Tag: facebook

Ini Cara Mematikan Video Facebook yang Terputar Otomatis

Ini Cara Mematikan Video Facebook yang Terputar Otomatis

DI Indonesia, fitur autoplay video di situs Facebook, baik itu melalui gadget maupun PC, akhirnya mulai berjalan.

Itu artinya, semua video yang ada di linimasa atau timeline Facebook akan langsung diputar, tanpa mengharuskan pengguna menekan tombol play.

Bagi sebagian pengguna, fitur tersebut tentunya akan sangat membantu menghemat waktu. Mereka tidak perlu repot-repot menekan tombol untuk melihat video.

Akan tetapi, untuk sebagian pengguna lagi, fitur tersebut bisa saja sangat menjengkelkan, terutama bagi yang mengaksesnya melalui aplikasi Facebook di perangkat mobile.

Pasalnya, paket data atau internet bisa saja habis akibat pemutaran video yang sebenarnya belum tentu diinginkan. Selain itu, pemutaran video ini juga bisa membuat baterai ponsel cepat berkurang.

Facebook sebenarnya mengizinkan para penggunanya untuk mematikan fitur autoplay tersebut. Berikut langkah-langkahnya.

Untuk komputer atau laptop

Dari laman Facebook, klik “Option”. Menu tersebut ada di bagian kanan atas dengan icon berbentuk gambar panah yang mengarah ke bagian bawah. Kemudian, klik “Settings” dan pilih “Videos” yang ada di bagian kiri layar.

Dari menu “Videos”, cari “Auto-play Videos”, dan pindahkan pilihan dari “Default” ke “Off”.

Untuk ponsel dan tablet

Ada beberapa pilihan autoplay untuk kedua perangkat tersebut, yakni “On”, “WiFi Only”, dan “Off”.

Jika pengguna memilih “On”, maka jumlah paket data yang digunakan tergantung dengan seberapa lama ia menyaksikan video.

Apabila pengguna men-scroll laman melewati video di linimasa, video tersebut secara otomatis akan berhenti.

Jika pengguna menggunakan WiFi, tidak ada paket data yang digunakan.

Setting ponsel berbasis Android

Buka aplikasi Facebook, tekan tombol “Menu”, pilih “App Settings”, cari “Videos Play Automatically”, kemudian pilihlah “Off” jika ingin mematikannya.

Setting untuk iPhone dan iPad

Pilih “Settings” untuk iPhone atau iPad. Perhatikan, ini menu setting untuk iPhone dan iPad, bukan di aplikasi Facebook.

Selanjutnya, cari Facebook. Tekan “Settings”, cari “Video”, kemudian pilih “Auto-play”. Untuk mematikan fitur autoplay, tekan tombol “Off”.[] sumber: tribunnews.com

Facebook Terancam Denda Rp 4 Miliar per Hari

Facebook Terancam Denda Rp 4 Miliar per Hari

Komisi Privasi Belgia (BPC) menuding Facebook bertindak sama seperti badan keamanan AS, National Security Agency (NSA). Jejaring sosial tersebut dituduh sebagai mata-mata tanpa otoritas dan telah melanggar privasi pengguna Eropa.

Atas tuduhan tersebut, Facebook diminta ganti rugi 280.000 dollar AS atau sekitar Rp 4 miliar per hari. Tuntutan tersebut, kata perwakilan BPC, berakhir setelah Facebook berhenti menguntit para penggunanya di Eropa.

Pengacara yang membela BPC, Frederic Debussere, mengimbau hakim untuk tak terintimidasi oleh pembelaan yang akan diajukan Facebok.

“Jangan terintimidasi oleh Facebook. Mereka akan bilang bahwa tuntutan kami tak bisa diimplementasikan di Belgia,” kata Debussere, sebagaimana dilaporkan TechTimes dan dikutip KompasTekno, Sabtu (26/9/2015).

Benar saja, pengacara Facebook Paul Lefebre mematahkan tuntutan BPC atas dasar lokasi. “Bagaimana bisa Facebook menjadi subjek hukum Belgia sementara manajemen pengumpulan data pengguna Facebook di Eropa dikumpulkan di Irlandia?” ia berkilah.

