Tag: mapesa

Siswa Pidie Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh

Siswa Pidie Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh

BANDA ACEH – Sebanyak 20 siswa dari beberapa sekolah di Kabupaten Pidie akan melakukan wisata napak tilas mencari jejak sejarah Aceh, yang dipandu oleh lembaga Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Minggu, 10 Mei 2015. Koordinator kegiatan, Masykur mengatakan semua siswa yang ikut merupakan anggota Komunitas Remaja Peduli Sejarah Aceh (KOREPESA).

“Kedua puluh siswa tersebut masing-masing satu orang siswa SMAN 1 Sigli, dua orang siswa SMP Yayasan Pendidikan Pembinaan Ummat (SMP YPPU) Sigli dan 17 orang siswa MAN Beureuneuen,” ujar Masykur yang juga merupakan Ketua KOREPESA.

Masykur yang saat ini mengikuti jejak Tarmizi A. Hamid sebagai kolektor manuskrip mengatakan kegiatan tersebut adalah program KOREPESA yang semua biayanya ditanggung peserta.

“Program ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melihat langsung bukti sejarah Aceh yang selama ini para remaja kurang tertarik akan hal ini,” kata Masykur.

Di sisi lain, Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan siswa yang tergabung dalam KOREPESA nantinya akan mengunjungi Museum Rumoh Aceh dan beberapa kompleks makam jejak sejarah Aceh.

“Komplek makam  Baitur-rijal (Kandang XII) dan kompleks makam Kherkhoff Peutjut adalah lokasi yang akan kami prioritaskan untuk dikunjungi. Mengingat kompleks makam Baitur-rijal adalah bukti Aceh mencapai puncak kejayaan, sedangkan kompleks makam Kerkhoff Peutjut adalah bukti kehancuran Aceh setelah diperangi oleh Belanda pada tahun 1873,” kata Mizuar.

Selain KOREPESA, sebelumnya Desember 2014, SMAN 5 Lhoksumawe dan awal Mei 2015, SMA Sukma Bangsa Bireuen juga melakukan napak tilas ke situs-situs sejarah di Aceh.

Mizuar mengatakan kegiatan napak tilas tersebut merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

“Inilah bukti bahwa warisan budaya juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang di kemudian hari akan menjadi salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi pemerintah Aceh jika dikelola dengan baik,” kata Mizuar.[]

Aceh, Kisah Kegemilangan yang Tercecer

Aceh, Kisah Kegemilangan yang Tercecer

KEMARIN kami meluncurkan sebuah program baru yaitu kajian dwimingguan bertajuk KIPaS atau Kajian Inspiratif Portal Satu. Program ini sudah kami rancang sejak awal media ini hadir. Hanya saja program perdananya baru bisa kami laksanakan kemarin. Lewat program ini kami ingin menghadirkan pihak-pihak terkait untuk menyamakan persepsi agar ke depan bisa saling bersinergi.

KIPaS perdana mengangkat isu Penyelamatan Situs Cagar Budaya Aceh. Banyak hal menarik mencuat dalam diskusi kecil ini. Karena yang berbicara adalah pakar, praktisi dan juga pengambil keputusan.

Salah satu yang menarik adalah fakta bahwa Aceh merupakan sebuah negeri yang besar. Diperhitungkan dalam percaturan dunia. Sekali lagi dunia. Bukan di tingkat regional. Aceh pernah menjadi saksi kemerdekaan bagi bangsa lain. Aceh punya sejarah panjang yang menceritakan lika-liku kegemilangan sebuah bangsa. Satu-satunya bangsa yang tidak tersentuh penjajah sampai pada akhir abad 18. Padahal semua kerajaan lain sudah takluk sejak abad 15.

Itu hanya sedikit dari banyak cerita menarik lain. Satu hal yang perlu disadari bahwa kegemilangan itu kini terhapus. Aceh kini menjadi sebuah negeri baru dengan segala inferioritasnya. Aceh berubah menjadi negeri yang tidak punya lagi kebanggaan. Penuh carut marut. Kehilangan harga diri.

Yang paling mudah terlihat misalnya, pemerintah pusat memberi Aceh banyak keistimewaan. Tapi apa yang bisa kita manfaatkan? Lihat buku sejarah di sekolah-sekolah, adakah yang bercerita tentang sejarah Aceh? Apakah generasi muda kita tahu tentang sejarah kegemilangan negerinya. Atau mungkin mereka lebih mengenal sejarah negeri yang lain. Salah siapa?

