Tag: islam

Maksiat Sumber Kekacauan Umat Islam

Maksiat Sumber Kekacauan Umat Islam

BANDA ACEH – Berbagai perbuatan maksiat dan dosa merupakan sumber kekacauan yang membuat kehidupan umat Islam menjadi morat-marit, sehingga pertolongan dari Allah SWT pun sulit datang atas berbagai persoalan yang muncul.

Umat ini pernah memimpin dan mengendalikan dunia selama berabad-abad. Kemudian, kepemimpinannya dicabut dan keadaannya berubah mencolok. Musuh-musuhnya mengepungnya, berbagai musibah menimpanya, beragam cobaan dan bencana menderanya secara bertubi-tubi.

Hal ini disampaikan Ketua Himpunan Imam Masjid dan Meunasah (HIMNAS) Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Zainal Abidin Alawy, MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Banda Aceh, Rabu malam 7 Oktober 2015.
“Apa yang menimpa kita, umat Islam di Aceh, Indonesia dan Timur Tengah sehingga terpuruk, kekacauan dan kehidupan morat-marit. Jawabannya, penyebab semua itu adalah perbuatan dosa dan maksiat, yang menyeret umat ini ke jurang kehinaan yang dalam,” ujar Prof Zainal.

Imam Chik Masjid Al-Wustha Perumnas Jeulingke mengungkapkan, di Aceh sendiri walaupun sudah diberlakukannya syariat Islam, tapi berbagai perbuatan dosa dan maksiat masih sangat mudah terjadi.

“Ingkar pada perintah Allah seperti meninggalkan perintah shalat lima waktu juga dosa. Berbagai perbuatan maksiat juga banyak di sekitar kita. Kasus-kasus mesum, pemerkosaan, pelecehan seksual termasuk kepada anak-anak, membunuh manusia dengan mudah yang dulu mungkin jarang ditemukan, kini sangat mudah terjadi. Ini sumber kemurkaan Allah,” sebut Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry ini.

Ahli Hadits yang juga penceramah rutin halaqah magrib di Masjid Raya Baiturrahman ini menambahkan,‎ hilangnya persatuan sesama Islam juga telah menambah keterpurukan umat akhir zaman ini. “Yang sangat kita sayangkan, persatuan diantara kita sesama umat Islam sudah tercabik-cabik saat ini. Kita sudah hilang persatuan sesama Islam, dimana-mana terjadi perpecahan,” ungkapnya.

Yang paling memprihatinkan adalah umat Islan terpedaya dengan kehidupan duniawi dibanding ukhrawi. “Padahal kehidupan ukhrawi itu lebih utama. Perlu ada keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Jangat terlalu cinta dunia, dan lupa akhirat,” katanya.

Karena lebih mengedepankan kehidupan duniawi, maka terjadilah perebutan kekuasaan dimana-mana di tengah-tengah umat Islam, dengan cara apapun.

“Hal ini kemudian ditambah oleh faktor ekternal, dimana politik pecah belah kepada umat Islam terus dilakukan oleh musuh-musuh kita.‎ Persekongkolan zionisme dunia, Yahudi dan Nasrani terus mengicar umat Islam. Kebencian Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam tidak akan pernah berhenti. Mereka tidak bakal senang sebelum mereka taklukkan kita agar ikut mereka,” kata Zainal Abidin yang meraih gelar profesor pada usia 60 tahun ini.

Pada pengajian KWPSI dengan tema “Hadits Sebagai Pedoman dalam Beribadah” ini, Prof Zainal Abidin juga mengajak umat Islam khususnya di Aceh untuk kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Hadits sebagai Sunnah yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk umatnya.

“Kita umat Islam perlu pelajari Al-Qur’an dan Hadits.‎ Ada kewajiban pelajari Hadits bagi umat ini. Karena kalau tidak, maka tidak ada ilmu kita untuk mengamalkan suatu ibadah yang diperintahkan oleh Rasulullah,” jelasnya.

Menurut Prof. Zainal, hampir tidak ada lini kehidupan manusia yang tidak diterangkan dalam hadits. Jika dalam Al-Qur’an dijelaskan perintah secara umum, lalu semua perintah itu ditegaskan dalam hadits.

