Tag: baitul mal

Korban Kebakaran Lamcot Terima Bantuan Masa Panik

Korban Kebakaran Lamcot Terima Bantuan Masa Panik

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh (BMA) menyerahkan bantuan masa panik kepada korban kebakaran Gampong Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Bantuan tersebut berupa uang tunai kepada masing-masing kepala keluarga sebesar Rp1 juta rupiah.

Kepala Baitul Mal Aceh, Dr. Armiadi Musa MA, mengatakan ada delapan kepala keluarga yang mendapatkan bantuan masa panik tersebut. Walau dana ini tidak begitu besar, setidaknya sudah mengurangi beban korban untuk masa panik.

“Bantuan ini selalu tersedia di Baitul Mal Aceh. Begitu ada kebakaran, tim Baitul Mal Aceh langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung. Setelah mengambil data dan surat keterangan dari keuchik, bantuan itu langsung disalurkan,” kata Armiadi Musa, Kamis 13 Agustus 2015.

Armiadi berharap dengan adanya bantuan ini para korban dapat memanfaafkan sebaik mungkin, minimal untuk kebutuhan makanan pokok. Ia meminta tidak hanya Baitul Mal Aceh saja yang membantu masyarakat yang terkena musibah, akan tetapi semua kalangan punya tanggung jawab.

“Umat Islam ibarat tubuh yang satu, jika salah satu anggota merasa sakit maka akan dirasakan oleh anggota tubuh yang lainya. Begitu juga ketika ada saudara kita seiman yang terkena musibah, maka kita harus bahu membahu meringankan beban mereka,” ujar Armiadi.

Adapun para korban kebakaran Gampong Lamcot yang mendapatkan bantuan masa panik Baitul Mal Aceh yaitu Zulkifli, Fakhrurradhi, Dian Ardalena, Nasruddin, Hermansyah Putra, Dahlan Nurdin, T. Marhaban, Adi Susanto dan Masdiana.

Keuchik Gampong Lamcot, Alhatta, menjelaskan sehari setelah kebakaran, beberapa keluarga korban ditampung di rumahnya. Namun kini kedelapan keluarga korban tersebut sudah pulang ke rumah saudara masing-masing.

“Para korban masih sangat membutuhkan bantuan dari pihak pemerintah. Kemarin sudah datang juga dari Dinas Sosial Provinsi Aceh untuk mendata. Mudah-mudahan mendapat bantuan juga dari pemerintah lainnya,” ujarnya. [] (mal)

30 Anak Mualaf Terima Beasiswa Penuh Baitul Mal Aceh

30 Anak Mualaf Terima Beasiswa Penuh Baitul Mal Aceh

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh (BMA) kembali memberikan beasiswa penuh tingkat SLTP dan SLTA kepada 30 anak mualaf dari keluarga miskin untuk 2015. Beasiswa ini akan menanggung semua kebutuhan siswa sampai tamat sekolah di pesantren.

Kepala Baitul Mal Aceh mengatakan beasiswa ini diberikan kepada anak mualaf yang berasal dari daerah rawan aqidah seperti Simeulue, Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Tamiang. Ke-30 siswa tersebut telah dinyatakan lulus tim verifikasi.

“Dari singkil sebanyak 13 orang, Aceh Tenggara 7 orang, Simeulue 5 orang, Aceh Tamiang 3 orang dan Subulussalam 2 orang. Semua mereka sudah tiba di Banda Aceh akan langsung masuk ke sekolah/pesantren,” kata Armiadi, usai memberi pengarahan kepada anak mualaf di aula BMA, Kamis, 06 Agustus 2015.

Sedangkan untuk tahun-tahun sebelumnya, Baitul Mal Aceh juga telah menyekolahkan 46 anak mualaf, dengan rincinan pada 2014 sebanyak 21 orang, pada 2013  20 orang dan 2012 sebanyak  5 orang.

“Jadi jumlah anak mualaf yang sudah mendapat beasiswa penuh ini sebanyak 76 orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tujuan dari bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap para keluarga mualaf dalam meringankan beban ekonomi.

