Tag: Belanda

Mualem Minta Bantuan Kerajaan Belanda untuk Bangun Aceh?

Mualem Minta Bantuan Kerajaan Belanda untuk Bangun Aceh?

JAKARTA – Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakkir Manaf, bertemu Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Ferdinand Lahnstein, di Kantor Kedubes Belanda di Jalan H.R. Rasuna Said Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2015. Dalam pertemuan tersebut, pria yang karib disapa Mualem ini membahas isu-isu pembangunan di Aceh yang perlu mendapat perhatian khusus dari negara-negara Uni Eropa, dalam hal ini Kerajaan Belanda.

Kedatangan Mualem mendapat sambutan positif dari Wakil Duta Besar Belanda, Ferdinand Lahnstein.

Mualem kepada Ferdinand mengatakan Aceh membutuhkan pembangunan jalan lintas tengah. Termasuk meminimalisir resiko lingkungan terhadap rencana pembangunan jalan tersebut. Menurut Mualem jalan ini sangat dibutuhkan sebagai jalur transportasi masyarakat dan mendorong perekonomian antarkabupaten. Namun pembanungan ini sama sekali tidak berniat untuk merusak hutan ekosistem Leuser.

“Untuk itu maka saya datang ke sini untuk meminta bantuan teknis yang bisa diberikan oleh Pemerintah Belanda, untuk memastikan bagaimana untuk meminimalisir dampaknya terhadap ekosistem Leuser,” ujar Wagub Aceh.

Wakil Dubes Belanda mengaku akan menyampaikan perspektif dari Pemerintah Belanda kepada Komisi Uni Eropa, mengingat mayoritas jalan lintas tengah Aceh tersebut sudah terbangun sedemikian rupa. Wakil Dubes Belanda juga menyatakan akan berkoordinasi dengan negara-negara donor lainnya, terutama Amerika Serikat, agar dapat bersinergi untuk menyesuaikan antara kebutuhan pembangunan di Aceh dan dukungan yang dapat diberikan negara-negara donor.

Dalam pertemuan tersebut, Wagub Aceh juga menyinggung tentang perlu adanya dukungan investasi dan teknologi dari Belanda untuk pembangunan infrastruktur pelabuhan laut. Menurutnya hal ini dapat mendorong daerah ini sebagai pusat perdagangan dunia seperti masa kejayaan Aceh dulu.

Mualem turut mengundang Wakil Dubes Belanda berkunjung ke Aceh untuk bisa melihat langsung kondisi pembangunan jalan lintas tengah. Selain itu, Ferdinand juga diajak melihat kondisi infrastruktur pelabuhan-pelabuhan yang ada di Aceh saat ini.

Wakil Dubes Belanda sangat senang menerima undangan tersebut dan akan mengatur kesempatan yang baik untuk mengunjungi Aceh.

Sebelum menutup pertemuan tersebut, Wakil Dubes Belanda kembali menegaskan akan segera menindaklanjuti pertemuan ini dengan para koleganya, baik di internal Komisi Uni Eropa maupun dari negara-negara donor lainnya terutama Amerika Serikat.

Dalam pertemuan tersebut, Wagub Aceh didampingi tim Greenomics Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi, pertemuan tersebut berlangsung sangat produktif. Hal itu, kata dia, menunjukkan keseriusan Pemerintah Aceh agar pembangunan jalan lintas tengah yang telah terbangun sedemikian rupa dapat meminimalisir dampak bagi keutuhan ekosistem Leuser.

“Keseriusan tersebut tampak dari upaya Wagub Aceh yang mengajak negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk terlibat aktif, terutama dalam hal bantuan teknologinya. Sejalan dengan itu, Wagub Aceh juga sudah menyampaikan hal yang sama kepada Duta Besar Amerika Serikat, Robert O. Blake, dalam sebuah forum pertemuan di Jakarta pada dua minggu lalu,” ujar Vanda Mutia Dewi.[](bna)

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

KONON disebutkan Meulaboh dulunya dikenal dengan nama Pasir Karam. Penamaan ini kemudian berubah saat perantau asal Minangkabau tiba di daerah tersebut.

H.M Zainuddin dalam bukunya Tarich Aceh menuliskan sejarah singkat asal mula kata Meulaboh tersebut. Dalam buku itu, HM Zainuddin menukilkan penamaan Meulaboh dilakukan pada periode perang Padri di Sumatera Barat antara 1823-1837. Saat itu disebutkan perantau asal Minangkabau yang melarikan diri dari perang Padri berlayar ke Aceh. Sesampai di Teluk Pasir Karam mereka kemudian bermufakat untuk melego jangkarnya di tempat yang baik.

Salah satu di antara kepala rombongan tersebut kemudian menuju salah satu pantai yang ada di Teluk Pasir Karam. “Disikolah kito berlaboh,” katanya. Semenjak itu, tempat berlabuhnya perantau asal Minangkabau ini kemudian bersalin nama menjadi Meulaboh.

