Tag: jepang

Pemerintah Jepang Ancam Indonesia, Kenapa?

Pemerintah Jepang Ancam Indonesia, Kenapa?

JAKARTA — Pemerintah Jepang meradang atas keputusan Indonesia menunjuk investor China sebagai pemenang proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Bahkan, negara ini mengancam akan mengevaluasi seluruh kerja sama ekonominya dengan Indonesia hingga mencabut investasinya di Indonesia.

Jika ancaman ini benar, Indonesia patut waspada. Sebab, menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jepang merupakan negara dengan rasio realisasi investasi paling tinggi di Indonesia, yaitu sekitar 62 persen.

Pada semester-I 2015, total realisasi investasi Jepang di Indonesia berada di peringkat ketiga sebesar 1,6 miliar dollar AS atau 11,3 persen dari total realisasi investasi penanaman modal asing (PMA).

Posisi pertama ditempati Malaysia dengan 2,6 miliar dollar AS, sementara posisi kedua ditempati investor Singapura dengan 2,3 miliar dollar AS.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Sofyan Djalil mengakui kekecewaan Pemerintah Jepang tersebut.

Pekan lalu, Sofyan telah diutus oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Jepang Taro Aso.

Sofyan telah menjelaskan kepada Pemerintah Jepang bahwa keputusan pemerintah RI soal kereta api cepat didasari oleh pertimbangan rasional.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk tetap melanjutkan kerja sama ekonomi dengan Jepang.

“Kepentingan Jepang di Indonesia lebih luas, lebih dari sekadar kereta cepat,” ujarnya, Jumat (2/10/2015).

Dalam kunjungan itu, Indonesia juga menawarkan proyek-proyek lain kepada sejumlah lembaga keuangan Jepang. Itu untuk menjelaskan bahwa Indonesia membuka kerja sama untuk pendanaan dalam proyek lainnya.

Hanya gertak sambal

Pengamat ekonomi internasional dari Center Strategic and International Studies (CSIS), Haryo Aswicahyono, menilai, ancaman Jepang hanya pernyataan emosional.

Ini tak ubahnya gertak sambal, apalagi pembatalan perjanjian bisnis tidak mudah.

Kerja sama investasi di antara kedua negara juga tak hanya antar-pemerintah, tetapi lebih banyak business to business.

“Saya pikir Indonesia harus tenang, jangan terlalu khawatir,” ungkap Haryo kepada Kontan, Minggu (4/10/2015).

Dia melihat kejadian ini hanya bagian kecil dari pasang surut hubungan dagang kedua negara. Toh pada gilirannya, kedua negara ini akan cepat selesai.

Terlebih lagi, hubungan RI-Jepang selama ini selalu mesra, terlihat dari tingginya investasi Jepang ke Indonesia.

Hubungan kerja sama yang terjalin lama tidak akan mudah diakhiri karena banyak pihak yang terlibat. Lebih dari itu, Jepang selama ini lebih untung dari hubungan dagang dengan Indonesia.

Indonesia menjadi salah satu pasar yang sangat besar untuk produk Jepang. Bahkan, lima tahun terakhir, Jepang lebih banyak menikmati surplus dari perdagangannya dengan Indonesia.

Toh, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah RI dalam membina kerja sama.

Terlepas dari alasan pemerintah untuk lebih berorientasi ke China dibanding Jepang, Haryadi berharap, Pemerintah Indonesia lebih berhati-hati dalam menawarkan proyek.

Selain itu, komunikasi yang baik sangat penting agar kekecewaan Jepang tidak berlarut dan merugikan dunia usaha.[] sumber: kompas.com

Komunitas Tikar Pandan Menghadiri Sanriku International Arts Festival

Komunitas Tikar Pandan Menghadiri Sanriku International Arts Festival

TOKYO – Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh diundang dalam Sanriku International Arts Festival 2015 yang berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2015 di Ofunato-city, sebuah kota pantai di utara Jepang.

Festival seni dan budaya tahunan ini digelar untuk mempertemukan pekerja kebudayaan dan bertukar pikiran dalam usaha mempertahankan serta mengembangkan beragam kesenian rakyat di kawasan Asia-Pasifik, terutama wilayah-wilayah rentan gempa dan tsunami.

Dalam forum tersebut, Komunitas Tikar Pandan berkolaborasi dengan Komunitas Al-Hayah, sebuah kelompok kesenian dari kampung Nusa, Lhok Nga, Aceh Besar.

Festival seni-budaya ini sengaja digelar di beberapa wilayah yang terkena musibah tsunami 2011 di Jepang sebagai ruang untuk saling berbagi ingatan dan kesadaran kolektif menghadapi bencana alam di masa mendatang.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan kreatif pencegahan dini melalui aktivitas kesenian.

Selain pertunjukan seni tradisi Jepang, Aceh, Kamboja dan peserta lain, festival yang mengambil nama tua dari satu kawasan paling utara Jepang yang hancur oleh gempa 9.0 scala-richter dan tsunami pada 9 Juli 869 ini juga beragenda diskusi, workshop seni, kuliner kampung, temu komunitas adat dan kemah seni. Kegiatan pun tersebar di beberapa sekolah, rumah tradisional, taman budaya, taman laut dan museum tsunami Ofunato-city.

komunitas tikar pandan1Komunitas Tikar Pandan akan memaparkan hal-hal yang telah dikerjakan selama 10 tahun terakhir yang berkaitan dengan kebencanaan serta pemulihan sosial melalui aktifitas seni-budaya.

Proses-proses kreatif untuk rekonstruksi pascatsunami di Aceh hingga mencetus banyak komunitas pemuda dan perempuan. Sedangkan Komunitas Al-Hayah, sebagai bagian dari gerakan di atas, akan mengisi sejumlah diskusi dan workshop serta latihan bersama seniman untuk pentas seni kolaborasi internasional.

Sanriku (tiga-riku) adalah istilah untuk tiga dari lima provinsi tua yang dimekarkan setelah perang sipil di Jepang pada 1869 yaitu; Rikuō, Rikuchū, Rikuzen.

