Tag: manuskrip

Alquran dari Masa Nabi Muhammad Ditemukan di Inggris

Alquran dari Masa Nabi Muhammad Ditemukan di Inggris

BIRMINGHAM – Bagian dari salah satu naskah Alquran tertua di dunia dipamerkan di Universitas Birmingham, di Kota Birmingham, Inggris tengah.

Manuskrip berjumlah empat halaman ini adalah dari Alquran yang ditemukan di universitas itu, setelah tersembunyi selama hampir satu abad. Para ahli sejarah meyakini Alquran dikumpulkan pada pertengahan abad ke-tujuh.

Proses penentuan usia dengan menggunakan karbon juga menunjukkan sejumlah halaman yang ditemukan di Birmingham kemungkinan ditulis salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.

Pengujian radiokarbon di Universitas Oxford memperkirakan naskah tersebut dari masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, yang pada umumnya diyakini pada tahun 570 sampai 632 Masehi.

Naskah yang dipandang sebagai harta dunia tersebut ditulis dalam bahasa Arab bentuk permulaan.

Kota Birmingham adalah tempat tinggal sepersepuluh dari dua setengah juta warga Muslim Inggris.[] Sumber: okezone.com

Keterangan foto: Alquran tertua di dunia yang diperkirakan berasal dari masa Nabi Muhammad SAW

Manuskrip Mauritania Mirip Kaligrafi Andalusia

Manuskrip Mauritania Mirip Kaligrafi Andalusia

JAKARTA —  Banyak yang berpikir manuskrip Mauritania adalah murni turunan gaya Maghribi. Padahal, menurut sejarawan jika diperhatikan secara seksama manuskrip  Mauritania ini semakin dekat tingkat kemiripannya dengan kaligfrafi Andalusi.

Menurut Mohameden Ould Ahmad Salem seorang kaligrafi otodidak muda, dengan membandingkan naskah Andalus abad ke 12 dengan naskah Mauratania abad ke-19, mereka memiliki gaya kaligrafi yang sama.

Naskah pertama yang ditulis di Mauratania adalah kumpulan saran tentang bagaimana menerapkan kode hukum Almoravid. Naskah tersebut berjudul Al-Ishara fi Tadbir Al-Imara, karya Imam Al-Hadrami (wafat 1097). Naskah tersebut menurut Salem berada di perpustakaan Abd Al-Mu’min di Tichitt.

Naskah pembanding selanjutnya adalah naskah tentang hukum karya Sidi Muhammad bin Ahmad Abu Bakar Al-Wadani (wafat 1527). Gaya penulisannya unik, di Mauritania disebut Legrayda. Legrayda yang berarti “lobed,” karena dari ujungnya bulat. Dari empat naskah utama yang digunakan di Mauritania, Legrayda paling dekat dengan Andalusi.

Selain mengkritisi gaya kaligrafi Mauritania, Salem juga membahas tentang Proyek Perlindungan dan Pengembangan naskah Mauritania sebagai Warisan Budaya.

Proyek ini bertujuan untuk mengkoordinasikan upaya lembaga-termasuk konservasi internasional UNESCO, Al-Furqan Heritage Islam Yayasan yang didirikan oleh Ahmad Zaki Yamani dari Arab Saudi, dan Bibliotheque Nationale Perancis-dengan pekerjaan yang dipelopori secara lokal oleh IMRS dan Universitas Nouakchott.

Untuk proyeknya sendiri dibiayai oleh Bank Dunia dan dipimpin oleh Mohamed Ould Sidi Haibetna Haib.
Ould Sidi Haiba berencana membangun laboratorium konservasi naskah di seluruh negeri. Namun, Haiba memiliki banyak rintangan dalam mewujudkan mimpinya.

Salah satu rintangan utamanya meminta pihak keluarga untuk melepaskan perpustakaan pribadi mereka (manuskrip naskah) dan membiarkannya di bawa dalam laboratorium naskah.

Menurutnya, dengan menyimpan naskah di dalam perpustakaan pribadi di dalam rumah ini tidak baik untuk merawat kondisi fisik naskah tersebut. Namun, sampai saat ini masih banyak pemilik perorangan lebih memilih untuk mengambil risiko melanjutkan kerusakan naskah mereka daripada menyerahkannya pada laboratorium naskah.

