Tag: golkar

Agung-Ical Bertemu Bahas Masa Depan Partai Golkar

Agung-Ical Bertemu Bahas Masa Depan Partai Golkar

Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Jakarta Yorrys Raweyai menemui Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali Setya Novanto di Gedung DPR, Jakarta.

Yorrys mengatakan ia menemui Setya Novanto salah satunya untuk membahas Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

“Biasa silaturahmi. Salah satunya itu (Munaslub),” ucap Yorrys

Pertemuan tersebut berlangsung kurang lebih selama satu jam. Sementara itu, Setnov, sapaan Setya Novanto, membantah adanya pembahasan mengenai Munaslub bersama Yorrys.

Ia mengaku pertemuannya dengan Yorrys untuk membahas masa depan partai beringin. “Tidak menyinggung Munaslub. Kami harapkan semuanya bisa jalan baik bersama-sama,” ucap Ketua DPR ini.

Gagasan Munaslub diakui sebagai salah satu solusi mempertemukan kedua belah pihak untuk mengupayakan islah dengan cara yang mengenakkan masing-masing kubu.

Sebelumnya Ical menyatakan seharusnya Partai Golkar tak akan terpecah bila tak ada pihak-pihak yang menyalahi undang-undang kepartaian. Perpecahan yang terjadi di Golkar dianggap mengganggu jalannya proses persiapan menghadapi pilkada pada bulan 9 Desember 2015.

“Kita ketahui partai Golkar mengalami dua kepengurusan, padahal sebenarnya dalam undang-undang tidak ada kepengurusan ganda,” ujar Aburizal dalam agenda Rapimnas Golkar di Hotel Shangri-La, Jakarta 12-14 Juni 2015.

Ical menyatakan keputusan Menteri Hukum dan Ham Yasona H Laoly telah menciderai perasaan Golkar hasil Munas Bali. “Karena itu maka saya memutuskan mengambil jalur hukum. Kami meminta Menkumham harus segera membatalkan surat keputusannya,” ujarnya. | sumber : CNNIndonesia

Foto: Sekretaris Jenderal Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie, Idrus Marham (mengangkat tangan) menghadiri deklarasi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli dan Fachrori Umar di Jambi, Kamis (20/8). (Antara Foto/Wahdi Septiawan)

Kurang Anggota, Rapat Penggantian Sulaiman Abda Diskor 10 Menit

Kurang Anggota, Rapat Penggantian Sulaiman Abda Diskor 10 Menit

BANDA ACEH – Rapat pergantian wakil ketua DPRA diskor s10 menit karena belum cukupnya anggota sidang.

“Karena kurang lima orang rapat kita skor 10 menit,” ucap ketua DPRA Muharuddin seraya mengetuk palu.

Ia juga mengatakan bahwa rapat tersebut terbuka untuk umum.

Usai waktu diskor berlalu, rapat kembali diskor 15 menit karena anggota masih berjumlah 49 orang dan masih kekurangan 5 orang lagi.

“Karena masih kurang anggota rapat kita skor lagi 15 menit, saya harapkan ketua fraksi untuk berkoodinasi dengan anggotanya,” lanjut Muhar.

Namun ruang serba guna yang dipakai untuk rapat tersebut terlihat penuh bahkan sampai ke luar ruangan. Hal ini disebabkan pembangunan ruangan utama masih dalam tahap rehab.

Agung Laksono Kritisi Keputusan Menaikkan Tunjangan Dewan

Agung Laksono Kritisi Keputusan Menaikkan Tunjangan Dewan

JAKARTA – Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya hasil Munas Jakarta Agung Laksono mengkritik penetapan kenaikan tunjangan anggota dewan.

Menurut Agung, keputusan untuk menaikkan tunjangan anggota dewan salah sasaran, mengingat lemahnya kinerja anggota dewan dalam melaksanakan fungsi-fungsinya. “Yang meningkat itu seharusnya kinerjanya, bukan tunjangannya,” kata Agung.

