Tag: kiamat

Geger Kiamat 28 September, Apa Hubungan dengan Agama Ini?

Geger Kiamat 28 September, Apa Hubungan dengan Agama Ini?

Toronto – Sejumlah pendeta percaya bahwa kemunculan fenomena blood moon tetrad atau bulan merah darah merupakan tanda-tanda terjadinya hari akhir atau hari kiamat. Kemunculan fenomena blood moon yang terjadi pada hari-hari perayaan agama Yahudi semakin memperkuat anggapan tersebut.

Blood moon tetrad merupakan empat gerhana bulan total yang posisinya menyebabkan gelombang merah cahaya matahari masuk ke atmosfer bumi sehingga mengubah bulan menjadi merah. Blood moon sudah terjadi tiga kali terjadi sejak 15 April 2014. Pada Senin, 28 September 2015, blood moon diprediksi akan kembali terjadi.

Pendeta asal Amerika Serikat dan penulis buku Four Blood Moons: Something is about to Change, John Hagee, percaya bahwa gerhana bulan yang akan terjadi pada Senin, 28 September 2015, sudah tertulis dalam Alkitab. Hagee kemudian merujuk kepada Bab 2 ayat 31 dalam Book of Joel.

“Matahari akan diubah menjadi kegelapan, dan bulan menjadi darah, sebelum hari yang besar dan mengerikan dari Tuhan datang,” demikian bunyi tafsiran ayat itu. Menurut Hagee, hari akhir sudah dekat. “Tuhan mengirimkan Bumi sebuah tanda bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi,” katanya.

Pendeta asal Washington, Mark Bilts, mengatakan tanda-tanda alam yang berkaitan dengan matahari, bulan, dan bintang menunjukkan sesuatu. Bilts mengatakan, matahari dan bulan menunjukkan kecemasan suatu bangsa. Sementara itu, bintang memberikan tanda agar manusia berhati-hati.

Kemunculan Blood Moon berturut-turut terjadi pada perayaan Passover pada April 2014, Sukkot pada Oktober 2014, dan Passover pada April tahun berikutnya. Terakhir, kemunculan Blood Moon akan bertepatan dengan perayaan Yahudi yang dikenal dengan Feast of The Tabemades.

Pada 1493, blood moon tetrad juga terjadi bertepatan dengan perayaan keagamaan Yahudi. Saat itu, umat Yahudi diusir dari Spanyol semasa era penaklukan Spanyol. Blood moon tetrad berikutnya terjadi pada 1949 setelah negara Israel terbentuk. Terakhir, fenomena itu terjadi saat Israel memenangkan Perang Enam Hari melawan negara-negara Arab.

David Reed, profesor Teologi, Keagamaan, dan Pergerakan Agama Baru University of Toronto, Kanada, mengatakan penganut aliran injili cenderung mengaitkan blood moon dengan peristiwa seperti penciptaan negara Israel. Reed mengatakan hal itu terjadi karena mereka merasa terancam keamanannya.

“Fenomena ini merupakan sebuah alat yang digunakan berdasarkan ketakutan, yaitu bahwa Anda sebaiknya siap menghadapi kembalinya Yesus pada hari kiamat,” kata sang profesor.

Meski banyak bermunculan pendapat pendeta yang mengaitkan blood moon dengan kiamat, pastor dari Toronto, Neil MacCarthy, mengatakan gagasan itu datang dari gereja-gereja Kristen berskala kecil. “Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan pernyataan terkait Blood Moon sebagai tanda hari akhir,” katanya.

Adapun juru bicara Persekutuan Gereja Indonesia Jerry Sumampouw mengatakan fenomena blood moon tetrad atau bulan merah darah tidak ada kaitannya dengan hari kiamat. Menurut Jerry, fenomena alam memang kerap kali dapat menjadi peringatan akan sesuatu, namun itu bukan petunjuk hari akhir.

Menurut Jerry, tidak ada yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi. “Kiamat itu misteri,” katanya kepada Tempo, Minggu, 27 September 2015. Tugas manusia hanya mempersiapkan diri mengadapi kiamat. Berani sesumbar memprediksi waktu kiamat, menurut Jerry, sudah bertentangan dengan ajaran agama. | sumber: tempo.co

5 Fenomena Alam yang Dikaitkan dengan Pertanda Kiamat

5 Fenomena Alam yang Dikaitkan dengan Pertanda Kiamat

MERUJUK tradisi agama samawi disebutkan adanya dua jenis kiamat (akhir zaman), yaitu kiamat kecil dan kiamat besar. Tanda-tanda berakhirnya dunia itu dijabarkan dalam kitab suci.

