Tag: mapesa

Pemerintah Diminta Observasi Temuan Situs-situs Sejarah Aceh

Pemerintah Diminta Observasi Temuan Situs-situs Sejarah Aceh

BIREUEN – Pemerintah Aceh diminta untuk mengobservasi temuan-temuan sejarah oleh masyarakat gampong agar bisa menjadi destinasi wisata baru di Aceh. Selain itu, pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh juga diminta untuk membenahi situs-situs yang bisa menjadi museum sejarah bagi generasi muda di masa depan.

Hal ini disampaikan Fanny Safrizal, SH, salah satu guru SMA Sukma Bangsa Bireuen kepada portalsatu.com, Minggu, 3 Mai 2015. Ia menyampaikan hal tersebut setelah mengadakan field trip bersama 58 siswa dan dua guru SMA Sukma Bangsa Bireuen di sejumlah situs sejarah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Siswa menemukan sesuatu hal yang baru tentang sejarah Aceh, yang tidak didapat di buku pelajaran. Mereka juga akhirnya mengetahui adanya sejarah kerajaan-kerajaan kecil di Aceh yang kemudian menjelma menjadi Kerajaan Aceh Darussalam,” katanya.

Ia mengatakan kunjungan ke situs sejarah tersebut merupakan salah satu program kurikulum 2013 berbasis class project. “Ini merupakan salah satu cara pembelajaran dalam kurikulum 2013,” ujarnya.

Menurut Fanny, program seperti yang dilakukannya bersama siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen dan Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh tersebut patut dicontoh oleh sekolah lain. Pasalnya, kata dia, banyak sejarah di Aceh yang tidak tercouver dalam pelajaran sekolah sehari-harinya.

“Tentu saja kami berharap menjadi motivator untuk sekolah di Aceh,” katanya.

Di sisi lain, Fanny juga meminta agar pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh ikut melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Sehingga, kata dia, siswa-siswa yang melakukan class project tidak harus bertandang ke Banda Aceh dan Aceh Besar saja.

“Banyak situs-situs sejarah temuan masyarakat gampong yang belum dirawat yang bisa menjadi laboratorium sejarah bagi siswa. Sebut saja contohnya seperti temuan kerangka manusia pra sejarah di Loyang Mendale, Aceh Tengah. Para siswa kami juga berharap adanya kunjungan serupa di wilayah mereka dalam hal ini kabupaten Bireuen. Intinya, kami ingin Pemkab seluruh Aceh itu mengenalkan wisata sejarah masing-masing untuk memudahkan siswa melakukan kegiatan-kegiatan seperti yang kami lakukan,” katanya.

Hal senada disampaikan Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com secara terpisah. Ia mengatakan perjalanan yang dilakukan para siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen tersebut sangat berharga karena langsung mengenali Aceh lewat tinggalan sejarahnya.

“Ya seperti sekolah di lapangan kata para siswa. Namun sangat disayangkan banyak makam para tokoh sejarah yang belum dirawat oleh pemerintah kita. Seperti halnya situs Lamuri di Lamreh, siswa juga mengeluhkan sulitnya akses menuju lokasi dan banyak makam-makam bernilai sejarah di sana yang terbengkalai,” ujar Mizuar.

Ia mengatakan selama field trip tersebut, para siswa didampingi oleh Deddy Satria, arkeolog independen lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) yang selama ini intens meneliti situs sejarah di Aceh. Selain itu, Mapesa juga ikut mendampingi class project yang dilaksanakan siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen ini selama dua hari.

“Kita berharap apa yang dilakukan siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen ini bisa menjadi contoh bagi sekolah lain di Aceh,” kata Mizuar.

Sebelumnya diberitakan, Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) bersama 58 siswa SMA Sukma Bireuen bakal mengunjungi situs-situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan Lamuri sejak Jumat, 1 Mai 2015. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 2 Mai 2015.

“Situs Aceh Darussalam yang akan diziarahi adalah makam Perdana Menteri Seri Udahna, Syaikh Muhammad, kompleks pemakaman kesultanan Aceh Darussalam atau Po Temeurhom Ilie, makam Sultan Manshur Syah, Kandang XII, Kherkhof dan diakhiri di Gampong Pande,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Kamis, 30 April 2015.

Ia mengatakan rombongan juga akan melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman sebelum mendatangi kompleks makam Sultan Manshur Syah.