Diketahui, pusat Facebook Eropa terletak di Irlandia. Ada sekitar 900 orang yang bekerja di markas cabang Facebook tersebut. Maka, Facebook pun menjamin bahwa layanannya telah memenuhi syarat privasi yang ditetapkan pemerintah Irlandia sebagai negara perwakilan Eropa.

Perdebatan antara BPC dan Facebook masih berlangsung sengit. BPC menggarisbawahi kemampuan Facebook mengumpulkan data dari jutaan orang di seluruh dunia bertujuan untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Pemerintah Belgia pun menganggap kontrol monitor Facebook untuk menganalisis kebiasaan masyarakat online, bahkan yang bukan penggunanya, terindikasi sebagai kejahatan atas hak privasi.

Belgia tak sendiri melawan Facebook. Sebelumnya, media yang dibangun oleh Mark Zuckerberg tersebut juga pernah dituntut oleh Belanda atas isu yang sama.[] Sumber: kompas.com

Foto ilustrasi

Kenal Lewat Facebook, Remaja Ini Culik Siswa SMP

Kenal Lewat Facebook, Remaja Ini Culik Siswa SMP

Sidoarjo – Indra, 23 tahun, buruh pabrik di Gresik, Jawa Timur, akhirnya ditangkap polisi setelah membawa kabur VN, 14 tahun, siswi kelas IX sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Krian, Sidoarjo. Polisi menangkap tersangka di rumah orang tuanya di Lampung.

Wakil Kepala Kepolisian Resor Sidoarjo Komisaris Aditya Puji mengatakan pelaku ditangkap pada Minggu, 20 September 2105. “Tersangka membawa lari korban sejak 16 September 2015 ke rumah orang tuanya di Lampung,” ucapnya di Markas Polres Sidoarjo, Senin, 21 September 2015.

Puji menjelaskan, sejak mendapat laporan orang tua korban pada 16 September lalu, polisi bergerak cepat melacak keberadaan tersangka dan korban. “Lewat media sosial Facebook, akhirnya kita ketahui posisi mereka berdua ada di Lampung,” ujarnya.

Kepada polisi, Indra mengaku mengenal NV dari Facebook. Dari situ, keduanya beberapa kali melakukan pertemuan sebelum akhirnya berpacaran. “Setelah kami pemeriksa, selama berpacaran, tersangka mengaku sudah pernah mencabuli NV tiga kali. Tersangka juga berjanji akan menikahi korban,” tutur Puji.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 81 dan 332 KUHP lantaran membawa kabur anak di bawah umur dengan ancaman 5-15 tahun penjara. “Tersangka saat ini kita tahan di Mapolres Sidoarjo,” kata Puji. | sumber: tempo

Status Facebook Gambarkan Karakter Sesungguhnya Seseorang

Status Facebook Gambarkan Karakter Sesungguhnya Seseorang

Studi baru di Burnel Universitas London mengemukakan bahwa unggahan seseorang pada dinding Facebook mereka  menggambarkan karakter pemilik akun sosial media.

Misalnya, mereka yang secara terus menerus menceritakan hubungan mereka yang sedang digrandungi masalah, itu artinya mereka membutuhkan perhatian serta dukungan. Mereka menganggap ini bagian dari pengalihan perhatian mereka atas masalah yang sedang dihadapi.

Dengan mengunggah perasaan mereka yang sedang kacau,  lalu kemudian ada temannya yang menyukai statusnya ataupun berkomentar, mereka memiliki kebahagiaan tersendiri. Ini untuk menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang sendirian.

Di sisi lain ada yang gemar mengunggah sesi gaya hidup sehat mereka misalnya berolahraga. Ini menunjukkan mereka egois, berharap orang mengetahui apa yang mereka lakukan kemudian mereka menyukai dan melontarkan komentar. Yang jadi semakin memperkuar rasa percaya diri mereka.

“Sangat penting untuk memahami apa-apa yang ditulis mereka. Ini untuk menghargai apa yang mereka tulis dengan mengklik tanda like atau memberikan komentar pada status mereka,” ujar Tara Marshall, dosen psikologi Universitas Brunel di London, dilansir dari tech.firstpost, Sabtu (19/9).

