Tag: lamuri

Pemerintah Aceh Ditantang Jadikan Kawasan Lamuri sebagai Situs Sejarah Warisan Dunia

Pemerintah Aceh Ditantang Jadikan Kawasan Lamuri sebagai Situs Sejarah Warisan Dunia

BANDA ACEH – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar ) Aceh bekerjasama dengan Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala melakukan penelitian di situs Lamuri. Penelitian yang melibatkan empat arkeolog Aceh itu sudah berlangsung selama sepuluh hari (12-22 September) dan  berakhir empat hari lalu, Selasa, 22 September 2015.

Menanggapi hal itu, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menantang Disbudpar Aceh untuk memperjuangkan kawasan Lamuri sebagai Situs Sejarah Warisan Dunia. Hal ini dikatakan oleh Ketua Mapesa, Muhajir Ibnu Marzuki dalam rilisnya, Jumat, 25 September 2015.

“Penyelamatan situs Lamuri, hal mendesak yang harus dilakukan. Jika hal ini tidak dilakukan, maka keberadaan situs sangat terancam hilang atau lenyap,” ujar Muhajir.

Ia mengatakan mendaftarkan kawasan Lamuri sebagai situs dilindungi undang-undang merupakan hal yang mendesak dan mendasar untuk dilakukan dalam menyelamatkan situs Lamuri.

“Jika para elemen sipil dulu memperjuangkan Lamuri agar selamat dari pembangunan yang mengancam hilangnya kawasan tersebut. Maka mendaftarkan kawasan tersebut sebagai situs sejarah adalah kewajiban Pemerintah Aceh,” katanya.

Muhajir mengatakan, Pemerintah Aceh sudah terlambat merespon penyelamatan Lamuri. Bahkan, Dia menilai, penelitian tersebut sudah tawar nilainya. Disebabkan duluan peneliti dari USM (University Sain Malaysia) meneliti dan memetakan situs tersebut.

“Walaupun terlambat, Mapesa mengapresiasikan niat dan usaha baik dari Disbudpar Aceh ini. Namun perlu diingat, ini baru langkah awal. Masih banyak hal lain yang perlu dilakukan agar Kawasan Bukit Lamreh bisa menjadi Pusat Laboratorium Arkeologi dan Sejarah di Aceh,” ujar Muhajir.

Menurut Muhajir, situs Lamuri merupakan titik penting dalam rangkaian sejarah Aceh yang harus dikembangkan, baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengembangan pariwisata di Aceh. Selain situs sejarah, menurutnya panorama alam yang eksotis menjadi nilai lebih bagi kawasan tersebut dijadikan destinasi baru wisata Aceh.

“Karena itu, Pemerintah Aceh harus berpikir, bagaimana kawasan Lamuri ini bisa menjadi lumbungnya PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi Aceh,” ujarnya.

Menurutnya Lamuri dulunya merupakan kota maritim yang di dalamnya mendiami berbagai masyarakat dari berbagai bangsa. Karena itu ia berharap kawasan tersebut bisa didaftar ke UNESCO sebagai situs sejarah warisan dunia.

“Hanya mendaftarkan kawasan ini sebagai situs dilindungi undang-undang. Itu hal biasa. Memperjuangkan kawasan ini sebagai situs sejarah warisan Dunia ,itulah yang mesti diperjuangkan oleh Pemerintah Aceh. Ini akan ada nilai lebih bagi Aceh di dunia Internasional,” kata Muhajir. [] (mal)

FKIP Sejarah Unsyiah Observasi Bekas Kerajaan Lamuri

FKIP Sejarah Unsyiah Observasi Bekas Kerajaan Lamuri

JANTHO – Puluhan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sejarah mengobservasi bekas Kerajaan Lamuri di Bukit Lamreh, Aceh Besar, Minggu, 13 September 2015.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Arkeolog Aceh, Dr. Drs. Husaini, M.A, yang melibatkan Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Budaya Aceh. Kegiatan ini juga didukung oleh Badan Pelestarian peninggalan Cagar Budaya (BPPCB) dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA).

“Penelitian ini dilakukan penggalian di tiga titik di bukit Lamreh yang nantinya diharapkan dalam penelitian ini menghasilkan satu bukti bahwa situs Lamuri ini sangat penting sebagai situs tertua, bukan hanya di Aceh tapi juga Nusantara. Situs ini juga mewakili sejak masa sebelum Islam maupun sesudah masa Islam sampai memperoleh kejayaan, yang nantinya setelah Lamuri berpindah ke Kerajaan Aceh yang berpusat di Gampong Pande,” kata Husaini yang juga dosen FKIP Sejarah Unsyiah.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Sejarah FKIP Unsyiah, Fahzian Aldevan, menyayangkan sejarah Lamuri sangat terbengkalai. “Ada sebagian batu nisan juga sudah dicabut dan dipindahkan, jika seperti ini siapa lagi yang menjaga situs -situs tersebut,” ujarnya.[](bna)

Situs Gampong Pande Terkendala Pembebasan Lahan

Situs Gampong Pande Terkendala Pembebasan Lahan

BANDA ACEH – Situs Lamuri di Perbukitan Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar dan situs Gampong Pande, Banda Aceh, merupakan dua hal penting yang bisa menjadi destinasi wisata baru di Aceh. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Vahlevi, saat dijumpai portalsatu.com di sela-sela pameran 100 Tahun Museum Aceh, di Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

Menurutnya dua situs tersebut telah menjadi fokus Disbudpar Aceh sejak dua tahun lalu. Salah satunya adalah penelitian Gampong Pande yang dilakukan Disbudpar dengan melibatkan Badan Arkeologi Wilayah Sumatera Bagian Utara, Medan.

“Tahun ini, kita dengan Unsyiah juga kawan-kawan yang terlibat dalam komunitas coba masuk ke Lamuri. Jadi begitu penting kajian itu, karena kajian itulah yang menentukan langkah-langkah berikutnya. Perluasan harus ditata, harus dilindungi, diselamatkan, itu juga harus membebaskan lahannya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Kadisbudpar Banda Aceh, Fadhil, S.Sos. Ditemui secara terpisah, Fadhil mengatakan Gampong Pande merupakan program jangka pendek dan jangka panjang dinas tersebut untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata baru. “Saya secara pribadi menamsilkan, (Gampong Pande) itu seperti Babilonia di Irak itu. Terkubur begitu banyak sejarah di dalamnya,” ujarnya.

Namun dia mengatakan pengembangan Gampong Pande tidak mudah diatasi. Salah satunya adalah letak geografis Gampong Pande yang terbagi ke dalam dua wilayah. “Pertama Gampong Pande itu ada yang terletak di wilayah perairan, dimana tambak dan bakau itu ada situs yang tersimpan dan tersembunyi begitu banyak sejarah,” katanya lagi.