Di hari Sabtu, rombongan akan kembali melakukan napak tilas ke situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Menurut Mizuar, lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Selanjutnya rombongan akan mendatangi makam Sultan Muhammad bin Malik Alauddin, makam Malik Alauddin yang nisannya bentuk stupa, makam Malik Muhammad Syah, makam Nina Mahajirin, makam Muziruddin.

“Kami juga akan mengunjungi makam bertarikh 866 H, makam Sultan Muhammad Syah Lamuri. Kemudian makam siang di kompleks Makam Laksamana Malahayati, pulang shalat asar di mesjid Lamprit kemudian pukul 16.30 Wib diakhiri dengan diskusi khusus di aula BPNB Banda Aceh,” ujarnya.[]

Keterangan foto: Arkeolog independen, Deddy Satria, sedang mendampingi siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen di salah satu makam sultan Aceh. Sumber foto: Tim Mapesa.

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

BANDA ACEH – Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) bersama 58 siswa SMA Sukma Bireuen bakal mengunjungi situs-situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan Lamuri sejak Jumat, 1 Mai 2015. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 2 Mai 2015.

“Situs Aceh Darussalam yang akan diziarahi adalah makam Perdana Menteri Seri Udahna, Syaikh Muhammad, kompleks pemakaman kesultanan Aceh Darussalam atau Po Temeurhom Ilie, makam Sultan Manshur Syah, Kandang XII, Kherkhof dan diakhiri di Gampong Pande,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Kamis, 30 April 2015.

Ia mengatakan rombongan juga akan melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman sebelum mendatangi kompleks makam Sultan Manshur Syah.

Di hari Sabtu, rombongan akan kembali melakukan napak tilas ke situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Menurut Mizuar, lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Selanjutnya rombongan akan mendatangi makam Sultan Muhammad bin Malik Alauddin, makam Malik Alauddin yang nisannya bentuk stupa, makam Malik Muhammad Syah, makam Nina Mahajirin, makam Muziruddin.

“Kami juga akan mengunjungi makam bertarikh 866 H, makam Sultan Muhammad Syah Lamuri. Kemudian makam siang di kompleks Makam Laksamana Malahayati, pulang shalat asar di mesjid Lamprit kemudian pukul 16.30 Wib diakhiri dengan diskusi khusus di aula BPNB Banda Aceh,” ujarnya.[] (bna)

Mapesa Temukan Pecahan Meriam di Jirat Teungku Puteh

Mapesa Temukan Pecahan Meriam di Jirat Teungku Puteh

BANDA ACEH – Tim Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) menemukan pecahan logam yang diduga meriam berukuran kecil 4×6 centimeter, saat membersihkan kompleks makam Jirat Teungku Puteh di Lamlagang, Banda Aceh, Minggu, 19 April 2015.

“Berdasarkan bentuk pencahannya, diduga berasal dari pecahan meriam. Pecahan tersebut berukuran kecil 4×6 cm,” ujar arkeolog lulusan UGM, Deddy Satria seperti rilis yang dikirim Mapesa, Senin, 20 April 2015.

Selain itu, Tim Mapesa juga menemukan banyak pecahan keramik dan gerabah di kompleks makam ini. Menurut Deddy, temuan ini sangat tidak lazim berada di kompleks makam karena biasanya tersebar di pemukiman penduduk.

“Banyak ditemukan pecahan keramik yang tidak lazim, di antaranya pecahan gerabah Aceh warna merah. Tidak lazim ditemukan di kompleks pemakaman, biasa benda ini ditemukan di pemukiman.

“Benda yang dimaksud berbentuk kaki tiga (tripod) yang biasanya digunakan di dapur sebagai peralatan memasak,” katanya.

Temuan lain di lokasi meuseuraya ini adalah pecahan tembikar India dan pecahan keramik Cina dari Dinasti Qing. Keramik ini adalah jenis porselin warna biru putih yang sangat khas dari abad 18 hingga abad 19 M.

“Juga ditemukan pecahan keramik Eropa jenis piring 4 warna, biasa diproduksi di Amsterdam, Belanda abad 19 Masehi,” katanya.

Kompleks makam Jirat Teungku Puteh ditemukan pada 2010 oleh Mapesa dan dilakukan pengamatan awal bersama arkeolog Deddy Satria pada 2012 lalu. Sedikitnya terdapat sembilan dari 13 makam yang masih utuh di lokasi tersebut. Kompleks makam Teungku Jirat Puteh ini hanya berjarak 300 meter di sebelah selatan Masjid Assadaqah, Lamlagang.

