Tag: brimob

Adri Chroin Ade Oktami; Dari Model Hingga Jadi Sniper Brimob

Adri Chroin Ade Oktami; Dari Model Hingga Jadi Sniper Brimob

Kelihaiannya membidik target cukup memukai. Selain jago menembak, Brimob cantik itu juga pernah menjadi model.

SIAPA sangka di balik paras aduhai dan mempesona dengan hijab, dara bernama lengkap Adri Chroin Ade Oktami adalah seorang penembak jitu (Sniper) yang sudah sangat terlatih.

Lihat saja aksinya saat puncak HUT Polwan ke-67 di Gedung Tri Marta Ramayana Prambanan, belum lama ini. Polwan cantik berpangkat Bripda yang bertugas di Brimob Polda DI Yogyakarta, ditunjuk sebagai penembak balon dari kejauhan.

Dar..dar..!! balon itu pecah terkena peluru. Kelihaian Bripda Adri membidik target cukup memukai. Sejak itu sosoknya ramai diberitakan media.

Anggota polisi yang tinggal di Bantul ini mengatakan, menjadi anggota polisi adalah cita citanya sejak kecil. Dan tidak mudah. Semua dilaluinya dengan kerja keras.

Lahir dari keluarga berlatar belakang militer tepatnya TNI-AD, membuatnya terdorong mengikuti jejak sang ayah.

Setelah sempat gagal pada percobaan pertama, di tahun berikutnya anak kedua dari tiga bersaudara itu sukses diterima masuk pendidikan Bintara.

Selama tujuh bulan ia mengeyam pendidikan di Sespolwan Ciputat dan tiga bulan pendidikan Brimob di Watukosek Jawa Timur. Setelah lulus, perempuan kelahiran 24 Oktober 1992 itu bertugas di Brimob Polda DIY.

Selain jago menembak, Brimob cantik itu juga pernah menjadi model. Bahkan ia masih sering mendapatkan tawaran menjadi model.

Sebagai penembak jitu, Adri tentunya akrab dengan senjata laras panjang, Senapan favoritnya adalah jenis laras panjang AUG (Armi Universal Gewehr) buatan Rusia. Senapan itu memiliki tingkat peluru tajam dengan kaliber 5,56.[] sumber: dream.co.id

Brimob Sita Senapan M60 dan Antitank di Poso

Brimob Sita Senapan M60 dan Antitank di Poso

POSO – Aparat gabungan Brimob Polda Sulawesi Tengah dan Densus 88/Antiteror menyita dua senapan di lokasi baku tembak dengan kelompok Santoso. Temuan tersebut didapat di basecamp persembunyian Santoso.

“Yang ditemukan senapan M60 untuk sniper dan senapan antitank atau kendaraan taktis,” kata Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (20/8/2015).

Selain senapan, juga ditemukan 20 bom ‘lontong’ terbuat dari pipa yang siap diaktifkan. Menurut Hari, lokasi temuan merupakan persembunyian kelompok Santoso selama berada di hutan. Santoso dan kelompoknya kerap berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain di pegunungan guna menghindari kejaran petugas.

Barang bukti itu kini masih berada di Pegunungan Langka. Lokasi tersebut berjarak dua jam dari Desa Kilo. Sementara desa tersebut berjarak satu jam dari jalan terdekat Trans Sulawesi.

“Barang bukti belum bisa dievakuasi ke bawah, karena jaraknya yang cukup jauh. Dan lokasi tersebut masih dinyatakan waspada,” kata Hari.

Dugaan sementara, dua senjata berat pabrikan itu diselundupkan dari luar negeri. “Laporan intelijen, ada senjata berat yang masuk ke Poso, jadi sudah dideteksi sebelumnya,” kata Hari.

Menurut Hari, Kapolda Sulawesi Tengah Idham Aziz masih berada di lokasi baku tembak. Terkait kronologi baku tembak yang menewaskan seorang teroris dan seorang perwira Gegana Brimob Polda Sulteng, Hari belum bisa menyampaikannya.

“Dari atas (lokasi baku tembak) belum ada update bagaimana kronologi kejadiannya,” kata Hari.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan baku tembak terjadi sejak lima hari lalu tepatnya 17 Agustus 2015. Saat itu, sejumlah personel Polri melakukan operasi rutin di pegunungan-pegunungan dalam upaya pengejaran terhadap kelompok Santoso. Operasi tersebut dinamai Operasi Camar Maleo II.

Dalam baku tembak yang terjadi Rabu (19/8/2015) malam, seorang perwira Gegana Brimob Polda Sulteng, Iptu Brayen Theopani, gugur terkena tembakan dari senapan musuh.

“Kemungkinan korban meninggal kehabisan darah saat dievakuasi,” kata Jenderal Badrodin.

Badrodin juga menyatakan bahwa pihaknya melakukan penebalan personel sejak tadi malam dalam upaya pengejaran kelompok Santoso.

