Tag: ekspor

Langsa Ekspor Perdana Kerapu ke Hongkong

Langsa Ekspor Perdana Kerapu ke Hongkong

LANGSA – Pemerintah Kota Langsa bersama pihak swasta melakukan ekspor perdana ikan kerapu sebanyak 9 ton hasil budidaya petani tambak daerah itu ke Hongkong.

Ekspor perdana sebanyak 9 ton kerapu ke Hongkong dilaksanakan melalui Pelabuhan Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Rabu (19/8), kata Wali Kota Langsa Usman Abdullah di Langsa, Kamis, 20 Agustus 2015.

Ekspor tersebut, lanjutnya, dilakukan oleh Perusahaan Dagang (PD) Evanindo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang budidaya ikan kerapu di kawasan Kuala Langsa yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian (DKPP) Kota Langsa bekerjasama dengan Aceh Business Comunity (Abicom) yang berpusat di Kota Medan, Sumatera Utara.

Dikatakan, tambak di Langsa maupun daerah lainnya di Aceh dapat digali sebagai tempat membudiayakan ikan kerapu. “Ke depan Langsa bisa menjadi pusat budidaya kerapu berskala nasional,” ujarnya.

Saat ini, sambung, Usman Abdullah, Kota Langsa memiliki areal tambak seluas 5.180 hektare. Khusus untuk budidaya keramba jaring apung sekitar 230 hektare. Jika digabungkan dengan Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, mungkin ada sekitar 30.000 hektare lahan tambak tersebut.

Disampaikan Usman, selama ini banyak areal tambak di Aceh terlantar semenjak konflik berkepenjangan. Keterbatasan bahan baku juga menjadi kendala para petambak dalam membudidayakan peternakan ikan maupun lainnya.

Selain itu, tuturnya, selama ini harga pasar untuk ikan juga sering mengalami turun naik, sehingga petani tambak kesulitan mengembangkan kembali usahanya itu, bahkan hasil panen ikan mereka tidak sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan.

“Dengan adanya kegiatan ekspor ikan ke Hongkong ini telah membuka celah bagi pembudidaya ikan khususnya Kota Langsa untuk dapat mengembangkan kembali usaha budidaya ikan di tambak-tambaknya tersebut,” jelas Wali Kota.

Ia juga mengatakan bahwa dahulu kegiatan ekspor perikanan melalui Pelabuhan Kuala Langsa termasuk sangat diperhitungkan.

Tapi sejak konflik berkecamuk di Aceh, semuanya kembali redup. Bahkan di Langsa ada dua pabrik udang, tapi sejak konflik pabrik tersebut tutup, karena selain itu juga bahan baku tidak ada.

“Kami sangat mendukung kegiatan ekspor ikan ini, karena akan membawa efek sangat baik bagi Kota Langsa, dan secara tidak langsung akan membuka peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat daerah ini,” katanya.

Usman Abdullah berjanji pihaknya akan terus menjalin kerjasama dengan petani tambak.

Ia juga berharap ekspor bisa terus berlanjut karena dengan adanya ekspor ikan ini sangat memberikan kuntungan bagi masyarakat dan Pemko Langsa.

Dia juga akan mengupayakan agar kegiatan ekspor melalui pelabuhan Kuala Langsa terus berlangsung. Pemerintah Kota Langsa, kata dia, akan memperjuangkan regulasi yang dibutuhkan demi keberlanjutan kegiatan ekspor dimaksud.

“Tanpa dorongan dan dukungan masyarakat, pelabuhan kita ini tidak akan berkembang. Ini semua demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bukan buat saya,” kata Wali Kota Usman Abdullah.[] sumber: antara aceh

Ajakan Ekspor harus Dibarengi Stimulus Pemerintah

Ajakan Ekspor harus Dibarengi Stimulus Pemerintah

BANDA ACEH – Ajakan DPRA agar para pengusaha lokal menggerakkan kegiatan ekspor via Pelabuhan Umum Krueng Geukeuh Aceh Utara, dinilai butuh keseriusan pemerintah.

