Tag: baku tembak

Baku Tembak di Tajikistan, 10 Orang Tewas

Jakarta – Baku tembak terjadi di sekitar ibu kota Tajikistan, Dushanbe, yang telah menewaskan sedikitnya 10 orang.

Kementerian dalam negeri Tajikistan mengatakan, delapan polisi tewas akibat baku tembak di kota Vahdat di luar kota Dushanbe dan di dalam bangunan kementerian tersebut

Para pejabat negara menuduh Wakil Menteri Pertahanan yang telah dipecat, Jenderal Aduhalim Nazarzoda, yang disebut memimpin “kelompok teroris” dalam baku tembak itu.

Mereka juga mengatakan bahwa dua orang penyerang tewas.

Kedutaan AS mengatakan pihaknya telah menutup kantor kedutaan dan memperingatkan bahwa bentrokan bersenjata ini kemungkinan merupakan “awal dari tindakan kekerasan lainnya”.

‘Kelompok teroris’

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip kantor berita milik negara, Kementerian dalam negeri Tajikistan mengatakan, sebuah “kelompok kriminal yang terorganisasi” telah meluncurkan serangan bersenjata di kantor Kementrian dalam negeri di kota Vahdat dan pada bangunan pemerintah pusat di Dushanbe.

“Akibatnya, sejumlah besar senjata dan amunisi dicuri dan dibawa pergi oleh kelompok teroris,” kata pernyataan itu.

Kementerian dalam negeri Tajikistan mengatakan, sebuah “kelompok kriminal yang terorganisasi” telah meluncurkan serangan bersenjata di kantor Kementrian dalam negeri di kota Vahdat dan pada bangunan pemerintah pusat di Dushanbe.

Pernyataan itu menambahkan bahwa “kelompok teroris” yang dipimpin oleh Jendral Nazarzoda telah melarikan diri ke wilayah Romit Gorge dan otoritas keamanan masih memburu dia dan anggota kelompoknya.

Selama ini Tajikistan jarang disulut kerusuhan, tetapi belakangan muncul kontroversi ketika ada tuntutan agar Islam lebih memainkan perannya dalam kehidupan masyarakat di negeri ini.

Semenjak merdeka, Tajikistan -yang mayoritas penduduknya beragama Muslim- telah memiliki tatanan politik sekuler.

Sosok Presiden Emomali Rakhmon

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kesulitan ekonomi disebut sebagai salah-satu faktor penyebab adanya minat baru dalam Islam di kalangan anak muda Tajikistan -termasuk bentuk-bentuk yang lebih radikal.

Pekan lalu Kementerian kehakiman telah melarang sebuah kegiatan yang digelar Partai Kebangkitan Islam (Islamic Revival Party), satu-satunya partai berbasis agama di negara bekas Soviet di wilayah Asia Tengah itu.

Rakhmon telah berkuasa selama dua dekade dan terpilih kembali pada pemilu 2013 dengan perolehan suara 83,6%.

Jendral Nazarzoda adalah mantan anggota Persatuan kelompok oposisi Tajikistan (United Tajik Opposition atau UTO), yang berjuang melawan pasukan pemerintah selama perang sipil pada tahun 1990.

Dia kemudian bergabung dalam kabinet setelah perjanjian damai ditandatangani pada tahun 1997.

Para wartawan mengatakan, serangan terbaru tampaknya terkait dengan konflik yang terus berkembang antara pemerintahan Presiden Emomali Rakhmon dan mantan panglima perang UTO.

Rakhmon telah berkuasa selama dua dekade dan terpilih kembali pada pemilu 2013 dengan perolehan suara 83,6%. Namun para pengamat menilai pemilu itu “tidak berjalan demokratis”.[] Sumber: detik.com

JK Bicara Soal Baku Tembak di Lhokseumawe

JK Bicara Soal Baku Tembak di Lhokseumawe

PADANG – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menanggapi baku tembak yang terjadi di dua daerah yang pernah berkonflik: Poso dan Aceh. “Tapi yang terjadi itu hanya kriminal,” ujar Kalla seusai meninjau pembangunan pabrik Indarung VI PT Semen Padang, di Padang, Ahad 23 Agustus 2015.

Kalla mengatakan penembakan di Poso dan Aceh kriminal murni dan sering terjadi di beberapa tempat yang dulu rawan konflik.

Pada Rabu lalu, terjadi baku tembak antara polisi dan anggota kelompok bersenjata di Poso, Sulawesi Tengah. Akibatnya dua orang tewas.