“Contohnya, dalam Al-Qur’an hanya diperintahkan untuk shalat, tapi tidak ada penjelasan bagaimana kita shalat. Lalu datang hadits nabi menjelaskannya secara lengkap bagaimana shalat itu dikerjakan. Begitu juga dengan zakat, puasa, haji dan lainnya yang diperintahkan dalam Al-Qur’an, ada hadits yang kemudian menjelaskan bagaimana itu dilaksanakan, apa saja jenis-jenisnya baik yang wajib maupun sunat,” ujar Prof Zainal. [] (mal)

Akar Islam Mengakar di Masyarakat Rumania

Akar Islam Mengakar di Masyarakat Rumania

JAKARTA — Setelah lepasnya kekuasaan Turki Utsmani di Rumania pada akhir abad ke-19, Islam semakin terpinggirkan di negara ini. Kondisi ini diperparah dengan masuknya Rumania dalam Blok Timur komunis pimpinan Uni Soviet kala itu.

Pengaruh Islam pun semakin berkurang dari beberapa wilayah yang sebelumnya mendominasi. Setelah Revolusi Rumania 1989, Rumania meninggalkan Blok Timur yang komunis sehingga rakyat Rumania memiliki kesempatan untuk menemukan Islam dan merasakan hasilnya.

Akar Islam Turki dan Tartar yang tertanam kuat di sebagian wilayah tengah dan selatan Rumania membuat umat Islam di Rumania mampu bertahan. Kini agama Islam di Rumania dipeluk tidak lebih dari satu persen penduduknya, setara dengan sekitar 60 ribu jiwa.

Setidaknya 3.000 orang masuk Islam dan jumlah ini meningkat dari hari ke hari. Dengan menjadi mualaf, mereka menghadapi masalah tertentu dalam masyarakat yang tidak siap untuk menerima mereka.

Beberapa wilayah seperti di Dobruji Utara, sekitar pantai Laut Hitam memiliki lebih dari lima abad tradisi dari Kekhalifahan Turki Usmani. Sebagian besar Muslim Rumania adalah Sunni yang mengikuti Mazhab Hanafi. Sekitar 97 persen Muslim Rumania adalah penduduk dua wilayah yang membentuk Dobruja Utara, sebanyak 85 persennya tinggal di Constanta, dan 12 persen di Tulcea.

Sisanya terutama mendiami pusat-pusat perkotaan, seperti Bukarest, Braila, Calarasi, Galai, Giurgiu, dan Drobeta-Turnu Severin. Kini setidaknya terdapat 13 masjid besar yang terdaftar di Rumania. Sebagian besar masjid tersebut berada di daerah Constanta dan sebagian yang lain berada di daerah Tulcea. Umat Islam di Rumania pun kini telah memiliki Aliansi Islam Rumania untuk melindungi dan membela umat dan Islam di Rumania. | sumber: republika

Foto Masjid Karol I

Santri Annaba Masuk Timnas Timor Leste

Santri Annaba Masuk Timnas Timor Leste

CIPUTAT —  Menjadi santri tidak membatasi diri untuk berkarir, dalam bidang apapun. Itulah yang dilakukan oleh Muallim Monteiro seorang pemuda berkebangsaan Timor Leste yang beberapa tahun lalu menuntut ilmu di Pesantren Pembinaan Muallaf-Yayasan Annaba Center Indonesia.

Muallim, panggilan akrab pria yang hijrah dari agama Katholik ke Islam ini, adalah sosok yang sangat gemar bermain sepak bola. Sering kali ia dipanggil oleh klub-klub sepak bola daerah dan diminta untuk bergabung memperkuat tim kesebelasan tersebut.

Nasib baik menimpa Muallim. Berawal dari hobi, sekarang ia mendapat kesempatan untuk bisa “unjuk gigi” dalam kejuaraan internasional, khususnya Asia Tenggara mewakili negaranya, Timor Leste.

Menjadi pesepak bola yang handal memang salah satu opsesi Muallim. Meskipun demikian, ia tidak melupakan kewajibannya dalam menuntut ilmu, terlebih ketika berada di pesantren Annaba Center. Ia juga alumni dari salah satu perguruan tinggi swasta dan memilih program studi manajemen informatika komputer.

Melihat latar belakang pendidikan Muallim sudah dapat dipastikan bahwa dia bukanlah seorang yang pemalas, melainkan pribadi yang juga semangat dalam menuntut ilmu. “Saya akan tetap belajar, meski sekarang sudah tidak berstatu sebagai santri dan mahasiswa lagi.”, tegasnya dengan singkat.

