Tag: HUT RI

Begini Cara Pemuda Pantonreu Aceh Barat Peringati Damai dan Kemerdekaan

Begini Cara Pemuda Pantonreu Aceh Barat Peringati Damai dan Kemerdekaan

MEULABOH – Persatuan Pemuda Peduli Pantonreu di Aceh Barat menggelar doa dan zikir bersama untuk memperingati 10 tahun perdamaian Aceh dan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Acara ini digelar di Masjid Gampong Mugo Rayeuk, Kecamatan Pantonreu, Aceh Barat pada Kamis, 20 Agustus 2015 dan menjalin kerja sama dengan Majelis Zikrullah Aceh Cabang Aceh Barat yang dipimpin Teungku Salman Saf.

Ketua Umum P4, Darlis, mengatakan Kecamatan Pantonreu merupakan salah satu kecamatan yang parah pada saat konflik melanda Aceh. Banyak korban jiwa di kecamatan tersebut, juga rumah masyarakat yang dibakar.

“Anak yatim, istri yang menjadi janda masih banyak yang trauma di daerah ini. Maka dalam hal ini kami mengajak masyarakat untuk berzikir sebagai rasa syukur atas keindahan perdamaian ini. Tidak ada lagi rasa takut, bebas mencari nafkah dan yang terpenting kita doakan saudara-saudara kita yang telah meninggal pada masa konflik dulu,” kata Darlis kepada portalsatu.com, Jumat, 21 Agustus 2015.

Bupati Aceh Barat, H. Alaidinsyah yang diwakilkan staf ahli Samsuar, mengapresiasi kegiatan yang dibuat oleh pemuda ini. Di saat banyak pemuda lain yang terjerumus ke hal-hal negatif seperti narkoba dan judi, para pemuda di Kecamatan Pantonroe justru menggagas acara positif seperti itu.

“Semoga dengan acara zikir seperti ini para anak muda bisa membentengi dirinya dari segala perbuatan maksiat dan meningkatkan keimanannya,” kata Samsuar.

Ia juga berpesan agar pemuda menjaga perdamaian Aceh demi kesejahteraan rakyat. Samsuar berharap majelis zikir ini bisa dibuat berkala di Masjid Agung Meulaboh.

Ketua Zikrullah Cabang Aceh Barat, Zulkifli Andi Govi, mengatakan acara zikir ini akan terus digagas ke seluruh pelosok desa di Aceh Barat. Dari 12 kecamatan yang ada di kecamatan itu, hanya empat kecamatan lagi yang belum diadakan zikir bersama.

“Ke depan insya Allah zikir terus menggema di Aceh Barat dan rakyat Aceh Barat hidup dengan damai dan tenteram dalam lindunggan Allah SWT,” kata Govi.

Selain menjadi kecamatan yang parah dilanda konflik, Kecamatan Pantonreu juga daerah tempat disemayamkannya pahlawan nasional Teuku Umar Johan Pahlawan.[]

‘Mematikan’ Karnaval di Aceh

‘Mematikan’ Karnaval di Aceh

Oleh: Muhammad Saifullah

SUNGGUH suatu hiburan gratis yang sangat luar biasa di Aceh dan di Kota Banda Aceh khususnya. Sebuah kegiatan yang banyak menghabiskan anggaran ini tertuang hanya untuk hiburan semata berupa karnaval. Kegiatan hiburan yang hanya untuk dinikmati oleh masyarakat umum secara gratis. Kegiatan yang hanya menyisakan puisng-puing sampah dan kelelahan bagi para peserta dan petugas.

Bulan Juli kemarin, kita telah dihibur dengan kegiatan karnaval yang diadakan pada saat malam menjelang Raya Idul Fitri. Kegiatan ini menjadi lebih istimewa karena dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu, ini merupakan suatu kebanggaan bagi Aceh dan khususnya masyarakat Kota Banda Aceh. Karena jarang sekali kegiatan karnaval seperti ini dihadiri oleh seorang Presiden.