Pantai Sanriku yang kini meliputi propinsi Aomori, Iwate dan Miyagi, diapit banyak karang raksasa dan teluk sepanjang 200 kilometer garis pantai menghadap samudera Pasifik. Selepas tsunami besar tahun 1896, pantai indah tersebut beberapa pernah dihempas ombak raya pada 2011.

Sementara Komunitas Tikar Pandan merupakan organisasi kebudayaan yang dicetus oleh beberapa mahasiswa di Banda Aceh Aceh pada 2003 lalu. Lembaga ini menjadi alternatif untuk menjawab soal-soal kebudayaan yang ada di Aceh.

Komunitas ini memiliki liga kebudayaan yang terdiri dari kedai buku, sekolah menulis, TV Eng Ong dan pustaka. Sementara Komunitas Al-Hayah adalah kumpulan remaja di sekitar wilayah tsunami Aceh 2004 yang bertujuan mengembangkan kesenian tradisi.[](bna)

Melihat Desa Unik Warisan Dunia di Jepang

Melihat Desa Unik Warisan Dunia di Jepang

Shirakawa-go dan Gokayama merupakan desa bersejarah di Jepang yang telah ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia di Jepang oleh UNESCO pada 1995 silam. Shirakawa-go berada di Prefektur Gifu sedangkan Gokayama berada di Prefektur Toyama.

Gokayama merupakan sebuah desa tradisional yang memiliki gaya bangunan rumah dengan atap seperti huruf A. Tak ubahnya seperti dua tangan yang mengatup ketika sedang berdoa. Rumah yang berkonstruksi rendah ini disebut Gasshou.

Kedua desa ini masih mempertahankan nuansa tradisionalnya dan hidup harmonis dengan alam. Shirakawa-go secara khusus telah dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata di Jepang. Namun tidak begitu dengan Gokayama.

Konon Gokayama dibangun untuk membuang orang-orang yang kalah dalam perang Genpei di tahun 1183 dari klan Heike. Namun tidak ada bukti sejarah tertulis mengenai hal itu, kecuali sisa ukiran kamon Heike di rumh-rumah tradisional yang masih ada sampai sekarang. Di jaman Edo, daerah ini merupakan lokasi pembuangan tahanan politik yang beroposisi terhadap klan penguasa.

shirakawa

Mengutip lansiran mustlovejapan Gokayama memiliki beberapa spesifikasi yang menjadi tujuan wisatawan. Di antaranya adalah Ainokura, yaitu desa yang terletak di utara Gokayama. Di sini ada 20 rumah Gasshou yang berfungsi sebagai penginapan. Ada juga dua tempat yang dibuka untuk umum sebagai museum daerah.

Desa yang ada di barat Gokayama disebut Suganuma. Di sini terdapat sembilan rumah bergaya Gasshou yang selalu dihiasi lampu neon pada bulan Februari. Di sini juga ada museum yang memanfaatkan dua rumah untuk menampilkan proses produksi bubuk mesiu rumahan. Bubuk mesiu rumahan ini dibuat dengan menggunakan ulat sutra. Di jama Edo, perekonomian Gokayama disokong dari kegiatan produksi bubuk mesiu.

Desa yang ada di tengah-tengah Gokayama disebut Kaminashi yang juga memiliki rumah-rumah Gasshou. Rumah-rumah di sini dibangun pada jaman Oda Nobunaga yang usianya sudah lebih dari 400 tahun. Salah satu rumah, Murakamike, menjadi museum yang dibuka untuk umum. Di museum ini juga kerap ditampilkan kesenian rakyat.

ainokura

Rumah bergaya Gasshou yang ada di tenggara Gokayama disebut Iwaseke Juutaku. Bangunan yang sekarang dibuka untuk umum ini berumur 300 tahunan.

Gaya bangunan yang ada di utara disebut Gasshou Zukuri, dengan atau berbentuk huruf A, bangunan ini tahan terhadap beban salju yang berat. Untuk memaksimalkan masuknya cahaya matahari atahnya diarahkan ke timur dan barat. Atau Gasshou Zukuri sangat kokoh, biasanya diperbarui setelah 20-30 tahun.

Penataan ruangan di dalam rumah Gasshou semuanya hampir sama, lantai pertama dibagi menjadi delapan ruangan. Empat ruang di antaranya difungsikan sebagai teras, pintu masuk dan dapur. Empat sisa ruang lainnya menjadi ruang tinggal. Lantai dua dan tiga untuk tempat peternakan ulat sutra.

Berkunjung ke desa ini punya aturan tersendiri, pengunjung dilarang merokok. Kecuali di tempat-tempat khusus saja. Selain itu juga dilarang masuk ke ruang atau jalan yang bukan untuk dilintasi masyarakat umum. Dilarang berkunjung terlalu pagi atau terlalu malam. Dan yang paling penting dilarang membuang sampah sembarangan.

Di musim panas, desa ini terlihat sangat indah. Rumah-rumah Ghassao yang tampak kontras dengan sawah-sawah dan pepohonan yang kehijauan di sekitarnya. Sebaliknya pada musim salju nuansa putih membalut seluruh Gokayama.[]

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

SJAMAUN Gaharu merupakan salah satu tokoh pendidikan, militer dan tokoh sosial Aceh yang ikut terlibat aktif dalam perang melawan Belanda di era kemerdekaan Indonesia. Sjamaun telah mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pembangunan keamanan nasional di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menekuni karier militernya, dia adalah seorang guru Taman Siswa di Kutaraja dan aktif dalam pembinaan pendidikan dasar di Daerah Istimewa Aceh.

Dia juga berperan penting dalam pembangunan Kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiah Ar-Raniry. Sebagai seorang tokoh sosial, Sjamaun Gaharu aktif dalam menjembatani berbagai konflik sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, baik dalam revolusi sosial pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam berbagai gejolak yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Sebagai pelaku sejarah, Sjamaun Gaharu berhasil merekam jejak bagaimana peralihan kekuasaan terjadi di Aceh pada masa Perang Dunia II. Hal tersebut kemudian diceritakannya kepada Ramadhan KH yang lantas menyusunnya dalam buku autobiografi “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal.”