Ould Sidi Haiba merasa kekhawatiran akan nasib manuskrip Mauritania beberapa tahun mendatang. Ia khawatir, naskah Mauritania ini kemudian memburuk dan naskah tidak lagi bisa lagi dibaca, recopied, atau bahkan di katalogkan. | sumber: republika.co.id

Foto Tenaga ahli tengah melakukan perawatan terhadap manuskrip kuno. @Republika/Siwi Tri Puji

PDIA Pamerkan Koleksi Langka di Peringatan 100 Tahun Museum Aceh

PDIA Pamerkan Koleksi Langka di Peringatan 100 Tahun Museum Aceh

BANDA ACEH – Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh akan memamerkan koleksi langka berupa dokumen-dokumen bersejarah pada acara peringatan 100 tahun Museum Aceh. Acara ini berlangsung selama enam hari di Museum Aceh, Banda Aceh, sejak 30 Juli hingga 4 Agustus 2015 .

“PDIA memamerkan koleksi berupa karya rekam, karya cetak dan karya non rekam dan non cetak (manuskrip dan naskah klasik),” ujar Direktur PDIA, Dra. Zunaimar, Rabu, 29 Juli 2015.

Dia mengatakan koleksi karya rekam berupa koleksi foto, sedangkan koleksi karya cetak berupa buku, monograf dan terbitan berkala sejak masa Kesultanan Aceh, masa kolonial Belanda, masa pergerakan kemerdekaan hingga awal kemerdekaan.

“Pertimbangan kita untuk memamerkan koleksi ini karena koleksi-koleksi ini langka, jarang ditemukan di perpustakaan pada umumnya. Acara ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk dapat mengakses dokumen-dokumen ini,” kata Zunaimar.

Di antara koleksi yang dipamerkan adalah surat Prince Maurits (surat emas) kepada Sultan Aceh, dokumen pembelian pesawat Indonesia pertama hasil sumbangan rakyat Aceh, Dakota RI-001, foto-foto tokoh, tempat dan peristiwa bersejarah Aceh masa lalu.

Dokumen-dokumen yang dipamerkan nantinya memuat berbagai peristiwa bersejarah penting di Aceh. Di antaranya kejadian perebutan senjata Jepang pada masa pergerakan kemerdekaan yang terjadi di beberapa lokasi di Aceh, sejarah pembentukan TNI di Aceh dan sejarah singkat Kodam I Iskandar Muda.

Dokumen eksklusif lain yang dipamerkan adalah terbitan berkala dalam bentuk kliping surat kabar dari 1969 hingga 1980. Selain memuat fakta-fakta penting tentang sejarah Aceh, kumpulan kliping tersebut juga menampilkan tulisan para pelaku sejarah seperti Ali Hasjmy, T. A. Talsya, Tjutje dan yang lainnya.

Dalam acara ini, Zunaimar berharap agar koleksi yang dipamerkan dapat menjadi sarana edukasi bagi pengunjung pameran nasional ini dan menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

“Kita berharap agar generasi sekarang mengetahui sejauh mana upaya yang dilakukan oleh generasi masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan. Maka penting bagi kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan dengan menguatkan jati diri bangsa,” kata Zunaimar.[]

Tiga Manuskrip Alquran Ini Diklaim Tertua di Dunia

Tiga Manuskrip Alquran Ini Diklaim Tertua di Dunia

JAKARTA – Baru-baru ini dua lembar perkamen Alquran yang diklaim sebagai yang tertua ditemukan oleh para peneliti di Universitas Birmingham Inggris.

Dikutip dari CNN, Jumat (24/7/2015) hasil tes menyebutkan bahwa perkamen tersebut ditulis antara tahun 568 hingga 645 masehi. Ini berarti ditulis berdekatan dengan masa Nabi Muhammad SAW yang hidup antara tahun 570 hingga 632 masehi.

Ternyata selain manuskrip di atas, ada juga beberapa manuskrip yang diklaim sebagai Alquran tertua yakni yang ada di Yaman dan Jerman.

Sanaa, Yaman

Dalam situs Unesco.org ditampilkan sejumlah manuskrip Alquran dari Sanaa, Yaman. Salah satunya bagian dari surat At Taubah dan Surat Yunus. Lembaran itu ditemukan oleh para pekerja bangunan saat merenovasi masjid Agung Sanaa, Yaman pada 1972.

Dimensi manuskrip itu berukuran 39x 36 cm, ditulis dengan gaya kaligrafi Kufi Masahif. Selain surat tersebut ada juga beberapa potongan surat seperti Surat Al-Khafi, Al-Baqorah dan Al- Mursalat.

Jerman

Manuskrip Alquran tertua juga diklaim ditemukan di Jerman. Manuskrip itu ditemukan oleh para peneliti yang tergabung dalam proyek Coranica di Perpustakan Universitas Tübingen, Jerman, seperti dilansir oleh Communities Digital News 19 November 19 2014 lalu.