Sebulan kemudian, tepat pada tanggal 18 Agustus kemarin. Masyarakat Aceh dan khususnya Kota Banda Aceh juga baru dihibur dengan kegiatan serupa. Kegiatan yang dibuat dalam memperingati Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia telah banyak meninggalkan euforia dan duka di dalamnya. Sama seperti kegiatan yang telah dilaksanakan pada bulan kemarin, tetapi yang membedakan adalah kegiatan ini diselenggarakan pada siang hari.

Sungguh kegiatan yang luar biasa diselenggarakan oleh Dispora Provinsi Aceh ini. Dengan menampilkan beberapa atraksi yang membuat kita kagum dari para peserta yang telah dihias dengan beberapa pakaian, mulai dari pakaian adat, para pejuang sampai pakaian yang didesain sedemikian rupa. Kegiatan yang diikuti oleh beberapa peserta dari berbagai lembaga dan organisasi masyarakat ini terbilang sukses. Dengan melibatkan peserta dengan tingkatan usia yang berbeda-beda, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Antusias peserta dan masyarakat juga sangat luarbiasa. Terlihat peserta dengan semangat berjalan melenggak-lenggok sambil memakai hiasan yang super ribet dan masyarakat dengan senang hati mengabadikan gambar serta video meski cuaca saat itu tergolong cukup panas.

Di balik semua kegiatan itu, ada beberapa buah bibir yang sangat kurang enak didengar oleh telinga ini. Di mana, pada saat acara karnaval kemarin banyak peserta yang lemas terutama anak-anak karena telah lama menunggu dimulainya acara. Selain itu, waktu yang dipergunakan juga sangat menyita kegiatan untuk melaksanakan ibadah. Karena kegiatan baru dimulai lewat pukul 14.00 WIB sampai hampir tiba waktu maghrib dan waktu salat Ashar terlewati begitu saja. Secara tidak langsung, kegiatan karnaval ini juga telah menjelekkan nama Aceh sebagai daerah Serambi Mekkah atau yang sedang menegakkan syariat Islam.

Kegiatan karnaval bukanlah suatu hiburan semata. Melihat permasalahan yang ada, ini menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah Aceh dan pihak penyelenggara. Di mana pemerintah ditantang untuk “Mematikan Kegiatan Karnaval” yang ada di Aceh?

Sudah sepantasnya pemerintah mengambil kebijakan akan hal ini. Mematikan kegiatan karnaval yang penulis maksudkan bukanlah menghentikan. Mematikan yang dimaksud adalah empat aspek dan dampak dari kegiatan tersebut. Keempat aspek tersebut adalah Melestarikan Budaya dan Menjaga Adat, Tingkatkan Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Nasionalisme (Mematikan).

Kegiatan karnaval itu harus menjadi alat untuk melestarikan budaya, serta menjaga adat Aceh. Dengan menampilkan kebudayaan-kebudayaan serta adat istiadat Aceh. Mengingat pengaruh globalisasi serta budaya luar yang begitu gencar masuk ke Aceh. Dan melalui karnaval ini kita lestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang kebudayaan yang kita miliki di Aceh.

Selain itu, kegiatan karnaval juga harus memiliki nilai untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Dengan menampilkan hasil karya yang ditemukan oleh pemuda atau generasi Aceh pada berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga menjadi sebuah motivasi bagi masyarakat Aceh dan generasi selanjutnya.

Kegiatan karnaval yang dilaksanakan harus mendukung sektor keagamaan. Di mana kegiatan karnaval dengan menampilkan yang membuat manusia selalu ingat kepada Sang Pencipta. Seperti pada peringatan Tsunami melanda Aceh, dengan menampilkan peragaan para korban pada saat Tsunami dan lemahnya manusia di mata Sang Pencipta. Selain itu, juga menampilkan gambaran penyiksaan manusia saat akhir zaman, dan penampilan yang lainnya.

Dan yang terakhir menampilkan karnaval untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan saling menghormati antara sesama masyarakat. Dengan menampilkan para pahlawan yang berjuang pada saat mempertahankan negara ini dari para penjajah. Terutama para pahlawan dari Aceh, agar masyarakat tahu siapa saja pahlawan yang telah berjasa bagi Indonesia berasal dari tanah rencong.

