Tag: kabut asap

Dinkes: Belum Ada Korban Akibat Asap

Dinkes: Belum Ada Korban Akibat Asap

MEULABOH – Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, memastikan belum ada warga yang terdampak penyakit akibat kabut asap yang terus menebal dipicu kebakaran lahan dan hutan di sebagian wilayah Sumatera.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat dr Zafril Luthfy di Meulaboh, Kamis, mengatakan bahwa kondisi udara di kawasan setempat juga masih aman karena pencemaran udara belum sampai pada taraf mengkhawatirkan.

“Laporan asap pekat memang sudah kami terima, tapi sampai hari ini belum ada warga yang terserang penyakit, tapi kalau itu terjadi kami sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk memberikan penanganan segera mungkin kepada masyarakat,” katanya.

Hingga Kamis (8/10) siang asap terus menebal menyelimuti kawasan Aceh Barat bahkan mengepung Kota Meulaboh, kondisi kabut asap terjadi hilang timbul karena curah hujan dalam sepekan ini membantu menghilangkan ka asap sebelumnya.

Kabut asap yang menyelimuti kawasan Aceh Barat merupakan kiriman dari daerah tetangga berasal dari kebakaran lahan dan hutan di sejumlah kawasan penyumbang titik panas api, jarak pandang masih di atas 2.000 meter (2 km).

Kata dr Luthfy dari suasana asap pekat laporan diterima pihaknya belum mempengaruhi kesehatan warga, belum ada gejala penyakit ditimbulkan oleh asap seperti infeksi saluran pernafasan atas (ispa) maupun gejala lainnya.

“Untuk upaya antisipasi kami sudah mempersiapkan masker apabila masyarakat membutuhkan. Tapi di sini belum begitu nampak pengaruh, di bawah 1 km biasanya sudah mempengaruhi,”imbuhnya.

Sementara itu kabut asap juga dilaporkan semakin menebal di sejumlah kabupaten lain di wilayah barat selatan Aceh, seperti di Kabupaten Aceh Selatan kabut asap sudah mempengaruhi perekonomian masyarakat karena tidak dapat beraktivitas.

“Berdasarkan laporan kabut asap terus menebal, nelayan di sebagian tempat sejak kemarin  tidak dapat melaut karena jarak pandang nelayan di tengah laut tidak nampak jelas,” kata Panglima Laot (pemangku adat laut) Aceh Selatan M Jamil.

Selain itu, hal serupa juga dilaporkan dari Kabupaten Simuelue yang merupakan pulau terluar di provinsi paling ujung barat Indonesia, kabut asap yang melanda kawasan itu sempat menghilang, namun tiba-tiba kembali menebal dalam waktu satu hari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, akibat kabut asap tersebut juga sudah mempengaruhi aktivitas penerbangan pada Bandara Cut Nyak Dhien di Kabupaten Nagan Raya, sejumlah penerbangan terpaksa harus di censel (ditunda).

“Penerbangan tertunda pagi tadi akibat kabut asap, tapi siang ini untuk penerbangan pada jam tiga (15.00 WIB) sudah mulai lagi,” kata Kepala Bandara Cut Nyak Dhien Juli yang dihubungi berada di Jakarta. | sumber: antara

 

Atasi Bencana Asap, Indonesia Gandeng Lima Negara Ini

Atasi Bencana Asap, Indonesia Gandeng Lima Negara Ini

JAKARTA – Indonesia akan bekerja sama dengan lima negara untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap. Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2015.

“Kita merasa penting untuk bekerja sama dengan negara yang mempunyai sumber daya untuk memadamkan api dan asap. Ada lima negara, yaitu Australia, Tiongkok, Malaysia, Rusia, dan Singapura,” ujar Arrmanatha.

Menurut dia, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Australia, dan Malaysia untuk membahas kerja sama dan mendapatkan bantuan dalam mengatasi titik-titik api yang masih berkembang di beberapa wilayah di Indonesia. “Sampai hari ini, masih ada sekitar 110 titik api, dan di antaranya ada 11 titik api di Riau,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan, pemerintah Indonesia masih harus membahas bentuk bantuan dan kerja sama yang akan dilakukan dengan lima negara tersebut. “Bentuk kerja sama ini masih harus dibahas karena beberapa kerja sama itu ada yang bersifat bantuan dan ada yang bersifat commercial base (komersial),” tuturnya.