“Pemerintah harus menciptakan stimulus atau rangsangan agar biaya ekspor atau impor via pelabuhan di Aceh bisa lebih murah, minimal sama agar harga jual kompetitif,” ujar Ikhwan Reza, aktivis mahasiswa di Banda Aceh kepada portalsatu.com, Rabu, 1 Juli 2015.

Ikhwan Reza menilai jika tidak kompetitif mustahil pengusaha mau terlibat dalam kegiatan ekspor-impor. Itu sebabnya, ia menilai tidak cukup sebatas seruan, melainkan DPRA harus mengajak pengusaha dan pihak terkait berbicara agar menemukan cara merangsang eksport.

“Pemerintah juga harus mulai berpikir dengan semboyan ‘jaroe bak langai mata u pasai’. Artinya kebutuhan pasar apa saat ini yang punya potensi bisa dijual Aceh, Misalnya ketika meletus gunung Sinabung adalah kesempatan mengembangkan holtikultura di bagian tengah Aceh,” kata pemuda yang baru saja terpilih sebagai seorang Delegasi Pertukaran Pemuda Indonesia dengan Korea itu.

Menurut Ikhwan Reza, seharusnya Pemerintah Aceh segera mendidik petani untuk menghasilkan komoditas layak ekspor. Kata dia, mengambil peluang ini agar konsumem di luar yang biasa membeli dari Berastagi, Sumatera Utara beralih ke Aceh.

“Ini jelas akan mendukung pemanfaatan Pelabuhan Krueng Geukueh, ini kesempatan karena recovery di Brastagi akan lama dan sampai sekarang masih erupsi,” ujar mantan pengurus BEM Unsyiah ini.

Ikhwan Reza juga mengkritik Pemerintah Aceh yang dinilai tidak jelas program dalam mengurangi ketergantungan Aceh dengan Sumatera Utara. “Misalnya, bagaimana kita swesembada telur, sayur dan beras kwalitas bagus atau bahan-bahan lain yg sangat mugkn kita produksi, sehingga juga bisa kita ekspor,” katanya.

Ia merasa kecewa melihat pemanfaatan anggaran yang tidak produktif. “Masak kita tidak punya kilang padi kualitas bagus sehingga padi kita bawa ke Medan. Setelah diolah di sana, kita beli lagi dengan harga berlipat,” ujar mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah ini.

Menurut Ikhwan Reza, pemerintah harus memanfaatkan APBA untuk kegiatan produktif guna mendorong pertumbuhan sektor riil, memperkecil ketergantungan Aceh dengan Sumatera Utara, dan memberdayakan potensi Aceh seperti pelabuhan. “Juga jangan lupa, Aceh krisis listrik dan tenaga kerja trampil, padahal sarjana membludak,” ujarnya.[]

Berita terkait:

DPR Aceh Minta Pengusaha Ekspor Melalui Krueng Geukuh

Foto ilustrasi.

Direktur PT Pelindo I: Baru Dua Importir yang Beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukueh

Direktur PT Pelindo I: Baru Dua Importir yang Beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukueh

BANDA ACEH – Direktur PT Pelindo I Cabang Lhokseumawe, Wayan, mengatakan baru dua importir yang beraktivitas di Pelabuhan Krueng Geukuh sejak dibuka 2013 lalu.

“Satu importir dengan menggunakan kapal kayu dan satu importir yang menggunakan kapal peti kemas,” katanya dalam rapat dengan Komisi I DPR Aceh, Senin, 29 Juni 2015.

Wayan mengatakan saat ini pihaknya sudah memberikan kemudahan-kemudahan bagi para importir, sehingga barang-barang yang selama ini diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh mau dialihkan ke Pelabuhan Krueng Geukuh.

Namun dia menilai hingga kini belum terlihat adanya kebijakan yang memudahkan importir di Aceh. “Sehingga Pelabuhan Krueng Geukuh yang baru mencoba untuk bergerak belum menjadi pilihan para pengusaha,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Aceh, Saifullah, mengatakan pihaknya tidak pernah membedakan perlakuan antara importir pengguna kapal kayu dengan importir pengguna peti kemas.