Pada Senin lalu, anggota gabungan kepolisian juga terlibat baku tembak dengan kelompok bersenjata yang diduga sama. Dalam baku tembak itu, tidak ada korban jiwa. Namun, polisi menemukan kamp, senjata, bom dan perlatan lainnya milik kelompok itu.

Baku tembak juga terjadi di Aceh Utara, Kamis lalu. Insiden tersebut menewaskan Ridwan yang diduga anak buah Din Minimi. Ridwan yang bersama empat rekannya berusaha kabur, tewas dengan tujuh peluru bersarang di tubuhnya.

Din Minimi adalah bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka. Ia disebut terlibat dalam penembakan dua anggota intel TNI di Aceh beberapa waktu lalu.

Kepolisian menganggap kelompok ini berbahaya. Sebab, mereka diduga memiliki senapan AK-56 dan AK-57.[] sumber: tempo.co

Foto: Polisi mengevakuasi jenazah Ridwan, salah satu anggota Din Minimi, yang tertembak di rumahnya saat penyergapan beberapa waktu lalu. @Datuk Haris Maulana/portalsatu.com

Dorr…Polisi Ini Tertembak Senjata Sendiri

Dorr…Polisi Ini Tertembak Senjata Sendiri

TIGARAKSA – Brigadir Tri Martono harus mendapatkan 6 jahitan pada tumit kaki kirinya setelah tertembak pistol yang dibersihkannya. Peristiwa naas itu dialami anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Tangerang saat sedang beristirahat di pinggir jalan Kawasan AEON Mall, Kecamatan Pagedangan.

Kapolres Kota Tangerang Kombes Irman Sugema mengungkapkan, perisiwa itu terjadi pada hari Selasa (18/8) lalu. Saat itu, Tri Martono hendak berangkat untuk dinas ke Mapolres.

Namun, dalam perjalanannya ia merasa ngantuk hingga akhirnya menghentikan laju mobil Honda City bernopol B-2791-IH miliknya di pinggir Jalan Kawasan AEON Mall.

Karena iseng, Tri dengan sengaja mengeluarkan senjata api miliknya di dalam mobil untuk dibersihkan, sekaligus untuk mengilangkan rasa ngantuk. Namun pada saat dibersihkan, senjata api yang diketahui macet itu tiba-tiba meletus. Tak pelak, peluru yang keluar dari senjata inventaris kepolisian tersebut melukai tumit kaki kirinya hingga tembus ke dasar mobil.

“Kejadiannya sudah dua hari yang lalu. Jadi bukan karena tertembak oleh orang lain. Tidak sengaja pada saat itu Tri sedang membersihkan senjata miliknya,” tegas Kombes Irman Sugema dilansir Satelit News (Grup JPNN.com), Jumat (21/8).

Pada saat terluka, kata Irman, Brigadir Tri kemudian menghubungi Titi salah satu kenalannya di Polresta Tangerang. Titi merupakan pedagang pulsa yang setiap harinya berjualan di Markas Kepolisian Kota Tangerang tersebut.

Mendapat informasi tersebut Titi langsung meminta kepada salah seorang teman lainnya untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian. Ia langsung berbegas menyusul Tri untuk memberikan pertolongan dan membawanya ke Rumah Sakit Asshobirin Serpong.

Beruntung proyektil peluru yang keluar dari senjata api miliknya tidak bersarang, sehingga bisa langsung dilakukan pengobatan. Brigadir Tri juga harus mendapat enam jahitan pada luka yang dideritanya.

“Habis kejadian langsung mendapat perawatan intensif. Sementara ini masih dalam proses penyembuhan,” jelas Irman.

Kepala Seksi Propam Polres Kota Tangerang, AKP Matias Sagala menambahkan, kasus tersebut masih dalam penanganan pihaknya. Menurutnya, kejadian itu merupakan kelalaian Brigadir Tri dalam menjaga senjata apinya sendiri.

“Untuk dugaan, sudah pasti yang bersangkutan lalai dalam menggunakan senjata,” pungkasnya.[] sumber: JPNN.com

Nurhayati Pernah Fasilitasi Ridwan untuk Menyerah

Nurhayati Pernah Fasilitasi Ridwan untuk Menyerah

LHOKSEUMAWE – Nurhayati, kakak Ridwan–salah satu anggota Din Minimi yang tewas dalam baku tembak dengan polisi–mengaku sudah mengupayakan almarhum agar menyerah. Namun usaha tersebut tidak berhasil.