Dari sekian banyak jumlah orang yang berdatangan ke Aceh dalam rombongan tersebut, hanya ada beberapa orang yang tercatat dalam buku sejarah. Di antara mereka adalah para kepala rombongan seperti Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datok Radja Agam dari Luhak Agam dan Datok Radja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Ketiga kepala rombongan ini kemudian membuka lahan dan membuat negeri baru di kawasan Pasir Karam. Mereka membabat hutan dan membuka ladang di daerah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam tersebut. Masih menurut catatan H.M. Zainuddin, ketiga kepala rombongan ini memilih membuka lahan dan membuat pusat pemerintahan baru di daerah yang berbeda. Datok Machdum Sakti memilih daerah Merbau, Datok Radja Agam di Ranto Panjang, dan Datok Radja Alam Song Song Buluh di Ujungkala.

Datok Radja Alam kemudian juga menikah dengan anak seorang tokoh berpengaruh di di Ujungkala.

Bisnis ladang ketiga tokoh asal Minangkabau ini kian hari semakin ramai. Merbau, Ranto Panjang dan Ujungkala kemudian berubah menjadi negeri yang makmur. Daerah ini pun semakin dikenal di kawasan barat pesisir Aceh pada masa itu. Menyadari hal tersebut, ketiga tokoh dari Minangkabau ini kemudian sepakat menghadap Sultan Aceh Mahmud Syah atau dikenal Sultan Buyung (1830-1839). Ketiganya juga sepakat membawa masing-masing satu botol mas urai sebagai cinderamata untuk Sultan Aceh.

Setelah menjumpai Sultan Aceh, ketiga orang tersebut lantas meminta izin kepada sultan untuk memberikan batas wilayah kepada daerah baru yang ada di pantai barat tersebut. Sultan Buyung memenuhi permintaan ini dan mengangkat mertua Datok Radja Alam Song Song Buluh menjadi uleebalang Meulaboh. Penentuan Uleebalang Meulaboh ini harus berdasarkan keputusan sultan. Mereka juga diwajibkan untuk mengantar upeti tiap tahunnya kepada Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam. Perintah ini diterima oleh ketiga Datok tersebut.

Di perjalanan perkembangan daerah Meulaboh, ketiga Datok tersebut kemudian merasa lelah pulang pergi ke Bandar Aceh hanya untuk mengurusi hal-hal kecil. Mereka juga mulai keberatan tiap-tiap tahun mengantar upeti langsung ke Sultan Aceh. Saat itu, Sultan Aceh telah dijabat oleh Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841).

Ketiga Datok ini kemudian meminta kepada Sultan Ali Iskandar Syah agar menetapkan seorang wakil Sultan di daerah Meulaboh. Permintaan ketiga Datok tersebut dikabulkan oleh Sultan Aceh yang kemudian mengirim Teuku Tjhik Purba Lela. Saat itu Teuku Tjhik Purba Lela menjabat sebagai Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Keberadaan Teuku Tjhik Purba Lela sebagai wakil Sultan Aceh di Meulaboh mendapat sambutan baik dari ketiga Datok. Namun mereka masih mengeluhkan adanya beberapa pelanggaran dalam hukum dan adat yang membutuhkan penanganan khusus oleh pejabat khusus di bidang tersebut. Mereka kemudian kembali memohon kepada Sultan agar dikirimkan lagi seorang wakilnya yang menangani bidang khusus soal adat dan hukum. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam telah diperintah oleh Sultan Mansyur Syah.

Sultan Mansyur Syah mengabulkan permintaan para Datok tersebut. Sultan kemudian mengirim Penghulu Sidik Lila Digahara ke Meulaboh sebagai wazir kerajaan. Para Datok kemudian kembali meminta seorang wakil Sultan Aceh yang mampu mengurusi hal-hal keagamaan termasuk perkara nikah, pasah dan sebagainya.

Permintaan tersebut kembali dikabulkan oleh Sultan Aceh. Dia kemudian mengirim Teuku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar ‘Almuktasimu-binlah’ menjadi kadhi Sulthan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh kemudian berkembang pesat di bawah pemerintahan Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1841-1870). Apalagi saat itu banyak perantau dari Sumatera Barat eksodus ke Meulaboh dan Tapaktuan. Mereka kemudian membuka kebun dan menanam lada di daerah ini. Akibatnya produksi lada di pesisir barat Aceh menjadi melimpah dan terdengar ke pedagang-pedagang asing, termasuk Inggris. Lada yang menjadi primadona perdagangan dunia pada saat itu sangat diburu oleh bangsa-bangsa Eropa.

Di masa kejayaannya tersebut, kepala-kepala negeri di Meulaboh kemudian menyusun tata negara berbentuk federasi uleebalang yang disebut Kawai XVI. Federasi ini diketuai oleh Uleebalang Kedjruen Tjiek Ujong Kala. Kawai XVI ini terdiri dari Meulaboh/Tandjung, Udjung Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeue, Gunung Meuëh, Kuala Meureubok, dan Ranto Pandjang.

Selain itu, daerah lainnya yang bergabung di Kawai XVI ini adalah Reudeueb, Lango Tangkadeuön, Keuntjo, Gumé/Mugo, Meuko, Tadu, dan Seuneu ‘Am.

