Tag: India

Militer India Tahan Burung yang Diklaim Mata-mata

Militer India Tahan Burung yang Diklaim Mata-mata

MANWAL – Seekor burung merpati diperiksa secara intensif setelah ditemukan benda seperti kabel di badannya serta ada pesan misterius pada ekornya.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (31/5/2015), otoritas India menahan burung tersebut dengan dugaan mata-mata, ketika burung itu mendarat di Desa Manwal, sekira 3,8 kilometer dari perbatasan dengan Pakistan.

Burung itu ditemukan bocah berumur 14 tahun yang merasa curiga ketika melihat pesan dalam Bahasa Urdu di ekor burung yang berbunyi ‘Tehsil Shakargarh, district Narowal’, diikuti sejumlah nomor. Lokasi penemuan berada di perbatasan dengan Provinsi Punjab, Pakistan. | sumber: okezone.com

430 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di India

430 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di India

HYDERABAD – Lebih dari 430 orang tewas di dua negara bagian India akibat gelombang panas yang mengakibatkan suhu di dua daerah itu mencapai 50 derajat Celcius. Demikian dijelaskan pejabat setempat, Senin (25/5/2015).

Para pejabat memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah, sementara informasi jumlah korban masih terus dikumpulkan dari beberapa wilayah negara bagian Telangana yang paling parah terkena gelombang panas ini.

Sebagian besar wilayah India, termasuk ibu kota New Delhi, selama beberapa hari terakhir diserang gelombang panas yang dikhawatirkan akan memicu putusnya aliran listrik.

Suhu tertinggi terjadi di negara bagian Telangana dan Andhra Pradesh. Pemerintah negara bagian Andhra Pradesh mengimbau para buruh agar tidak bekerja terlalu lama dalam udara panas setelah pekan lalu 246 warga negara bagian itu meninggal dunia akibat gelombang panas.

“Sebagian besar korban tewas adalah mereka yang terekspos sinar matahari langsung dan rata-rata berusia di atas 50 tahun dan berasal dari kelas pekerja,” kata P Tulsi Rani, komisioner departemen penanggulangan bencana Andhra Pradesh.

Rani menambahkan, meski korban tewas sudah dilaporkan jatuh sejak Senin pekan lalu, namun jumlah korban memuncak di akhir pekan di saat udara panas mencapai puncaknya.

“Kami meminta warga untuk melakukan pencegahan dini dengan menggunakan payung, topi, minum banyak air dan susu serta menggunakan pakaian berbahan katun,” tambah Rani.

Sejak pertengahan pekan lalu 188 orang tewas di Telangana meski jumlah ini masih harus dipastikan dan nampaknya masih akan bertambah. Demikian seorang pejabat departemen penanggulangan bencana Telangana, D Vani.

Sejumlah korban tewas juga dilaporkan jatuh di negara bagian Rajashtan dalam beberapa hari belakangan, termasuk seorang perempuan yang jatuh pingsan dan tewas di tepian jalan kota Bundi, seperti dikabarkan kantor berita UPI.

Di kota Kalkuta, serikat pengemudi taksi mengimbau para pengemudi untuk tak berada di jalanan antara pukul 11.00 hingga 16.00 karena panas yang terlalu menyengat.[] sumber: kompas.com

Setahun Dibui di India, Keluarga Nelayan Aceh Ini Akhirnya Dibebaskan

Setahun Dibui di India, Keluarga Nelayan Aceh Ini Akhirnya Dibebaskan

MEULABOH – Setelah setahun lebih terpisah dengan suami serta kedua putranya, Cut Anasih (40) keluarga nelayan warga Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, kini kembali utuh.

“Alhamdulillah, suami dan dua anak laki-laki saya sudah kembali dipulangkan dari India, awalnya mereka sempat tiga bulan hilang tanpa ada kabar setelah pergi melaut pada April 2014 tahun lalu. Namun masuk bulan ke empat saya mendapat kabar suami dan dua putra saya masih selamat dan telah ditangkap di India karena mereka terdampar melewati batas perairan Laut Andaman,” kata Cut Anisah.

Sejak Kamaruzzaman (58) suami, dan dua anaknya Aan Anzarna (22) serta Irwan Saputra (17) hilang ketika pergi melaut pada 11 April 2014 lalu, Anisah mengaku sempat putus harapan untuk bisa kembali berkumpul utuh dengan keluarganya. Kehilangan suami dan dua putranya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga membuatnya bingung dan stres berkepanjangan.