Manuskrip Alquran dari naskah kufi yang terkenal itu disebut berasal dari masa khalifah Ali bin Abu Thalib sekitar 20-40 tahun setelah kematian Nabi Muhammad. Hasil pengujian menunjukan probabilitas statistik 95,4 persen dan oleh para ilmuan tersebut diperkirakan manuskrip itu berasal dari periode antara tahun 649 hingga 675 Masehi. Naskah sebagian besar Surat Al-Isra ayat 37 dan Surat Yasin ayat 57.

Menurut perwakilan universitas Dr Eva Mira Youssef-Grob, Proyek Cronica menggunakan analisis palaeografik dan penanggalan manuskrip tertua dari Alquran akan dilengkapi metode ilmiah seperti penanggalan radiokarbon. Sehingga penelitian ini dinggap memiliki ketepatan aktual

Mushaf yang dinamakan Ma VI 165 ini dibuat di atas perkamen berkualitas bagus. Naskah juga berhasil bertahan dalam kondisi yang cukup baik selama lebih dari 1.339 tahun. Naskah ditempatkan di bagian pameran kitab suci dan dipamerkan di perpustakaan universitas di Antwerp.

Inggris

Manuskrip Alquran yang diteliti di Universitas Birmingham Inggris diklaim sebagai yang tertua di dunia. Diduga kuat, Al Quran itu disusun pada era nabi Muhammad atau beberapa tahun setelah wafat. Bagaimana bentuknya dari dekat?

Dalam rilis resmi yang disampaikan oleh pihak universitas, Rabu (22/7), Alquran itu terdiri dari dua lembar perkamen. Ada beberapa bagian ayat dari surat Al Kahfi sampai Thaha di dalam perkamen tersebut. Namun tak semuanya utuh karena faktor usia.

Ayat Alquran di perkamen tersebut ditulis dengan tinta kuno menggunakan huruf Arab yang dikenal dengan Hijaiyah. Selama bertahun-tahun, manuskrip tersebut itu tercampur dengan lembaran perkamen lainnya.

Perkamen tersebut dikumpulkan sejak tahun 1920an oleh Alphonse Mingana, seorang Imam yang lahir di dekat kota Mosul-Irak namun tinggal di Inggris. Koleksi Mingana kemudian disimpan di Universitas Birmingham di bawah Perpustakaan Riset Cadbury.

“Dengan memisahkan dua lembar dan menganalisis perkamen tersebut, kami membawa temuan menakjubkan dari koleksi Mingana,” terang Susan Worrall, Direktur Koleksi Spesial di Birmingham.

Hasil tes radiokarbon menyebutkan bahwa perkamen tersebut ditulis antara tahun 568 hingga 645 masehi. Ini berarti ditulis berdekatan dengan masa Nabi Muhammad SAW yang hidup antara tahun 570 hingga 632 masehi.

Rencananya, Alquran tersebut akan ditampilkan ke publik di The Barber Institute of Fine Arts, University of Birmingham, mulai tanggal 2 Oktober sampai 25 Oktober 2015.[] sumber: detik.com

Kolektor Manuskrip Aceh Dukung Kongres Peradaban, Tapi…

Kolektor Manuskrip Aceh Dukung Kongres Peradaban, Tapi…

BANDA ACEH – Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, mendukung adanya pelaksanaan Kongres Peradaban Aceh yang disebut-sebut bakal digelar di Takengon, Aceh Tengah. Namun dia berharap agar kegiatan ini bisa memayungi semua aspek budaya dan diikuti oleh elemen-elemen masyarakat yang tahu peradaban Aceh.

“Kita harus melihat dulu konteks dari kegiatan ini untuk apa ke depan. Kalau memang konteks untuk kita membesarkan kebudayaan etnik, setuju-setuju saja. Siapa pun kita tanya pasti setuju, tapi kalau konteks untuk yang mengarahkan aromanya ke politik, orang budaya ini tidak akan ikut dia,” kata pria yang akrab disapa Cek Midi tersebut kepada portalsatu.com, Rabu dinihari, 15 Juli 2015.

Dia mengatakan tidak mungkin dalam kongres tersebut mampu merumuskan sebuah kamus bahasa daerah dalam waktu yang singkat. Apalagi cuma setengah hari.

Menurut Cek Midi, bahasa daerah yang ada di Aceh tidak hanya berkutat di bahasa Aceh pesisir saja. Namun juga terdapat bahasa-bahasa sub etnik lain seperti Aneuk Jamee, Devayan, Melayu Teumieng, Gayo dan lainnya. “Ini melambangkan adalah peradaban bangsa Aceh itu tinggi. Dialeknya beragam dan bahasanya juga banyak,” katanya.

