Tag: hafiz cilik

Bocah Asal Aceh Timur Juara Tiga Hafiz Cilik RCTI

IDI RAYEUK – Hafiz cilik asal Aceh Timur, Miftahull Barri, keluar sebagai juara tiga dalam program Hafiz Cilik RCTI yang diumumkan pada Kamis, 16 Juli 2015.

Miftah merupakan bocah asal Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Aceh Timur.

Miftah bersama dua hafiz ciliknya bersaing ketat di grand final Hafiz Cilik yang digelar kemarin.

Putra pasangan Jamaluddin dan Safwati itu berhak mendapatkan hadiah tiga tiket umrah gratis.

Juara pertama diraih oleh Aulia dari Demak, dan juara dua diraih oleh Askar Arif dzikra dari Banda Aceh.

Hafiz cilik kelahiran Bayeun, 20 Agustus 2008 itu mulai menghafal Alquran sejak umur 4 tahun.

“Dan sekarang umur 6.5 tahun, alhamdulillah Miftah sudah bisa  hafal 4 juz Alquran,”  ujar Safwati kepada portalsatu.com.

Jamaluddin ayah Miftah  diketahui sebagai pedagang kecil di desa Bayeun. Sementara ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.[] (ihn)

Dimanakah Pemerintah?

Dimanakah Pemerintah?

MASYARAKAT Aceh dalam beberapa bulan terakhir bangga setelah Martunis melenggang ke kancah internasional. Warga Aceh juga patut berbangga setelah mendapat aplus dari dunia internasional melalui penyelamatan Rohingya.

Belum habis rasa bangga tersebut, nama Aceh kembali menyentak pusat dengan keberhasilan Takdir Feriza menjuarai Musabaqah Tilawatil Quran Internasional di Turki. Pialanya langsung diserahkan oleh presiden Turki. Tentu ini bukan kompetisi “cilet-cilet”. Kita Aceh layak berbangga hati.

Sedangkan di tingkat nasional saat ini ada Salsabil juga sedang mengharumkan nama Aceh. Ada juga dua hafid cilik sedang berlomba di sebuah stasiun televisi.

Tahun 2015 menjadi tahun penuh kebanggaan bagi Aceh. Tahun penuh prestasi. Tahun dimana rakyat Aceh amat berbangga. Namun yang paling miris dari semua kebanggaan ini adalah tidak adanya campur tangan pemerintah. Tanpa kehadiran siapapun elit politik kita. Baik di legislatif maupun eksekutif.

Jangankan membantu dana untuk sekedar support, dukungan moral pun tidak ada. Kejadian seperti ini seakan membenarkan bahwa pemerintah tidak punya peran. Semua auto pilot. Seharusnyalah pemerintah nebeng nama setiap prestasi rakyat. Itu amat lazim di dunia manapun. Apalagi sudah di event nasional dan international. Amat layak pemerintah ikut campur, mensupport dana, menggalang dukungan rakyat. Prestasi yang diusahakan sendiri oleh rakyat. Tapi pemerintah bisa mendapat imej positif.

Sedikit uang dan penyampaian akan mendatangkan nama baik. Di seluruh dunia hal ini terjadi. Pemerintah berhak dapat nama dari prestasi rakyatnya. Di Aceh, sepertinya hal ini tidak berlaku. Entah kenapa pemerintah malah bersembunyi. Sama sekali kita tidak mendengar empati mereka apa lagi bersifat bantuan.

Ada apa dengan pemimpin kita? Kenapa mereka begitu mengurung diri? Ataukah informasi tidak sampai ke mereka? Apakah pemimpin sedang di istana menara gadingnya? Yang penuh filter dan sensor. Sehingga hanya informasi dongeng pengantar tidur yang dibaca?

Begitu sakralnya singgasana itu. Seperti kisah dalam dongeng masa lalu sehingga informasi tentang hal-hal baikpun tidak sampai ke telinga mereka. Ataukah seperti kisah raja bocah, hanya dinobatkan sebagai raja karena keturunan. Kemudian pemerintah sepenuhnya dipegang para pembantu raja.