Saat itu ada federasi lainnya terbentuk di perbatasan Meulaboh dengan Pedir selain Federasi Kaway XVI. Federasi ini disebut Kaway XII yang terdiri dari 2 uleebalang yaitu Pameuë, Ara, Lang Jene, Reungeuët, Geupho, Reuhat, Tungkup/Dulok, Tanoh Merah/Tutut, Geumpang, Tangse, Beunga, dan Keumala. Federasi Kaway XII ini diketuai oleh seorang Kedjruën yang kedudukannya berada di Geumpang.[]

Foto: Simbol Kota Meulaboh. @Diliputnews.com

Daan Mogot, Bukan Sekadar Nama Jalan

Daan Mogot, Bukan Sekadar Nama Jalan

DAAN Mogot berumur 17 tahun ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928 itu mati muda. Gugur saat hendak melucuti senjata tentara Jepang di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang.

Hari itu almanak bertarikh 25 Januari 1946. Setelah salat Jumat, Mayor Daan Mogot memimpin para taruna Akademi Militer Tangerang (AMT) berangkat dengan tiga truk dan satu jip militer dari markas Resimen IV TRI menuju markas Jepang di Desa Lengkong.

Dalam rombongan itu ada empat orang eks-Gurka–tentara bayaran Inggris–dari India yang membelot ke republik. Keempatnya didandani bak pasukan Sekutu. Mengenakan uniform ala tentara Inggris. Maksudnya mau tipu-tipu, seolah itu operasi gabungan TKR-Sekutu sebagai pemenang perang dunia kedua yang akan melucuti Jepang.

Aksi ini sudah direncanakan baik-baik oleh Daan Mogot, selaku pendiri sekaligus Direktur Akademi Militer Tangerang bersama Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. “Keberangkatan siang itu diliputi suasana optimis,” tulis Moehkardi dalam buku Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi.

Sesampai di tujuan, Daan Mogot berunding dengan Kapten Abe, pimpinan tentara Jepang di Lengkong. Mereka sudah saling kenal sebelumnya, mengingat semasa pendudukan Jepang, pemilik nama asli Elias Daniel Mogot ini pernah menjadi pelatih PETA di Bali dan Jakarta.

Perundingan berlangsung baik. Daan didampingi Alex Sajoeti, taruna AMT yang mahir berbahasa Jepang. Di luar ruang runding, Soebianto dan Soetopo sudah mengerahkan para taruna AMT masuk barak. Sekira 40 serdadu Jepang dijejer di lapangan. Senjata mereka dikumpulkan. Para “saudara tua” itu termakan muslihat.

“Mereka percaya bahwa yang sedang bertugas adalah operasi gabungan TKR-Sekutu,” tulis Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Ray Rizal, Din Madjid dalam buku Kemal Idris–Bertarung dalam Revolusi.

Tiba-tiba sore yang tenang itu berubah gaduh. Terdengar rentetan senapan. Entah dari mana arahnya. Ini terjadi di luar rencana. Serdadu Jepang yang sudah terlatih sontak merebut senjata. Terjadi baku tembak hingga “perkelahian sangkur satu lawan satu,” kenang Moehkardi.

Pasukan republik tak mampu mengalahkan saudara tua. Daan Mogot, dua perwira yang mendampinginya–Soebianto dan Soetopo–serta 33 orang taruna AMT gugur. Tiga puluhan orang lainnya ditawan. Para tawanan dipaksa menggali dan mengubur para kawannya.

Empat hari kemudian, 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang. “Saya spesial datang ke situ sebagai wartawan harian Merdeka,” kenang Rosihan Anwar.

Hari itu, sebagaimana ditulis Rosihan, banyak pejabat hadir. Ada Haji Agus Salim, yang anaknya Sjewket Salim—taruna AMT turut gugur. Hadir juga Margono Djojohadikusumo pendiri BNI yang kehilangan dua putranya; Kapten Subianto dan taruna Soejono.

Saat prosesi pemakaman ulang, dari kantong baju jasad Soebianto–paman dari Prabowo Soebianto yang tempo hari nyapres–ditemukan selarik puisi karya Henriette Roland Holst, penyair perempuan komunis Belanda sahabat Bung Hatta.

wij zijn de bouwers van de temple niet/wij zijn enkel de sjouwers van de stenen/wij zijn het geslacht dat moest vergaan/opdat een betere oprijze uit onze graven

Rosihan menerjemahkan, “kami bukan pembangun candi/kami hanya pengangkut batu/kamilah angkatan yang mesti musnah/agar menjelma angkatan baru/di atas kuburan kami telah sempurna.”

Kini, sajak itu terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang. Dan untuk mengenang keberanian sang pemimpin pertempuran tersebut, nama Daan Mogot diabadikan pada sebuah jalan raya di Jakarta Barat.[] sumber: JPNN.com

Penulis: Wenri Wanhar

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

SJAMAUN Gaharu merupakan salah satu tokoh pendidikan, militer dan tokoh sosial Aceh yang ikut terlibat aktif dalam perang melawan Belanda di era kemerdekaan Indonesia. Sjamaun telah mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pembangunan keamanan nasional di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menekuni karier militernya, dia adalah seorang guru Taman Siswa di Kutaraja dan aktif dalam pembinaan pendidikan dasar di Daerah Istimewa Aceh.

