Tag: Kesalahan Bahasa Indonesia

Tidak Bergeming atau Bergeming?

Tidak Bergeming atau Bergeming?

Dewasa ini dalam praktik pemakaian bahasa Indonesia, cukup banyak pemakai bahasa menggunakan bentuk tidak bergeming, misalnya dalam kalimat demonstran tidak bergeming ketika air disemprotkan.

Pemakaian bentuk tidak bergeming seperti dalam kalimat di atas sebenarnya juga termasuk dalam bentuk yang salah kaprah jika yang dimaksudkan adalah diam saja alias tidak bergerak.

Sebenarnya, dalam bahasa Indonesia bergeming artinya tidak bergerak sama sekali’. Maka, kalau dikatakan demonstran tidak bergeming ketika air disemprotkan makna yang sesungguhnya adalah tidak bergerak sama sekali. Jadi, perpaduan dua negasi ‘tidak’ itu menjadikan bentuk positif, ‘bergerak’ atau ‘tidak diam saja’.

Oleh karena itu, jika yang dimaksud adalah diam saja atau tidak bergerak, bentuk yang benar adalah demonstran bergeming ketika air disemprotkan, artinya demonstran tidak bergerak ketika air disemprotkan. Namun, bila pada kata bergeming diletakkan kata tidak sehingga menjadi tidak bergeming, kalimat itu sesungguhnya demonstran tidak diam saja atau tidak bergerak ketika air disemprotkan.

Kasus yang hampir sama juga terjadi pada kata acuh. Kata ini sering disamakan artinya dengan ‘tidak peduli’, padahal acuh bermakna ‘peduli’ dan bermakna ‘tidak peduli’ ketika didampingi oleh kata ‘tidak’. Jadi, kalimat dia tidak acuh terhadap lingkungan, berarti ‘dia tidak peduli terhadap lingkungan, sedangkan kalimat dia acuh terhadap lingkungan maknanya adalah dia peduli terhadap lingkungan, bukan dia tidak peduli terhadap lingkungan.[]

Angin Sangat Kuat

Angin Sangat Kuat

Sebagian orang Aceh sering mengucapkan kalimat seperti ini kala angin kencang, Hari ini angin sangat kuat. Tak hanya masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, kaum terpelajar yang telah mumpuni dalam bidang keilmuan pun terkadang latah mengucapkan kalimat tersebut walau sebenarnya ia tahu bahwa ada yang salah dengan kalimat itu.

Kesalahan kalimat itu terletak pada adanya pencampuran dua kaidah bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Aceh dengan bahasa Indonesia. Dalam praktik pemakaian bahasa Indonesia, sebagian orang Aceh yang berbicara bahasa Indonesia dan telah lebih dulu menguasai bahasa Aceh sebagai bahasa pertamanya, sering menerjemahkan secara utuh kosakata bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Padahal, dalam bahasa Indonesia penerjemahan secara utuh kosakata bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia tidak dapat dilakukan. Artinya, harus dicari kata dalam bahasa Indonesia yang berpadanan dengan kata dalam bahasa Aceh.

Sebagai contoh adalah kata kuat pada kalimat hari ini angin sangat kuat. Tak diragukan lagi, kata kuat merupakan terjemahan dari bahasa Aceh, yaitu teuga dalam kalimat uroe nyoe angèn that teuga. Kata ini sebenarnya tidak tepat diterjemahkan dengan kuat dalam bahasa Indonesia. Hal ini karena bahasa Indonesia memiliki kosakata yang lebih tepat mendampingi sifat angin itu, yaitu kencang. Jadi, yang lebih tepat sebenarnya adalah Hari ini angin sangat kencang.

Pemakaian kata kuat dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan langsung dari bahasa Aceh seperti yang dikemukakan di atas juga terdapat dalam kalimat Kuat sekali hujan, makanya saya ndak bisa pulang. Dalam bahasa Aceh kalimat itu adalah Teuga that ujeun, makajih lôn h’an jeut lôn wo.

Tak hanya itu, ada banyak kata lain seperti yang dijelaskan pada contoh di atas. Kasus seperti yang disebutkan di atas terjadi karena bahasa Aceh sebagai bahasa pertama yang dikuasainya telah menurani dalam dirinya sehingga sangat sulit menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Indonesia yang sebenarnya, tanpa harus mencampuradukkan kaidah bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia.[]

Mengejar Ketertinggalan?

Mengejar Ketertinggalan?

Dalam sebuah seminar tentang pendidikan, seorang pemakalah berujar kira-kira seperti ini, “Mari kita mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan!” Salah satu peserta yang duduk di samping saya ketika itu berkata pada teman di sampingnya, “Ketertinggalan kok dikejar, yang harus dikejar kan kemajuan. Ngapain mengejar ketertinggalan.”

Pernyataan salah seorang peserta seminar yang mempermasalahkan pemakaian kata ketertinggalan oleh pemakalah ketika itu selayaknya memang perlu diluruskan. Saya katakan demikian karena memang kata tersebut tidak cocok digunakan dalam kalimat “Mari kita mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan!” Pemakaian ketertinggalan pada kalimat tersebut sejatinya melanggar norma-norma logika berbahasa.

Dilihat dari segi konteks kalimat tersebut, ketertinggalan dapat dimaknai sebagai “dalam keadaan tertinggal”. Bila dikaitkan dengan mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, ini berarti kata tersebut bermakna “mengejar keadaan tertinggal di bidang pendidikan”. Para peserta ketika itu diajak mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, bukan mengejar kemajuan. Barangkali inilah sebabnya pendidikan di negeri ini tak pernah maju karena yang dikejar selalu yang tertinggal alias kedaluwarsa. Lihat saja, metode dan model pembelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah/ perguruan tinggi di antaranya adalah metode atau model tahun ’50-an dan ’60-an yang diadopsi dari negara lain.

Lantas, secara logika berbahasa, perlukah keadaan tertinggal/ketertinggalan dikejar? Mana yang harus dikejar, ketertinggalan atau kemajuan? Sejatinya, ketertinggalan adalah indikasi kemunduran dalam segala hal. Logikanya, desa yang tertinggal berarti desa yang belum maju dan jauh dari peradaban teknologi. Begitu pula, ketertinggalan di bidang pendidikan berarti jauh dari kemajuan di bidang pendidikan.

Karena ketertinggalan merupakan indikasi dari kemunduran, ini berarti ketertinggalan merupakan masalah yang perlu diatasi untuk mencapai kemajuan, bukan sesuatu yang perlu dikejar. Dengan demikian, agar bernalar kalimat itu seharusnya diucapkan, “Mari kita mengatasi berbagai ketertinggalan di bidang pendidikan!”[]