Manusia yang mempercayai nubuat kitab suci lantas terusik atas fenomena alam yang tidak terduga dan sulit terjelaskan dengan pembuktian ilmiah. Beberapa jejadian terekam kamera yang masuk daftar ini akhirnya diyakini sebagian orang sebagai pertanda bila dunia mulai dekat dengan akhir zaman.

Contohnya laut yang berwarna merah darah di China, sampai tiupan aneh dari langit di beberapa negara disebut-sebut sangkakala oleh netizen.

Ilmuwan berusaha menjelaskan fenomena-fenomena alam itu wajar terjadi dan tidak berkaitan apapun dengan akhir zaman. Namun tetap saja, spekulasi netizen kadung merebak atas gambar-gambar yang beredar di dunia maya.

Dikumpulkan dari bermacam sumber, berikut merdeka.com merangkum lima fenomena alam terekam kamera yang banyak diyakini sebagai pertanda akhir zaman:

Awan raksasa muncul dari letusan Gunung Calbuco di Chile

Sosok berbentuk manusia raksasa muncul di langit Chile setelah gunung Calbuco mengalami erupsi. Sosok tersebut dibentuk dari kumpulan awan dan asap yang tersisa dari letusan gunung Calbuco.

Dalam foto di bawah ini terlihat bahwa kumpulan awan membentuk sosok seperti manusia raksasa. Masyarakat sekitar percaya kemunculan sosok tersebut adalah sebuah tanda dari Tuhan, setelah tanda lainnya berupa letusan gunung Calbuco.

Gunung Calbuco sendiri sudah tidak meletus selama 40 tahun dan baru kali ini meletus lagi. Pada hari Rabu lalu, tingkat bahaya gunung Calbuco ditingkatkan menjadi ’emergency’ setelah meletus. Saat meletus, Calbuco memuntahkan banyak debu dan asap hingga 12 mil ke angkasa.

Sosok raksasa itu sendiri ditangkap oleh Hariet Grunewald, warga berusia 33 tahun yang tinggal di kota terdekat, Puerto Montt.

“Ketika mendengar gunung meletus, aku segera berlari ke jendela dan mengambil foto. Kemudian aku melihat sosok manusia raksasa itu muncul. Awalnya kupikir itu hanya gambaran dalam kepalaku saja. Tapi kemudian semua teman dan keluarga yang melihat juga setuju,” ungkapnya.

Masyarakat lokal lainnya percaya bahwa erupsi yang tak biasa ini merupakan tanda bahwa Tuhan sedang marah. Mereka menganggap munculnya sosok raksasa itu sebagai peringatan dan pertanda.

“Gunung meletus adalah cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa dia sedang marah. Dan (sosok raksasa) itu menunjukkan bahwa Dia selalu mengawasi kita dan segala perilaku kita,” jelas Juanma ortiz Arrendondo, seorang warga lokal berusia 60 tahun.

Suara aneh dari langit terdengar di beberapa negara

Warga Jerman dikejutkan video suara dari langit mirip terompet beberapa bulan lalu. Fenomena alam yang belum dapat dijelaskan itu ternyata terjadi di banyak negara selama nyaris lima tahun terakhir.

Seperti dilansir inquisitr, Senin (25/5), manusia di pelbagai belahan dunia ramai-ramai mengunggah video pengalaman mereka mendengar suara aneh dari langit. Video paling lama dalam catatan Youtube diunggah pada 2011 dari Belarusia.

Berikutnya, rekaman serupa diunggah warga Amerika Serikat, Ukraina, Kanada, hingga Jepang. Hingga Mei 2015, tiap bulan ada saja pengguna Youtube yang mengunggah rekaman suara aneh dari langit. Selalu muncul perdebatan di kolom komentar mengenai keaslian video tersebut oleh para pengguna Internet.

Aaron Taylor, warga Kota Montana, AS, ikut mengunggah rekaman pengalamannya mendengar suara langit pada 18 Februari 2012. Dia mengaku terkejut karena suara yang dia dengar mirip cerita Kitab Injil tentang terompet Sangkakala, penanda akhir zaman. Deskripsi kiamat melibatkan alunan terompet dari langit juga diimani umat Muslim dan Yahudi.

“Walau kita berusaha mencari jawaban logis (suara-suara itu), gagasan bahwa ini tanda akhir zaman bermunculan di kepala saya. Bagaimana bila suara ini termasuk nubuat tersebut,” kata Taylor.