Dia mengatakan yang menjadi kendala adalah tanah tersebut adalah milik masyarakat yang sulit dibebaskan. Selain itu, kata dia, di daerah tersebut juga ada zona Makam Dikandang. “Makam Dikandang itu sudah kita renovasi, tetapi kita juga mencoba untuk melanjutkan program Kadisbudpar yang lalu, perencanaan sudah ada, DED sudah ada, kita ingin memperluas kawasan ini. Ada padepokan juga dan segala macam. Itu lagi kita jual DED itu, baik itu kepada Kementerian Pariwisata maupun kepada pihak-pihak lain lah,” ujarnya.

Dia berharap DED yang ditawarkan tersebut berlaku untuk pengembangan wisata sejarah di Gampong Pande. Namun, dia menakutkan ada beberapa kawasan masyarakat yang belum dibebaskan oleh pemerintah.

“Pembebasan tanah ini juga tidak mudah. Ada aturan pembebasan tanah juga ada perubahan. Jadi kita juga terkendala di pembebasan lahan,” katanya.

Selain itu, Disbudpar Banda Aceh juga menemukan kendala lainnya seperti mengembalikan marwah rakyat untuk mencintai adat istiadat serta rasa memiliki. Menurutnya jika marwah tersebut dimiliki oleh orang Aceh, pengembangan kebudayaan dan pariwisata itu tidak hanya up down. “Tapi bottom up juga. Jadi bahasa up down ini harus ada kekuatan, oleh karena itu kita selalu mencoba bersosialisasi memberikan pengarahan jangan sampai ada juga sikap masyarakat yang menilai tanah itu aji mumpung sehingga menjual tanah mahal-mahal karena kebutuhan pemerintah. Padahal itu kan kebutuhan kita juga,” katanya.

Menurutnya ini adalah kendala yang dihadapi oleh Disbudpar Banda Aceh melanjutkan pengembangan Gampong Pande menjadi destinasi wisata baru di ibu kota. Dia mengatakan wisatawan mancanegara yang datang ke Aceh tidak hanya semata-mata ingin menikmati eksotik keindahan alam saja. “Juga ada wisata edukasi. Kalau kita bisa merekonstruksi sejarah yang ada di Gampong Pande itu, itu ada nilai jual yang terbesar untuk Banda Aceh,” katanya.

Fadhil mengatakan hal ini tidak hanya bisa dilakukan oleh Disbudpar Banda Aceh saja. Tapi juga melibatkan Dirjen Kebudayaan dan Pariwisata. “Bagaimana melihat itu (situs Gampong Pande) adalah sesuatu yang penting. Kan biaya besar itu untuk bisa memetakan ada nggak di wilayah itu tersimpan dan tersembunyi beberapa hal yang luar biasa. Contohnya adalah penemuan emas di daerah hutan manggrove di Gampong Pande,” katanya.

Menurut Fadhil mengutip keterangan sejarawan menyebutkan Gampong Pande adalah pusat pembuatan tembikar dan emas. Sementara di Makam Kandang adalah wilayah Kesultanan Aceh. “Jadi antara dua kawasan itu memiliki hubungan. Seperti di Kraton Jawa itu ada tempat abdi ndalem dan kraton. Itu sebenarnya tersimpan di bawah tanah ini. Jadi bagaimanalah kita memikirkan bersama, kita berharap ada ahli antropologi dan ahli sejarah untuk bisa memetakan daerah ini. Ini yang perlu dilakukan,” katanya.[]

Kuta Di Anjong; Benteng Atau Masjid?

Kuta Di Anjong; Benteng Atau Masjid?

TULISAN ini merupakan tinjauan awal tentang struktur Kuta Di Anjong sebagai hasil observasi yang dilakukan pada Minggu 3 Mei 2015 yang lalu. Rekonstruksi bentuk dan fungsi struktur bangunannya akan dibandingkan dengan pembahasan sekilas perbentengan masa Kesultanan Aceh di kawasan yang sama, Ladong-Krueng Raya.

Langkah ini ditempuh dengan pertimbangan bahwa struktur diperkirakan berasal dari periode yang sama berdasarkan gaya bangunan dan teknologi. Sebagai tinjauan awal diharapkan ada tindak lanjut penelitian arkeologi lebih sistematis untuk mendapatkan bahan-bahan baru yang dapat menjelaskan bentuk dan fungsinya.

Penamaan struktur sebagai Kuta Di Anjong berasal dari penyebutan yang dikenal masyarakat setempat. Saat tulisan ini disusun, belum ditemukan sumber-sumber historis yang dapat dihubungkan dan dapat menjelaskan keberadaannya struktur yang disebut ‘kuta’ tersebut.

Lokasi Kuta Di Anjong berada di Desa (Kampung) Durong, Ladong Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. Secara terminologi Kuta Di Anjong berasal dari kata ‘kuta’ dan ‘di anjong‘. Kata Kuta berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti ‘benteng’ sebagai sistem pertahanan dan atau lahan dengan sistem perlindungan. Namun demikian istilah ini juga digunakan secara luas untuk suatu kawasan pemukiman.

Sementara ‘di anjong’ adalah kata Melayu yang menunjuk letak pada bagian dari bangunan tradisional, baik dalam dunia Melayu maupun Aceh, dari bahan kayu yang berbentuk anjungan. Anjungan merupakan panggung kayu (serupa anjungan pada kapal layar). Secara bebas ‘kuta di anjung’ berarti benteng dengan memiliki anjungan.

Struktur ini berdenah persegi empat dengan lingkungan yang dikelilingi parit, dengan pembagian halaman memusat bagian utama berada pada bagian tengah halaman berteras. Pembagian halaman memusat suatu bentuk arsitektural yang sangat menarik, karena bentuk seperti ini sudah dikenal tua dalam peradaban manusia.

Bentuk-bentuk ini sering diterapkan pada kuil-kuil atau candi Hindu-Buddha dari masa Mataram kuno Hindu (Medang) di Jawa Tengah dan Jawa Timur dari periode abad ke-7 Masehi hingga abad ke-9 Masehi. Gaya ini menirukan arsitektur Dravidian India (lihat denah pada gambar sketsa).

Namun bentuk halaman memusat dengan bangunan utama pada struktur ini lebih menyerupai kuil-kuil (candi) Hindu-Buddha di Sumatera, yang terbuat dari bahan batu bata dengan bagian atap yang disusun dari konstruksi kayu. Bangunan atau struktur itu seperti yang dapat ditemukan di kawasan Muaro Jambi, Muara Takus di Riau, atau bihara-bihara dari Padang Lawas di Tapanuli Tengah.

