Tag: mapesa

Sekjen Mapesa Apresiasi Event Gebyar Seni Budaya Gayo

Sekjen Mapesa Apresiasi Event Gebyar Seni Budaya Gayo

BANDA ACEH – Sekjen Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi, mengapresiasi kegiatan Gebyar Seni Budaya tingkat Pelajar yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Tengah. Kegiatan yang digelar di Kompleks Umah Pitu Ruang, Takengon, dan diikuti oleh 70 sekolah tersebut dinilai bisa memupuk semangat pelajar dalam menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah.

“Ini program yang sangat bagus dalam mengampanyekan pentingnya nilai budaya kepada pelajar. Atas nama Mapesa, kami sangat mengapresiasi event yang dilakukan oleh Disbudparpora Aceh Tengah ini,” ujar Mizuar melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Rabu, 7 Oktober 2015.

Ia berharap program seperti ini rutin diselenggarakan tiap tahunnya. Namun dia meminta event ini bisa melibatkan para peserta yang lebih banyak.

“Jika pada tahun ini eventnya lebih kepada seni dan fashion, diharapkan ke depan bisa ditambahkan kegiatan lain seperti wisata sejarah menelusuri jejak budaya di Gayo, seminar budaya, cerdas cermat dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa menumbuhkan kecintaan para pelajar akan sejarah dan budaya sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Mizuar berharap Gebyar Seni Budaya Pelajar Gayo bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Aceh untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.

“Sangat bagus jika Gebyar Seni Budaya Gayo, dijadikan event provinsi. Di mana peserta yang mengikuti event tersebut nantinya berasal dari kabupaten di dataran tinggi Gayo, jadi tidak sebatas hanya kabupaten Aceh Tengah. Selain itu, Pemerintah Aceh juga berkewajiban membuat atau mendorong dibuat kegiatan serupa untuk kawasan lain seperti Tamiang, Kluet, Singkil, Pase, Alas, Simeulue dan kawasan lainnya,” ujar Mizuar.

Dia menilai kegiatan ini mampu memperkuat jati diri dan identitas pelajar di Aceh. Selain itu, dia mengatakan acara tersebut juga akan menguatkan posisi Aceh di kancah nasional.

“Untuk memperkuat kebudayaan di Aceh, organisasi Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) telah melakukan survey. Mereka berpendapat wilayah Aceh bisa dibagi ke dalam 3 wilayah zonasi kebudayaan, yaitu kawasan budaya Leuser dan dataran tinggi Gayo, pantai barat selatan, dan pantai utara timur Aceh,” ujar Mizuar.

Mizuar menambahkan survey PuKAT juga merekomendasikan agar tiga wilayah yang dizonasikan tersebut bisa dibangun pusat sejarah dan kebudayaan atau “Heritage and Culture Centre”.

“Di mana setiap kawasannya bisa dibangun kota budaya. Blangkejeren atau Takengon untuk wilayah Leuser dan Gayo, Jeuram atau Meulaboh untuk wilayah barat selatan Aceh, dan Bireuen atau Lhokseumawe untuk wilayah utara timur Aceh,” kata Mizuar.[](bna)

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

BANDA ACEH – Kawasan Ujung Pancu hingga Krueng Raya, Aceh Besar, sudah dipadati oleh pendatang sejak 1000 tahun lalu. Hal tersebut dapat diukur dari penemuan keramik Cina yang sudah tua di kawasan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Arkeolog Aceh lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria, saat diskusi bersama yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa, 8 September 2015 sore.

“Dari keramik cina tua yang sudah ribuan tahun inilah dapat kita prediksikan bahwa Banda Aceh diperkirakan sudah ramai sejak 1000 tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengatakan telah ditemukan jalur kapal Timur Tengah dan Cina yang melancong ke Banda Aceh. Hal ini juga terdapat tulisan yang terpahat pada nisan.

“Terdapat salah satu nisan yang terpahat bertuliskan tahun 1555 M. Namun sayangnya tidak tercantumkan lagi nama karena sudah hilang dan yang seperti ini layak untuk ditangani,” kata Deddy.

