas tiong kok dengan masjid kebanyakan. Beberapa bagian dari bangunannya sangat jelas dipenuhi unsur tiong hoa. Mulai dari dinding, tangga masuk, hingga ornamen di dalamnya.

Di bagian benteng masjid, terpampang potongan ayat dari salah satu surah di dalam kitab suci Al-quran. Uniknya, selain tulisan berbahasa arab dan terjemahannya dengan bahasa Indonesia, aksara Cina juga ikut terpajang. Demikian juga ketika kaki melangkah ke area tempat wudhu pria di bagian depan masjid, yang terletak tak jauh dari tangga menuju pintu masuk rumah Allah ini.

Dinding-dinding di tempat ini dihiasi dengan gambar langkah-langkah berwudhu yang benar. Selain bahasa Indonesia, penjelasan cara berwudhu juga dilengkapi dengan aksara Cina.

“Pak haji memang ingin merangkul semua kalangan, termasuk mualaf Tionghoa yang baru menjadi Muslim, jadi bisa berwudhu dengan benar dengan penjelasan ini,” kata satpam yang telah bertugas sejak masjid ini mulai dibangun empat tahun silam.

Ada dua cara untuk masuk ke bagian dalam masjid. Pertama melalui tempat wudhu menyusuri pintu samping. Kedua, menaiki puluhan anak tangga menuju pintu utama masjid dengan terlebih dulu keluar dari tempat wudhu.

Dengan cara pertama, ruangan yang akan dimasuki bukan langsung tempat Shalat. Melainkan, sebuah ruangan yang tersekat-sekat oleh tembok berpintu, Menurut Yudi, nantinya ruangan ini akan difungsikan sebagai sekretariat masjid. Di sisi kiri dan kanan masjid ini, terdapat elevator yang menghubungkan semua lantai di masjid tersebut.

Masuk ke masjid dengan cara kedua, maka mata akan kembali menangkap karya lintas budaya ketika kaki melangkah di setiap anak tangganya. Di dinding sebelah kiri pembatas tangga menuju pintu masuk masjid, terdapat hiasan kaligrafi surat Al-Fatihah yang ditulis dalam bahasa arab. Terjemahannya, sama seperti yang ada di bagian benteng masjid, selain bahasa Indonesia, aksara Cina juga ikut dituliskan.

Masuk ke dalam ruang ibadah utama, lantai masjidnya menggunakan marmer abu. Terlihat agak kusam karena proses pembangunan yang belum rampung. Meski barang-barang bahan bangunan terlihat di sana-sini, megahnya masjid kaya jendela ini sudah bisa dirasakan.

Ruangan mimbar dihiasi kaca dengan kaligrafi emas terukir di setiap bagiannya. Dari lantai tersebut, bagian dalam kubah berdiameter 10 meter itu juga dihiasi dengan kaligrafi Arab berwarna coklat dan emas.

“Di lantai tiga juga sama seperti ini lantai ini, untuk Shalat, di lantai empat, itu terbuka. Tapi akan jadi ruangan untuk istirahat pak haji. Beliau memang berencana ingin banyak menghabiskan waktu sehari-harinya di masjid,” kata Yudi. | sumber: republika.co.id

Foto: Masjid Ramlie Musofa.@Panoramio

Ini Kata Kapolda Papua Soal Rusuh di Tolikara

Ini Kata Kapolda Papua Soal Rusuh di Tolikara

JAYAPURA – Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Yotje Mende, menuding surat edaran yang dikeluarkan Badan Pekerja Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli, 11 Juli lalu menjadi pemicu aksi spontan yang dilakukan ratusan pemuda GIDI saat membubarkan umat muslim yang sedang melakukan shalat ied. Mereka lalu membakar puluhan kios serta sebuah mushala.

Surat edaran kontroversial yang ditandatangani Pendeta Marthen Jingga dan Pendeta Nayus Wenda tertuang larangan merayakan Idul Fitri di Karubaga karena bertepatan dengan pelaksanaan Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Internasional Pemuda GIDI.

Dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Tolikara, di Karubaga, Sabtu (18/7/2015) siang, kata Yotje, terungkap bahwa Bupati Tolikara, Usman Wanimbo dan Presiden GIDI Pendeta Dorman Wandikbo tidak menyetujui beredarnya surat edaran kontroversial itu. Surat itu adalah inisatif dari Badan Pekerja GIDI Wilayah Toli.

“Karena terlanjur beredar di kalangan peserta KKR, surat itu lalu disalahtafsirkan yang berujung aksi massa pembubaran ratusan umat muslim yang sedang melakukan shalat ied di lapangan Koramil,” ungkap Yotje di Mapolda Papua usai berkunjung ke Karubaga, didampingi Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Mayjen Fransen Siahaan.

Menurut Yotje, dalam pertemuan itu Pendeta Dorman menyampaikan bahwa mereka tidak pernah berniat membakar mushala. Ratusan orang menjadi beringas, karena salah seorang dari mereka ditembak aparat, setelah melempari umat muslim yang sedang shalat.