Belum ada keterangan dari jurnal ilmiah maupun upaya konfirmasi pada ilmuwan kredibel untuk menjelaskan hadirnya suara-suara dari langit itu. Di blog maupun forum diskusi online, muncul beberapa teori. Di antaranya suara hasil penggalian bawah tanah, tekanan pipa gas, hingga gempa bumi.

Cahaya dari langit hebohkan medsos

Foto yang memperlihatkan cahaya putih yang sekilas seperti berasal dari langit menghebohkan dan menjadi viral di media sosial. Cahaya putih tersebut diunggah ke internet pertama kali oleh seseorang bernama Kirby Cameron.

“Apa ini? foto-foto ini beredar pagi ini (16/8). Kirby Cameron menyebarkan gambar ini dan menyebutkan jika gambar ini diambil pada Jumat (15/8) sore saat terjadi badai di selatan Fort Myers sepanjang Daniels. Apakah ada di antara Anda yang mengambil foto kilat dan mendapatkan gambar seperti ini?” tulis stasiun televisi NBC2 News melalui akun Facebook-nya seperti dikutip merdeka.com, Selasa (18/8).

Dalam foto tersebut, cahaya putih yang berbentuk seperti lampu neon tersebut menembus gumpalan awan hitam. Cahaya itu juga diiringi kilat. Saat mengambil gambar tersebut, Kirby Cameron tengah berada dalam mobilnya berada di perempatan jalan.

Foto tersebut kemudian mengundang komentar beragam dari netizen. Ada yang mengatakan gambar tersebut sebagai sebuah fenomena alam, ada yang menyebutnya sebagai gambar editan yang dibuat dengan menggunakan piranti lunak Photoshop.

“Ok jadi ini adalah bidang saya mencari tahu apakah gambar dan video adalah nyata atau palsu. Itu disebut aliran pencahayaan terjadi ketika petir menghantam sebuah sungai kecil atau kolam karena jumlah listrik yang sangat tinggi dan panas itu mengisolasi oksigen dalam air menyebabkan apa Anda lihat dalam gambar. Ya gambar itu nyata dan dunia belum berakhir dan bukan alien. Hnanya fenomena alam yang selama hidup saya, saya telah melihatnya dua kali,” tulis pemilik akun Facebook Roy Luk.

Muncul ombak darah di pantai selatan China

Kejadian ini aneh tapi nyata, munculnya di Kota Shenzhen, Provinsi Guangzhou, sebelah selatan China. Warga dan pengunjung pantai Shenzhen kaget karena Selasa (25/11) pagi, muncul ombak warna merah darah seperti dilansir stasiun televisi CCTV News.

Awalnya warga menduga ada ikan yang dimangsa hiu. Tapi dugaan ini mentah, karena sama sekali tidak ada bau amis darah. Sebagian bahkan menyinggung soal ramalan dalam Injil, yang menandakan kiamat akan tiba ketika laut berwarna merah.

Setelah Dinas Kelautan setempat memeriksa, rupanya ombak warna darah itu disebabkan oleh membiaknya populasi ganggang merah. Tumbuhan laut itu punya nama latin noctiluca scintillans.

Kepala Dinas Kelautan Shenzhen Zhou Kai menyatakan ganggang ini seharusnya tidak beracun. Namun air laut yang diperiksa masih terus diperiksa.

“Jadi kami menyarankan warga dan wisatawan tidak bersinggungan dengan air laut terlebih dulu,” kata Kai.

Pemerintah setempat menilai fenomena ini jarang, tapi sangat mungkin terjadi. Kai menilai tidak perlu mengaitkan ombak warna darah dengan takhayul macam-macam.

“Populasi ganggang itu disebabkan perubahan metereologis dan hidrologis di kawasan sekitar,” ujarnya.

Warga Kosta Rika mengaku lihat awan tanda akhir zaman

Awan berbentuk aneh nampak di Kosta Rika tiga hari lalu. Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Sabtu (19/9), netizen di negara bagian tengah Benua Amerika ramai membagikan foto dan video awan tidak lazim tersebut.

Awan muncul di Ibu Kota San Jose, persis ketika negara itu merayakan hari kemerdekaan. Beberapa netizen meyakini awan itu sesuai dengan nubuat kitab suci tentang datangnya akhir zaman.

“Pemandangan ini sungguh mencengangkan. Ini adalah tanda dari Tuhan,” kata warga bernama Jessie Montealegre.

Adapun pakar metereologi Gavin Pretor-Pinney memberi penjelasan ilmiah. Dia menampik awan itu sebagai fenomena unik.

Awan berbentuk seperti piringan itu adalah jenis pileus yang muncul sebelum badai muncul. Kepadatan kristal es di awan memicu efek fotografis berupa piringan di angkasa.

