Tag: kekerasan

Psikolog: Anak Korban Pemerkosaan Berisiko Bunuh Diri

Psikolog: Anak Korban Pemerkosaan Berisiko Bunuh Diri

BANDA ACEH- Psikolog anak, Dra. Endang Setianingsih, M.Pd mengatakan dampak terhadap anak yang mengalami kasus incest sangat mempengaruhi psikologisnya.

“Misalnya dampak psikologis bagi anak yang diperkosa berbeda satu sama lain tingkat traumanya. Ada yang merasa takut, cemas, panik, shock, atau merasa bersalah pada diri anak dan hal ini  wajar karena luka yang dirasakan anak dapat menetap dan berdampak hingga seumur hidupnya,” kata Endang saat dihubungi portalsatu.com pagi tadi, Selasa, 6 Oktober 2015.

Menurut Endang, apabila anak telah menjadi korban maka ia merasa kehilangan kepercayaan diri dan terkadang tidak dapat mengendalikan diri atas hidupnya sendiri. “Bahkan anak sangat sulit mengungkapkan atau bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya,” kata Endang.

Meskipun kendati demikian, kata dia, keterangan dari anak sangat diperlukan untuk menangkap pelaku, berbagai perasaan yang campur aduk dan situasi rumit tersebut akan membawa dampak bagi kesehatan dan psikologis anak.

“Misalnya saat di backup tidak mudah  anak-anak mengungkapnya. Maka dari itu psikolog perlu mendampingi korban dalam menghadapi kasus seperti ini. Kebanyakan kondisi stres pascatrauma membuat korban  tidak mudah untuk diyakini bahwa ini semua bukanlah kesalahan mereka,” ujarnya.

Perlu diketahui juga bahwa anak sebagai korban juga memiliki rasa malu sehingga kondisi ini bisa mengalami  gangguan pola makan, depresi kecemasan, serta gangguan mental lain. “Namun bisa jadi efek ini beresiko korban melakukan bunuh diri. Hal ini bisa di akibatkan oleh rasa malu dan merasa tidak berharga,” katanya.

Endang melanjutkan, korban yang mengalami depresi merasa seakan-akan  peristiwa tersebut terus-menerus menghantuinya, sehingga korban mudah panik,  cemas, bahkan mengalami gangguan tidur dan sering bermimpi buruk, menangis, dan suka menyendiri.

“Anak-anak yang menjadi korban ini ia tidak ingin bertemu dengan orang atau takut bila sendiri sehingga minta ditemani selalu  dan takut akan kegelapan, juga perilaku agresif yang menonjol sering ditunjukannya sehingga menjadi pemarah,” ujar Endang.   [] (mal)

Foto Psikolog anak, Dra. Endang Setianingsih, M.Pd

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat di Banda Aceh

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat di Banda Aceh

BANDA ACEH – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banda Aceh meningkat menjadi 94 kasus dari 54 kasus tahun sebelumnya, Senin, 7 September 2015. Kasus ini didominasi oleh kekerasan terhadap perempuan.

Demikian hasil pemaparan yang dilakukan oleh Divisi Kajian Publik Flower Aceh dalam diskusi terbatas merujuk data terbaru dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banda Aceh. Data ini dikumpulkan hingga 25 Agustus 2015.

“Angka kekerasan selama pertengahan tahun 2015 ini jauh melampaui total kekerasan yang terjadi di tahun lalu,” ujar Divisi Kajian Flower Aceh, Mirza Ardi, melalui siaran persnya kepada wartawan.

Berdasarkan wilayah sebaran kasus kekerasan paling banyak terjadi di Kecamatan Baiturrahman sejumlah 14 kasus, diikuti oleh Kuta Alam (13 kasus), Kuta Raja (10 kasus), Meuraxa, Lueng Bata (9 kasus), Ulee Kareng (7 kasus), Banda Raya (6 kasus), Jaya Baru (5 kasus), dan Syiah Kuala (2 kasus).

Flower menilai dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak tak bisa dianggap enteng. Fakta lapangan membuktikan perempuan yang menjadi korban kekerasan menderita trauma psikis hebat dari frustasi, ketakutan, ingin bunuh diri, bahkan ada yang kehilangan kepercayaan kepada tuhan.

