Tag: irwandi yusuf

[Wawancara] Irwandi Yusuf: Sudah Saya Bikin, Tapi

[Wawancara] Irwandi Yusuf: Sudah Saya Bikin, Tapi

MEMAKAI kaos warna hitam, Irwandi Yusuf, berbicara banyak hal tentang Aceh dengan wartawan portalsatu.com di Kupi Pancong, Kalibata City, Jakarta Selatan, Kamis, 1 Oktober 2015.

Irwandi yang adalah Gubernur Aceh periode lalu juga menyatakan komitmennya untuk mencalonkan diri kembali di Pilkada 2017.

Berikut kutipan wawancara wartawan portalsatu.com dengan Irwandi Yusuf:

Bagaimana persiapan Anda untuk Pilkada 2017?

Persiapan biasa saja, sama seperti tidak ada persiapan.

Maju melalui calon independen atau partai politik?

Belum tahu, karena partai-partai pun masih sibuk dengan Pemilu 2015. Jadi belum bisa diminta tanggapan.

Apa ada kemungkinan maju dengan partai politik?

Semua ada kemungkinan.

Baik, bagaimana Anda melihat pemerintahan saat ini?

Saya bukan dalam kapasitas menilai orang.

Saran Anda untuk pemerintah saat ini?

Bagian dari janji Zikir (Zaini-Muzakir) yang 21 itu, yang terakhir adalah mengajak para kontestan untuk duduk bersama memikirkan pembangunan Aceh, tetapi Zikir tidak tanya, tidak ada jawaban.

Terkait Din Minimi, bagaimana tanggapan Anda?

Itu bukan kapasitas saya menjawabnya. Saya tidak berharap apapun, yang penting Aceh ini aman, damai. Itu yang penting!

Harapan Anda untuk Pemerintah Aceh?

Saya mungkin tidak boleh berharap. Harapannya tentu all the best. Mengharap yang terbaik lah.

Mengenai lambannya proses tender, bagaimana pendapat Anda?

Dinas dulu kan ada Kabid-Kabid atau subnya, masing-masing mengajukan proyek sesuai dengan bidangnya. Umumnya dalam mengajukan proyek ke DPR itu semangat. Padahal proyeknya itu tidak dilengkapi dengan data-data yang dibutuhkan untuk ditender. Waktu ditender itu harus jelas apa yang harus dilakukan, itu DED (detail engineering design). Umumnya yang tertahan saya lihat faktor pendukung, sehingga lelangnya terlambat, baru bikin DED. Harusnya perangkat peninggalan saya bisa digunakan maksimal. Pak Taqwallah, ada lembaganya. Sampai bulan ini sudah memasuki bulan 10 masih banyak proyek yang belum ditender, saran saya itu tidak usah ditender lagi. Udah batalkan saja untuk tahun depan, sebab kalau ditender, tender itu butuh waktu sampai dua bulan, udah habis tahun.

Apa ada kaitanya dengan DPRA terkait lambatnya realisasi anggaran?

Pengesahan anggaran tidak terlambat.

Idealnya bulan berapa?

Idealnya akhir Desember untuk tahun depan.

Realisasi anggaran seharusnya?

Pas Februari sudah bisa jalan. Duit ada di awal tahun, tergantung pengesahan APBA, kalau APBA disahkan segera ada uang?

Apakah ada kaitannya dengan pemerintah pusat terkait ini?

Tidak ada peraturan negara seperti itu.

Kalau soal Qanun BRA apa tanggapan Anda?

Apakah reintegrasi itu proses selamanya, proses seumur hidup? Kan tidak. Atau proses jangka panjang. Kalau dikatakan reintegrasi belum berjalan penuh, apa tanda-tanda kalau reintegrasi sudah berjalan penuh, apa targetnya? Apa ukurannya, itu harus jelas.

Mengenai dana desa, apa pendapat Anda?

Ini maaf, terpaksa ini saya ngomong juga. Yang jelas yang sudah ada kejadian dana desa dikatakan dana Timses, dana dari tim ke rayat. Nah, itu salah bin salah. Dana desa kan dana dari pemerintah pusat. Yang diklaim itu dana kontestan.

Bagaimana seharusnya penggunaan dana desa?