Dia juga berperan penting dalam pembangunan Kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiah Ar-Raniry. Sebagai seorang tokoh sosial, Sjamaun Gaharu aktif dalam menjembatani berbagai konflik sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, baik dalam revolusi sosial pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam berbagai gejolak yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Sebagai pelaku sejarah, Sjamaun Gaharu berhasil merekam jejak bagaimana peralihan kekuasaan terjadi di Aceh pada masa Perang Dunia II. Hal tersebut kemudian diceritakannya kepada Ramadhan KH yang lantas menyusunnya dalam buku autobiografi “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal.”

Berikut kesaksian Sjamaun Gaharu mengenai kondisi Aceh di masa Perang Dunia II:

“Perang Dunia II pecah. Saya tengah sibuk mengajar putera-putera bangsa yang akan jadi generasi masa depan, ketika dunia bergejolak dan masuk ke dalam suatu konfrontasi bersenjata. Ideologi yang saling bertentangan mencapai puncak pertikaiannya. Jerman dengan fasisnya bersepakat dengan Italia dan Jepang. Mereka bergerak hampir bersamaan dan memporak-porandakan banyak negeri.

Di daratan Eropa, 10 Mei 1940, Hitler memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda, Belgia dan Perancis. Ketiga negeri tersebut takluk dan dapat direbut Jerman dalam waktu yang singkat. Malah Belanda jatuh pada hari pertama penyerangan itu. Ratu Belanda terpaksa mengungsi ke Inggris hari itu juga, pada pukul 02.30 GMT. Negerinya menjadi negara terjajah. Kejadian itu dapat saya ketahui melalui radio dan sedikit dari berita surat kabar. Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh menjadi loyo, semangat mereka terbang entah ke mana.

Sekarang mereka merasakan bagaimana derita menjadi jajahan! Tanah air mereka berada dalam cengkeraman Jerman yang terkenal kejam.

Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Dengan mendadak mereka membombardir pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii), Minggu, 7 Desember 1941. Pemboman tersebut bagaikan aba-aba. Ia jadi pemicu bagi rencana besar militer Jepang. Bala tentara Jepang bergerak sangat cepat ke Asia Selatan (Nan Yo), dan tidak ada yang dapat menghalanginya.

Menjelang Februari 1942, tentara ke XXV Jepang telah bermarkas di Singapura (Syonanto). Wilayah peperangang bertambah luas. Jepang bergerak. Merambah dataran Asia dan terus ke selatan. Pada 8 Desember 1941, pukul 02.30 GMT, pemerintah Belanda dalam pengasingan di Inggris mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang, melalui duta besarnya di Tokyo.

Pernyataan ini berarti tidak saja mencakup pemerintah Belanda di negerinya, tapi juga melibatkan pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda (Indonesia). Babak baru yang dinamakan Perang Asia Timur Raya telah dibuka. Saya tidak mengetahui secara tepat pernyataan perang itu pada saatnya, baru kemudian saya membacanya di surat kabar. Yang saya lihat dan ketahui adalah kesibukan pasukan Belanda meningkat tinggi.

Di bawah komandan mereka, Kolonel Gosenson, yang mukanya berparut bekas tetakan pedang putera Aceh, mereka mengangkut peralatan dan logistik perang mereka ke Takengon atau ke Rimba Gayo.

Bukan saya saja yang melihat, tetapi hampir semua rakyat Aceh. Putera Aceh hanya melihat dan diam sementara. Dalam diam, mereka diam-diam mengasah parangnya. Sekolah Pertanian tetap berjalan, dan saya tetap berdiri di depan kelas. Tapi mata saya tetap liar melihat kesibukan pasukan Belanda di tanah Aceh.

Seluruh perbekalan militer Belanda ditempatkan di perkebunan Teh Redelong, yang berada dalam wilayah Aceh Tengah, tidak berapa jauh dari Takengon. Saya dapat melihat seluruh kesibukan mereka karena bertempat tinggal di Bireuen. Untuk mencapai Takengon mereka harus melalui tempat saya, dengan sendirinya saya dapat memperhatikan lebih saksama.

Pasukan Belanda terus mondar mandir antara Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dengan Takengon. Kesibukan bidang pemerintahan yang dipimpin Residen Pauw juga meningkat. Kesibukan itu terjadi di awal tahun sampai awal Maret 1942. Perhatian seluruh rakyat Aceh tertuju ke mari.

Dahulu Belanda datang dari Laut, sekarang lari ke dalam rimba. Dalam pikiran, saya berharap agar di rimba Aceh pasukan Belanda akan dihancurkan pasukan musuh mereka. Bagaimana dengan rakyat Aceh? Apakah mereka berdiam diri dan hanya melihat saja musuh bebuyutan melenggang di bumi pusaka? Belanda memang menghadapi dua bahaya besar. Di samping takut terhadap Jepang yang tengah bersiap untuk menerkam Aceh, Belanda menghadapi api dalam sekam. Setiap saat putera-putera Aceh bisa bangkit melawan mereka.

