Tag: kongres peradaban Aceh

Panitia Kongres Peradaban Minta Masukan Tokoh Aceh

Panitia Kongres Peradaban Minta Masukan Tokoh Aceh

JAKARTA – Panitia Persiapan Kongres Peradaban Aceh (KPA) mulai melakukan diskusi intensif dengan sejumlah tokoh Aceh di Jakarta, Medan, maupun Banda Aceh. Diskusi ini dilakukan dengan cara mengunjungi tokoh masyarakat itu satu persatu. Itu dilakukan untuk mengkomunikasikan acara itu sekaligus berdiskusi dan meminta masukan tentang kongres.

“Sabtu malam tim kecil panitia bertemu dengan Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin,” kata Ahmad Farhan Hamid, Ketua Panitia Persiapan Kongres, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Sabtu, 11 Juli 2015.

Farhan mengatakan Nazaruddin sangat antusias merespon acara itu. Direncanakan Nazaruddin akan menjadi salah seorang pembicara dalam pertemuan pra kongres di Medan, September 2015 nanti.

Setelah itu, panitia akan mengunjungi tokoh-tokoh lain yang dimulai di Jakarta. Mereka yang akan dikunjungi dan diminta masukan antara lain Adnan Ganto, Surya Paloh, Sofyan Djalil, Ferry Mursidan Baldan, Mustafa Abubakar, Abdullah Puteh, dan tokoh lainnya.

Seperti diketahui, Kongres Peradaban Aceh akan diadakan di Aceh pada akhir Oktober 2015. KPA 2015 ini mengambil tema penguatan bahasa-bahasa lokal di Aceh. Aceh setidaknya memiliki 13 bahasa lokal. “Belum semua bahasa itu memiliki kamus,” ujar Mustafa Ismail, sekretaris panitia kongres.

Menurut Mustafa, salah satu agenda aksi yang akan dilakukan pasca kongres adalah membuat kamus untuk semua bahasa di Aceh, baik dalam bentuk cetak maupun digital dan bisa diunduh di internet. Agenda aksi lainnya adalah mendorong lahirnya “majelis bahasa” di tiap daerah yang bertanggungjawab terhadap perkembangan bahasa-bahasa lokal di wilayah penuturnya masing-masing.

Bahkan, Farhan menambahkan, nanti ada satu hari tiap bulan sebagai hari bertutur bahasa lokal di masing-masing tempat, termasuk di sekolah dan instansi pemerintah. “Bahasa-bahasa lokal itu juga perlu masuk kurikulum muatan di sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” ujar Farhan.

Kongres di Aceh diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan, termasuk wakil dari penutur bahasa. Sebelum itu, diadakan pra kongres di Medan. Panitia pra kongres Medan telah membentuk panitianya.

“Ketua Zulkifli Husein, Sekretaris T Munthadar dan Bendahara Arbi A Gani,” kata HM Husni Mustafa, Ketua Umum Aceh Sepakat, komunitas masyarakat Aceh di Medan.

Pra Kongres di Medan direncanakan pada September 2015 dan diharapkan Gubernur Aceh yang membuka. Pihak penyelenggara di Medan juga akan mengundang 10 Konsul negara sahabat pada pembukaan pra kongres.

Sebelumnya, Panitia Persiapan KPA2015 di Jakarta juga telah mengadakan diskusi terarah di Jakarta pada 23 Juni lalu. Fahmi Mada, bendahara panitia, mengatakan semua rangkaian acara KPA2015, mulai diskusi terarah, Pra Kongres hingga Kongres, semua menggunakan dana hasil gotong royong alias meuripe di kalangan penggagas, panitia dan simpatisan, baik dari kalangan masyarakat Aceh maupun non Aceh. “Mereka menyumbang seikhlasnya,” ujar Fahmi.

Dia memastikan tidak ada sepeserpun dana pemerintah dalam pelaksanaan kongres ini. Sebab acara ini sendiri inisiatif dari kalangan masyarakat yang ingin agar identitas Aceh diperkuat.

“Jadi ini bukan acara proyek. Ini kerja peradaban di mana semua orang didorong ikut berpartisipasi di dalamnya,” tutur Fahmi.