Dia kemudian mencontohkan kawasan Lampulo. Menurutnya sejak 800 tahun lalu sudah ada Cina muslim yang tinggal di sana. Di kawasan tersebut juga terdapat peninggalan belanga tanah, orang Eropa seperti Vietnam dan Thailand saat berdagang ke Aceh.

“Sekarang 60 titik lokasi pengamatan benda sejarah tersebut terdapat di Lampulo. Setengahnya terdapat keramik dan kaca rumah penduduk di lokasi makam tersebut,” ujarnya.

Kasus lain juga terdapat di Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Lamno. Dari aspek arkeologi, kata dia, ada target terdekat yang harus dicapai yaitu makam yang terdata dalam daftar emergency. Menurut Deddy, ini harus segera ditelusuri secepatnya karena takut tertimbun dengan pembangunan.

Ia juga mencontohkan di Indrapuri, masih terdapat tokoh-tokoh dari Thailand pada abad ke-16, Ayu Thayya yang hijrah dari Thailand ke Aceh. Selain itu juga ada makam Khalifah Abasiyah, tokoh dari Persia, India, dan Cina muslim yang belum terpublikasi.

“Informasi dari batu nisan sangat penting untuk diselamatkan. Kalau bisa membuat gedung ataupun meseum nisan karena dengan jumlahnya yang jutaan. India punya Taj Mahal, sementara kita di Aceh memiliki nisan,” ujarnya.[](bna)

Kadisbudpar: Banyak Situs Sejarah Masuk Daftar Emergency

Kadisbudpar: Banyak Situs Sejarah Masuk Daftar Emergency

BANDA ACEH- Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh (Disbudpar) Reza Pahlevi mengatakan, banyak situs sejarah selama ini yang masuk dalam daftar darurat (emergency).

Hal ini disampaikannya saat diskusi dengan Masyarakat Peduli Sejarah (MAPESA) pukul 17.00 WIB di Meseum Aceh, Banda Aceh, Selasa, 8 September 2015.

Katanya, keaktifan MAPESA dalam memberikan informasi tentang sejarah baik langsung maupun melalui media sosial yang dipublikasi MAPESA menarik perhatian untuk didiskusikan lebih lanjut. Seperti kegiatan Meuseraya yang sering dilakukan MAPESA.

“Ini salah satu langkah dan gerak untuk pelestarian budaya di Aceh. Karena terdapat lebih kurang 400 situs sejarah di Aceh yang beragam namun terbengkalai tidak terawat. Ini merupakan pekerjaan besar yang harus kita kerjakan bersama,” kata Reza saat membuka ruang diskusi.

Maka dari itu, antara pihak dinas dengan MAPESA kedepan saling berkoordinasi upaya perlindungan situs sejarah di Aceh. “Situs yang kita peroleh banyak, seperti fosil manusia purba, tulang gajah, nisan, dan masih banyak lainnya,” kata Reza.

Sekretaris MAPESA, Mizwar Mahdi mengatakan selama ini pihaknya lebih fokus dan bergerak dengan lisan kepada masyarakat. “Sebenarnya kegiatan MAPESA seperti Meuseraya bukan hanya dilakukan mingguan, melainkan setiap hari kami melacak jejak-jejak masa lampau,” kata Mizwar.

Sistem inti yang mereka lakukan adalah Meuseraya situs-situs yang terdesak dan mengandung informasi besar. Karena ribuan komplek yang masuk dalam daftar antrian. Oleh karena itu, pihaknya ingin melibatkan Arkeolog dalam tiap gotong royong yang dilakukan MAPESA. “Kami akan mengikuti arahan dari Arkeolog dan mempublikasikan kepada masyarakat secara gratis supaya masyarakat mengetahui akan sejarah di Aceh,” katanya.

Mizwar melanjutkan jutaan sejarah berupa nisan terdapat di Aceh tetapi sedikit sekali yang terpublikasi. Ia mencontohkan seperti Samudera Pasai dengan keunikan bahasa Arab untuk dikaji lebih lanjut dan memberi pemahaman kepada masyarakat tentang kejayaan Islam di Aceh pada masa lalu.