Hal ini disampaikan oleh Nurhayati kepada portalsatu.com saat ditemui di rumah Ridwan, di Gampong Pulo Meuria, Geureudong Pasee, Aceh Utara, Jumat, 21 Agustus 2015.

Sebelumnya Nurhayati telah memfasilitasi Zulkarnaini alias Glok, 28 tahun, yang juga adik kandungnya untuk menyerahkan diri ke Polres Lhokseumawe pada 29 Mei 2015 lalu. Upaya tersebut berhasil. (Baca: Ini Kronologis Penyerahan Diri Komplotan Din Minimi)

Jenazah Ridwan diboyong menggunakan ambulans dari Rumah Sakit Cut Meutia dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 11.00 WIB. Informasi yang dikumpulkan oleh wartawan, diketahui Ridwan tewas dengan meninggalkan seorang istri bernama Fitri, 27 tahun, dan seorang anak berusia 15 tahun.

Seperti diketahui, salah satu anggota komplotan Din Minimi, Ridwan, tewas dalam baku tembak dengan polisi di rumahnya di Gampong Pulo Meuria, Geureudong Pasee, Aceh Utara, Kamis, 20 Agustus 2015 sekitar pukul 17.30 WIB.

Informasi yang diterima oleh portalsatu.com menyebutkan, saat kejadian Ridwan bersama empat orang temannya berada di Gampong Pulo Meuria. Salah satu rekan Ridwan tersebut adalah Beurijuk.

Pengepungan oleh polisi terjadi setelah adanya informasi dari masyarakat terkait keberadaan kelompok bersenjata di daerah tersebut. Selanjutnya polisi menggerebek rumah milik Ridwan di Gampong Pulo Meuria. Masih berdasarkan informasi tersebut, kelompok Ridwan melepaskan tembakan ke arah polisi sehingga terjadi baku tembak.

Informasi portalsatu.com juga menyebutkan dari hasil penggerebekan tersebut polisi turut mengamankan satu pucuk senjata api jenis AK-56. Sementara Ridwan ditemukan tewas akibat tertembus timah panas. Polisi lantas memburu Beurijuk dan teman-temannya yang melarikan diri ke kebun warga di sekitar belakang rumah Ridwan sambil membalas tembakan ke arah tim.

Hal ini dibenarkan oleh Nurdin Ismail alias Din Minimi yang menghubungi portalsatu.com melalui sambungan telepon. “Iya benar, Ridwan anak buah saya. Dia meninggal dunia dalam kontak tembak tadi. Saat itu Ridwan ditembak waktu pulang ke rumahnya untuk mengantar uang belanja untuk istrinya,” ujar Din Minimi kepada portalsatu.com via telepon.[] (bna)

Foto: Jenazah Ridwan di rumah duka. @Datuk Haris Maulana/portalsatu.com

Kapolres Lhokseumawe: Kami Sudah Mengetahui Posisi Kelompok Din Minimi

Kapolres Lhokseumawe: Kami Sudah Mengetahui Posisi Kelompok Din Minimi

LHOKSEUMAWE – Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Kota Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono, mengimbau kepada seluruh anggota Din Minimi untuk menyerahkan diri. Hal ini disampaikan oleh Kapolres di Mapolres Lhokseumawe, Jumat, 21 Agustus 2015.

“Kami akan memberlakukan dengan baik,” kata Kapolres.

Dia mengatakan Tim Polres Lhokseumawe dibantu Tim Polda Aceh masih menyisir hutan belantara Aceh Utara hingga ke perbatasan kabupaten lain.

Selain itu, AKBP Anang Triarsono juga mengatakan polisi menyita sejumlah barang bukti dari Ridwan, salah satu anggota Din Minimi yang tewas usai baku tembak dengan polisi pada Kamis, 20 Agustus 2015 kemarin. Barang bukti tersebut berupa satu pucuk senjata api AK-56, dua magazen, sekitar 83 peluru aktif, daun ganja kering sekitar 3 gram, satu rompi tempat magazen, empat baterai ABC, dan gunting.

“Kemarin setelah tim kita kontak tembak dengan kelompok Din Minimi, satu tewas di tempat. Sementara empat lainnya berhasil kabur. Kami terus melakukan pengejaran hingga hari ini. Radiusnya tidak jauh, karena kami sudah mengetahui posisi mereka,” katanya.[](bna)

Satu Tim Polisi Disiagakan di Kawasan Baku Tembak dengan Komplotan Din Minimi

Satu Tim Polisi Disiagakan di Kawasan Baku Tembak dengan Komplotan Din Minimi

LHOKSEUMAWE – Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono membenarkan adanya kontak tembak antara Tim polda Aceh bersama Polres Lhokseumawe dengan kelompok Din Minimi, Kamis, 20 Agustus 2015. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 WIB tadi di Desa Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pasee, Aceh Utara.