“Oleh karena itu saya berharap kepada pihak DPR Aceh agar mendorong pengusaha Aceh untuk melakukan aktivitas ekspor-impor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh,” katanya.[](bna)

Pisang Indonesia Tembus Pasar Jepang

Pisang Indonesia Tembus Pasar Jepang

JAKARTA – Produk buah lokal Indonesia berhasil menembus pasar Jepang dimana untuk pertama kalinya sejak penandatanganan kerja sama Indonesia-Jepang dalam Economic Partnership Agreement (IJEPA) tahun 2008 lalu, produk pisang dalam negeri mulai memasuki pasar Negeri Sakura tersebut.

“Baru tahun ini Indonesia dapat memanfaatkan kuota pisang sebanyak seribu ton per tahun dengan tarif nol persen. Keberhasilan ini merupakan pencapaian penting mengingat pasar produk pertanian Jepang sangat ketat,” kata Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron, dalam siaran pers yang diterima Antara, Senin, 29 Juni 2015.

Yusron menambahkan, Jepang menerapkan standar mutu dan kesehatan yang sangat tinggi untuk impor produk pertanian dan dengan masuknya buah pisang ke pasar Jepang tersebut maka keberhasilan tersebut merupakan pengakuan tingginya standar kualitas produk buah Indonesia, khususnya pisang.

Total konsumsi buah Jepang saat ini tercatat sekitar 5,4 juta ton per tahun dan 1,8 juta ton diantaranya adalah buah impor. Pasar buah impor Jepang didominasi oleh pisang sebanyak satu juta ton per tahun dan nanas 200 ribu ton per tahun.

Dari total pisang impor, brand yang paling banyak dikonsumsi adalah Dole, Sumifru, Delmonte, dan Chiquita. Impor untuk kedua jenis buah tersebut mencakup 65 persen total impor buah Jepang. Oleh karena itu, Yusron mendorong eksportir Indonesia untuk terus menjaga kualitas produknya sehingga dapat mewujudkan target peningkatan pangsa pasar ekspor Indonesia.

“Keberhasilan ini juga dapat berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan para petani buah Indonesia,” ujar Yusron.

Untuk produk buah lainnya seperti nanas, Jepang mengimpor hampir 100 persen dari Filipina dengan brand Dole dan Delmonte. Namun, saat ini Indonesia sudah mengekspor nanas ke Jepang dengan pangsa pasar sekitar 20 persen, dimana nilai ekspor pisang dan nanas Indonesia tahun 2015 diperkirakan mencapai 15 juta dolar AS.

“Kita harapkan pencapaian di sektor pisang dan nanas ini akan diikuti produk buah-buahan lainnya,” tambah Yusron.

Sementara itu, Atase Perdagangan (Atdag) RI di Jepang, Julia, menyampaikan bahwa bisnis impor produk pisang Cavendish sangat menjanjikan di pasar Jepang. Sebab, pasokan pisang dari Filipina mulai berkurang karena negara itu sering dilanda bencana alam angin topan dan banjir.

Untuk menaikkan ekspor ke Jepang, juga dilakukan melalui pertemuan dengan importir di Jepang, Transpacific Foods Japan Co. Ltd yang dalam pertemuan tersebut dibahas upaya untuk terus meningkatkan pangsa pasar produk pertanian Indonesia di Jepang.

Untuk tahun 2015, Transpacific Foods Japan Co. Ltd. berencana akan mengimpor pisang Cavendish dari PT. Nusantara Tropical Farm (NTF) sebanyak 8.147 ton dan nanas sebanyak 1.673 ton.

Saat ini sebanyak 96 persen pasar pisang di Jepang masih dikuasai Filipina, dan ditargetkan Indonesia akan menargetkan 10-15 persen pangsa pasar Jepang. Konsumsi per kapita pisang di Jepang rata-rata 7-8 kg per tahun atau 50 buah setahun dan sebanyak 80 persen dikonsumsi oleh rumah tangga.[] sumber: antaranews.com