Terdapat beberapa poin penting saat berlangsungnya diskusi perdana tadi, diantaranya memprioritaskan tempat yang mendesak seperti kawasan Lampulo, Banda Aceh yang terdapat project pembangunan yang akan merusak situs sejarah seperti pembuatan rumah yang banyak menghilangkan batu nisan.

Pasalnya tanah yang murah adalah tanah yang letaknya di daerah kuburan, supaya tidak rusak dan hilang maka dibutuhkan pendekatan dengan masyarakat setempat. “Intinya jangan hilangkan nisan dengan pembangunan,” kata Deddy Satria, yang membantu penelitian MAPESA, Arkeolog lulusan UGM.  Begitu juga dengan daerah lain, seperti Tibang, Kampung Mulia, Lampulo, dan Aceh Besar.

Sementara Arkeolog Disbudpar Aceh, Laila Abdul Jalil mengatakan agar MAPESA mendorong pemerintah kota untuk membuat qanun. “Karena dengan adanya Qanun, sudah ada payung hukum untuk perlindungan, katakanlah Qanun Lampulo misalnya, dengan begitu sudah terdapat pendukung untuk menguatkan karena sudah ada Qanun,” ujarnya.

Selain Kepala Dinas, MAPESA, dan Arkeolog, dari Disbudpar turut hadir juga staf bidang Permesiuman Sejarah dan Kepurbakalaan, Zulkarnain dan Elydar, juga undangan Arkeolog Dr. Husaini serta dari PuKAT ada Thayeb Loh Angen dan beberapa pakar sejarah lainnya. Untuk diketahui, diskusi ini akan ada tindak lanjut sebulan kemudian. []

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

BANDA ACEH – Tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan satu nisan tokoh asal Siak di situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015. Hal ini diketahui berdasarkan hasil bacaan inkripsi yang ditemukan di situs tersebut pada Senin, 31 Agustus 2015.

“Nisan yang berada di Siron ini tampaknya memiliki suatu hubungan dengan Siak. Inskripsi di satu sisi nisan berbunyi هذا القبر …؟ سياء ini kubur… (?) Siak (dengan hamzah, bukan dengan kaf). ان شاء الله تعالى Jika dikehendaki Allah Ta’ala [niscaya] أعطاه الله Allah pasti memberikan kepadanya,” ujar Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi, kepada portalsatu.com, mengutip keterangan Musafir Zaman yang mengunggah hasil inskripsi tersebut dalam akun facebooknya.

Dia mengatakan jika menilik sejarah, Aceh memang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Siak di masa lalu. Pengakuan itu sering datang dari para pakar sejarah Riau sendiri.

“Namun sejak kapan hubungan itu telah terjalin, tentu, masih perlu pengkajian yang lebih luas. Saya kira, penyelidikan tentang hal ini perlu dilanjutkan,” kata Mizuar.

Sebelumnya diberitakan, Mapesa mengadakan meuseuraya atau gotong-royong membersihkan dan menata situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron,Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015.

“Ini merupakan meuseuraya pekan ke empat pascalebaran. Kali ini, Mapesa beserta masyarakat meuseuraya di kompleks makam Teungku Di Geudong (Jrat Manyang),” ujar Mizuar Mahdi, Sekretaris Jenderal Mapesa melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 31 Agustus 2015.

Berdasarkan hasil pengamatan Mapesa dari tahap ekspedisi sampai dilaksanakan meuseuraya, di kompleks ini terdapat beberapa makam bertipologi nisan Aceh Darussalam dari periode Abad ke-16 Masehi sampai 19 Masehi, baik dari seni penulisan kaligrafi dan corak ornamen yang terdapat pada nisan. (Baca: Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong).[]

Foto: Inskripsi yang memuat nama serta sebuah negri yang bernama siak. @Dok Mapesa

Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong

Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong

 BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengadakan meuseuraya atau gotong-royong membersihkan dan menata  situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron,Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015.

“Ini merupakan meuseuraya pekan ke empat pascalebaran. Kali ini, Mapesa beserta masyarakat meuseuraya di kompleks makam Teungku Di Geudong (Jrat Manyang),” ujar Mizuar Mahdi, Sekretaris Jenderal Mapesa melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 31 Agustus 2015.