Hal itu memang terjadi. Awal bulan Maret pecahlah perlawanan terhadap Belanda. Di Aceh Besar yang berpusat di Lam Nyong, Teuku Nyak Arif mengangkat senjata. Inilah perang yang berlangsung 9-10-11 Maret 1942. Teuku Nyak Arif menepati ucapannya, ketika beliau menganjurkan saya untuk mengajar di Taman Siswa. Sayang, saya sendiri tidak berperan, karena saya sibuk dengan mendidik bangsa di bidang pertanian. Rasa hormat dan segan saya terhadap Teuku Nyak Arif pun bertambah. Pejuang memang harus memegang kata-katanya!

Sebelum tentara ke XXV Jepang mendaratkan pasukan-pasukannya di Pantai Aceh (Ujung Batee, Aceh Besar, dan Kuala Bugak, Peureulak), Teuku Nyak Arif sebagai pemimpin Aceh menyampaikan ultimatum kepada penguasa Belanda di Aceh. Ia meminta agar pemerintah Hindia Belanda menyerahkan kekuasaan dan senjatanya kepada rakyat Aceh dengan jaminan keselamatan untuk mereka.

Belanda mengabaikan ultimatum itu. Mereka malah menteror rakyat Aceh dengan bermacam-macam provokasi. Pimpinan tentara Belanda mengeluarkan surat perintah penangkapan Teuku Nyak Arif dan tokoh-tokoh lain, hidup atau mati. Keadaan demikian membangkitkan amarah rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda. Militer Belanda waktu itu sedang panik dan ketakutan menghadapi bahaya Jepang, mereka akhirnya tergesa lari terbirit-birit. Ketika kemudian bala tentara Jepang mendarat di Aceh, Aceh telah bersih dari pengaruh kekuasaan Belanda.

Salah satu contoh dari teror Belanda di masa akhir keberadaannya di Bumi Rencong adalah kisah ini. Pemberontakan meletus setelah Belanda mengabaikan ultimatum Teuku Nyak Arif. Tetapi Residen Belanda sempat juga mengundang beberapa Uleebalang untuk mengadakan rapat kilat di Kutaraja. Teuku Nyak Arif sudah berpesan agar rapat itu jangan dihadiri. Namun pesan itu tidak semuanya sampai ke alamat.

Waktu rapat sedang berlangsung, tiba-tiba muncul Kolonel Gosenson, sang komandan tentara Belanda yang terkenal kejam di Aceh, diiringi Mayor Palmer van den Broek. Sambil mengacung-acungkan sebutir peluru di tangannya, ia mengatakan kepada yang hadir bahwa peluru itu pasti berasal dari Teuku Nyak Arif yang sudah berani mengangkat senjata melawan Belanda.

Kalau Nyak Arif bisa saya tangkap, kata Kolonel Gosenson, saya akan hisap darahnya, seraya memperagakan bagaimana caranya menghisap darah. Kemudian dengan lantang Gosenson menambahkan, “Teuku-Teuku yang hadir di sini semua saya tangkap dan Teuku Nyak Arif akan saya tangkap, hidup atau mati”.

Gosenson segera memerintahkan pasukan Marsose/KNIL untuk menyerang rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong yang lebih kurang 6 kilometer jaraknya dari Kutaraja. Ketika terjadi penyerangan itu kebetulan Teuku Nyak Arif tidak berada di rumah, karena sedang memimpin rapat perlawanan terhadap Belanda di Lubok.

Mendengar rumahnya diserbu dan ditembak secara membabi-buta, Teuku Nyak Arif nekad berangkat pulang karena menyangka keluarganya sudah ditembak atau ditangkap Belanda. Beberapa orang pengikutnya mencoba menahan Teuku Nyak Arif karena khawatir Belanda akan menyergapnya. Tetapi Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya bukan laki-laki kalau saya tidak pulang sekarang ini juga”.

Setiba di Lam Nyong ternyata tentara Belanda yang menyerbu dan mengobrak-abrik rumah Teuku Nyak Arif baru saja beberapa menit kembali ke Kutaraja. dengan membawa beberapa orang yang dapat mereka tawan, di antaranya Teuku Hanafiah Tungkop (kemenakan Teuku Nyak Arif), Ismail Penghulu Akub, M. Daud dan lain-lain. Keluarga Teuku Nyak Arif ternyata dapat menyelamatkan
diri karena kebetulan sedang berada agak jauh di belakang rumah, lagi mempersiapkan dapur umum.

Hanya beberapa jam setelah peristiwa itu sudah berduyun-duyun rakyat berkumpul di Lam Nyong, dengan rencana akan melakukan penyerangan ke Kutaraja selepas Isya. Pada waktu barisan rakyat mulai bergerak dan baru sekitar limaratus meter jaraknya dari rumah Teuku Nyak Arif, mereka melihat di seberang jembatan Lam Nyong ada beberapa kendaraan lapis baja milik Belanda. Beberapa orang serdadu Belanda tampak sedang sibuk berusaha menyingkirkan batang-batang kayu yang sudah ditumbangkan rakyat di tengah jalan.

Barisan rakyat yang dipimpin Waki Harun itu langsung menghadang dan menghujani Belanda dengan tembakan-tembakan gencar. Maka pertempuran seru segera berkecamuk di sana. Pasukan Belanda tidak dapat menembus barisan rakyat, sehingga mereka terpaksa mundur ke pangkalannya di Kutaraja. Dalam pertempuran ini telah jatuh korban di kedua belah pihak. Akhirnya ribuan rakyat dari segenap penjuru menyerbu ke Kutaraja, sehingga pasukan Belanda pun lari terbirit-birit ke Aceh Tengah.”[]

Foto: Ilustrasi perang dunia ke II. @dok

Kenapa Ada Gampong Kaphee di Aceh?