Halaman I dikelilingi parit, sementara halaman II berteras dengan dinding tanggul, dan bagian utama berada di tengah halaman II berteras. Struktur ini merupakan bangunan semi permanen yang sebagian bangunannya dibina dari batu dan perekat semen. Bagian ini yang masih dapat diamati, dan bangunan dari kayu yang tidak lagi dapat diamati.

Keadaan struktur Kuta Di Anjong sekarang dalam keadaan yang relatif baik, sehingga bentuk keseluruhan struktur masih dapat diamati dengan jelas dalam observasi. Beberapa kerusakan yang cukup parah ditemukan pada bagian parit keliling halaman I. Parit keliling ini seluruhnya dibangun dengan penampang dari batu dan semen kapur, sekarang hanya bagian kecil saja yang masih dapat dilihat. Kerusakan pada sumur pada halaman I terutama pada bagian bibir sumur yang cukup tebal, diperkirakan berdiameter 1 meter dengan tebal bibir cincin sumur 40 centimeter.

benteng atau masjid 1
Keterangan foto elemen arsitektural/struktur: (1) Parit keliling halaman I, (2) sumur batu halaman I, (3) tangga menuju teras/halaman II, (4) teras/halaman II dengan dinding tanggul, dan (5) bangunan utama dinding pagar dan pintu.

 

Kerusakan juga ditemukan pada empat sisi dinding tanggul teras/halaman II, dan tangga yang landai dengan 9 anak tangga yang masih tersisa. Kerusakan yang cukup parah ditemukan pada dinding pagar keliling bangunan utama. Kerusakan kecil hanya ditemukan pada bagian dinding pagar keliling sisi timur dengan pintu kecil, sementara empat bagian sudut, dinding pagar keliling sisi selatan, barat, dan utara hanya tersisa sebagian kecil saja.

 

Tekhnologi batu (bongkahan) dengan perekat semen dari kapur/koral (terumbu karang) dicampur pasir, tanah merah, terumbu karang yang ditumbuk kasar, dan kulit kerang.
Tekhnologi batu (bongkahan) dengan perekat semen dari kapur/koral (terumbu karang) dicampur pasir, tanah merah, terumbu karang yang ditumbuk kasar, dan kulit kerang.

Kuta Di Anjong sebagai Bangunan Masjid

Bangunan Kuta Di Anjong diduga adalah masjid, dengan dasar elemen arsitektural yang tidak mendukung fungsi struktur besar ini sebagai ‘kuta’ atau benteng. ‘Kuta‘ yang berasal dari bahasa sanskrit untuk benteng dipinjam dalam bahasa Aceh untuk pengertian yang sama, baik yang dibina dari tanah atau dengan struktur beton. Namun dalam observasi dan hasil survey permukaan di tempat ini, bentuk struktur tidak mendukung sebagai sistem pertahanan. Benteng-benteng kuno di Aceh, terutama berada di kawasan Ladong-Krueng Raya, dibangun dan dapat dipastikan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dalam kurun waktu pertengahan akhir abad ke-16 Masehi hingga awal abad ke-17 Masehi.

Tujuan pembangunan benteng-benteng (kuta) tersebut berdasarkan keterangan naskah kuno Aceh, seperti Hikayat Aceh (T. Iskandar), untuk ‘mengawal Kuala Aceh’ selain untuk pertahanan atau untuk pengintaian laut atau perairan dalam lintasan Selat Malaka. Benteng-benteng umumnya dilengkapi dengan kelengkapan senjata berat seperti meriam-meriam berdiameter besar. Hikayat Malem Dagang (T. Imran Amdullah) menjelaskan arti perbentengan di kawasan Ladong-Kroeng Raya yang dikenal sebagai ‘Kuta seribu kawal (pengawal)’. Sementara dalam Hikayat Meukuta Alam (T. Imran Abdullah) menjelaskan rancangan benteng-benteng yang dibangun oeleg Mahkota Alam (Sultan Iskandar Muda) dan tahap-tahap-tahap pembuatannya, meliputi mulai dari pengumpulan bahan baku bangunan, mempersiapkan bahan baku semen/perekan batu bongkahan dan tehnik (cara) pemasangan, hingga penyelesaian akhir bangunan dengan lapisan turap berwarna putih kapur.

Tahap-tahap pembuatan struktur ini dapat menjelaskan tidak hanya untuk bangunan perbentengan, tetapi juga untuk bangunan lain seperti pemakaman keluarga Sultan Aceh (kandang), Taman kesultanan Aceh, dan mesjid. Perlu untuk diketahui pula, bahwa perbentengan Aceh merupakan tempat tertutup bahkan dirahasiakan letaknya, hanya untuk para prajurit yang ditugaskan dan pejabat militer istana terkait atau tahanan negara. Fungsinya tidak memunkinkan terbuka untuk kalayak ramai atau rakyat kebanyakan.

Sebagai bahan perbandingan untuk menjelaskan fungsi struktur Kuta Di Anjong akan dibandingkan dengan sistem perbentengan kuno Aceh. Sistem perbentengan kuno di Aceh memiliki prinsip yang sama bila dilihat dari elemen struktur/bangunannya. Ada empat benteng di kawasan Ladong-Kroeng Raya yang perlu dijelaskan di sini, yaitu (1) Benteng (Kuta) Inderapatra Ladong, (2) Benteng (Kuta) Iskandar Muda Kroeng Raya, (3) Benteng (Kuta) Inong Balee Lamreh Kroeng Raya, dan (4) Benteng (Kuta) Lubok Lamreh Kroeng Raya. Masing-masing benteng dibangun dalam jarak tertentu untuk memudahkan diawasi.

Keberadaan perbentengan di kawasan Ladong dan Krueng Raya memiliki arti yang penting dan strategis, karena kawasan ini menjadi pintu masuk jalur pelayaran dunia dari barat-Eropa ke timur-Cina. Ketika itu situasi di kawasan Selat Malaka telah mengalami banyak perubahan setelah kedatangan orang-orang Portugis lalu merebut kota Kesultanan Malaka tahun 1511 M. Dari sini Portugis meluaskan rencananya untuk menundukkan Samudera Pasai, Pedir, Aceh, hingga Daya.