“Tapi memang harus diakui, awan jenis ini sangat jarang bisa dilihat dengan mata telanjang,” kata Pinney.[] sumber: merdeka.com

Persiapan `Nyeleneh` Jelang `Kiamat 28 September`

Persiapan `Nyeleneh` Jelang `Kiamat 28 September`

Sebagian orang yakin bahwa dunia akan kiamat pada 28 September 2015. Bagi mereka yang percaya, saat ini telah melakukan berbagai persiapan. Seperti apa?

Tengoklah sekelompok orang di Utah, Amerika Serikat. Mereka melakukan bebagai persiapan, salah satunya menyiapkan makanan beku dan kering untuk menyambut kiamat yang mereka yakini segera datang.

Jelas saja, pedaganglah yang untung. Angka penjualan meroket. Persediaan makanan beku dan kering di toko-toko ludes terjual.

“Ada perasaan mendesak, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Banyak orang yang menyebutkan hal-hal tentang September, seperti keruntuhan keuangan,” kata Ricardo Aranda, salah satu staf penjualan sebuah toko di Utah, sebagaimana dikutip Dream dari Metro.co.uk, Rabu 16 September 2015.

Toko lain mengatakan, sekelompok orang di Utah bersiap menyambut “bulan darah” yang akan berakibat pada keruntuhan global –yang mereka sebut sebagai runtuhnya pasar saham sebagai tanda-tanda hari akhir.

Sementara itu, sejauh ini tidak ada ilmuwan yang benar-benar percaya bahwa dunia akan kiamat akhir bulan ini. Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga menyatakan tak ada dasar ilmiah yang menunjukkan dunia akan kiamat 28 September mendatang.

Kiamat memang telah menjadi ketetapan Tuhan. Di dalam Alquran, sudah dijelaskan. Namun, kapan kiamat itu datang, tak ada yang tahu. Meski Tuhan telah menjelaskan tanda-tandanya. | sumber: dream.co.id

Foto Ilustrasi (Metro.co.uk)

Geger Lubang Hitam dan Bulan Merah 28 September, Mau Kiamat?

Geger Lubang Hitam dan Bulan Merah 28 September, Mau Kiamat?

Jakarta – Misteri blood moon atau gerhana bulan merah darah masih jadi bahan pembicaraan di media sosial.

Fenomena ini terjadi arena cahaya matahari dihamburkan atmosfer bumi hingga menuju ke bulan. Gerhana bulan ini terjadi pada saat bulan melewati bumi.

Penganut teori konspirasi menjelaskan penduduk bumi akan melihat warna bulan berubah menjadi merah darah pada saat gerhana 28 September 2015. Mereka menyebutnya fenomena ini sebagai tanda-tanda kiamat.

Ancaman kiamat belakangan ini diperbincangkan kalangan ilmuwan. Hal itu d juga ipicu riset terbaru ilmuwan Universitas Columbia, Amerika Serikat yang dipaparkan dalam jurnal nature.com.

Mereka menyebut dua lubang hitam supermasif di rasi Virgo akan saling bertabrakan sekitar 100.000 tahun dari saat ini. Penelitian sebelumnya menyebut tabrakan itu terjadi dalam jutaan tahun yang akan datang.

Saat tabrakan lubang hitam supermasif terjadi, fenomena tersebut akan berakhir dalam sebuah ledakan epik yang menghancurkan galaksi. Selain itu akan mengirim riak melalui serat ruang-waktu alam semesta.

Lubang hitam yang disebutkan dalam penelitian ini (quasar PG 1302-102) terletak miliaran tahun dari Bumi, dan sebelum riak itu mencapai Bumi, ia harus berurusan dengan miliaran galaksi lain yang mengambang di sekitar alam semesta.

Banyak dari mereka berada di antara Bima Sakti (galaksi kita) dan lubang hitam dua galaksi yang bertabrakan ini.

Menurut peneliti Universitas Colombia, Zoltan Haiman, ketika tabrakan mencapai fase yang paling keras, intensitas ledakan akan setara dengan 100 juta ledakan supernova.

Bayangkan ledakan dari tangki penuh TNT dengan massa 100 quintillion Bumi (1 quintillion = 1.000.000.000.000.000.000).  Kemudian, bayangkan gelombang kejut dari ledakan yang akan mengirimkan riak melalui serat ruang-waktu alam semesta. | sumber: tempo.co

Foto Tabrakan 2 lubang hitam di Rasi Virgo. cnet.com

Heboh Ramalan Kiamat September 2015

Heboh Ramalan Kiamat September 2015

Sebelumnya, sebuah teori yang muncul Juni lalu memperkirakan bahwa akan terjadi kiamat dalam waktu empat bulan mendatang.