Berikut kesaksian Sjamaun Gaharu mengenai kondisi Aceh di masa Perang Dunia II:

“Perang Dunia II pecah. Saya tengah sibuk mengajar putera-putera bangsa yang akan jadi generasi masa depan, ketika dunia bergejolak dan masuk ke dalam suatu konfrontasi bersenjata. Ideologi yang saling bertentangan mencapai puncak pertikaiannya. Jerman dengan fasisnya bersepakat dengan Italia dan Jepang. Mereka bergerak hampir bersamaan dan memporak-porandakan banyak negeri.

Di daratan Eropa, 10 Mei 1940, Hitler memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda, Belgia dan Perancis. Ketiga negeri tersebut takluk dan dapat direbut Jerman dalam waktu yang singkat. Malah Belanda jatuh pada hari pertama penyerangan itu. Ratu Belanda terpaksa mengungsi ke Inggris hari itu juga, pada pukul 02.30 GMT. Negerinya menjadi negara terjajah. Kejadian itu dapat saya ketahui melalui radio dan sedikit dari berita surat kabar. Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh menjadi loyo, semangat mereka terbang entah ke mana.

Sekarang mereka merasakan bagaimana derita menjadi jajahan! Tanah air mereka berada dalam cengkeraman Jerman yang terkenal kejam.

Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Dengan mendadak mereka membombardir pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii), Minggu, 7 Desember 1941. Pemboman tersebut bagaikan aba-aba. Ia jadi pemicu bagi rencana besar militer Jepang. Bala tentara Jepang bergerak sangat cepat ke Asia Selatan (Nan Yo), dan tidak ada yang dapat menghalanginya.

Menjelang Februari 1942, tentara ke XXV Jepang telah bermarkas di Singapura (Syonanto). Wilayah peperangang bertambah luas. Jepang bergerak. Merambah dataran Asia dan terus ke selatan. Pada 8 Desember 1941, pukul 02.30 GMT, pemerintah Belanda dalam pengasingan di Inggris mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang, melalui duta besarnya di Tokyo.

Pernyataan ini berarti tidak saja mencakup pemerintah Belanda di negerinya, tapi juga melibatkan pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda (Indonesia). Babak baru yang dinamakan Perang Asia Timur Raya telah dibuka. Saya tidak mengetahui secara tepat pernyataan perang itu pada saatnya, baru kemudian saya membacanya di surat kabar. Yang saya lihat dan ketahui adalah kesibukan pasukan Belanda meningkat tinggi.

Di bawah komandan mereka, Kolonel Gosenson, yang mukanya berparut bekas tetakan pedang putera Aceh, mereka mengangkut peralatan dan logistik perang mereka ke Takengon atau ke Rimba Gayo.

Bukan saya saja yang melihat, tetapi hampir semua rakyat Aceh. Putera Aceh hanya melihat dan diam sementara. Dalam diam, mereka diam-diam mengasah parangnya. Sekolah Pertanian tetap berjalan, dan saya tetap berdiri di depan kelas. Tapi mata saya tetap liar melihat kesibukan pasukan Belanda di tanah Aceh.

Seluruh perbekalan militer Belanda ditempatkan di perkebunan Teh Redelong, yang berada dalam wilayah Aceh Tengah, tidak berapa jauh dari Takengon. Saya dapat melihat seluruh kesibukan mereka karena bertempat tinggal di Bireuen. Untuk mencapai Takengon mereka harus melalui tempat saya, dengan sendirinya saya dapat memperhatikan lebih saksama.

Pasukan Belanda terus mondar mandir antara Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dengan Takengon. Kesibukan bidang pemerintahan yang dipimpin Residen Pauw juga meningkat. Kesibukan itu terjadi di awal tahun sampai awal Maret 1942. Perhatian seluruh rakyat Aceh tertuju ke mari.

Dahulu Belanda datang dari Laut, sekarang lari ke dalam rimba. Dalam pikiran, saya berharap agar di rimba Aceh pasukan Belanda akan dihancurkan pasukan musuh mereka. Bagaimana dengan rakyat Aceh? Apakah mereka berdiam diri dan hanya melihat saja musuh bebuyutan melenggang di bumi pusaka? Belanda memang menghadapi dua bahaya besar. Di samping takut terhadap Jepang yang tengah bersiap untuk menerkam Aceh, Belanda menghadapi api dalam sekam. Setiap saat putera-putera Aceh bisa bangkit melawan mereka.

Hal itu memang terjadi. Awal bulan Maret pecahlah perlawanan terhadap Belanda. Di Aceh Besar yang berpusat di Lam Nyong, Teuku Nyak Arif mengangkat senjata. Inilah perang yang berlangsung 9-10-11 Maret 1942. Teuku Nyak Arif menepati ucapannya, ketika beliau menganjurkan saya untuk mengajar di Taman Siswa. Sayang, saya sendiri tidak berperan, karena saya sibuk dengan mendidik bangsa di bidang pertanian. Rasa hormat dan segan saya terhadap Teuku Nyak Arif pun bertambah. Pejuang memang harus memegang kata-katanya!

Sebelum tentara ke XXV Jepang mendaratkan pasukan-pasukannya di Pantai Aceh (Ujung Batee, Aceh Besar, dan Kuala Bugak, Peureulak), Teuku Nyak Arif sebagai pemimpin Aceh menyampaikan ultimatum kepada penguasa Belanda di Aceh. Ia meminta agar pemerintah Hindia Belanda menyerahkan kekuasaan dan senjatanya kepada rakyat Aceh dengan jaminan keselamatan untuk mereka.

Belanda mengabaikan ultimatum itu. Mereka malah menteror rakyat Aceh dengan bermacam-macam provokasi. Pimpinan tentara Belanda mengeluarkan surat perintah penangkapan Teuku Nyak Arif dan tokoh-tokoh lain, hidup atau mati. Keadaan demikian membangkitkan amarah rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda. Militer Belanda waktu itu sedang panik dan ketakutan menghadapi bahaya Jepang, mereka akhirnya tergesa lari terbirit-birit. Ketika kemudian bala tentara Jepang mendarat di Aceh, Aceh telah bersih dari pengaruh kekuasaan Belanda.