“Sejak mereka hilang saya bingung tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kebutuhan sehari hari waktu itu dibantu oleh famili saya, karena saya sudah tidak bisa bekerja apa-apa,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, satu keluarga nelayan terdiri dari ayah dan dua anak laki-lakinya itu ditangkap karena karena memasuki perairan Laut Andaman, India. Awalnya, kapal yang mereka tumpangi terseret arus saat mesin rusak hingga keluar dari perbatasan perairan laut Indonesia.

“Mesin kapal mati sehingga kami diseret arus, setelah saya perbaiki dan mau kembali ke Aceh tiba-tiba datang polisi India mengejar kami dan sempat mengeluarkan tiga kali tembakan, sehingga saya langsung berhenti, setelah diperiksa kelengkapan dokumen kami ditangkap dan langsung dibawa ke India,” kata Kamaruzzaman.

Tiga nelayan Asal Meulaboh, Aceh Barat ini kemudian menjalani proses persidangan karena dituduh telah mencuri ikan di perairan laut India. Kamaruzzaman dan Aan masing-masing vonis satu tahun penjara sejak 16 April 2014 lalu, sementara Irwan Saputra satu anak laki-lakinya itu langsung dipulangkan ke Aceh karena masih di bawah umur.

“Kami divonis satu tahun, sementara anak saya yang kecil langsung dipulangkan karena saat itu masih 17 tahun sehingga dia langsung dideportasi,” kata dia.

Mereka dipulangkan melalui bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang Aceh Besar Senin (4/5/2015) kemarin.[] sumber: kompas.com

Heboh, Bayi Titisan ‘Dewa’ Lahir di India

Heboh, Bayi Titisan ‘Dewa’ Lahir di India

NEW DELHI — Seorang bayi terlahir dengan kelainan anggota tubuh di kota kecil Dumri Isri, New Delhi, India. Bayi cacat ini justru dianggap sebagai titisan dewa dan dipuja masyarakat India.

Seperti dilansir dari The Mirror, Jumat (24/4), bayi laki-laki yang lahir dengan empat tangan dan empat kaki ini lahir cacat dari seorang ibu bernama Ureda Khatun. Bentuk fisiknya dianggap sebagai reinkarnasi dari Dewa Ganesha.

Ganesha adalah salah satu dewa hindu yang sangat khas dengan empat tangan dan belalai gajahnya. Dewa ini merupakan salah satu Tuhan yang disembah para penganut agama Hindu.

Keunikan bayi yang belum diberi nama ini terdengar ke seluruh penjuru India. Bahkan, seorang laki-laki Kuntalesh Pandey rela menempuh 72 mil untuk melihat anak tersebut.  “Ketika teman saya mengirimi gambarnya saya mengira itu hanya photoshop tetapi saat saya melihat secara langsung itu benar nyata,” kata Kuntalesh.

Berbondong-bondong masyarakat sekitar datang untuk menyembah bayi yang dinilai suci tersebut. Bayi ini bukan yang pertama dipuja masyarakat India karena kelainan fisiknya. Tahun lalu, bayi lahir dengan ekor sepanjang tujuh inci juga dipuja-puja sebagai turunan dewa. | sumber: republika.co.id

Foto: Bayi dianggap titisan Ganesha/The Mirror

Terdampar di India, Dua Nelayan Aceh Akan Dipulangkan

Terdampar di India, Dua Nelayan Aceh Akan Dipulangkan

Banda Aceh – Dua nelayan asal Aceh yang terdampar dan tertangkap di Andaman, India, dibebaskan oleh pemerintah setempat setelah sempat setahun dipenjara. Pembebasan mereka sesuai putusan pengadilan pada 26 April mendatang.

Mereka adalah Kamaruzzaman, 55 tahun, dan Aan Anzalna, 20 tahun, asal Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Panglima Laot Aceh (lembaga adat nelayan), Miftachuddin Cut Adek, sesuai dengan surat faksmile yang diterimanya dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di New Delhi.

Isi beritanya, dua nelayan Aceh akan dibebaskan. “Setelah putusan dikeluarkan, mereka akan langsung dideportasi ke Indonesia,” katanya kepada Tempo, Jumat, 17 April 2015.