Peristiwa kiamat itu diperkirakan terjadi sekitar 15 dan 28 September 2015 dalam bentuk asteroid yang menghantam Bumi.

Belakangan sejumlah blog dan sosial media mengklaim bahwa sebuah asteroid raksasa bakal menabrak Bumi sekitar 15 dan 28 September mendatang.

Menurut rumor yang beredar, sebuah asteroid berdiameter 2,5 mil atau 4 kilometer, diperkirakan akan menghantam Puerto Rico di pertengahan dan akhir September 2015. Tepatnya saat terjadi blood moon yang jatuh pada 28 September.

Hantaman asteroid raksasa itu diyakini setara dengan asteroid yang menyapu bersih dinosaurus jutaan tahun yang lalu.

Agar tidak terjadi kekacauan, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) akhirnya angkat bicara.

“Tidak ada dasar ilmiah -bahkan satu pun bukti- yang menyebut sebuah asteroid atau benda langit lainnya akan menabrak Bumi pada tanggal tersebut,” kata Paul Chodas, manajer NASA divisi Near-Earth Object dikutip Dream dari laman Cnet, Sabtu 22 Agustus 2015.

Justru Near-Earth Object Observations Program milik NASA yang mendeteksi semua asteroid mengatakan tidak ada asteroid atau benda angkasa lainnya yang terdeteksi bakal menabrak Bumi dalam jangka waktu mendatang atau pada bulan September besok.

“Semua asteroid yang dikenal berpotensi mendatangkan bahaya hanya memiliki peluang kurang dari 0,01% menabrak Bumi dalam 100 tahun ke depan,” kata Chodas.

Reaksi NASA ini menggambarkan betapa membuat panik dan membingungkannya rumor yang beredar, menyebut kiamat akan terjadi pada September 2015 yang disebabkan oleh asteroid raksasa menabrak Bumi.[] sumber: dream.co.id

Heboh Ramalan Kiamat September 2015, Ini Kata Ilmuwan

Heboh Ramalan Kiamat September 2015, Ini Kata Ilmuwan

Sebelumnya, sebuah teori yang muncul Juni lalu memperkirakan bahwa akan terjadi kiamat dalam waktu empat bulan mendatang.

Peristiwa kiamat itu diperkirakan terjadi sekitar 15 dan 28 September 2015 dalam bentuk asteroid yang menghantam Bumi.

Belakangan sejumlah blog dan sosial media mengklaim bahwa sebuah asteroid raksasa bakal menabrak Bumi sekitar 15 dan 28 September mendatang.

Menurut rumor yang beredar, sebuah asteroid berdiameter 2,5 mil atau 4 kilometer, diperkirakan akan menghantam Puerto Rico di pertengahan dan akhir September 2015. Tepatnya saat terjadi blood moon yang jatuh pada 28 September.

Hantaman asteroid raksasa itu diyakini setara dengan asteroid yang menyapu bersih dinosaurus jutaan tahun yang lalu.

Agar tidak terjadi kekacauan, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) akhirnya angkat bicara.

“Tidak ada dasar ilmiah -bahkan satu pun bukti- yang menyebut sebuah asteroid atau benda langit lainnya akan menabrak Bumi pada tanggal tersebut,” kata Paul Chodas, manajer NASA divisi Near-Earth Object dikutip Dream dari laman Cnet, Sabtu 22 Agustus 2015.

Justru Near-Earth Object Observations Program milik NASA yang mendeteksi semua asteroid mengatakan tidak ada asteroid atau benda angkasa lainnya yang terdeteksi bakal menabrak Bumi dalam jangka waktu mendatang atau pada bulan September besok.

“Semua asteroid yang dikenal berpotensi mendatangkan bahaya hanya memiliki peluang kurang dari 0,01% menabrak Bumi dalam 100 tahun ke depan,” kata Chodas.

Reaksi NASA ini menggambarkan betapa membuat panik dan membingungkannya rumor yang beredar, menyebut kiamat akan terjadi pada September 2015 yang disebabkan oleh asteroid raksasa menabrak Bumi. | sumber: dream.co.id

 

Skenario Baru Kiamat Terungkap

Skenario Baru Kiamat Terungkap

Ilmuwan telah punya konsensus tentang awal dari alam semesta, yaitu lewat Big Bang pada 13,8 miliar tahun lalu. Namun, tentang akhir zaman, hingga saat ini, ilmuwan masih meraba-raba.

