Tag: irwandi

Irwandi Silaturahmi dengan Nasyid Salsabil

Irwandi Silaturahmi dengan Nasyid Salsabil

LHOKSEUMAWE – Mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf silaturahmi dengan grup Nasyid Salsabil di warung M Kupi, Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Rabu, 22 Juli 2015. Irwandi mengapresiasi Salsabil yang telah berjuang mengharumkan nama Aceh di pentas nasional lewat senandung musik islami.

Penasehat Salsabil, Ahmad Dani kepada portalsatu.com, Rabu malam tadi, mengatakan, seusai silaturahmi ke dayah Abu Hasballah Keutapang di Nisam, Aceh Utara, Irwandi singgah di Keude Krueng Geukueh untuk silaturahmi dengan para personil Salsabil dan managemen grup nasyid ini.

“Bang Irwandi dan kami kemudian berbincang-bincang dalam suasana akrab. Bang Irwandi memberi apresiasi tinggi kepada Salsabil, walaupun juara tiga (ajang Q Academy Indosiar), yang paling penting Salsabil telah mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional. Beliau berharap Salsabil terus mengembangkan nasyid karena selama ini jarang terlihat di Aceh,” ujar Ahmad Dani.

Menurut Dani, dalam pertemuan sambil menyeruput kopi dalam suasana akrab itu, Salsabil turut mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Aceh dan semua pihak yang telah mendukung Salsabil hingga meraih juara tiga Q Acedemy Indosiar 2015. Salsabil tiba di Aceh Utara pada hari raya ketiga.[]

Foto: Irwandi Yusuf dan Salsabil. @Ist

Amrizal J Prang: Ada Peluang Parnas Menang Pilkada di Aceh

Amrizal J Prang: Ada Peluang Parnas Menang Pilkada di Aceh

BANDA ACEH – Akademisi Unimal, Amrizal J. Prang, menyatakan mungkin saja partai nasional (Parna) menang dalam Pilkada Aceh 2017 mendatang. Ucapan itu disampaikan saat portalsatu.com menanyakan peluang Parnas di Pilkada 2017.

“Kalau Parnas mengusung hanya satu calon, dan kandidat yang muncul sedikit misalnya dua atau tiga, kemungkinan menang ada walau fifty-fifty,” katanya via telpon, Jumat, 10 Juli 2015.

Namun, dia meragukan hal itu terjadi. Pasalnya dari amatannya dalam pilkada berbeda dengan pemilu legislatif.

“Dalam Pileg, figur dan partai amat berpengaruh, dan figur yang dimaksud disini bukan figur sentral saja tapi di semua tingkatan hadir figur yang mampu menarik pemilih. Jadi suara pemilu legislatif kemarin belum menjadi penentu kemenangan Pilkada,” katanya.

Sedangkan dalam Pilkada, figur menjadi amat menentukan di samping kerja mesin partai. Menyikapi hal itu, dirinya melihat Parnas tidak punya figur kuat yang sudah muncul ke publik. Tingkat akseptabilitas tokoh Parnas amat rendah dibanding Parlok.

“Menariknya Parnas punya banyak figur yang bagus untuk posisi Wagub,” katanya.

Makanya amat realitis bila Parnas dan Parlok berkoalisi. Ia juga setuju dengan pendapat bahwa kombinasi Parlok-Parnas akan memudahkan lobi Aceh ke Jakarta.

“Penguatan perdamaian dan penyelasaian urusan Aceh dengan Jakarta harus menjadi titik tolak bagi pemimpin Aceh” ujar Amrizal. 

Karena itu, kata Amrizal, Pemerintah Aceh harus punya bergaining kuat ke pusat.

Soal sosok yang muncul saat ini, menurut dia, masih berkisar dari mantan dan incumbent.

“Hasil diskusi bersama kawan-kawan, saat ini hanya dua figur yang bagus elektabilitasnya yaitu Mualem dan Irwandi. Tapi tidak menutup kemungkinan muncul tokoh lain,” katanya.

Tapi, menurutnya, kalau kandidat yang diusung dari luar semisal artis juga tidak akan berpengaruh bagi pemilih di Aceh. “Begitu juga soal figur di luar politisi, kita belum melihat ada yang menonjol,” katanya.[](bna)

Nasdem Paling Representatif untuk Aceh di Pilkada 2017?

Nasdem Paling Representatif untuk Aceh di Pilkada 2017?

BANDA ACEH – Ketua DPD Nasdem Aceh Zaini Djalil menyebut kriteria calon Wakil Gubernur Aceh ke depan.