Menurutnya baku tembak ini menewaskan satu orang dari kelompok Din Minimi berinisial R.

Kejadian bermula dari laporan masyarakat terkait adanya sekelompok orang bersenjata laras panjang. “Dari itu kita bentuk tim untuk menyelidiki laporan tersebut, namun kelompok tersebut yang jumlahnya lima orang melakukan perlawanan dan terjadilah kontak tembak,” katanya.

“Paskakontak tembak, R tewas di tempat sedangkan yang lainnya melarikan diri,” katanya lagi.

Kapolres mengatakan baku tembak terjadi di sekitar rumah R. Disinyalir yang lari tersebut termasuk “BER” yang diduga juga kelompok Din Minimi.

“Di tangan R di amankan satu pucuk senjata AK 56 serta 2 magasin dan pada saat digeledah pada jenazah R ditemukan juga beberapa linting ganja,” katanya.

Kapolres mengatakan pihaknya tetap memburu komplotan Din Minimi yang berhasil melarikan diri tersebut. Hingga kini pihaknya juga telah menugaskan satu tim untuk siaga di lokasi.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah R masih menjalani visum di Rumah Sakit Cut Meutia. “Jika visum selesai, jenazah bisa dibawa pulang oleh pihak keluarga untuk disemayamkan,” katanya.[](bna)

Foto: Polisi mengevakuasi jenazah salah satu anggota Din Minimi ke Rumah Sakit Cut Meutia, Lhokseumawe. @Datuk Haris Maulana/portalsatu.com

Kadiv Humas Polda Aceh: Polisi Sita Satu Pucuk AK-56

Kadiv Humas Polda Aceh: Polisi Sita Satu Pucuk AK-56

BANDA ACEH – Kadiv Humas Polda Aceh, Kombes T Saladin, membenarkan kejadian kontak tembak terjadi antara Tim Polda Aceh dengan kelompok bersenjata Din Minimi, Kamis, 20 Agustus 2015. Menurutnya baku tembak terjadi sekitar pukul 17.05 WIB di Dusun Pulo Meuria Kecamatan Geurudong Pasee, Aceh utara.

Kejadian tersebut berawal dari informasi masayarakat dan dari hasil penyelidikan Tim Polda Aceh, bahwa Ridwan Cs, yang juga merupakan anggota kelompok bersenjata Din Minimi sedang pulang ke rumahnya.

“Dari informasi tersebut, tim melakukan penggerebekan di rumah milik Ridwan dan saat tiba di TKP, tim mendapatkan perlawanan dari Ridwan Cs, sehingga terjadi kontak tembak selama lebih kurang 30 menit,” katanya.

Polisi berhasil melumpuhkan satu orang DPO atas nama Ridwan sedangkan 4 lainnya meloloskan diri. “Tim masih melakukan pengejaran,” ujar AKBP T Saladin.

Dalam kejadian tersebut, kata AKBP T Saladin, barang bukti yang dapat diamankan berupa 1 pucuk AK 56 dan 2 magasen, masing-masing berisi 30 butir peluru dan 26 butir peluru. Tim Polda Aceh terus mengejar pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri saat penggerebekan dan kontak tembak.

Selain itu, AKBP T Saladin juga mengimbau kepada masyarakat agar bahu membahu dengan aparat kepolisian untuk menangkap kelompok Din Minimi (DM), yang selama ini sudah menjadi DPO karena terlibat beberapa criminal di Aceh.[](bna)

Foto: Kelompok Din Minimi dengan Ketua AHF Abdul Hadi (baju putih) di salah satu tempat di Aceh. @Maulana Amri/portalsatu.com

Tim Medis RS Cut Meutia Visum Jenazah Salah Satu Anggota Din Minimi

Tim Medis RS Cut Meutia Visum Jenazah Salah Satu Anggota Din Minimi

LHOKSEUMAWE – Jenazah Ridwan, salah satu anggota komplotan Din Minimi yang tewas dalam baku tembak dengan polisi di Pulau Meuria, Geureudong Pase, tiba di Rumah Sakit Cut Meutia, Aceh Utara, Kamis, 20 Agustus 2015 sekitar pukul 20.15 WIB. Jenazah Ridwan dibawa menggunakan ambulans dan mendapat pengawalan ketat dari personel Polres Lhokseumawe dan Tim Polda Aceh.