Pemodelan teoretis terbaru yang dilakukan oleh Marcelo D Disconzi dari Departemen Matematika, Vanderbilt University, Nashville, Amerika Serikat, mengungkap, alam semesta kemungkinan akan berakhir lewat skenario Big Rip.

“Gagasan tentang Big Rip pada dasarnya adalah bahwa pada akhirnya, penyusun materi pun akan terpisahkan. Anda akan melihat atom terkoyak. Ini bisa dikatakan skenario yang dramatis,” kata Disconzi.

Ada “kekuatan-kekuatan tersembunyi” di alam semesta, di antaranya adalah gravitasi dan materi gelap. Keberadaan materi gelap, demikian disebut karena bahkan sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya, membuat alam semesta mengembang.

Bukti dari pengembangan alam semesta adalah hasil observasi pada supernova yang jaraknya jauh dari Bumi. Semakin jauh supernova, warnanya semakin merah sebab cahaya telah dibiaskan seiring perjalanannya mengarungi ruang dan waktu menuju manusia.

“Anda punya kompetisi antara materi gelap yang mencoba untuk mengembangkan alam semesta dan gravitasi yang cenderung memampatkannya. Pertanyaannya, siapa yang menang?” ungkap Disconzi seperti dikutip The Guardian, Kamis (2/7/2015).

Bila gravitasi yang menang, yang terjadi adalah Big Crunch. Awalnya, alam semesta akan mengembang. Namun, karena pengaruh gravitasi, alam semesta akan memampat hingga pada satu titik sangat mampat, memungkinkan terjadinya Big Bang kembali.

Bila materi gelap menang telak, yang terjadi adalah Big Freeze. Dalam skenario itu, semesta akan terus-menerus mengembang hingga pada satu titik sangat renggang dan gas terlalu tipis untuk bisa menghasilkan bintang. Pada akhirnya, tak ada apa pun yang terjadi.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Physical Review D, Disconzi melakukan pemodelan dengan memasukkan faktor viskositas fluida dan kemampuannya mengembang dan memampat. Dalam kasus ini, fluida adalah alam semesta itu sendiri.

Viskositas fluida sebenarnya telah disertakan dalam perhitungan untuk mengungkap skenario akhir zaman. Namun, dalam perhitungan saat itu, dinyatakan ada fluida yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya.

“Ini kesalahan fatal sebab sudah terbukti jelas bahwa tidak ada apa pun yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya,” kata Disconzi. Dengan revisi itu, materi gelap mungkin menjadi pemenang, tetapi takkan membuat alam semesta mengalami Big Freeze. | sumber: kompas.com

Manusia Bakal Punah untuk Keenam Kalinya?

Manusia Bakal Punah untuk Keenam Kalinya?

PARA ilmuwan percaya manusia sedang memasuki masa kepunahan massal. Kepunahan ini terjadi untuk keenam kalinya sejak bumi tercipta.

Sekelompok tim ilmuwan asal Amerika mengklaim jika studi yang mereka lakukan telah menunjukkan proses kepunahan itu tanpa keraguan. Studi tersebut menunjukkan banyak spesies di bumi yang menghilang 100 kali lebih cepat dari biasanya.

Cepatnya spesies-spesies ini punah akan berakibat pada ancaman dan bencana terhadap eksistensi kehidupan manusia. Ekosistem pun akan rusak. Seperti terganggunya panen karena tak ada lagi serbuk dari serangga atau pemurnian air di lahan basar yang juga bisa beresiko.

“Pada tingkat kehilangan spesies, manusia akan kehilangan banyak manfaat keanekaragaman hayati sepanjang tiga generasi. Kita semakin punah dari hari ke hari,” ujar Paul Ehrlich, Profesor Studi Populasi dalam Biologi, yang juga pengajar di Stanford Woods Institute untuk Lingkungan.

Dilansir melalui Mail Online, Selasa 23 Juni 2015, penelitian ini sempat diterbitkan di jurnal Science Advances. Penulis penelitian itu khawatir jika 75 persen dari spesies di bumi hari ini akan punah dalam kurun dua generasi mendatang.

“Jika dibiarkan terus berlanjut, butuh waktu jutaan tahun bagi kehidupan untuk pulih kembali. Namun seiring dengan itu, akan semakin banyak lagi spesies yang menghilang,” tambah Gerardo Ceballos dari Universidad Autónoma de México.

Menurut mereka, populasi manusia yang terus tumbuh dan konsumsi per kapita yang meningkat telah menjadi penyebab punahnya habitat alam. Beberapa penyebabnya adalah pembebasan lahan baik untuk gedung maupun ilegal logging, invasi spesies yang tidak seimbang, emisi karbon yang memicu perubahan iklim dan pengasaman air laut, racun yang meningkat berikut ekosistemnya di seluruh dunia.