Pada kesempatan yang berbeda, KH. Syamsul Arifin Nababan menuturkan para santri tidak dibatasi dalam hal pengembangan minat dan bakat mereka. Sebaliknya, bila minat dan bakat mereka dapat mendatangkan hal yang positif, pesantren Annaba Center akan turut mendorong dan memberikan dukungan tidak hanya sebatas doa, melainkan juga hal-hal lain yang mampu dilakukan.

Itulah sebabnya, mengapa di pesantren Annaba Center kita dapat menemukan santri-santri yang memiliki berbagai macam minat dan bakat karena Annaba tidak membatasi mereka. Kita dapat menemukan santri-santri yang pernah mondok di Annaba menjadi sosok yang berbeda dan bermanfaat ketika di masyarakat, seperti Hasyim yang kini telah menjadi manager di “Bang Martabak”, dan juga Muallim yang kini bergabung di Timnas sepak bola Timor Leste.

“Mereka tidak harus menjadi seorang penceramah yang berdiri dari satu mimbar ke mimbar yang lain, tetapi dakwah mereka juga bisa dilakukan pada lingkungan tempat mereka berkarir”, sebut pak kiai.

Pesantren Annaba Center terus menggali potensi para santri. Hal ini sangat diperlukan mengingat semakin mereka mengetahui minat dan bakat masing-masing, maka akan semakin mudah dalam menyalurkan bakat dan minat mereka. | sumber: republika.co.id

Foto Mualim, Alumni Pesantren Mualaf Annaba Center.@Annaba-Center.com

Hindari Perbedaan yang Menghancurkan Sesama Islam

Hindari Perbedaan yang Menghancurkan Sesama Islam

BANDA ACEH – Umat Islam di Aceh dalam kehidupannya di dunia diharapkan tidak saling menghancurkan sesamanya, dan terus bisa menjaga persatuan sehingga lahirnya kekuatan agar tidak mudah dikacaukan oleh musuh-musuh Islam yang ingin menciptakan kekacauan dan perpecahan di tengah umat ini.

Sementara terhadap berbagai perbedaan pendapat atau khilafiyah yang muncul, jangan melahirkan permusuhan sesamanya tapi, sebaliknya menjadi rahmat untuk saling menguatkan satu dengan lainnya dengan tetap berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan ajaran dari Rasulullah SAW.

Demikian disampaikan Tgk H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab atau Tu Sop‎ (Pimpinan Dayah Babussalam Al -Aziziyah Jeunieb, Bireuen) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (30/9) malam.

“Kita tidak ingin perbedaan yang saling menghancurkan. Kita ingin ikhtilafu ummati rahmah. Kita ingin perbedaan yang saling menguatkan. Bagai elemen mobil, berbeda, tapi saling menguatkan,” kata Tgk. HM. Yusuf A. Wahab.

Pada pengajian yang membahas tema, “Memahami Ahlussunnah Waljamaah” ini, Tu Sop menyerukan umat Islam semua beragama seperti yang dibawa oleh Rasulullah. Semua berada di garis yang lurus, yang membuat perjalanan hidup mati benar-benar ke surga, dan bukan neraka. Maka Rasulullah menyuruh mengikuti apa yang beliau bawa.

“Ma’ana alaihi wa ashhabi. Ini dasar Ahlusunnah wal jamaah. Pertama ikut Rasul. Kemudian, yang paling mengerti dan paling mampu menerjemahkan apa yang dimaksud oleh Rasulullah adalah sahabat. Jadi mengikuti sahabat artinya mengikuti Rasulullah. Agama itu diterjemahkan lewat teks dan lewat perbuatan. Kalau shalat diterjemahkan lewat perbuatan, kita tidak bisa. Karena kita tidak melihat Rasulullah. Yang melihat Rasulullah adalah sahabat. Sahabat memperlihatkan kepada tabiin. Tabiin memperlihatkan kepada tabi’ tabi’in. Begitulah seterusnya,” jelasnya.

Maka, yang namanya Ahlussunnah Waljamaah dari generasi awal itu sangat mempertahankan silsilah mata rantai. Misalnya, ada yang pelajari satu ilmu, harus jelas gurunya siapa? Gurunya itu gurunya siapa? Dan gurunya itu siapa lagi gurunya? Hingga ke Rasulullah. Karena kalau lepas dari mata rantai itu, terjadi pemahaman-pemahaman yang berpotensi menyeleweng. Perawi hadis juga seperti itu.