Menurutnya, apa yang ditulis oleh masing-masing individu di dalam akun Facebook mereka memiliki kekayaan topik yang berbeda. Untuk Anda yang memberikan like atau berkomentar, ini menunjukkan bahwa Anda menerapkan prinsip inklusi sosial. Artinya, mendorong seluruh elemen masyarakat untuk mendapatkan perlakuan yang sama, kesempatan yang sama, dan setara tanpa ada batasan dan perbedaan apapun.

“Sedangkan bagi mereka yang menuliskan statusnya, mereka tidak merasa dikucilkan,” ujar Tara.

Terlepas itu, sebenarnya yang menulis juga kadang lebih mengharapkan respon berupa komentar pada dinding Facebook mereka. Dan bagi mereka yang berkomentar juga mungkin hanya sebagai ungkapan atas nama kesopanan.[] Sumber:  republika.co.id

Foto ilustrasi

Heboh Muazin Mesir Ganti Kata ‘Tidur’ dengan ‘Facebook’ di Azan Subuh

Heboh Muazin Mesir Ganti Kata ‘Tidur’ dengan ‘Facebook’ di Azan Subuh

KAIRO – Muazin bernama Mahmoud Al Mughazi memicu kontroversi di Mesir. Surat kabar Al Masry Al Youm, Selasa (1/9), melaporkan bahwa takmir Masjid Sayed Ghazi di Kota Al Dawar itu dituding memodifikasi kalimat azan subuh.

Dalam azan subuh ada satu panggilan khusus tak ada dalam empat waktu salat lainnya. Tepatnya kalimat “ash-shalaatu khairum minan-nauum“, artinya salat itu lebih baik daripada tidur. Mahmoud, menurut beberapa saksi mata, beberapa kali mengganti kalimat panggilan ini menjadi “salat itu lebih baik daripada membuka Facebook.”

Jamaah salat subuh Masjid Sayed Ghazi jadi resah karena sang takmir seenaknya mengubah panggilan ibadah. Kementerian Agama Mesir akhir pekan lalu mencopot Mahmoud dari posisinya. Dia kini dimintai keterangan, kenapa membuat kalimat azan seenaknya sendiri.

“(Mahmoud) akan dipecat bila laporan ini terbukti,” kata Juru Bicara Kementerian Agama Mohammad Abdul Razeq.

Di Mesir, muazin maupun imam masjid dipantau pemerintah. Azan nyeleneh ala Mahmoud ini, walaupun maksudnya mengingatkan jamaah agar tidak terlena main facebook sampai lupa waktu, dianggap bidah besar.

Sekadar informasi, warga Mesir memang terhitung kecanduan Facebook. Jejaring sosial itu memiliki 16 juta pengguna aktif di Negeri Piramida, salah satu yang terbesar di Timur Tengah.

Saat diwawancarai dream TV, Mahmoud membantah telah mengganti lafal azan. Dia balik menuding bahwa fitnah itu disebar anggota Ikhwanul Muslimin. Mahmoud menyatakan Masjid Sayed Ghazi hendak dikuasai kelompok politik terlarang yang masih sealiran dengan PKS di Indonesia.

“Saya tidak pernah mengucapkan lafal azan subuh seperti yang dituduhkan,” tandasnya.[] sumber: merdeka.com

Foto: Ilustrasi azan. @Dok

Kisah Mahasiswa Harvard yang Membocorkan Kelemahan Facebook

Kisah Mahasiswa Harvard yang Membocorkan Kelemahan Facebook

SETELAH insiden Tinder murka akibat dikritik jurnalis, Facebook pun gusar akibat kelemahan sistemnya dibeberkan seorang mahasiswa Universitas Harvard.

Cerita berawal tiga bulan lalu saat mahasiswa bernama Aran Khanna membuat aplikasi bertajuk “Marauders Map”, yakni peta yang bisa menunjukkan lokasi teman saat mengobrol lewat Facebook Messenger.

Khanna memanfaatkan ekstensi Chrome ke laman Messenger untuk mengumpulkan data lokasi yang dibagi pengguna. Kemudian, data-data itu dialokasikan menjadi Marauders Map.

Jika mengunduh Marauders Map, pengguna akan merasakan pengalaman yang berbeda saat mengobrol lewat Messenger. Peta lokasi teman akan serta-merta muncul tiap kali pengguna berkomunikasi.

