Tag: gambit

Polres Aceh Timur Amankan Sepucuk Senjata dan Puluhan Amunisi

Polres Aceh Timur Amankan Sepucuk Senjata dan Puluhan Amunisi

IDI RAYEUK – Jajaran kepolisian Polres Aceh Timur berhasil mengamankan sepucuk senjata api laras panjang jenis AK 56 dalam pengembangan kasus Suriadi alias Gambit yang ditangkap pada Kamis dini hari, 2 Juli 2015 lalu.

Selain sepucuk senjata api, polisi juga mengamankan 2 magazin dan 56 amunisi aktif. Barang-barang tersebut ditemukan di Desa Blang Batee Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur pada Senin malam, 6 Juli 2015.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Budi Nasuha Waruwu, ketika dikonfirmasi portalsatu.com pada pukul 04:00 WIB pagi tadi membenarkan kabar tersebut.

Ia mengatakan, senjata yang didapat tersebut merupakan senjata milik salah satu tempat Gambit yang berhasil lolos dalam pengejaran pada Kamis lalu.

Kronologinya kata dia, sebelumnya Gambit diminta pihak Polres untuk menelepon temannya Zulkarnaini atau Dun alias Alex Kopassus untuk menyerahkan diri dan menyerahkan senjatanya, agar tidak digunakan untuk aktivitas kriminal. Namun, menurut penjelasan AKP Budi, Dun tidak mau menyerahkan diri dan hanya mau menyerahkan senjatanya saja di sebuah lokasi.

“Pada pukul 21.00 WIB Senin malam tadi saya beserta 4 anggota resmob segera mengamankan senjata milik  Zulkarnaini, kini barang bukti sudah diamankan di Sat Reskrim  polres setempat,” kata AKP Budi kepada portalsatu.com, Selasa, 7 Juli 2015.[] (ihn)

Foto: Gambit bersama Kasat Reskrim AKP Budi Waruwu dan barang bukti @ist

Berita terkait”

Polres Aceh Timur Tangkap Gambit

Gambit dan Penegakan Hukum

Gambit dan Penegakan Hukum

GAMBIT akhirnya ditangkap setelah buron empat tahun. Mantan kombatan ini menurut polisi melakukan banyak pelanggaran hukum sejak 2011. Kita hargai kerja keras polisi menegakkan hukum dan memberi rasa aman kepada masyarakat. Namun sejumlah pihak juga mempertanyakan kenapa baru sekarang yang bersangkutan dengan mudah ditangkap?

Bagaimana Gambit bisa begitu lihai bersembunyi? Rentang waktu empat tahun dengan sejumlah tuduhan pelanggaran hukum. Siapa di balik Gambit sehingga menjadi tembok bagi polisi. Namun kenapa kali ini dia begitu mudah ditangkap?

Dimanapun di dunia ini, penegakan hukum adalah syarat mutlak lahirnya sistem bernegara yang tertib. Tugas negara untuk melindungi segenap warga dan materinya. Maka bila sebuah pelanggaran hukum tidak tertangani oleh negara maka penyelenggara negaralah yang patut disalahkan. Terutama para penegak hukum.

Dalam kasus ini bukan hanya untuk Gambit. Tapi untuk semua pelanggaran hukum. Gambit melakukan kejahatan dengan motif ekonomi, begitu kata polisi. Tapi ingat pelanggaran hukum umumnya tetap bermotif ekonomi.
Kejahatan bermotif ekonomi amat luas. Di negeri ini kejahatan ekonomi terparah adalah korupsi. Disebut white color crime karena dilakukan oleh mereka orang-orang terpelajar dan umumnya bekerja pada negara.

Dengan tidak bermaksud mengecilkan pelanggaran hukum, kasus Gambit tidak ada apa-apanya dibandingkan kejahatan oleh penyelenggara negara. Mereka memanfaatkan kepercayaan rakyat melalui Pemilu untuk memperkaya diri, keluarga atau kroninya.

Di lain pihak para penegak hukum dan birokrat juga melakukan hal yang sama. Dibayar negara untuk melayani rakyat. Pada kenyataannya malah sebaliknya. Menguras milik rakyat dan minta dilayani rakyat.