Dana itu digunakan untuk banyak hal, tapi yang jelas perangkat desa sudah memiliki dukumen PG (peumakmu gampong) dan sekarang ada dokumen untuk dana desa itu. Tentu saja tidak boleh tumpang tindih, kalau untuk saling memperkuat boleh. Misalnya tidak cukup dana di BKPG (Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong), disuntik dengan dana desa ini bisa dan tidak hanya untuk infrastruktur. Infrastruktur desa saya kira sudah selesai dengan dana BKPG, udah beberapa tahun. Tinggal sekarang pemberdayaan ekonomi. Bentuknya pemberdayaan bagaimana, itu harus sudah dipikirkan. Jangan sampai hilang uang itu.

Mengenai produk lokal, bagaimana pendapat Anda?

Simpelnya, masyarakat juga tidak mau banyak memikir. Berpikir sebagai pengusaha tidak ada pada masyarakat, yang ada sama pengusaha. Yang paling simple, solusi yang sangat dibutuhkan adalah bahan pangan. Itu saja. Bagaimana mungkin peningkatan produksi beras, peningkatan produksi beras, bagaimana mungkin peningkatan produk kelautan, produk kelautan.

Berarti kita tidak bicara ekspor?

Kalau ngomong swasenda, tentu sudah ngomong ekspor. Lebihnya kemana, ekpor itu ada dua, ekspor dalam negeri dan ekspor luar negeri. Ekspor dalam negeri ke provinsi lain.

Fokusnya tetap produksi bahan pangan?

Produksi bahan pangana lebih simple dan bisa dikejar dalam lima tahun kepemimpinan. Misalnya, kita mau buat sentral produksi macam-macam. Misalnya disana produksi manggis, disini rambutan. Itu bisa saja, tapi kalau sudah banyak terbentuk dengan pasar. Nah, harus dipikirkan penampungan, penampungan bisa jadi pedagang penampung, bisa jadi industry pengolah. Tanpa didukung oleh itu agak susah, tapi itu mudah apabila bisa dikonsep. Yang susah menjalankan konsep ini, karena pemerintahan berganti-ganti, karena mood anggota DPRA yang mengesahkan anggaran berubah-ubah. Udah produksi, lalu kita usulkan biaya untuk insentif pembangunan pabrik pengolahan katakanlah, terbentuk dengan pembiayaan, bisa tidak ada biaya, dan yang sering pengesahan tidak disetujui dan tidak ada kesempatan.

Mengenai peran Pemerintah Aceh untuk pengusaha agar keuntungan dari infrastruktur bisa diputar kembali dalam bentuk industry kecil dan menengah, apa pendapat Anda?

Sangat sulit mengukur return dari proses infrastruktur ini. Dimana labanya sulit diukur secara matematik biasa, tetapi memang kewajiban pemerintah menyiapkan infrastruktur dasar, seperti irigasi, jalan, listrik, air dan segala macam. Itu memang kewajiban. Mau rugi pun harus dibikin itu, infrastruktur dasar di Aceh belum semuanya merata. Apalagi dalam bidang pertanian, banyak irigasi yang perlu dibangun baru, udah banyak yang dibangun tapi belum jadi. Kemudian pencetakan sawah baru atau lahan pertanian yang baru. Itu harus ditambah, sebab penduduk Aceh bertambah. Dalam menambah lahan baru itu gampang, dimana yang belum dibuka, ya dibuka. Tapi tidak gampang ketika konsen kita menyangkut pembangunan yang berkelanjutan, tidak bisa hutan itu ditebang, walaupun sekarang banyak yang ditebang. Namun saya sudah menjalankan kewajiban saya menyelamatkan alam dengan moratorium, persoalan masih dikawal atau tidak, itu bukan urusan saya lagi, cuma saya sedih saja. Banjir sekarang bertambah banjir, kering bertambah kering.

Mengenai instabilitas ekonomi nasional, khusus di Aceh sepertinya pemerintah takut dengan pengusaha, apa pendapat Anda?

Tidak ada pemerintah takut, apalagi saya. Cuma masalahnya belum banyak pengusaha Aceh yang bergerak di bidang investasi selain kontraktor pemerintah. Menginvestasi dalam perkebunan, kopi menjadi trend market untuk Aceh, kenapa tidak ikut terlibat pengusaha yang besar, walaupun ada pengusaha kecil yang terlibat. Yang mana kopi Aceh yang dijual nampak Acehnya, nampak ekspornya. Saya pernah bicara dengan starbuck. Starbuck pembeli kopi Aceh terbesar, kopi Aceh harap diambil di Aceh! Kalau tidak, tidak dijual. (Dijawab), ‘tidak bisa pak, yang kita kirim dalam kapal kan bukan kopi saja, komposisi campuran, kopi paling satu kargo saja isinya’. Akhirnya saya tidak bisa memaksakan kehendak kopi harus diambil di Aceh. Kopi diambil di Aceh, tapi oleh pedagang Medan. Bagaimana kalau kita ganti pedagangnya, pedagangnya orang Aceh juga, itu terserah pada kawan-kawan pedagang Aceh mahu tidak bergerak ke arah itu.