Dalam kasus Aceh amat mengherankan. Para elit pasti tidak buta baca tulis. Sehingga informasi itu pasti sampai ke mereka. Baik melalui media massa atau media sosial. Nah kenapa tidak ada reaksi? Ataukah semua elit kita sedang sakit. Sakit buta, bisu dan tuli?

Kemana para kabinet beliau di SKPA? Staf ahli, staf khusus, penasehat khusus dan tim asistensi? Apakah mereka juga terkena penyakit yang sama. Yang kita takutkan para pembantu beliau sudah terkena sindrom kancil pilek. Mencari alasan menyelamatkan diri dengan mengaku tuli, bisu dan buta. Ataukah para elit sedang dijerumuskan dalam jurang kebencian? Diskenariokan tidak peduli, tidak dekat dan tidak peka sehingga publik membenci dan menghujat pemimpin. Semua kemungkinan boleh saja diterka.

Kembali ke soal prestasi rakyat, bahwa sejumlah prestasi tanpa terlibat pemerintah. Ini kebanggaan tersendiri bagi rakyat. Bukti rakyat Aceh bisa survive tanpa berhala kekuasaan. Bukti rakyat sudah lupa bagaimana mereka dilayani pemerintah.

Rakyat ternyata lebih arif dan bijak dibanding pemimpin. Para pemimpin alias elit berpendidikan tinggi tapi mati akal dibandingkan rakyat dari segala strata tapi peduli sesama. Menghabiskan uang untuk mendukung prestasi sesama rakyat. Berlomba saling membantu dan menganjurkan.

Lihatlah di media massa dan media sosial. Mereka tidak peduli dengan dukungan dan penghargaan dari pemerintah. Mereka saling mendukung. Saling berbagi kebahagian. Berjuang bersama. Pertanyaan kita, apakah elit dan para pengabdi di sekeliling kekuasan masih punya hati? Masih punya rasa malu? Masih punya empati? Atau semua rasa telah mati dibunuh kerakusan dan ketamakan?[]

Miftahull Barri; Hafiz Cilik Asal Aceh Timur

Miftahull Barri; Hafiz Cilik Asal Aceh Timur

BOCAH ini bernama lengkap Miftahull Barri. Namun ia biasa dipanggil Miftah. Sosok ini merupakan hafiz cilik asal Desa Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur. Miftah tampil di program Hafiz Cilik Indonesia 2015 di RCTI.

Miftah  sehari-harinya menghafal Alquran di rumah bersama ibunya, serta belajar muratal dan tilawah dengan gurunya, Danil Qadir SH.

“Miftah setiap harinya belajar hafalan  dengan saya, dan di perdalam juga oleh ustad Miftah sendiri Ustad Danil,” ujar Umi Safwati, ibunda Miftah saat dikonfirmasi portalsatu.com via selular, Jumat siang 10 Juli 2015.

Hafiz cilik itu kelahiran Bayeun, 20 Agustus 2008  ini merupakan anak dari pasangan Safwati dan Jamaluddi Mulai. Ia menghafal Alquran sejak umur 4 tahun.

“Dan sekarang umur 6.5 tahun. Alhamdulillah Miftah sudah bisa  hafal 4 juz Al-quran,” ujar Safwati.

“Metode hafalan  yang diajarkan sangat sederhana dalam satu Ayat, dibacakan dulu 3 kali, lalu kemudian  Miftah menghafalkannya lagi,” Kata Safwati.

Miftah berasal dari keluarga yang berlatar belakang  pedagang. Ia anak ke 3. Kakaknya bernama Nurul Abrariati, kelas 1 SMA Al Muslimat Samalanga serta abang kandungnya bernama Al Mubarrak.

