Tag: gayo

Bupati Gayo Lues Akan Bicara Saman Gayo di Workshop Kuala Lumpur Art Festival 2015

Bupati Gayo Lues Akan Bicara Saman Gayo di Workshop Kuala Lumpur Art Festival 2015

BANDA ACEH – Bupati Gayo Lues akan menjadi salah seorang pembicara pada workshop Saman Gayo pada perhelatan Kuala Lumpur Art Festival di Kuala Lumpur, Minggu 13 September 2015.

Bupati Ibnu Hasjim akan didampingi langsung antropolog dan Direktur Lintas Negara Yayasan Geutanyoe Lilliane Fan yang akan mentranskrib isi materi ke dalam bahasa Inggris.

“Pak Bupati diminta khusus berbicara Saman,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gayo Lues Syafruddin ketika dihubungi, Rabu 9 September 2015.

Disebutkan, Ibnu Hasim diminta hadir ke Kuala Lumpur karena pemikiran yang inovatif telah melaksanakan penampilamn Saman Massal 2052 tahun 2014 lalu.

“Sementara itu informasi yang kami terima dari Yayasan Geutanyoe,” katanya.

Kuala Lumpur Art Festival 2015 merupakan kegiatan yang melibatkan seni dunia, salah satunya penampilan saman Gayo dari “Saman Pemda” Gayo Lues pada Minggu malam 13 September 2015 di Kuala Lumpur. [] (mal)

Mantan Kombatan GAM Wilayah Gayo Silaturahim di Banda Aceh

Mantan Kombatan GAM Wilayah Gayo Silaturahim di Banda Aceh

BANDA ACEH – Sejumlah pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Gayo bertemu di Banda Aceh, Jumat, 4 September 2015. Pertemuan ini disebut-sebut hanya sebagai silaturahmi dan nostalgia sesama mantan kombatan.

“Tidak ada hal penting yang dibicarakan, hanya bertemu sahabat dari Gayo yang kebetulan di Banda Aceh,” ujar Fauzan Azima, salah satu mantan kombatan GAM Wilayah Gayo kepada portalsatu.com di salah satu rumah makan kawasan Desa Kayee Le, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Dia menyangkal pertemuan tersebut terkait persiapan pemilihan kepala daerah wilayah Gayo. Menurut Fauzan, pertemuan ini hanya intens membahas persiapan menjelang 40 hari wafatnya Teungku Iklil Ilyas Leube pada 12 September 2015 mendatang. Almarhum Iklil Ilyas Leube merupakan salah satu tokoh kharismatik di Gayo yang juga mantan kombatan GAM. Dia pernah dijagokan sebagai calon Bupati Aceh Tengah pada 2017 mendatang sebelum meninggal dunia.

“Kami hanya bersilaturahmi saja,” katanya lagi.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir pengusaha sukses asal Gayo, Shamsul Ishad, yang kini berdomisili di Batam dan sedang menyelesaikan proyek di Papua. Selain itu juga terlihat tokoh GAM Gayo Ir Arhamda dan Mustawalad. Hadir juga di lokasi Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Linge, Isamuddin atau akrab disapa Renggali.

Renggali membenarkan bahwa pertemuan tersebut hanya sebatas silaturahim antara mantan kombatan di wilayah Linge. “Biasalah kalau bertemu pasti selalu siapkan waktu untuk bersilaturahmi,” kata Renggali.[](bna)

Ijazah Siswa Luar Biasa di Gayo Belum Keluar

Ijazah Siswa Luar Biasa di Gayo Belum Keluar

REDELONG – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bener Meriah, Darwin SE membenarkan ijazah siswa luar biasa, SDLB, SMPLB dan SMALB di kabupatennya belum dikeluarkan.

“Ijazah itu tersendat di pusat. Keterangan yang kami terima dari Dinas Pendidikan Aceh bahwa karena blangko ijazah untuk siswa LB itu tidak dalam keadaan kosong,” kata Darwin kepada portalsatu.com.

Di Bener Meriah sebut Darwin, terdapat 17 peserta SMP LB dan 1 siswa SMA LB. Sedangkan ijazah siswa SD, SMP dan SMA katanya, telah didistribusikan kepada pihak sekolah masing-masing untuk kemudian diserahkan kepada murid.