“Dan juga bentuk pemberdayaan muallaf di sektor pendidikan yang berasa dari keluarga miskin,” katanya.

Dengan adanya bantuan ini, maka mereka yang disekolahkan akan menjadi generasi yang mampu membentengi aqidah saudara-saudara mereka yang baru masuk Islam. Dan mereka juga nantinya mendapat jaminan masa depan karena sudah memiliki skill.

“Kita berharap mereka menjadi pembela agama dan kader-kader da’i di daerah mereka tinggal setelah dewasa nanti,” ujar Armiadi.

Armiadi menyebutkan, untuk tahun ini khusus senif mualaf, Baitul Mal Aceh menggelontorkan anggaran sebesar 1,4 miliar. Jumlah sebesar ini sudah termasuk untuk program pembinaan dan pemberdayaan mualaf.

Ia menambahkan, adapun program-program yang berhubungan dengan mualaf di Baitul Mal Aceh antara lain, pertama, Beasiswa Penuh mualaf tinggkat SLTP dan SLTA.

“Beasiswa ini sudah termasuk biaya masuk, biaya bulanan dan biaya pembelian buku bacaan,” katanya.

Kedua, beasiswa penuh anak mualaf tingkat SLTP yang berada di daerah rawan aqidah. Beasiswa ini ditanggung penuh semua kebutuhan siswa semenjak penjemputan, biaya masuk, tempat tinggal, SPP, dan uang jajan selama di sekolah/pesantren.

Ketiga, program pendampingan syariah bagi mualaf di 5 kabupaten/kota. Keempat bantuan pendidikan berkelanjutan bagi anak muallaf tingkat SD, SLTP dan SLTA di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Tidak hanya di Baitul Mal Aceh saja ada program perberdayaan kepada muallaf, tapi di Baitul Mal kabupaten/kota juga ada program yang serupa, artinya pemerintah sangat perhatian kepada mualaf,” ujarnya.

Terakhir kata Armiadi, dalam pengamatannya tidak semua para muallaf di Aceh berstatus miskin. Bahkan ada mereka yang status ekonominya sudah baik sehingga sudah mampu membantu dan membina saudaranya yang lain.

“Kepada masyarakat kami sampaikan bahwa status mualaf yang dirumuskan Baitul Mal hanya diakui selama tiga tahun, selanjutnya jika ia miskin maka akan diberlakukan sebagai masyarakat miskin,” katanya. [] (mal)

Kepala Baitul Mal: Zakat di Aceh Masuk PAD

Kepala Baitul Mal: Zakat di Aceh Masuk PAD

BANDA ACEH – Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA menjelaskan bahwa zakat di Aceh masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh. Maka setelah menerima zakat dari Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) tersebut langsung dimasukkan ke dalam rekening pemerintah daerah untuk dicatat sebagai PAD.

“Setelah dimasukkan ke dalam rekening pemerintah daerah untuk dicatat sebagai PAD, baru setelah itu ditranfer kembali ke rekening Baitul Mal untuk disalurkan,” kata Armiadi Musa kepada portalsatu.com, Senin, 3 Agustus 2015.

Salah satu peserta mempertanyakan kebijakan memasukkan hasil pengumpulan zakat tersebut ke dalam PAD. Pasalnya jika zakat masuk dalam PAD maka dananya akan dipergunakan untuk membangun fasilitas publik seperti jalan, jembatan dan lain-lainnya.
Namun Armiadi mengatakan sampai saat ini dana zakat masih dibagikan ke delapan Asnaf dan tidak digunakan untuk di luar ketentuan syar’i. Dia mengatakan banyak fakir miskin dan mualaf di seluruh Aceh yang dibantu melalui program Baitul Mal Aceh tersebut.

“Baitul Mal telah membangun seribuan rumah fakir miskin, memberikan beasiswa penuh tahfidz Alquran, menyantuni fakir uzur dan masih banyak program lainnya,” ujarnya.