“Kami bukan keluarga hafiz, kami hanya  pedagang kecil-kecilan dan kakeknya Miftah sudah almarhum merupakan Teungku Ghazali Alfa, pimpinan Pompes Nurul Iman,” ujar Safwati.

Miftah memiliki segudang prestasi di tingkat kabupaten Aceh Timur, antara lain ia meraih Juara 2 cabang Muratal tingkat Aceh Timur, dan menjadi salah satu peserta terbaik hafiz,yang diadakan oleh Dinas Syariat Islam Aceh Timur dan sampai sekarang bisa mengikuti hafiz cilik tiingkat nasional. Miftah juga merupakan salah murid di TPA Azzahra, Blang Pase, Langsa. [] (mal)

Foto: Miftahull Barri

Cerita Nawala ‘Dipinang’ MD untuk Kiamat Sudah Dekat

Cerita Nawala ‘Dipinang’ MD untuk Kiamat Sudah Dekat

JAKARTA – Ramadan nanti, MD Entertainment akan menghadirkan sinetron religi berjudul Kiamat Sudah Dekat. Dalam sinetron ini, pihak MD Entertainment mendatangkan seorang pemain Nawala Aji Pradana.

Nawala merupakan hafidz cilik asal Aceh yang pernah membuat menangis Ustaz Yusuf Mansur. Bagaimana cerita Nawala ketika ‘dipinang’ MD untuk bermain dalam sinetron tersebut?

Ayah Nawala, Muslim, kepada portalsatu.com menceritakan, awalnya pihak MD menghubungi Yayasan Alfityan, sekolah tempat Nawala menamatkan pendidikan TK-nya dulu. Pihak sekolah kemudian menghubungi dirinya dan memberikan nomor kontaknya ke pihak MD.

“Pihak MD lalu menghubungi saya, lalu saya koordinasi dengan pihak sekolah Nawala yang sekarang untuk proses izin,” ujar Muslim, malam ini Minggu, 3 Mei 2015.

Setelah mendapat kepastian izin dari pihak sekolah, Muslim lantas memberi jawaban kepada MD. (Baca: Hafiz Cilik Asal Aceh Nawala Syuting Sinetron Kiamat Sudah Dekat)

“MD kemudian kirim tike ke kami untuk syuting promo. Insyaallah besok kami ke kantor MD, direncanakan kami pulang Selasa sore,” katanya.

Sinetron ini kata Muslim, bercerita tentang seorang anak yang mimpi kiamat dan adiknya yang seorang anak masjid berteman dengan Nawala. Dalam sinetron ini salah satu adegan yang diperankan Nawala adalah membaca surat Al Zalzalah di masjid.[] (ihn)

Foto: Nawala (baju biru) bersama pemain lainnya @istimewa

Hafiz Cilik Asal Aceh Nawala Syuting Sinetron Kiamat Sudah Dekat

Hafiz Cilik Asal Aceh Nawala Syuting Sinetron Kiamat Sudah Dekat

JAKARTA – Masih ingat pada sosok finalis Hafiz Quran Cilik asal Aceh, Nawala, yang sempat mencuri perhatian Ustaz Yusuf Mansur, selaku dewan juri Ramadan 2014 lalu?

Ramadan nanti wajah mungil Nawala akan kembali menghiasi layar kaca salah satu stasiun televisi Indonesia. Saat ini bocah itu sedang terlibat proses syuting sinetron Kiamat Sudah Dekat yang diproduksi MD Entertainment. Sinetron bergenre religi yang akan ditayangkan Ramadan nanti. Untuk proses tersebut, Nawala saat ini sedang berada di Jakarta.

Nawala di lokasi syuting @facebook abu nawala

Nawala (baju biru) bersama pemain lain di lokasi syuting @istimewa

“Nawala tetap sebagai Nawala, mohon doanya ya agar sinetronnya panjang dan Nawala bisa jadi inspirasi bagi semua,” kata ayah Nawala, Muslim, kepada portalsatu.com malam ini, Minggu, 3 Mei 2015. “Sekarang masih proses syuting promo,” katanya melanjutkan.