“SD, SMP dan SMA sederajat sudah ada ijazahnya. Saat ini sedang proses penulisan nama dan identitas di masing-masing sekolah. Karena masih menggunakan nama dan identitas manual, maka ijazah itu diperkirakan dalam waktu dekat ini akan dibagikan kepada setiap murid bersamaan dengan SKHUN,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Zulhamsyah. Ia juga membenarkan ijazah siswa luar biasa di wilayahnya juga belum diterima. Keterangan yangd iperoleh dari Dinas Pendidikan Aceh juga menyubutkan kekosongan blangko ijazah di tingkat pusat, sehingga menghambat proses pengiriman ijazah ke setiap daerah.

Di Aceh Tengah katanya, terdapat 7 siswa SMP LB dan 1 siswa SMA LB.

“Ijazah siswa selain siswa Luar Biasa kita juga sudah menerima. Sekarang juga sedang proses penulisan nama dan identitas dengan tulisan tangan,” katanya.

Di Aceh Tengah sebut Zulhamsyah, terdapat 2.690 siswa SMA sederajat yang mengikuti UN 2015 yang diselenggarakan pada 13-15 April 2015. Jumlah itu meliputi 1509 siswa SMA, 726 siswa MA, 455 siswa SMK dan 1 siswa SMALB.

Sedangkan peserta un SMP sederajat berjumlah 3.477 siswa. Jumlah itu meliputi, 2.335 siswa SMP, 1.142 siswa MTsN dan 7 orang dari SMPLB. [] (mal)

Warga Gayo Perantauan Diharapkan Berkontribusi Dalam Pembangunan Daerah

Warga Gayo Perantauan Diharapkan Berkontribusi Dalam Pembangunan Daerah

JAKARTA – Masyarakat Gayo yang berada di perantauan, khususnya yang di Jakarta dan sekitarnya diharapkan sumbangsihnya bagi pembangunan daerah di Gayo.
Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM ketika memberi sambutan dalam silaturrahmi masyarakat Gayo se-Jabodetabek di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2015.
Menurut Nasaruddin, melalui kebersamaan dari seluruh masyarakat, baik di daerah maupun di perantauan akan lebih memacu kemajuan daerah. “Kami selalu mengharapkan gagasan pemikiran dari seluruh masyarakat untuk kemajuan daerah, termasuk masyarakat dari perantauan,” kata Nasaruddin.
Permintaan Nasaruddin tersebut dinilai sangat berdasar, karena pemerintah daerah tidak bisa sepihak menjalankan pemerintahan tanpa dukungan dan peran serta masyarakat, termasuk warga perantauan.[]
Total Hadiah Pacuan Kuda Tradisional Gayo Sebesar Rp 252 Juta

Total Hadiah Pacuan Kuda Tradisional Gayo Sebesar Rp 252 Juta

TAKENGON – Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, mengapresiasi dua lembaga yang ikut berkontribus dalam penyelenggaraan pacuan kuda tradisional Gayo 2015 untuk memperingati HUT Ke-70 RI yang berlangsung di lapangan HM Hasan Gayo Belang Bebangka Pegasing, Senin, 17 Agustus 2015. Apresiasi tersebut diberikan Nasaruddin terkait kontribusi keduanya dalam ajang pesta tahunan rakyat Gayo tersebut.

Kedua lembaga tersebut adalah PT. Bank Aceh Cabang Takengon sebagai institusi perbankan serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Aceh sebagai perpanjangan dari Pemerintah Aceh.

Bank BPD menggelontorkan dana sebesar Rp 60 juta yang diperuntukkan bagi para pemenang ketiga pacuan kuda tradisional. Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengucurkan dana sebesar Rp 76 juta yang kelak akan digunakan sebagai hadiah bagi para pememang I dari semua kelas yang diperlombakan.

“Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Bank Aceh Cabang Takengon dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh atas kontribusinya dalam pelaksanaan pacuan kuda kali ini. Kami percaya sumbangan ini akan memotivasi para pemilik dan joki yang ada di Dataran Tinggi Gayo,” ujar Nasaruddin di hadapan perwakilan kedua lembaga.

Sementara itu Kepala Disbudparpora Aceh Tengah, Amir Hamzah, mengatakan tahun ini pihaknya menyediakan hadiah total sebesar Rp 252 juta kepada seluruh pememang. Hadiah tersebut termasuk sumbangan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sebesar Rp 76 juta serta dari BPD Aceh Cabang Takengon Rp 60 juta.

Direncanakan pesta tahunan rakyat Gayo yang melibatkan tiga kabupaten tersebut berakhir pada Sabtu, 23 Agustus 2015, bersamaan dengan berakhirnya Expo Ternak VI 2015 yang juga digelar di lapangan yang sama.[](bna)

Menelusuri Jejak “Yulius Sofacua” Eks Tentara KNIL yang Membela Gayo

Menelusuri Jejak “Yulius Sofacua” Eks Tentara KNIL yang Membela Gayo

BANDA ACEH – Ada peristiwa menarik ketika Gubernur Aceh Zaini Abdullah, menggelar temu ramah dengan keluarga veteran, pejuang dan perintis daerah Aceh, Senin 17 Agustus 2015.