Kenapa tidak dipanggil orang Aceh?

Sudah pernah saya panggil.

 Kenapa orang Aceh tidak mau pulang ke Aceh?

Bukan masalah masalah ekonomi tidak lancar, tapi masalah keamanan. Dari masa saya sampai sekarang belum tuntas, di masa saya lumayan bisa saya kontrol. Sekarang kalau keamanan seperti ini terus, sampai kapan pun tidak terwujud. Aceh ini daerah konflik dulu. Medan daerah yang tidak konflik. Dan kemudian damai Aceh. Riilnya orang yang membawa uang ke Aceh yang dipikirkan pertama adalah aman.

Di Medan kasus pembobolan ATM bisa diselesaikan cepat. Di Aceh, kasus Din Minimi saja tidak selesai. Bagaimana pendapat Anda?

Saya tidak punya ilmu untuk menjawab itu, karena masa saya tidak terjadi. Saya tidak bisa komentar, karena itu tidak menyangkut saya. Saya tidak bisa komen “dapur” orang.

Baik, kembali soal Pilkada, apabila terpilih kembali menjadi Gubernur Aceh, bagaimana model Aceh yang Anda inginkan?

Kalau saya, nanti saya umumkan. Rencana sudah ada, tapi tidak boleh diketahui oleh orang lain.

Mengenai koordinasi keamanan di Aceh dengan pemerintah pusat bagaimana?

Sekarang saya tidak tahu.

Pada masa Anda?

Jelas! Umumnya inisiatif saya sendiri. Kalau ada gerakan-gerakan saya dekati. Anda kan melihat banyak sekali senjata yang saya ambil dengan damai di tangan milisi, mantan GAM dan bagaimana saya bikin ALA ABAS itu redam.

Menurut Anda, untuk pembangunan Aceh apa yang harus diutamakan?

Kalau bisa paralel, tidak bisa bicara sulit sekarang. Dasar-dasar untuk bangun ke depan sudah ada saya tinggalkan. Sudah saya bikin, tapi saya tidak bilang mereka tidak melanjutkan, tapi saya bilang saya sudah buat.[]

Video: Para Panglima Kembali Semeja

Video: Para Panglima Kembali Semeja

BANDA ACEH – Ketua KPA Muzakir Manaf akrab disapa Mualem menggelar pertemuan khusus dengan Sofyan Dawood di Musleni Tomyan, Peuniti, Kota Banda Aceh, Kamis malam 1 Oktober 2015.

Pertemuan ini turut dihadiri sejumlah mantan petinggi GAM, seperti Ayah Merin, mantan Kapolda GAM Abu Badawi, Sulaiman Bombai, aktivis SIRA Muhammad MTA, Teungku Jamaika, anggota DPR Aceh Tarmizi Panyang, serta sejumlah anggota KPA lainnya.

Mualem kepada awak media, mengatakan pertemuan ini merupakan silaturahmi dalam rangka Idul Adha.

Selain itu, katanya, silaturahmi ini diharapkan juga dapat bersatunya seluruh ekskombatan GAM.

“Sama orang lain kita bisa berdamai, apalagi dengan rekan seperjuangan yang kita kenal sejak dulu,” kata Mualem. (Baca: Ini Bocoran Hasil Pertemuan Mualem dan Sofyan Dawood).[]

Soal Ayah Merin, Petinggi PNA Enggan Berkomentar

Soal Ayah Merin, Petinggi PNA Enggan Berkomentar

BANDA ACEH – Sekjen Partai Nasional Aceh (PNA), Muharram, mengaku belum mendapat kabar mengenai adanya beberapa kader inti partai tersebut yang menyatakan dukungan terhadap salah satu calon kandidat Gubernur Aceh di Pilkada 2017. Dia juga mengaku belum bisa memberikan komentar terkait hal ini, Sabtu, 19 September 2015.