Deddy Satria mengatakan secara motif, gaya bentuk nisan serta kaligrafi berhias berasal dari periode pertengahan kedua abad 16 Masehi. Gaya yang sangat spesifik dari nisan bersayap dan nisan sayap terpotong di kompleks makam ini.

“(Nisan seperti ini) lazim ditemukan di Gampong Ilie, Lamteh dan Pango Kecamatan Ulee Kareng yang merupakan nisan penanda kubur pembesar Kesultanan Aceh Darussalam abad 16 Masehi,” ujarnya.

Meuseuraya MapesaMenurut Deddy, salah satu nisan bersayap di kompleks ini melalui inskripsi yang dipahat memuat nama Abdullah. Makam milik Abdullah sangat istimewa dan ini diketahui dari seluruh bagian nisan terpahat ornamen serta kaligrafi indah.

“Motif-motif yang digunakan sangat beragam, yaitu Arabesk atau motif bunga bergulung-gulung saling beranyaman daun serta bunga yang memenuhi seluruh tangkai-tangkainya. Seni hias atau ornamen hiasan khufi,” katanya.

Pemahat menggunakan garis-garis sangat halus di nisan ini. Artinya, kata Deddy, dalam teknik pahat merupakan sebuah karya yang sangat teliti serta motif-motif yang dipahat timbul, jarang ditemukan pada nisan lain di Aceh.

“Seolah-olah pemahat ingin menunjukkan keahliannya dalam tekhnik seni pahat,” ujarnya.

Selain itu, di kompleks makam tersebut juga terdapat sebuah nisan berukuran besar. Namun nisan ini memiliki seni pahat dan mutu kurang baik. “Seakan-akan dipahat dengan tergesa-gesa atau seadanya. Bahkan ada bagian-bagian yang tidak terselesaikan, tidak diisi dengan hiasan dan kaligrafi (polos),” katanya.

“Dan ini menjadi pertanyaan menarik kenapa nisan ini tidak diselesaikan, karena posisi nisan ini berada pas di tengah kompleks makam (diapit oleh nisan lainnya) serta ukuran yang lebih besar dari nisan lainnya. Keistimewaan yang ketiga lahan makam dipersiapkan sedemikian rupa, dengan menimbun atau mempertinggi lahan hingga 70 cm,” katanya.[]

Mengenal Duta Nisan Aceh: Mizuar Mahdi

Mengenal Duta Nisan Aceh: Mizuar Mahdi

MIZUAR Mahdi menggesek layar iPhone di genggamannya. Tak lama, ia kemudian menunjukkan beberapa koleksi foto nisan yang ada di Aceh, Selasa, 7 April 2015.

“Ini yang saya maksudkan tadi. Nisan yang diduga milik Sultan Iskandar Muda,” ujar pria berkulit putih itu kepada portalsatu.com petang itu.

Mizuar telah bilangan tahun berkutat dengan nisan-nisan bernilai sejarah di Aceh. Saban akhir pekan, warga Bitai, ini selalu terlibat membersihkan kompleks makam bernilai sejarah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia bersama rekan-rekannya dari Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) intens menjaga dan bahkan melacak sejarah Aceh melalui ukiran kaligrafi di batu nisan.

“Nisan menjadi sumber otentik untuk sejarah Aceh. Banyak pengetahuan baru yang bisa kita temukan dari batu nisan yang tidak ditemukan dalam hikayat maupun dokumen sejarah,” ujarnya saat ditemui di Warung Kopi SMEA.

Ketekunannya melacak dan membersihkan makam para indatu Aceh tersebut akhirnya membuat komunitas pecinta sejarah setempat menabalkan Mizuar sebagai Duta Nisan Aceh. “Itu ulah kawan-kawan, dimusyawarah keudroe ih (musyawarah sendiri mereka) kemudian dipropaganda ke media. Namun sebenarnya, tujuannya (Duta Nisan) untuk menggugah publik saja untuk mencintai peninggalan-peninggalan sejarah Aceh,” katanya menjelaskan alasan adanya gelar Duta Nisan yang ditabalkan padanya.

Menurut Mizuar, Duta Nisan tersebut juga bertujuan untuk mengajak orang-orang Aceh untuk memperhatikan nisan-nisan bernilai sejarah yang banyak tersebar di daerah ini. “Duta Nisan ini bukan untuk memperkenalkan saya ke mata publik, tapi untuk memperkenalkan warisan leluhur, yang menarik dari nisan ini apa? Sebenarnya lucu saya dinobatkan sebagai Duta Nisan Aceh karena ada orang yang lebih dahulu bergerak menyelamatkan nisan-nisan Aceh. Deddy Satria salah satunya,” kata pria kelahiran 1988 ini.