“Ketika orang baca Al-Quran dan hadits kemudian beda pemahaman, yang beda bukan ayat dan hadits, tapi pemahaman. Maka ada ilmu untuk menguji kebenaran pemahaman tersebut, seperti ushul fiqh,” sebut ulama muda Aceh ini.

Tu Sop menekankan kenapa perbedaan yang menghancurkan harus dihindari. Ini tidak baik bagi agama sendiri dan pemeluknya. Kedua, sumber yang benar adalah punya silsilah dari Rasulullah dan sahabat, tanpa mempertentangkan antara sahabat dengan Rasulullah. Misalnya, kita tidak boleh ikut sahabat, ikut Rasulullah saja, ini baru sunnah saja, belum jamaah. Padahal tidak ada pertentangan apa yang dilakukan Nabi dan sahabat, karena sahabat adalah generasi yang paling memahami Nabi. Bagai orang yang lihat mobil dari jauh, seolah-olah bertabrakan, padahal kalau kita lihat dari dekat, ternyata tidak bertabrakan.

“Khusus bagi kita dan apa yang terjadi, ada akibat pemahaman berbeda yang saling menghancurkan. Di saat dua hal berbeda dan saling mendominasi, bisa masuk pihak ketiga atau empat yang bermain. Sehingga yang menyerang la ilaha illa Allah, dan yang diserang juga la ilaha illa Allah,” ungkapnya.

Maka kita perlu kaji bersama, kenapa Aceh di saat jayanya, saat kerajaan Aceh jadi kekuatan dunia, di saat mereka mengakui 4 mazhab, tapi untuk Aceh diambil satu, kenapa? Saat itulah Aceh kompak, Aceh maju, dan go internasional. Walau ada perbedaan, bisa diselesaikan, tanpa menghancurkan.

“Apa yang terjadi di Timur Tengah jangan sampai terjadi di Asia Tenggara, jangan di Indonesia, dan Aceh. Mari kita tafsirkan Ahlussunnah Waljamaah. Kita harus bedakan personalnya dengan konsepnya. Jangan mengukur Islam lewat muslimnya, apalagi muslim zaman sekarang. Mungkin kalau muslimnya sahabat, iya. Tapi muslim zaman sekarang jangan,” harap Tu Sop yang juga Ketua I Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini.

Maka dalam hal itu, maunya kita mampu membangun pemikiran yang bijaksana, Ahlusunnah Waljamaah yang punya silsilah hingga ke Rasulullah, dengan metoda-metoda yang jelas. Kalau tidak komit dengan itu, maka siapa pun akan menyatakan ini dari Al-Quran, itu dari Al Quran, padahal itu menurut mereka sendiri, seperti yang dilakukan oleh kaum liberal.

Tgk Yusuf juga menjelaskan, masalah akan muncul ketika hadir yang menghancurkan pemahaman lain. Misalnya, orang di Aceh sudah ada satu pemahaman. Datang orang lain, mengatakan ini syirik, itu bid’ah, ini sesat. Tidak dimusyawarahkan dulu, ini syirik atau tidak. Tapi langsung menghakimi sendiri.

Misalnya, Ulama-ulama Aceh dulu mengatakan Allah SWT itu tidak bertempat dan tidak ada ruang dan waktu. Lalu datang yang lain mengatakan Allah punya tempat. Inilah sumber terjadi frontalitas. Ini sebenarnya perlu dihindari. Kalau dibiarkan, jadi arena pertarungan.

“Bijaksananya, kembali ke kepemimpinan Islam masa lalu. Dengan kafir aja bisa hidup. Jangan datang-datang menghancurkan yang sudah ada. Bagaimana bisa toleran jika terus menghancurkan yang lain. Kalau ada yang salah, ayo duduk bersama. Jangan sampai membuat masyarakat bingung,” terangnya. [] (mal)

Julie Rody: Ada Begitu Banyak Ilmu dalam Islam

Julie Rody: Ada Begitu Banyak Ilmu dalam Islam

JAKARTA — Awalnya, jilbab itu membuat Julie merasa sedikit tidak nyaman, tapi perempuan itu tampak begitu tulus. Keduanya terus bertemu. Kalau tidak janjian di luar, kadang dia yang mengunjungi Julia di kantor.

