Tag: erdogan

Soal Insiden Mina, Ini Kata Presiden Erdogan

Soal Insiden Mina, Ini Kata Presiden Erdogan

ISTANBUL – Berbagai kritikan yang ditujukan kepada pemerintah Arab Saudi terkait tragedi Mina, membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan angkat bicara. Pemimpin Turki itu membela pemerintah Saudi.

“Saya tidak bersimpati dengan pernyataan-pernyataan keras terhadap Arab Saudi,” cetus Erdogan kepada para wartawan seperti dilansir media Arab News, Sabtu, 26 September 2015.

Menurut Erdogan, adalah hal yang keliru untuk menyalahkan Arab Saudi yang telah melakukan yang terbaik untuk memungkinkan event haji terlaksana.

“Anda harus melihat gelas itu separuh penuh,” tutur Erdogan.

Sebelumnya, seorang pemimpin dari partai berkuasa Turki mengatakan, pemerintah Turki akan bisa mengadakan Haji dengan lebih baik jika diberi kesempatan.

“Jika Turki dipercayakan menyelenggarakan Haji, kami akan memastikan bahwa tak seorang pun mengalami bahaya apapun,” tutur Mehmet Ali Sahin, wakil presiden partai berkuasa Turki, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).

Lebih dari 700 jemaah haji meninggal dalam tragedi Mina yang terjadi pada Kamis, 24 September. Pemerintah Iran mengkritik keras pemerintah Saudi atas tragedi yang juga menyebabkan lebih dari 800 orang terluka. Iran bahkan menuntut Saudi bertanggung jawab penuh atas lemahnya langkah-langkah keamanan yang menyebabkan tragedi Mina.[] sumber: detik.com

Hendak Ditangkap, Dua Jaksa Anti Erdogan Kabur ke Georgia

Hendak Ditangkap, Dua Jaksa Anti Erdogan Kabur ke Georgia

ISTANBUL – Dua orang jaksa yang terlibat dalam penyelidikan suap terhadap orang-orang dekat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kabur ke Georgia, beberapa jam setelah surat penahanan mereka diterbitkan. Demikian dikabarkan media pemerintah, Selasa (11/8/2015).

Kantor kejaksaan Istanbul, Senin (10/8/2015), memerintahkan penangkapan Zekeriya Oz, Celal Kara dan Mehmet Yuzgec dengan tuduhan membentuk organisasi kejahatan dan mencoba menggulingkan pemerintah dengan kekerasan.

Namun, polisi kemudian menemukan Zekeriya Oz dan Celal Kara telah kabur ke Georgia karena diduga sudah mendapatkan informasi soal surat penahanan itu. Demikian dikabarkan kantor berita Anatolia.

Sementara harian Hurriyet mengabarkan pemerintah Turki sudah menghubungi pemerintah Georgia untuk membicarakan ekstradisi keduanya. Sedangkan polisi masih mencari keberadaan Mehmet Yuzgec.

Sebelumnya, ketiga jaksa itu sudah dinonaktifkan sejak Mei lalu karena dianggap menyalahgunakan wewenang dengan memimpin penyelidikan dugaan suap pada Desember 2013 yang sempat mengguncang pemerintahan Erdogan yang saat itu masih menjabat sebagai perdana menteri.

Saat itu, penyelidikan kasus suap tersebut sempat menyeret sejumlah pejabat tinggi Turki, termasuk empat orang menteri dalam kabinet Erdogan. Akhirnya, kasus tersebut ditutup karena dianggap “kurang barang bukti”.

Erdogan mengklaim investigasi kasus dugaan suap dan korupsi itu adalah sebuah upaya “kudeta yudisial” yang didalangi Fethullah Gulen seorang ulama yang kini berdomisili di AS.[] sumber: kompas.com

Erdogan Pelajari Cara Penyelesaian Konflik Aceh

Erdogan Pelajari Cara Penyelesaian Konflik Aceh

JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan belajar proses perdamaian konflik di Aceh untuk menyelesaikan perseteruan di negaranya.

“Kita juga bicara tentang bagaimana perdamaian masing-masing, seperti contoh bagaimana (penyelesaian konflik) Aceh. Dia (Erdogan) mempelajari bagaimana menyelesaikan Aceh, sebagai bahan untuk penyelesaian konflik mereka di sana (Turki),” kata JK usai bertemu Presiden Erdogan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu, 1 Agustus 2015.

Ancaman penyebaran paham Islam radikal untuk membentuk Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) salah satunya masuk melalui Turki. Presiden Erdogan pun mengeluhkan banyaknya warga bersenjata yang hendak bergabung dengan kelompok ISIS melalui negaranya.

Turki adalah negara yang berbatasan langsung dengan Suriah sehingga banyak warga negara asing yang gagal masuk ke Suriah tertahan di Turki.

“Kita (Indonesia dan Turki) masing-masing menghadapi suatu gejala yang sama, yaitu ISIS. Tetapi memang lebih berat (kondisinya) di Turki daripada di sini (Indonesia),” kata JK.