Kegiatan karnaval itu perlu dilaksanakan, asalkan kegiatan tersebut bukan hanya untuk sebuah hiburan semata. Tetapi juga sebagai pendorong untuk empat aspek ‘Mematikan’ kegiatan karnaval. Di samping itu, waktu yang dipergunakan untuk kegiatan karnaval juga harus diperhatikan agar tidak mengganggu kegiatan beribadah. Alangkah baiknya kegiatan karnaval dilaksanakan pada waktu pagi sampai menjelang zuhur, atau malam setelah waktu salat isya.

Melihat permasalahan yang terjadi pada saat karnaval, pemerintah dan penyelenggara ke depannya harus lebih siap menyelenggarakan kegiatan karnaval ini dengan sebaik-baiknya. Selain itu, pemerintah dan pihak penyelenggara juga harus memperhatikan aspek apa saja yang menjadi target dan apa dampak atau efek dari dilaksanakannya kegiatan. Sehingga kegiatan karnaval yang diselenggarakan bukan hanya menjadi hiburan semata bagi masyarakat Aceh. Namun juga menjadi penambah ilmu pengetahuan, wawasan, serta religius dan bisa menjadi sebuah daya tarik bagi para turis lokal maupun mancanegara untuk sektor pariwisata di Aceh. Sehubungan dengan itu, pemerintah juga harus memberikan imbauan kepada para peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan pada saat acara.

Kepada masyarakat yang menyaksikan karnaval juga harus ikut ambil andil dalam kesuksesan acara. Di mana masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melewati batas jalan saat menyaksikan parade karnaval. Meskipun ada pihak dinas kebersihan yang membersihkan tapi apa salahnya kita sedikit meringankan pekerjaan mereka.[] foto: portalsatu.com/Adi Gondrong

Penulis adalah mahasiswa Prodi Sejarah FKIP Unsyiah dan warga Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMAS) FKIP Unsyiah.

Agustus dan Bendera

Agustus dan Bendera

AGUSTUS di Aceh adalah bulan penuh gejolak. Sepanjang 70 tahun bangsa ini merdeka, sepanjang itu pula Agustus menjadi bulan paling tidak nyaman di Aceh. Pasca perdamaian bulan Agustus menjadi tambah penuh riak. Persoalan utama riak Agustus selalu menyangkut urusan bendera.

Sebelum damai soal bendera dan Agustus menjadi sangat sakral. Pada masa itu kekerasan yang terjadi terkait bendera sangat tinggi. Siapa saja bisa jadi korban persoalan bendera yang tidak sesuai keinginan pihak-pihak yang bertikai. Di masa damai bendera kembali menjadi soal. Yang membedakan adalah ranah domainnya.

Kalau dulu pendekatan yang dilakukan lebih ke pendekatan keamanan dan militeristik. Sekarang pendekatannya politis. Polemik soal bendera Bintang Bulan terus mengharu biru. Sejak disahkan oleh DPR Aceh pada 2013, nasib bendera Bulan Bintang jadi bola liar. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Aceh terkesan membiarkan ini mengambang.

Agustus ini kedua bendera itu membuat sejarah. Dalam waktu hampir bersamaan keduanya berkibar dalam kisah yang tidak umum. Sang saka Merah Putih dikibarkan di Cot Khan Gunung Halimun, Pidie. Mengapa di sini?

Gunung di pedalaman Pidie ini punya sejarah. Di sinilah Gerakan Aceh Merdeka diproklamirkan oleh Hasan Tiro. Namun sejak itu tempat ini tidak pernah lagi digunakan. Hanya dicatat dalam kisah-kisaha GAM. Namun entah apa yang mendasari TNI bersusah payah mengibarkan bendera Merah Putih di lokasi ini.