Sedangkan untuk muallaf, sambungnya, sudah ratusan anak muallaf disekolahkan oleh Baitul Mal di pesantren-pesantren di Banda Aceh dan Aceh Besar. Mereka juga mendapatkan beasiswa penuh dari program tersebut. Sementara untuk orangtua diberikan santunan.

“Begitu mereka menjadi muallaf, mereka langsung mendapatkan santunan dari Baitul Mal, baik Baitul Mal provinsi atau Baitul Mal seluruh kabupaten kota seluruh Aceh,” katanya.

Usai sosialisasi tersebut Baitul Mal membagikan form persetujuan muzakki (pemberi zakat) untuk pegawai Kejati Aceh. “Meskipun tidak langsung dipotong, setidaknya para pegawai Kejati telah menyatakan setuju untuk pemotongan zakat,” katanya.[](bna)

Kejari se-Aceh Ikut Sosialisasi Zakat di Kejati

Kejari se-Aceh Ikut Sosialisasi Zakat di Kejati

BANDA ACEH – Ratusan pegawai Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh, termasuk perwakilan 23 Kejaksaan Negeri (Kejari) kabupaten/kota se-Aceh mengikuti sosialisasi zakat di kantor Kejati Aceh, Senin, 3 Agustus 2015.

Kegiatan ini menindaklanjuti hasil audiensi bersama Kajati Aceh beberapa waktu lalu soal pemotongan langsung zakat penghasilan dari gaji pegawai Kejati.

Kepala Baitul Mal Aceh, Dr. Armiadi Musa, MA, dalam pemaparannya menyampaikan berbagai legalitas hukum negara yang memerintahkan pengambilan zakat dari para pegawai, baik undang-undang hingga regulasi lokal yaitu qanun.

“Yang dipotong zakat penghasilan adalah mereka yang telah mencapai nisabnya. Sedangkan yang belum mencapai hanya diminta membayar infak saja 1 persen,” ujar Armiadi yang didampingi oleh Wakil Kepala Kejati Aceh Agus Tri Handoko.

Armiadi mengatakan para pegawai yang dikenakan zakat penghasilan adalah mereka yang memiliki gaji jika dikalkulasikan berjumlah Rp 49 juta per tahun atau setara dengan 94 gram emas. Jika dibagi 12 bulan maka menjadi sekitar Rp 3,8 juta per bulannya dihitung brutto.

“Oleh karena itu, bagi pegawai negeri atau kontrak yang mendapat penghasilan sebesar itu harus dipotong zakatnya sebanyak 2,5 persen dari semua penghasilannya,” kata Armiadi.

Ia juga menegaskan zakat penghasilan yang dipotong dari para pegawai bukan hanya gaji pokok saja, akan tetapi semua penerimaan baik tunjangan, remon, dan pendapatkan lainnya juga dihitung. Pegawai yang sumber gajinya dari Jakarta juga diwajibkan membayar zakat ke Baitul Mal Aceh lantaran bekerja dan memiliki tanggungjawab sosial di Aceh.

Pemotongan zakat di setiap instansi nantinya dipotong langsung oleh bendahara melalui Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) masing-masing yang dibentuk. “Lalu UPZ menyerahkan ke Baitul Mal Aceh,” ujarnya.[](bna)

Bupati Pidie Ajak Masyarakat Bayar Zakat Melalui Baitul Mal

Bupati Pidie Ajak Masyarakat Bayar Zakat Melalui Baitul Mal

PIDIE – Bupati Pidie Sarjani Abdullah mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat dan membayarnya melalui Baitul Mal Kabupaten Pidie.

Hal ini disampaikannya pada peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Alfalah, Kamis 30 juli 2015.

Bupati Sarjani mengajak seluruh masyarakat Pidie untuk dapat menumbuhkan kesadaran membayar zakat melalui Baitul Mal.