Demikian pula halnya dengan anak yang menjadi korban kekerasan. Selain menjadi minder dan menurunnya prestasi di sekolah yang mengakibatkan masa depan mereka terancam, dalam beberapa kasus ada yang terkena HIV.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Flower, fakta dan angka tersebut hanya kasus yang terlapor. Diperkirakan masih banyak kasus-kasus kekerasan lainnya yang belum terlapor.

“Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut soal ini,” ujar Mirza.[](bna)

Kesaksian Bocah SD yang Kepalanya Diduga Dimartil Guru

Kesaksian Bocah SD yang Kepalanya Diduga Dimartil Guru

LHOKSUKON – Bocah lelaki berkulit coklat itu duduk termangu di teras rumahnya yang bercat putih. Di sisi kanan terlihat beberapa orang sedang berbincang-bincang. Ia duduk menyandarkan dagunya di atas lutut yang ditekuk. Pandangannya menatap lurus ke depan memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain.

“Piyoh, jeh pat adek loen. Nyoe ka lumayan lah. Ka item duk ie keu rumoh, sabab rame ngen nyang troh (Mari singgah, itu adik saya. Ini sudah lumayan ‘lah. Sudah mau duduk di depan rumah, karena ramai teman-temannya yang datang),” kata Efendi, 27 tahun, saat portalsatu.com tiba di rumahnya.

Efendi merupakan abang kandung F, 12 tahun, siswa SD Negeri 7 Matangkuli, Aceh Utara yang mengalami bocor kepala karena diduga dimartil oleh oknum guru berinisial ANT, 54 tahun, warga Desa Rayeuk Glang-Glong, Kecamatan Matangkuli.

Setelah mempersilahkan duduk di teras rumahnya, Efendi memanggil F yang langsung datang dengan langkah perlahan. Saat ditanyakan tentang kejadian yang menimpanya di sekolah hari ini, F langsung bercerita.

“Setelah waktu istirahat selesai ada tiga siswa yang berkelahi. Saya dan beberapa siswa lainnya mendekat untuk melihat. Secara bersamaan masuk guru ANT dan melerai mereka. Ia memegang tangan salah satu siswa yang berantam itu,” ujar F.

Dilanjutkan, tiba-tiba siswa lain yang tadinya terlibat perkelahian memukul kepala siswa yang tangannya dipegang guru.

“Guru itu langsung menuduh saya yang memukul kepala siswa itu, hanya lantaran saya berdiri paling depan. Setelah menuduh, guru itu memukul kepala belakang saya dengan palu dua kali. Rasanya sakit sekali,” kata F.

Setelah memukul kepala F, guru yang hendak berlalu pergi itu berbalik arah karena melihat kepala bocah tersebut mengeluarkan darah. Ia pun memegang tangan F dan membawanya ke kantor untuk diobati.

“Setelah dibawa ke kantor, guru itu mengajak saya ke rumah sakit. Tapi saya menolak dan lebih memilih pulang ke rumah. Saya pulang ke rumah sambil menangis sepanjang jalan,” kata F.

Saat ditanyakan, apakah besok dia akan pergi ke sekolah seperti biasanya? F menjawab, “Saya takut ke sekolah karena malu nantinya diejek teman-teman.”[](bna)

Polres Aceh Tengah Tangani 14 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Polres Aceh Tengah Tangani 14 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

TAKENGON- Kapolres Aceh Tengah AKBP Dody Rahmawan, mengatakan terhitung dari Januari hingga Juli 2015, pihaknya telah menangani 14 kasus kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga dan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

“Anehnya kasus pencabulan ini juga kerap melibatkan pelaku di bawah umur,” kata Dody di Takengon.

Untuk itu, ia berharap kepada setiap orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak masing-masing guna menekan angka pelanggaran hukum yang melibatkan anak di bawah umur.

Selain itu, sebut AKBP Dody Rahmawan, penyalahgunaan narkotika dewasa ini juga telah merabah pada kalangan anak dan remaja setingkat SMP.

“Pernah pada malam puasa kemarin saya menemukan anak usia remaja yang menghirup lem. Ini pertanda mereka sudah menyukai barang memabukkan,” katanya.