“Terlalu dini untuk dikomentari karena belum ada rapat pengurus PNA. Apalagi orang-orang yang disebutkan itu adalah kader inti PNA,” ujar Muharram kepada portalsatu.com saat dihubungi melalui nomor pribadinya.

Dia mengatakan segala sesuatu keputusan partai harus dilakukan dalam rapat pendiri partai, dewan pembina dan majelis partai. “Jadi tidak ada yang bisa dikomentari tentang hal ini. Apalagi Pilkada kan masih lama,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Izil Azhar atau dikenal Ayah Merin mendatangi kantor pemenangan Mualem sebagai Cagub Aceh, di Lamprit, Jumat malam, 19 September 2015. Ketua Tameng Nanggroe Aceh (TNA) atau Satgas PNA ini terlihat akrab dengan seluruh pengurus Sekretariat Pemenangan Muzakir Manaf yang hadir saat itu, seperti Teungku Jamaika, serta beberapa anggota KPA dari Aceh Besar.

Ayah Merin juga terlihat akrab dengan Mualem.

Kedatangannya ke kantor pemenangan Mualem ini tentu saja mengundang sejumlah tanya. Apalagi Ayah Merin merupakan salah satu politisi dari PNA yang sejatinya pernah berseberangan dengan Partai Aceh pada Pilkada lalu.

Hal inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan wartawan, apakah kedatangannya ke kantor pemenangan Mualem tersebut sebagai bentuk dukungan Ayah Merin di Pilkada 2017 mendatang?

Namun Ayah Merin yang mendapat pertanyaan ini hanya tersenyum lebar. Ia tidak menjawab dan hanya melempar senyum ke arah Mualem yang duduk di sisi kirinya. Mualem sendiri juga tersenyum lebar.

“Yang pasti kita ingin menyatukan semua pihak demi membangun Aceh,” katanya. (Baca: Ayah Merin Dukung Mualem?)

Selain Ayah Merin, salah satu politisi PNA lainnya yang juga mengaku telah bersikap untuk 2017 adalah Sofyan Dawood. Mantan Juru Bicara GAM Pusat yang juga turut mendirikan PNA bersama mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf ini mengaku akan mendukung Tarmizi Karim di Pilkada 2017 mendatang. (Baca wawancara Sofyan Dawood: Lon Dukung Tarmizi Karim)

Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya, Irwandi Yusuf, telah mengaku siap mencalonkan diri kembali di Pilkada 2017 nanti. Hal ini pernah disampaikan oleh Irwandi Yusuf melalui akun facebooknya dan dimuat di portalsatu.com pada pertengahan September 2015 lalu.[]

Ayah Merin Dukung Mualem Sebagai Cagub Aceh?

Ayah Merin Dukung Mualem Sebagai Cagub Aceh?

BANDA ACEH – Mantan kombatan eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Izil Azhar atau dikenal Ayah Merin mendatangi kantor pemenangan Mualem sebagai Cagub Aceh, di Lamprit, Jumat malam, 19 September 2015. Ketua Tameng Nanggroe Aceh (TNA) atau Satgas PNA ini terlihat akrab dengan seluruh pengurus Sekretariat Pemenangan Muzakir Manaf yang hadir saat itu, seperti Teungku Jamaika, serta beberapa anggota KPA dari Aceh Besar.

Ayah Merin juga terlihat akrab dengan Mualem.

Kedatangannya ke kantor pemenangan Mualem ini tentu saja mengundang sejumlah tanya. Apalagi Ayah Merin merupakan salah satu politisi dari PNA yang sejatinya pernah berseberangan dengan Partai Aceh pada Pilkada lalu.

Hal inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan wartawan, apakah kedatangannya ke kantor pemenangan Mualem tersebut sebagai bentuk dukungan Ayah Merin di Pilkada 2017 mendatang?

Namun Ayah Merin yang mendapat pertanyaan ini hanya tersenyum lebar. Ia tidak menjawab dan hanya melempar senyum ke arah Mualem yang duduk di sisi kirinya. Mualem sendiri juga tersenyum lebar.

“Yang pasti kita ingin menyatukan semua pihak demi membangun Aceh,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Ayah Merin, kandidat calon Wali Kota Sabang dari Partai Aceh, juga mengaku siap jika diusung dan diberi kepercayaan. Hal ini diungkapkan Ayah Merin di Kantor Pemenangan Mualem di Lampriet, Kota Banda Aceh, Jumat malam 19 September 2015.