Ia menjelaskan Pada tahun 2013-2014, Baitul Mal Pidie telah berperan aktif dalam membantu masyarakat miskin di Kabupaten Pidie, dengan memberi santunan kepada 5.100 warga fakir miskin, 125 orang cacat permanen dan lansia, 86 cacat netra dan 1000 buruh serta 114  guru pengajian.

“Baitul Mal juga telah membangun 17 Rumah fakir miskin di Kabupaten Pidie. Serta memberi bantuan kepada 1.928 Orang Santri Asal Pidie yang sedang mengikuti pendidikan di luar Kabupaten Pidie,” katanya.

Untuk mewujudkan pembangunan, kata bupati, banyak hal yang harus dilakukan dan perlu keterlibatan semua pihak, dan itu hanya dapat berhasil dengan sebuah kebersamaan dalam membangun Pidie.

“Tanpa kebersamaan yang kuat di antara kita, seluruh program yang telah disusun pemerintah tidak dapat berjalan dengan optimal,” ujar Bupati Pidie Sarjani Abdullah. [] (mal)

Baitul Mal Aceh Kembalikan Zakat ke UPZ Rp1,7 Miliar

Baitul Mal Aceh Kembalikan Zakat ke UPZ Rp1,7 Miliar

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh mengembalikan zakat sebanyak Rp1,7 miliar kepada Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang berada pada 26 instansi yang rutin membayar zakat ke Baitul Mal.

“Zakat ini nantinya dibagikan kepada mustahik yang ada di lingkungan instansi yang bersangkutan,” kata Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA di Aula LPTQ, Selasa, 28 Juli 2015.

Katanya, kebijakan ini diatur dalam Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 60 tahun 2008 tentang Mekanisme Pengelolaan Zakat dan SK Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) Baitul Mal Aceh Nomor 03/KPTS/2009. Adapun isinya, bahwa setiap instansi yang menyetor zakat ke Baitul Mal akan dikembalikan sebanyak 17 persen dari dana yang disetor untuk dikelola sendiri dan dibagikan kepada musatahik di sekitarnya.

“17 persen dari besaran dana yang dikembalikan kepada UPZ pada instansi yang bersangkutan yaitu 15 persen untuk dibagikan kepada mustahik,” ujarnya.

Dia menambahkan 2 persen untuk hak amil dari UPZ itu sendiri yang berkerja mengurus pengumpulan zakat.

“Pengembalian ini adalah sebuah kebijakan dan permintaan muzakki agar mustahik di lingkungan zakat itu dipungut dapat tersantuni juga,”kata Armiadi.

Namun katanya, dana pengembalian 17 persen ini yang nantinya dikelola UPZ haruslah disalurkan tepat sasaran. Artinya mustahik yang menerimanya harus sesuai dengan kiriteria yang ditetapkan oleh syar’i. Jika dana zakat ini tidak tepat sasaran maka pengelola tersebut yang akan bertanggungjawab.

“Ada juga instansi yang tak berani mengelola sendiri, mereka khawatir tidak sesuai kriteria yang dibagikan, maka mereka mengembalikan lagi ke Baitul Mal, dan Baitul Mal yang kelola karena memang tugas Baitul Mal,” ujarnya.

Selain itu kata Armiadi, dana ini juga boleh dikembalikan kepada muzakki untuk disalurkan sendiri kepada orang yang layak di sekitar tempat tinggalnya. Namun ia menegaskan jangan disalahpahamikan. Dana ini bukan untuk muzakki tapi untuk disalurkan mustahik.

“Penyalurkan dana tersebut boleh dalam bentuk apapun. Sebagai contoh Dinas Pendidikan misalnya, boleh dalam bentuk beasiswa atau bantuan pendidikan lainnya. Dan untuk tahap pertama ini hanya dikembalikan untuk 26 instansi. Sedangkan untuk instansi yang lain akan dikembalikan pada tahapan selanjutnya,” ujarnya. [] (mal)

Kepala Baitul Mal Aceh Apresiasi Dukungan Unsyiah Soal Zakat

Kepala Baitul Mal Aceh Apresiasi Dukungan Unsyiah Soal Zakat

BANDA ACEH – Kepala Baitul Mal Aceh, Armiadi Musa, mengaku sangat apresiatif semangat dan dukungan Rektor Unsyiah untuk pemungutan zakat di perguruan tinggi tertua di Aceh tersebut.