Kembali ke kasus Gambit, semoga ini menjadi penegakkan hukum selurus-lurusnya. Jangan ada rekayasa dan embel-embel. Sebagai bekas daerah konflik, kejahatan bersenjata selalu dikaitkan dengan masa lalu. Konon lagi para pelaku adalah mantan kombatan. Kasus ini juga harus jadi teguran bagi pucuk pimpinan pemerintah Aceh.

Kemarin kasus Din Minimi. Padahal jalan damai dianjurkan banyak pihak. Tapi gubernur diam saja. Terkesan tidak peduli dan menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme hukum. Tragis memang karena beliau adalah mantan petinggi GAM. Sedangkan para pelaku adalah bekas anak buahnya.

Banyaknya pelanggaran hukum oleh mantan kombatan harus dianggap teguran. Teguran bahwa ada yang salah dalam pemerintahan selama ini. Memperbanyak interaksi dan dialog adalah salah satu solusi untuk mengatasi hal ini. Membuat formulasi program kesejahteraan rakyat, memproduktifkan uang yang ada untuk membuka lapangan kerja. Agar semua orang terjamin “breueuh bu”. Kalau tidak, kejahatan akan terus tumbuh. Semuanya karena merasa “putoh pruet”.

Bila kejahatan model begini makin merebak maka ancaman terhadap perdamaian makin masif. Akan terjadi efek domino ke banyak sektor. Nah, sekarang kita tanya apakah para pemimpin tidak sadar? Membiarkan atau tidak tahu? Lupa atau pura-pura lupa? Tidak mengerti atau tutup mata?
Intinya mari singsingkan lengan. Jangan beretorika atau lalai dengan segala kemewahan. Birokrat adalah bawahan politisi. Sehingga puncak pimpinanlah yang harus memerintahkan bawahannya untuk berpihak kepada rakyat. Atau Anda akan jadi musuh rakyat.[]

Ini Laporan Aksi Kriminal yang Menyebabkan Gambit Ditangkap

Ini Laporan Aksi Kriminal yang Menyebabkan Gambit Ditangkap

IDI RAYEUK – Jajaran Polres Aceh Timur bersama tim gabungan Polda Aceh berhasil menangkap Syukriadi alias Gambit, 35 tahun, sekitar pukul 01:30 WIB dini hari tadi, Kamis, 2 Juli 2015. Penangkapan sosok ini terkait 4 laporan aksi kriminal yang dilakukan oleh Gambit selama ini.

Berdasarkan data yang diperoleh portalsatu.com dari Reskrim Polres Aceh Timur, ada 4 tindakan criminal yang dituduhkan untuk Gambit.

Pertama, laporan bernomor     LP/ 27 / V/ 2011/ Sek. RT Peureulak tentang penculikan dan pemerasan dengan menggunakan senjata api. Aksi ini terjadi di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau  Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Senin 16 Mei 2011, pukul 19.00 WIB.

Kedua, laporan bernomor      LP / 149 / IX/ 2013/ SPKT tentang percobaan pemerasan dengan menggunakan senjata api di Jalan Paya Meuligoe, Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, Senin 18 November 2013, pukul 15.00 WIB.

Ketiga, laporan bernomor  LP / 34/ III/2014/ SPKT tentang penganiyaan dengan menggunakan senjata api di warung kopi Desa Alue Bu, Jalan Baroh, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Minggu 29 Maret 2014, pukul 22.00 WIB.

Selanjutnya, laporan  LP/ 58/IV/2013/ SPKT tentang pengancaman dengan menggunakan senjata api  di Simpang Bukit Meriam Desa Alue Bate Kecamatan Peudawa Kabupaten Aceh Timur, Sabtu 20 April 2013, pukul 11.30 WIB.

Sebelumnya diberitakan, Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Budi Nasuha mengatakan, Gambit ditangkap di daerah Desa Alue Bu, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Polisi juga menemukan barang bukti berupa satu pucuk pistol. Sementara seorang temannya lolos dalam pengejaran tersebut.

“Ada satu teman Syukriadi (Gambit) masih dalam pengejaran dan belum berhasil ditangkap,” katanya.

Saat ini Gambit berada di Mapolres Aceh Timur. Menurut Kasat Budi, pengejaran itu dilakukan terkait aksi Gambit yang diduga menghentikan paksa proyek pengerasan jalan di Paya Gajah, Peureulak dengan cara merampas kunci mobil alat berat proyek kemarin, Rabu, 1 Juli 2015.