Panitia yakin salah satu ciri peradaban Aceh yakni kebersamaan dalam kesetaraan masih tumbuh subur hingga kini. Misalnya dalam wujud meuripe untuk menyukseskan sebuah acara berbasis masyarakat.[](bna)

Ormas Al Kahar: Kongres Bahasa Hanya Romantisme Tokoh Aceh di Jakarta

Ormas Al Kahar: Kongres Bahasa Hanya Romantisme Tokoh Aceh di Jakarta

BANDA ACEH – Organisasi Kemasyarakatan Al-Kahar menilai Kongres Peradaban Aceh yang digagas Forum Diaspora Aceh Jakarta merupakan romantisme dan reuni tokoh Aceh yang tinggal di Jakarta. Penilaian tersebut berdasarkan lokasi acara yang dipilih panitia, yaitu  Medan, Kuala Lumpur (Malaysia) dan Takengon.

Sekjen Ormas Al Kahar, Muhajir, mengatakan kongres tersebut merupakan romantisme tokoh Aceh di Jakarta dan kawan-kawan lamanya. Muhajir menjelaskan rilis panitia yang disiarkan di media, menyatakan kongres akan berlangsung selama satu hari setengah, dengan rincian hari pertama seremonial dan pembukaan selama 2 jam.

“Sesuai dengan jadwal panitia, hari kedua acara akan berlangsung mulai pukul 09.00-18.00 WIB,” ujarnya.

Muhajir menyebutkan dengan jadwal tersebut, maka kegiatan akan berlangsung 2 waktu yaitu pagi sampai siang pukul 09.00 – 12.00 WIB, diselangi jadwal makan siang dan shalat zuhur pukul 12.00 – 14.00 WIB, dan dilanjutkan acara pada waktu siang sampai sore pukul 14.00 – 18.00 WIB.

“Kedua waktu ini akan tersita dengan waktu break dan shalat asar. Belum lagi seremonial penutupan dan selfie bersama,” ujar Muhajir.

Menurut Muhajir, waktu yang terpakai pada inti acara hanya 7 jam untuk membahas 13 bahasa daerah yang ada di Aceh. Jumlah waktu tersebut jika dibagikan, kata Muhajir, hanya ada waktu selama 32 menit untuk membahas masing-masing bahasa.

“Kira-kira, apakah orang Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jamee, Gayo, Haloban, Sigulai, Devayan, dan lainnya, setuju apabila bahasa mereka hanya dibahas selama 32 menit, lalu direkomendasikan untuk dijadikan sebuah kamus?” ujar Muhajir.

Menurut Muhajir, panitia berencana mengundang para ahli bahasa, akademisi, budayawan, sejarawan, wakil penutur bahasa lokal, dan tokoh masyarakat Aceh dari berbagai bidang.

“Sanggupkah para ahli yang diundang pada acara tersebut membahas sebuah bahasa dalam 32 menit, lalu merekomendasikannya menjadi sebuah kamus? Sepertinya, kalau ini terjadi, generasi pemilik bahasa daerah di Aceh di masa depan akan menertawakannya,” ujar Muhajir.

Oleh karena itu, Ormas Al Kahar menyatakan acara kongres tersebut merupakan kegiatan hiburan dan reuni para tokoh Aceh Jakarta dalam rangka menyemarakkan perayaan Bulan Bahasa Oktober 2015.

“Acara seperti ini, jangankan dinamakan kongres peradaban, kongres bahasa saja tidak layak disebut. Idealnya kongres bahasa daerah di Aceh yang membicarakan 13 bahasa berlangsung selama 7 hari. Jika kongres peradaban, idealnya 2 atau 3 minggu. Oleh karena itu, berlapangdadalah  wahai masyarakat pemilik bahasa daerah di Aceh. Jangan berharap banyak pada acara tersebut. Itu hanyalah romantisme mereka,”kata Muhajir.

Sebelumnya diberitakan portalsatu.com, sebagaimana rilis panitia, acara kongres disepakati akan berlangsung selama 1,5 hari.

“Acara itu terbagi 4 sesi. Sesi pertama: Overview  Peradaban Aceh dari Masa ke Masa; sesi kedua pemaparan masalah, sesi ketiga sidang komisi, dan sesi terakhir pleno hasil sidang komisi, lalu penutupan,” ujar salah seorang panitia.

