Tag: jembatan

Jembatan Menghubungkan Pirak Timu-Lhoksukon Rusak

Jembatan Menghubungkan Pirak Timu-Lhoksukon Rusak

LHOKSEUMAWE – Jembatan gantung menghubungkan Desa Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu dengan Desa Asan Arakeumudi, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, rusak parah. Pasalnya, kayu penyangga lantai jembatan tersebut sudah patah.

“Jembatan itu jalur penghubung menuju kota Lhoksukon, Ibukota Aceh Utara. Dari Asan Krueng Kreh menuju Lhoksukon jarak tempuh hanya satu kilometer, maka masyarakat umumnya melintasi jembatan tersebut,” kata Abdul Majid, Ketua Pemuda Asan Krueng Kreh kepada portalsatu.com, Rabu, 7 Oktober 2015.

Abdul Majid merasa kecewa terhadap Pemerintah Aceh Utara lantaran terkesan mengabaikan jembatan rusak itu. Jika tidak segera diperbaiki, kata dia, kondisi tersebut membahayakan masyarakat terutama anak sekolah yang melintasi jembatan itu.

“Sejak perdamaian (Aceh) sampai sekarang masyarakat Pirak Timu khususnya Desa Asan Krueng Kreh, Beracan Rata, Trieng Krueng Kreh, Gelumpang, dan Rengkam, harus waspada dengan kondisi jembatan gantung tersebut. Apalagi saat musim banjir akan menimbulkan kendala yang besar bagi masyarakat,” ujar Abdul Majid.[]

Foto: Jembatan gantung menghubungkan Desa Asan Krueng Kreh-Asan Arakeumudi.

 

TNI Bantu Selesaikan Kontruksi Jembatan Aceh Jaya

TNI Bantu Selesaikan Kontruksi Jembatan Aceh Jaya

MEULABOH – Masyarakat dibantu personel Zeni Tempur (Zipur) TNI hingga Minggu siang masih menyelesaikan kontruksi jembatan bailey untuk menghubungkan kembali jalan lintas barat selatan Aceh yang terputus akibat dihantam banjir.

Suhelmi (48), tokoh masyarakat setempat di Aceh Jaya, Minggu, 19 Juli 2015, mengatakan bahwa kontruksi jembatan baja tersebut diperkirakan tuntas dikerjakan oleh tim pemerintah dibantu TNI dan warga dalam dua hingga tiga hari mendatang.

“Kontruksi ini diperkirakan tuntas hingga dua hari ke depan karena kita semua di sini bergotong royong,” katanya kepada wartawan.

Jalur transportasi darat menghubungkan Calang (Aceh Jaya) ke Meulaboh (Aceh Barat) dan sebaliknya untuk lintas barat selatan Aceh sempat terputus total akibat ambruknya jembatan dan badan jalan di kawasan Desa Mon Mata, Kecamatan Krung Sabee, Aceh Jaya pada Selasa (15/7) malam.

Akibat terputus jalur transportasi darat tersebut ribuan pemudik Aceh terjebak hingga Rabu (16/7) malam terpaksa menginap di masjid dan rumah penduduk setempat, pemerintah segera membangun jalan darurat meskipun harus antrian panjang kendaraan sekira dua hingga tiga kilometer.

Bina Marga bersama Dinas Pekerjaan Umum Aceh dibantu aparat TNI Kodam Iskandar Muda (IM) langsung membangun jalan darurat, termasuk jembatan konstruksi baja bailey untuk memperlancar kembali jalur transportasi darat warga untuk mudik dan balik Idul Fitri 1436 Hijriah.

“Untuk saat ini jalan lintas utama pantai barat selatan khususnya di Desa Mon Mata tetap dapat dilintasi dengan mengunakan jalur alternatif dengan sistem buka tutup yang diatur oleh masyarakat,” ujarnya.

Pembuatan jembatan bailey sepanjang sekira 12 meter itu dipimpin Mayor Czi Mujianto dari Zipur Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh.

Selama pengerjaan kontruksi jembatan ini, penduduk yang mengemudikan kendaraan diarahkan melalui jalur alternatif yang dibangun masyarakat di kawasan lereng gunung sepanjang 1,2 kilometer. Jalur tersebut tidak ada penerang jalan dan badan jalan sempit sehingga diberlakukan sistem buka tutup.