Salah satu contoh dari teror Belanda di masa akhir keberadaannya di Bumi Rencong adalah kisah ini. Pemberontakan meletus setelah Belanda mengabaikan ultimatum Teuku Nyak Arif. Tetapi Residen Belanda sempat juga mengundang beberapa Uleebalang untuk mengadakan rapat kilat di Kutaraja. Teuku Nyak Arif sudah berpesan agar rapat itu jangan dihadiri. Namun pesan itu tidak semuanya sampai ke alamat.

Waktu rapat sedang berlangsung, tiba-tiba muncul Kolonel Gosenson, sang komandan tentara Belanda yang terkenal kejam di Aceh, diiringi Mayor Palmer van den Broek. Sambil mengacung-acungkan sebutir peluru di tangannya, ia mengatakan kepada yang hadir bahwa peluru itu pasti berasal dari Teuku Nyak Arif yang sudah berani mengangkat senjata melawan Belanda.

Kalau Nyak Arif bisa saya tangkap, kata Kolonel Gosenson, saya akan hisap darahnya, seraya memperagakan bagaimana caranya menghisap darah. Kemudian dengan lantang Gosenson menambahkan, “Teuku-Teuku yang hadir di sini semua saya tangkap dan Teuku Nyak Arif akan saya tangkap, hidup atau mati”.

Gosenson segera memerintahkan pasukan Marsose/KNIL untuk menyerang rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong yang lebih kurang 6 kilometer jaraknya dari Kutaraja. Ketika terjadi penyerangan itu kebetulan Teuku Nyak Arif tidak berada di rumah, karena sedang memimpin rapat perlawanan terhadap Belanda di Lubok.

Mendengar rumahnya diserbu dan ditembak secara membabi-buta, Teuku Nyak Arif nekad berangkat pulang karena menyangka keluarganya sudah ditembak atau ditangkap Belanda. Beberapa orang pengikutnya mencoba menahan Teuku Nyak Arif karena khawatir Belanda akan menyergapnya. Tetapi Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya bukan laki-laki kalau saya tidak pulang sekarang ini juga”.

Setiba di Lam Nyong ternyata tentara Belanda yang menyerbu dan mengobrak-abrik rumah Teuku Nyak Arif baru saja beberapa menit kembali ke Kutaraja. dengan membawa beberapa orang yang dapat mereka tawan, di antaranya Teuku Hanafiah Tungkop (kemenakan Teuku Nyak Arif), Ismail Penghulu Akub, M. Daud dan lain-lain. Keluarga Teuku Nyak Arif ternyata dapat menyelamatkan
diri karena kebetulan sedang berada agak jauh di belakang rumah, lagi mempersiapkan dapur umum.

Hanya beberapa jam setelah peristiwa itu sudah berduyun-duyun rakyat berkumpul di Lam Nyong, dengan rencana akan melakukan penyerangan ke Kutaraja selepas Isya. Pada waktu barisan rakyat mulai bergerak dan baru sekitar limaratus meter jaraknya dari rumah Teuku Nyak Arif, mereka melihat di seberang jembatan Lam Nyong ada beberapa kendaraan lapis baja milik Belanda. Beberapa orang serdadu Belanda tampak sedang sibuk berusaha menyingkirkan batang-batang kayu yang sudah ditumbangkan rakyat di tengah jalan.

Barisan rakyat yang dipimpin Waki Harun itu langsung menghadang dan menghujani Belanda dengan tembakan-tembakan gencar. Maka pertempuran seru segera berkecamuk di sana. Pasukan Belanda tidak dapat menembus barisan rakyat, sehingga mereka terpaksa mundur ke pangkalannya di Kutaraja. Dalam pertempuran ini telah jatuh korban di kedua belah pihak. Akhirnya ribuan rakyat dari segenap penjuru menyerbu ke Kutaraja, sehingga pasukan Belanda pun lari terbirit-birit ke Aceh Tengah.”[]

Foto: Ilustrasi perang dunia ke II. @dok

5 Alasan Mengapa Anda Perlu Berwisata ke Kobe

5 Alasan Mengapa Anda Perlu Berwisata ke Kobe

Kobe adalah ibu kota Provinsi Hyogo yang terletak kurang lebih 30 kilometer di sisi barat Osaka. Dari Osaka, Kobe bisa dijangkau dalam waktu sejam menggunakan kereta api. Reputasi Kobe sebagai kota pelabuhan internasional membuat kota terbesar keenam di Jepang ini sempat dihuni banyak ekspatriat di masa silam. Pada ke-13, posisinya yang strategis membuat Kobe didaulat sebagai kota pelabuhan terpenting di Jepang yang memfasilitasi lalu lintas kapal dari Jepang dan Tiongkok.

Namun sejarahnya tak selalu mulus. Pada 1995, kota ini digoyang gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Ritcher yang nyaris membuat seluruh kota hancur dan menewaskan lebih dari 6.000 penduduknya. Usai bencana, Kobe bangkit. Kotanya dibangun, lengkap dengan struktur bangunan tahan gempa. Kini, kota yang memiliki populasi kurang dari dua juta jiwa itu kini menjadi salah satu kota urban yang menarik di Negeri Matahari Terbit. Kami hadirkan lima alasan untuk mengunjunginya:

Kitano-cho
Seperti kawasan Ijen di Malang dan Kaliurang di Semarang, Kitano-cho dulunya adalah pusat pemukiman kaum ekspatriat di Kobe. Di distrik yang berlatar belakang Pegunungan Rokko ini banyak sekali bersemayam rumah-rumah bergaya barat yang dikerek menggunakan bahan-bahan material kayu dan batu bata. Sepeninggal empunya, rumah-rumah tersebut diserahkan pada pemerintah kota dan kini disulap menjadi museum atau tempat atraksi wisata. Mayoritas obyek wisata ini memungut biaya masuk antara 550 hingga 750 yen.