 Berdasarkan hasil pengamatan Mapesa dari tahap ekspedisi sampai dilaksanakan meuseuraya, di kompleks ini terdapat beberapa makam bertipologi nisan Aceh Darussalam dari periode Abad ke-16 Masehi sampai 19 Masehi, baik dari seni penulisan kaligrafi dan corak ornamen yang terdapat pada nisan.

 “Namun yang sangat memprihatinkan, kondisi makam yang sebagian inskripsinya sudah hancur, patah, bahkan ada sebagian nisan yang tidak lengkap lagi pasangannya. Di komplek ini terdapat 18 makam,” kata Ayi, koordinator kegiatan meuseuraya.

Keluarga pemilik tanah komplek makam itu mengungkapkan bahwa masyarakat menyebut lokasi ini kompleks makam Jeurat Manyang, kompleks Abdurrahman dan kompleks Teungku Di Geudong. Warga bahkan menyebutkan silsilah keluarga mereka merupakan keturunan dari Teungku Di Gudong.

Keluarga pemilik tanah tempat kompleks makam berada mengapresiasi kegiatan meuseuraya Mapesa . Mereka berharap agar Mapesa bisa secepatnya melakukan penilitian dan kajian secara epigrafi dan arkeologi agar bisa mengungkapkan nama–nama tokoh yang terdapat di kompleks makam ini. Hal itu disampaikan Muhammad Yusuf, salah satu dari keluarga pemilik tanah komplek makam itu, yang  saat ini menjabat Kepala Mahkamah Syar’iyah Takengon.[]

Foto meuseuraya Mapesa di kompleks makam bersejarah di Gampong Siron.@Mapesa

 

 

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

Banyak Situs Sejarah Ditemukan, Kadisbudpar Aceh: Belum Semuanya Ditetapkan Sebagai…

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Vahlevi, mengatakan Aceh memiliki 400-an situs bersejarah yang kondisinya berbeda-beda. Situs-situs tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik menjadi destinasi wisata sejarah baru atau mesin ATM untuk dunia pariwisata Aceh.

“Ada yang baik, ada yang memang masih butuh peningkatan, dan sebagainya. Ada yang membutuhkan pembersihan dan sebagainya. Semua itu kita legalkan dulu, harus punya dasar hukum, yang sebelumnya dikaji oleh kajian,” katanya di sela-sela pameran 100 Tahun Museum Aceh di Banda Aceh saat ditanyakan oleh portalsatu.com, Kamis, 30 Juli 2015 kemarin.

Dia mengatakan banyak nisan-nisan atau situs bernilai sejarah yang ditemukan oleh komunitas-komunitas peduli sejarah Aceh. Sebagian situs ada yang telah dikaji sendiri oleh komunitas tersebut.

“Setelah (mendapat hasil kajian) itu nanti ditetapkan sebagai situs kalau dia memang mengandung nilai sejarah. Itu setelah ditetapkan, yang bisa mendapatkan dukungan pemeliharaan, penjagaan. Dari sekian banyak, ya belum mampu kita lakukan secara cepat dan ada tahapannya. Ini juga nantinya melibatkan kabupaten kota di Aceh,” katanya.[]

Surat Permohonan Sultan Aceh Menyerang Belanda dan Menyatukan Tanah Jawi

Surat Permohonan Sultan Aceh Menyerang Belanda dan Menyatukan Tanah Jawi

KEKUATAN Belanda yang meluas setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di Jawa dan sebagian Sumatera membuat Sultan Manshur Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam geram. Sultan yang dalam beberapa referensi sejarah disebutkan berkuasa pada 1850-an ini kemudian mengirimkan surat kepada Kekhalifahan Turki Utsmany. Dalam surat tersebut, Sultan Manshur Syah meminta izin Kekhalifahan Turky di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan untuk menyerang Belanda yang sudah menguasai Batavia (Jakarta).Surat pertama