Pada pertengahan April 2014, Kamaruzzaman beserta dua anaknya Aan Anzalna dan Iwan Saputra, 16 tahun, berangkat dari Aceh untuk mencari ikan menggunakan boat kecil. Mereka kemudian terbawa arus dan terdampar di perairan Andaman, India.

Kepolisian setempat menangkap ayah dan anak itu. Belakangan karena Irwan masih di bawah umur, otoritas India melepaskannya dan dipulangkan ke Aceh. “Kamaruzzaman dan Aan kemudian diseret ke pengadilan.”

Di pengadilan, mereka diputuskan bersalah karena memasuki wilayah India tanpa dokumen resmi dan menangkap ikan di sana. Jaksa menuntut mereka delapan tahun penjara.

Panglima Laot dan pemerintah Aceh meminta pihak KBRI untuk mengadvokasi kasus tersebut. “Advokasi berhasil, mereka dibebaskan setelah setahun di penjara. Alasan yang mendapat perhatian India, karena mereka adalah nelayan tradisional dengan kapal kecil,” kata Mifctah.

Pengadilan India membebaskan mereka pada 26 April nanti dengan denda sekitar Rp 400 ribu. Kata Mifctah, pihak KBRI nantinya yang akan memfasilitasi kepulangan mereka ke Indonesia, berkoordinasi dengan pemerintah Aceh. | sumber: tempo.co

Hari Ini, 800 Penganut Hindu Masuk Islam di India

Hari Ini, 800 Penganut Hindu Masuk Islam di India

INDIA – Sebanyak 800 penganut Hindu di Rampur, India resmi memeluk Islam, Rabu (15/4). Jalan menuju hidayah didapatkan 800 dalit Valmiki, kelompok kasta terendah di India usai mereka tak lagi mendapatkan keadilan dari pemerintah. Kaum dalit merupakan kelompok dalam kelas sosial paling rendah di India. Mereka biasa bekerja sebagai penyapu jalanan dan membersihkan kotoran manusia.

800 dalit Valmiki sebelumnya memberi ancaman kepada pemerintah Rampur, yang sewenang-wenang menggusur permukiman mereka untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Menurutnya, memeluk Islam merupakan jawaban dari segala penindasan kasta sosial yang selama ini mereka dapatkan.

Hakim distrik di Rampur, Chandra Prakash Tripathi menolak memberi komentar terhadap 800 warganya yang akhirnya memilih memeluk Islam. Hanya saja, hakim menegaskan sesungguhnya langkah yang diambil oleh 800 dalit itu tidak akan bermanfaat sedikitpun.

“Mereka masuk Islam jelas harus memahami, bahwa ini tidak akan membantu mereka dengan cara apapun,” kata Chandra, dilansir Times of India, Rabu (15/4).

Sementara itu, sentimen anti-Islam di India sendiri cenderung meningkat. Sebelumnya, Pertumbuhan penduduk muslim India dituding menjadi ancaman bagi kelangsungan masyarakat Hindu di sana. Salah satu pimpinan Hindu di India, Sadhi Deva Thakur, meminta pemerintah India untuk memberlakukan pemandulan terhadap Muslim India, termasuk penganut Kristen.

“Populasi Muslim dan Kristen berkembang dari hari ke hari,” kata Thakur seperti dikutip Times of India, Ahad (12/4). Menurut wakil presiden All India Hindu Mahasabha itu, meningkatnya jumlah minoritas agama akan menjadi ancaman bagi umat Hindu. | sumber: Republika.co.id

Inilah Wali Kota Muslimah Pertama di India

Inilah Wali Kota Muslimah Pertama di India

NEW DELHI – Afsana Muhammad Badeeh, 24 tahun, membuat sejarah baru di India. Ia terpilih menjadi wali kota Muslimah pertama di Gujarat.

Melansir dream.co.id, Senin, 6 April 2015, selain sebagai Muslimah, Afsana juga tercatat sebagai wali kota termuda. Fakta yang tidak pernah terjadi di India sebelumnya.

Afsana berasal dari desa Kankut, desa dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Ia meraih sebanyak 4.000 suara, yang mengantarnya menjadi wali kota Muslimah termuda di negara bagian tersebut.

Afsana selalu melibatkan diri pada pertemuan warga dua kali seminggu, lalu pergi ke sawah keluarganya dengan mengendarai sepeda. Ia juga kerap menjual susu sapi dan dan manik-manik yang telah disiapkannya kepada warga.