“Tadi malam kita tambah pasukan,” ujarnya.[] sumber: detik.com

Kasubden Gegana Brimob Tewas Tertembak di Poso, Polri Tambah Pasukan

Kasubden Gegana Brimob Tewas Tertembak di Poso, Polri Tambah Pasukan

JAKARTA – Operasi pengejaran jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, memakan korban.

Seorang anggota Polri, Iptu Bryan Thoephani Tatontos dikabarkan tewas tertembak. Bryan yang merupakan Kasubden Gegana Poso Den B Brimob Landangan Poso itu tewas setelah kehabisan darah usai ditembak teroris.

“Laporan semalam tertembak di bagian perut. Info sementara memang kemungkinan kehabisan darah karena evakuasi dari atas ke bawah 5 jam,” ujar Badrodin di kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (20/8).

Informasi yang dihimpun, Bryan tertembak Rabu (19/8) sekitar pukul 14.30 WITA. Berawal saat dua regu Brimob yang dipimpinnya melakukan evakuasi mayat teroris yang diduga bernama Urwah alias Bado, di Pegunungan Langka Poso.

Urwah berhasil dilumpuhkan sehari sebelumnya dengan barang bukti bom dan senjata api M-60. Namun, di tengah perjalanan kelompok Santoso ternyata menyanggong tim evakuasi. Kontak tembak pun terjadi sekitar pukul 16.45 WITA. Posisi korban saat itu hendak menyeberang sungai dan tertembak di perut.

Kabarnya, Bryan sempat dilarikan ke RS Bhayangkara Polda Sulteng. Namun, akhirnya meninggal dalam perjalanan. “Kami masih terus melakukan pengejaran, kami akan tambah pasukan,” imbuh Badrodin.[] sumber: JPNN.com

Foto: Ilustrasi pasukan Brimob Polri. @metrotvnews.com

101 Personel Brimob Aceh Ditugaskan ke Papua

101 Personel Brimob Aceh Ditugaskan ke Papua

BANDA ACEH – Sebanyak 101 personel Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Aceh dikirim ke Papua untuk melakukan pengamanan PT Freeport Indonesia.

Kapolda Aceh Irjen Pol M Husein Hamidi di Banda Aceh, Rabu, 19 Agustus 2015, mengatakan seratus lebih personel Brimob Aceh tersebut ditugaskan di bawah kendali operasi (BKO) Polda Papua,

“Mereka ini dikirim ke Papua, menggantikan personel Brimob Polda Riau. Mereka melakukan pengamanan di areal PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika selama tiga bulan,” ungkap Kapolda Aceh.

Sebelum diberangkatkan ke Papua, kata dia, seratus lebih personel Brimob Polda Aceh tersebut diberi pembekalan, termasuk latihan, baik taktis maupun teknis.

Mereka, kata Irjen Pol M Husein Hamidi, juga dibekali pengetahuan karakteristik keadaan wilayah, seperti adat istiadat maupun situasi dan kondisi wilayah tugas.

“Mereka bertugas selama tiga bulan. Namun, tidak tertutup kemungkinan masa tugas diperpanjang. Apalagi Aceh tidak ada pilkada serentak, yang membutuhkan personel pengamanan,” kata dia.

Kapolda menyebutkan tujuan pengamanan untuk mencegah dan menanggulangi kejahatan bersenjata yang dapat mengancam stabilitas keamanan yang dapat menghambat areal kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Kapolda Aceh mengatakan situasi keamanan di wilayah Kabupaten Timika, Papua, khususnya di area PT Freeport Indonesia secara umum relatif kondusif. Namun begitu, personel Brimob Polda Aceh diminta tetap mewaspadai gangguan keamanan yang terjadi.

“Saya mengingatkan personel Brimob Polda Aceh yang ditugaskan ke Papua mengedepankan kegiatan penjagaan, pengawalan, serta penegakan hukum,” kata Irjen Pol M Husein Hamidi.[] sumber: antaranews.com

Brimob Cantik Bripda Nina, Apa Saja Aktivitasnya di Bulan Ramadan?

Brimob Cantik Bripda Nina, Apa Saja Aktivitasnya di Bulan Ramadan?

JANTHO – Masih ingat dengan personil Brimob cantik Bripda Nina yang sempat menghebohkan netizen beberapa waktu lalu? Wanita hijab bernama lengkap Bripda Nina Octoviana ini tidak memiliki aktivitas rutin seperti biasanya selama Ramadan.

Biasanya, Bripda Nina melakoni tugasnya sebagai polisi wanita anggota Gegana Brimob Polda Aceh. Selama Ramadan sniper tangguh ini hanya mengisi pembinaan mental atau bintal di pagi hari.

“Kalau selama Ramadan sih paginya isi bintal seperti pengajian di pagi hari tidak ada latihan,” kata Bripda Nina saat dihubungi potalsatu.com, Jumat, 3 Juli 2015, malam.