Mizuar menceritakan keikutsertaannya di Mapesa sejak tahun 2011. Saat itu, ia kerap menziarahi makam-makam para raja-raja Aceh bersama rekan-rekannya di Mapesa. Kegiatan ini kemudian mulai berubah saat Mizuar mengenal Deddy Satria. Sebagai arkeolog, Deddy kerap meneliti nisan-nisan dan tembikar yang ada di Aceh. “Jadi hasil penelitian itu saya posting ke grup facebook Mapesa,” kata lulusan DIII LP3I Politeknik Medan ini.

Mizuar mengaku tidak mempunyai basic apapun di bidang sejarah atau arkeologi meski selama ini kerap berkutat dengan dunia tersebut. Ia merunut riwayat pendidikannya yang dimulai dari SD 59 Bitai, kemudian melanjutkan ke SMP MTsN Meuraxa, dan mengenyam pendidikan di MAN 2 Banda Aceh sebelum kuliah di LP3I. “Jadi saya memang tidak mengerti dengan sejarah, tapi saya mencintainya dan ingin menjaga itu,” ujarnya.

Ia juga mengaku tidak memiliki garis keturunan bangsawan atau raja-raja Aceh. “Tidak, saya bukan siapa-siapa. Hanya orang biasa. Namun kalau menurut cerita ayah saya dulu, salah satu leluhur saya adalah panglima. Namanya Panglima Abu yang kini dijadikan nama salah satu jalan di Bitai,” katanya.

Mizuar mengatakan hubungan darah dengan Panglima Abu tersebut bukan alasan membuatnya saban Minggu melaksanakan kerja bakti membersihkan nisan-nisan kuno di Aceh. “Tanyoe beutoi-beutoi ta meubut nyoe (kita ikhlas. Salah satu jih untuk mengembalikan kegemilangan Kerajaan Aceh tempo dulu,” kata yatim piatu korban tsunami ini.[]

[FOTO]: Nisan Kuno Abad ke-17 di Aceh Besar

[FOTO]: Nisan Kuno Abad ke-17 di Aceh Besar

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) siang kemarin melakukan gotong royong atau meuseuraya di kompleks Jirat Raya di Gampong Lam Roh, Kecamatan, Kuta Baro Aceh Besar, Minggu, 5 April 2015.(Baca: Mapesa Bersihkan Kompleks Makam Abad ke-17 di Aceh Besar)

Berikut foto-fotonya:

mapesa di lam roh-1-1@istPenamaan Jirat Raya merujuk pada dua makam yang ukurannya lebih besar, dan terlihat tidak lazim dibandingkan ratusan nisan lainnya yang ada di kawasan itu.

mapesa di lam roh-3-3@istMakam dihiasi ragam ornamen serta kaligrafi. Pada bagian-bagian tertentu dilapisi oleh lak (sejenis plitur) yang berasal dari getah damar atau bahan sejenis

mapesa di lam roh-6-6@istArkeolog Dedy Satria, menjelaskan berdasarkan bentuk dan gaya, kedua nisan berbadan besar ini berasal dari periode pertengahan akhir abad ke-17-18 Masehi

mapesa di lam roh-8-8@istSumur berbentuk persegi delapan (astakona), simbol sangat khusus bagi masyarakat Asia Tenggara.

mapesa di lam roh-9-9@istKeramik Vietnam, Kamboja, dan Thai warna putih coklat. Ada juga porselen dari Cina spesifik biru putih dari Dinasti Qing periode abad ke-17-18 Masehi.[ihn]

Mapesa Bersihkan Kompleks Makam Abad ke-17 di Aceh Besar

Mapesa Bersihkan Kompleks Makam Abad ke-17 di Aceh Besar

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) siang kemarin melakukan kegiatan gotong royong atau meuseuraya di kompleks Jirat Raya di Gampong Lam Roh, Kecamatan, Kuta Baro Aceh Besar, Minggu, 5 April 2015.

Menurut keterangan warga setempat penamaan Jirat Raya merujuk pada dua makam yang ukurannya lebih besar, dan terlihat tidak lazim dibandingkan ratusan nisan lainnya yang ada di kawasan itu.