Kenapa Ada Gampong Kaphee di Aceh?

GAMPONG ini menjadi sentral perdagangan Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya strategis dan dilintasi jalur Banda Aceh-Medan. Namanya Lambaro Kaphee (kafir). Letaknya hanya berjarak delapan kilometer dari Banda Aceh.

Lambaro Kaphee menjadi sentra perdagangan dan dinilai sebagai ibukota kedua Aceh Besar. Saban harinya, sayur dan buah dari berbagai penjuru Aceh transit di Lambaro Kaphee. Daerah ini tunduk di wilayah administratif Ingin Jaya. Banyak jalur alternatif yang bisa ditempuh menuju daerah ini. Misalnya dari Medan-Banda Aceh atau sebaliknya, dari Bandara SIM Blang Bintang, dan Lampeuneurut menuju pesisir barat Aceh.

Kondisi Lambaro Kaphee yang strategis inilah membuat daerah tersebut diperebutkan semenjak masa kesultanan Aceh. Salah satunya ketika perang Belanda di Aceh pada abad 19.

Ismail Jakub dalam bukunya Teungku Chik Di Tiro, Hidup dan Perjuangannya, menuliskan kawasan tersebut pernah dikuasai oleh Belanda pada 1880-an. Belanda membuat lini konsentrasi dengan membentengi diri di daerah yang strategis ini untuk mengamankan pusat pemerintahannya di Bandar Aceh. Teungku Chik Di Tiro yang saat itu menjadi pimpinan perang semesta telah berupaya untuk merebut kembali wilayah tersebut. Namun hasilnya gagal.

Pasukan Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik Di Tiro kerap menyerbu tangsi-tangsi Belanda pada masa itu. Termasuk salah satunya benteng Aneuk Galong, yang letaknya tidak jauh dari Lambaro. Hal ini membuat Belanda menarik pasukannya ke Lambaro pada 1883.

Belanda turut membumihanguskan Aneuk Galong saat berpindah ke Lambaro. Mereka juga turut menghancurkan jembatan yang baru dibangun agar tidak bisa dilalui oleh pasukan Teungku Chik di Tiro. Sepeninggal Belanda, Teungku Chik Di Tiro lantas membuat benteng tidak jauh dari Aneuk Galong. Pusat pertahanan pasukan Aceh ini kemudian dinamakan dengan Kuta Bu yang artinya benteng nasi. Penamaan ini tidak terlepas dari peran daerah tersebut yang menjadi sumber logistik bagi pejuang Aceh.

Belanda memperkuat pusat pertahanan di Lambaro dengan meriam berukuran 12 centimeter. Selain itu, sebanyak dua batalyon serdadu Belanda juga disiagakan di daerah ini untuk mengantisipasi serangan pasukan Teungku Chik.

Teungku Chik Di Tiro yang paham benar tentang daerah tersebut kemudian melancarkan serangan ke benteng Lambaro. Namun pasukan-pasukan Aceh yang menyerang dari Lubok tidak mampu merebut Lambaro.

“Berkali-kali diserang dari seberang Krueng Aceh oleh barisan muslimin dari arah Lubuk, tetapi tidak jatuh juga. Maka oleh barisan sabil, dinamakannya benteng Lambaro itu dengan nama Lambaro Kaphee (Kafir),” tulis Ismail Jakub.[]

Bangunan Hotel Ini adalah Peninggalan Belanda

Bangunan Hotel Ini adalah Peninggalan Belanda

JAKARTA – Hotel merupakan salah satu tempat yang perlu dipertimbangkan dengan matang ketika Anda akan melaksanakan liburan. Suasana hotel akan sangat berpengaruh pada lancarnya waktu istirahat Anda. Nah, bagaimana dengan memilih hotel yang memiliki bangunan tua zaman penjajahan Belanda. Tentu Anda dapat merasakan suasana yang tua namun tetap menarik untuk berlibur. Selain menghabiskan waktu menikmati pemandangan Anda juga dapat mempelajari sejarah dari hotel-hotel tersebut.

Bagi Anda yang berminat untuk menghabiskan liburan bersama keluarga menginap di hotel bernuansa Belanda tanpa harus terbang ke negeri kincir angin tersebut, berikut daftar sepuluh hotel yang memiliki bangunan tua Belanda, dilansir dari Agoda.com, Rabu (19/8/2015).

1. The Phoenix Yogyakarta, 1918

2. Inna Garuda, 1908

3. Hotel Salak The Heritage, Bogor 1856

4. Mesa stila Magelang, 1928

5. Prama Grand Preanger Hotel, 1920

6. Savoy Homann Bidakara Hotel, 1939

7. Kartika Wijaya Batu Heritage Hotel, 1891

8. The Hermitage Jakarta, 1923

9. Hotel Majapahit Surabaya, 1910

10.Hotel Indonesia Kempinski, 1962.[] sumber: Liputan6.com

Menikmati Sensasi Berkemah Tema Alam Futuristik

Menikmati Sensasi Berkemah Tema Alam Futuristik

Merasakan liburan dengan berkemah di tengah hutan atau pegunungan merupakan hal yang sangat biasa. Namun bagaimana jika Anda sesekali mencoba ditengah padang pasir yang jauh dari kesan sejuk? Tentu hal tersebut akan membuat Anda tidak merasa nyaman.