“Sebagai partai yang ada di Koalisi Aceh Bermartabat (KAB), kami melihat kalau Mualem (Muzakir Manaf) mengambil wakil dari kalangan Parnas di KAB harus yang bisa mengimbangi Gubernur,” ujarnya kepada portalsatu.com via telepon kemarin, Selasa, 7 Juli 2015.

Zaini menilai hingga kini elektabilitas Ketua DPA Partai Aceh Muzakir Manaf masih bagus. Sehingga bilapun benar akan berkoalisi dengan Parnas di KAB, wakilnya harus punya modal politik yang bagus.

“Misalnya, jumlah perolehan kursi di DPRA maupun di DPRK seluruh Aceh. Ini penting sekali dipertimbangkan,” kata Zaini.

Syarat selanjutnya adalah wakil yang mau menjadi mitra bersama dan saling melengkapi.

“Dua periode ini publik melihat bagaimana gesekan antara Gub dan Wagub. Ini amat mengganggu pemerintah dan menghabiskan energi,” ujar pengacara ini.

Zaini  menilai hal ini tidak perlu terjadi di masa depan. Karenanya harus ada pembagian tugas yang jelas.

“Wakil juga harus sadar posisi. Intinya Gub dan Wagub harus sering bertemu dan bermusyawarah,” katanya.

Ditanya kesiapan Nasdem untuk maju sebagai calon gubernur atau wakil gubernur, Zaini menolak menjawab dengan tegas.

“Kita kembali ke tiga mekanisme yang saya sampaikan kemarin, kami taat aturan partai,” katanya.

Dia mengatakan Nasdem Aceh tetap memilih dalam koridor menjadi mitra pemerintah sesuai dengan pesan Ketua Umum Surya Paloh. Nasdem tidak akan menjadi oposan.

“Makanya tiga kriteria itu menjadi prinsip dasar Nasdem dalam Pilkada. Untuk Aceh Ketua Umum Surya Paloh sudah mempertegas akan ikut kemauan rakyat Aceh. Makanya kami akan melakukan penjaringan aspirasi ke bawah, baik langsung maupun dengan survei,” kata Zaini.

Menurutnya siapapun yang ingin mencalonkan diri dan bersinergi dengan pemerintah pusat saat ini, maka untuk Aceh hanya Nasdem yang paling representatif. Dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang berkuasa saat ini, hanya Nasdem yang paling eksis di Aceh.

“Akan amat mungkin kami menjadi mitra yang kuat bagi pemimpin Aceh ke depan mengetuk pintu Jakarta. Konon lagi Ketua Umum Nasdem Surya Paloh sebagai mitra koalisi yang kuat dengan pemerintah saat ini. Beliau akan all out membantu Aceh ke depan, sebagai bentuk pengabdian beliau kepada tanoh indatu beliau,” katanya.

Mengenai siapa nama calon wakil gubernur yang akan diajukan Nasdem jika nantinya memang diminta, Zaini menjelaskan jika wacana yang muncul saat ini ada nama dirinya dan Irwan Djohan.

“Tapi Irwan kami persiapkan jauh-jauh hari untuk calon wali kota Banda Aceh,” katanya.[] (bna)

Ditanya Soal 2017, Irwandi Yusuf: Insya Allah Nyalon

Ditanya Soal 2017, Irwandi Yusuf: Insya Allah Nyalon

BANDA ACEH – Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) Irwandi Yusuf, mengatakan akan kembali menyalonkan diri sebagai Gubernur Aceh di Pemilihan Kepala Daerah 2017 mendatang. Namun Irwandi mengaku hingga kini belum ada partai nasional yang menawarkan maju di pemilihan mendatang.

“Belum ada parnas yang menawarkan. Untuk 2017, insha Allah nyalon (mencalonkan diri) walau belum tahu pasangan dengan siapa,” ujarnya kepada portalsatu.com melalui pesan facebook dari akun pribadinya pada Jumat, 3 Juli 2015.

Banyak masyarakat Aceh yang mempertanyakan arah politik mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam pemilihan 2017 mendatang. Hal ini mencuat setelah Ketua DPA Partai Aceh Muzakir Manaf atau dikenal Mualem mengatakan akan maju untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh pada 2017 mendatang dalam rapat bersama KPA seluruh Pase di Lhokseumawe beberapa waktu lalu.

Banyak pihak menduga Irwandi akan kembali memacu kuda politiknya di 2017 bersama kader Partai Nasdem. Hal ini dilatarbelakangi oleh sejarah duet dua partai tersebut pada pemilihan legislatif beberapa waktu lalu.