Koordinator kegiatan, Mizuar Mahdi, membenarkan hal tersebut. Sejak 2014 lalu pihaknya sudah mensurvey untuk melacak penyebaran nisan di desa yang berada sekitar tiga kilometer dari arah timur Darussalam itu.

“Dari ratusan sebaran nisan,  kita menemukan dua nisan makam  berbadan yang berukuran besar dengan tinggi satu meter hingga satu setengah meter dengan dihiasi ragam ornamen serta kaligrafi,” ujar Mizuar kepada portalsatu.com.

Kondisi kompleks makam itu sangat memprihatinkan, ditutupi semak belukar yang lebat. Hampir selurun nisannya telah terbenam tanah serta sebagiannya telah patah. “Kami mengharapkan kepada dinas terkait untuk segera memugar kompleks makam ini, serta didaftarkan sebagai situs cagar budaya, agar kemudian situs-situs yang bernilai sejarah tinggi ini bisa terlestarikan serta pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Mizuar.

Arkeolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Deddy Satria, menjelaskan berdasarkan bentuk dan gaya, kedua nisan berbadan besar ini berasal dari periode pertengahan akhir abad 17-18 Masehi. Pada kedua makam dihiasi ragam ornamen serta kaligrafi. Pada bagian-bagian tertentu dilapisi oleh lak (sejenis plitur) yang berasal dari getah damar atau bahan sejenis.

“Bahan ini biasa digunakan untuk perabot (furniture), ini merupakan makam tokoh istimewa, hanya pada makam tokoh-tokoh tertentu yang pada makamnya dilapisi oleh lak, seperti di Kompleks Makam Kandang XII, Poteumeureuhom Ilie, makam di Gampong Pande dan Syaikh Mahmud di Suka Ramai Banda Aceh. Tentunya tokoh ini ada hubungannya dengan istana, ini dikuatkan lewat inskripsi yang terpahat pada nisannya yang menyebutkan gelar Maha Raja,” kata Dedy yang mengatakan bahwa ini baru hasil analisa amatan awal.

Selain makam, kata Deddy, juga ditemukan sisa pemukiman berupa keramik Vietnam, Kamboja, dan Thai warna putih coklat. Ada juga porselen dari Cina spesifik biru putih dari Dinasti Qing periode abad 17-18 Masehi.

Kemudian juga ditemukan sumur kuno di bekas meunasah tua. Sumur tersebut terbuat dari batu semen kapur campuran pasir, tinggi 40 diameter 60 centimeter, tebal cincin bagian bibir  40 centimeter. Bentuknya berupa persegi delapan (astakona), simbol sangat khusus bagi masyarakat Asia Tenggara serta ditempel pecahan-pecahan tembikar Aceh yang dijadikan sebagai material.

“Yang menariknya dihiasi pada tiap segi dengan hiasan permata, motif serupa ada pada Gunongan di Banda Aceh. Lokasi makam serta pemukiman ini sangat strategis karena berada tepat di sebuah bukit yang berdekatan dengan alue Lam Roh,” ujar Dedy.[](ihn)

Mapesa: Perlu Keseriusan Mewujudkan Banda Aceh WIT

Mapesa: Perlu Keseriusan Mewujudkan Banda Aceh WIT

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mendukung program pemerintah untuk menjadikan Banda Aceh WIT (World Islamic Tourism) yang diluncurkan di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2015.

Sekretaris Mapesa yang juga Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi, mengatakan program Banda Aceh WIT tersebut merupakan langkah positif dalam mengembangkan wisata Banda Aceh yang berbasis islami. Apalagi Banda Aceh, menurut Mizuar, merupakan salah satu kota peradaban Islam di Asia Tenggara di zaman lampau.

“Ini sangat luar biasa, awal yang baik untuk Banda Aceh yang memiliki bukti-bukti  jejak peradaban Islam seperti masjid, benteng, makam-makam tua dan artefak-artefak lainnya,” kata Mizuar.

Mizuar menegaskan, untuk mewujudkan Banda Aceh WIT, pemko sebaiknya mengadakan penelitian dan kajian dengan melibatkan multi disiplin ilmu untuk mengetahui sejarah Banda Aceh secara utuh.

“Wisata islami harus didasari pada fakta sejarah, berbeda dengan wisata alam yang hanya menjual pesona dan keindahan alamnya saja. Selain itu, kelestarian situs sejarah juga hal yang harus diutamakan,” ujar Mizuar yang selama ini aktif menyosialisasikan pentingnya melestarikan situs sejarah.