Acara itu akan dibagi dalam empat komisi. Masing-masing komisi akan membahas topik berbeda dan menghasilkan rekomendasi untuk disampaikan ke pleno. Hasil pleno itu nanti akan dibawa ke kongres KPA2015 untuk dipertajam dan disahkan sebagai agenda aksi yang harus dijalankan. []

Panitia Lakukan Persiapan Kongres Peradaban Aceh

Panitia Lakukan Persiapan Kongres Peradaban Aceh

JAKARTA – Panitia menggelar rapat persiapan Kongres Peradaban Aceh (KPA2015, di kedai kopi kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu 5 Agustus 2015.

Rapat tersebut dihadiri Ahmad Farhan Hamid (Ketua Panitia), Mustafa Ismail, sekretaris, Fahmi Mada (bendahara), Nuly Nazlia (wakil bendahara), serta anggota tim kerja Jakarta Ferry Soraya dan Islamuddin Ismady.

“Rapat itu telah telah berhasil menyelesaikan draft prosedur kerja pra kongres,” kata Mustafa Ismail, dalam siaran pers yang dikirim panitia kepada portalsatu.com, 6 Juli 2015.

Katanya, kegiatan pra kongres akan diadakan di Medan yang direncanakan pada akhir Agustus.

“Menganai waktu belum final, karena ada pandangan dari Kanda Ahmad Farhan Hamid agar dilakukan September. Biar persiapannya lebih matang.  Ini tentu berpulang ke tim Kerja Medan. Memang kalau akhir Agustus terlalu mepet waktunya. September akan lebih longgar,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, disepakati acaranya agar berlangsung selama 1.5 hari. Hari pertama pembukaan plus acara seni pada pukul 20.00- 22.00 WIB. Hari kedua, mulai pukul 09.00-18.00 WIB.

“Acara itu terbagi 4 sesi. Sesi pertama: Overview  Peradaban Aceh dari Masa ke Masa; sesi kedua pemaparan masalah, sesi ketiga sidang komisi, dan sesi terakhir pleno hasil sidang komisi, lalu penutupan,” ujarnya.

Acara itu akan dibagi dalam empat komisi. Masing-masing komisi akan membahas topik berbeda dan menghasilkan rekomendasi untuk disampaikan ke pleno. Hasil pleno itu nanti akan dibawa ke kongres KPA2015 untuk dipertajam dan disahkan sebagai agenda aksi yang harus dijalankan.

Direncanakan acara itu akan dibuka oleh Gubernur Aceh, yang dihadiri oleh ahli bahasa, akademisi, budayawan, sejarawan, wakil penutur bahasa lokal, dan tokoh masyarakat Aceh dari berbagai bidang. [] (mal)

Pemuda Pijay Harap Kongres Peradaban Aceh Bisa Menyatukan Persepsi

Pemuda Pijay Harap Kongres Peradaban Aceh Bisa Menyatukan Persepsi

BANDA ACEH – Pelaksanaan Kongres Peradaban Aceh di Takengon, Aceh Tengah, ditanggapi beragam.

“Baik itu masalah ekososbud dan hal-hal yang lain masih tersisa pasca Tsunami dan MoU Helsinki, kami pemuda Pidie Jaya menberikan apresiasi penuh atas gagasan yang cukup brilian itu,” kata tokoh muda Pidie Jaya, Munawir Lana S.Sos.I, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Minggu, 5 Juli 2015.

Pihaknya, kata Munawir, sangat menyambut baik dan mendukung serta siap membantu untuk kelancaran pelaksanaan kongres tersebut.

Apalagi, katanya, tujuan kongres tersebut adalah untuk kemajuan dan mencari ide-ide dalam pembangunan Aceh di masa depan secara berkesinambungan.

“Dimana nantinya kita mengharapkan agar tokoh-tokoh Aceh bisa menyatukan persepsi dan penyeragaman kesepahaman untuk mengangkat kembali tatanan peradaban Aceh yang semakin tergerus oleh perkembngan zaman,” ujarnya.

Katanya, sehingga Aceh menemukan kembali identitasnya sebagai sebuah bangsa yang bermartabat dan bermarwah dimata dunia. Untuk itu, pihaknya akan menyambut baik bila pelaksanaan kongres tersebut bisa dilaksanakan di Kabupaten Pidie Jaya.