Tak hanya itu, Marauders Map juga memungkinkan pengguna mengetahui jadwal kegiatan sehari-hari teman Messenger asalkan teman tersebut sering diajak chatting. Menurut Khanna, hal ini dimungkinkan karena adanya celah keamanan privasi pada layanan Facebook.

Marauders Map jadi viral

Pada 26 Mei 2015, Khanna mengumumkan aplikasi ciptaannya lewat artikel di Medium. Tak hanya itu, Khanna juga membeberkan kelemahan Facebook yang ia temukan.

“Facebook Messenger secara otomatis mengirim lokasi pengguna ke semua pesan. Ini juga memungkinkan seseorang mengetahui pola kegiatan pengguna Messenger,” begitu ditulis Khanna di Medium.

Setelah mengunggah artikel tersebut, Marauders Map jadi viral. Dalam sekejap, file ekstensi peta pengintai itu diunduh 85.000 pengguna Messenger, kata Khanna. Facebook pun mengendus popularitas Marauders Map.

Perwakilan Facebook segera menghubungi Khanna dan meminta Marauders Map segera ditutup. “Atas permintaan Facebook, saya menutup versi ekstensi Marauders Map. Facebook juga menonaktifkan pembagian lokasi dari lamannya,” Khanna menambahkan tulisannya di Medium setelah dihubungi Facebook.

Seminggu setelahnya, 5 Juni 2015, Facebook meluncurkan pembaruan untuk Messenger. Sama seperti Marauder Map, pembaruan tersebut memberi pilihan bagi pengguna untuk saling membagi peta lokasi ke teman.

Dicurigai mencuri ide mahasiswa Harvard, juru bicara Facebook Matt Steinfeld segera memberi klarifikasi. “Kami mulai mengembangkan fitur pembagian lokasi sebelum Marauders Map. Ini berdasarkan masukan dari para pengguna Messenger,” katanya pada Boston.com.

Awal pekan ini, Khanna kembali membeberkan celah privasi Facebook melalui sebuah studi kasus yang diunggah ke “Harvard Journal of Technology Science”.

Facebook tak jadi terima Khanna untuk magang

Atas perbuatannya, Khanna yang seharusnya menghabiskan masa liburan semester untuk magang di Facebook akhirnya harus menerima penolakan. Kepala HRD Facebook menghubungi Khanna dan mengatakan bahwa tulisannya di Medium tak sesuai dengan standar etika yang diharapkan dari seorang anak magang.

Steinfeld membenarkan pemutusan kontrak magang sepihak dari Facebook. “Peta buatan Khanna menyalahi aturan kami karena mencuri data pengguna Facebook. Berkali-kali kami menyuruhnya menghapus kode file, dia malah menggembar-gemborkan file tersebut. Ini salah dan tak sesuai visi kami,” ia menuturkan.

Menanggapi pemutusan hubungan magangnya, Khanna tak gentar. Ia berkilah sengaja membuat Marauders Map untuk menunjukkan celah pada sistem Facebook. Harapannya, jejaring sosial tersebut segera memperbaiki kelemahan-kelemahan yang merugikan pengguna.

“Saya tidak menargetkan Marauders Map untuk jadi sesuatu yang besar,” katanya.

Khanna akhirnya magang di sebuah startup di Silicon Valley. Ia mengatakan bahwa kasusnya dengan Facebook merupakan “pengalaman magang” yang sebenarnya.[] sumber: kompas.com

WhatsApp dan Snapchat Terancam Dilarang di Inggris

WhatsApp dan Snapchat Terancam Dilarang di Inggris

Warga Inggris terancam tidak bisa ngerumpi lewat layanan-layanan instant messenger populer. Pasalnya, Perdana Menteri David Cameron terus mendorong rencana legislasi baru yang melarang penduduk negeri itu mengirim pesan apapun yang.

Jika undang-undang tersebut disahkan maka aplikasi-aplikasi populer seperti WhatsApp, iMessage, dan Snapchat yang notabene menggunakan enkripsi pun tak bisa beroperasi lagi di Inggris.

Awal tahun ini, Cameron memang mengatakan bahwa ia akan mencari cara untuk melarang komunikasi terenkripsi apabila ia terpilih kembali sebagai perdana menteri Inggris.