Agung menilai, pembahasan pemerintah dan DPR terkait tunjangan sama sekali tidak substantif. Seharusnya, eksekutif dan legislatif membahas hal-hal yang terkait langsung dengan rakyat, terutama solusi meningkatkan daya beli yang semakin menurun.

“Seharusnya yang dibahas adalah perbaikan ekonomi, bukan tunjangan anggota,” ujarnya.

Dengan standar penghasilan saat ini, Agung menilai apa yang didapat para anggota dewan sudah memadai. Keputusan untuk menambah jumlah pundi penghasilan anggota dewan justru akan membuat rakyat marah.

“Kalau dipaksakan, hati rakyat akan terluka dan tingkat kepercayaan publik akan menurun,” tandasnya.[] sumber: JPNN.com

Soal Sulaiman Abda, Hendra Budian: Upaya Pecat Memecat Dilakukan Kelompok Opportunis

Soal Sulaiman Abda, Hendra Budian: Upaya Pecat Memecat Dilakukan Kelompok Opportunis

BANDA ACEH – Generasi muda Partai Golkar Aceh menyesalkan adanya upaya pelengseran Sulaiman Abda dari posisi Wakil Ketua DPR Aceh.

Hal ini disampaikan oleh Hendra Budian, Ketua Bhaladika Karya Aceh yang juga Wakil Sekretaris AMPI Aceh, melalui siaran persnya, Jumat, 18 September 2015.

“Pertama, bahwa dalam kondisi partai Golkar seperti saat ini, sebaiknya semua kubu untuk mementingkan kepentingan politik partai yang lebih besar dengan melakukan upaya konsolidasi politik hingga pada level akar rumput,” kata Hendra Budian.

Kedua, katanya, upaya pecat memecat kader satu sama lainnya bukanlah sikap yang bijak untuk dilakukan pada saat ini.

“Ketiga, upaya pecat memecat justru dilakukan oleh kelompok opportunis yang tingkat kekaderannya perlu dipertanyakan. Ini karena jelas bahwa upaya seperti ini merupakan upaya mengambil kesempatan dalam kesempitan,” katanya lagi.

Katanya, upaya pelengseran Sulaiman Abda sangat tidak bijaksana dan jauh dari semangat Ikrar Panca Bakti.

Kami sebagai generasi muda Partai Golkar Aceh, mengimbau kepada seluruh pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berlaku di tingkat pusat dengan tetap menjaga konsolidasi partai. Partai Golkar adalah partai kader yang mengedepankan musyawarah, bukan perusahaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Kami siap untuk menjaga dan menyelamatkan Partai Golkar sebagai wadah aspirasi politik kader Golkar,” ujar dia lagi. [] (mal)

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

“Saya sudah menjadi nakhoda Golkar, dan kalian semua ada dalam pikiran dan hati saya. Nanti, giliran kalian yang membawa Golkar, apakah saya juga ada di hati dan pikiran kalian?” — Sulaiman Abda

+++

MALAM itu, usai salat isya saya makan malam bersama Sulaiman Abda, di rumahnya. Sebelumnya, kami baru saja kembali dari kunjungan silahturahmi ke Dayah MUDI, Samalanga, Kamis, 17 September 2015.

Di meja makan, hanya ada nasi putih dan ikan lado. Bang Leman, panggilan akrab Sulaiman Abda, hanya mengambil sedikit nasi. Lalu beliau mengajak saya untuk ikut makan. “Jak pajoh bu, Man (ayo kita makan, Man).”

Saya hanya mengangguk. Selebihnya, mata saya memperhatikan wajah Bang Leman. Kelihatan lebih segar dibanding setahun lalu, saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar.

Sejenak saya jadi kepikir angka kepercayaan rakyat yang diperoleh Bang Leman di Dapil I pada Pileg 2014. Jika tidak salah, sekitar 17 ribuan. Ini bukan angka kepercayaan yang sedikit. “Man, ka pajoh laju bu,” ujar Bang Leman lagi.