“Kalau tidak kami bantu arahkan jalan dan sistem buka tutup seperti ini, maka yang kendaraan yang melintas akan terus terjebak macet lama dan panjang. Ini masih di suasana Lebaran kondisi kendaraan roda dua dan roda empat sangat padat,” kata Bakri (40), warga Mon Mata yang ikut mengatur lalu lintas di kawasan itu.

Sejauh ini tercatat ada lima unit rumah yang rusak dan hilang dihantam banjir meluapnya Krueng Teunom akibat tingginya curah hujan menjelang Idul Fitri 1436 Hijriah di provinsi ujung barat Indonesia itu.[] sumber: antaranews.com

Foto: Warga melintasi jembatan bailey yang sedang dikerjakan. Hal semacam ini juga terjadi Desa Mon Mata, Kecamatan Krung Sabee, Aceh Jaya. @antaranews.com

Tiga Jembatan “Pengurangan Kemiskinan” di Sawang belum Berfungsi

Tiga Jembatan “Pengurangan Kemiskinan” di Sawang belum Berfungsi

LHOKSEUMAWE – Tiga jembatan beton di Dusun Alue Meuh dan Paya Rubek, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, yang dibangun tahun 2014 hingga kini belum berfungsi. Pasalnya lantai jembatan yang dibangun lebih tinggi dari badan jalan, tidak dilakukan penimbunan agar dapat dilintasi kendaraan.

Informasi diperoleh portalsatu.com, Sabtu, 13 Juni 2015, menyebutkan, tiga jembatan itu dibangun dengan dana APBN tahun 2014 melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI). Di Aceh Utara, hanya dua kecamatan yang memeroleh program MP3KI tersebut, yakni Kecamatan Sawang dan Baktya.

Kepala Dusun Alue Meuh, Faisal mengatakan sampai saat ini pengguna kenderaan terpaksa melintas jembatan darurat di sisi jembatan beton tersebut. “Kondisi jembatan darurat yang terbuat dari pohon kelapa sudah mengkhawatirkan, kini rawan ambruk. Masyarakat berharap jembatan beton yang sudah dibangun dengan dana MP3KI segera ditimbun agar dapat berfungsi sebagai jalur transportasi,” ujarnya.

Ia menyebut tiga jembatan “pengurangan kemiskinan” itu berada di lintasan jalan tembus Sawang, Aceh Utara ke Bireuen. Kata dia, jalan tersebut dibuka sekitar tahun 2008. “Jalan itu sebagai jalur alternatif yang selama ini sering dilintasi masyarakat untuk pergi ke kebun dan juga dilewati anak-anak sekolah,” kata Faisal.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi B DPRK Aceh Utara Fauzi alias Cempala yang berasal dari Kecamatan Sawang, mengaku sudah menerima laporan masyarakat Dusun Alue Meuh terkait belum berfungsinya tiga jembatan tersebut. “Masyarakat berharap pihak pelaksana segera melakukan penimbunan agar jembatan itu dapat dilintasi kendaraan. Sebab jalur itu merupakan urat nadi perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Sawang Sufyan mengatakan sudah berkoordinasi dengan pelaksana pembangunan tiga jembatan program MP3KI sumber dana APBN 2014. “Jembatan itu dibuat untuk standar masa depan. Pertimbangannya, jika pada masa akan datang dilakukan pengaspalan jalan, maka tidak membuat lantai jembatan lebih rendah dari badan jalan. Kalau jembatan lebih rendah dari jalan, dampaknya terendam air saat musim hujan,” kata Sufyan.

“Tapi dalam RAB (rencana anggaran biaya pembangunan jembatan itu) tidak tersedia (dana) untuk penimbunan yang seperti itu. Solusinya, kita berinisiatif menggunakan sebagian dana BKPG (Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong) dari APBA 2015 untuk melakukan penimbunan selebar lima meter agar jembatan itu dapat dilintasi mobil. Saat ini kita menunggu pencairan dana BKPG untuk kebutuhan tersebut,” ujar dia lagi.