“Makanya tidak mungkin dibuat kongres dalam setengah hari meskipun didatangkan pakar-pakar bahasa dalam kegiatan ini. Tapi kalau pun mungkin, itu luar biasa,” ujarnya.

Meskipun begitu, dia mendukung pelaksanaan kongres tersebut dengan catatan panitia memperbaiki teknis pelaksanaannya Selain itu kongres ini juga diminta melibatkan semua ahli bahasa daerah di Aceh dalam kongres tersebut.

“Itu kalau mereka serius membuat kongres ini untuk kepentingan peradaban Aceh. Intinya saya mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini, meski secara teknikal pelaksanaannya harus diperbaiki,” katanya.[]

Foto: Tarmizi A Hamid. @detik.com

Tanbeh 17 Kitab Klasik Penyuci Jiwa

Tanbeh 17 Kitab Klasik Penyuci Jiwa

TANBEH 17 merupakan nama lain dari kitab Munirul Qulub, ditulis dengan bahasa Aceh bersajak. Berisi 17 anjuran bagi pencari surga dan penghapus dosa. Tuntunan bagi umat dalam hakikat hidupnya.

Kitab aslinya bertulis tangan dengan aksara Arab Jawi berbahasa Aceh. Ditulis di atas kertas ukuran 22 x 16 cm setebal 138 halaman. Setiap halaman berisi 19 baris yang ditulis dalam dua lajur. Kitab ini pernah dialih aksarakan oleh tim dari Museum Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1993.

Dalam pengantar alih akasara dijelaskan, isi Tanbeh 17 berupa 17 pokok bahasan tentang anjuran bagi siapa saja yang hendak mencari surga, serta tuntunan bagi penebus dosa. Penulisnya membuka kitab dengan keterangan, ulon teusurat bahsa droe, Arab Jawoe kupeu bahsa, lon boh lagu ban hikayat, makna kitab simeumata, nama kitab Munirul Qulub, Dawauz Zunub ubat desya.

Penulisan kitab ini disandarkan pada ayat-ayat Alquran, hadis Nabi dan ijmak para ulama. Penjelasan dan argumentasi yang disampaikan selalu begitu mengalir. Dalil dan perumpamaan atas kajian yang disampaikan sangat mengena. Dalil-dalil yang dikemukakan selalu sertakan dengan penjelasan yang begitu dekat dengan realita kehidupan.

Menariknya lagi, penjelasan dalam setiap tanbeh disertai dengan ulasan-ulasan sejarah pada masa nabi. Ini membuat kitab Tanbeh 17 menjadi lebih enak dibaca dan lebih membekas dalam ingatan.

17 tanbeh yang dijelaskan dalam kitab ini berupa: kepercayaan, taqwa, makna penting kewajiban agama, martabat ulama dalam masyarakat Islam, kewajiban terhadap orang tua, sopan santun kepada guru, kewajiban istri terhadap suami. Pada bagian kewajiban istri terhadap suami memuat tentang kisah ajaran Nabi Muhammad kepada putrinya Fatimah.

Tanbeh lainnya adalah: kewajiban mandi junub, kewajiban terhadap tetangga, kemuliaan berderma, kejahatan riba, kerugian meninggalkan sembahyang, kepuraan dalam beribadah dan kerugiaannya, bahaya sakaratul maut.

Pada bagian bahaya sekaratul maut ini memuat kisah Jadid bin Ata yang karena kesamaan namanya dicomot oleh malaikat maut sebagai orang kafir bernama Jaded bin Farek. Kemudian ia dihidupkan kembali sehingga dapat menceritakan pengalamannya tetang kesengsaraan kaum kafir setelah mati.

Dua tanbeh terakhir berupa azab yang dilaksanakan dalam kubur dan kerugian meninggalkan shalat Jumat. Pada bagian ini dipaparkan kejadian-kejadian nyata di beberapa tempat pada masa itu yang kerap dilanda kekeringan dan gagal panen akibat masyarakatnya tidak melaksanakan kewajiban shalat Jumat.

Penulis kitab ini juga menyinggung tentang tradisi “Jumat bersih” dalam masyarakat Aceh, yakni bergotong royong bersama setiap pagi Jumat hingga jelang dhuhur. Usai gotong royong para pria akan melakukan shalat Jumat bersama di mesjid. Kerifan lokal ini kini sudah jarang terlihat dalam masyarakat Aceh.