Di sana, Aceh Tengah mengirimkan pejuang non Gayo yang notabene berperang bersama pejuang Gayo di Medan Area, Yulias Sopacua, eks Tentara het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), yakni tentara yang melayani pemerintah Hindia-Belanda dari Ambon.

Yulias Sopacua yang berdarah Ambon itu bergabung ke pasukan Aman Dimot setelah lari dari pasukan “KNIL”, dan tidak mudah, meninggalkan KNIL juga membuat Yulias menjadi buronan. Namun sebagai orang Indonesia, ia memilih membela Indonesia lebih penting, dan akhirnya singah dipasukan Aman Dimot untuk turut berperang bersama di Medan Area.

Kedekatannya dengan Aman Dimot berikut pasukannya, bukan hanya dalam waktu singkat. Yulius Sopacua rupanya sudah menyatu dengan masyarakat Gayo sebelum bergabung bersama pasukan Aman Dimot, dan sakin dekatnya Yulius lantas diberi nama “Ring Waring”, nama khusus untuk Yulius.

Kedekatannya dengan masyarakat Gayo memang cukup fenomenal. Ke Takengon, Ring Waring sekaligus membawa istri bernama Mahdalena, perempuan  berdarah Jawa-Bali. Hasil perkawinan mereka membuahkan anak laki-laki yang kemudian diberi nama Otto Sopacua.

Otto Sopaqua adalah seorang seniman musik yang ikut berkonstribusi besar dalam mengembangkan seni musik keroncong di dataran tinggi Gayo. Namanya identik dengan nama-nama seniman besar lainnya di Gayo seperti AR Moese dan Syech Kilang, namun Otto pria yang komit dijalur musik.

Cucu alamrhum Ring Waring, Darwin Sofacua yang datang mengantarkan ibunda Rosda, Istri almarhum Otto Sofacua, untuk memenuhi undangan Gubernur Aceh, mewakili Ring Waring. Ia mengatakan, Ring Waring tewas bersama Aman Dimot setelah sempat ditawan hingga akhirnya dieksekusi Belanda di Sumatera Utara.

Aman Dimot, pejuang Gayo yang juga ditawan tewas dieksekusi Belanda menggunakan peluru “granat”.

Mayat mereka semua kemudian dimakamkan di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Hingga di masa Orde Baru, makam-makam non Sumatera dibawa ke Pulau Jawa, dan masa itu sempat menimbulkan protes dari sanak keluarga, namun pemerintah tetap membawanya, sehingga makam mereka pun tidak diketahui lagi.

Untuk itu, Darwin dan keluarga sangat berharap kepada pemerintah Aceh untuk melacak kembali makam-makam pejuang tersebut.

“Karena perjuangan mereka di Medan Area adalah sejarah besar orang Gayo dalam mempertahankan republik Indonesia,” katanya.

Katanya, peninggalan Ring Waring yang paling banyak adalah foto-foto ketika berada di Takengon, termasuk ketika bergabung bersama pasukan Aman Dimot di Aceh Tengah. [] (mal)

Film Konflik Generasi “Tari Guel” Diputar di Takengon

Film Konflik Generasi “Tari Guel” Diputar di Takengon

TAKENGON – Film dokumenter yang berkisah tentang konflik generasi muda dengan kalangan tua terkait “Tari Guel” akan diputar di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, 20 Agustus 2015. Film berjudul “Kilau Kerikil” karya anak Gayo Iqbal Fadli itu sekaligus akan menjadi bahan diskusi tentang pandangan generasi muda pada tarian rakyat tersebut.

“Di film ‘Kilau Kerikil’ terlihat bagaimana konflik antara generasi muda dengan kalangan tua tentang tari Guel,” ujar Executive Producer Usman Nuzuli di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2015. malam tadi.

Iqbal Fadli adalah mahasiswa Bina Nusantara Jakarta Jurusan Cinema, yang memilih Tari Guel sebagai sekripsinya. Iqbal juga seorang penari Guel Muda di Jakarta.

“Banyak hal yang selama ini takut diungkapkan dari Tari Guel, di film ini akan terungkap, karena Iqbal ingin menampakkan Tari Guel sebagai tarian yang punya logika dari filosofis orang Gayo,” ujar Usman Nuzuli.