“….Ampun Tuanku sembah ampun, ampun beribu kali ampun, patik anak amas Tuanku, Sultan Manshur Syah ibnul Marhum Sultan Jauharul ‘Alam Syah memohon ampun ke bawah qadam Duli Hadarat yang maha mulia, yaitu Sultan Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan. Syahdan, patik beri maklumlah ke bawah qadam Duli Hadarat, adapun karena patik sekarang ini sangatlah masygul (?) dan serta kesukaran karena sebab Negeri Jawa dan Negeri Bugis dan Negeri Bali dan Negeri Borneo dan Negeri Palembang dan Negeri Minangkabau sudahlah dihukumkan oleh orang Belanda, dan sangatlah susah segala orang yang Muslim, lagi sangatlah kekurangan daripada agama Islam karena sebab keras orang kafir Belanda itu. Dan muwafaqah lah segala orang yang besar-besar segala rakyatnya yang di dalam negeri, semuhanya itu hendak melawan dia lagi hendak memukul dia maka dikirimlah surat daripada tiap-tiap orang yang besar-besar dalam negeri semuhanya itu kapada patik ke Negeri Aceh karena Negeri Aceh yang dalam pegangan perintah patik belumlah dapat oleh Belanda segala negeri dan sekalian bandar. Dan sekarang orang Belanda hendak memeranglah kepada patik ke Negeri Aceh dan sudahlah siapa dianya, dan patik pun ‘ala kulli hal siaplah akan melawan dia, dan segala hulubalang dan orang yang besar-besar pada negeri yang sudah dihukum oleh Belanda sudah sampai surat kepada patik ke Negeri Aceh dan muwafaqah lah dianya dengan patik, lagi satu batin dengan patik semuhanya orang itu, apabila bangkit perang orang Belanda itu maka segala orang Islam pun bangkitlah melawan dia lagi memukul dia tiap-tiap negeri yang telah tersebut itu karena segala orang yang sudah diperintah oleh Belanda pada tiap-tiap negeri semuhanya menanti titah daripada patik di Negeri Aceh dan tentangan patik pun menanti titah dan wasithah daripada Duli Hadarat yang di negeri Rum…”

Demikian kutipan surat Sultan Manshur Syah kepada Khalifah Turki Abdul Majid Khan ibnul Marhum Sultan Mahmud Khan, bertanggal 1265 Hijriah atau sekitar tahun 1850 Masehi. Surat berbahasa Arab ini dipublikasi oleh Dr. Annabel Gallop dan kawan-kawan dalam tulisan berjudul “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”, yang kemudian diterjemahkan akun facebook milik Musafir Zaman dalam Grup Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah). Setidaknya ada tiga surat dari Sultan Manshur Syah dengan maksud serupa yang dipublikasi Dr Annabel Gallop, yang kemudian diposting oleh Musafir Zaman dalam Grup Mapesa tersebut.

Surat pertama dituliskan oleh Sultan Manshur Syah pada tahun 1265 Hijriah, surat kedua pada 1266 Hijriah dan surat terakhir tanpa menyertakan tanggal. Di dalam surat terakhir tersebut, Sultan Manshur Syah kembali menjelaskan tentang tekad Kerajaan Aceh Darussalam untuk menyerang imperialisme Belanda dengan segala upaya. Surat kedua1

“Dalam sedikit tempo saja nanti bendera Aceh sudah akan berkibar di Betawi (Batavia),” ujar Saiful ‘Alam Syah seperti dikutip sumber Belanda.

Sultan Manshur Syah juga meminta izin Kekhalifahan Turki untuk mempersatukan Nusantara, mulai dari Tanah Jawi, Gowa hingga Sumatera di bawah bendera kekhalifahan Islam. Sultan Manshur Syah juga menekankan bahwa rencana ini bukan sekadar omongan besar utusan Aceh yang datang ke Kekhalifahan Turki Ustmany, Muhammad Ghuts Saiful ‘Alam Syah.