Armiadi mengatakan untuk setiap instansi yang menyetor zakat ke Baitul Mal. Pihak Baitul Mal juga akan mengembalikan sebanyak 17 persen dari zakat yang disetor tersebut untuk disantuni dan disalurkan kepada mustahik di lingkungan tempat zakat itu dipungut.

“Namun dalam program lain Baitul Mal Aceh juga akan menyalurkan zakat untuk mustahik di sekitar itu. Jadi dimana zakat dipungut, disitu disalurkan,” kata Armiadi saat beraudiensi dari Baitul Mal Aceh di ruang kerjanya, Kamis 23 Juli 2015.

Armiadi menyampaikan bahwa pemungutan zakat di lembaga vertikal dan perguruan tinggi merupakan perintah dari UU nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, UU nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Qanun Aceh nomor 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal, Inpres No.3 Tahun 2014 tentang optimalisasi pengumpulan zakat di kementerian/lembaga, sekretariat jenderal lembaga negara, sekretariat jenderal komisi negara, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah melalui badan amil zakat nasional. Juga  surat Gubernur Aceh No. 451.12/32797 tetang optimalisasi pengumpulan zakat di instansi vertikal.

“Saya berharap Unsyiah bisa menjadi contoh bagi seluruh universitas di seluruh Aceh dalam kesadaran membayar zakat melalui amil. Hal itu sesuai dengan kesepakatan pada hari zakat nasional yang jatuh pada setiap 27 Ramadan yaitu salah satunya berzakat melalui amil,” ujarnya. [] (mal)

 

Unsyiah Setuju Setor Zakat ke Baitul Mal

Unsyiah Setuju Setor Zakat ke Baitul Mal

BANDA ACEH – Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng menyetujui Baitul Mal Aceh memungut zakat dari para pegawai di lingkungan Unsyiah. Peryataan tersebut disampaikannya saat menerima tim audiensi dari Baitul Mal Aceh di ruang kerjanya, Kamis, 23 Juli 2015.

“Selama ini ada beberapa fakultas yang telah memungut dan menyalurkan sendiri zakat, namun kita sadari belum begitu optimal, maka kita sangat mendukung jika Baitul Mal mau memungut zakat di Unsyiah,” ujar Samsul Rizal.

Meskipun begitu, dia meminta nantinya setelah Unsyiah menyetorkan zakat ke Baitul Mal Aceh, ada prioritas untuk mustahik di sekeliling Unsyiah yang perlu disantuni. Sehingga para mustahik yang selama ini disantuni Unsyiah tidak terhenti setelah menyetor zakat ke Baitul Mal Aceh.

“Nantinya kita akan membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ), dan juga akan kita buat Memorandum of Agreement (MoA) dengan Baitul Mal Aceh agar mudah mengintsruksikan ke fakultas-fakultas,” katanya.

Ia juga menyebutkan potensi zakat di lingkungan Unsyiah bisa mencapai Rp 7 miliar apabila mampu dipungut keseluruhannya. “Saya berharap potensi tersebut dapat digarap dengan maksimal oleh Baitul Mal Aceh,” ujarnya.

Hadir pada audiensi tersebut Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA, Kepala Sekretariat, Ramli Daud, SH. MM, Kabid Pengumpulan Jusma Ery S.HI MH, Kabid Perwalian Putra Misbah, S.HI dan para Kasubbid Baitul Mal Aceh. Sedangkan dari pihak Unsyiah turut dihadiri Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr.Ir. Alfiansyah Yulianur, Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Nazamuddin SE MA dan Kepala BKM Unsyiah Prof. Dr. Mustanir Yahya, M.Sc.[](bna)

Baitul Mal Aceh Minta Kajati Bentuk Unit Pengumpulan Zakat

Baitul Mal Aceh Minta Kajati Bentuk Unit Pengumpulan Zakat

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh kembali melakukan audiensi dengan lembaga vertikal yang berada di wilayah provinsi Aceh yaitu Kejaksaan Tinggi (Kejati). Pada kesempatan tersebut Baitul Mal meminta Kejati membentuk Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) di instansi tersebut.

