Tag: ejaan yang disempurnakan

Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian VI)

Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian VI)

Ejaan terakhir yang hingga kini masih digunakan adalah Ejaan yang Disempurnakan atau sering disingkat EyD. Ejaan ini dinyatakan mulai berlaku sejak penggunaannya diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ketika itu, Soeharto, pada 16 Agustus 1972. Diumumkan di sidang DPR, pemberlakuannya diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972.

Bersamaan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah, selanjutnya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 31 Agustus 1975 dan dinyatakan dengan resmi berlaku di seluruh Indonesia.

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan itu pada dasarnya tidak disusun secara tiba-tiba. Akan tetapi, bahan-bahannya telah dipersiapkan dan dirintis sejak penyusunan konsep Ejaan Baru. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa konsep-konsep dasar yang ditetapkan dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebenarnya merupakan kelanjutan dari Ejaan Baru (Mustakim, 1992:14).

Ada dua hal yang menjadi pertanyaan berkaitan dengan ejaan ini. Pertanyaan pertama adalah mengapa ejaan bahasa Indonesia disebut pedoman umum dan mengapa ejaan itu disebut Ejaan yang Disempurnakan?

Disebut sebagai pedoman umum karena pedoman itu pada dasarnya hanya mengatur hal-hal yang bersifat umum. Namun, yang bersifat khusus, yang belum diatur dalam pedoman itu, dapat disesuaikan dengan bertitik tolak pada pedoman itu (Mustakim, 1992:14).

Sementara itu, ejaan yang berlaku sekarang disebut Ejaan yang Disempurnakan karena memang ejaan itu merupakan hasil penyempurnaan dari beberapa ejaan yang pernah disusun sebelumnya, terutama Ejaan Republik, yang dipadukan pula dengan konsep-konsep Ejaan Pembaharuan, Ejaan Melindo, dan Ejaan Baru.

Ada beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EyD. Pertama adalah perubahan huruf. Bila pada ejaan lama digunakan huruf dj, tj, nj, sj, ch, dan j, huruf-huruf itu diganti menjadi huruf j, c, ny, sy, kh, dan y.

Kedua, huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya, misalnya khilaf, fisik, valuta, universitas, zakat, dan khazanah.

Ketiga, huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata Furqan dan xenon.

Keempat, penulisan di sebagai awalan dibedakan dengan di yang merupakan kata depan. Sebagai awalan, di- ditulis serangkai dengan unsur yang menyertainya, sedangkan di sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya (Baca: Bagaimana Menulis Imbuhan Di- Awalan dan Di Kata Depan).

Kelima, dalam EyD juga diatur mengenai pemakaian huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring, penulisan kata, penulisan tanda baca, penulisan singkatan dan akronim, penulisan angka dan lambang bilangan, penulisan unsur serapan.[]

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bukan hanya pasca yang merupakan bentuk terikat dalam bahasa Indonesia dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata. Bentuk-bentuk seperti inter-, non-, dan eks- juga berstatus sama seperti pasca. Ini berarti kedua bentuk ini harus digabung dengan kata lain yang mengikutinya. Maka, penulisan yang benar adalah interaksi, nonaktif, dan ekskombatan, bukan inter aksi, non aktif, dan eks kombatan.

Sebenarnya, cukup banyak bentuk terikat dalam bahasa Indonesia yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti a pada amoral, adi, pada adikuasa, antar pada antarkota, anti pada antibodi, audio pada audiovisual, ekstra pada ekstrakurikuler, pro pada propemerintah, dan nara pada narasumber.

Sayangnya, bentuk-bentuk terikat yang cukup banyak itu dalam praktiknya tidak ditulis dengan benar. Banyak orang menulis seperti ini: a moral, adi kuasa, antar kota, anti bodi, audio visual, ekstra kurikuler, pro pemerintah, nara sumber. Padahal, penulis cukup membuka pedoman EYD yang banyak tersedia, baik dalam bentuk cetak maupun di internet untuk mencari penulisan yang benar.

Hal yang perlu diketahui dalam penulisan bentuk terikat ini adalah dalam pemakaian tanda hubung. Bila kata yang akan dilekati oleh bentuk terikat itu diawali oleh huruf kapital, di antara bentuk terikat dan huruf kapital itu harus ditulis tanda hubung, misalnya non-Islam, non-Asia, eks-GAM. Aturan seperti ini juga berlaku untuk bentuk terikat lainnya seperti imbuhan, misalnya se-Aceh, ber-KTP. Maka, tidak benar bila bentuk-bentuk itu ditulis nonIslam, nonAsia, eksGAM, seAceh, berKTP.

Meski demikian, bila semua bentuk itu ditulis dengan huruf kapital, tanda hubung justru tidak boleh digunakan karena fungsi tanda hubung pada kasus yang saya sebutkan di atas untuk memisahkan huruf kapital dan huruf kecil. Jadi, tidak benar jika ada orang menulis seperti ini, NON-ISLAM, NON-ASIA, EKS-GAM, SE-ACEH, SE-ASIA, BER-KTP. Penulisan yang tepat adalah tanpa tanda hubung dan ditulis serangkai: NONISLAM, NONASIA, EKSGAM, SEACEH, SEASIA, BERKTP.[]