Kepunahan Manusia yang Pernah Berlangsung di Bumi

Menurut para ilmuwan, manusia di bumi telah mengalami lima kali masa kepunahan. Mereka menyebutnya sebagai kepunahan massal, yang kerap diasosiasikan dengan hantaman meteor.

Kepunahan pertama pada akhir era Ordovician, merupakan kepunahan pertama dari lima yang pernah terjadi. Berlangsung sekitar 440 juta tahun lalu. Untungnya, semua kehidupan berada di lautan pada saat itu, namun 85 persen spesies punah.

Kepunahan kedua terjadi di akhir era Devonian, sekitar 375 atau 359 juta tahun lalu. Terjadi perubahan lingkungan besar-besaran yang disebabkan kepunahan dari banyak kelompok ikan dan menghentikan perkembangan terumbu karang selama 100 juta tahun.

Kepunahan ketiga di akhir Era Permian atau disebut juga sebagai kepunahan paling hebat. Ini mempengaruhi ekologi bumi yang terjadi 252 juta tahun lalu. 97 persen spesies punah dan berubah menjadi fosil sekarang.

Kepunahan keempat di akhir zaman Triassic, atau masa akhir hidup dinosaurus. Sebelumnya, amfibi dan reptil mirip mamalia menjadi hewan daratan yang dominan. Namun kepunahan yang muncul 201 juta tahun lalu mengubah itu semua.

Kepunahan terakhir terjadi di akhir zaman Cretaceous. Sebuah asteroid kala itu menabrak bumi 66 juta tahun lalu. Ini juga yang kerap disalahkan sebagai akhir dari era dinosaurus.[] sumber: viva.co.id

Kiamat Segera Datang? Inilah Lima Skenario Dahsyat

Kiamat Segera Datang? Inilah Lima Skenario Dahsyat

Jakarta -Sebuah teori konspirasi telah beredar dan memprediksi sebuah peristiwa dahsyat yang berkaitan dengan iklim akan terjadi dalam waktu tiga bulan mendatang. Peristiwa kiamat itu diperkirakan terjadi sekitar 22-28 September 2015. Salah satu bentuknya adalah asteroid yang menghantam Bumi. Juru bicara Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menyangkal adanya asteroid yang menghajar Bumi.

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, deteksi keberadaan asteroid menjadi prioritas utama NASA. “Kemungkinan tabrakan kecil, NASA tak mendeteksi adanya asteroid atau komet di jalur yang akan bertabrakan dengan Bumi,” katanya seperti dilansir Mirror, Senin 8 Juni 2015.

Bukan sekali ini ada ramalan mengenai kiamat. Empat tahun lalu masyarakat dihebohkan dengan ramalan terjadinya kiamat pada Jumat, 21 Desember 2012, sesuai ramalan suku Maya. Kalender Maya kuno menetapkan siklus 400 tahun, yang disebut b’ak’tun. Siklus itu akan berakhir pada 21 Desember 2012, yang dibayangkan orang sebagai akhir dunia.

Kiamat bisa terjadi karena ulah manusia, misalnya gara-gara perang nuklir atau perusakan lingkungan yang membuat iklim berubah drastis. Tapi, kiamat juga dapat terjadi karena faktor Bumi sendiri dan campur tangan alam semesta. Ada sejumlah teori mengenai terjadinya kiamat berdasarkan ramalan Maya kuno untuk jenis kiamat kedua ini. Ini beberapa di antaranya:

  1. Badai Matahari

Matahari berputar melalui periode tenang dan puncak kegiatannya kira-kira tiap 11 tahun. Periode aktif ini ditandai dengan peningkatan badai matahari dan lidah api atau flare. Dioprediksi terjadi badai matahari pada 21 Desember 2012 dan akan menghancurkan Bumi.

Tapi, menurut ilmuwan NASA, partikel maksimum matahari sangatlah kecil. Dengan kata lain, para ilmuwan tidak memiliki bahwa alasan badai matahari mampu mengganggu masyarakat di Bumi. Tapi, kiamat pasti akan terjadi bila matahari padam.

  1. Kutub Magnet Bumi Bergeser

Kutub Utara dan Selatan akan serempak berubah tempat. Medan magnet bumi sebenarnya berubah tempat kadang-kadang, meski tidak dalam waktu sehari. Menurut NASA, pergantian kutub ini terjadi selama ratusan ribu tahun. Pergantian kutub magnet dapat menyebabkan sedikit peningkatan radiasi kosmik.