Arrmanatha menyebutkan sudah cukup banyak upaya yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi kebakaran lahan dan hutan serta mengurangi penyebaran asap. “Pada intinya, upaya Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan langkah-langkah yang telah dilakukan sudah cukup banyak. Tidak hanya upaya pemadaman api, tapi juga penindakan hukum (terhadap pelaku pembakaran),” ucapnya.

Dia memaparkan, untuk pemadaman api, pemerintah Indonesia telah mengerahkan 26 helikopter guna melakukan pengeboman air (water bombing) dan mengerahkan empat pesawat khusus untuk melakukan rekayasa cuaca (weather modification) guna menghasilkan hujan buatan.

“Data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menyebutkan 65 juta liter air dituangkan ke berbagai titik api di lima provinsi, dan 250 ton garam digunakan untuk weather modification,” katanya.[] sumber: tempo.co

BMKG: Kabut Asap Belum Hilang Dari Lhokseumawe

BMKG: Kabut Asap Belum Hilang Dari Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Pulau Sumatera masih belum hilang di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Prakirawan BMKG Stasiun Lhokseumawe Syifaul Fuad mengatakan, kabut asap belum bisa hilang dari Kota Lhokseumawe, meskipun jarak pandang mulai membaik.

“Dilihat dari pola titik panas di daerah kebakaran lahan, seperti di Jambi, Pekanbaru, dan arah angin yang mengarah ke wilayah Aceh, kemungkinan kabut asap belum bisa hilang di Lhokseumawe hingga beberapa hari mendatang,” ujar Syifaul Fuad.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh pihaknya, di Provinsi Aceh tidak terdapat titik panasi, maka kabut asap yang melanda wilayah Kota Lhokseumawe, merupakan asap kiriman dari sejumlah daerah lain di Sumatera.

Meskipun masih diselimuti asap, jarak pandang  di kota setempat mulai, yaitu mencapai tigakilometer dan sebelumnya jarak pandang hanya mencapai 500 meter sampai satu kilometer, akibat asap yang semakin pekat.

“Dini hari tadi jarak pandang masih mencapai satu kilometer, namun pagi hingga siang ini jarak pandang sudah mulai terbuka, yaitu mencapai tiga kilometer bahkan bisa lebih membaik lagi,” tutur Syifaul.

BMKG stasiun Lhokseumawe mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat menggunakan kendaraan bermotor, karena jarak pandang yang terbatas dan lebih baik menghidupkan lampu apabila saat berkendara.

Selain itu, kabut asap tersebut juga sangat menganggu kesehatan maka lebih baik menggunakan masker apabila sedang beraktifitas, karena akibat kabut asap udara menjadi tercemar dan tidak sehat.

“Bagi pengendara lebih baik menghidupkan lampu saat berkendara agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan, kalau dari segi kesehatan lebih baik menggunakan masker saat beraktivitas,” kata Syifaul. | sumber: antara

Riau Berasap Salah Siapa?

Riau Berasap Salah Siapa?

Kondisi politik Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan, tidak stabil, tanpa struktur, dan sulit dikendalikan. Berbagai macam isu politik kini bermunculan, alih-alih isu tersebut entah sengaja diciptakan supaya isu kenaikan harga dolar dapat terkesampingkan atau memang terjadi dengan sendirinya. Semua kembali kepada cara kita menganalisis isu tersebut. Lantas, bagaimana peran negara, apa kabar pemerintah?

Seharusnya negara sesegera mungkin mengambil sikap/langkah dan tindakan agar situasi politik negara kembali kondusif. Stabilitas politik negara mulai kocar-kacir, rakyat pun begitu risi dengan berbagai macam gejolak politik saat ini, baik yang diciptakan maupun yang terjadi dengan sendirinya. Ini mengakibatkan hilangnya nasionalisme rakyat terhadap negara dan pemerintah.

Mengenai kondisi Riau saat ini, kabut asap yang menyelimuti provinsi tersebut dan sekitarnya kini sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Tak hanya itu, negara tetangga pun mulai merasakannya, baik Singapura maupun Malaysia.

Berbagai ancaman perlahan-lahan kini mulai tercium, baik dari masyarakat, mahasiswa, maupun tokoh politik Riau. Keinginan “Riau Merdeka” tak luput dari ketidakpekaan Pemerintah Pusat terhadap daerah tersebut. Pemerintah begitu lambat menangani berbagai kasus perusakan hutan di Riau, padahal Provinsi Riau merupakan daerah yang memberikan pajak terbesar kepada Indonesia sebagaimana diinformasikan sejumlah media bahwa ekspor Riau mencapai 1,15 miliar Dolar AS.