“Satu hal yang benar-benar menyenangkan adalah dia tidak pernah memaksa,” kenang Julie. Dia tipikal perempuan yang tidak suka dipaksa, dan sikap sahabat-sahabat barunya sangat membantu. Kadang, keduanya berbicara di telepon. Lain waktu, mereka pergi berempat.

Perempuan itu dan suaminya, sedangkan Julie dengan Salah. Julie dan Salah sebenarnya belum menikah saat itu, tapi ada kalanya mereka keluar untuk makan siang bersama. Lewat interaksi dengan ketiga Muslim itu, Julie mulai mengenal Islam.

Penerimaan Awal-awal belajar Islam, Julie tanpa sengaja bertemu seorang teman lama yang sudah masuk Islam setahun sebelum itu. Temannya itu bahkan sudah mengenakan jilbab! Julie pun langsung bertanya tentang jilbabnya.

Pasalnya, itu sebuah ganjalan besar bagi Julie. Ia melihat temannya tampak sangat berubah.  Pertemuan itu semakin meneguhkan keputusannya berislam.

Pada 1982, Julie pun memutuskan masuk Islam. Salah turut andil meyakinkannya. Semula, Julie merasa pengetahuan keislamannya masih sangat dangkal. Dia sudah belajar banyak, tapi selalu merasa kurang. Ia merasa masih saja tidak tahu banyak tentang Islam.

Tak terkecuali, saat perempuan itu sudah melafalkan syahadat. Sampai sekarang pun, kata Julie, setiap kali melihat ke belakang, ia merasa pengetahuannya baru berada di permukaan. Pada titik itu, Salah meyakinkan Julie.

Pria itu bilang, ada begitu banyak ilmu dalam Islam. Tak akan ada habis-habisnya dipelajari. “Dia berkata, sekalipun saya yang terlahir Muslim, saya tidak tahu segala sesuatu tentang Islam. Kita memiliki ulama, tempat kita belajar. Mereka orang- orang yang dikaruniai keluasan ilmu agama,” kata Julie menirukan ucapan suaminya.
Di tengah komunitas baru, Julie bahagia.

Minimal, dia merasa nyaman. Tidak pernah ada seorang yang memaksanya. Salah atau teman-temannya sekalipun. Mereka membiarkan Julie berproses dengan caranya sendiri. Ketika mengucapkan syahadat, dia hanya mengenakan syal kecil yang diikatkan ke belakang. Tidak ada yang menyuruhnya mengenakan pakaian seperti ini, berperilaku seperti itu, dan seterusnya. Mereka bersikap sangat lembut dan tenang padanya.

“Itu sangat banyak membantu,” ucap Julie bahagia.

Tak mudah Konversi bukan pilihan mudah. Pilihannya untuk tidak keluar minum-minum lagi membuatnya terpaksa kehilangan beberapa te man lama. Julie pun sempat khawatir dengan respons keluarga. Ibunya, orang yang paling membuatnya khawatir akan menolak keislamannya, ternyata menerima dengan tangan terbuka. Lain halnya dengan Penny, sikap adiknya itu agak berbeda.

Julie mempunyai dua orang adik perempuan.  Penny, adik perempuan pertamanya, berusia dua tahun lebih muda. Awalnya, sikap Penny agak lain bila mereka kebetulan keluar rumah bersama. Apalagi, jika Julie memakai jilbab dan keduanya pergi ke suatu tempat yang orang- orangnya mengenal Penny. Julie tahu, Penny merasa sedikit malu memperkenalkannya.

Semua ketidaknyamanan itu lebur seiring waktu. Memang tidak singkat, tapi adiknya akhirnya mengerti bahwa tidak ada sesuatu pun yang berubah di antara mereka. Setelah beberapa tahun, mereka bisa tertawa bersama, berjalan bersama, dan berbicara dengan santai.  Penny bisa memperkenalkan Julie tanpa sungkan kepada siapa pun. “Oh. Ini saudaraku, Julie.” | sumber: republika.co.id

Foto ilustrasi

Dari Tanah Volga, Islam akan Kembali Berjaya di Rusia

Dari Tanah Volga, Islam akan Kembali Berjaya di Rusia

JAKARTA — Meski merupakan kekaisaran Islam, Golden Horde memiliki sejumlah wilayah yang didiami penduduk Kristen, seperti Rusia, Armenia, Alans, dan Krimea Yunani. Sejarah mencatat, Golden Horde mampu mempertahankan agama Islam hingga lebih dari dua abad.