Tindakan ini, kata Dody, merupakan bentuk perilaku remaja aceh yang mulai menunjukkan generasi suram. [] (mal)

Tonton Film Porno, Doyok Cabuli Remaja Putri

Tonton Film Porno, Doyok Cabuli Remaja Putri

Bogor – Iyan alias Doyok, Kota Bogor, ditangkap polisi. Doyok diduga mencabuli seorang remaja putri berusia 13 tahun yang tuna rungu.

Doyok diketahui menggunakan jarinya mencabuli korban yang tuna rungu. Saat ini, Doyok masih dalam pemeriksaan polisi dan terancam penjara selama 15 tahun, karena melanggar pasal 82 undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Aksi bejat Doyok terungkap setelah orangtua korban melihat ada cairan sperma di pakaian korban. Setelah berkomunikasi dengan bahasa isyarat, akhirnya korban mengaku kalau ia telah dicabuli oleh Doyok.

“Orangtuanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Kemudian dia mengaku kalau cairan sperma itu milik tersangka. Orangtuanya kemudian melapor,” kata Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, AKP Hendrawan Gustian Nugroho, Selasa (23/6/3015).

Aksi pencabulan sendiri dilakukan pada Sabtu (6/6/2015) sore lalu. Saat itu, korban yang tengah main kemudian dibawa ke rumah kontrakan pelaku yang berada di samping rumah korban. Doyok yang sudah di penuhi nafsu birahi, kemudian mencabuli korban. Pelaku memasukan jarinya ke kemaluan korban hingga beberapa kali. Tidak hanya itu, pelaku juga menggesek-gesekan kemaluannya ke kemaluan korban hingga ejakulasi.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Ipda Ni Komang Armini mengatakan, Doyok merupakan seorang kuli bangunan yang mengontrak di sebelah rumah korban.

“Saat kejadian, korban sedang main di depan kontrakan pelaku. Kemudian dirayu, dan dibawa ke kontrakan pelaku. Di situ dia melakukan aksinya,” terang Iptu Ni Komang.

“Korban baru berusia 13 tahun dan siswa SLB. Pelaku sendiri seorang kuli bangunan dan masih bujangan,” tambahnya.

Saat ini, kata Ipda Ni Komang, pelaku sudah diamankan dan masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Bogor Kota. Barang bukti berupa celana korban yang ada noda sperma pelaku juga diamankan. Karena perbuatannya, Doyok akan dijerat dengan pasal 82 undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan terhadap anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara Doyok, mengaku tega mencabuli korban yang tuna rungu karena sudah tidak bisa menahan nafsunya. Melihat korban yang memiliki kelemahan sebagai tuna rungu, Doyok langsung merayu dan menjadikan korban sebagai pemuas nafsunya.

“Iya, saya suka nonton film porno. Saya khilaf, Pak. Saya nggak tahan,” kata Doyok di Polres Bogor Kota. | sumber: detik.com

Menteri: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tinggi di Aceh

Menteri: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tinggi di Aceh

JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP-PA) Yohana Susana Yembise akan mengirim staf ke Aceh guna melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi terhadap perempuan dan anak di provinsi itu.

“Saya sudah mohon izin sama Ibu Gubernur Aceh, nanti akan ada staf saya yang akan datang ke sini untuk mempelajari berbagai persoalan yang ada di provinsi ini,” katanya di sela-sela meninjau pelatihan keterampilan menjahit bagi perempuan korban konflik di aula gedung PKK Aceh, Banda Aceh, Minggu, 27 April 2015.

Ia menjelaskan ada berbagai laporan yang disampaikan kepadanya terhadap perempuan dan anak di provinsi berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa itu.

“Informasi yang sampai kepada saya katanya tingkat kekerasan dalam rumah tangga tinggi dan seksual dan pornografi di Aceh tinggi,” katanya.

Ia mengatakan saat ini pihaknya belum memiliki data secara lengkap, sehingga akan menurunkan stafnya untuk melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan di Aceh.

Menurut dia dengan adanya pemetaan terhadap persoalan yang terjadi maka akan dapat dilakukan penanganan di masa mendatang.

“Kami akan melakukan berbagai program penanganan di Aceh sesuai dengan persoalan yang terjadi terhadap perempuan dan anak,” katanya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Aceh, Menteri PP-PA turut didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Aceh Hj Niazah A Hamid, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh, Dahlia dan Kabiro Humas Setda Aceh M Ali Alfata.[] sumber: ANTARANEWS.com