Sultan, dalam suratnya, menegaskan bahwa utusannya Saiful ‘Alam Syah membawa misi diplomatik yang teramat sangat penting yang ditandai dengan Cap Sikureung.surat ketiga arab

“Surat izin dari Sultan Abdul Majid Khan ternyata tidak pernah datang. Perang raya Negeri Jawi untuk melawan dan mengusir Belanda yang telah dipikirkan matang-matang tidak kunjung terjadi. Setidaknya ada tiga pucuk surat Sultan Manshur Syah yang sampai ke Istambul, dan Muhammad Ghuts Saiful ‘Alam Syah juga telah sampai menghadap Sultan ‘Abdul Majid Khan. Namun, jawaban dan izin yang sangat diharapkan oleh Sultan Manshur Syah tidak juga tiba. Kenapa? Sesungguhnya hal itu sangat mudah ditebak. Belanda tentu tidak tinggal diam setelah mengetahui pergerakan ini. Kaki tangannya tentu pula sudah dikirimkan ke Istambul untuk mengalihkan Sultan Abdul Majid Khan dari permintaan Sultan Manshur Syah. Maka Allah telah menghendaki apa yang Ia kehendaki. Namun Sultan Manshur Syah dan Aceh tidak pernah surut dari sikapnya terhadap Belanda; negeri-negeri kaum Muslimin tetap harus dipertahankan dengan cara apapun dan sampai titik darah penghabisan,” tulis Musafir Zaman dalam grup Mapesa tersebut.

Informasi yang diperoleh portalsatu.com dari Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi, menyebutkan akun Musafir Zaman dikelola oleh ahli Epigraf Islam, Teungku Taqiyuddin Muhammad. “Akun itu punya Teungku Taqiyuddin, dan apa yang diposting tersebut adalah benar adanya, berdasarkan surat yang dipublikasi oleh peneliti sejarah Asia Tenggara, Dr. Annabel Gallop di dalam tulisannya seperti yang disebutkan oleh akun Musafir Zaman tersebut di Grup Mapesa,” kata Mizuar.[]

Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) kembali meuseuraya (gotong royong) di kompleks makam bersejarah “Jirat Cot Ulee Abu” Gampong Indrapuri, Aceh Besar, Minggu, 7 Juni 2015. Meuseuraya kali ini turut dihadiri warga setempat dan anak-anak yatim dari Asrama Kinder Hut Indrapuri.

Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program rutin Mapesa dalam menyosialisasikan dan menyelamatkan bukti-bukti peradaban Islam di Aceh. Menurutnya, Mapesa untuk saat ini hanya fokus di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Saat ini karena berbagai keterbatasan yang kita miliki, Mapesa belum bisa bergerak di setiap kabupaten/kota di Aceh. Dalam hal ini, kami hanya bisa berharap masyarakat khususnya generasi muda agar ikut berperan dalam melestarikan peninggalan sejarah Aceh yang ada di setiap kabupaten/kotanya masing-masing,” ujar Mizuar.

Mizuar sangat menyayangkan sikap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota di Aceh, yang kurang peduli terhadap peninggalan sejarah. Padahal menurutnya bukti sejarah itu adalah jejak Aceh di masa lampau yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Penyebaran peninggalan sejarah yang ada di setiap kabupaten/kota itu adalah bukti bahwa Aceh sudah ada ratusan tahun silam. Ini adalah identitas bagi Aceh. Ini adalah aset untuk pembangunan Aceh ke depan. Peninggalan sejarah akan menjadi sumber PAD (pendapatan asli derah) bagi Aceh, jika dikelola dengan baik oleh pemerintah hari ini,” ujar Mizuar.

Salah satu tokoh masyarakat yang turut hadir dalam meuseuraya tersebut, Muhammad Juned (80), mengatakan kompleks makam yang sering disebut “Jirat Cot Ulee Abu” oleh warga setempat, dulunya sering diziarahi untuk peulheuh kaoy (menunaikan nazar).

“Tahun 2007 jirat ini pernah didatangi dan dibersihkan oleh para peneliti dari Malaysia. Melihat kondisi makam yang terbengkalai membuat mereka bersedih hati, bahkan ada yang meneteskan air mata,” ujar Juned.

Selain itu, konselor asrama yatim Kinder Hut, Cut Farhani Rizki, mengatakan kegiatan tersebut bisa menambah wawasan bagi anak-anak asuhnya terhadap sejarah Aceh. Menurutnya, hal tersebut belum tentu bisa mereka dapatkan dari pelajaran sejarah yang diajarkan dalam kurikulum di sekolah.