Kita tak mungkin menyalahkan orang lain dalam hal ini. Kita lupa dan tidak mau bercerita kepada anak cucu kita mengenai hal itu. Tidak ada kumpulan literasi yang bisa diwariskan untuk generasi kita. Tidak ada bukti-bukti Aceh pernah menjadi bangsa yang hebat.

Sepuluh tahun terakhir Aceh malah menjadi teramat khusus. Lucunya di masa kita mendengungkan sesuatu yang serba gemilang. Kenyataannya kini tidak berbeda dengan daerah lain yang tidak berjuluk otonomi khusus. Terlalu banyak wacana. Banyak konsep tapi enggan mewujudkan.

Dalam sistem pendidikan kita, terselip muatan lokal yang tidak jelas. Bahasa ‘ibu’ kita pelan-pelan menghilang. Kita tak pede berbicara dengan bahasa lokal dengan anak atau cucu kita. Sekolah kegamangan dalam memperkenalkan budaya dengan segala pernak-pernik kekhususan Aceh.

Kita sering menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Padahal pemerintah pusat memberi Aceh kewenangan yang begitu luas. Ada generasi yang mungkin lupa ada yang perlu mereka sadari, bahwa kegemilangan itu harus ditunjukkan. Agar generasi muda bisa belajar untuk kembali mewujudkan kegemilangan itu di masa berikutnya. Kebanggaan pada kegemilangan masa lalu harus menjadi pelecut meraih kegemilangan masa depan.[]

Nurzahri: Tidak Ada Kepala Daerah yang Punya Visi Misi Menyelamatkan Cagar Budaya

Nurzahri: Tidak Ada Kepala Daerah yang Punya Visi Misi Menyelamatkan Cagar Budaya

BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nurzahri, mengatakan dirinya tidak pernah berjanji pada masa kampanye untuk menyelamatkan situs sejarah atau cagar budaya Aceh. Menurutnya tidak ada pemimpin di Aceh yang menjanjikan hal tersebut.

“Tidak ada gubernur dan kepala daerah yang punya visi misi (penyelamatan cagar budaya) ini. Karena ini tidak bisa jadi komoditas, tidak bisa dijual,” ujar Nurzahri dalam Program Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) tentang Menyelamatkan Cagar Budaya Aceh di kantor redaksi Portal Satu di Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

Ia juga mengaku sebagai politisi murni yang tidak mengerti masalah kebudayaan meski ditempatkan di Komisi VII yang membidangi Agama, Pariwisata dan Budaya. Meskipun begitu, mantan aktivis Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh (KMPA) ini mengaku bangga dengan adanya diskusi seperti ini yang turut melibatkan pemuda-pemuda yang peduli dengan sejarah Aceh.

“Sehingga yang tertinggal inilah yang bisa menjadi, istilahnya penjaga semangat ini. Kalau yang sedikit ini (Mapesa, Portal Satu, dan Oz Radio) hilang, maka hilanglah semangat ini,” katanya.[]

DPR Aceh Tantang Mapesa Buat Draft Qanun Penyelamatan Cagar Budaya

DPR Aceh Tantang Mapesa Buat Draft Qanun Penyelamatan Cagar Budaya

BANDA ACEH – Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)
Nurzahri, menantang Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan
peneliti untuk membuat draft tentang qanun menjaga cagar budaya di
Aceh.

Hal ini disampaikannya dalam Program Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) tentang “Menyelamatkan Cagar Budaya Aceh” di kantor redaksi Portal Satu di Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

“Kami siap di Komisi VII (tujuh) untuk menerima draft ini. Kalau saya
bukan basic sejarah, kalau adik tadi mau membuktikan bahwa pernyataan
saya salah tadi harus bertanggungjawab, saya nggak mau patok waktu,
tapi waktu ini juga jadi patokan masyarakat, karena semakin lama draft
ini diberikan berarti ya itulah batas semangat adik-adik,” ujar
Nurzahri.

Sebelumnya Ketua Mapesa, Muhajir, mengatakan bahwa Nurzahri
bukan pilihan tepat untuk menempati posisi anggota Komisi VII yang
membidangi Agama, Pariwisata dan Budaya. (Baca: Mapesa: Perlu Qanun
Cagar Budaya Aceh)

Hal ini disampaikan Muhajir setelah Nurzahri menyebutkan bahwa
perlindungan cagar budaya dan sejarah Aceh tidak begitu penting.
Sehingga anggaran yang diplotkan untuk pembangunan Aceh hanya berkutat
pada infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat. (DPR Aceh:
Penyelamatan Cagar Budaya Belum Jadi Prioritas)

“Ini tidak semua kita sadar bahwa memang kita ini bangsa yang besar,
bahwa peninggalan sejarah itu perlu dilestarikan, tidak semua,” kata
Nurzahri lagi.