Ia adalah satu-satunya perempuan yang menenteng senapan mesin jenis Steyr AUG dan mengenakan topi baja di kepala dan baju serba hitam. Keseharian selama Ramadan, tidak  ada latihan Brimob dikarenakan menghargai bulan Ramadan.

“Untuk sementara ditiadakan ya karena mungkin menghargai bulan puasa juga,” ujarnya.

Meskipun dengan pekerjaan yang dilakoninya itu layaknya laki-laki ia tetap menjaga pola makan teratur selama Ramadan.

“Yang jelas jangan lupa sahur saja dan tetap jaga kesehatan serta olahraga juga penting. Istilahnya kalau kita puasa ini jangan dibawa malas,” kata pasukan organik perlawanan terorisme atau Wanteror ini.

Menurutnya, kebanyakan orang bulan puasa kesannya malas dan suka tidur. Untuk menghilangkan kesan itu, kata dia, sebaiknya digantikan dengan mengisi berbagai kegiatan. “Hal ini akan membuat kita terlihat bugar dan tidak lesu,” kata perempuan kelahiran 24 Oktober 1993 ini.

Selain itu, kata Bripda Nina, olahraga ringan baik pagi maupun sore hari. Ia merasa puasa tahun ini “agak ringan”, pasalnya tahun lalu tetap latihan bulan Ramadan.

“Tetapi kita tetap siaga, tidak boleh menyepelekan, kalau memang nanti butuh pergerakan tetap siap, tidak beralasan karena puasa,” kata perempuan asal Samahani Aceh Besar ini.[]

Foto: Bripda Nina Octoviana. @Ist

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Dalam sebuah koran lokal di Aceh yang terbit hari Jumat, 28 Desember 2009 terdapat sebuah penggalan berita yang berbunyi Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob gugur dan lima lainnya luka-luka.

Dari penggalan berita ini, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Pertama, benarkah seorang brimob yang kehilangan nyawanya karena tersengat listrik disebut gugur? Kedua, apakah yang menjadi standar sehingga seseorang yang kehilangan nyawa disebut sebagai gugur, meninggal, mati, wafat, atau mampus? Ketiga, seandainya enam warga tersengat listrik dan dari keenam warga itu satu orang meninggal, apakah kepada mereka juga pantas disebut gugur?

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketika seorang prajurit berjuang mempertahankan negaranya, lalu kehilangan nyawanya, tentu orang ini disebut gugur. Anggapan ini tentu saja terlepas dari niat si prajurit. Apakah ia berjuang untuk membela bangsanya atau untuk disebut sebagai pahlawan, kita tidak tahu. Yang pasti, seseorang yang kehilangan nyawa karena membela negara dikatakan gugur, bukan mati, meninggal, wafat, apalagi mampus.

Lantas, apakah prajurit yang kehilangan nyawa hanya karena tersengat listrik di markasnya dikatakan gugur? Untuk menjawab pertanyaan ini, cermatilah pengertian gugur yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa gugur berarti 1) jatuh sebelum masak (tentang buah-buahan); lahir sebelum waktunya (tentang bayi); runtuh (tentang tanah); 2) batal; tidak jadi; tidak berlaku lagi; 3) mati di pertempuran; 4) kalah; rontok.

Mari kita kaitkan pengertian gugur ini dalam konteks kalimat. Cermatilah kedua kalimat berikut ini!

  1. Dalam peristiwa tembak menembak antara brimob dan komplotan penjahat itu, seorang brimob kehilangan nyawanya.
  2. Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob kehilangan nyawanya dan lima lainnya luka-luka.
  3. Seorang brimob kehilangan nyawanya karena ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

Apakah untuk ketiga kasus ini brimob yang kehilangan nyawanya pantas disebut gugur? Secara semantik dan secara kontekstual hal ini tidak dapat diterima. Pantaskah seorang brimob yang kehilangan nyawanya hanya karena menyeberang jalan disebut gugur? Pantaskah seorang brimob yang tersengat listrik di markasnya disebut gugur?

Dalam ketiga kasus di atas, yang lebih pantas disebut gugur adalah kasus (a). Kasus (b) lebih pantas disebut meninggal, dan kasus (c) juga lebih pantas disebut meninggal. Mengapa demikian? Hal ini tentu saja berkaitan dengan nuansa makna yang dikandung oleh kata gugur, meninggal, dan mampus.

Sebagian Anda tentu beranggapan bahwa orang dapat menggunakan kata apa pun sesuka hatinya. Pemilihan kata tak perlu mengikuti aturan tertentu. Anggapan seperti ini tentu saja keliru. Ini karena bahasa bukan milik pribadi, melainkan milik masyarakat. Artinya, pemakaian bahasa dikontrol oleh masyarakat. Kita tak dapat menggunakan kata dengan “semena-mena”.

Jika tak percaya, silakan umumkan melalui loudspeaker masjid, “Nabi Muhammad sudah lama mampus”. Anda akan melihat reaksi umat Islam yang berang dengan pernyataan itu.

Akhirnya, berhatilah-hatilah dalam berbahasa.[]