Lon siap. Kali nyoe kiban keputusan Mualem (Saya siap. Kali ini bagaimana keputusan Mualem),” kata Ayah Merin di depan Mualem yang kebetulan di tempat tersebut.

Mualem terlihat tersenyum lebar saat mendengar penuturan Ayah Merin. Ayah Merin juga mengatakan siap memberi yang terbaik jika terpilih mewakili Partai Aceh.

Insya Allah, sama-sama ta meudoa (sama-sama kita berdoa),” kata pria yang akrab dengan Mualem ini.

Seperti diketahui, Ayah Merin merupakan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang beroperasi di wilayah Sabang saat konflik dulu. Dia bergabung dengan GAM setelah desersi dari TNI Angkatan Laut. Setelah Aceh berdamai dengan Jakarta, khususnya di Pilkada lalu, Ayah Merin pernah memutuskan bergabung dengan Partai Nasional Aceh (PNA) besutan Irwandi Yusuf. Saat itu, dia turut mendapat kepercayaan di partai orange itu sebagai ketua satgas.[] (bna)

Nek Putroe Terima Bantuan dari Irwandi Yusuf

Nek Putroe Terima Bantuan dari Irwandi Yusuf

LHOKSUKON – Ti Ainsyah atau akrab dipanggil Nek Putroe, 75 tahun, warga Desa Beuringen, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, menerima bantuan dari mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Bantuan tersebut diantar langsung oleh kerabat Irwandi Yusuf, Ahmad Dani, ke gubuk tua milik Nek Putroe, Senin, 31 Agustus 2015.

Ahmad Dani kepada portalsatu.com mengatakan Irwandi mengaku prihatin melihat nasib Nek Putroe yang hidup di rumah tidak layak huni. Dia juga mengaku sedih terhadap penderitaan yang dialami oleh Nek Putroe.

Nek Putroe sama sekali tidak mendapat bantuan dari pemerintah setempat sehingga gubuk tua yang ditempatinya roboh. Nek Putroe lantas mengungsi ke rumah anaknya dan membangun sebuah gubuk dengan dinding ditempel batang pinang yang terbelah dua. Sementara atap diambilnya dari gubuk reotnya yang sudah rubuh.

“Sekian banyak anggaran yang dikucurkan untuk Aceh, kenapa masih belum peka dengan kehidupan rakyat Aceh seperti ini. Seharusnya Pemerintah Aceh fokus membangun Aceh dari segi perekonomian dan juga pembangunan Infrastruktur. Pemerintah harus sering blusukan ke perkampungan agar bisa memahami kondisi rakyat,” kata Ahmad Dani.

Dia mengatakan sudah 70 tahun Indonesia merdeka tetapi sama sekali belum bisa mensejahterakan orang-orang seperti Nek Putroe. Ahmad Dani mengatakan sudah saatnya Pemerintah Aceh melakukan survey ke lapangan untuk menstabilkan ekonomi masyarakat, baik fakir miskin serta kaum dhuafa.

Sementara itu, Syarifah, 40 tahun, anak kandung Nek Putroe mengatakan, sebelumnya geuchik telah berjanji rumah untuk ibunya akan direhab.

“Kami sudah ajukan proposal tapi dapat kabar rehab tersebut tidak jadi. Namun beberapa hari kemarin, saya disuruh buat proposal lagi,” ujarnya.

Nek Putroe terlihat terharu saat menerima bantuan tersebut. Dia juga berterima kasih karena masih ada orang yang peka dan mau membantu kehidupannya tersebut.[](bna)

Baca: Nasib Miris Nek Putroe yang Luput dari Pandangan Cekmad

[Foto]: Irwandi Yusuf Hadiri Peringatan HUT RI ke 70 di Blang Padang

[Foto]: Irwandi Yusuf Hadiri Peringatan HUT RI ke 70 di Blang Padang

BANDA ACEH – Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, hadir dalam peringatan HUT RI ke 70 di Blang Padang, Senin 17 Agustus 2015.

Irwandi tampil dengan kemeja hitam, baju putih dan gasi merah. Ia juga terlihat akrab dengan sejumlah undangan yang hadir.

Selain Irwandi, HUT RI ke 70 di Blang Padang juga dihadiri sejumlah tokoh Aceh lainnya, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, Ketua DPR Aceh, Pangdam serta lainnya.