Dia memiliki cita-cita untuk bekerja keras menyediakan fasilitas yang memadai bagi petani. Afsana juga bertekad menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak gadis di desanya. | sumber : dream

Jeumpa, Si Ceudah dari India

Jeumpa, Si Ceudah dari India

Bungong Jeumpa, Bungong Jeumpa

Meugah di Aceh

Bungong teuleubèh, teuleubèh indah lagoina

Putéh kunèng, meujampu mirah

Bungong si ulah indah lagoina

Putéh kunèng, meujampu mirah

Bungong si ulah indah lagoina

BAGI orang Aceh lirik itu tentu tak asing lagi. Tanpa menyebutkan judul, orang Aceh sudah menghafalnya. Secara harfiah, lagu ini menceritakan sekuntum bunga indah rupawan perpaduan warna putih dan kuning bernuansa kemerahan.

Jika merujuk tentang kembang, syairnya adalah tentang “Bungong Jeumpa (Bunga Jeumpa)” yang memang sangat populer di Aceh, dan ditabalkan sebagai maskot flora Provinsi Aceh.

Namun, apakah hanya kepopuleran itu saja yang menginspirasi seniman menciptakan lagu yang tetap hidup di tengah masyarakat Aceh hingga kini?

Beberapa referensi menyebutkan, Jeumpa bukan bunga biasa. Tumbuhan purba ini menjadi identitas perempuan Aceh. Aromanya yang harum dianggap mewakili keperkasaan perempuan Aceh yang tak hanya hidup sebagai pelengkap bagi pria.

Disebutkan, identitas itu sudah ada sejak zaman Kerajaan Pasai. Konon, di masa itu ada Putri Jeumpa yang terkenal molek dan cerdas. Kecantikannya diibaratkan perpaduan Arab, Parsi, India, dan Melayu. Si Putri berkulit putih kuning kemerah-merahan. Mirip lirik dalam lagu “Bungong Jeumpa”.

Jeumpa juga menjadi nama sebuah kerajaan di abad ke-7 Masehi, yaitu Kerajaan Jeumpa yang dipimpin Raja Jeumpa. Penulis Ibrahim Abduh dalam sebuah karyanya yang disadur dari hikayat “Radja Jeumpa” menyebutkan, kerajaan ini berada di sekitar perbukitan, mulai dari pinggir Sungai Peudada sampai Pante Krueng Peusangan. Istana Radja Jeumpa terletak di Desa Blang Seupeueng, sekarang disebut Cot Cibrek Pinto Ubeut.

Dikisahkan, pada masa pra-Islam, di daerah itu berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun-temurun oleh seorang Meurah. Kemudian datang seorang pemuda bernama Abdullah yang memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng melalui Kuala Jeumpa dengan kapal niaga dari India belakang (Parsi) untuk berdagang.

Abdullah menetap dan menyebarkan Islam. Ia dinikahkan dengan putri raja bernama Ratna Kumala. Setelah mertuanya meninggal, Abdullah menggantikan posisi raja. Wilayah kekuasaan Abdullah kemudian diberi nama Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di India belakang (Persia) yang bernama Champia, artinya harum, wangi, dan semerbak.

Sebetulnya cerita itu juga menyiratkan, Bungong Jeumpa bukanlah tanaman endemik di Aceh. Bunga itu dipercaya berasal dari India dengan nama Champaca Champa. Mirip nama asli kerajaan di masa pra-Islam. Bahkan, bunga itu tak hanya di Aceh, tapi juga ada di Jawa, Bali, Sulawesi, hingga Maluku, dengan nama yang berbeda-beda. Di Vietnam bunga ini dirawat dengan baik, namanya Su Nam atau Su Ngoc Lan.

Kendati demikian, hanya Aceh yang menabalkan bunga ini sebagai simbol flora provinsi.  Bagi masyarakat Aceh bunga ini sangat istimewa. Bentuk yang anggun dan keharuman yang tajam menjadikannya sebagai lambang kesucian dan identitas.

Orang tua zaman dulu sering menyelipkan kuntum Bungong Jeumpa di gulungan rambutnya atau di saku baju sebagai parfum alami. Di upacara-upacara adat seperti pesta perkawinan dan kematian, bunga ini juga sering digunakan untuk wewangian. Sering juga dicampur dengan minyak kelapa untuk meminyaki rambut atau sebagai minyak gosok.