Gambit merupakan mantan GAM wilayah Peureulak. Namanya sempat mencuat pada 2011 lalu setelah beberapa aksi kriminal yang dilakukannya. [] (mal)

Kapolres: Gambit Minta Rekan-rekannya Menyerahkan Diri

Kapolres: Gambit Minta Rekan-rekannya Menyerahkan Diri

IDI RAYEUK – Syukri alias Gambit meminta anggotanya untuk menyerahkan diri dan tidak perlu terlibat baku tembak dengan polisi. Hal ini disampaikan Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, mengutip keterangan Gambit saat ditemui di Mapolres Aceh Timur, Kamis, 2 Juli 2015.

“Ini bukan permintaan saya, tetapi juga merupakan permintaan Syukri alias Gambit yang disampaikan kepada anggota,” ujar Kapolres didampingi Waka Polres Kompol Aji Purwanto.

Dia mengatakan kasus Gambit dilatarbelakangi faktor ekonomi dan tidak mengarah ke politik atau pun makar. Menurut Kapolres, Gambit hanya kecewa pada orang-orang tertentu sehingga melakukan tindak kriminal bersenjata.

“Si Gambit saat saya ngobrol tadi malam mengakui tindakan yang dia lakukan selama ini hanya untuk isi perut saja, dan dia juga mengakui memiliki rasa kecewa dengan orang-orang tertentu,” kata Kapolres.

Ia mengatakan Polres berhasil menangkap Gambit sekitar pukul 01.30 dinihari tadi, Kamis, 2 Juli 2015.

“Kita terus upayakan melakukan perkembangan lanjutan terhadap kasus Gambit dan kita terus upayakan lakukan pengejaran untuk anggota Gambit lainnya,” katanya.

Dia juga mengatakan polisi selalu akan mengantisipasi tingkat kriminal yang terjadi di wilayah Aceh Timur. “Setiap malam kita gelar kegiatan patroli,” ujarnya.[](bna)

Usai Ditangkap, Gambit Dijenguk Anak Istri

Usai Ditangkap, Gambit Dijenguk Anak Istri

IDI RAYEUK – Suriadi alias Gambit, 35 tahun, dijenguk oleh anak istri di ruang Kasat Reskim Polres Aceh Timur, Kamis 2 Juli 2015.

Pantauan portalsatu.com, anak istri Gambit menjenguk sekitar pukul 14.25 WIB. Mereka dipertemukan sekitar 10 menit.

Usai jadwal bertemu selesai, istri Gambit segera meninggalkan Polres Aceh Timur tanpa berbicara sepatah kata pun. Istri Gambit juga menolak menyebutkan nama kepada awak media yang mewawancarainya.

Sebelumnya diberitakan, jajaran Polres Aceh Timur bersama tim gabungan Polda Aceh berhasil menangkap Suriadi alias Gambit, 35 tahun, sekitar pukul 01:30 WIB dini hari tadi, Kamis, 2 Juli 2015.

Pengejaran terhadap Gambit sejak siang kemarin hingga malam tadi dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Budi Nasuha Waruwu.

AKP Budi Nasuha Waruwu, kepada portalsatu.com, mengatakan Gambit merupakan DPO polisi. Tersangka tersangkut kriminalitas lebih dari 4 kasus berbeda.

“Kita menangkapnya di Desa Alue Bue, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur. Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Polres Aceh Timur dan Tim IT Polda Aceh,” kata AKP Budi. [] (mal)

Ini Kronologis Penangkapan Gambit di Aceh Timur

Ini Kronologis Penangkapan Gambit di Aceh Timur

IDI RAYEUK – Jajaran Polres Aceh Timur bersama tim gabungan Polda Aceh berhasil menangkap Suriadi (sebelumnya tertulis Syukriadi-red) alias Gambit, 35 tahun, sekitar pukul 01:30 WIB dini hari tadi, Kamis, 2 Juli 2015.

Pengejaran terhadap Gambit sejak siang kemarin hingga malam tadi dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Budi Nasuha Waruwu.

AKP Budi Nasuha Waruwu, kepada portalsatu.com, mengatakan Gambit merupakan DPO polisi. Tersangka tersangkut kriminalitas lebih dari 4 kasus berbeda.

“Kita menangkapnya di Desa Alue Bue, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur. Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Polres Aceh Timur dan Tim IT Polda Aceh,” kata AKP Budi.