Belum lama ini, UrbanCampsiteAmsterdam telah diluncurkan yang merupakan bagian terbaru dari Centrumeiland di kota IJburg. Selain di tengah padang pasir, tenda untuk kemah juga dikelilingi oleh danau IJ dan pemandangan pulau Pampus. Sehingga menawarkan pengunjung untuk beristirahat di tengah-tengah alam bebas.

Berkemah bertema seni ini didirikan oleh beberapa penggagas, seperti Annette van Driel dan Francis Nijenhuis. Para pengagas juga turut mengundang para tamu untuk tinggal di salah satu dari 14 objek yang sangat artistik dan tidak biasa untuk membentuk UrbanCampsiteAmsterdam.

Didirikannya UrbanCampsiteAmsterdam sesungguhnya memiliki tujuan menarik pengunjung agar bisa mengeksplorasi Centrumeiland.  Para pengunjung juga dapat melihat sebuah pameran luar dengan akomodasi yang unik, lanskap alami, workshop dan pertunjukan.

“Perkemahan ini adalah sebuah pameran di mana Anda dapat tidur. Ini artinya bahwa setiap hari ada 28 orang tidur di dalam instalasi. Selain itu setiap hari selama jam buka sekitar 100 orang yang mengunjungi perkemahan,” ujar Annete van Driel kepada Travel MailOnline.

Dia menambahkan semua desain tenda berbeda dalam bentuk, ukuran dan desain. Dia meminta para seniman untuk menciptakan sesuatu yang berharga dan unik.

UrbanCampsiteAmsterdam memiliki semua fasilitas sama seperti perkemahan biasa lainnya. Namun uniknya setiap orang yang bermalam berkesempatan untuk tinggal di kamar tidur yang fungsional karena dibuat oleh para seniman dan arsitek dari bahan daur ulang.

“Para arsitek dan seniman menggunakan limbah untuk membuat sepotong bangunan, dan bahan-bahan berharga seperti bahan kemasan dan beberapa dari mereka membuat instalasi dari limbah tanah,” ujar van Driel.

Centrumeiland dipilih untuk lokasi karya seni adalah semata-mata untuk mengubah persepsi pengunjung bahwa daerah yang kurang dikenal dari Amsterdam juga bisa dimanfaatkan.

Pameran dan pemukiman di UrbanCampsiteAmsterdam kini telah menjadi tuan rumah dalam program kegiatan pengunjung dari segala usia. Tempat ini juga menjadi lokasi para seniman, desainer dan arsitek untuk melakukan workshop dan diskusi di alam terbuka.

Annette van Driel mengatakan seni dalam berkemah ini memiliki konsep pop up yang kemungkinan akan menjadi bagian lain dari Amsterdam saat musim panas mendatang. | sumber : viva

foto: viva

Belanda Punya Jalan Layang Khusus Sepeda

Belanda Punya Jalan Layang Khusus Sepeda

Lansekap kota yang cantik biasanya diisi dengan jalan besar untuk kendaraan roda empat. Lain dari yang lain, Hovenring, jalan layang keren di Belanda ini justru dikhususkan untuk sepeda.

Belanda memang merupakan negara yang warganya sangat senang bersepeda. Di setiap jalan selalu disediakan tempat untuk pesepeda. Sebuah jalan layang yang cantik di negeri kincir angin ini pun diperuntukkan khusus para pesepeda.

Hovenring adalah sebuah jalan lingkar pertama di dunia yang dikhususkan untuk sepeda. Arti kata ‘Hovenring’ sendiri adalah ‘kumpulan lingkaran (ring) Hovens’. Hoven merupakan nama daerah tempat jalan lingkar tersebut berada yaitu Eindhoven, Veldhoven, dan Meeerhoven.

Jalan yang menakjubkan ini memiliki ketinggian 70 meter. Jalan layang yang dibuat oleh Ipy Delft ini memiliki seribu ton dek besi jembatan dan 24 kabel besi. Lebih hebatnya lagi, jalanan Hovenring dilengkapi dengan lampu-lampu super canggih. Pada malam hari, jalanan ini akan menyala dengan terang. Selain menyinari jalan layang itu sendiri, perempatan di bawah jalan ini juga ikut diterangi oleh lampu LED yang ada di Hovenring.

Hovenring, jalan layang keren di Belanda khusus untuk sepeda ini selesai dibangun tahun 2011. Sayang karena adanya getaran kuat yang disebabkan oleh angin, jalan ini sempat ditutup. Setelah masalah getaran angin tersebut bisa dipecahkan, Hovenring dibuka lagi pada Juni 2012 lalu. | sumber : nationalgeographic

foto: Jalan layang khusus sepeda, Hovenring, di Belanda @imgur.com

Selfie Abad 17 Bakal Dipamerkan di Belanda

Selfie Abad 17 Bakal Dipamerkan di Belanda

AMSTERDAM – Selfie tampak kontemporer, namun museum di Belanda berniat menunjukkan bahwa itu sudah dimulai berabad-abad lalu.