Secara psikologis bagi masyarakat yang mulai hidup normal tindakan ini malah tidak baik. Tindakan ini malah seperti mengangkat batang terendam. Memunculkan kembali kenangan dan memori masa silam yang mulai redup. Alasan TNI atau apa yang disampaikan mantan petinggi GAM Zakaria Saman, terasa hanya sebagai pembenaran.

Kita tidak bisa memahami logika TNI membangkitkan romantisme kisah perlawanan itu. Sejarah bisa dilupakan kalau tidak dikenang. Munculnya tindakan ini seperti mencongkel luka yang sudah berparut. Banyak yang melihat kasus ini sebagai upaya merusak suasana batin masyarakat yang mulai melupakan konflik.

Selanjutnya pengibaran bendera Bulan Bintang di depan Islamic Centre Lhokseumawe oleh anggota DPRK. Para anggota dewan dari Partai Aceh asal Aceh Utara dan Lhokseumawe menjadi pelaku. Mereka menganggap pengibaran itu sudah sah. Karena Pemerintah Pusat tidak pernah bersikap resmi sesuai undang-undang dalam menyatakan perihal sah atau tidak sahnya bendera Bintang Bulan.

Peristiwa ini membuat situasi politik di Aceh panas. Kedua kasus terkait bendera ini menghiasi Agustus kali ini. Agustus bagi Aceh adalah bulan luka penuh duka. Kita berharap hidup di negeri kesatuan ini sama dengan wilyah lain di negeri ini. Jangan lagi melihat Aceh dengan paradigma lama yang penuh kecurigaan.

Lihat saja pengibaran Merah Putih di seluruh Aceh. Apakah bisa dibuktikan nasionalisme orang Aceh? Sementara di wilayah lain tidak ada pengibaran bendera semasif itu. Rasa cinta atau sayang itu tidak bisa dipaksakan, harus datang dengan kerelaan. Kedua pihak ‘pendewa’ bendera harus memperbaiki cara pandang mereka.

Siapapun butuh simbol sebagai identitas. Tapi ada ruang damai yang harus dijaga, damai membutuhkan komitmen. Simbol atau bendera bukanlah agama yang harus takluk atas logika apapun. Sebagai manusia beragama para pihak harus sadar, ada hal lain yang diperintahkan yang wajib dijunjung yaitu persaudaraan. Persaudaraan dan nilai penghormatan sesama manusia lebih mendekatkan manusia ke syurga, bukan karena lembaran bendera.

Jangan lagi menggunakan bendera untuk memancing kekeruhan. Memancing pecahnya persatuan dan kesatuan. Maka jangan jadikan bendera sebagai iman atau agama. Karena bisa berujung pada kesyirikan yang menyeret seseorang ke neraka.[]

Foto: bendera Merah Putih raksasa di Cot Khan Gunung Halimun Pidie @istimewa

Karnaval Digelar Sebelum 17 Agustus, Hari Ini Langsa Sepi

Karnaval Digelar Sebelum 17 Agustus, Hari Ini Langsa Sepi

LANGSA – Usai peringatan hari kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2015 kemarin, Kota Langsa hari ini terlihat sepi. Pasalnya karnaval dan sejumlah kegiatan lainnya sudah digelar pada Sabtu, 15 Agustus 2015.

Salah seorang warga, Muksalmina, mengatakan peringatan HUT RI tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya pawai dan kegiatan yang identik dengan perayaan HUT RI lainnya digelar setelah upacara bendera Merah Putih.

“Kami warga lebih senang kalau usai upacara kemudian ditampilkan kendaraan hias, pawai karnaval dan perlombaan yang diselenggaran oleh muspida untuk memeriahkan kemerdekaan RI. Jadi tidak sepi seperti ini, masyarakatpun lebih senang begitu,” katanya.

Hal senada disampaikan siswi MAN 2 Langsa, Tika Adilla, menurutnya hari ini mereka sudah belajar seperti biasanya karena tidak libur.