Benteng (Kuta) Inderapatra Ladong

Perbentengan ini cukup menarik berdasarkan rancangannya, karena salah satu dari benteng-benteng kuno Aceh yang tersisa menggunakan teknik pertahanan dengan menggunakan sistem kanal. Perbentengan ini cukup besar dengan elemen-elemen yang sangat rumit untuk dipahami, yaitu (1) sistem kanal atau parit keliling lingkungan perbentengan sebagai pelindung dinding benteng, (2) dua bangunan benteng pengawal yang dikelilingi parit tanpa pintu masuk dilengkapi pintu atau jendela meriam (di setiap empat sisi dinding benteng ada tiga pintu atau jendela meriam) dan dua bangunan pelindung meriam besar serta satu bangunan tertutup yang mungkin untuk menyimpan mesiu meriam atau senjata. (3) Bangunan benteng utama dibangun dengan ukuran besar dan masif dilengkapi pintu dan tangga untuk keluar dan masuk di sisi utara (menghadap laut), meliputi elemen teras keliling dinding benteng untuk patroli, bangunan berteras di tengah halaman benteng utama dengan kamar-kamar di tengah benteng belum dapat diketahui kegunaannya dilengkapi tangga masuk di sisi utara dan timur, dua bangunan sumur beratap kubah (doom) dan teras-teras kecil yang belum diketahui fungsinya. Di belakang benteng utama terdapat (4) lapangan yang terhubung dengan (5) bangunan dengan bentuk denah bersudut banyak, seperti kolam dengan jalan keliling dan tangga masuk di sisi barat kemudian teras kecil dengan tangga untuk naik.

Denah bangunan-bangunan ini selalu mengikuti bentuk persegi empat, kecuali bangunan terakhir. Benteng dibangun di pantai terbuka di hadapan Selat Malaka, tepatnya di kawasan estuaria dengan rawa belakang ditutupi hutan bangka. Rupanya perbentengan ini sangat istimewa karena elemen yang bangunan banyak dan rumit. Pemilihan lokasi yang tidak mudah untuk didekati walau berada di tempat terbuka dan ini salah satu sarat yang utama dari lokasi kubu pertahanan.

Benteng (Kuta) Iskandar Muda Kroeng Raya

Letak benteng ini berada di kuala sungai (Krueng) Krueng Raya, mungkin dibangun untuk mengawal kuala dekat Teluk ‘Krueng Raya’. Benteng Iskandar muda juga menggunakan sistem kanal dikeliling parit yang terhubung dengan sungai, benteng tanpa pintu masuk namun ada tangga turun dan naik diisi timur untuk menuju teras keliling. Pada empat sisi dinding benteng dilengkapi empat pintu atau jendela meriam. Bangunan berteras berukuran besar dengan kamar-kamar di tengah benteng dilengkapi tangga masuk di sisi timur belum dapat diketahui kegunaannya dan dua bangunan sumur.

Sedikit banyak elemen bangunan benteng ini banyak kesamaan dengan benteng-benteng dalam perbentengan Inderapatra Ladong. Berdasarkan elemen yang sama tersebut munkin sekali dapat dijadi petunjuk awal untuk menentukan periodesasi pembangunan kedua perbentengan itu, yaitu dari masa yang sama. Lokasi Benteng (Kuta) Iskandar Muda relatif berdekatan dengan Benteng (Kuta) Inderapatra di baratnya, terutama bila dicapai melalui laut.

Benteng (Kuta) Inong Balee Lamreh Kroeng Raya

Benteng ini tidak begitu istimewa berdasarkan strukturnya, hanya satu sisi dinding menghadap laut (utara) dilengkapi dengan enam pintu atau jendela untuk meriam berdiameter besar. Berada pada sisi barat tanjung Ujung Batee Kapal.

Namun berdasarkan letak dan pemilihan lokasi, benteng ini sangat istimewa karena berada di atas bukit dengan tebing terjal didepatnya di semenanjung bukit Lamreh. Sebenarnya benteng ini tidak sesederhana yang pernah dibayangkan, benteng beton masif tersebut dihubungkan dengan sistem pertahanan yang rumit dan berukuran besar, hanya saja dinding-dinding pertahanannya hanya dibentuk dari tumpukan batu-batu bongkah besar yang diisi dengan batu-batu kecil dicampur dengan tanah dan pecahan batu kapur atau kulit kerang.

Sejalan dengan perjalanan waktu bahan batuan kapur yang digunakan untuk bahan baku struktur larut sehingga beberapa batu kapur tersebut saling merekat. Dalam observasi diketahui benteng ini dibangun secara bertahap dan berkembang mengikuti kontur punggung bukit dengan denah yang sangat rumit.

Perbentengan berlokasi di kawasan perbukitan terjal membentuk tanjung suatu yang sangat istimewa dalam sistem pertahanan dan sangat strategis. Walau bahannya tidak seluruhnya dari tembok beton masif namun letaknya tidaklah mudah untuk didekati oleh musuh. Benteng ini memiliki rancangan bentuk yang sangat berlainan dengan kedua benteng sebelumnya, namun belum dapat dipastikan periodesasi pembangunannya dari masa yang sama.

Benteng (Kuta) Lubok Lamreh Kroeng Raya

Lokasi dan bentuk benteng ini sangat istimewa. Benteng didirikan di dekat kuala, Kuala Bui, pada suatu teluk sempit di sisi timur bukit Lamreh sehingga menjadi pengawal kuala dan teluknya. Benteng ini berdekatan dengan Benteng (Kuta) Inong Balee di baratnya atau tepatnya pada sisi timur tanjung Ujung Batee Kapal.

Benteng ini memiliki bentuk yang sangat berbeda dari bentuk benteng dunia Melayu berdenah persegi empat. Benteng dilengkapi elemen dua bastion, bangunan bulat, yang ditempatkan pada bagian sudut bangunan untuk menempatkan meriam berdiameter besar pada pintu atau jendela meriam. Fungsinya dapat dibandingkan dengan dua benteng pengawal pada perbentengan Indrapatra.

Bastion lebih dikenal pada benteng-benteng (kastil) di Eropa, lalu pengaruhnya menyebar ke Timur Tengah melalui penaklukkan pembebasan Semenanjung Iberia, Spanyol, oleh pasukan Muslim masa Khalifah Umaiyyah dengan gaya benteng Iberia, Perang Salib dengan gaya benteng Perancis dan penaklukan Turki Saljuk lalu Turki Utsmani dengan gaya benteng Romawi Timur Bizantium. Gaya benteng dengan menggunakan elemen bastion hadir di Aceh mungkin sekali ketika kedatangan bantuan Turki Ustmani untuk Sultan Aceh pada masa Sultan ‘Ala ad Din Ria’yah Syah Marhum Kahar.

Elemen benteng yang utama dan paling mencolok secara fisik adalah dinding-dinding keliling yang masif berukuran cukup tebal dan cukup tinggi membentuk suatu lahan yang tertutup. Dinding keliling biasanya dilengkapi jendela-jendela atau pintu-pintu meriam berbentuk setengah lingkaran dan pintu masuk, di Aceh pintu ‘kuta’ atau benteng kadang tidak dibuat secara khusus.