“Di negeri kita, apakah kita harus membolehkan komunikasi antar-individu yang tidak bisa kita baca?” tanyanya ketika itu, sebagaimana dirangkum Kompas Tekno dari TechSpot, Sabtu (11/7/2015).

Pada Mei lalu, Cameron benar-benar terpilih kembali setelah tiga saingannya dalam pemilu parlemen Inggris mengundurkan diri.

Banyak pihak memandang rencana undang-undang bernama lengkap Investigatory Powers Bill itu sebagai pelanggaran privasi.

Di dalamnya, tercantum ketentuan bahwa para perusahaaan penyedia layanan internet seperti Google, Apple, Facebook, dan WhatsApp harus merekam aktivitas para penggunanya di Inggris, untuk diserahkan kepada pihak kepolisian kapanpun diminta.

Jika prosesnya berjalan lancar, Investigatory Powers Bill  bisa disahkan dalam waktu beberapa minggu ke depan.

Pemerintah Inggris diduga makin ngotot dengan rencana undang-undang tersebut menyusul terjadinya beberapa peristiwa teror belakangan ini, termasuk penembakan 30 warga Inggris di Tunisia beberapa waktu lalu.

Belum jelas sejauh mana implementasinya nanti, namun ada kekhawatiran pihak pemerintah Inggris bakal memanfaatkannya untuk memata-matai warga, entah pelaku kriminal atau orang baik-baik sekalipun. | sumber : kompas

Moments, Aplikasi Foto Facebook yang Menuai Larangan di Eropa

Moments, Aplikasi Foto Facebook yang Menuai Larangan di Eropa

Jakarta – Aplikasi foto buatan Facebook, Moments, dipastikan tidak bakal meluncur di Eropa dalam waktu dekat. Alasannya, Moments dilengkapi sensor face recognition atau pengenal wajah. Sensor ini berfungsi mendeteksi wajah dalam foto untuk otomatis membagi langsung kepada orang tersebut.

Pemerintah Irlandia memberikan opsi bagi Facebook. “Mereka harus menawarkan pilihan aplikasi yang tidak dilengkapi sensor pengenal wajah,” ujar perwakilan pemerintah sebagaimana dilansir situs BBC, Minggu, 21 Juni 2015. Irlandia melarang Moments karena alasan perlindungan privasi pengguna Internet.

Facebook menyatakan tidak bisa berjanji memenuhi permintaan tersebut. “Kami belum memiliki mekanisme untuk menghadirkan fitur pilihan,” kata Kepala Kebijakan Facebook untuk wilayah Eropa, Richard Allen.

Dia juga tidak bisa memastikan kapan Facebook bakal menghadirkan Moments tanpa sensor pengenal wajah. Media sosial paling populer sejagat ini memilih mengikuti larangan hingga ada kebijakan baru.

Belgia juga berencana mengambil langkah serius terkait dengan kehadiran Moments. Bahkan badan pengawas perlindungan data bakal membawanya ke pengadilan atas dugaan pencurian data pengguna Internet.

Selain di Eropa, Moments juga dilarang di Kanada dengan alasan keamanan data. “Facebook memiliki kemampuan mengkombinasikan data biometrik dengan informasi pengguna, data biografis, lokasi, serta data milik orang lain yang dapat memberikan ancaman serius,” tutur perwakilan komisioner keamanan Internet Kanada.

Ternyata di negara asal Facebook, Amerika Serikat, Moments pun masih menjadi perdebatan. Pembicaraan antara organisasi perlindungan privasi dan pemerintah belum mencapai kesepakatan untuk memberikan solusi.

Facebook cukup serius dalam menggarap sensor pengenal wajah. Teknologi yang dibenamkan pada Moments didukung sistem canggih yang diklaim memiliki akurasi hingga 97,25 persen. | sumber: tempo.co

Foto REUTERS/Robert Galbraith

Jumlah Pengguna Facebook Messenger Tembus 700 Juta Orang

Jumlah Pengguna Facebook Messenger Tembus 700 Juta Orang

Facebook Messenger belum lama ini mencetak rekor jumlah unduhan di angka lebih dari satu miliar download. Kabar terkini, aplikasi pesan instan milik FB itu telah melampaui 700 juta pengguna. Demikian menurut laman Ubergizmo yang melansir Recode dan dikutip Minggu, 14 Juni 2015.