Mauritshuis di The Hague akan menampilkan koleksi potret diri para pelukis seperti Rembrandt, Jan Steen, Carel Fabritius dan Gerrit Dou dari lukisan-lukisan Masa Keemasan Belanda abad ke-17 dalam pameran Oktober mendatang.

Potret diri populer di antara para pelukis Belanda periode itu. Rembrandt sendiri melukis dan menggambar puluhan sepanjang hidupnya, melacak penuaan pemuda jenius percaya diri menjadi pria bungkuk yang kecewa dan bangkrut.

Pameran bertajuk “Dutch Self Portraits – Selfies from the Golden Age” akan menampilkan 27 lukisan, sebagian besar pinjaman, yang menampilkan cara seniman menggambarkan diri mereka sendiri, sebagai borjuis kaya raya, pria berorientasi keluarga, pemburu atau pelukis profesional.

Kalau sekarang siapa pun dapat melakukan swafoto menggunakan telepon pintar, zaman dulu butuh kemampuan tinggi untuk membuat potret diri, kata museum dalam keterangan resminya, Kamis waktu setempat.

“Namun ada satu hal tidak berubah: fakta bahwa sang kreator potret diri harus memilih seperti apa mereka ingin menampilkan dirinya,” kata museum.

Hal yang sama berlaku untuk semua potret diri, dari pandangan posesif Boschaert saat mencengkeram palet dan kuas di lukisan “Self-Portrait” pada 1630-an hingga pose-pose di pub dalam foto-foto masa kini.

Pameran koleksi potret diri dibuka pada 8 Oktober di Mauritshuis, salah satu tempat yang memiliki koleksi penting di dunia dari lukisan-lukisan Masa Keemasan Belanda, termasuk “Girl with a Pearl Earring” karya Vermeer. Pameran itu akan berlangsung hingga 3 Januari 2016, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.[] sumber: antaranews.com

Foto: Ilustrasi

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

SULTHAN Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem menghentikan perlawanan terhadap Belanda setelah keluarganya ditawan pada pertengahan tahun 1903. Hal itu juga dilakukan oleh Teuku Chik Di Tunong dan Cut Nyak Meutia. Mereka turun dari tempat gerilya dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda pada 5 Oktober 1503.

Menurut catatan sejarawan Belanda, HC Zentgraaff, dalam masa tahun 1903 sampai 1905, Teuku Chik Di Tunong melakukan konsolidasi terhadap para pengikutnya Dia tetap merencanakan perlawanan kepada Belanda. Di awal tahun 1905, terjadi lagi suatu penyerangan yang amat dahsyat dan memilukan bagi Belanda. Pada 26 Januari 1905, sebuah pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh.

Vollaers sudah sangat berpengalaman dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah (surau) Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas, sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak. Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku.

Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak. Pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah pedagang makanan hilir mudik di meunasah tersebut dan menawarkan dagangannya kepada pasukan Belanda. Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong.

Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis: “Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.

Belanda kemudian menyelidiki kasus ini. Hasilnya diketahui bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong. Belanda kemudian menangkap Teuku Chik Di Tunong ketika menuju ke Lhokseumawe pada 5 Maret 1905. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan dijebloskan ke dalam penjara.

Hasil penyelidikan Belanda terhadap keterlibatan Teuku Chik Di Tunong dalam penyerangan tersebut kemudian terbukti. Pemerintah Belanda kemudian menjatuhkan hukuman gantung kepada Teuku Chik Di Tunong. Tapi karena sepanjang pemerintahan Belanda di Aceh belum pernah memberlakukan hukuman gantung, Gubernur Militer Van Daalen yang menggantikan Van Heutsz mengubahnya menjadi hukuman tembak mati. Perubahan hukuman ini sebagai penghargaan terhadap Teuku Chik Di Tunong selaku pejuang yang berhak mati secara terhormat.

Selain Zentgraaff, peristiwa itu juga ditulis H M Zainuddin dalam buku “Srikandi Aceh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, 1966. Dalam buku itu dia mengungkapkan, sebelum menjalani hukuman tersebut, Teuku Chik Di Tunong meminta kepada Belanda agar dapat bertemu untuk terakhir kalinya dengan istrinya, Cut Meutia, serta Teuku Raja Sabi, anaknya yang masih berusia lima tahun. Selain untuk melepas rindu dan salam perpisahan pada istri dan anaknya, pertemuan itu digunakan Teuku Chik Di Tunong untuk memberikan wasiat pada  Cut Meutia.

Ada tiga permintaan yang disampaikan Teuku Chik Di Tunong pada Cut  Meutia waktu itu, yaitu meminta Cut Meutia untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda, mendidik anaknya menjadi seorang pejuang yang akan meneruskan perjuangannya melawan Belanda, serta meminta Cut Meutia untuk bersedia menikah dengan Pang Nanggroe, panglima perang yang selama ini mendampinginya dalam berbagai peperangan melawan Belanda.[] (bna) 

Iskandar Norman adalah peminat sejarah dan jurnalis lokal di Aceh.