Pada awal abad ke-15, sejumlah kerajaan Islam muncul sebagai pecahan dari Kekaisaran Golden Horde. Kerajaan-kerajaan itu di antaranya Nughay, Astrakhan, Krimea, Siberia, dan Kazan. Kerajaan-kerajaan itu menguasai hampir semua wilayah Rusia modern, kecuali wilayah antara Moskow dan Kiev.

Namun, tak lama kemudian, Rusia berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil tersebut dan membentuk Kekaisaran Rusia yang dengan cepat mulai menjajah negara-negara tetangga. Kerajaan Khazan yang terletak di wilayah bekas Kerajaan Bulgar jatuh ke tangan Rusia pada 15 Oktober 1552. Berikutnya, wilayah Volga dan Laut Kaspia dibuka oleh Rusia.

Pada 1556, giliran Kerajaan Astrakhan dikalahkan Rusia. Lalu menyusul Bashqor dan Udmurt pada 1557. Lalu, pada 1598, seluruh wilyah Siberia berada di bawah pemerintahan Rusia.

Akhirnya, Kekaisaran Rusia pun lahir secara brutal. Toleransi agama dan ras yang pernah tumbuh subur di wilayah Golden Horde sirna. Selama lebih dari empat abad, Rusia yang kemudian menjadi Uni Soviet menerapkan kebijakan untuk mengenyahkan Islam. Sepanjang era Uni Soviet, umat Islam mengalami masa-masa suram. Tak sedikit ulama yang diculik dan dipenjara.

Ketika era Soviet tumbang, cahaya Islam pun mulai merekah kembali. Situasi politik yang membaik memungkinkan terjadinya pembaruan Islam di negara ini. Di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan misalnya, puluhan masjid didirikan. Salah satunya, Masjid Qul Sharif, yang dinobatkan sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Bahkan, pada tahun 2000, masjid ini dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Universitas dan sekolah-sekolah Islam pun tumbuh dan berkembang di salah satu republik di Rusia ini. Pada saat yang sama, Muslimah berjilbab bukan lagi pemandangan aneh di Kazan, yang kini merupakan salah satu kota terbesar di Rusia.

Rasanya tak berlebihan jika berharap suatu saat Islam akan kembali berjaya di Rusia, termasuk di tanah Volga. | sumber: republika.co.id

Foto Rustam Sarachev, 21 tahun, tengah beribadah di masjid agung di Volga, Rusia.@washington post

Vijecnica Brcko, Gedung Bersejarah Bosnia Gaya Neomoorish

Vijecnica Brcko, Gedung Bersejarah Bosnia Gaya Neomoorish

JAKARTA — Negara-negara Eropa memiliki gedung-gedung balai kota yang tua dan indah. Termasuk Distrik Brcko yang berada di timur laut Bosnia Herzegovina.

Tak sekadar gedung balai kota, bahkan gedung itu menjadi ikon monumen nasional. Gedung Balai Kota Brcko atau biasa dikenal dengan gedung Vijecnica Brcko adalah salah satu bangunan yang paling bersejarah dan berharga di Bosnia Herzegovina dari sudut arsitektur pseudomoor atau neomoorish.

Balai Kota Brcko selesai dibangun pada 1892, ketika wilayah Bosnia menjadi wilayah rampasan yurisdiksi Austria-Hungaria. Hal itu terjadi setelah Turki Usmani kalah perang melawan Tsar Rusia.

Kantor balai kota itu terletak di jantung Kota Brcko. Bangunan itu berdekatan dengan jejeran bangunan bersejarah lain, Hotel Posavina dan sebuah kantor bank nasional. Berumur lebih dari seabad, Balai Kota Brcko lolos dari penghancuran perang dan aneksasi Austria Hungaria.

Dalam rentang waktu sekian lama, Balai Kota Brcko mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Pada awalnya bangunan ini digunakan sebagai pusat pemerintahan kota, beralih sebagai kantor pos dan telegraf. Dan, sekarang bangunan yang memiliki dua kubah kecil itu digunakan sebagai perpustakaan umum dan galeri. | sumber: republika.co.id

Foto Gedung Vijecnica Brcko, Bosnia.@visitmycountry.net

 
Negara Ini Resmi Larang Warganya Memeluk Islam

Negara Ini Resmi Larang Warganya Memeluk Islam

Angola menjadi negara Afrika pertama yang melarang warganya untuk memeluk agama Islam atau pun menyebarkannya. Tak hanya itu, semua masjid yang sudah ada juga ditutup.