Kontribusi ekspor Riau kepada nasional sebesar 10,04%. Selain itu, Riau juga penghasil CPO dan migas terbesar. Namun, hari ini Pusat masih belum peka dan terkesan lamban menangani kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pembakaran hutan kembali terjadi di Provinsi Riau akhir-akhir ini. Akibatnya, masyarakat sekitar resah sehingga terjadi mogok kerja/aktivitas selama 3 minggu. Ini merupakan ulah yang berulang kali dilakukan oleh perusahaan yang masih aktif di wilayah hutan Riau.

Pihak penegak hukum pun sudah mengantongi 7 perusahaan yang dianggap biang kerok pembakaran hutan, yaitu  PT RPP di Sumatra Selatan, PT BMH di Sumsel, PT RPS di Sumsel, PT LIH di Riau, PT GAP di Kalimantan Tengah, PT MBA di Kalimantan Tengah, dan PT ASP di Kalteng, sebagaimana dikutip di BBC, 16 September 2015. Selain itu, kata Jenderal Kepala Kepolisian Badrodin Haiti, masih ada 20 nama lainnya yang masih dalam pemeriksaan. Dia menyarankan kepada pemerintah selaku regulator agar diberikan sanksi hukum yang berat (pencabutan Izin) terhadap perusahaan tersebut.

Menurut aktivis lingkungan, dan pemantau perusakan hutan (Eyes on the Forest) dan Walhi Riau, hal ini sudah berulang kali terjadi dan dilakukan oleh perusahaan yang sama. Namun, ringannya sanksi yang diberikan oleh penegak hukum tidak menimbulkan jera efek jera. Selain itu, perusahaan-perusahaan itu sulit diatasi karena mengandalkan “beking” dalam melakukan aktivitas di daerah-daerah terlarang, seperti kawasan hutan lindung.

Sebenarnya, masyarakat dan aktivis lingkungan menginginkan adanya terobosan baru dari Pemerintah Pusat selaku regulator yang mempunyai kewenangan besar dalam mengambil keputusan untuk menindaklanjuti perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran sehingga dengan adanya tindakan yang represif, pihak perusahaan akan merasakan efek jera.

Undang-undang yang telah dilahirkan negara menunjukkan keseriusannya dalam menangani kasus-kasus pembakaran hutan di antaranya adalah sebagai berikut.

Pasal-Pasal Pidana Pembakaran Hutan

  • Undang-Undang Perkebunan 39 tahun 2014, pasal 108:

Setiap Pelaku Usaha Perkebunan yang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

  • Undang-Undang Kehutanan, pasal 78

Pelaku pembakar hutan dikenai hukuman beragam dari satu hingga 15 tahun penjara dengan denda Rp50 juta sampai Rp1,5 miliar.

  • UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 116

(1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada: badan usaha; dan/atau orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.

(2) Apabila tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama-sama.

Penulis: Shaivannur, mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang.

Nelayan Lhokseumawe Nekat Melaut Meski Dikepung Kabut Asap

Nelayan Lhokseumawe Nekat Melaut Meski Dikepung Kabut Asap

LHOKSEUMAWE – Nelayan Lhokseumawe nekat melaut meski kabut asap menyelimuti kawasan tersebut, Senin, 5 Oktober 2015. Salah satunya adalah Usman, 50 tahun, salah satu nelayan tradisional di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

“Beberapa hari ini kabut asap sangat pekat, sehingga jarang pandang kami sangat terbatas di tengah laut,” kata Usman.

Dia mengatakan meskipun kabut asap mereka tetap nekat melaut karena untuk kebutuhan ekonomi keluarga.

“Sebagian dari nelayan banyak juga yang sudah pulang, karena penglihatan kita tidak nampak dan sulit untuk menentukan lokasi kumpulan ikan berada. Jika yang nekat melaut, mereka dibekali dengan peralatan satelit maupun GPS,” ujarnya.[](bna)

Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Kota Lhokseumawe kembali dikepung asap tebal pada sejak pagi Senin, 5 Oktober 2015. Salah satu kawasan yang tampak jelas diselimuti kabut asap adalah Waduk Pusong-Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lhokseumawe, Muhammad Syifaul Fuad kepada portalsatu.com mengatakan, kabut tersebut disebabkan akibat titik api di sebagian wilayah Provinsi Jambi, Pekanbaru, dan Sumatera Selatan kembali bertambah.