Tur di Kitano-cho bisa dimulai dari Kobe Mysterious Consulate of Trick Art. Rumah penduduk yang disulap menjadi museum trick art ini menawarkan beragam pernak-pernik barang ilusi, seperti lukisan tiga dimensi hingga ruang permainan visual. Destinasi selanjutnya adalah England House yang terletak di seberang museum. Di sini pengunjung bisa melihat wujud asli rumah yang sempat didiami oleh diplomat asal Inggris. Di dalamnya juga terdapat barang-barang khas bangsawan Inggris seperti peralatan high tea hingga kostum tokoh fiktif, Sherlock Holmes. Masih banyak lagi rumah bergaya unik yang layak disambangi di sini, di antaranya Uroko House dan Uroko Museum serta Kazamidori no Yakata, satu-satunya rumah yang terbuat dari bata merah di distrik ini. Usianya lebih dari satu abad.

Kobe Meriken Park
Sebagai kota pelabuhan, salah satu sentra keramaian di Kobe berpusat di Harborland & Meriken Park. Di sini turis bisa menikmati beragam hidangan dari berbagai macam restoran yang bersemayam di tepi pantai. Tersedia juga opsi menaiki Port Tower. Dari menara setinggi 108 meter ini, turis bisa melihat lanskap 360 derajat kota Kobe.

Kobe adalah kota kelahiran industri alat berat Kawasaki. Museumnya bersemayam di kompleks ini. Kawasaki Good Times World menawarkan koleksi alat-alat berat produksi Kawasaki mulai dari kereta api, kapal, hingga alat transportasi. Salah satu daya tariknya adalah koleksi sepeda motor merek Kawasaki dari zaman Perang Dunia II hingga yang terbaru.

Tor Road
Bila Singapura punya Orchard Road, maka Kobe punya Tor Road. Jalan yang dulunya bernama Sannomiya Suji Dori merupakan sentra belanja di Kobe dengan ratusan toko yang siap menyambut tamu. Tak seperti Orchard Road yang dipenuhi dengan butik-butik bermerek internasional, Tor Road sepertinya hendak fokus pada butik-butik lokal dengan barang-barang yang memikat. Tak hanya butiknya yang wajib dikunjungi, Tor Road juga terkenal akan kafe dan tempat makan yang sudah berdiri sejak dulu kala. Salah satunya adalah Tor Road Deli yang sudah beroperasi sejak 1949. Tempat makan mungil ini menyediakan roti lapis terenak di Kobe.

Daging sapi Kobe
Tak lengkap bila mengunjungi Kobe tanpa menyantap daging sapi super lembut ini. Daging sapi Kobe adalah salah satu komoditas yang membuat nama kota ini cukup terdengar di kancah internasional. Berbeda dari daging sapi di tempat lain, sapi-sapi Kobe diternakkan dengan cara-cara yang spesial, termasuk dipijat dan diberikan minum bir. Berkat tekstur daging dan lemaknya, daging sapi Kobe terkenal lembut dan lumer di mulut. Ada banyak restoran yang menyajikan hidangan lezat ini, salah satu yang terkenal adalah Wakkoqu dengan dua cabang tersebar di kota. Restoran ini menawarkan beragam pilihan hidangan set menu yang dimasak langsung di depan pengunjung. Menunya dibanderol mulai 3.200 yen per orang.

Luminarie
Secara bebas, Luminarie bisa diartikan sebagai “festival cahaya.” Ajang anual ini digelar setiap Desember, tepatnya dua pekan sebelum libur Natal. Sejarahnya berawal pada Desember 1995 untuk memperingati sekaligus menghibur para korban Gempa Bumi Great Hanshin. Di edisi perdananya, festival ini menampilkan 200.000 lampu yang dilukis menggunakan tangan sumbangan pemerintah Italia. Instalasinya pun ditangani langsung oleh Valerio Festi, CEO Studio Festi.

Seiring dengan makin bertambahnya turis yang datang untuk melihat langsung Luminarie, pemerintah Kobe membuatnya menjadi acara permanen. Tiap tahunnya, selama dua pekan, kurang lebih tiga juta turis mendatangi Kobe untuk melihat instalasi seni lampu ini. Namun jangan bayangkan suasananya kaos. Luminarie benar-benar dikelola secara profesional. Ribuan pengunjung diwajibkan untuk antre dari titik pemberangkatan sebelum merangsek ke pusat festival. Jalan-jalan sepanjang rute dipasangi pagar pembatas. Ratusan polisi berjaga-jaga. Jangan harap pengunjung bisa berbuat curang memotong jalan atau menyelinap langsung ke dekat titik utama. Meskipun jumlahnya pengunjungnya terus menurun setiap tahun, Luminarie adalah salah satu alasan utama mengunjungi Kobe. | sumber : destinasian.co.id

Jepang Terapkan Kebiasaan Tidur Siang Rasulullah

Jepang Terapkan Kebiasaan Tidur Siang Rasulullah

Kebiasaan tidur siang dapat meningkatkan konsentrasi dan penghilang kantuk. Ternyata, kebiasaan ini menjadi rutinitas semasa Rasullullah Muhammad SAW.

“Bahkan ketika zaman penjajahan Hindia Belanda kebiasaan ini telah di lakukan. Saat ini, banyak negara yang mewajibkan pekerjaannya melakukan kebiasaan itu salah satunya Jepang,”kata Pimpinan Lembaga Dahwah Kratif iHaqi, Ustaz Erick Yusuf saat dihubungi ROL, Ahad (10/5).

Pria yang akrab disapa Kang Erick ini menjelaskan, di dalam Islam kebiasaan tidur siang atau Qailullah sudah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ia menjelaskan, pola hidup Rasullah patut dicontoh sebagai sauri tauladan umat Islam. Pola hidup itu telah dibuktikan oleh banyak ilmuan kesehatan pada fungsi-fungsi orang tubuh manusia.

Kebiasaan tidur siang merujuk pada pola kehidupan Rasul. Dijelaskan dari berbagai hadits, Nabi Muhammad SAW sudah lebih awal tidur setelah menunaikan shalat Isya. Beliau kembali bangun ketika dini hari untuk menulaikan shalat Qiamulail (Tahajud) dilanjut dengan menunaikan shalat subuh.

Selepas itu, beliau tidak tidur melainkan berdzikir hingga matahari mulai menunjukan cahayanya. “Saat itu beliau menunaikan shalat Dhuha untuk mengawali aktifitasnya,”katanya.