Ada dua politisi yang namanya kini mencuat di tubuh partai besutan Surya Paloh di Aceh ini. Mereka adalah kader Nasdem tingkat kota yang juga Wakil Ketua DPR Aceh Teuku Irwan Djohan dan Ketua DPP Partai Nasdem Aceh Zaini Djalil.

Namun saat ditanya pendapat Irwandi jika diduetkan dengan keduanya, Irwandi mengatakan, “Irwan Djohan, ok, walau belum pengalaman. Zaini Djalil tidak mungkin karena sekampung.”[]

Kasus Pembunuhan Tinggi, Irwandi: Sudah Selayaknya Qanun Qishas Diberlakukan di Aceh

Kasus Pembunuhan Tinggi, Irwandi: Sudah Selayaknya Qanun Qishas Diberlakukan di Aceh

BANDA ACEH – Kasus pembunuhan kian marak terjadi di Aceh. Dalam dua pekan terakhir saja, tiga kasus pembunuhan terjadi di Aceh seperti di Aceh Besar, Pidie, dan Nisam Antara. Hal ini pula yang membuat Aceh memerlukan sebuah aturan hukum tegas.

“Aceh sudah selayaknya menerapkan aturan hukum berupa Qanun Qishas. Dan ini (Qanun Qishas) sudah saya paparkan di depan Duta Besar Eropa, terkejut dia, gawat that lagoe (gawat sekali),” ujar mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf kepada portalsatu.com, Selasa sore, 31 Maret 2015.

Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) ini menilai, Aceh memang telah memerlukan Qanun Qishas tersebut. Menurut Irwandi qanun ini bisa menjadi pencegah tingginya kasus-kasus pembunuhan di Aceh.

“Dia (Dubes Eropa) mengatakan pembunuhan itu kan tidak simple, na yang diyue lee gop (ada yang disuruh). Saya menjawab, ya itu akan na (ada) kalkulasi dan pertimbangan yang lain: pembunuhan nyoe terjadi karena peu? (pembunuhan ini terjadi karena apa?),” ujar Irwandi.

Irwandi menegaskan dalam hukum Islam siapapun yang menyuruh membunuh atau mendukung pembunuhan akan dianggap sebagai pembunuh juga. “Yang disuruh juga kena sebagai pembunuh, sebab orang yang disuruh itu memiliki pikiran dan nurani sendiri. Itu salah apa benar. Dalam Islam cukup tegas, hanya tiga perkara orang lain bisa dibunuh. Pertama dia membunuh, kedua karena menyebabkan kerusakan di muka Bumi. Ketiga, saya lupa, ada tiga intinya,” katanya.

Namun menurut Irwandi, pembunuhan seperti itu tidak dilakukan oleh rakyat atau individu-individu, melainkan negara melalui keputusan pengadilan. “Makanya harus ada qanun supaya bisa diadili, dieksekusi oleh jaksa, oleh negara. Kon lee teungku-teungku hana ta tune (bukan masyarakat biasa), kecuali dalam mempertahankan nyawa atau membela diri dan keluarga. Datang perampok malam ke rumah, ta tak laju jih hana masalah (kita bacok saja tidak masalah),” ujarnya.

Irwandi mengatakan sistem hukuman ini cenderung sama dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara di Arab. “Hukumannya bisa berupa pancung, apa tembak atau gantung,” katanya.

Mantan propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini tidak menyangkal salah satu penyebab tingginya angka pembunuhan di Aceh lantaran konflik berkepanjangan. Menurutnya dulu spot-spot yang kerap terjadi pembunuhan bisa dipetakan seperti di Aceh Besar yaitu di Piyeung dan Leupueng, Pidie di Ulee Glee, dan salah satu daerah di Aceh Utara.

Di Leupeung nyan, ta ba moto bicah manok mantong dikeroyok matee teuh (Di Leupueng itu, kita bawa mobil tabrak ayam saja dikeroyok hingga tewas). Namun sekarang, pembunuhan itu menggejala. Orang Aceh itu tidak tahu lagi bahwa membunuh itu adalah dosa besar. Ta beudoh ta ceramah ta peugah lagee nyan, efektif bagi orang yang ikut hukum, tapi tidak bagi orang yang tidak sadar hukum atau tidak memiliki pendidikan,” katanya.

Irwandi menilai konflik telah berpengaruh besar terhadap mental masyarakat Aceh saat ini. Ia mengatakan orang Aceh sangat banyak mengalami gangguan jiwa. “Tapi gangguan jiwa itu belum bisa dibilang gila dan orang seperti ini masih bisa dihukum jika membunuh orang,” ujar Irwandi.[]