“Ratusan umat muslim yang ketakutan lalu mencari perlindungan di Markas Koramil. Massa pemuda yang jumlahnya 500-an orang, lalu berhadapan dengan aparat. Karena salah seorang pemuda tertembak aparat, mereka lalu melampiaskan kemarahan dengan membakar rumah kios yang tak jauh dari lapangan. Api dengan cepat menyebar membakar puluhan kios yang terbuat dari kayu. Mushala yang berada dalam deretan kios ikut terbakar,” urai Yotje.

Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama Kabupaten Tolikara, menurut Yotje, semua pihak sepakat untuk berdamai. Untuk kerusakan yang timbul akibat kerusuhan tersebut, Bupati Tolikara, Usman Wanimbo berjanji untuk membangun kembali mushala dan rumah kios yang hangus terbakar dalam kejadian tersebut.

Akibat kerusuhan yang terjadi di Karubaga, Jumat kemarin, 54 rumah kios, sejumlah mobil dan sebuah mushala terbakar. Saat membubarkan amuk massa, 11 orang ditembak aparat Kepolisian dibantu TNI.

“38 KK yang kehilangan rumah dan harta benda saat ini mendiami tenda penampungan yang dibangun di halaman Koramil dan sebagian di halaman Polres. Sementara 11 orang yang mengalami luka tembak, tujuh diantaranya sudah dievakuasi ke RS DOK II Jayapura dan empat lainnya ke RSUD Wamena. Informasi terakhir satu orang meninggal dunia setelah sempat dirawat intensif di RS DOK II Jayapura,” kata Yotje.[] sumber: kompas.com

[Foto]: 6 Masjid Megah di Indonesia, Baiturrahman Urutan Pertama

[Foto]: 6 Masjid Megah di Indonesia, Baiturrahman Urutan Pertama

Ada enam masjid yang dianggap berarsitektur paling menarik di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam.

Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir.

Sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi objek wisata religi yang mampu membuat setiap wisatawan yang datang berdecak kagum akan sejarah dan keindahan arsitekturnya, dimana Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu Masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur yang memukau, ukiran yang menarik, halaman yang luas dengan kolam pancuran air bergaya Kesultanan Turki Utsmani dan akan sangat terasa sejuk apabila berada di dalam Masjid ini.

masjid raya baiturrahmanMasjid Raya Baiturrahman

Yang kedua adalah Masjid Center yang terletak di Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan latar depan berupa tepian Sungai Mahakam. Masjid ini mampu menampung hingga 10.000 jamaah.

masjid megah samarindaMasjid Center (Istimewa)

Yang ketiga adalah Masjid Kubah Emas Depok. Masjid ini merupakan salah satu masjid dunia dengan kubah yang terbuat dari emas. Masjid ini menempatkan luas area 8000 meter persegi. Masjid ini dapat menampung sekitar lebih kurang 20.000 jamaah.

masjid kubah emasMasjid Kubah Emas Depok (Istimewa)

Sedangkan yang ke 4 adalah Masjid Al-Akbar dibangun di atas lahan 11,2 hektare di Surabaya, Jawa Timur dengan gaya arsitektur yang unik dan modern. Masjid Ini mampu menampung jamaah sebanyak 59.000 orang.

Masjid Al-Akbar Masjid Al-Akbar (Istimewa)

Selanjutnya atau yang ke 5 adalah Masjid Rahmatan Lil-Alamin yang dibangun di Kampus Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Masjid ini masih dalam pembangunan dan berukuran 6 heltare serta berlantai 6 dengan kapasitas mencapai 100.000 jamaah.

Masjid-Megah-AlzaitunMasjid Rahmatan Lil-Alamin

Selanjutnya adalah Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara dan didirikan pada tahun 1970-an, serta terletak di Jakarta. Masjid ini diprakarsai oleh Presiden Sukarno serta mampu menampung jamaah hingga 200 ribu.

Masjid IstiqlalMasjid Istiqlal (Istimewa)

Sumber: liputan6.com

Ini Dia Masjid Pertama di Alaska

Ini Dia Masjid Pertama di Alaska

ALASKA – Kota Anchorage yang terletak di Alaska Tengah Selatan berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa. Sedikit memang. Tapi kenyataannya kota ini merupakan kota terpadat di negara bagian Alaska, Amerika Serikat.

Penduduk Alaska berjumlah sekitar 700 ribu jiwa. Di sini Komunitas Muslim di Alaska termasuk baru. Generasi Muslim pertama masuk Alaska sekitar 30 atau 40 tahun lalu. Salah satunya adalah Osama Obeidi, imigran asal Palestina yang menjadi imam masjid di Alaska, Amerika Serikat.

“Ini masjid dan Ramadan pertama kami. Kalau ada dana, Insya Allah kami akan buat tempat salat yang lebih luas,” kata Osama seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, beberapa waktu lalu.

Setelah sekian lama hanya berupa ide, akhirnya pada 2010 pembangunan masjid dimulai. Tak ada bantuan dari negara lain, melainkan sumbangan warga Muslim dari seluruh Amerika.