“Kami akan mendorong supaya Pemkab Pijay agar mendukung acara yang sangat penting ini demi kemajuan Aceh kedepan pada umumnya dan Pijay secara spesifik,” kata Munawir Lana S.Sos.I. [] (mal)

DPP Aceh Sepakat Medan Apresiasi Penggagas Kongres Peradaban Aceh

DPP Aceh Sepakat Medan Apresiasi Penggagas Kongres Peradaban Aceh

MEDAN – DPP Aceh Sepakat Medan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh sejumlah tokoh Aceh Penggagas Kongres Peradaban Aceh.

Hal tersebut disampaikan oleh Panitia Persiapan Kongres Peradaban Aceh, Reza Vahlevi, melalui siaran pers kepada portalsatu.com, Minggu, 5 Juli 2015.

Menurut Reza, pihak DPP Aceh Sepakat Medan sangat mendukung dan meminta diberikan peran signifikan untuk terlibat penuh sebagai bagian yang tak terpisahkan untuk penyuksesan pelaksaan kongres Peradaban Aceh yang direncanakan akan dilansakakan pada bukan Oktober di Aceh.

“DPP Aceh sepakat akan meminta untuk mengadakan Pra Kongres di Medan yang direncakan akan diadakan di Hotel JW Marriot Medan Sumatera Utara pada Bulan Agustus, karena agenda Pra Kongres selanjutnya akan di laksanakan di Kuala Lumpur pada September,” ujarnya.

Menurutnya ketiga wilayah berbeda tersebut dinilai penting karena untuk kembali merajut yang terbengkalai terhadap segmen-segmen dari destinasi sebuah peradaban Aceh secara holistic.

“Ke tiga wilayah seperti Jakarta, Medan dan Malaysia adalah save zone tempat titik konsentrasi orang Aceh baik pada masa perang maupun saat masa damai dalam melakukan aktifitas sebagai bangsa yang mempunyai peradaban yang tinggi,” katanya.

Aktifitas yang dimaksud, kata Reza, baik itu dalam berbisnis dan berpolitik maupun melakukan kehidupan perantauan, karena mengutip Albert Cammus Filsuf dan sastrawan Perancis.

“Politik itu membelah dan membagi, hanya puisi dan seni yang dapat menyatukan kita kembali.”

“Nah seni dan puisi itu domain dari Peradaban, seperti di Aceh ada meupanton, meurokon, Meuhim, dengan merajut dan membingkai budaya kami berharap para stakeholrders di Aceh dapat bersatu untuk kemajuan Aceh secara suistanable,” ujar Reza.

Dia menambahkan cukup sudah konflik dan tsunami yang mendagradasi budaya dan moralistik bangsa Aceh. “Kita harus bangkit dari keterpurukan demi mengejar ketertinggalan kasta untuk dapat perlakuan dan harta serta martabat dan marwah yang sama dengan bangsa bangsa lain di Indonesia dan dunia,” ujar Reza vahlevi salah  satu inisiator Kongres Peradaban Aceh. [] (mal)

Duta Nisan: Bukti Peradaban Lebih Penting dari Kongres Bahasa

Duta Nisan: Bukti Peradaban Lebih Penting dari Kongres Bahasa

BANDA ACEH – Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi, mempertanyakan rencana Kongres Peradaban Aceh yang bertema Penguatan Bahasa Lokal di Aceh. Kegiatan ini dicetuskan oleh forum diaspora Aceh Jakarta dan dikabarkan akan dilaksanakan di Aceh pada Oktober 2015.

“Bahasa memang salah satu hal yang penting dari unsur peradaban sebuah suku bangsa. Namun apa mendesak seharusnya menjadi perhatian serius bagi tokoh yang menggagas kongres peradaban. Penyelamatan bukti peradaban seperti nisan Aceh adalah hal paling mendesak untuk dilakukan,” kata Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Sabtu, 4 Juli 2015.

Pemuda yang telah bertahun-tahun mengampanyekan penyelamatan benda sejarah ini, mengatakan, nisan Aceh merupakan salah satu artefak Aceh yang sangat penting. Menurutnya, nisan tersebut telah menjadi bahan kajian para ilmuan dari dalam dan luar negeri dalam meniliti sejarah Islam di Asia Tenggara.