Dari penjelasan di atas sekarang kita dapat membandingkannya dengan struktur Kuta Di Anjong. Dalam perbentengan Kuta Inderapatra, bangunan utama diapit oleh dua bangunan tanpa pintu dan dikelilingi parit. Salah satu diantaranya benteng timur telah direnovasi, dengan empat sisinya dilengkapi pintu-pintu meriam masing-masing tiga pintu.

Khusus untuk dinding sisi utara, pintu-pintu itu berhubungan dengan dua bangunan khusus berbentuk setengah silinder yang nampaknya sengaja dibuat untuk melindungi meriam berukuran cukup besar. Kedua benteng pengawal ini dibangun layaknya sebagai menara tembak seperti dua bastion yang dibangun pada sudut-sudut tembok keliling pada Kuta Lubok. Benteng dibangun untuk mengawasi (pengintai) perairan laut di Selat Malaka sebagai jalur pelayaran dunia, seperti di sepanjang perairan laut Ladong hingga Krueng Raya.

Coba bandingkan dengan letak lokasi perbentengan Kuta Indrapatra di Ladong, Benteng Iskandar Muda, Kuta Inong Balee, dan Kuta Lubok di Krueng Raya. Elemen benteng yang lain yaitu parit keliling yang lebar atau sistem kanal, seperti pada Benteng (kuta) Indrapatra Ladong memiliki parit keliling dengan ukuran cukup lebar maksimal tiga meter dan cukup dalam lebih dari 1 meter dengan dasar lumpur.

Ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk menghambat gerakan pengepungan musuh memasuki lingkungan perbentengan. Contoh lain yang dibuat dengan perhitungan baik yaitu Benteng (Kuta) Iskandar Muda dengan parit keliling yang terhubung dengan sungai dan dekat dengan kuala sungai seakan menjadi pengawal kuala. Bahkan satu-satunya pintu masuk hanya dapat dilakukan melewati sungai yang berada di sisi timur, benteng ini tidak memiliki pintu khusus (bandingkan dengan benteng pengawal pada perbentengan Indrapatra).

Dinding-dinding benteng dibangun cenderung lebih tebal dan lebih tinggi dengan dua bagian tembok batu yang diisi tanah, yang dipadatkan dan dilengkapi selasar keliling tembok untuk penjaga berkeliling benteng saat meronda mengamati keadaan di luar.

Letak ‘Kuta Di Anjong’ berada agak jauh dari perairan laut, Selat Malaka, berjarak lebih kurang 1 mil dari garis pantai (pantai Ujung Batee sekarang). Elemen arsitektural/struktur Kuta Di Anjong tidak memiliki elemen seperti ‘kuta’ atau benteng pada umumnya. Bangunan dibangun di tepian kuala dari daerah pasang surut air laut.

Arah bangunan yaitu arah barat atau kiblat di Mekkah dan ini konsisten dengan letak tangga masuk ke teras/halaman II di sisi timur halaman I dekat sumur batu dan searah dengan letak pintu masuk di sisi dinding pagar keliling timur bangunan utama. Bangunan masjid tradisional Aceh tidak dilengkapi mihrab, bagian bagunan yang membentuk relung tempat imam memimpin shalat berjamaah.

Bangunan atau struktur berukuran besar ini dibina dari susunan bongkahan batu jenis andesitik yang direkat dengan semen berbahan kapur dari koral laut/terumbu karang yang dicampur pasir, tanah, dan pecahan kecil terumbu karang atau kulit kerang. Untuk pekerjaan akhir seluruh permukaan dinding batu, baik untuk bangunan utama maupun pada dinding tanggul teras/halaman II, dilapis dengan ‘turap’ atau lapusan semen halus dari kapur dan pasir berwarna putih (tekhnik yang sama juga digunakan untuk benteng-benteng). Bahan yang sama digunakan untuk membentuk profil pada bagian puncak dan bagian kaki dinding tanggul teras. Sehingga permukaan struktur ini seluruhnya berwarna putih.

Ukuran bangunan utama belum diukur dengan teliti tapi dapat diperkirakan berukuran 10 X 10 m² dengan dinding pagar keliling berukuran tinggi maksimal 60 cm dan tebal 40 cm, serta lebar pintu masung 60-70 cm. Ukuran teras/halaman II 40 X 40 m² dengan tinggi dinding tanggul maksimal 1 meter dan tebal 40 centimeter.

Ukuran bangunan utama ini cukup luas dan dapat menampung banyak orang, sehingga fungsi struktur sebagai bangunan untuk masjid sangat memungkinkan dan menjadi satu alasan untuk itu. Jamaah yang dapat ditampung dalam bangunan utama ini lebih kurang 100 orang dalam tujuh barisan ‘shaf ’, sementara teras/halaman II dapat menampung lebih kurang 200 orang jamaah.

Tangga yang landai di sisi timur dinding tanggul teras/halaman II panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter dengan 9 anak tangga yang masih tersisa. Mungkin ada beberapa anak tangga yang telah hilang tapi jumlah biasanya ganjil. Halaman I memiliki luas 80 X 80 m² dengan elemen sumur berdiameter maksimal 1 meter dan ketebalan cincin bibir sumur maksimal 40 cm.

Sumur batu ini mungkin sekali memiliki bibir cincin tebal yang pendek dengan tinggi maksimal 30-40 cm. Halaman I dikelilingi parit dengan lebar maksimal kurang dari 1 meter dan kedalaman maksimal 40 cm tidak untuk maksud tujuan pertahanan. Bila dibandingkan dengan parit keliling atau sistem kanal pada perbentengan Indrapatra Ladong ukuran dan kedalamannya tidak dapat diandalkan untuk tujuan pertahan. Seperti sumur batu, parit ini mungkin sekali untuk air bersih yang dapat digunakan untuk bersuci sebelum melakukan shalat.

Ini tidak mengherankan. Salah satu elemen masjid tradisional di Nusantara dan juga Aceh dilengkapi parit keliling atau kolam, terutama di depan pintu atau dekat tangga. Lagipula tidak ada tanda-tanda adanya bak penampungan air untuk bersuci atau kulah pada halaman pertama.

Rekonstruksi bentuk struktur Kuta Di Anjong sebagai Mesjid dan Kronologis

Bangunan berdenah persegi empat merupakan bentuk dasar yang telah banyak digunakan dalam arsitektur dan bangunan kuno di dunia. Bangunan masjid dan terutama benteng-benteng kuno warisan Kesultanan Aceh Darussalam telah dikenal, di sepanjang perairan laut dari Ladong hingga Krueng Raya, menggunakan denah persegi empat. Begitu pula dengan gaya bangunan dan penerapan teknologi bangunan permanen dengan batu yang direkat semen kapur dari terumbu karang atau kulit kerang.