Larangan itu diumumkan sendiri oleh Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos, pada hari Minggu (30/8/2015), menurut laporan On Islam seperti dilansir Rimanews. “Ini adalah akhir dari pengaruh Islam di negara kami,” kata nya.

Pengumuman larangan agama Islam di Angola pertama kali dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Rosa Cruz e Silva. Menurutnya, agama Islam tidak mendapat persetujuan dari kementerian keadilan dan hak asasi manusia.

“Proses legalisasi Islam tidak mendapat persetujuan dari kementerian keadilan dan hak asasi manusia, masjid-masjid mereka akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Silva.

Dia menambahkan bahwa Islam dilarang di negaranya karena ajarannya dianggap bertentangan dengan kebudayaan Angola.

Populasi di Angola mencapai 16 juta jiwa, di mana mayoritas warganya memeluk Kristen. Sementara itu, hanya ada 80 ribu warga yang memluk agama Islam. Kebanyakan muslim di Angola adalah pengungsi dari Afrika Barat dan Lebanon, menurut departemen luar negeri AS. | sumber: viva.co.id

 

Jangan Terlalu Mudah Mem-bid’ah-kan dalam Islam‎

Jangan Terlalu Mudah Mem-bid’ah-kan dalam Islam‎

BANDA ACEH – Setiap umat Islam diharapkan tidak terlalu serta-merta mengklaim suatu perbuatan yang dilakukan seseorang muslim itu sebagai bid’ah atau mengada-ada dalam beragama dengan tudingan sesat. Ini karena ada kalanya sesuatu yang dilakukan itu sama sekali tidak terkait dengan ibadah mahdhah karena tidak ada rukun dan syaratnya yang harus diikuti. Namun, menjadi suatu tradisi dan kebiasaan yang telah berlaku di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan oleh Ustaz H. Mizaj Iskandar Usman Lc., M.A., salah satu staf pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu, 2 September 2015 malam.

“Jangan sampai kita terlalu gampang mem-bid’ah-kan dan menuding sesat sesuatu perbuatan baru dilakukan umat Islam, yang kadang tidak terkait dengan ibadah, hanya sebatas tradisi dan kearifan lokal di satu daerah yang dianggap baik,” kata Ustaz Mizaj.

Ia juga menyinggung perbedaan mendasar antara ibadah dan tradisi di tengah umat Islam. Ibadah adalah segala perbuatan yang mutlak, harus memenuhi rukun dan syarat yang sama di mana pun berada. Menurutnya, jika tanpa hal itu, tidak sah suatu ibadah. Adapun tradisi adalah segala perbuatan yang tidak diikat oleh rukun dan syarat, dan berlaku di satu daerah serta tidak ada di daerah lainnya.

Ibadah mahdhah seperti salat, zakat, puasa, dan haji itu jelas ada rukun dan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di mana pun dia berada sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan tidak boleh ditambah-tambah yang baru.

“Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Alquran maupun As-Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya. Haram kita melakukan ibadah ini selama tidak ada perintah,” katanya.

Sementara ada suatu tradisi baru yang juga bertujuan ibadah ghairu mahdhah dilaksanakan oleh umat Islam di daerah tertentu, seperti halnya tradisi maulid Nabi Muhammad, salawat, zikir dan tahlil, berdakwah, dan lainnya yang mudah ditemukan di Aceh. “Itu jangan sampai dianggap bid’ah karena bukan sesuatu ibadah yang ada rukun dan syarat sahnya,” ujarnya lagi.

Menurutnya, keberadaan hal tersebut didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang, bentuk ini boleh diselenggarakan. Selama tidak diharamkan oleh Allah, boleh melakukannya.

Mijaz mengatakan tata laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah bid’ah. Jika ada yang menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, bid’ah-nya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah (sesat).

Pada pengajian KWPSI tersebut, Ustaz Mizaj yang juga salah satu staf pengajar Ruhul Islam Anak Bangsa ini memaparkan tentang fitnah akhir zaman yang telah diprediksi oleh Rasulullah.

Menurutnya, dunia menjadi kacaubalau dan sarat fitnah saat ini. Nilai-nilai jahiliah modern mendominasi kehidupan. Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan bimbingan wahyu Ilahi, melainkan hawa nafsu pribadi dan kelompok.