Menurutnya, makam-makam yang tersebar dan sebagian ditelantarkan di Banda Aceh mempunyai nilai seni yang sangat tinggi dengan nisannya berukir ayat-ayat  Alquran, syair-syair, kalimat tauhid, dan ornamen-ornamen indah. Pihaknya mengharapkan pemerintah serius dalam mewujudkan program Banda Aceh WIT dengan mendata dan melestarikan semua situs sejarah yang ada di kota Banda Aceh.

“Ini bukti peradaban Islam yang luar biasa yang menjadi modal Banda Aceh mewujudkan WIT. Sudah sepantasnya ini didaftarkan ke UNESCO sebagai situs sejarah warisan dunia,” ujar Mizuar.[]

Ada Makam Keluarga Istana Kerajaan Aceh di Lueng Bata

Ada Makam Keluarga Istana Kerajaan Aceh di Lueng Bata

BANDA ACEH – Arkeolog independen lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Deddy Satria, menyebutkan salah satu nisan di kompleks makam tua yang berada di Jalan Kiwi Gampong Suka Damai, Lueng Bata, Banda Aceh, memiliki keterkaitan dengan keluarga istana Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini disampaikan Deddy setelah mengikuti meuseuraya bersama Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) di desa tersebut pada Minggu, 29 Maret 2015.

“Ditinjau berdasarkan gaya atau bentuk nisan, nisan-nisan ini bertipologi Aceh Darussalam dari periode abad ke- 16 M akhir,” ujarnya.

Salah satu nisan tersebut adalah milik Syaikh Mahmud yang berbentuk balok. “(Nisan berbentuk balok) tidak lazim digunakan untuk makam seorang ulama. Selama yang diketahui, baru di Indrapuri yang ditemukan sebuah makam ulama dengan nisan balok. Nisan berbentuk balok lazim digunakan untuk para sultan, bangsawan dan pembesar istana,” kata Deddy.

Masih menurut Deddy Satria, khat yang digunakan pada makam Syaikh Mahmud ini adalah khat “Tsulust – Naskhi” dan ini biasanya digunakan pada nisan lingkungan istana. Selain itu, kata Deddy, yang membuat nisan Syaikh Mahmud ini istimewa adalah pada ukiran khat-nya dilapisi dengan lak (sejenis plitur) yang berasal dari getah damar atau bahan sejenis. Bahan ini biasa digunakan untuk perabot (furniture).

nisan lueng bata1“Sejauh yang diketahui selama ini, lapisan lak seperti ini ditemukan pada makam di Kandang XII, makam kerajaan Aceh di Gampong Pande, dan Makam Po Teumeureuhom Meukuta Alam di Gampong Illie Ulee Kareng. Bisa dikatakan Syaikh Mahmud ini salah seorang dari lingkungan istana,” ujarnya.

Deddy mengatakan, dari lokasi diduga kompleks makam ini memiliki keterkaitan dan hubungan dengan kompleks Po Teumeureuhom Meukuta Alam Gampong Illie, kompleks makam Syaikh Muhammad di Pango Raya, kompleks makam Al Wazir Seri Udahna di Illie dan kompleks makam kerajaan Aceh lainnya di sekitar Pango, Illie serta Lamteh.

Epigraf Islam lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir, Teungku Taqiyuddin berhasil menginskripsi nisan Syaikh Mahmud. Menurutnya Syaikh Mahmud wafat pada tahun 999 H. “Kalau dikonversi ke masehi tahun 1591,” ujarnya.

Koordinator meuseuraya Mapesa, Rahmat Akbar mengatakan kegiatan ini adalah salah satu usaha Mapesa mensosialisasikan pentingnya pelestarian nisan Aceh untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan sejarah kebudayaan Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

“Mapesa mengharapkan kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat nisan Aceh ini dari hal-hal yang mengakibatkan rusaknya Benda Cagar Budaya. Seperti mengasah parang pada nisan, dan sebagainya. Karena nisan ini adalah bukti peradaban Islam di Aceh dan Nusantara,” katanya.

Mapesa juga berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh lebih serius melestarikan dan mengembangkan bukti peradaban Islam yang ada di daerah tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengungkap jati diri dan identitas Aceh yang sebenarnya dengan landasan Islam.

“Selain itu, kompleks makam ini bisa dijadikan kawasan wisata Islami dan objek penelitian Islam di Asia Tenggara,” katanya.[]