Saya mencoba menepis ingatan soal Golkar. Tapi, tidak bisa. Padahal, sebelumnya saya sudah memaklumkan untuk tidak dahulu bicara Golkar, sampai badai konflik hukum di tubuh Golkar benar-benar berlalu.

Sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring, saya kembali melirik sosok Ketua Golkar Aceh yang dilantik 17 Januari 2010 itu. Saat itu, Bang Leman menggantikan Sayed Fuad Zakaria yang terpilih sebagai anggota DPR RI.

Sosok yang sedang berada di hadapan saya ini bukan orang baru, apalagi sekedar penumpang gelap di Golkar. Sebelumnya, selama dua periode Sulaiman Abda duduk di posisi Wakil Ketua.

Rintisan jalannya menuju pucuk pimpinan Golkar Aceh benar-benar merangkak dari bawah. Usai berkhitmad di KNPI, Bang Leman masuk Golkar. Beliau ditempatkan di Biro Pemuda Golkar Aceh tahun 1994.

Baru delapan tahun kemudian Bang Leman berhasil duduk di jajaran Wakil Ketua. “Sangat dramatis. Kalau sekarang, hanya dalam sejenak posisi strategis di Golkar bisa didapat,” bisik hati saya.

Sejenak sayapun jadi mengingat diri sendiri. Saya masuk Golkar usai Sulaiman Abda terpilih sebagai Ketua Golkar, Desember 2009. Bang Lemanlah yang berhasil “menaklukkan” saya untuk bergabung di Golkar. Oh ya, juga Bang Husein Banta.

Sungguh, awalnya saya pernah membuat surat pengunduran diri. Tapi hanya sampai di meja sekretariat. “Nanti saya bicara dulu dengan ketua,” kata Taufik kala itu.

Akhirnya saya tidak jadi keluar. Saya diberi kesempatan untuk memperbaiki tata kelola Golkar agar lebih terbuka, lebih akomodatif terhadap kader muda dan kader perempuan.

Buahnya, Golkar Aceh mendapat penghargaan keterbukaan Informasi dari Komisi Informasi Aceh, Desember 2014. Sayapun diberi kepercayaan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, dan diberi kepercayaan menata Golkar agar lebih responsif gender.

Bagaimana nasib Golkar di tangan sosok kelahiran Geulumpang Payong, Pidie ini? Apakah “partai beringin” ini mati di tangan Sulaiman Abda?

Sulaiman Abda diwarisi Golkar Aceh dalam posisi kursi yang turun drastis, 59 kursi DPRK, 8 kursi DPRA, dan 2 kursi DPR-RI. Ini perolehan kursi hasil Pileg 2009.

Pada Pileg 2014, Sulaiman Abda berhasil menaikkan angka kursi Partai Golkar menjadi 80 kursi DPRK di kabupaten/kota. Kader Golkar berhasil meraih lima kursi ketua DPRK dan tujuh kursi pada posisi Wakil Ketua DPRK.

Di samping itu, juga sukses meraih 9 kursi  DPRA dan 2 kursi untuk DPR-RI. Ini hasil Pileg 2014 di bawah kepemimpinan Sulaiman Abda. Posisi Golkar nomor dua setelah Partai Aceh. Golkar Aceh berhasil bertahan dari “serbuan” parnas baru, Nasdem yang sejak kemunculannya banyak menarik perhatian publik.

Lebih dari itu, khusus untuk DPRA, 4 dari 9 kursi yang diraih Partai Golkar diisi oleh perwakilan perempuan, yaitu Fauziah, Yuniar, Nuraini Maida, dan Nurlelawati.

“Ini pengabdian terakhir saya untuk rakyat melalui DPR Aceh,” katanya suatu waktu usai dilantik sebagai anggota DPRA.

Kala itu, Bang Leman menegaskan hanya akan mengabdi sepenuhnya untuk Aceh. “Saya sudah menjadi milik Aceh, dan saya ingin pengabdian terakhir sebagai anggota DPR Aceh benar-benar bermanfaat untuk Aceh,” katanya kala itu.