Hingga berita ini diturunkan, tim medis Rumah Sakit Cut Meutia sedang melakukan visum terhadap jenazah Ridwan.

Sebelumnya diberitakan, salah satu anggota komplotan Din Minimi, Ridwan, tewas dalam baku tembak dengan polisi di rumahnya di Gampong Pulo Meuria, Geureudong Pasee, Aceh Utara, Kamis, 20 Agustus 2015 sekitar pukul 17.30 WIB.

Informasi yang diterima oleh portalsatu.com menyebutkan, saat kejadian Ridwan bersama empat orang temannya berada di Gampong Pulo Meuria. Salah satu rekan Ridwan tersebut adalah Beurijuk.

Pengepungan oleh polisi terjadi setelah adanya informasi dari masyarakat terkait keberadaan kelompok bersenjata di daerah tersebut. Selanjutnya polisi menggerebek rumah milik Ridwan di Gampong Pulo Meuria. Masih berdasarkan informasi tersebut, kelompok Ridwan melepaskan tembakan ke arah polisi sehingga terjadi baku tembak.

Informasi portalsatu.com juga menyebutkan dari hasil penggerebekan tersebut polisi turut mengamankan satu pucuk senjata api jenis AK-56. Sementara Ridwan ditemukan tewas akibat tertembus timah panas. Polisi lantas memburu Beurijuk dan teman-temannya yang melarikan diri ke kebun warga di sekitar belakang rumah Ridwan sambil membalas tembakan ke arah tim.

Hal ini dibenarkan oleh Nurdin Ismail alias Din Minimi yang menghubungi portalsatu.com melalui sambungan telepon. “Iya benar, Ridwan anak buah saya. Dia meninggal dunia dalam kontak tembak tadi. Saat itu Ridwan ditembak waktu pulang ke rumahnya untuk mengantar uang belanja untuk istrinya,” ujar Din Minimi kepada portalsatu.com via telepon.[] (bna)

Foto: Ridwan (berbaju hitam), salah satu anggota Din Minimi yang tewas di Gampong Pulo Meuria saat baku tembak dengan polisi. @Dok

Din Minimi Benarkan Ridwan Anggotanya

Din Minimi Benarkan Ridwan Anggotanya

IDI RAYEUK – Nurdin Ismail atau dikenal Din Minimi membenarkan salah satu anak buahnya, Ridwan, tertembak dalam penyergapan yang dilakukan oleh polisi di Gampong Pulo Meuria, Geureudong Pase, Aceh Utara, Kamis, 20 Agustus 2015 sekitar pukul 17.30 WIB. Ridwan adalah abang kandung Zulkarnaini alias Glok, salah satu anggota Din Minimi yang menyerahkan diri ke polisi beberapa waktu lalu. (Baca: Ini Kronologis Penyerahan Diri Komplotan Din Minimi)

“Iya benar, Ridwan anak buah saya. Dia meninggal dunia dalam kontak tembak tadi. Saat itu Ridwan ditembak waktu pulang ke rumahnya untuk mengantar uang belanja untuk istrinya,” ujar Din Minimi kepada portalsatu.com via telepon.

Sementara itu, informasi yang diterima oleh portalsatu.com, menyebutkan saat kejadian Ridwan bersama empat orang temannya berada di Gampong Pulo Meuria. Salah satu rekan Ridwan tersebut adalah Beurijuk.

Pengepungan oleh polisi terjadi setelah adanya informasi dari masyarakat terkait keberadaan kelompok bersenjata di daerah tersebut. Selanjutnya polisi menggerebek rumah milik Ridwan di Gampong Pulo Meuria. Masih berdasarkan informasi tersebut, kelompok Ridwan melepaskan tembakan ke arah polisi sehingga terjadi baku tembak.

Informasi portalsatu.com juga menyebutkan dari hasil penggerebekan tersebut polisi turut mengamankan satu pucuk senjata api jenis AK-56. Sementara Ridwan ditemukan tewas akibat tertembus timah panas. Polisi lantas memburu Beurijuk dan teman-temannya yang melarikan diri ke kebun warga di sekitar belakang rumah Ridwan sambil membalas tembakan ke arah tim.[](bna)

Foto: Ridwan (baju hitam) salah satu anggota Din Minimi saat bersama Ketua AHF Abdul Hadi alias Adi Maros. @Dok