Tag: mars

NASA Gandeng Pelajar untuk Pembuatan Pesawat Planet Mars

NASA Gandeng Pelajar untuk Pembuatan Pesawat Planet Mars

Planet Mars memang menjadi salah satu penelitian para ilmuwan selama ini, termasuk The National Aeronautics and Space Administration (NASA). Setelah kemarin banyak diperbincangkan mengenai penemuan air di Planet Mars, sekarang NASA sedang bekerja keras merancang pesawat untuk mendarat di Mars.

Beberapa minggu yang lalu, mereka sedang menguji bentuk sayap baru yang akan digunakan untuk Red Planet-bound planes. Tidak hanya ilmuwan dalam saja, NASA juga mengajak beberapa pelajar untuk membantunya mengadakan penelitian desain Aerodinamika atau Prandtl-m aircraft.

Para pelajar tersebut membangun sebuah pesawat berbentuk bumerang yang terbuat dari serat karbon, kemudian diuji dengan ketinggian yang lebih besar di luar ruangan. Namun sayangnya, percobaan ini belum seperti yang diharapkan karena kompleksitas sistem peluncuran.

Salah satu caranya adalah dengan membuat pesawat radio kontrol yang bisa dilakukan untuk penelitian dengan ketinggian yang bisa disesuaikan. Mahasiswa dan NASA Flight Scholars juga membuat modifikasi bentuk sayap dengan bahan-bahan baru menggunakan ilmu aerodinamis agar stabilitas pesawat tetap terjaga.

Banyaknya percobaan dan kesalahan memang bagian dari setiap program ini. Namun jika suatu saat berhasil, kita bisa mendapatkan informasi berharga mengenai lokasi pendaratan di Planet Mars untuk dieksplorasi lebih jauh. | sumber : merdeka

Foto: Pembuatan pesawat ke planet Mars. ©2015 engadget.com

Misteri Mars Terungkap: Air Mengalir,Inikah Tanda Kehidupan?

Misteri Mars Terungkap: Air Mengalir,Inikah Tanda Kehidupan?

Jakarta – Air asin mengalir di Mars selama bulan-bulan musim panas, meningkatkan kemungkinan bahwa planet yang sekian lama dikira kering itu bisa mendukung kehidupan sekarang, kata ilmuwan yang menganalisis data dari pesawat Badan Antariksa Amerika Serikat, Senin (28/9).

Meski sumber air dan bahan kimianya belum diketahui, temuan itu akan mengubah pemikiran para ilmuwan tentang apakah planet paling mirip Bumi di sistem tata surya itu memiliki tempat hidup mikrobia di bawah kerak radiasinya.

“Itu menunjukkan bahwa itu sekarang Mars memungkinkan untuk kehidupan,” kata John Grunsfeld dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tentang hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience.

“Mars tidak kering, planet kering yang kita kira pada masa lalu. Dalam kondisi tertentu, air cair ditemukan di Mars,” kata Jim Green, direktur ilmu planet NASA.

Tapi NASA tidak akan terburu-buru mencari residu air asin baru yang ditemukan.

“Jika saya mikroba di Mars, Saya mungkin tidak akan tinggal di salah satu (tempat) ini. Saya akan tinggal lebih jauh ke utara atau selatan, cukup jauh di bawah permukaan dan di mana lebih banyak gletser air segar. Kami hanya menduga tempat-tempat itu ada dan kami punya beberapa bukti ilmiah bahwa mereka ada,” kata Grunsfeld.

Aliran air itu ditemukan ketika para ilmuwan mengembangkan teknik baru untuk menganalisis peta bahan kimia permukaan Mars yang didapat oleh pesawat pengintai Mars Reconnaissance Orbiter NASA.

Mereka menemukan petunjuk jejak garam yang terbentuk hanya dengan keberadaan air di lintasan sempit yang memotong dinding tebing di seluruh kawasan ekuatorial planet itu.

Lereng yang keberadaannya pertama dilaporkan tahun 2011 itu muncul selama bulan-bulan musim panas yang hangat di Mars, kemudian menghilang ketika suhu turun. Jejak bahan kimia dari mineral-mineral yang terhidrasi juga demikian menurut hasil studi itu.

Para ilmuwan menduga lapisan yang disebut lereng berulang lineae (Recurring Slope Lineae/RSL) dipotong oleh aliran air tapi sebelumnya tidak bisa melakukan pengukuran.

“Saya kira tidak ada harapan,” kata Lujendra Ojha, mahasiswa Georgia Institute of Technology dan penulis utama makalah ilmiah itu kepada kantor berita Reuters.

Mars Reconnaissance Orbiter melakukan pengukuran selama hari-hari terpanas di Mars karenanya para ilmuwan yakin jejak air apapun, atau jejak mineral terhidrasi, akan menguap.

Instrumen pengindera bahan kimia di pesawat tidak bisa membawa pulang data-data detail seperti lintasan sempit yang lebarnya biasanya kurang dari lima meter.

Tapi Ojha dan koleganya membuat program komputer yang bisa meneliti secara cermat piksel-piksel individual.

Data itu kemudian dihubungkan dengan gambar-gambar beresolusi tinggi dari lintasan-lintasan itu. Para ilmuwan berkonsentrasi pada lintasan terluas dan menghasilkan 100 persen kecocokan dengan lokasi mereka dan deteksi garam-garam terhidrasi.