Pernyataan itu, menurut Bang Leman adalah kunci kebangkitan Golkar Aceh. Golkar Aceh hanya mungkin dipercaya rakyat manakala kadernya mengabdi penuh untuk Aceh. Golkar jangan sampai dianggap parnas asing, dengan kepentingan asing. Golkar Aceh mesti bermanfaat bagi Aceh.

“Ini kunci kemenangan Golkar di Pilkada dan Pileg nanti,” kata Bang Leman saat itu.

Sayangnya, turbulensi politik di Golkar pusat akhirnya menyeret kader-kader Golkar di daerah ke dalam dua kubu hasil Munas, yang saling bertentangan.

Tragisnya, hasil “ijtihad” politik Bang Leman yang memilih bergabung dengan kubu Munas yang diakui pemerintah membuat pihak pendukung kubu Bali berang. Dan, melalui putusan DPP Golkar hasil Munas Bali nomor 27/DPP/Golkar/2015 Sulaiman Abda dipecat sebagai kader Golkar. Tragis!

Kini, buntut pemecatan mulai bercabang. Sulaiman Abda sudah diusul Pergantian Antar Waktu (PAW). Sebegitu besarkah dosa politik Bang Leman sehingga hukumannya bagai hukuman mati? Pemecatan sebagai kader sama artinya seperti hukuman mati karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu kepada rakyat melalui partai. Lebih dari itu, mengapa Bang Leman dipecat sebagai kader? Dan, mengapa sampai terburu-buru dan mengabaikan proses politik dan hukum yang sedang berjalan?

Mengapa untuk agenda Pilkada kedua belah kubu bisa berdamai dalam mencalonkan kadernya dari kedua belah pihak, sedangkan untuk pemecatan tidak dibangun kesepahaman sebelum diambil tindakan? Ada apa di balik percepatan pemecatan Sulaiman Abda sebagai kader Golkar?

Lagi pula, “ijtihad” politik Bang Leman berkenaan dengan tugasnya sebagai anggota DPR Aceh dan bukan semata sebagai pengurus. Mungkin ia berpikir, jika keanggotaannya sebagai wakil rakyat tidak bersandar pada badan hukum yang diakui pemerintah maka tindakan politiknya di DPR Aceh tidak memiliki kekuatan legalitas.

Mungkin ini menjadi dasar ia berpindah kubu. Itu artinya, bila kubu Bali yang diakui oleh pemerintah, tentu Sulaiman Abda akan bertahan di kubu Bali. Intinya, penghargaan atas ruang kader untuk berpikir mestinya dihormati kecuali bila ijtihad politiknya berpindah ke lain partai politik. Tapi, apa yang dilakukan oleh Bang Leman masih dalam lingkungan berwarna kuning.

Pingin rasanya bertanya kepada Bang Leman soal pemecatan dan PAW yang dilakukan oleh kubu Munas Bali. Tapi, saya urungkan. Pasti beliau akan jawab, “Saya bukan di kubu Munas Bali. Tapi di kubu Munas Ancol yang disahkan pemerintah. Bila saya dipecat oleh Kubu Ancol baru saya bisa bereaksi,” duga saya mencoba membaca pikiran Bang Leman.

Lebih dari itu, Bang Leman akhir-akhir ini memang sedang larut mengabdi kepada Aceh. Beragam peristiwa politik di Aceh yang “memanas” menuntun hati dan pikirannya untuk ambil bagian dalam usaha membawa Aceh kembali ke suasana yang diharapkan semua.

Tidak mudah memang. Karena itulah, Bang Leman terlihat sibuk melakukan silahturahmi ke berbagai pihak. Bang Leman sangat yakin bila silahturahmi dilakukan, perbedaan bisa diselesaikan dengan baik. Untuk langkah ini, dengan sangat sabar Bang Leman melakukannya.