Ada kebiasaan Rasul dan para sahabatnya usai menunaikan shalat Dzuhur.  Mereka beristirahat dan tidur dalam waktu singkat di siang atau Qailullah. “Ternyata fungsi ini adalah untuk melepas kantuk dan meningkatkan konsentrasi,” ujarnya.

Kang Erick mengatakan, tidur Qailullah di zaman Rasul adalah sunnah-nya yang patut dicontoh. Hanya saja, kata dia, waktu tidur hanya berkisah 10 sampai 15 menit. “Jadi bukan tidur seharian ya. Itu salah,” ucapnya.

Tidur Qailullah, kata dia, selain diterapkan semasa penjajahan Hindia-Belanda dan negara-negara di duna. Hal serupa dapat ditemui Di Indonesia. “Kebiasaan itu ada di masyarakat daerah Kupang,”kata Kang Erick. | sumber : republika

Nyak Arif dan Ingatan yang Terpahat

Nyak Arif dan Ingatan yang Terpahat

“BAGAIMANAPUN jasa Teuku Nyak Arif dalam perjuangan kemerdekaan tidak dapat diremehkan. Bahwa ia diungsikan ke Takengon dan meninggal di sana tidak boleh dilihat dari prasangka bahwa jasanya tidak ada lagi. Kita banyak membaca riwayat-riwayat revolusi, bahkan revolusi Perancis sendiri, betapa orang berada paling depan menggalakkan revolusi telah dinilai sebaliknya. Memang sejarah bisa membiarkan tertutup dengan riwayat-riwayat yang benar faktanya. Tetapi kalau itu masih lapang waktu kenapa harus membiarkan seseorang diselimuti kabut-kabut yang melindungi kebenaran.”

Demikian Muhammad Said menggambarkan sosok Teuku Nyak Arif dalam salah satu karyanya berjudul Aceh Sepanjang Abad.

Teuku Nyak Arif merupakan salah satu bangsawan Aceh. Ia dilahirikan di Ulee Lheue, Banda Aceh pada 17 Juli 1899. Ia merupakan anak Teuku Sri Imum Nyak Banta, seorang Panglima Sagi XXVI Mukim. Ibunya adalah Cut Nyak Rayeuk, bangsawan dari Ulee Lheue, Banda Aceh.

Teuku Nyak Arif merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia juga memiliki lima saudara tiri dari dua ibu yang berbeda.

Nyak Arif kecil mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat di Kuta Raja. Ia kemudian meneruskan pendidikannya ke Sekolah Guru/Raja (Kweekschool) di Bukit Tinggi dengan mengambil jurusan Pamong Praja (pemerintahan) pada tahun 1908. Sosok Nyak Arif begitu terkenal di sekolah ini dan menjadi teladan yang baik bagi seluruh siswa dari berbagai Pulau Sumatera. Ia dikenal cekatan dan memiliki tutur kata yang indah serta ringkas tapi tegas.

Selain Nyak Arif, ada beberapa putra Aceh lainnya yang mengenyam pendidikan di Kweekschool. Mereka adalah Mahmud, Said Abdul Aziz, Raja Ibrahim, Rahman, Alibasya, Rayeuk, dan Idris. Semuanya bergelar teuku seperti halnya Nyak Arif.

Usai mengenyam pendidikan di Kweekschool, Nyak Arif kemudian melanjutkan pendidikannya ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Banten pada 1912. Selama di OSVIA, pengetahuan politik Nyak Arif semakin berkembang.

Nyak Arif berhasil menyelesaikan sekolahnya di OSVIA pada 1915. Ia lantas kembali ke Aceh setelah sekian lama berpetualang dan menuntut ilmu di negeri orang. Di Aceh, Nyak Arif bekerja sebagai pegawai Belanda urusan distribusi makanan beras rakyat. Ia juga mengikuti kegiatan politik dan masuk National Indische Partij (NIP) pimpinan Douwes Dekker pada 1918.

Nyak Arif kemudian muncul sebagai orang yang berpengaruh di kalangan masyarakat. Kecakapannya sebagai lulusan OSVIA membuatnya menonjol. Apalagi Nyak Arif dikenal berani menghadapi pembesar-pembesar Belanda.

Atas pertimbangan tersebut, Residen Aceh kemudian mengusulkan agar Nyak Arif diangkat sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat pada 16 Mei 1927. Pun begitu, pekerjaannya sebagai Panglima Sagi XXVII Mukim tetap dijalankannya dengan baik.

Nyak Arif lebih banyak tinggal di Aceh daripada di Jakarta selama menjabat sebagai anggota Volksraad. Di dalam sidang Dewan Rakyat tersebut, Nyak Arif juga menunjukkan kecakapan dan keberaniannya terutama dalam mengkritisi kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Ia juga dikenal tangkas saat menghadapi anggota Volksraad dari Belanda yang dikenal reaksioner.

Sikap tersebut membuat nama Nyak Arif kerap muncul dalam laporan-laporan perdebatan Volksraad di dalam surat kabar. Ia dipuji sebagai anak Aceh yang berani dan lurus seperti ditulis dalam laporan harian Bintang Timur. Ia juga mampu menandingi orang-orang Belanda yang terkenal piawai berolah kata di Volksraad seperti Mr. Drs. Fruin, Lighart dan Zentgraaf, wartawan ulung yang amat terkenal pada zamannya itu.

Keanggotaan Nyak Arif di Volksraad berakhir pada 1931. Ia kemudian kembali ke pekerjaannya semula sekaligus giat dalam perjuangan rakyat di Aceh. Berbagai langkah dan tindakannya senantiasa membela nasib rakyat kecil. Dia lantas menjelma menjadi uleebalang yang amat disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Teuku Nyak Arif juga salah satu uleebalang yang prihatin dengan jalinan komunikasi antara Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan Jepang. Saat itu, Nyak Arif menganggap Jepang sedang memanfaatkan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh. Ia menilai kontak dengan Nippon tersebut merupakan sebuah langkah mundur bagi pergerakan nasional.