Temuan itu “mengonfirmasi bahwa air berperan penting dalam fitur ini” menurut ilmuwan planet Alfred McEwen dari University of Arizona.

Air untuk Kehidupan

Masih belum diketahui apakah mineral-mineral itu menyerap uap air langsung dari atmosfer tipis Mars, atau apakah ada sumber es yang meleleh di bawah permukaan.

Apapun sumber dari air itu, prospek keberadaan air cair, bahkan jika itu musiman, meningkatkan prospek menarik bahwa Mars, yang dikira planet dingin dan mati, bisa mendukung kehidupan sekarang.

Namun demikian, McEwen mengatakan, lebih banyak informasi mengenai bahan kimia air akan diperlukan sebelum para ilmuwan bisa melakukan penilaian itu.

“Tidak selalu bisa dihuni hanya karena ada airnya, setidaknya bagi organisme terestrial,” katanya.

Prospek air, bahkan air yang sangat asin dan bertali bahan kimia, juga punya implikasi pada misi masa depan manusia ke Mars. Tujuan NASA adalah mendaratkan astronot Amerika Serikat di Mars pertengahan 2030an.

“Mars punya sumber daya yang berguna untuk pejalan masa depan,” kata Grunsfeld.

“Air sangat penting karena kita memerlukan air untuk minum, oksigen untuk bernafas.”

Air juga bisa dipecah menjadi molekul hidrogen dan oksigen untuk membuat bahan bakar roket yang diperlukan untuk menerbangkan awak kembali ke Bumi.

Bukti bahwa ada air di planet itu musim panas lalu dan selama beberapa musim sebelumnya merupakan temuan kunci dalam hasil studi yang dipublikasikan Senin.

Kendaraan robotik Curiosity milik NASA yang menjelajahi Mars sudah menemukan bukti bahwa semua bahan dan lingkungan yang cocok untuk kehidupan mikroba ada pada beberapa titik pada masa lalunya.

Para ilmuwan sudah berusaha mencari tahu bagaimana Mars berubah dari planet hangat dan basah seperti Bumi pada awal sejarahnya menjadi planet dingin dengan gurun kering yang ada sekarang.

Miliaran tahun lalu, Mars, yang kekurangan medan magnet global pelindung, kehilangan banyak atmosfernya.

Beberapa inisiatif sedang dilakukan untuk menentukan berapa banyak air planet itu yang terlucuti dan berapa banyak yang terkunci dalam es di waduk bawah tanah. | sumber: tempo.co

Foto Garis-garis sepanjang 100 meter terlihat di permukaan Planet Mars dalam foto yang diambil perangkat Mars Reconnaissance Orbiter. Ilmuwan NASA menyatakan ini merupakan bukti adanya aliran air di Planet tersebut pada 28 September 2015. NASA/JPL/University of Arizona via AP

Kisah Suami yang Ditinggal Istri ke Mars

Kisah Suami yang Ditinggal Istri ke Mars

SONIA van Meter memutuskan ikut berpartisipasi dalam proyek kontroversial, Mars One Mission. Padahal wanita itu memiliki keluarga bahagia, seorang suami dan dua orang anak.

Sebagai suami dari wanita yang akan menjadi kelompok pertama terbang ke Mars, Jason Standford mengaku telah mempersiapkan segalanya, termasuk perasaan dan hatinya. Dia mengaku mendukung keputusan sang istri meninggalkan bumi 11 tahun lagi, termasuk menerima kenyataan jika sang istri tidak memiliki peluang untuk kembali ke bumi.

Misi Mars One memang telah memilih beberapa orang yang masuk dalam kelompok pertama yang akan menghuni planet di luar bumi. Kelompok ini dijadwalkan terbang ke Mars pada 2026 dan kemungkinan tidak akan kembali ke bumi. Jika berhasil mencapai Mars, mereka akan menjadi manusia pertama yang berdiam di Mars.

“Yang menjadi pertimbangan saya untuk mendukungnya, istri saya akan menjadi bagian dari pengalaman besar manusia. Bahkan dia akan menjadi bagian dari perubahan. Tidak hanya perubahaan bagi saya tapi juga seluruh umat manusia. Jika misi ini sukses, membangun koloni yang berkelanjutan di planet lain akan mengubah sejarah manusia yang bisa melebarkan sayap ke luar planet lain,” ujar Stanford, seperti dikutip dari Mirror.co.uk, Selasa 4 Agustus 2015.

Misi Mars One berencana untuk menerbangkan manusia ke Mars secara bertahap, yakni empat orang setiap penerbangan setiap dua tahun. Misi ini dianggap sangat kontroversial mengingat para awaknya bukanlah astronaut.

Sonia merupakan satu dari 100 manusia yang dipilih Mars One. Jumlah itu diseleksi berdasarkan angka pendaftar yang diklaim berjumlah 200.000 orang. Mantan ilmuwan NASA, yang memutuskan keluar dari proyek ini pada Maret lalu, Dr. Joseph Roche, membantah jumlah itu dan mengatakan bahwa sebenarnya hanya ada 3.000 orang mendaftar.

Banyak hal yang menjadi perdebatan dari misi ini. Apalagi perjalanan selama 253 hari dari bumi ke Mars akan dipenuhi dengan paparan radiasi tinggi.[] sumber: viva.co.id