Bangunan masjid tradisional Aceh masih belum banyak dikaji dengan lebih seksama. Bangunan terbuka tanpa jendela berupa tembak pagar keliling dengan pintu yang sempit di sisi timur merupakan bentuk umum masjid tradisional Aceh.

Bentuk ini sangat berbeda dengan kebanyakan bentuk mesjid tradisional di Nusantara yang cederung tertutup dan banyak jendela. Sebagai contoh masjid tradisional Aceh yang masih dapat dilihat hingga kini yaitu Masjid Indrapuri Aceh Besar yang dibangun untuk masjid agung dalam federasi Sago XXII Mukim dan Masjid Tuha Ulee Kareng yang dibangun untuk kawasan Mukim XIII Ulee Kareng.

Bentuk bangunan terbuka pada masjid tradisional Aceh dengan bentuk atap piramid yang lebar memberi kesan tertutup. Orang yang berada di dalam ruangan masjid dapat dengan leluasa mengamati keadaan di sekitar, sementara orang yang berada di luar masjid tidak dapat melihat keadaan di dalam masjid.

Denah struktur Kuta Di Anjong memiliki kesamaan dengan Masjid Indrapuri, yaitu denah dengan pembagian halaman memusat dan bangunan utama. Bangunan utama sebagai masjid berada di tengah halaman II berteras. Hanya saja ukuran masjid Indrapuri jauh lebih besar dengan jumlah tiang penyokong atap yang lebar dan besar.

Atap masjid dengan konstruksi dari kayu pada bangunan masjid tradisional Aceh yang khas di Kuta Di Anjong tidak dapat dilihat lagi sisa-sisanya. Namun dari perbandingan dengan bangunan Masjid Indrapuri dapat digambarkan masjid ini dibina dari konstruksi kayu serupa. Yaitu atap-atap berbentuk piramid bersusun tiga tingkat yang disangga oleh empat tiang utama dan 14 tiang penyangga lainnya.

Bangunan masjid dengan 16 tiang dapat dilihat pada Masjid Tuha Ulee Kareng. Tiang penyangga di Masjid Indrapuri berjumlah 20 tiang, selain empat tiang utama penyangga konstruksi kayu atap, jarak antara tiang dengan tiang adalah 2,5 meter.

Tidak ada perbedaan khusus antara tiang utama dengan tiang penyangga. Ukuran dan bentuk tiang (umumnya tiang kayu silinder) sama, namun empat tiang utama berukuran lebih panjang karena menjadi penyangga konstruksi atap paling atas.

Tekhnologi bangunan permanen dengan batu yang direkat semen kapur dari terumbu karang atau kulit kerang, lalu dengan penyelesaian akhir lapisan turap putih dapat dipastikan telah dikembangkan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam terutama setelah Aceh. Ini dimungkinkan setelah mendapat bantuan tenaga tekhnik yang didatangkan oleh Khalifah Utsmani Selim tahun 1566-1567 atas permintaan Sultan ‘Ala ad Din Ri’ayah Syah Marhum Kahar.

Denah masjid dengan elemen bangunan yang unik dan istimewa ini mungkin sekali menjadi petunjuk, bahwa gaya masjid seperti ini dibangun atas perintah Sultan Aceh sendiri. Sementara untuk pelaksanaannya dipercayakan atau dibebankan kepada orang-orang besar istananya, seperti wazir (perdana menteri) atau para ‘orang kaya’ raja.

Belum dapat dipastikan waktu pembagunan struktur besar Kuta Di Anjong. Namun dari gaya bangunan dan tekhnologi binaan mengingatkan pada bangunan-bangunan benteng yang dibangun bersamaan dengan kedatangan ahli tekhnik bangunan Turki Utsmani tersebut.

Secara umum bangunan-bangunan ini memiliki kesamaan gaya yaitu dinding atau pagar tembok dengan bagian puncak dan bagian kakinya dihias profil sederhana berbentuk sisi genta/lonceng (ojief). Profil serupa juga ditemukan pada dinding-dinding Benteng (Kuta) Indrapatra Ladong dan Iskandar Muda Krueng Raya, yang letaknya berada beberapa kilometer di timur lokasi Kuta Di Anjong.

Bentuk profil seperti ini sudah sangat dikenal dalam seni bangunan miniatur sebagai contoh yang sangat melimpah yaitu pada bagian kaki batu nisan Aceh. Dinding atau pagar keliling tersebut memiliki sisi-sisi yang sama lebar sehingga menghasilkan denah persegi empat. Gaya bangunan seperti ini tidak dikenal di Turki masa Utsmani dan ini menjadi ciri bangunan-bangunan permanen di Kesultanan Aceh kemudian.

Jejak dan gaya bangunan Turki Utsmani ini dapat kita saksikan sekarang di Benteng (Kuta) Indrapatra Ladong, terutama pada bangunan-bangunan sumur yang cincinnya dibina dari susunan batu bongkahan yang direkat dengan semen. Cincin bagian bibir sumurnya tebal dan pendek.

Gaya yang sangat unik dapat dilihat dalam lingkungan benteng utama di Benteng (Kuta) Indrapatra ini, yaitu sumur besar dengan bangunan batu memiliki empat pintu dengan lengkung-lengkung setengah lingkaran dan bentuk atap kubah (doom) dengan konstruksi batu dan perekat semen.

Bagian puncak kubah dibentuk mahkota dari elemen geometrik bulat yang sederhana, namun secara tekhnis cukup rumit. Bentuk kubah (doom) gaya Romawi Timur (Byzantin) yang kemudian banyak digunakan untuk gaya masjid-masjid Turki Utsmani, yaitu bentuk kubah rendah dengan tepian yang lebar dan datar. Namun kubah bangunan sumur ini bulat dan tidak bersudut banyak (poligonal) seperti yang umumnya ditemukan di Byzantium.

Bentuk bangunan dengan gaya arsitektural dan tekhnologi dapat dipastikan bangunan atau struktur ini dibangun oleh orang yang sama, dengan bangunan benteng-benteng di sepanjang pantai Ladong hingga Krueng Raya. Sultan Aceh merupakan orang yang memerintahkan pembangunan struktur-struktur berukuran besar di seluruh wilayah kekuasaannya, begitu dokumen-dokumen Aceh sendiri memberitakan.

Pertengahan akhir abad ke-16 Masehi dapat dipercaya mulainya pembangunan struktur-struktur besar dengan tekhnologi batu dan semen kapur seperti itu. Untuk periode awal, Aceh Darussalam digunakan untuk membangun perbentengan umumnya lalu masjid dan terakhir makam keluarga istana yang dikenal sebagai kandang dibangun dengan tekhnologi batu dan semen kapur. Dan penguasaan atas tekhnologi ini hanya menjadi hak istimewa Sultan Aceh kemudian hari (lihat Denys Lombard dan Anthony Reid). Ini menjadi satu bukti jarangnya jenis temuan arkeologi yang bersifat arsitektural dan monumental dari warisan Kesultanan Aceh.