Berikut foto-foto yang diabadikan portalsatu.com selama acara berlangsung:

irwandi 1

irwandi 2

irwandi 3

 

Banyak Elit PA Mencalonkan Diri, Aduen Mukhlis: Jika Itu Terjadi Berarti Titah Perjuangan Telah Diabaikan

Banyak Elit PA Mencalonkan Diri, Aduen Mukhlis: Jika Itu Terjadi Berarti Titah Perjuangan Telah Diabaikan

BANDA ACEH – Suhu politik Aceh menuju Pilkada 2017 mulai menghangat dengan mencuatnya nama sejumlah tokoh eks GAM yang akan bertarung di pesta politik lima tahunan tersebut. Isu tentang adanya sejumlah nama tokoh eks GAM yang akan maju melalui jalur independen disikapi serius oleh Pengurus Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA).

Sekjen DPA-PA, Mukhlis Basyah yang dimintai tanggapannya atas mencuatnya sejumlah nama tokoh eks GAM dalam bursa cagub untuk Pilkada 2017 secara tegas menyayangkan adanya tokoh eks GAM yang akan maju melalui jalur independen. “Jika benar ada tokoh eks GAM yang akan maju melalui jalur independen, sangat kita sayangkan,” kata Mukhlis Basyah yang akrab disapa Aduen Mukhlis menjawab Serambi, Jumat (24/7) malam.

Menurutnya, pascadamai Aceh telah diberi kewenangan berpolitik sesuai yang tertuang dalam Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) Nomor 11 Tahun 2006 yang antara lain disebutkan tentang hak Aceh memiliki partai politik lokal. (Baca: Mualem: Saya Akan Maju di Pilkada 2017)

Seperti penelusuran Serambi sebelumnya, setidaknya ada tiga tokoh eks GAM yang memastikan siap bertarung dalam Pilkada 2017, di antaranya Irwandi Yusuf, Muzakir Manaf, dan Zakaria Saman. Bahkan, Gubernur Aceh Zaini Abdullah juga mengisyaratkan maju kembali dalam Pilkada 2017. (Baca: Ditanya Soal 2017, Irwandi Yusuf: Insya Allah Nyalon)

Dari tiga nama tokoh eks GAM itu, dua di antaranya berasal dari partai yang sama (PA), yakni Muzakir Manaf dan Zakaria Saman. Muzakir Manaf disebut-sebut adalah calon kuat yang akan diusung PA, sementara Zakaria Saman mengaku akan maju menggunakan jalur perseorangan atau independen.

Keinginan Zakaria Saman itu ternyata disayangkan petinggi PA. “Kita diberikan kewenangan berpolitik, jadi kendaraan yang sudah ada kita manfaatkan. Pada pilkada lalu kita menentang keras tokoh GAM yang maju dengan jalur independen, kok sekarang justru kita sendiri yang melanggarnya,” kata Aduen Mukhlis menanggapi pernyataan Zakaria Saman. (Baca: Ini Alasan Zakaria Saman Tak Daftar Cagub Mewakili Partai Aceh)

Mukhlis mengatakan, jika Zakaria Saman tetap bersikeras maju lewat jalur independen, sangat disayangkan karena pasti akan terciptanya kubu-kubu di internal Partai Aceh. Jika pun maju, sebaiknya dibahas di internal partai untuk mencari solusi yang baik.

Menurutnya, selama ini Tuha Peut Partai Aceh menjadi panutan yang telah mengajarkan arti dari sebuah perjuangan, cara berperang dengan musuh, cara mengalahkan musuh, hingga mengajarkan untuk berdamai dengan musuh.

“Jangan sampai internal partai retak, kita berharap tidak ada yang mencari kekuasaan dengan melakukan berbagai cara dan tidak mengindahkan kesolidan dan kebersamaan. Jika itu terjadi, konsolidasi yang telah kita bina akhirnya kita cabik-cabik oleh kita sendiri,” ujar Aduen Mukhlis yang juga Bupati Aceh Besar. “Jika itu terjadi berarti titah perjuangan telah diabaikan,” lanjutnya.