Nurzahri mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Mapesa dan
komunitas peduli sejarah lainnya yang ada di Aceh. Menurutnya
anggaran-anggaran yang bersifat penyelamatan cagar budaya masih bisa
dirancang lantaran dana Otonomi Khusus (Otsus) juga masih tersedia.

“Kami (DPRA) juga bukan hanya diam. Dengan kami memunculkan komisi
bidang agama dan budaya, sebenarnya sudah ada niat kami untuk fokuskan
ke bidang itu, walaupun tidak maksimal. Namun ketika kami perjuangkan
anggaran, jawabannya seperti yang kami bilang tadi, yang paling butuh
sekarang infrastuktur,” ujarnya.

Bahkan sebagai tindak lanjut, Nurzahri mempersilakan Mapesa dan yang lainnya untuk melakukan audiensi lanjutan terkait hal ini ke DPR Aceh.

Menanggapi tantangan tersebut, Muhajir mengatakan jika pihaknya siap menerima tantangan ini. Bahkan mereka sudah memiliki draft tersebut. Selain itu, Mapesa juga berharap di Aceh terbentuk sebuah badan yang memang mengurus hal-hal terkait dengan kebudayaan dan sejarah.[] (bna)

Peneliti Unsyiah: Selamatkan Cagar Budaya Aceh yang Terancam Hancur

Peneliti Unsyiah: Selamatkan Cagar Budaya Aceh yang Terancam Hancur

BANDA ACEH – Peneliti Unsyiah, Dr. Husaini Ibrahim, M.A., mengatakan permasalahan utama dalam penyelematan situs cagar budaya adalah rusaknya situs-situs tersebut. Kerusakan situs cagar budaya ini terjadi karena faktor alam dan juga tangan jahil manusia.

“Ini kalau tidak segera kita selamatkan akan mengalami kehancuran yang parah. Jadi kita jangan menunggu sampai hancur, tapi harus ada upaya penyelamatan,” kata Husaini yang juga Arkeolog Aceh dalam Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) di Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

Husaini mencontohkan banyak masjid-masjid kuno di Aceh dan benda cagar budaya lainnya hilang begitu saja tanpa diketahui jejaknya. Idealnya, kata dia, ada semacam keterangan berisi informasi yang jelas. Sehingga jika telah ipindahkan, masyarakat atau pihak terkait tahu di mana keberadaanya.

“Faktanya yang kita lihat tidak ada pemberitahuan apa-apa, sehingga lenyap sama sekali. Ini terjadi karena pengetahuan masyarakat tentang cagar budaya tidak dihayati. Padahal ini menjadi tanggung jawab bersama, jadi jangan dibebankan kepada pihak tertentu saja. Ini terkait dengan jati diri sebuah bangsa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah,” ujarnya.

Sebagai peneliti di Unsyiah, Husaini mengakui pihaknya terkendala dalam hal dana dan hal ini harus mendapat dukungan dari instansi lain. Soal penyelematan situs cagar budaya ini, menurutnya, yang paling penting adalah memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

“Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sudah banyak mendukung, tahun ini ada dukungan untuk melakukan penelitian supaya bisa ditetapkan sebagai cagar budaya, khususnya soal situs Lamuri,” ujar Husaini yang juga Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah.[]

Arkeolog Kupas Sejarah Belanda Serang Kerajaan Aceh

Arkeolog Kupas Sejarah Belanda Serang Kerajaan Aceh

BANDA ACEH – Arkeolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Dedi Satria,
menjelaskan Banda Aceh merupakan Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam pada masa lalu. Dalam prosesnya Aceh bukanlah suatu negeri yang tidak memiliki tantangan berat di masanya.

Salah satunya, kata Dedi Satria, keinginan besar Belanda menaklukkan Aceh. Banyak tenaga dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk menaklukkan Aceh.