Walaupun demikian, di tempat ini perlu dilakukan pekerjaan-pekerjaan arkeologi dengan ekskavasi untuk mengetahui bukti-bukti lain yang dapat memberikan gambaran lebih rinci tentang penggunaan struktur ini di masa lampau.

Penemuan jenis keramik Cina atau koin emas (dirham) atau jenis benda lainnya diharapkan dapat ditemukan dalam kerja arkeologi di tempat ini untuk membantu menentukan pertanggalan (kronologi) pembuatan dan masa penggunaan struktur ini di masa lampau. Dari hasil observasi dan survey permukaan di sekitar lokasi struktur belum ditemukan adanya jenis temuan-temuan tersebut.

Masjid pastilah dibangun berdekatan dengan lokasi pemukiman. Dalam susunan kawasan tradisional Aceh masa Kesultanan Aceh, masjid dibangun dalam suatu mukim untuk beberapa kampung yang saling berdekatan dan dalam suatu negeri tempat sultan menempatkan wakilnya atau raja bawahan. Dalam negeri Islam, masjid menjadi pusat pemukiman Muslim dan menjadi pusat kegiatan masyarakat di sekitarnya.

Hikayat Aceh menjelaskan bahwa salah satu tanggung jawab dan kewajiban pemimpin pemerintahan yang dinobatkan Sultan Aceh untuk kawasan tertentu adalah membangun masjid dan memberikan jaminan untuk pemeliharaan serta memakmurkannya (T. Iskandar).

Sultan Aceh sendiri membangun masjid besar kerajaan di dekat istananya seperti Masjid Baiturrahman dan masjid-masjid besar lainnya, seperti Masjid Indrapurwa dan Masjid Indrapuri sebagai lambang supremasi kekuatan politik negeri Islam.

Lokasi Kuta Di Anjong secara konteks arkeologisnya sangat unik, karena bangunan ini terkesan jauh dari pemukiman. Hal tersebut berdasarkan bukti belum atau tidak ditemukan tanda-tanda adanya pemukiman kuno di sekitar tempat ini. Tanda adanya pemukiman kuno di Aceh yang mudah untuk diamati yaitu makam-makam kuno dan temuan permukaan berbagai jenis benda.

Sementara di Benteng Kuta Indrapatra, tanda-tanda pemukiman kuno dapat diamati berada di timur sisi luar perbentengan berupa makam-makam kuno dan temuan permukaan sebagai adanya pemukiman kuno. Namun hal tersebut tidaklah suatu yang janggal dengan alasan letak bangunan ini berada paling barat dari sederetan perbentengan di kawasan Ladong dan Krueng Raya dengan pemukiman yang cukup padat di sekeliling perbentengannya.[]

Gambar rekonstruksi bangunan masjid tradisional Aceh semi permanen mengikuti model bentuk masjid beratap piramid bersusun dua, seperti Masjid Tuha Ulee Kareng.
Gambar rekonstruksi bangunan masjid tradisional Aceh semi permanen mengikuti model bentuk masjid beratap piramid bersusun dua, seperti Masjid Tuha Ulee Kareng.

 

peta ladong
Peta geologi Ladong dan Kroeng Raya, Aceh Besar (sumber E. Edwards McKinnon, 2010)
Peta Ladong
Peta Ladong

 

* Penulis adalah Deddy Satria, arkeolog yang tinggal di Banda Aceh. Selama ini bekerja sebagai peneliti arkeologi di Aceh sejak 2001

Disbudpar Aceh Bakal Koordinasi dengan BPCB Terkait Cagar Budaya

Disbudpar Aceh Bakal Koordinasi dengan BPCB Terkait Cagar Budaya

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, memberikan apresiasi yang besar kepada Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) yang telah membantu menelusuri sejumlah situs sejarah. Dia mengatakan sudah banyak situs sejarah yang ditemukan Mapesa dan bukan hanya bangunan Kuta Teungku Dianjong yang diduga sebagai masjid kuno dari abad 16-17 masehi tersebut.

“Kita sangat berterimakasih kepada Mapesa yang telah membantu menyelamatkan situs sejarah Aceh selama ini,” katanya kepada portalsatu.com, usai mengunjungi situs sejarah di Kuta Teungku Diangjong, Ladong, Aceh Besar, Senin, 4 Mai 2015.

Reza berharap masyarakat di sekitar situs sejarah atau cagar budaya agar merasa memiliki sehingga dapat terawat dengan baik.

“Kita berharap kepada masyarakat Aceh agar terus menjaga situs sejarah yang ada. Jadi masyarakat ketika mengetahui itu merupakan peninggalan tempo dulu, masyarakat kita berharap memeliharanya dengan baik,”ujarnya.

Menurutnya Disbudpar Aceh akan terus menjaga dan memugar semua cagar budaya dan situs sejarah yang telah ditemukan karena hal tersebut dinilai sangat penting.

“Kita terus berkoordinasi dengan BPCB terhadap penemuan-penemuan situs sejarah di Aceh,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, bersama Sekjend Mapesa, Mizuar Mahdi, dan aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen berkunjung ke Dusun Kuta Teungku Dianjong. Dalam kunjungan tersebut, rombongan tidak banyak melakukan kegiatan dan terbatas melihat kondisi bangunan.

Seperti diketahui, tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[] (bna)

Mapesa Konsisten Teliti Temuan Bangunan Kuno di Ladong

Mapesa Konsisten Teliti Temuan Bangunan Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) akan terus mendalami hasil penemuan yang diduga masjid kuno di Dusun Kuta Teungku Dianjong, Gampong Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Bangunan yang diduga masjid kuno ini kerap disebut kuta oleh warga setempat.

“Kita terus dalami penemuan ini. Penelitian terus kita lakukan untuk membuktikan apa yang sebenarnya bangunan tersebut,” ujar Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Senin, 4 Mai 2015.

Mizuar belum bisa memastikan kapan penelitian akan dilakukan untuk menjawab kontroversi terkait bangunan yang diduga dibangun pada abad 16-17 masehi tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, bersama Sekjend Mapesa, Mizuar Mahdi, dan aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen berkunjung ke Dusun Kuta Teungku Dianjong. Dalam kunjungan tersebut, rombongan tidak banyak melakukan kegiatan dan terbatas melihat kondisi bangunan.