Presiden Erdogan melawat Indonesia sejak Jumat (30/7) dan telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo serta pimpinan DPR RI. Agenda kunjungan kenegaraan Erdogan itu antara lain membicarakan hubungan bilateral kedua negara di bidang ekonomi perdagangan, persenjataan dan penjagaan perdamaian.[] sumber: republika.co.id

Pererat Kerjasama Bilateral, Presiden Erdogan Temui Jokowi di Istana

Pererat Kerjasama Bilateral, Presiden Erdogan Temui Jokowi di Istana

JAKARTA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan menemui Presiden Joko Widodo siang ini, Jumat (31/7). Ini adalah kunjungannya yang keempat ke Indonesia dan pertama dalam kapasitasnya sebagai Presiden Turki.

Kunjungan sebelumnya dilakukan dalam kapasitas sebagai Perdana Menteri Turki. “Tujuan utama kunjungan ini adalah untuk mempererat kerjasama kedua negara di berbagai bidang khususnya kerjasama ekonomi. Kunjungan ini juga dilakukan saat Indonesia dan Turki merayakan 65 tahun hubungan kerjasamanya,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir di kantornya.

Dalam pertemuan bilateral ini, kedua kepala negara akan membahas sejumlah bidang prioritas seperti kerjasama ekonomi, pendidikan dan industri pertahanan.

Jokowi, sapaan Joko Widodo, dan Erdogan juga akan bertukar pikiran mengenai kepentingan kedua negara dalam menghadapi dinamika isu global, seperti pemberantasan terorisme, situasi Timur Tengah, penanganan irregular movement of people.

“Dalam kunjungannya ke Indonesia, selain bertemu dengan Jokowi, Presiden Turki juga dijadwalkan menyampaikan public lecture di Lembaga Ketahanan Nasional, serta melakukan tur ke Mesjid Istiqlal dan Museum Nasional,” imbuh pria yang akrab disapa Tata itu.

Sebelumnya diketahui, Turki adalah salah satu negara mitra terdekat Indonesia. Kedua negara telah menandatangani Deklarasi Bersama “Indonesia-Turkey: Towards an Enhanced Partnership in a New World Setting” oleh Presiden RI dan Presiden Turki pada 5 April 2011 di Jakarta.

Di bidang perdagangan, Turki adalah negara mitra dagang Indonesia ke-7 di kawasan Eropa dengan total perdagangan tahun 2014 mencapai USD 2,47 milyar dengan surplus bagi Indonesia senilai USD 415 Juta. Ekspor utama Indonesia ke Turki adalah karet alam, serat sintetis, minyak sawit dan tekstil

Sementara di bidang investasi, total nilai investasi Turki di Indonesia pada tahun 2014 mencapai USD 64,1 juta dalam 29 proyek. Di bidang pariwisata, pada 2014 lalu sebanyak 6 ribu wisatawan Turki berkunjung ke Indonesia.[] sumber: JPNN.com

"Tidak Semua Warga Turki Tahu Sejarah Hubungan Diplomatik dengan Aceh"

"Tidak Semua Warga Turki Tahu Sejarah Hubungan Diplomatik dengan Aceh"

BANDA ACEH – Banyak warga Turki tidak memahami dan bahkan tidak mengetahui lagi sejarah kejayaan Imperium Turki di bawah kendali kekhalifahan Turki Utsmany di abad pertengahan. Selain itu, banyak juga warga Turki yang tidak mengenal Aceh meski dua kawasan ini pernah mempunyai hubungan sejarah erat di masa lalu.

“Tidak semua warga Turki tahu tentang sejarah itu. Jikapun kita menyebut Aceh, di antara mereka hanya mengetahui karena peristiwa tsunami,” ujar Tuha Peut Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Aceh-Turki (IKAMAT), Muhammad Arhami, saat dijumpai di sela-sela kegiatan 100 Tahun Museum Aceh, di Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

Muhammad Arhami merupakan warga Aceh yang mengambil study di Yildiz Universitas Istanbul. Dia telah menetap di negara dua benua tersebut selama lima tahun terakhir. Kepada portalsatu.com, kunjungannya dalam 100 Tahun Museum Aceh tersebut adalah mudiknya yang pertama sejak meninggalkan Aceh 2010 lalu.

Muhammad Arhami yang beristrikan wanita Palembang, mengatakan penduduk Turki sangat terbuka dengan warga pendatang. “Mereka sangat welcome. Terutama untuk warga Indonesia. Mereka mengenal Indonesia lantaran ibadah Haji. Menurut mereka, selama menjalankan ibadah haji, orang Indonesia dikenal ramah dan baik,” katanya.

Sebagai Tuha Peut IKAMAT, Muhammad Arhami mengaku saat ini terdapat 120 hingga 150 jiwa orang Aceh di Turki. Jumlah tersebut terdiri dari pelajar, mahasiswa, “dan ada juga warga Aceh yang menikah dengan orang Turki.”

Dia berharap Aceh, baik Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Kota Banda Aceh, bisa kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Turki. Hal ini agar penduduk Turki menyadari peran penting negaranya pada masa lalu yang memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

“Jadi bukan sekadar datang mengundang investor saja. Harus ada hubungan intens yang dibina dengan Turki karena banyak di antara mereka telah awam sejarah,” ujarnya.[]