Angka 700 juta pengguna merupakan monthly active user (MAU) yang pada tiga bulan lalu masih di angka 600 juta pengguna aktif bulanan. Pada pertemuan dengan investor, Mark Zuckerberg, CEO Facebook memaparkan informasi tersebut.

Dalam tujuh bulan terakhir, Facebook Messenger mampu menambahkan 200 juta pengguna baru. Hal ini dinilai sebagai buah dari kesuksesan strategi FB yang tidak lagi mengintegrasikan Messenger di aplikasi reguler Facebook pada perangkat bergerak.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Facebook terkesan “memaksa” pengguna unduk download Messenger sebagai stand alone app jika ingin mengakses inbox atau pesan. Ini membuat user mau tidak mau harus melakukan instalasi Messenger apabila ingin berinteraksi di layanan tersebut.

Facebook Messenger adalah aplikasi chat yang dimiliki FB selain WhatsApp yang terus pula menunjukkan eksistensinya. Keduanya kini mampu menembus satu miliar lebih unduhan dan masuk sederet aplikasi dengan rekor one billion download di Google Play Store.

Terkait fitur, Facebook Messenger belum lama ini kian memudahkan pengguna untuk berbagi lokasi mereka. Sudah ditambahkan fitur lokasi, namun disempurnakan agar user bisa dengan mudah berbagi data lokasi meski tidak sedang berada di tempat yang akan dituju. | sumber : sidomi

Cara Facebook dan Google Lacak Korban Gempa Nepal

Cara Facebook dan Google Lacak Korban Gempa Nepal

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) adalah satu satu lembaga yang paling dahulu meluncurkan sarana online untuk melacak ribuan orang yang masih hilang.

Layanan mereka merilis daftar-daftar nama dan informasi mereka yang selamat, pasien-pasien rumah sakit, mereka yang mencari anggota keluarga, mereka yang masih belum ditemukan, dan korban yang tewas.

Para individu dapat mengakses daftar-daftar ini secara langsung di web untuk mencari nama anggota keluarga atau mendaftarkan status mereka—apakah mereka aman atau berada dalam bahaya.

Facebook juga telah meluncurkan fitur Safety Check bagi gempa Nepal, yang mengundang pujian dari para penggunanya. “Ini cara yang mudah untuk memberitahu keluarga dan teman-teman bahwa Anda baik-baik saja. Bila Anda berada di daerah yang terkena gempa, Anda akan mendapat notifikasi yang menanyakan apakah Anda aman, atau apakah Anda ingin mengecek status teman Anda,” ujar CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam pesannya di Facebook.

“Ketika terjadi bencana, orang-orang perlu tahu apakah orang tercinta mereka aman. Di saat-saat seperti inilah kemampuan untuk terhubung sangat penting.”

Seorang profesional IT di Brazil adalah salah seorang di antaranya yang mengatakan inisiatif dari Facebook telah membantunya mengetahui status keluarga dan kerabatnya di Nepal. “Ayah dan teman-teman saya berada di daerah (yang terkena gempa) dan salah satu tempat pertama untuk mengontak mereka adalah melalui Facebook. Medium ini tidak selalu mengenai ‘likes’ dan hal-hal yang menyenangkan,” ia menulis dalam kolom komentar bagi pesan Zuckerberg di Facebook.

“Ketika Anda atau anggota keluarga Anda berada dalam bahaya, Anda mencoba untuk mengontak mereka dengan segala cara dan saya lega Facebook membantu saya hari ini. Koneksi adalah hal yang penting di sini.”

Aplikasi lainnya yang tersedia adalah Google Person Finder — pertama diluncurkan saat gempa 2010 di Haiti—yang menggunakan SMS untuk memungkinkan seseorang untuk mencari atau memperbarui informasi mengenai orang yang hilang.

Pada hari Sabtu, Jacqueline Brown mendaftar Angus Brown, 46 tahun, dari London dalam keadaan aman. “Angus telah mengirim email, ia berada di Lumboche dengan Martin. Mereka berdua aman, di tempat hangat dan punya makanan,” katanya. Layanan ini sekarang melacak 5.800 orang. | sumber : nationalgeographic