Pada bagian akhir penjelasannya, Sekjen DPA-PA tersebut menegaskan, secara pribadi ia sama sekali tidak setuju jika ada tokoh eks GAM yang maju dengan jalur independen. Menurutnya, Tuha Peut Partai Aceh adalah sesepuh karena merupakan orang yang dekat dengan Wali Nanggroe (Alm Tgk Hasan Tiro). Mereka mempunyai tanggung jawab besar untuk partai dan untuk kesejahteraan rakyat Aceh. “Saya pribadi tidak setuju jika ada tokoh kita maju dengan jalur independen. Kalau beliau mau maju, ya maju dari partai. Seperi saya bilang tadi, keadaan itu nanti akan memecah belah kita. Semua mengharapkan yang terbaik untuk mengakomodir aspirasi masyarakat Aceh,” pungkas Aduen Mukhlis. (Baca: Jubir Partai Aceh: Kita Optimis Tidak Ada Perpecahan Suara di 2017)

Kecil harapan

Tanggapan terhadap sikap Zakaria Saman yang akan maju ke Pilkada 2017 lewat jalur independen juga disampaikan Wakil Ketua DPA-PA, Kamaruddin Abubakar. Kamaruddin yang akrab disapa Abu Razak mengatakan, saat ini pihaknya mempunyai ‘kendaraan politik’ yaitu partai lokal. “Tapi itu semua hak seseorang, walaupun kita bilang jangan, beliau tetap maju melalui jalur independen,” katanya.

Saat ini, kata Abu Razak, pihaknya hanya pasrah atas sikap yang diambil mantan menteri pertahanan eks GAM itu. Padahal, tambahnya, perjuangan politik melalui jalur independen kecil harapan untuk meraih kemenangan. Bahkan, selama dibuka peluang maju melalui jalur independen belum pernah ada kandidat yang memenangi pilkada, kecuali di tingkat provinsi. “Itupun hanya sekali, karena jalur independen baru berjalan dua kali,” ujarnya.
Namun demikian, dia berpesan kepada Zakaria Saman untuk siap bersaing secara sehat dan demokrasi pada Pilkada 2017. (Baca: Partai Aceh Disarankan Buka Pendaftaran Cawagub)

Sementara terkait keinginan Gubenur Aceh Zaini Abdullah yang juga menyatakan maju, Abu Razak masih meragukannya.(Baca: Doto Zaini Isyaratkan Maju Lagi)

“Partai Aceh hanya menginginkan hal terbaik untuk rakyat Aceh. Kami tidak menghalang-halangi siapa saja yang akan maju karena itu hak setiap orang, sekalipun orang tua kami. Kami dari PA tetap mengusung calon dan kita lihat hasilnya nanti,” tandas Abu Razak.[] sumber: Serambi Indonesia

Aryos Nivada: Irwandi Yusuf Calon Kuat di Pilkada 2017

Aryos Nivada: Irwandi Yusuf Calon Kuat di Pilkada 2017

BANDA ACEH – Peneliti Jaringan Survey Inisiatif, Aryos Nivada mengatakan Irwandi Yusuf dinilai calon kuat kandidat Gubernur Aceh pada Pilkada Aceh 2017.

Hal itu dikatakan Aryos kepada portalsatu.com di Banda Aceh, 9 Juli 2015.

“Hasil survey kami, pasangan Irwandi Yusuf menempati urutan nomor satu berdasarkan survey daerah Banda Aceh, Bireun dan Lhokseumawe,” ujar Aryos Nivada.

Dikatakannya, hasil Survey Jaringan Inisiatif dari tiga kabupaten kota itu menempatkan Irwandi Yusuf peringkat pertama, disusul Muzakir Manaf dan Ahmad Farhan Hamid.

Selain itu ia berharap agar calon Gubernur Aceh yang akan memimpin Aceh harus memiliki intelektualitas, pengalaman, basis masa, konsep, ketegasan, inovatif dan kreatif, transparan dan akuntabilitas dan dekat dengan masyarakat Aceh.

Sebagai informasi, sampai hari ini ada tiga kandidat Calon Gubernur Aceh yang sudah menyatakan akan maju dalam Pilkada 2017, yaitu Muzakir Manaf (Wakil Gubernur Aceh), Irwandi Yusuf (mantan Gubernur Aceh) dan Zakaria Saman (Tuha Peut PA). [] (mal)

 

RKIH Usulkan Irwandi Yusuf sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Kerja

RKIH Usulkan Irwandi Yusuf sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Kerja

RUMAH Kreasi Indonesia Hebat Aceh mengusulkan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, untuk ditempatkan pada posisi sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Demi mempertahankan keterwakilan putra Aceh di Jakarta, dukung mantan Gubernur Aceh untuk Menteri Pertahanan dalam paket reshuffle Kabinet Kerja Jokowi-JK,” kata Ketua RKIH Aceh, Iswadi, kepada portalsatu.com, malam tadi, Senin, 6 Juni 2015.