Film “Kilau Kerikil” melibatkan sejumlah seniman Gayo yang lolos audisi. Di antaranya, Ceh Kemara Bujang Onot Kemara, Pemusik Zoel Adjie, dan Pemusik Muda Denang Kinsako. Nama terakhir seharusnya dimainkan Ervan Ceh Kul. Namun saat penggarapan film itu, Ervan menjalani perawatan di rumah sakit.[]

Catatan Ajudan Mualem di Rumah Raja Linge

Catatan Ajudan Mualem di Rumah Raja Linge

SEBAGAI ajudan saya selalu mendampingi Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam setiap kesempatan. Walaupun terkadang saya keteter juga mengikuti Mualem yang amat mobile. Kali ini saya mendampinginya ke rumah Almarhum Iklil Ilyas Leube, Gayo, pada Selasa, 3 Agustus 2015. Kami tiba di Lampahan, Aceh Tengah, sore hari dan disambut oleh keluarga besar almarhum.

Sebelumnya di perjalanan saya diceritakan tentang keluarga almarhum. Saya rada kuper dengan mantan pejuang Aceh walaupun sudah dua tahun bersama Mualem. Berdasarkan cerita Mualem saya jadi memahami siapa sebenarnya keluarga sang pejuang DI/TII dan GAM Ilyas Leube, Hj Salamah, Ilham dan Iklil. Mereka adalah darah biru kaum pejuang.

Hj Salamah, ibu almarhum, menyambut kedatangan kami saat itu. Dari penampilannya dia terlihat begitu tegar. Padahal guratan wajahnya jelas sekali dia sudah uzur. Namun semangat dan cara beliau berbicara seakan-akan saya melihat wajah seorang pejuang.

Hj Salamah menatap langsung lawan bicaranya. Termasuk Mualem. Meskipun Hj Salamah berbicara dengan Mualem dalam tempo yang lama, saya hanya bisa menangkap beberapa patah kata saja. Ibunda Iklil Ilyas Leubee menyampaikan harapannya. Harapan ini konon kerap disampaikan ke semua petinggi yang mengunjunginya. Saban persis seperti apa yang saya baca di media ini.

Meskipun dalam rentang setahun ini telah kehilangan dua putranya, Ilham dan Iklil, tapi intonasi suara dan sikap Hj Salamah tetap terlihat tegar. Dia tidak pernah mengeluh ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya.

Dalam pembicaraannya dengan Hj Salamah, Mualem bersedia menjadi wali bagi anak almarhum. Dia lantas menunjuk Jubir Partai Aceh, Suadi Sulaiman atau kerap disapa Adi Laweung menjadi penghubung antara dirinya dengan keluarga almarhum. Apa yang disampaikan Mualem ini turut disaksikan oleh tokoh masyarakat di sana.

Dalam sambutannya, Wagub juga menyampaikan bahwa cita-cita keluarga pejuang ini akan tetap diteruskan. Mualem mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini adalah proses menuju ke arah cita-cita itu. Cita-cita membawa kesejahteraan untuk Aceh. Membuat Aceh menjadi negeri yang maju.

Wagub mengatakan bahwa sebenarnya dari segi kesejahteraan, masyarakat Gayo lebih sejahtera daripada masyarakat pesisir.

Almarhum Teungku Iklil Ilyas Leube sempat mengundang Mualem untuk menghadiri halal bi halal di Aceh dengan tokoh-tokoh Partai Aceh Kabupaten Aceh Tengah dan berbagai elemen partai sebelum dia meninggal. Raja Linge ini juga berhasil mempersatukan kembali semua elit partai dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Aceh Tengah sebelum meninggal. Peran beliau telah mempersatukan semua pihak yang selama ini berseberangan. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh Ketua KPA Aceh Tengah Suwardi.

“Kami tetap ikut komando, jadi kami sudah bersatu,” ujar Suwardi yang diamini oleh Ketua PA Aceh Tengah, Renggali.

Mualem bertandang ke rumah almarhum Iklil Ilyas Leubee didampingi oleh Wakil Ketua PA/KPA Kamaruddin Abubakar atau Abu Razak, Sekjen PA Mukhlis A Basyah atau dikenal Adun Mukhlis, Teungku Darwis Jeunieb, Ketua Gerindra Aceh TA Khalid, Ketua Fraksi PA Kautsar M Yus, Jubir PA Adi Laweung dan beberapa petinggi KPA/PA serta tokoh masyarakat lainnya.