“Juga tidak ada kegiatan yang diikuti untuk HUT ke-70 RI karena semua kegiatan sudah digelar pada 15 Agustus, sehingga hari ini tidak ada lagi yang harus kami ikuti dan di sekolahpun tidak ada perlombaan,” katanya.[] (ihn)

Foto: ilustrasi pawai karnaval HUT RI @portalsatu.com/Datuk Haris Molana

Pawai Kemerdekaan, Arus Lalu Lintas Banda Aceh Macet

Pawai Kemerdekaan, Arus Lalu Lintas Banda Aceh Macet

BANDA ACEH – Karnaval memperingati HUT ke-70 RI yang melintasi sejumlah ruas jalan pusat kota menyebabkan arus lalu lintas macet parah. Meskipun polisi telah menutup sebagian jalur protokol, tapi beberapa warga yang hendak menuju pusat kota terpaksa menunggu karnaval selesai untuk melanjutkan perjalanannya, Selasa, 18 Agustus 2015.

Amatan portalsatu.com di lokasi, beberapa ruas jalan yang terbilang macet parah adalah persimpangan trafick light Jalan Teungku Chik Di Tiro. Titik rawan kemacetan lainnya adalah Simpang Surabaya, Simpang Jabotape, Jalan STA Mahmudsyah dan Jalan Teungku Daud Beureueh. Beberapa pengguna jalan yang tertahan sempat protes dengan hal ini. Mereka juga turut menerobos lintasan jalan dengan menggunakan lajur trotoar.

Selain akibat penutupan dan pengalihan jalan, kemacetan ini juga disebabkan oleh beberapa warga yang hendak melihat karnaval, memarkir kendaraan sembarangan di tepian jalan.

“Parah kali udah kota kita ya, sedikit acara sudah macet,” kata salah satu pengguna jalan yang terpaksa melewati jalan-jalan tikus di Gampong Peuniti.

Beberapa siswa SMK Negeri 1 Mubarkey Ingin Jaya yang juga melintasi Jalan Tgk Chik Di Tiro ikut berteriak karena macet. “Panas euy. Jalan.”[]

Meriahkan HUT RI, Mahasiswa KKN Lamkuta Gelar Aneka Lomba

Meriahkan HUT RI, Mahasiswa KKN Lamkuta Gelar Aneka Lomba

SIGLI- Mahasiswa KKN kelompok P151 yang ditempatkan di Gampong Lamkuta, menggelar aneka lomba untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-70.

Sejumlah lomba yang dibuat yaitu lomba membawa kelereng, pancing botol, dan makan kerupuk yang ditujukan kepada anak-anak di desa setempat. Kegiatan yang digelar pada Senin, 17 Agustus 2015 itu disambut antusias oleh anak-anak.

Meskipun hanya perlombaan sesama dalam satu desa namun keceriaan dan kegembiraan tergambarkan pada wajah mereka.

“Senang ada lomba-lomba seperti ini, suka bisa tanding-tanding lomba sama kawan-kawan dan enak juga menang atau tidak menang, tidak ada yang sedih semuanya mendapat hadiah dari kakak-kakak KKN,” kata Nopi, salah satu peserta lomba kepada portalsatu.com kemarin sore.

Selain memperingati hari 17-an, perlombaan ini juga merupakan ajang mendekatkan diri dengan anak-anak karena mereka juga merupakan anak-anak yang setiap harinya mengaji bersama mahasiswa KKN.

“Kegiatan ini diadakan dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-70 dan khususnya lomba hanya untuk anak-anak,” kata Desmiati, salah satu mahasiwa KKN di Lamkuta.

Ia berharap, dengan adanya kegiatan ini masyarakat bisa lebih dekat dengan mahasiswa KKN.

“Semoga kegiatan-kegiatan yang kami adakan di sini menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan bisa menghibur bagi anak-anak terutama dalam memeriahkan hari kemerdekaan 17-an pada hari ini,” ujarnya.[] (ihn)

Karnaval HUT RI Belum Mulai, Peserta Sudah Tumbang Duluan

Karnaval HUT RI Belum Mulai, Peserta Sudah Tumbang Duluan

BANDA ACEH – Sejumlah peserta pawai karnaval HUT ke-70 RI di Lapangan Blang Padang mulai pingsan akibat cuaca yang terlalu panas.