Bocah bernama lengkap Nawala Aji Pradana itu merupakan anak istimewa. Ia lahir dengan kondisi low vision, yang menyebabkan penglihatannya lemah. Di balik fisiknya yang kurang sempurna, Nawala memiliki kelebihan lain yaitu sebagai penghafal Alquran.

Untuk menjajal kemampuannya, tahun lalu ia mengikuti audisi Hafiz Quran. Ustaz Yusuf Mansur yang melihat perjuangan Nawala kala itu sampai menangis. Yang membuat hatinya trenyuh adalah, ayah Nawala juga memiliki kondisi fisik yang sama. Namun ia berhasil mengajarkan buah hatinya menjadi penghafal Alquran.

Menurut Muslim, saat ini Nawala sudah mampu menghafal dua juz Alquran. Saat ini ia sekolah di MIT Darut Tahfiz Al Ikhlas, Ajun, Banda Aceh.

Muslim sendiri saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Aceh. Ia merupakan mantan atlet berprestasi khusus yang pernah menyumbangkan emas untuk daerah.

Beberapa waktu Nawala sudah melakukan operasi mata. “Ya. Alhamdulillah walau hasilnya tidak maksimal kali, tapi ada penambahan penglihatannya,” ujarnya.[] (ihn)

Audisi Hafizh Quran 2015 Resmi Dimulai

Audisi Hafizh Quran 2015 Resmi Dimulai

BANDA ACEH – Audisi Hafizh Quran 2015 tingkat Provinsi Aceh resmi dimulai, di Aula Lantai IV Balai Kota Banda Aceh, Sabtu 2 Mai 2015.

Acara yang juga digelar dalam rangka HUT Kota Banda Aceh ke-810 ini bertema “Anak Cerdas Indonesia”.

Asisten Keistimewaan Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Banda Aceh, Ir Gusmeri MT selaku ketua panitia mengatakan, ajang yang kedua kalinya digelar setelah 2014 ini merupakan hasil kerjasama Pemko Banda Aceh dengan lembaga Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) Jakarta, pimpinan Ustaz Bachtiar Nasir.

“Audisi akan digelar selama dua hari, yakni hari ini dan Minggu (3/5) besok. Peserta yang telah mendaftar sampai dengan saat ini sebanyak 85 anak yang berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar,” kata Gusmeri.

Gusmeri menambahkan, berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya memperlombakan hafalan Al-Quran juz 30, tahun ini ada penambahan hapalan yakni juz 29.

Sementara yang bertindak sebagai ketua dewan juri adalah Ustaz Bachtiar Nasir, ditambah tiga juri lokal dan tiga juri lainnya dari AQL. “Kepada para pemenang, selain mendapatkan hadiah, mereka juga berhak mewakili Aceh ke ajang nasional yang direncanakan digelar pada Ramadhan nanti,” ujarnya.

Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE dalam sambutannya menyatakan sangat mengapresiasi para orangtua yang mengikutkan putra-putrinya yang masih belia dalam ajang ini. “Ayah dan bunda patut bersyukur karena mempunyai anak-anak yang kelak akan menjadi generasi qurani,” katanya.

Illiza juga juga mengharapkan para peserta terutama orangtua agar motivasi mengikuti audisi bukan karena ingin menjadi juara semata. “Anak-anak harus istiqamah menjaga hapalannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang paling penting lagi jangan menjadi sombong,” kata Illiza kepada hafiz dan hafizah cilik yang rata-rata masih berusia antara 5-10 tahun tersebut.

Turut hadir pada pembukaan acara yang juga didukung oleh Trans7 ini antara lain Ketua DPRK Banda Aceh Arif Fadhillah SIKom, Sekda Ir Bahagia Dipl SE, para Asisten, Staf Ahli dan Kepala SKPD di lingkungan Pemko Banda Aceh serta sejumlah wartawan media cetak maupun elektronik. [] (mal)