Saat itu kondisi politik Aceh semakin memanas. Pada 8 Maret 1942, Residen Aceh mengadakan pertemuan politik dengan Tuanku Mahmud dan Teuku Nyak Arif. Dalam pertemuan tersebut, Nyak Arif meminta agar pemerintah menyerahkan kepadanya jabatan residen. Namun permintaan ini ditolak.

Residen Aceh kemudian kembali mengadakan pertemuan lanjutan pada 10-11 Maret 1942. Saat itu, sembilan pemimpin Aceh diundang. Delapan diantaranya memenuhi undangan tersebut kecuali Nyak Arif. Kedelapan tokoh Aceh ini ditangkap termasuk Cut Hasan Meuraksa, Hanafiah, dan Raja Abdullah.

Belanda di bawah pimpinan Kolonel Gozenson sebagai panglima militer di Aceh kemudian menyerbu rumah Nyak Arif di Lamnyong. Namun langkah Belanda ini gagal lantaran Nyak Arif dan keluarga sudah ke luar.

Jepang berhasil mendarat di Sabang atas bantuan PUSA pada 12 Maret 1942. Petinggi Belanda, termasuk Kolonel Gozenson menyerah kepada Nippon. Sementara itu, rakyat telah membentuk Komite Pemerintahan daerah Aceh dengan Teuku Nyak Arif sebagai ketuanya.

Jepang mengatur pemerintahan di Indonesia dengan pembagian yang berbeda dengan Belanda. Salah satunya Sumatera dibagi menjadi sembilan keresidenan, semuanya dikepalai oleh residen Jepang (Cookang). Di Aceh, Jepang menggunakan kaum uleebalang dalam pemerintahan. Hal ini membuat PUSA kecewa karena merasa pihak mereka lebih berjasa kepada Jepang.

Teuku Nyak Arif akhirnya menempuh kerjasama dengan Jepang. Ia kemudian diangkat menjadi penasehat pemerintahan militer Jepang. Di sisi lain, Nyak Arif sebenarnya sama sekali tidak mempercayai Jepang. Ia menganggap Jepang adalah bentuk imperialisme lain dan tidak jauh berbeda dengan Belanda.

Ta let bui, ta peu tamong asee (kita usir babi, datang lah anjing),” ujar Nyak Arif. Nyak Arif menilai Belanda dan Jepang sama-sama busuk.

Nyak Arif kerap berbenturan dengan sikap politik pejabat sipil dan militer Jepang. Namun Jepang mau tidak mau harus mengakui Nyak Arif adalah salah satu pemimpin yang memiliki pengaruh besar bagi rakyat Aceh. Akhirnya Jepang memilih Nyak Arif sebagai Wakil Ketua Sumatera Chuo Sangi In atau Dewan Perwakilan Rakyat Seluruh Sumatera pada 1944. Lembaga ini dipimpin oleh Mohd. Syafei. Saat itu, Nyak Arif tetap bersikukuh bahwa kepercayaan Jepang tersebut harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.

Singkat kata, Jepang kalah dalam perang dunia kedua melawan sekutu. Kekalahan negara matahari terbit ini disampaikan oleh Chokang Aceh, S Ino kepada pemimpin-pemimpin-pemimpin Aceh. Hadir di antaranya Teuku Nyak Arif, Panglima Polim dan Teungku Muhammad Daud Beureueh.

“Jepang telah berdamai dengan Sekutu,” ujar S Ino.

Sejak kekalahan Jepang, teriakan kemerdekaan semakin nyaring terdengar. Proklamasi negara Indonesia juga sudah dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohd. Hatta di Jakarta. Di Bukit Tinggi, rakyat mengadakan pertemuan dan membentuk Komite Nasional Indonesia atau KNI pada 28 Agustus 1945. Teuku Nyak Arif terpilih menjadi ketua dan kemudian diangkat menjadi Residen Aceh oleh Presiden Indonesia pada 3 Oktober 1945.

Masa transisi kekuasaan ini sangat berat. Nyak Arif memilih untuk fokus memperkuat keamanan dan militer. Ia kerap keliling untuk mengontrol tentara dan petugas keamanan sehingga tugas sipil lebih dibebankan kepada wakil residen. Atas jasanya tersebut, ia kemudian dianugerahi Jenderal Mayor Tituler oleh pemerintah Indonesia pada 17 Januari 1946.

Namun setelah kemerdekaan Aceh kembali bergolak. Benturan kepentingan antara ulama dan umara tidak bisa dihindari sehingga rencana melengserkan Residen Aceh Teuku Nyak Arif pun terjadi.

+++

4 MAI 1946. Angka ini tertulis di monumen makam Teuku Nyak Arif yang terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lamnyong, Banda Aceh. Ada dua makam di sana. Satu adalah milik Teuku Nyak Arif dan lainnya adalah milik Teuku Nyak Banta. Angka yang tertera di monumen makam ini adalah pengingat hari meninggalnya Teuku Nyak Arif, seorang pahlawan nasional yang berasal dari Aceh.

Enam puluh sembilan tahun lalu menjadi hari kelabu bagi Aceh. Saat itu, perang antara uleebalang dan ulama yang dikenal sebagai peristiwa Cumbok meletus. Perebutan kekuasaan terjadi di pucuk pimpinan rakyat. Teuku Nyak Arif yang menjabat sebagai Residen Aceh terkena imbas. Ia dianggap sebagai kaum uleebalang yang menentang kekuasaan ulama. Jabatannya dinonaktifkan dan kemudian diasingkan ke Takengon.

Kedudukan Teuku Nyak Arif kemudian diambil alih oleh Husin Al Mujahid. Sementara posisi Syamaun Gaharu yang memimpin Tentara Pelajar Rakyat diganti oleh Husin Yusuf.

Perebutan kekuasaan ini tidak ditanggapi oleh Teuku Nyak Arif yang sebenarnya memiliki pasukan militer. Ia menyerahkan jabatannya secara sukarela kepada kelompok ulama dan menerima penahanannya dengan lapang dada.

Nyak Arif ditangkap dengan secara terhormat oleh lawan politiknya di Aceh. Saat itu, kondisi kesehatan Nyak Arif memburuk dan menjadi alasan bagi Laskar Mujahidin untuk membawanya dari rumah. Alasannya, Nyak Arif ingin diobati tapi keluarga tidak boleh ikut serta. Setelah sebulan kemudian barulah keluarga diperkenankan mengunjungi kediaman Teuku Nyak Arif di Takengon.