***

jeumpa @flickr-com

LAMAN Wikipedia menjelaskan, Bungong Jeumpa merupakan tumbuhan purba, dapat dianggap sebagai fosil yang hidup karena asal-usulnya dapat ditelusuri hingga 95 juta tahun lalu.

Bungong Jeumpa menyembul di pucuk dedaunan pohon yang tingginya dapat mencapai 25 meter dan diameter 50 sentimeter. Batangnya lurus, bulat, dengan kulit batang halus cokelat keabu-abuan, sedangkan cabangnya tumbuh tidak teratur. Daun-daunnya tumbuh berselang-seling dan tunggal. Permukaan daun di bagian bawah berbulu halus dan memberikan sensasi lembut jika disentuh.

Pohon ini juga memiliki buah berwarna cokelat yang terdiri dari 2-6 biji dan terangkai dalam karangan yang banyak seperti anggur. Setelah tersebar, biji-bijinya akan tumbuh dalam waktu sekitar tiga bulan, selanjutnya mulai berbunga pada usia 4-5 tahun.

Minyak atsirinya digunakan sebagai bahan parfum dan kosmetik. Selain sebagai bahan baku parfum, batangnya juga berguna untuk industri mebel. Sementara bunga dan akarnya konon juga bermanfaat untuk obat-obatan.

Jeumpa Kunèng atau Cempaka Wangi merupakan satu dari sekitar 50 spesies anggota genus Michelia. Di Aceh, selain Jeumpa Kunèng, masyarakat juga mengenal Jeumpa Putéh (Michelia Alba). Spesies ini merujuk pada Cempaka berdasarkan kemiripan rupa dan aromanya.

Jeumpa Putéh ini dalam masyarakat Jawa dikenal dengan nama Kantil dan menjadi maskot flora Provinsi Jawa Tengah. Selain itu juga ada Cempaka Gondok (Magnolia Liliifera) dan Cempaka Mulia (Magnolia Figo, sinonim dari Michelia Figo (Lour.) Spreng). Karena bentuknya yang indah, bunga ini juga menjadi tanaman hias yang dibudidayakan.

Infografis:

Klasifikasi Ilmiah |Kerajaan : Plantae | Divisi : Magnoliophyta | Kelas : Magnoliopsida | Ordo : Magnoliales | Family : Magnoliaceae | Subfamily : Magnolioideae | Genus : Michelia | Spesies : Michelia Champaca.[]

Kesal, Wanita Ini Kencingi Air Teh Mertua Selama Setahun

Kesal, Wanita Ini Kencingi Air Teh Mertua Selama Setahun

NEW DELHI – Wanita asal Negara Bagian Madya Pradesh, India, bernama Rekha Nagvanshi (30), tega melakukan tindakan senonoh selama satu tahun kepada ibu mertuanya. Ia kerap buang air kecil ke dalam teh seduhan yang disuguhkan kepada mertuanya.

Nagvanshi tertangkap basah ketika sang ibu mertua, Suraj (60), masuk ke dapur dan mendapati dirinya sedang berjongkok di atas teko teh. Sontak, si ibu mertua pun marah mengetahui kejadian tidak sopan tersebut.

Awalnya Nagvanshi menolak tinggal bersama mertuanya. Ia berdalih hidupnya tidak bahagia dan miskin, dan lebih memilih pulang ke pangkuan ibu kandungnya.

“Ia sangat tidak bahagia akan pernikahannya dan suaminya memperlakukannya bagai budak dan ia sudah muak dengan itu semua,” ungkap Alia Kohli(32), teman dekat Nagvanchi, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat(3/4).

Sang suami, Deepak (34), memintanya istrinya kembali demi putri mereka yang masih berumur empat tahun. Dia setuju namun dengan syarat sang suami harus memperbaiki sikap kepadanya.

Mertuanya berdalih, kini anaknyalah yang diperbudak sang istri, intervensi mertua terhadap keluarga tersebut membuat Nagvanchi merasa tidak betah dan menjadi motif melakukan tindakan senonoh itu.

“Jadi saya kira itulah motivasi Rekha melakukan hal demikian kepada sang mertua,” tambah Alia.

“Meskipun Rekha nampak tidak bersahabat, namun ia selalu menyuguhkan teh kepada kami dengan ramah. Namun pada satu ketika aku pergi ke dapur dan menemukan dia sedang mengencingi teko yang berisi teh tersebut,” ungkap pengakuan sang ibu mertua.