Azan ini adalah azan salat Jumat pertama yang berkumandang saat bulan Ramadan di Masjid Alaska. Pembangunan masjid berjalan perlahan, baru pada 2015 ini baru seleai separuhnya.

Sejak 3 tahun lalu karena iklim yang ekstrem, fatwa waktu berbuka puasa mengikuti waktu Mekah. Bila ingin mengikuti waktu lokal, maka puasa tahun ini sekitar 21 jam lebih.

Presiden Komunitas Muslim di Anchorage adalah Lamin Jobardeh. Ia menyebut masjid ini sekaligus pemersatu seluruh pendatang muslim. “Saat pertama tinggal di sini, ada 2 musala. Lalu kami memutuskan untuk membuat satu komunitas bersama,” ucap Lamin.

Sejak bulan Ramadan ini, bagi muslim di Alaska terasa lengkap. Ibadah salat wajib dan tarawih bisa dilakukan di masjid.[] sumber: Liputan6.com

Kubah Masjid Bukan Budaya Asli Arsitektur Islam?

Kubah Masjid Bukan Budaya Asli Arsitektur Islam?

KUBAH ternyata bukan berasal dan berakar dari arsitektur Islam. Kubah mulai diperkenalkan pada masjid di Kota Yerussalem. Selanjutnya kubah muncul sebagai penutup bangunan masjid dan menjadi penanda keberadaannya.

Dikutip brilio.net dari buku Sejarah Ibadah karya Syahrudin El Fikri, Rabu (8/7), kubah tidak berakar dari budaya Islam karena pada dasarnya ajaran Islam tidak membawa secara langsung tradisi budaya fisik. Islam tidak mengajarkan secara konkret tata bentuk arsitektur.

Secara historis kubah belum dikenal pada masa Rasulullah Muhammad SAW, sebagaimana dengan menara dan mihrab. Arsitektur terkemuka K Cresswell dalam Early Muslim Architecture mengungkapkan bahwa desain awal Masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah. Dalam rekonstruksi arsitekturnya, Cresswell menyebut betapa sederhananya masjid yang dibangun masa Rasulullah SAW.

Arsitektur awalnya berbentuk segi empat dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya. Sepanjang bagian dalam dinding, dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka yang berada di tengahnya.

Seiring berkembangnya teknologi arsitektur, kubah yang berbentuk separuh bola muncul sebagai penutup masjid. Masjid Qubbat as Sakhrah di Yerussalem menjadi masjid pertama yang menggunakan model kubah. Lalu setelah itu bangunan masjid mulai dilengkapi dengan kubah. Kini, kubah seakan menjadi sesuatu bangunan mutlak masjid.

Setelah adanya Masjid Qubbat as Sakhrah di Yerussalem, para arsitek Islam terus mengembangkan gaya kubah pada masjid yang dibangunnya. Pada abad ke-12 M di Kairo, kubah menjadi semacam lambang arsitektur nasional Mesir dalam struktur masyarakat Islam. Dari masa ke masa bentuk kubah terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi.

Tidak mengherankan juga jika bentuk kubah di berbagai belahan dunia mengalami sedikit perbedaaan karena sesuai dengan budaya masyarakat muslim setempat. Di Indonesia, atap kubah masjid baru dikenal pada akhir abad ke-19 M. Sedangkan di Jawa, gaya tersebut baru muncul pada pertengahan abad ke-20 M.[]

Dewan Ini Kecewa Anggaran Pembangunan Masjid Gayo Dicoret

Dewan Ini Kecewa Anggaran Pembangunan Masjid Gayo Dicoret

TAKENGON – Anggota DPR Aceh, Adam Muhklis Arifin, menyampaikan kekecewaannya atas pencoretan anggaran pembangunan masjid atau meunasah yang diajukan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2015 ini. Pasalnya, pemerintah berpendapat anggaran pembangunan tempat beribadah merupakan kewenangan kabupaten/kota masing-masing.

“Padahal dalam aturan tidak ditentukan adanya pembatasan kewenangan pembangunan tempat ibadah ini,” kata Adam Mukhlis Arifin kepada portalsatu.com, di Takengon, Minggu malam, 28 Juni 2015.

Wakil Komisi V DPR Aceh tersebut mengatakan Pemerintah Aceh tahun ini juga terkesan linglung. Apalagi, kata dia, pencoretan anggaran tersebut telah melanggar janji-janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala berkunjung ke Gayo waktu musibah gempa dulu.

Dia mengatakan tempat ibadah di Gayo seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan pengalokasian anggaran. Pasalnya tempat ibadah di Gayo rusak akibat musibah gempa pertengahan 2013 lalu.

“Ada satu memang yang tidak dicoret, yaitu Masjid Darul Istiqamah di Desa Arul Relem Utara, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, dengan pagu anggaran Rp 100 juta. Pembangunan masjid lain akan kembali kita perjuangkan di anggaran berikutnya,” ujarnya.[](bna)