Selama di Takengon, Teuku Nyak Arif kerap dikunjungi tokoh dan rakyat Aceh. Salah satu di antaranya adalah Teungku Muhammad Daud Beureueh yang merupakan teman akrabnya tapi berbeda pandang politik.

Sebelum meninggal dunia, Teuku Nyak Arif banyak menitipkan pesan kepada istri dan keluarganya. Pesan dan wasiat Nyak Arif pun didengar betul oleh keluarganya dan berjanji untuk segera menepatinya.

“Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya,” pesan Nyak Arif yang akhirnya meninggal dunia di Takengon pada 4 Mei 1946.

Setelah Teuku Nyak Arif meninggal dunia, banyak tokoh dan pemimpin serta rakyat yang melayat. Jenazah Teuku Nyak Arif yang berada di Takengon, dibawa ke Bireuen kemudian dilanjutkan ke Sigli. Dari Sigli kemudian dibawa dengan kereta api menuju Banda Aceh.

Jenazah Teuku Nyak Arif dimakamkan di desa Lamreung, yang tidak jauh dari Lamnyong. Makam Teuku Nyak Arif berdampingan dengan makam ayahnya sendiri, Teuku Nyak Banta. Mengingat besarnya jasa-jasa Teuku Nyak Arif, baik untuk Aceh maupun Indonesia, Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 071 /TK/Tahun 1974 tanggal 9 Nopember 1974.

Selamat jalan Mayor Jenderal Teuku Nyak Arif. Ingatan kami tentang sejarah-mu takkan pernah hilang ditelan oleh masa. Doa kami turut selalu menyertai namamu.[]

Penulis adalah Chaerol Rizal, mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan Koordinator Wilayah Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI) Wilayah VIII Aceh dan Sumatera Utara.

Sumber foto: Panoramio.com

 

Jepang Diguncang Gempa 5,7 Skala Richter

Jepang Diguncang Gempa 5,7 Skala Richter

TOKYO – Gempa berkekuatan 5,7 skala Richter menghantam Jepang malam tadi waktu setempat. Gempa tersebut terjadi di Pulau Hachijo-jima yang berjarak 168 kilometer dari Jepang dan disebut berpotensi tsunami.

Dilansir dari surat kabar Russian Today, Sabtu (2/5), berdasarkan data dari USGS, sebelumnya dikatakan gempa tersebut awalnya berkekuatan 6,1 skala Richter.

Hachijo-jima merupakan sebuah pulau vulkanik di Jepang yang terletak di Laut Filipina dan memiliki penduduk sebanyak 8.000 jiwa.

Pada April lalu, daerah barat daya Jepang juga mendapat peringatan waspada tsunami lantaran gempa berkekuatan 6,8 skala Richter menghantam bawah laut teluk Taiwan. Disebutkan, gelombang setinggi satu meter akan menghantam daerah barat daya Jepang seperti Miyakojima dan Yaeyama.

Gempa itu pula yang menghantam Nepal dan memporak-porandakan Ibu Kota Khatmandu, Nepal, hingga menewaskan lebih dari 5.000 jiwa.[] sumber: merdeka.com

Gempa 6,8 SR di Taiwan, Peringatan Tsunami di Jepang

Gempa 6,8 SR di Taiwan, Peringatan Tsunami di Jepang

Jakarta – Gempa berkekuatan besar dilaporkan mengguncang Taiwan dan pulau-pulau kecil di ujung selatan Jepang pada Senin, 20 Senin 2015. Situs pemantauan gempa resmi mengatakan gempa tersebut memicu peringatan tsunami setinggi 1 meter di pulau-pulau sekitar Okinawa.

Seperti yang dilansir Reuters pada 20 April 2015, gempa berkekuatan 6,8 SR telah menghantam wilayah dekat Okinawa pada pukul 10.43 waktu setempat. Biro Cuaca Taiwan mengatakan pusat gempa berada di 75 kilometer (45 mil) di lepas pantai timur Taiwan dengan kedalaman sekitar 17 kilometer (10 mil).

Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tsunami setinggi 1 meter di pulau-pulau kecil yang merupakan bagian dari Okinawa, termasuk Miyakojima, yang populer sebagai lokasi favorit turis untuk menyelam. Tapi peringatan itu dibatalkan lebih dari satu jam kemudian.

Belum ada laporan tentang kerusakan atau korban di kedua negara yang dilanda gempa itu. Hanya, gedung perkantoran di ibu kota Taiwan, Taipei, dilaporkan sempat berguncang akibat gempa.

Seusai gempa, anak-anak sekolah di beberapa daerah dataran rendah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan aman. Tayangan televisi dari sejumlah daerah menunjukkan laut yang tenang. | sumber: tempo.co

Timnas Indonesia Menang Tipis Lawan Jepang

Timnas Indonesia Menang Tipis Lawan Jepang

BOGOR – Timnas Indonesia U-16 meraih kemenangan tipis 2-1 atas Jepang U-16 di Lapangan Padepokan Voli, Sentul, Bogor, Rabu (15/4/2015). Di laga tersebut, tim besutan Fakhri Husaini tampil cemerlang.

Garuda Muda (julukan Timnas U-16) membuka angka ketika pertandingan baru berjalan selama 18 menit. Adalah sepakan Egy Maulana yang membuat skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Indonesia U-16.

Terkejut dengan gol Indonesia U-16, Samurai Biru (julukan Jepang) mencetak gol penyeimbang pada menit ke-38. Skor imbang 1-1 menutup pertandingan di babak pertama.

Indonesia U-16 mengunci kemenangan pada menit ke-73. Egy Maulana kembali menjebol gawang Jepang dan membuat skor berubah menjadi 2-1 untuk kemenangan Garuda Muda.

Uji coba melawan Jepang U-16 merupakan bagian dari rencana Garuda Muda yang bakal berpartisipasi di Piala AFF U-16 pada 27 Juli hingga 7 Agustus mendatang di Solo, Jawa Tengah.[] sumber: Liputan6.com