Langkah silahturahmi yang dilakukan oleh Bang Leman juga wujud dari penghormatan Bang Leman terhadap seluruh tokoh. Semua dihormati dan ditempatkan dalam posisi terhormat. Tidak ada satupun sosok tokoh yang ingin dilihat kekurangannya. Setiap kali berbincang dengan Bang Leman maka potensi kebaikan sang tokohlah yang mengalir dari suaranya. Itulah Bang Leman, sosok yang tidak pernah lelah membangun komunikasi, dengan siapa saja. []

Foto: Sulaiman Abda Kunjungi Santri Mudi Mesra

Foto: Sulaiman Abda Kunjungi Santri Mudi Mesra

BIREUEN – Ribuan santri Ma’hadal ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya (Mesra) menyambut hangat rombongan Kapolda Aceh yang disertai Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda. Pimpinan Dayah MUDI, yang akrab disapa Abu MUDI pun ikut menyambut tamu rombongan, Kamis, 17 September 2015.[]

sulaiman5
@Risman A Rachman
sulaiman3
@Risman A Rachman
sulaiman2
@Risman A Rachman
sulaiman4
@Risman A Rachman
sulaiman6
@Risman A Rachman
Foto: Muntasir Hamid Antar Surat Pemberhentian Sulaiman Abda ke DPRA

Foto: Muntasir Hamid Antar Surat Pemberhentian Sulaiman Abda ke DPRA

BANDA ACEH – Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, mengantarkan surat pergantian Sulaiman Abda ke Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Kamis, 17 September 2015. Surat tersebut langsung diterima oleh Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin, di ruang kerjanya sekitar pukul 15.05 WIB.

Ketua Golkar Aceh versi Munas Bali, Ishak Yusuf, serta sejumlah pengurus partai berlambang pohon beringin tersebut ikut serta dalam penyerahan surat ini.[]

paw bg leman3
@Zahratil Ainiah
paw bg leman2
@Zahratil Ainiah
paw bg leman1
@Zahratil Ainiah
paw sulaiman abda
@Zahratil Ainiah
Muntasir Hamid: Ini Pembelajaran Politik Untuk Sulaiman Abda

Muntasir Hamid: Ini Pembelajaran Politik Untuk Sulaiman Abda

BANDA ACEH – Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, menyerahkan surat pemecatan Sulaiman Abda kepada pimpinan DPR Aceh, Teungku Muharuddin, Kamis, 17 September 2015 sekitar pukul 15.05 WIB. Penyerahan surat tersebut sekaligus sebagai pemberitahuan pergantian Wakil Ketua DPR Aceh yang selama ini dijabat oleh Sulaiman Abda kepada M. Saleh S.Pdi.

“Maka Sulaiman Abda semenjak diberhentikan, apapun fasilitas yang digunakan, Sulaiman Abda bertanggung jawab dengan negara. Misalnya gaji, mobil, itu dikembalikan dan itu tanggung jawabnya Sulaiman Abda dengan negara,” kata Muntasir Hamid yang ditemani oleh Ketua Golkar Aceh versi Aburizal Bakri, Ishak Yusuf, bendahara serta sejumlah pengurus partai lainnya.

Muntasir mengatakan kasus ini menjadi salah satu pembelajaran politik untuk Sulaiman Abda.

Penyerahan surat tersebut dibenarkan oleh Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin. Dia mengatakan akan segera memproses surat tersebut sesuai undang-undang yang berlaku. “Akan segera diproses,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Golkar Aceh, Muntasir Hamid, mengatakan pihaknya membawa surat pergantian Sulaiman Abda di DPR Aceh. Surat ini diserahkan setelah Sulaiman Abda hampir 3 bulan dipecat dari Golkar Aceh.

“Lalu turun surat satu lagi sesuai arahan ketua Golkar, khususnya Golkar di Aceh yang meminta kepada Ketua DPR Aceh untuk memproses posisi Sulaiman Abda yang akan diganti M. Saleh S.Pdi. Ini masih ada proses,” kata Muntasir Hamid kepada portalsatu.com di sela-sela menunggu kedatangan Ketua DPR Aceh.