“Pergerakan anginnya mengarah ke wilayah Aceh, maka dengan itu kabut asap pun ikut mengarah, sehingga Kota Lhokseumawe dan sekitarnya kembali pekat dengan asap kiriman,” kata Syifaul.

Syifaul mengatakan jarak pandang untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya mencapai 2 kilometer sejak 1 Oktober 2015 kemarin. Kondisi jarak pandang seperti ini masih memasuki kategori normal dalam aktivitas umum.

“Namun untuk aktivitas penerbangan kondisi seperti ini sangat terkendala,” katanya.

Dia berharap para pengguna jalan raya harus tetap berhati-hati saat melintas di jalan dengan kondisi seperti ini.

“Untuk menjaga kesehatan dari penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa), sebaiknya menggunakan masker saat keluar rumah dan jika berkendara agar tetap menghidupkan lampu depan,” ujarnya.[](bna)

Malaysia Sebut Indonesia Kurang Serius Tangani Masalah Asap

Malaysia Sebut Indonesia Kurang Serius Tangani Masalah Asap

Kuala Lumpur – Malaysia mendesak pemerintah Indonesia lebih serius lagi menangani masalah asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia. Malaysia menganggap rencana penanggulangan asap saat ini membutuhkan waktu lama agar dapat berjalan efektif.

“Kami berterima kasih atas usaha yang sudah dilakukan sekarang. Tapi kami rasa ini akan membutuhkan waktu. Setiap hari, masih ada pembakaran yang dilakukan petani Indonesia,” ujar Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi.

Zahid menyambut positif komitmen yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo dalam mengupayakan tindakan penanggulangan serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Hal ini disampaikan Zahid merespons pernyataan Presiden Jokowi yang meminta negara-negara lain bersabar dan memberi waktu kepada Indonesia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun Zahid menilai waktu tiga tahun yang diminta terlalu lama.

“Kita tahu bahwa tindakan yang telah diambil selama ini tidaklah cukup. Buktinya, ini masih saja terus berulang setiap tahun. Kita sudah menghabiskan banyak pengeluaran untuk kesehatan, khususnya penyakit seperti asma,” ucap Zahid.

Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam Malaysia Datuk Seri Wan Junaidi Tunku Jaafar diutus Zahid untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia terkait dengan langkah strategis penanggulangan yang akan dilakukan kedua negara untuk menyelesaikan masalah tahunan ini. | sumber: tempo

Kabut Asap Kembali Selimuti Aceh Barat

Kabut Asap Kembali Selimuti Aceh Barat

Meulaboh  – Kabut asap kembali menyelimuti hampir seluruh kawasan di wilayah barat selatan Provinsi Aceh yang berasal dari aktivitas terbakarnya lahan dan hutan di sejumlah daerah di Sumatera.

“Asapnya sejak kemarin sudah terasa dan terlihat, hari ini ternyata asapnya semakin tebal terutama untuk lintasan Meulaboh-Geumpang di Kecamatan Kaway XVI,” kata M Nur salah seorang warga Alu Tampak, di Meulaboh, Sabtu.

Asap mulai menyelimuti sebagian kawasan Kabupaten Aceh Barat sejak Jum’at (2/10) petang, warga yang melintasi jalur Meulaboh-Geumpang untuk kawasan Kecamatan Kaway XVI cukup terasa dampak kabut asap tersebut.

Kejadian kali ini berbeda dengan kabut asap menyelimuti Aceh Barat sebelumnya karena tidak dipengaruhi oleh adanya titik panas api adanya aktivitas pembakaran di area pematangan sawah maupun warga yang membuka kebun.

Hingga Sabtu (3/10) siang, asap mulai terlihat tebal disejumlah kawasan padat penduduk dan pedalaman, apalagi karena kondisi cuaca cerah dan berawan membuat jarak pandang sedikit terganggu.

“Penerbangan di Bandara Cut Nyak Dhien hari ini juga di cencel, jarak pandang sudah mencapai 2.000 meter (2 kilometer), untuk masyarakat kita mengeluarkan status waspada, yang sudah terdampak untuk aktivitas bandara,” kata Kepala BMKG Meulaboh-Nagan Raya Edi Darlupti.

Dia mengatakan, asap yang terus menebal sudah merambah sejumlah kabupaten lain di Aceh seperti Aceh Barat, Nagan Raya bahkan Simeulue juga sudah lebih awal merasakan dampak asap kiriman dari kebakaran lahan dan hutan di wilayah Sumetera Selatan.