Membaca kitab ini kita diajarkan untuk menjalani hidup seutuhnya sebagai hamba Allah dalam bermasyarakat yang berpedoman pada konsep hablun minallah wa hablun minannas.

Kitab ini tamat ditulis pada tahun 1254 Hijriah bertepatan dengan 1875 masehi. Penulis menyebut namanya sebagai Teuku Muda. Pada bagian akhir kitab Tanbeh 17 ini, ia menjelaskan bahwa Aceh sering dilanda malapetaka karena masyarakatnya banyak melanggar hukum agama.

Teuku Muda menutupnya dengan: bak nanggroe nyoe hana beureukat, le nyang bangsat taat kureung, Aceh pih kayem keunong bala, hana reuda lam teuka khueng, La ila haillallah habeh kisah, han peun bileueng wallahu aklam, tamat surat malam Jumat, khamis watee Insya. Nyang empunya Teuku Muda.

Menarik untuk mengkaji kembali Tambeh 17 ini, semoga kita bisa terhindar dari segara mara bahaya, dan memperoleh ampunan dosa, karena kitab ini merupakan ajaran untuk penyci jiwa dan obat segala dosa.[]

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh: Kembalilah Kepada Identitas ke-Acehan

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh: Kembalilah Kepada Identitas ke-Acehan

BANDA ACEH – Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, mengunjungi kantor portalsatu.com, Jumat, 27 Maret 2015. Dalam kunjungannya tersebut, Cek Midi, sapaan akrab Tarmizi A Hamid, memaparkan sejumlah informasi tentang manuskrip-manuskrip Aceh yang belum sepenuhnya mendapat perhatian Pemerintah Aceh.

“Pemerintah kita, baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Aceh tidak memerhatikan peninggalan-peninggalan sejarah yang ada. Kita tidak hanya berbicara mengenai manuskrip saja, tapi situs sejarah lainnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara lain yang sangat menjaga sejarahnya. Di gop dari yang hana dipeuna, tanyoe dari na jeut keu hana (orang lain dari yang tiada menjadi ada, kita dari ada menjadi tiada),” ujarnya.

Menurut Cek Midi, Aceh perlu kembali ke identitas ke-Acehan untuk menjadi besar seperti era kejayaannya masa lalu. “Kembalilah Aceh ini kepada identitas ke-Acehan sendiri agar Aceh ini maju,” katanya.

Ia menilai jika Aceh bisa kembali mencintai identitasnya maka daerah ini akan menjadi lebih makmur. “Sekarang lihat saja saat banyak warga Aceh mulai melacak identitasnya, banyak kandungan alam yang muncul ke permukaan seperti emas, perak, dan yang terbaru adalah giok. Itu baru sedikit warga Aceh yang kembali memerhatikan identitasnya, coba kalau seluruh masyarakat Aceh maka bayangkan apa kekayaan Aceh yang akan muncul di kemudian hari,” ujarnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Cek Midi menilai Aceh merupakan daerah tujuan masyarakat mancanegara di masa lalu. Hal ini terbukti dengan beragamnya suku dan adat istiadat yang berkembang di Aceh saat ini. “Pedagang-pedagang masa lalu itu menjadikan Aceh sebagai daerah tujuan. Contohnya seperti pedagang-pedagang dari Arab, China, India dan bahkan Portugis. Ini menandakan Aceh adalah daerah yang sangat maju,” katanya.

Selain itu Aceh juga memiliki keragaman bahasa. Salah satunya adalah saat Aceh memiliki tiga bahasa persatuan yang berkembang di masanya seperti bahasa Arab untuk tujuan keagamaan, bahasa Melayu untuk perdagangan dan bahasa Aceh.

“Saat Belanda datang ke Aceh, mereka hanya menguasai dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Melayu. Namun mereka terkejut saat Aceh ternyata memiliki bahasa persatuan lainnya, yaitu bahasa Aceh. Sehingga bahasa Aceh pada masa itu dianggap sebagai bahasa sandi dan banyak manuskrip-manuskrip yang ditulis dalam bahasa Aceh dilenyapkan,” ujarnya lagi.

Aceh juga memiliki puluhan bahasa lainnya selain tiga bahasa persatuan tersebut. Di antaranya adalah bahasa Gayo, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Defayan, bahasa Kluet dan lainnya. Untuk bahasa Aceh saja, kata Cek Midi, memiliki perbedaan walaupun secara umum memiliki pengertian yang sama.

“Banyak dialek beragam bahasa di Aceh, itu menandakan majunya Aceh pada masa lalu,” katanya.[]