“Ini adalah kegiatan yang sangat baik. Banyak hal positif yang bisa anak-anak dapatkan. Dengan melihat langsung bukti sejarah Aceh yang merupakan bukti peradaban sejarah Islam, semoga menambah semangat anak-anak dalam melaksanakan amalan ibadah dalam kesehariannya,” ujar Farhani.[](bna)

Laporan: Muhajir Marzuki, siswa Sekolah Sastra Hamzah Fansuri.

Anton Stolwijk: Profesor di Belanda Tidak Pernah Tahu Tentang Perang Aceh

Anton Stolwijk: Profesor di Belanda Tidak Pernah Tahu Tentang Perang Aceh

BANDA ACEH – Mahasiswa Magister Jurnalistik dan Sastra Kolonial, Universitas Leiden, Anton Stolwijk, mengatakan perang Belanda di Aceh pada abad 19 tidak begitu populer di negaranya. Menurutnya saat ini tidak pernah ada kajian dan penelitian ilmiah terkait peristiwa perang tersebut, lantaran publik Belanda sudah melupakan peristiwa ini.

“Bahkan Profesor di Belanda pun tidak pernah tahu tentang perang Aceh dan Belanda, bagaimana kejadian dan sejarahnya,” kata Anton dalam diskusi Mapesa di Kantor BPNB di Banda Aceh, Sabtu, 9 Mei 2015.

Anton mengatakan semua orang di Belanda sudah lama melupakan sejarah perang tersebut. Sampai saat ini, kata dia, tidak ada lagi pembahasan antara perang Aceh dan Belanda di forum-forum diskusi dan pendidikan.

“Semua peristiwa tersebut mungkin dengan sengaja dilupakan,” ujarnya.

Fenomena inilah yang membuat Anton tertarik menggali sejarah perang Belanda di Aceh. Apalagi, kata dia, banyak bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda di Banda Aceh. Anton Stolwijk berkeinginan untuk menulis buku tentang perang Aceh dan Belanda tesebut.

“Oleh karena itu saya ingin menulis buku terkait perang Aceh dan Belanda ini agar  bisa dibaca oleh semua orang Belanda secara keseluruhan,” katanya.

Di kesempatan itu, Anton Stolwijk mengungkapkan perlu adanya bahan dan masukan agar dalam penulisan bukunya tidak melenceng dari kaidah ilmiah dan sejarah. Hal tersebut dikarenakan menyangkut pemahaman orang banyak di Belanda nantinya.

“Bukunya nanti akan ditulis secara objektif yang sesuai dengan kaidah ilmiah,” ujarnya.[](bna)

Mahasiswa Magister Belanda Bicara di Diskusi Mingguan Mapesa

Mahasiswa Magister Belanda Bicara di Diskusi Mingguan Mapesa

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) menghadirkan Anton Stolwijk, mahasiswa Magister Jurnalistik dan Sastra Kolonial Universitas Leiden, dalam diskusi yang berlangsung di aula Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, Sabtu, 9 Mei 2015.

Ketua Mapesa, Muhajir Ibnu Marzuki mengatakan kedatangan Anton Stolwijk ke Aceh untuk mengkaji lebih dalam tentang perang Belanda di Aceh pada abad 19. Ia mengatakan Anton ingin menuliskan dahsyatnya perang antara Aceh dan Belanda pada saat itu.

“Saat mengetahui Anton sedang menulis buku tentang perang Aceh dan Belanda, dalam forum ini kami ingin mengabarkan bagaimana sebenarnya taktik perang Belanda yang bejat dalam menyerang Aceh,” katanya.

Muhajir mengatakan buku yang ditulis oleh Anton juga bisa mengambarkan apa yang terjadi serta tentang apa yang dilakukan oleh Belanda dalam perang tersebut.

“Padahal dulunya Aceh adalah sahabat bagi Belanda dan salah satu bangsa yang mengakui keberadaan Belanda saat berperang melawan Spanyol,” ujarnya.

Sementara itu, Anton Stolwijk mengatakan perang Belanda di Aceh tidak pernah diketahui oleh publik di negara kincir angin tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan informasi dan sumber.

“Memori perang tersebut sudah dilupakan oleh pihak Belanda sendiri, dan saat ini tidak ada kajian dan penelitian tentang perang itu,” katanya.[](bna)