Usai bertemu dengan keluarga almarhum, Mualem turut bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat Gayo di warung kopi ARB. Dalam perbicangannya mereka turut membahas mengenai pengembangan kopi Gayo agar lebih maju karena daerah ini akan mengikuti kontes kopi di Arab Saudi.[]

Note: Gamal Abdul Nasser adalah ajudan Wakil Gubernur Aceh

Hadapi MEA, Warga Gayo Diminta Tidak Berharap Bantuan Pemerintah

Hadapi MEA, Warga Gayo Diminta Tidak Berharap Bantuan Pemerintah

TAKENGON – Masyarakat Gayo diminta untuk tidak berharap bantuan kepada pemerintah dalam melangsungkan kehidupannya sehari-hari. Warga dataran tinggi poros tengah Aceh ini diharapkan bisa terus berpacu dalam pengembangan usaha ekonomi kreatif dan pengembangan hasil tani kopi Gayo.

Peringatan ini disampaikan Anggota DPR Aceh Daerah Pemilihan IV Bener Meriah-Aceh Tengah, Adam Mukhlis Arifin, kepada portalsatu.com, Senin, 29 Juni 2015. Hal ini dianggap penting guna menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada Desember 2015 mendatang.

“Siap tidak siap, kita harus mampu bertahan hidup kala program MEA itu berlaku di Aceh. Solusi menghadapi MEA itu salah satunya mengembangkan hasil usaha tani. Jangan harapkan bantuan pemerintah,” kata Adam.

Ia mengatakan saat ini banyak proposal berupa permohonan bantuan yang masuk dari masyarakat. Tindakan ini dinilai salah satu faktor penyebab melemahnya tantangan masyarakat untuk menghadapi perdagangan bebas yang akan dilaksanakan dalam MEA.

Bedasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, angka pengangguran saat ini mencapai angka 9,02 persen. Angka tersebut masih di atas rata-rata nasional. Sementara pada pelaksanaan MEA tenaga kerja dari Aceh dituntut untuk mampu bersaing dengan pekerja-pekerja dari 10 negara di ASEAN.

“Ini perlu kita garis bawahi. Sekali lagi saya ingatkan, kita masyarakat Gayo ini jangan sibuk mengurus proposal. Mari kita beralih ke peningkatan hasil usaha tani khsusnya kopi Gayo supaya kita mampu bersaing dengan negara lain dalam MEA ini,” ujar Adam.[](bna)

Kongres Peradaban Aceh Diharapkan Persatukan Seluruh Suku

Kongres Peradaban Aceh Diharapkan Persatukan Seluruh Suku

TAKENGON – Ketua Keluarga Besar Alumni Universitas Gajah Putih Takengon, Iswindi, mendukung penuh upaya yang dilakukan Pemerintah Aceh menggelar Kongres Peradaban Aceh (KPA) 2015. Dia berharap kongres ini dapat menghasilkan persatuan seluruh suku yang ada di Aceh.

“Persoalan dimana tempatnya, itu nomor dua. Yang terpenting kongres itu nantinya melalui Lembaga Wali Nanggroe harus dapat menyatukan suku-suku yang ada di Aceh. Maka sudah dapat dipastikan kesenjangan yang selama ini terjadi akan berakhir,” katanya kepada portalsatu.com di Takengon, Senin, 29 Juni 2015.

Ia menilai hal yang terpenting lainnya adalah keterwakilan suku-suku di Aceh dalam Lembaga Wali Nanggroe, baik dari suku Gayo, Aneuk Jame, maupun suku lainnya. Sementara mekanisme kepemimpinannya juga harus dilakukan secara bergilir.

Di samping itu, Iswindi yang juga mantan Presiden Mahasiswa UGP Takengon ini meminta pemerintah melestarikan seluruh peninggalan sejarah di setiap daerah.

“Ini perlu dilakukan pemerintah agar sejarah suku bangsa tetap dijaga oleh penerus generasinya. Kalau itu dilakukan Pemerintah Aceh kita tidak memperdebatkan lagi persoalan perbedaan suku, karena dasarnya kita berkeyakinan yang sama: Islam,” ujarnya.

Dia menilai rejim Pemerintahan Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf belum bisa meminimalisir kesenjangan sosial yang terjadi antara Aceh pesisir dengan wilayah tengah. Kesenjangan yang dimaksud terdiri dari berbagai aspek, mulai sosial, pembangunan, ekonomi, politik dan budaya.

“Nah, ini yang perlu dilahirkan dalam Kongres Peradaban Aceh itu. Sehingga secara sendirinya Aceh akan kembali seperti masa kerajaan dulu. Dimana pada masa itu tidak ada kesenjangan apapun antara masyarakat Aceh itu sendiri. Seluruh Aceh waktu itu kompak,” kata Iswindi.[](bna)