RKIH merupakan organisasi tempat berkumpulnya para pendukung Jokowi-JK dalam pilpres lalu. Irwandi dinilai cukup mumpuni untuk duduk di kabinet Jokowi-JK. Apalagi ketika pemilu lalu, Irwandi juga tim sukse Jokowi-JK. Dengan segala potensinya, RKIH Aceh menilai Irwandi merupakan produk daerah yang layak untuk tataran nasional.

“Dengan pengalaman beliau sebagai mantan petinggi GAM dan mantan Gubernur Aceh, sudah cukup lengkap secara pengalaman,” kata Iswadi yang juga Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia Aceh yang didirikan mantan Kapolri Dai Bakhtiar. “Saya berharap tokoh-tokoh Aceh menyampaikan pesan ini ke Jokowi-JK, ini juga akan mengangkat harkat dan martabat Aceh,” katanya.

Irwandi dinilai sebagai sosok yang representatif selaku tokoh Aceh yang memang tinggal di Aceh. Ia tak hanya berpengalaman di pertahanan saja, tapi juga menguasai ilmu pemerintahan.

“Pengalaman dan pendidikan beliau memungkinkan untuk dapat menjadi menteri, bukan hanya Menteri Pertahanan saja tapi di pos yang lain juga memungkinkan di kabinet Jokowi-JK. Rencananya kita juga akan mengirimkan surat untuk Presiden sebagai bahan pertimbangan dimasukkannya mantan Gubernur Aceh tersebut dalam kabinet Jokowi – JK,” katanya.[] (ihn)

Foto: Irwandi Yusuf @Istimewa

Irwandi Yusuf Minta Kontestan Pilkada 2017 Bisa Fairplay

Irwandi Yusuf Minta Kontestan Pilkada 2017 Bisa Fairplay

BANDA ACEH – Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) Irwandi Yusuf meminta agar di Pilkada 2017 mendatang para kontestan bisa fairplay. Hal tersebut disampaikan Irwandi Yusuf menyikapi menurunnya jumlah suara PNA di pemilihan legislatif beberapa waktu lalu dan persiapannya di 2017 mendatang.

“Harus ada fairplay dan harus ada penegakan hukum. Ini zaman Jokowi, bukan zaman SBY,” ujar Irwandi Yusuf kepada portalsatu.com, Senin, 6 Juli 2015.

Seperti diketahui, mantan Gubernur Aceh ini berniat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah 2017 mendatang. Dalam wawancara sebelumnya, Irwandi mengatakan hingga kini belum ada partai nasional yang meminangnya untuk melaju sebagai calon Gubernur Aceh mendatang.

Beberapa pihak sempat menyebut-nyebut ada dua nama politisi Partai NasDem yang diduga akan berpasangan dengan Irwandi Yusuf. Kedua nama tersebut adalah Teuku Irwan Djohan dan Zaini Djalil. “Irwan Djohan, ok, walau belum pengalaman. Zaini Djalil tidak mungkin karena sekampung.” (Baca Ditanya Soal 2017, Irwandi Yusuf: Insya Allah Nyalon)

Belakangan hari, Irwandi juga santer dikabarkan sedang melakukan pendekatan politik dengan Ridwan Abubakar alias Nek Tu yang kini menjabat sebagai Anggota DPR Aceh. Namun untuk kabar ini, Irwandi memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan portalsatu.com hingga berita ini ditayangkan.

Seperti diketahui, selain Irwandi Yusuf, Ketua DPA Partai Aceh Muzakir Manaf atau kerap disapa Mualem juga sudah mendeklarasikan akan mencalonkan diri di pemilihan kepala daerah mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Mualem dalam rapat bersama jajaran KPA Pase di Lhokseumawe beberapa waktu lalu.

Mualem dan Irwandi Yusuf dikenal sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang akhirnya mengambil jalur politik berbeda saat Pilkada 2012 lalu. Mualem yang berasal dari militer GAM memilih tetap eksis di Partai Aceh dan berduet dengan dr Zaini Abdullah sebagai calon gubernur dan wakil gubernur pada masa itu. Sementara Irwandi Yusuf memilih maju melalui jalur independen dan berpasangan dengan Muhyan Yunan.

Selain Mualem dan Irwandi, ada beberapa sosok lain yang disebut-sebut bakal melaju sebagai calon kepala daerah pada 2017 mendatang. Sosok tersebut diduga juga berasal dari elit Gerakan Aceh Merdeka. []