Sesuai jadwal, para peserta pawai sudah berada di Lapangan Blang Padang sejak pukul 14:00 WIB. Namun mereka belum juga bergerak karena harus menunggu iring-iringan parade mobil hias.

Pantauan portalsatu.com, hingga pukul 14:57 WIB tadi, peserta pawai masih belum bergerak. Akibatnya sejumlah peserta yang didominasi oleh anak Sekolah Dasar bertumbangan karena lelah terlalu lama berdiri.

Sementara iringan mobil hias milik SKPA dan BUMN masih mengular panjang.

Salah seorang guru SD di lokasi menyayangkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, jika memang seperti ini harusnya dibatalkan saja karena peserta pawai umumnya banyak anak-anak. Seharusnya kata dia panitia bisa mengantisipasi hal ini sejak awal.

Pawai karnaval HUT ke-70 RI dibuka langsung oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal. Di lokasi pembukaan terlihat juga Ketua DPRK Banda Aceh Arief Fadillah.

Peserta pawai melewati rute Jalan Iskandar Muda melewati jalan depan pendopo Meuligoe Gubernur. Di Meuligoe Gubernur akan menyambut kedatangan peserta pawai.[]

Foto: Peserta karnaval kelelahan menunggu @portalsatu.com/Joe Samalanga

Ahok Ingin Buka Kantornya untuk Kunjungan Rakyat

Ahok Ingin Buka Kantornya untuk Kunjungan Rakyat

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama punya rencana membuka kawasan Balai Kota di Jalan Medan Merdeka Selatan untuk kunjungan masyarakat. Dengan begitu, kata dia, ada alternatif wisata bagi warga Jakarta. “Inginnya dibuka Sabtu dan Minggu,” ujar Ahok di Balai Kota, Senin, 17 Agustus 2015.

Menurut dia, rencana itu akan membuat masyarakat mengetahui kantor Gubernur DKI. Mereka bisa duduk di taman. Bahkan pedagang kaki lima dibolehkan berjualan di Balai Kota bila dibuka untuk umum. “Tapi masyarakat harus tahu diri kalau tak boleh buang sampah sembarangan dan tertib jaga kebersihan,” tutur Ahok.

Terbukanya Balai Kota untuk kunjungan masyarakat memungkinkan mereka melihat cara Pemerintah Provinsi DKI mengawasi kondisi Ibu Kota. Sebab, bakal ada pusat kendali CCTV yang bisa diakses dari Balai Kota pada masa depan.

Tapi Ahok menyebut rencana itu harus menunggu kesiapan warga untuk mau tertib membuang sampah. Sebenarnya, kata dia, kawasan Monumen Nasional merupakan uji coba untuk melihat ketertiban pedagang dan masyarakat saat bertamasya sebelum membuka akses Balai Kota. “Saya lihat tak bisa, karena sampahnya bukan main banyaknya, apalagi ada preman yang jual lapak pedagang,” ucapnya.[] Sumber: tempo.co

Foto: Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (kiri) melambaikan tangan saat menghadiri Tapak Tilas Kemerdekaan RI ke-70 di Gedung Joeang, Jakarta, 16 Agustus 2015. @TEMPO

BUMN Perbaiki 45 Rumah Veteran di Aceh

Banda Aceh – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memperbaiki 45 unit rumah para veteran di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, dengan dana sekitar Rp1,8 miliar.

Panitia HUT RI BUMN untuk negeri Provinsi Aceh Bagas Pradigdo di sela-sela upacara HUT RI di lapangan Balang Padang Banda Aceh, Senin menyatakan, rehab rumah yang bekerjasama dengan jajaran Kodam Iskandar Muda itu diperuntukkan bagi veteran yang kurang mampu.

Bedah rumah dengan nilai sekitar Rp40 juta per unit itu dalam memeriahkan HUT Ke-70 Kemerdekaan RI dengan thema “BUMN Hadir Untuk Negeri”, kata Bagas yang juga karyawan PT Askrindo Cabang Aceh.