“Nisan-nisan tersebut tersebar di seluruh Aceh. Kondisinya tak terurus dan terbengkalai. Terbiarkan dalam tambak-tambak seperti di Gampong Pande dan di Lampulo, bahkan ada yang dijadikan sebagai batu asah parang oleh masyarakat. Kalimat-kalimat tauhid, la ilaha illallah muhammadur-rasullullah dan ayat-ayat Alquran terpahat indah dan rapi di semua nisan-nisan itu. Pantaskah kita hanya melihat dan membiarkan begitu saja itu terbengkalai?” ujar Mizuar.

Mizuar mengatakan nisan-nisan yang tersebar di seluruh Aceh merupakan sumber otentik bagi sejarah Aceh. Menurutnya, nisan tersebut akan terancam musnah dan hanya tinggal dalam catatan, buku dan jurnal ilmiah.

“Kalau peradaban Aceh ingin tetap terjaga, seharusnya inilah yang pertama kali dipikirkan untuk diselamatkan dan dilestarikan. Hal yang sangat naif bagi kita mendengungkan peradaban Aceh dulunya hebat, jika makam-makam tokoh pembangun peradaban Aceh itu sendiri kita biarkan terbengkalai,” kata Mizuar dalam siaran persnya.[]

Kongres Peradaban Aceh Diharapkan Redam Isu Pemekaran ALA

TAKENGON – Anggota DPR Aceh asal daerah pemilihan Bener Meriah – Aceh Tengah, Adam Mukhlis Arifin, mendukung penuh rencana menjadikan Aceh Tengah sebagai lokasi kegiatan Kongres Peradaban Aceh pada Oktober mendatang.

“Setiap usaha yang menumbuhkembangkan dan mengakomodir setiap bahasa dan budaya lokal yang ada di Aceh akan kita dukung,” katanya pada portalsatu.com, Kamis, 2 Juli 2015.

Dengan adanya kongres itu nantinya, Adam berharap bisa mempersatukan seluruh suku yang ada di Aceh. Sehingga kesenjangan antarsuku yang selama ini dinilai merebak bisa dihilangkan dan Aceh kembali bersatu.

“Wacana pemekaran Aceh Leuser Antara (ALA) dari provinsi Aceh itu ide. Ide ini harus kita hargai. Namun untuk mewujudkan ALA itu bukan hal yang gampang. Nah, dengan kongres inilah kita harapkan pemerintah dapat menyatukan kita semua. Sehingga seluruh suku yang ada di Aceh bisa makmur. Dan seluruh wacana pemekaran dari Aceh dapat terhindari,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Panitia Persiapan Kongres Peradaban Aceh 2015 menetapkan Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, sebagai pilihan utama tempat penyelenggaraan  Kongres Peradaban Aceh 2015. Acara itu mengusung tema Memperkuat Bahasa-bahasa Lokal. Penetapan tersebut dicapai dalam pertemuan Panitia Persiapan Kongres Peradaban Aceh (KPA 2015), Minggu dinihari, 28 Juni 2015 di Jakarta.[] (ihn)

Ormas Al-Kahar Tolak Kongres Peradaban Aceh

Ormas Al-Kahar Tolak Kongres Peradaban Aceh

BANDA ACEH – Organisasi Kemasyarakatan Al-Kahar menolak diadakannya Kongres Peradaban Aceh yang bertema “Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh”. Kongres yang digagas oleh diaspora Aceh di Jakarta tersebut akan dilaksanakan di Takengon, Aceh Tengah pada Oktober 2015 mendatang.

“Kongres peradaban Aceh yang dibuat oleh sekumpulan politisi kemungkinan bermuatan politis. Apalagi acara yang direncanakan tersebut mengabaikan beberapa elemen masyarakat, terutama pemerhati kebudayaan yang tersebar di Aceh dan luar Aceh. Itu mengesankan ada sesuatu di baliknya,” ujar Sekjen Ormas Al-Kahar, Muhajir, kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Rabu, 1 Juli 2015.

Muhajir mengatakan, kata peradaban pada tema acara yang direncanakan tersebut terlalu besar untuk sekadar musyawarah bahasa daerah.

“Kalau kongres tersebut bertema Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh namanya akan lebih tepat Kongres Bahasa Daerah di Aceh,” kata Muhajir.