“Karena surat ini urgent, maka kami akan menunggu kedatangan Ketua DPR Aceh di kantor,” kata Muntasir lagi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi terkait pemecatan dan PAW tersebut dari pihak Sulaiman Abda.[](bna)

Siang Ini, Golkar Serahkan Surat PAW Sulaiman Abda ke DPR Aceh

Siang Ini, Golkar Serahkan Surat PAW Sulaiman Abda ke DPR Aceh

BANDA ACEH – Pimpinan Golkar Aceh dikabarkan akan bertemu dengan Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin, Kamis siang 17 September 2015.

Informasi yang diperoleh portalsatu.com, kedatangan petinggi Golkar versi Aburizal Bakri ini guna menyerahkan surat Pergantian Antar Waktu (PAW) untuk Sulaiman Abda dari posisi wakil ketua DPR Aceh mewakili Golkar.

Selain itu, Golkar juga akan mengganti struktur Fraksi Golkar di DPR Aceh.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda, resmi dipecat dari keanggotaan Partai Golongan Karya atau Golkar.

Pengumuman pemecatan Sulaiman Abda dibacakan oleh Muntasir Hamid, Sekretaris Golkar Aceh versi Munas Bali, di kantor DPD Golkar Aceh dalam konferensi pers dengan wartawan, Jumat sore, 24 Juli 2015.

Kata Muntasir, Sulaiman Abda dipecat berdasarkan surat DPP nomor 27/DPP/golkar/2015.

“Sulaiman Abda dipecat karena tidak patuh kepada AD/ART partai. Yaitu tidak patuh dan tidak setia keputusan partai,” kata Muntasir.

Senin nanti, kata Muntasir, dirinya akan ke KIP untuk memberikan surat pemecatan. “Begitu juga ke pihak pimpinan DPR Aceh,” katanya.

Kuasa Hukum Partai Golkar, Darwis, mengatakan keputusan hukum terkait pemecatan Sulaiman Abda berdasarkan surat keputusan Pengadilan Jakarta Utara yang memenangkan Golkar Munas Bali. [] (mal)

 

Wakil Ketua DPR Aceh Kunjungi Masjid Cot Goh

Wakil Ketua DPR Aceh Kunjungi Masjid Cot Goh

BANDA ACEH – Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda, melakukan kunjungan ke Masjid Jamik Bukit Baroe, atau Masjid Cot Goh, Montasik, Aceh Besar, Minggu 23 Agustus 2015.

Sulaiman Abda disambut Imum Mukim Cot Goh, Nirwansyah Rasyid dan Ketua Panitia Pembangunan Mesjid, Ansari Muhammad beserta tokoh masyarakat lainnya.

Kepada Panitia Masjid Cot Goh, Sulaiman Abda menyatakan Pemerintah Aceh melalui APBA 2015 telah menyediakan anggaran pembangunan masjid sebesar Rp1 miliar.

“Ini dana untuk membangun MCK dan taman,” kata Sulaiman Abda yang dibenarkan Ketua Pembangunan Mesjid, Ansari Muhammad.

Menurut Sulaiman Abda, Masjid Cot Goh memang layak dibantu mengingat keberadaan masjid ini sudah mendunia.

“Di masjid ini, jamaah dari berbagai dunia pernah menggelar pertemuan umat Islam. Ada dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Banglades, Thailand, dan India,” kata Sulaiman Abda.

Imum Mukim Cot Goh berharap perhatian Pemerintah Aceh untuk Masjid Cot Goh terus ditingkatkan.

“Kami berharap Bang Leman, melalui DPR Aceh dapat terus memberi dukungannya sebagaimana dukungan yang telah diberikan selama ini,” kata Imum Mukim Cot Goh, Nirwansyah Rasyid. []

Foto: Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda bersama tokoh masyarakat di Masjid Cot Goh. Dok. Istimewa