BMKG memastikan, tidak ada titik panas (hotspot) di Provinsi Aceh yang terpantau pihaknya, namun asap yang terus menebal merupakan kiriman dari sejumlah kawasan lain penyumbang titik panas api akibat kebakaran.

“Padahal kemarin kita sudah hujan tapi asapnya malah hari ini semakin terlihat tebal, saat ini asap sudah mulai juga ke Nagan Raya. Kita belum mengeluarkan status waspada karena belum ada masyarakat yang mengeluh,” katanya menambahkan. | sumber: antara

Kebakaran Hutan Indonesia Kali Ini Terburuk dalam Sejarah

Kebakaran Hutan Indonesia Kali Ini Terburuk dalam Sejarah

Jakarta – Kebakaran hutan Indonesia kali ini dinilai sebagai yang terburuk sepanjang sejarah. Para ilmuwan memperingatkan, musim kemarau yang berlangsung lebih lama daripada seharusnya menjadi penghambat dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan.

Malaysia, Singapura, dan wilayah lain yang terkena dampak telah mengalami penderitaan selama berminggu-minggu karena gangguan asap akibat pembakaran hutan dan lahan ilegal.

Krisis kebakaran hutan yang melanda Asia Tenggara hampir setiap tahun ketika musim kemarau berlangsung menimbulkan ketegangan diplomatik antarnegara di kawasan ini.

Bencana kebakaran hutan kali ini pun kemudian disebut sebagai salah satu yang terburuk dan terlama sepanjang sejarah karena El Nino membuat kondisi Indonesia lebih kering ketimbang biasanya, sehingga terus membutuhkan hujan di wilayah teluk.

Ilmuwan dari The National Aeronautic and Space Administration (NASA) memperingatkan, keadaan saat ini hampir mendekati kondisi pada 1997, yang dikenal sebagai peristiwa kebakaran hutan paling serius dan terburuk sepanjang sejarah. Bahkan tingkat risiko bencana kebakaran hutan kali ini diperkirakan dapat lebih tinggi dibanding pada 1997.

“Kondisi di Singapura dan Sumatera bagian tenggara hampir mendekati kondisi tahun 1997,” ujar Robert Field, ilmuwan dari Columbia University yang juga berbasis di NASA’s Goddard Institute for Space Studies, seperti dikutip Lembaga Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat. “Jika ramalan musim kemarau akan bertahan tersebut benar, kebakaran hutan saat ini akan tercatat sebagai yang terburuk sepanjang sejarah,” tutur Robert.

Herry Purnomo, ilmuwan asal Indonesia yang berbasis di Centre for International Forestry Research, juga sependapat bahwa situasi saat ini serupa dengan kejadian 1997. Menurut dia, ini terlihat dari besarnya dampak yang ditimbulkan hingga begitu menghebohkan dunia internasional. “Saya meyakini dampak kebakaran hutan tahun ini akan menjadi seburuk tahun 1997, khususnya dari segi biaya,” ujar Herry.

Indonesia telah mengerahkan lebih dari 20 ribu tentara, polisi, serta personel lain ke Sumatera dan Kalimantan untuk memadamkan api kebakaran hutan. Sejumlah upaya pun dilakukan, seperti operasi menjatuhkan bom air ke area yang terbakar hingga melakukan rekayasa hujan buatan, sembari berharap musim hujan segera tiba.

Indonesia pun harus kembali menghadapi tekanan yang ditujukan negara tetangga sejak masalah kebakaran hutan ini muncul pertama kali pada 20 tahun silam. Tahun ini, lebih dari 10 ribu orang di Singapura, Malaysia, dan Indonesia harus diberi perawatan medis akibat gangguan pernapasan.

Kebakaran hutan ini juga berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim. Berdasarkan data emisi kebakaran hutan global milik NASA, diperkirakan sekitar 600 juta ton gas rumah kaca dilepaskan sebagai hasil dari kebakaran hutan sepanjang 2015.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya didesak segera menetapkan peristiwa kabut asap di Sumatera dan Kalimantan sebagai bencana nasional. Ia pun angkat bicara mengenai desakan tersebut. “Yang penting aksinya. Orang kita yang memadamkan berjumlah 4.000. TNI sudah diturunkan. Polisi dan petugas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) juga banyak,” ucapnya.

Perihal adanya tawaran bantuan pemadaman dari beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, ia mengatakan pemerintah Indonesia belum membutuhkannya. “Kita masih bisa tangani sendiri,” ujar Siti.| sumber: tempo.co