Menurutnya dengan kekuatan yang dimiliki para tokoh Aceh di Jakarta tersebut, seharusnya bukan kongres itu saja yang bisa diselenggarakan. Apalagi menurutnya bahasa daerah di Aceh tidak akan hilang dalam jangka waktu sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

“Akan tetapi tinggalan sejarah Aceh yang tersebar di seluruh Aceh seperti manuskrip atau kitab masa silam, terancam musnah atau dijual ke luar Aceh. Itu lebih penting. Seharusnya orang-orang besar ini tahu itu,” kata Muhajir.

Muhajir mengatakan kalau tokoh-tokoh tersebut berminat menguatkan peradaban Aceh, mereka seharusnya memperjuangkan pengembalian benda-benda bersejarah milik Aceh yang ada di luar negeri.

“Yang mendesak dibangun di Aceh adalah Aceh Heritage Centre atau pusat kebudayaan Aceh. Ini akan menjadi pusat riset kebudayaan Aceh, tak terkecuali bahasa daerah itu sendiri. Selain disitu juga mesti dipikirkan sebuah museum tempat menyimpan benda-benda warisan Aceh. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Aceh tersebut,” kata Muhajir.[](bna)

Aceh Perlu Kamus Bahasa Bersama

Aceh Perlu Kamus Bahasa Bersama

BANDA ACEH – Aktivis perdamaian Aceh, Risman A Rachman, mengatakan Kongres Peradaban Aceh yang direncanakan digelar pada Oktober mendatang harus menghasilkan sesuatu yang nyata, seperti kamus bersama untuk seluruh bahasa-bahasa lokal yang ada di Provinsi Aceh.
“Cukup dengan mengumpulkan seluruh ahli bahasa yang ada untuk membicarakan kamus tersebut,” kata Risman pada portalsatu.com pada Selasa malam, 30 Juni 2015.
Jika dikaji secara mendetil kata Risman, persoalan bahasa ini perlu dipikirkan peluang pendidikan kepada putra-putri Aceh agar disekolahkan untuk mendalami bahasa daerah, selanjutnya diteruskan ke sekolah-sekolah sebagai muatan lokal.
“Mendalami bahasa secara akademis diperlukan untuk menguatkan bahasa yang ada di Aceh,” kata Risman.
Risman juga mengingatkan pentingnya ensiklopedi Aceh secara lengkap, supaya tidak ada pengulangan dalam menalami adat, budaya, dan bahasa di Aceh.
Sebelumnya pada Jumat, 26 Juni 2015 lalu puluhan tokoh Aceh menggelar diskusi terarah di Jakarta untuk membahas berbagai problem bahasa lokal di Aceh. Diskusi terarah tersebut sebagai persiapan Kongres Peradaban Aceh pada Oktober mendatang yang mengangkat tema Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh.
Tema bahasa di kongres pertama ini dinilai sangat penting, karena bahasa merupakan inti dari sebuah peradaban. Aceh memiliki 13 bahasa lokal di antaranya bahasa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Jamee dan Devayan.
peradaban Aceh pernah megah di masa lalu, namun belakangan mengalami kemunduran oleh sebab peperangan berkepanjangan melawan penjajahan Eropa seperti Spanyol, Belanda dan Portugis dan juga perang melawan Jepang. Kondisi itu diperparah oleh konflik dalam rentang waktu 1945-2005.[] (ihn)
Foto: ilustrasi @negeridalamaksara.blogspot.com
Soal Kongres Peradaban Aceh, Ini Kata Humas Aceh Tengah

Soal Kongres Peradaban Aceh, Ini Kata Humas Aceh Tengah

TAKENGON – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah hingga kini belum mendapatkan pemberitahuan resmi terkait rencana pelaksanaan Kongres Peradaban Aceh (KPA) di daerahnya. Hal ini disampaikan oleh Kabag Humas Aceh Tengah, Mustafa Kamal, kepada portalsatu.com, Selasa, 30 Juni 2015.

Namun Mustafa Kamal mengatakan pihaknya akan tetap mendukung penuh semua kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat. “Prinsipnya untuk kepentingan masyarakat, pasti kita sangat mendukung,” katanya.

Ia mengaku Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah siap melaksanakan event-event besar, terutama yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat Aceh dan Aceh Tengah secara khusus.

“Kita sudah sering melaksanakan event besar. Menyangkut dengan pengalaman Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, tak usah ragu lah,” ujarnya.[] (bna)