Menurut Sufyan, tiga jembatan “pengurangan kemiskinan” itu berada di lintasan jalan strategis. “Jalan strategis itu lebarnya 10 meter, dibuat melalui proyek multi years tahun 2010 masa Bupati Aceh Utara Ilyas Pase. Kita bersama tokoh masyarakat Sawang sudah menyampaikan kepada pihak DPRA agar memperjuangkan dana APBA untuk pengaspalan jalan itu pada tahun 2016,” katanya.[]

Foto jembatan beton di Dusun Alue Meuh, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. @Ist

Kepala BPBD Aceh Tengah: Gubernur Setujui Pembangunan Dua Jembatan di Gayo

Kepala BPBD Aceh Tengah: Gubernur Setujui Pembangunan Dua Jembatan di Gayo

TAKENGON – Pemerintah Aceh akan segera membangun dua jembatan yang ambruk pasca meluapnya air sungai dan longsor Gayo pada Sabtu 18 April 2015 lalu. Kedua jembatan itu merupakan penghubung Rutih-Angkop, dan Paya Beke-Remesen, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bina Marga Provinsi Aceh, gubernur telah menyetujui pembangunan dua jembatan itu menggunakan anggaran APBA,” ujar Kepala BPBD Aceh Tengah, Jauhari, Jumat, 1 Mai 2015.

Ia mengatakan jembatan penghubung Rutih-Angkop akan dibangun sepanjang 10 meter dan jembatan penghubung Paya Beke-Remesen sekitar 30 meter. Jembatan yang dibangun merupakan jembatan bailey, yang artinya jembatan rangka baja ringan tapi berkualitas tinggi.

“Kemarin (kamis-red) saya ke Banda. Berdasarkan keterangan Sekretaris Bina Marga Aceh, gubernur sudah menyetujui pembangunan jembatan itu. Cuma persetujuan administrasinya belum, karena gubernur hingga kemarin masih di Jakarta,” ujar Jauhari.

Menurutnya pembangunan itu akan dikerjakan dalam waktu dekat. Pengajuan perbaikan jembatan itu merupakan janji dari Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat tinjauannya dalam bencana Gayo pada Rabu, 22 April 2015 lalu.

“Proyek itu dikerjakan sepenuhnya oleh Bina Marga Aceh. Soal anggarannya saya tidak tahu. Kita terima beres soalnya,” katanya.[](bna)

Warga Pirak Timu Minta Pemerintah Bangun Jembatan

Warga Pirak Timu Minta Pemerintah Bangun Jembatan

LHOKSUKON – Warga Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, mengeluhkan jembatan yang terletak di Gampong Asan, Krueng Kreuh, yang kian usang dimakan usia. Padahal jembatan ini menghubungkan Kecamatan Lhoksukon dan Cot Girek dan menjadi urat nadi untuk perekonomian masyarakat sekitar.

“Jembatan yang dibangun sekitar tahun 70-an tersebut, kondisi lantainya saat ini beralaskan kayu sudah pada copot. Dinding yang alakadar tersebut sudah berkarat dan ada yang sudah hilang tak tahu kemana. Kemudian tali sling juga tinggal menunggu putus. Maka dari itu kami mendesak agar pemerintah Aceh Utara segera membangun jembatan yang layak bagi kami di sini,” kata Geuchik Gampong Asan Krueng Kreuh, Razali Sulaiman, saat dihubungi portalsatu.com, Rabu, 15 April 2015.

Menurut Razali, jembatan ini sudah beberapa kali putus yaitu pada tahun 2000, 2009, dan 2012. “Dulu tiangnya masih alakadar, tapi sekarang sudah beton,” katanya.

Dia berharap pemerintah bisa membangun jembatan ini dengan menggunakan rangka baja dan tidak perlu permanen, jika takut menghabiskan dana. “Bagi kami jembatan ini urat nadi kami untuk mengakses diri dalam melakukan aktivitas perekonomian sehari-hari,” katanya.

Di sisi lain, Razali juga mengatakan banyak jembatan di Kecamatan Pirak Timu tidak layak pakai. Selain itu, di kecamatan tersebut juga belum tersedia irigasi dan tanggul. Hal ini menjadikan daerah tersebut kerap banjir hingga tiga meter lebih. Permasalahan lain yang dihadapi warga Pirak Timu adalah jalan yang belum diaspal.

“Semoga pemerintah berkomitmen untuk membuat jembatan ini lebih baik lagi, kalau pun bisa, buatlah jembatan yang utuh seperti jembatan yang ada di daerah lainnya,” katanya.[](bna)

Laporan: Datok Haris Maulana