Seperti diketahui, tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[] (bna)

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

Berikut sejumlah foto yang diabadikan Afrizal, salah satu tim ekspedisi Mapesa di lokasi:masjid kuno indrapatra masjid kuno indrapatra1 masjid kuno indrapatra2 masjid kuno indrapatra6

Pemerintah Diminta Observasi Temuan Situs-situs Sejarah Aceh

Pemerintah Diminta Observasi Temuan Situs-situs Sejarah Aceh

BIREUEN – Pemerintah Aceh diminta untuk mengobservasi temuan-temuan sejarah oleh masyarakat gampong agar bisa menjadi destinasi wisata baru di Aceh. Selain itu, pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh juga diminta untuk membenahi situs-situs yang bisa menjadi museum sejarah bagi generasi muda di masa depan.

Hal ini disampaikan Fanny Safrizal, SH, salah satu guru SMA Sukma Bangsa Bireuen kepada portalsatu.com, Minggu, 3 Mai 2015. Ia menyampaikan hal tersebut setelah mengadakan field trip bersama 58 siswa dan dua guru SMA Sukma Bangsa Bireuen di sejumlah situs sejarah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Siswa menemukan sesuatu hal yang baru tentang sejarah Aceh, yang tidak didapat di buku pelajaran. Mereka juga akhirnya mengetahui adanya sejarah kerajaan-kerajaan kecil di Aceh yang kemudian menjelma menjadi Kerajaan Aceh Darussalam,” katanya.

Ia mengatakan kunjungan ke situs sejarah tersebut merupakan salah satu program kurikulum 2013 berbasis class project. “Ini merupakan salah satu cara pembelajaran dalam kurikulum 2013,” ujarnya.

Menurut Fanny, program seperti yang dilakukannya bersama siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen dan Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh tersebut patut dicontoh oleh sekolah lain. Pasalnya, kata dia, banyak sejarah di Aceh yang tidak tercouver dalam pelajaran sekolah sehari-harinya.

“Tentu saja kami berharap menjadi motivator untuk sekolah di Aceh,” katanya.

Di sisi lain, Fanny juga meminta agar pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh ikut melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Sehingga, kata dia, siswa-siswa yang melakukan class project tidak harus bertandang ke Banda Aceh dan Aceh Besar saja.

“Banyak situs-situs sejarah temuan masyarakat gampong yang belum dirawat yang bisa menjadi laboratorium sejarah bagi siswa. Sebut saja contohnya seperti temuan kerangka manusia pra sejarah di Loyang Mendale, Aceh Tengah. Para siswa kami juga berharap adanya kunjungan serupa di wilayah mereka dalam hal ini kabupaten Bireuen. Intinya, kami ingin Pemkab seluruh Aceh itu mengenalkan wisata sejarah masing-masing untuk memudahkan siswa melakukan kegiatan-kegiatan seperti yang kami lakukan,” katanya.

Hal senada disampaikan Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com secara terpisah. Ia mengatakan perjalanan yang dilakukan para siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen tersebut sangat berharga karena langsung mengenali Aceh lewat tinggalan sejarahnya.

“Ya seperti sekolah di lapangan kata para siswa. Namun sangat disayangkan banyak makam para tokoh sejarah yang belum dirawat oleh pemerintah kita. Seperti halnya situs Lamuri di Lamreh, siswa juga mengeluhkan sulitnya akses menuju lokasi dan banyak makam-makam bernilai sejarah di sana yang terbengkalai,” ujar Mizuar.

Ia mengatakan selama field trip tersebut, para siswa didampingi oleh Deddy Satria, arkeolog independen lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) yang selama ini intens meneliti situs sejarah di Aceh. Selain itu, Mapesa juga ikut mendampingi class project yang dilaksanakan siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen ini selama dua hari.

“Kita berharap apa yang dilakukan siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen ini bisa menjadi contoh bagi sekolah lain di Aceh,” kata Mizuar.

Sebelumnya diberitakan, Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) bersama 58 siswa SMA Sukma Bireuen bakal mengunjungi situs-situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan Lamuri sejak Jumat, 1 Mai 2015. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 2 Mai 2015.

“Situs Aceh Darussalam yang akan diziarahi adalah makam Perdana Menteri Seri Udahna, Syaikh Muhammad, kompleks pemakaman kesultanan Aceh Darussalam atau Po Temeurhom Ilie, makam Sultan Manshur Syah, Kandang XII, Kherkhof dan diakhiri di Gampong Pande,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Kamis, 30 April 2015.

Ia mengatakan rombongan juga akan melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman sebelum mendatangi kompleks makam Sultan Manshur Syah.

Di hari Sabtu, rombongan akan kembali melakukan napak tilas ke situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Menurut Mizuar, lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Selanjutnya rombongan akan mendatangi makam Sultan Muhammad bin Malik Alauddin, makam Malik Alauddin yang nisannya bentuk stupa, makam Malik Muhammad Syah, makam Nina Mahajirin, makam Muziruddin.

“Kami juga akan mengunjungi makam bertarikh 866 H, makam Sultan Muhammad Syah Lamuri. Kemudian makam siang di kompleks Makam Laksamana Malahayati, pulang shalat asar di mesjid Lamprit kemudian pukul 16.30 Wib diakhiri dengan diskusi khusus di aula BPNB Banda Aceh,” ujarnya.[]

Keterangan foto: Arkeolog independen, Deddy Satria, sedang mendampingi siswa SMA Sukma Bangsa Bireuen di salah satu makam sultan Aceh. Sumber foto: Tim Mapesa.

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

BANDA ACEH – Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) bersama 58 siswa SMA Sukma Bireuen bakal mengunjungi situs-situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan Lamuri sejak Jumat, 1 Mai 2015. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 2 Mai 2015.

“Situs Aceh Darussalam yang akan diziarahi adalah makam Perdana Menteri Seri Udahna, Syaikh Muhammad, kompleks pemakaman kesultanan Aceh Darussalam atau Po Temeurhom Ilie, makam Sultan Manshur Syah, Kandang XII, Kherkhof dan diakhiri di Gampong Pande,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Kamis, 30 April 2015.

Ia mengatakan rombongan juga akan melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman sebelum mendatangi kompleks makam Sultan Manshur Syah.

Di hari Sabtu, rombongan akan kembali melakukan napak tilas ke situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Menurut Mizuar, lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Selanjutnya rombongan akan mendatangi makam Sultan Muhammad bin Malik Alauddin, makam Malik Alauddin yang nisannya bentuk stupa, makam Malik Muhammad Syah, makam Nina Mahajirin, makam Muziruddin.

“Kami juga akan mengunjungi makam bertarikh 866 H, makam Sultan Muhammad Syah Lamuri. Kemudian makam siang di kompleks Makam Laksamana Malahayati, pulang shalat asar di mesjid Lamprit kemudian pukul 16.30 Wib diakhiri dengan diskusi khusus di aula BPNB Banda Aceh,” ujarnya.[] (bna)