Adapun kronologisnya, kata Kasat, awalnya tim mendapat informasi dari warga bahwa Suriadi alias Gambit sedang pulang dan berada di rumahnya di Desa Alue Bue.

“Mendengar info tersebut tim gabungan langsung melakukan penggerebekan untuk menangkap Suriadi aliad Gambit di rumahnya. Pada saat dilakukan penangkapan, Suriadi tidak melakukan perlawanan dan langsung menyerahkan diri ke pihak Kepolisian. Tim Gabungan melakukan penggeledahan di rumah Suriadi dan berhasil menemukan barang bukti berupa 1 pucuk senjata api laras pendek jenis SNW beserta 6 butir peluru aktif,” kata Kasat Reskim. [] (mal)

Foto: Pistol yang disita dari tangan Gambit alias Suriadi. Dok. IST

Baca Berita Terkait:

Polres Aceh Timur Tangkap Gambit

Polres Aceh Timur Tangkap Gambit

Polres Aceh Timur Tangkap Gambit

IDI RAYEUK – Jajaran Polres Aceh Timur bersama tim gabungan Polda Aceh berhasil menangkap Syukriadi alias Gambit, 35 tahun, sekitar pukul 01:30 WIB dini hari tadi, Kamis, 2 Juli 2015.

Pengejaran terhadap Gambit sejak siang kemarin hingga malam tadi dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Budi Nasuha Waruwu.

Kepada portalsatu.com, AKP Budi Nasuha mengatakan, Gambit ditangkap di daerah Desa Alue Bu, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Polisi juga menemukan barang bukti berupa satu pucuk pistol. Sementara seorang temannya lolos dalam pengejaran tersebut.

“Ada satu teman Syukriadi (Gambit) masih dalam pengejaran dan belum berhasil ditangkap,” katanya.

Saat ini Gambit berada di Mapolres Aceh Timur. Menurut Kasat Budi, pengejaran itu dilakukan terkait aksi Gambit yang diduga menghentikan paksa proyek pengerasan jalan di Paya Gajah, Peureulak dengan cara merampas kunci mobil alat berat proyek kemarin, Rabu, 1 Juli 2015.

Gambit merupakan mantan GAM wilayah Peureulak. Namanya sempat mencuat pada 2011 lalu setelah beberapa aksi kriminal yang dilakukannya.[] (ihn)

Kapolda Ungkap Tiga Kelompok Bersenjata Api yang Eksis di Aceh

Kapolda Ungkap Tiga Kelompok Bersenjata Api yang Eksis di Aceh

BANDA ACEH – Setelah sepekan terjadinya pembunuhan dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara, Kepolisian Daerah Aceh masih belum dapat mengungkap dan menangkap pelakunya. Kepolisian menduga kelompok tersebut berjumlah 15-20 orang.

“Apakah bersenjata semua, belum diketahui. Yang jelas bersenjata, karena melakukan pembunuhan dengan menggunakan senjata api,” kata Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Husein Hamidi dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin siang, 30 Maret 2015.

Menurut Husein, belum diketahui pasti apakah sebelumnya kelompok yang melakukan pembunuhan tersebut terlibat aksi-aksi kriminal lain di Aceh. Sejauh ini, polisi hanya mendeteksi ada tiga kelompok bersenjata di Aceh yang kerap melakukan aksi kriminal. Mereka adalah kelompok Din Minimi, Raja Rimba, dan Gambit.

Pemimpin kelompok Raja Rimba sudah tertangkap di Aceh Timur beberapa bulan lalu. Tapi nama Raja Rimba tetap dipakai oleh orang lain dalam melakukan aksi kriminal. “Seakan-akan belum tertangkap,” ujar Husein.

Husein menuturkan aksi kriminal dengan menggunakan senjata sebagian telah terungkap. Salah satunya pelakunya baru ditangkap, yakni Doyok dari kelompok Din Minimi, 23 Maret lalu.

Dalam penangkapan Doyok, polisi menyita 384 butir peluru. Saat ini Doyok sedang diproses di Polres Aceh Utara. “Belum diketahui keterlibatannya dalam kasus pembunuhan TNI. Tapi dia diduga melakukan aksi-aksi kriminal sebelumnya,” kata Husein.

Polisi terus mengejar kelompok yang membunuh anggota TNI dari Kodim Aceh Utara pada Senin lalu. TNI juga dilibatkan secara bersama-sama untuk menjaga stabilitas di Aceh.[] sumber: tempo.co