“Tujuannya adalah membentuk kota baru kolonial di Aceh, seperti
beberapa daerah lain di Indonesia, katakanlah Medan. Jadi, Aceh ini
paling susah dibangun karena perangnya sangat lama,” kata Dedi dalam
Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) di Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

Dedi menyebut upaya yang mereka lakukan untuk membentuk kolonial ini misalnya dengan menghancurka Istana Sultan Aceh dan membangun gedung yang kini menjadi Pendopo Gubernur Aceh. Mereka juga membakar Masjid Raya Baiturrahman, kemudian membangunnya kembali.

“Mengapa Gunongan dan Taman Sari tidak mereka hancurkan, karena itu
tidak ada urusan dengan mereka. Mengapa benteng-benteng itu tidak
mereka hancurkan, itu hanya sampah peradaban yang sudah rusak,”
kata Dedi.

Dedi juga menjelaskan bahwa Peunayong yang dulunya merupakan gudang
milik Kesultanan Aceh, disulap Belanda menjadi China Town-nya Aceh
dengan menghadirkan orang-orang China.

“Kita sering bertanya-tanya apa itu Peunayong? Apakah berasal dari
bahasa Cina? Peunayong itu berasal dari kosa kata Melayu yang artinya
pendayung, ketika dilafalkan dalam bahasa Aceh jadilah peunayong,”
katanya.[]

Foto: Arkeolog Dedi Satria (kanan) bersama komunitas peduli sejarah saat meneliti di situs sejarah Lamreh. Sumber foto: misykah

Berita terkait:

Portal Media Hadirkan Kajian Inspiratif Portal Satu

Ini Para Narasumber Kajian Inspiratif Portal Satu

Ini Para Narasumber Kajian Inspiratif Portal Satu

BANDA ACEH – Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) perdana menghadirkan sejumlah narasumber dari instansi dan lembaga terkait. Di antaranya, Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) Muhajir. Ia menjelaskan lembaga ini awalnya terbentuk di grup Facebook.

“Kenyataannya Aceh seperti negeri yang tidak memiliki sejarah, suatu hari kita memberanikan diri untuk membentuk sebuah organisasi yaitu Mapesa. Saat ini salah satu konsentrasi kami adalah penyelematan nisan (kuno). Nisan-nisan itu menjadi bukti sejarahAceh di masa lalu yang sekarang kondisinya terabaikan,” ujarnya dalam diskusi KIPaS di kantor portalsatu.com, Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

Narasumber lainnya adalah arkeolog independen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dedi Satria. Dedi mengatakan awalnya ia bekerja dengan lembaga Balai Penyelamatan Cagar Budaya Provinsi Aceh. Belakangan ia memilih untuk bekerja sendiri dengan tujuan dan kepentingan personal.

“Tapi dengan kepentingan sendiri ini saya bisa memberikan informasi kepada banyak orang,” kata Dedi.

Berikutnya, narasumber yang dihadirkan adalah Kepala Bidang Pengembangan Permeseuman Sejarah dan Keperbukalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, T. Zulkarnaini.

Ada pula Dr. Husaini Ibrahim, M.A., Arkeolog yang juga Ketua Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala. Selain itu, anggota Komisi VI  Bidang Agama dan Budaya DPR Aceh Nurzahri.

Tema yang diangkat hari ini adalah “Penyelamatan Situs Cagar Budaya Aceh” . Diskusi KIPaS tersebut dipandu Redaktur Pelaksana portalsatu.com, Boy Nashruddin Agus.[]

Kadisbudpar Aceh Kunjungi Situs yang Diduga Masjid Kuno di Ladong

Kadisbudpar Aceh Kunjungi Situs yang Diduga Masjid Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, mengunjungi situs sejarah yang diduga masjid kuno abad 16 atau 17 masehi di Kuta Dianjong, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, Senin, 4 Mai 2015. Kunjungan Reza ke lokasi ditemani oleh Sekjend Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) Mizuar Mahdi, dan aktivis Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), Thayeb Loh Angen.

Reza mengatakan kunjungannya ke lokasi tersebut untuk memastikan temuan tim ekspedisi Mapesa untuk ditindaklanjuti oleh Disbudpar Aceh.

Sebelumnya diberitakan, tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[] (bna)

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

Berikut sejumlah foto yang diabadikan Afrizal, salah satu tim ekspedisi Mapesa di lokasi:masjid kuno indrapatra masjid kuno indrapatra1 masjid kuno indrapatra2 masjid kuno indrapatra6

Arkeolog Temukan Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

Arkeolog Temukan Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[]

Keterangan foto: Ilustrasi Masjid Indrapuri di Aceh Besar dokumentasi duniamasjid.islamic-center.or.id