Pihak kepolisian setempat menolak mendalami kasus tersebut dan berdalih itu adalah persoalan internal keluarga tanpa unsur kriminalitas, namun sang ibu mertua menuntut hukuman setimpal atas perbuatan tersebut. Kini, Nagvanchi dan sang suami telah hidup secara terpisah dari intervensi sang mertua.[] sumber: merdeka.com

Pemerintah India Cabut UU ITE Kontroversial yang Membatasi Kebebasan Berpendapat

Pemerintah India Cabut UU ITE Kontroversial yang Membatasi Kebebasan Berpendapat

Para aktivis kebebasan media internet memuji keputusan Mahkamah Agung India yang mencabut sebuah undang-undang kontroversial yang dinilai melanggar kebebasan berpendapat di internet, Selasa (24/3).

Namun, di India yang diperkirakan akan memiliki pengguna internet terbesar di dunia pada tahun 2018, muncul beberapa keprihatinan tentang penyensoran yang masih terjadi di internet.

Mahasiswa fakultas hukum berusia 24 tahun – Shreya Singhal – yang mempelopori perjuangan untuk mencabut UU itu mengatakan, yang mendorongnya mengajukan petisi ke Mahkamah Agung adalah penangkapan dua remaja putri pada tahun 2012 karena memasang dua pesan yang tampaknya tidak berbahaya. Seorang remaja putri mengecam penghentian kegiatan di kota Mumbai setelah meninggalnya seorang pemimpin nasionalis Hindu, Bal Thackeray dan seorang remaja putri lainnya memberi tanda “suka” pada pesan yang dipasang itu.

Seperti jutaan orang lainnya, Singhal terkejut mendengar penangkapan kedua remaja itu karena menurutnya bisa jadi ia adalah salah seorang yang juga memasang komentar serupa.

“UU itu menghukum orang yang menyatakan pendapat mereka melalui internet, padahal jika mereka menyampaikan pandangan itu lewat TV atau surat kabar, mereka tidak ditangkap,” kata Singhal.

Ketika mencabut UU itu hari Selasa (24/3) Mahkamah Agung India mengatakan UU Teknologi Informasi itu samar-samar, dan tidak menjelaskan apa yang bisa dinilai menimbulkan “ketidaknyamanan” atau “gangguan serius”. Hakim mengatakan UU itu menimbulkan dampak yang mengerikan pada kebebasan berpendapat karena langsung menghantam dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan berpendapat.

UU itu juga menimbulkan keprihatinan setelah beberapa orang baru-baru ini ditangkap karena memasang “pesan yang dianggap tidak pantas”. Dalam suatu peristiwa terbaru, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun di negara bagian Uttar Pradesh ditangkap dan dibebaskan dengan uang jaminan karena memasang pesan yang dianggap “menghina” tentang pemimpin partai lokal Azam Khan. Beberapa orang lain yang juga sempat dijerat UU Teknologi Informasi itu adalah seorang pakar hukum di Kolkata dan seorang kartunis di Mumbai.

Pemerintah sebelumnya – yang meloloskan UU itu – mengatakan UU Teknologi Informasi itu perlu untuk memberantas pelanggaran dan pencemaran nama baik di internet, tetapi beberapa pengecam mengatakan UU itu digunakan oleh partai-partai politik untuk menekan menindas para pembangkang dan pengecam.

Putusan Mahkamah Agung juga menyulitkan pemerintah untuk memerintahkan perusahaan-perusahaan internet mencabut pesan internet.

Tetapi para aktivis kebebasan berpendapat mengatakan keprihatinan tentang penyensoran di internet belum sama sekali hilang. Mahkamah Agung memperkuat sebuah UU yang mengijinkan pemerintah memblokir situs-situs, dengan mengatakan tindakan itu disertai dengan berbagai persyaratan yang memadai.

Singhal – mahasiswa yang mempelopori pertarungan hukum itu mengatakan “sangat terharu” menanggapi kemenangan tentang kebebasan di internet itu.

Pandangannya juga tercermin dalam posting-posting di Twitter dan Facebook oleh orang di India – negara berpenduduk 1,2 juta orang dimana pertumbuhan akses internet berkembang sangat pesat. | sumber : nationalgeographic