“Pada babak inilah tegaknya sistem Dajjal. Berbagai lini kehidupan ummat manusia diatur dengan Dajjalic values (nilai-nilai Dajjal). Segenap urusan dunia dikelola dengan nilai-nilai materialisme-liberalisme-sekularisme, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, mediks, pertahanan-keamanan, militer, bahkan keagamaan. Masyarakat kian dijauhkan dari pola hidup Islam,” ujarnya.

“Fitnah akhir zaman itu suatu ujian, ibtilak yang dihadapi generasi akhir zaman yang tidak pernah ditemui zaman sebelumnya atau dikenal peradaban tidak bertuhan. Zaman dulu selalu dikirim nabi jika umat sudah kacaubalau dan chaos untuk memperbaiki umat yang rusak. Seperti diturunkan Nabi Musa, Luth, Nuh, Isa, lalu selesai masalahnya. Tapi setelah Nabi Muhammad tak ada nabi lagi. Tidak ada solusi lagi dari langit a‎tau Allah. Tugas selesaikan masalah yang ada sama kita sendiri‎, hanya ada tinggal pedoman Alquran, hadits. Tapi baca Alquran butuh akal dan ilmu,” kata Mizaj.[](bna)

Benarkah Alquran Lebih Tua Dibandingkan Era Nabi Muhammad?

Benarkah Alquran Lebih Tua Dibandingkan Era Nabi Muhammad?

ISLAM diperkirakan eksis mulai sekitar 610 Masehi sedangkan komunitas Islam pertama ada di Madina tahun 622 Masehi.

Temuan penggalan Al Quran tertua di Birmingham University pada Juli lalu berujung perdebatan. Riset mengungkap, penggalan Al Quran itu lebih tua dari masa Nabi Muhammad SAW!

Hasil penanggalan karbon menguak, penggalan Al Quran sebanyak dua lembar itu berasal dari masa 568-645 Masehi. Sementara, Muhammad diperkirakan hidup antara 570-632 Masehi.

Tom Holland, sejarawan Inggris yang tak terlibat riset, mengatakan, temuan ini mengejutkan dan mengguncang kemapanan tentang sejarah Al Quran dan Islam.

Keith Small dari Bodleian Library, Oxford University, menambahkan, temuan itu memberi dukungan pada pandangan lain tentang asal-usul Al Quran.

“Seperti bahwa Muhammad dan pengikutnya sebenarnya menggunakan teks yang sudah ada dan mengkonstruksinya sesuai dengan agenda politik dan teologinya, bukan menerima wahyu,” kata Small.

Hasil analisis karbon ini sontak mendapat tentangan dari ilmuwan Muslim. Mustafa Shah dari School of Oriental and African Studies di University of London salah satunya.

“Jika memang begitu, manuskrip ini bertentangan dengan kepercayaan tentang asal-usul Al Quran,” ungkapnya seperti dikutip The Times, Senin (31/8).

Islam diperkirakan eksis mulai sekitar 610 Masehi sedangkan komunitas Islam pertama ada di Madina tahun 622 Masehi. Saat itu, isi Al Quran ditularkan secara lisan.

Hingga kemudian Khalifah Abu Bakar meminta pengikutnya untuk menuliskan pesan Al Quran. Penulisannya sendiri baru selesai pada era Khalifah Utsman, sekitar tahun 650.

Al Quran tertua itu sendiri telah lama berada di perpustakaan Birmingham University. Tersimpan bersama buku-buku dari Timur Tengah lainnya, keberadaan penggalan Al Quran tertua itu luput dari mata.

Hingga kemudian peneliti universitas tersebut mengamati teks yang ditulis dengan aksara Hijazi atau Arab Kuno. Dia kemudian menyadari bahwa teks di atas kulit domba itu merupakan naskah Al Quran.

David Thomas, profesor bidang studi Kristen dan Islam di Birmingham University bulan lalu menyebut temuan itu mengejutkan. “Ini bisa membawa kita mendekati tahun penemuan Islam,” katanya.

“Orang yang menulisnya mungkin bahkan kenal dengan Nabi Muhammad. Dia mungkin melihat dan mendengar Nabi berkhotbah. Mungkin dia juga kenal Nabi, dan itu adalah kemungkinan yang luar biasa,” imbuhnya.[] sumber: nationalgeographic