  1. Planet X Menabrak Bumi

Planet X yang disebut-sebut sebagai Nibiru konon akan menabrak Bumi. Variasi dari teori ini adalah asteroid atau benda langit lain dalam skala raksasa.

  1. Planet-planet Sejajar

Kiamat juga diramalkan akan terjadi bila planet-planet berada dalam keadaan sejajar. Entah bagaimana fenomena ini akan mempengaruhi planet kita. Menurut NASA, kesejajaran planet pernah terjadi pada 1962, 1982, dan 2000. Dan ternyata tak terjadi apa-apa pada Bumi kita.

  1. Bumi Padam

Rumor ini mengklaim bahwa Bumi akan padam akibat dari matahari dan bumi sejajar dan planet kita akan masuk dalam sabuk foton. Menurut NASA, hal ini sama sekali tidak akan terjadi. | sumber: tempo.co

Ini Lima Skenario Dahsyat Kiamat Versi NASA

Ini Lima Skenario Dahsyat Kiamat Versi NASA

JAKARTA – Sebuah teori konspirasi telah beredar dan memprediksi sebuah peristiwa dahsyat yang berkaitan dengan iklim akan terjadi dalam waktu tiga bulan mendatang. Peristiwa kiamat itu diperkirakan terjadi sekitar 22-28 September 2015. Salah satu bentuknya adalah asteroid yang menghantam Bumi. Juru bicara Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menyangkal adanya asteroid yang menghajar Bumi.

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, deteksi keberadaan asteroid menjadi prioritas utama NASA. “Kemungkinan tabrakan kecil, NASA tak mendeteksi adanya asteroid atau komet di jalur yang akan bertabrakan dengan Bumi,” katanya seperti dilansir Mirror, Senin 8 Juni 2015.

Bukan sekali ini ada ramalan mengenai kiamat. Empat tahun lalu masyarakat dihebohkan dengan ramalan terjadinya kiamat pada Jumat, 21 Desember 2012, sesuai ramalan suku Maya. Kalender Maya kuno menetapkan siklus 400 tahun, yang disebut b’ak’tun. Siklus itu akan berakhir pada 21 Desember 2012, yang dibayangkan orang sebagai akhir dunia.

Kiamat bisa terjadi karena ulah manusia, misalnya gara-gara perang nuklir atau perusakan lingkungan yang membuat iklim berubah drastis. Tapi, kiamat juga dapat terjadi karena faktor Bumi sendiri dan campur tangan alam semesta. Ada sejumlah teori mengenai terjadinya kiamat berdasarkan ramalan Maya kuno untuk jenis kiamat kedua ini. Ini beberapa di antaranya:

1. Badai Matahari

Matahari berputar melalui periode tenang dan puncak kegiatannya kira-kira tiap 11 tahun. Periode aktif ini ditandai dengan peningkatan badai matahari dan lidah api atau flare. Dioprediksi terjadi badai matahari pada 21 Desember 2012 dan akan menghancurkan Bumi.

Tapi, menurut ilmuwan NASA, partikel maksimum matahari sangatlah kecil. Dengan kata lain, para ilmuwan tidak memiliki bahwa alasan badai matahari mampu mengganggu masyarakat di Bumi. Tapi, kiamat pasti akan terjadi bila matahari padam.

2. Kutub Magnet Bumi Bergeser

Kutub Utara dan Selatan akan serempak berubah tempat. Medan magnet bumi sebenarnya berubah tempat kadang-kadang, meski tidak dalam waktu sehari. Menurut NASA, pergantian kutub ini terjadi selama ratusan ribu tahun. Pergantian kutub magnet dapat menyebabkan sedikit peningkatan radiasi kosmik.

3. Planet X Menabrak Bumi

Planet X yang disebut-sebut sebagai Nibiru konon akan menabrak Bumi. Variasi dari teori ini adalah asteroid atau benda langit lain dalam skala raksasa.

4. Planet-planet Sejajar

Kiamat juga diramalkan akan terjadi bila planet-planet berada dalam keadaan sejajar. Entah bagaimana fenomena ini akan mempengaruhi planet kita. Menurut NASA, kesejajaran planet pernah terjadi pada 1962, 1982, dan 2000. Dan ternyata tak terjadi apa-apa pada Bumi kita.

5. Bumi Padam

Rumor ini mengklaim bahwa Bumi akan padam akibat dari matahari dan bumi sejajar dan planet kita akan masuk dalam sabuk foton. Menurut NASA, hal ini sama sekali tidak akan terjadi.[] sumber: tempo.co