Ia menyatakan, bantuan rehab rumah itu sebagai bentuk kepedulian BUMN sebagai perusahaan negara terhadap jasa para veteran yang telah berjuang demi bangsa dan negara ini.

Bila dilihat dari jumlah bantuan tidak seberapa besar bila dibandingkan jasa para veteran, namun bantuan rehab ini bisa sedikit membantu mereka, khususnya yang kondisi rumahnya sangat tidak layak, katanya.

Selain bedah rumah, BUMN juga memberi bantuan sembako bagi warga kurang mampu dan berbagai kegiatan hiburan rakyat yang pelaksanaanya oleh anggota TNI.

BUMN juga mendukung kegiatan bazar dan hiburan rakyat dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT RI yang dipusatkan di Lapangan Blangpadang, Kota Banda Aceh, mulai Sabtu (8/8) hingga Selasa (18/8).

Selain menggelar bazar dan hiburan rakyat, Kodam Iskandar Muda juga menyiapkan 1.300 penari yang akan menarikan tarian Saman pada puncak HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Blangpadang, 17 Agustus.

Kemudian, Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 70 usaha mikro kecil di Aceh untuk packaging (pengemasan) dan pengelolaan keuangan.

Selanjutnya, PT Askrindo juga mendukung kegiatan penanaman 1,2 hektare terumbu karang di kawasan Pantai Gapang dan Iboh di Sabang (Pulau Weh) yang dimulai 16 Agustus 2015.[]  Sumber: antaranews.com

Peserta Upacara di Kluet Tengah “Kaki Ayam” Pascabanjir

Peserta Upacara di Kluet Tengah “Kaki Ayam” Pascabanjir

TAPAK TUAN – Upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia di Kluet Tengah, Aceh Selatan, berlangsung di lapangan terendam lumpur banjir, Senin, 17 Agustus 2015. Para peserta upacara terpaksa melepas sepatu alias “kaki ayam”. Sekitar 15 siswa tumbang diduga lantaran kondisi fisiknya lemah.

Informasi diperoleh portalsatu.com, upacara dilaksanakan di Lapangan Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan. Kondisi lapangan yang tidak mendukung pascabanjir melanda kecamatan tersebut membuat jadwal upacara molor.

Upacara dilaporkan berlangsung sekitar pukul 10.30 hingga 12.00 WIB. Bertindak sebagai inspektur upacara, Camat Kluet Tengah, dan komandan upacara dari Polsek Menggamat. Sedangkan peserta upacara dihadiri perwakilan PNS dan siswa dari sejumlah sekolah.

“PNS yang hadir sekitar 50 orang, lainnya siswa SD, SMP dan SMA. Peserta upacara melepaskan sepatu,  ‘kaki ayam’. Yang memakai sepatu hanya penggerek bendera (Paskibraka), pembina (inspektur) dan komandan upacara,” ujar Rizal Fikri, salah seorang PNS di Kluet Tengah menjawab portalsatu.com lewat layanan BlackBerry Messenger (BBM), Senin usai siang.

Rizal menyebut sekitar 15 murid/siswa tumbang saat mengikuti upacara. Diperkirakan para murid itu kondisi fisiknya lemah.

Selain itu, kata Rizal, saat upacara hanya pembawa acara (MC) yang memakai mix atau alat pengeras suara lantaran terbatasnya peralatan. “Listrik mati sejak jam lima sore (pukul 17.00 WIB) kemarin sampai hari ini. Sinyal HP (telpon seluler) juga hilang sejak kemarin sore,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, banjir menerjang Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan akibat hujan deras mengguyur kawasan tersebut, Minggu, 16 Agustus 2015. Salah seorang warga Desa Malaka kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh, Ilham, saat dihubungi portalsatu.com mengatakan banjir merendam ratusan rumah di 13 desa. (Baca: Banjir Bandang Terjang Kecamatan Kluet Tengah).[]

Foto: Upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati HUT ke-70 RI di Lapangan Menggamat, Kluet Tengah, Aceh Selatan. @Ist