‪Kepala Baitul Mal Aceh, Dr. Armiadi Musa MA mengatakan permintaan pembentukan UPZ ini merupakan tindaklanjut daripada instruksi presiden nomor 3 tahun 2014 tentang optimalisasi pengumpulan zakat di kementerian/lembaga, sekretariat jenderal lembaga negara, sekretariat jenderal komisi negara, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah.

‪“Selama ini juga banyak daripada pegawai yang berkerja di instansi vertikal seperti TNI, polri, dan instansi lainnya bertanya bagaimana mereka membayar zakat sedangkan waktu terima gaji mereka tidak dipotong langsung zakatnya seperti pegawai pemerintah Aceh, maka kedatangan kami juga menyahuti itu,” kata Armiadi, di ruang kerja Kajati Aceh, Senin, 6 Juli 2015.

‪Kedatangan rombongan Baitul Mal Aceh diterima langsung Kajati Aceh, Tarmizi SH, MH dan wakilnya beserta sejumlah pejabat Kejati lainnya. Ia menyambut baik kedantangan para amil zakat yang bertujuan ingin memungut zakat dari muzakki yang ada disana.

‪Meskipun begitu, menurut Tarmizi meminta jangan langsung dibentuk UPZ dan jangan langsung dipotong zakat dari pada muzakki disana, sebab perlu dilakukan sosialisasi terlebih dahulu dan membutuhkan waktu untuk meninjau aturan hukum yang membolehkan pemotongan langsung.

‪“Kita tidak ingin ada protes dari pegawai jika gajinya langsung dipotong, oleh karena itu butuh sosialisasi terlerbih dahulu, biar sementara siapa yang suka rela saja dulu, jangan langsung dipaksakan,” kata Tarmizi kepada rombongan amil dari Baitul Mal Aceh.

‪Pihaknya juga perlu mendalami berapa besaran gaji yang memenuhi nisap yang harus dikeluarkan zakat. Apalagi rata-rata pegawai gajinya ada yang tinggal sedikit karena sudah ambil kredit, sehingga perlu diketahui bagaimana mekanisme penghitungannya.

‪Ia menyebutkan, saat ini pegawai di Kejati Aceh lebih kurang ada 660 orang disana. Namun tidak semuanya mencapai nisab karena ada pegawai yang golongannya masih kecil, namun untuk jaksa rata-rata gajinya besar boleh jadi mereka yang mencapai nisab.

‪Dalam forum tersebut, Tarmizi langsung memerintahkan bawahannya untuk mengagendakan sosialisasi terhadap semua pegawai kejati Aceh. Hal ini dilakukan agar tidak salah faham nanti ketika gajinya mereka dipotong.

‪Terakhir ia juga menyatakan dukungan penuh atas gerakan zakat di Indonesia, khususnya di Aceh, sebab menurutnya potensi zakat di Aceh sangat tinggi, sehingga jika potensi itu dapat terkumpulkan, maka tidak ada lagi yang miskin di Aceh. [] (mal)

Foto: penerima zakat di Leupung, Aceh Besar.@Zahratil Ainiah/portalsatu.com

Baitul Mal Aceh Salurkan Zakat untuk 120 Warga Miskin di Leupung

Baitul Mal Aceh Salurkan Zakat untuk 120 Warga Miskin di Leupung

JANTHO- Pemerintahan Provinsi Aceh melalui Baitul Mal Aceh menyalurkan zakat untuk 120 keluarga miskin yang berada di Kecamatan Leupung, hari ini atau Rabu, 1 Juli 2015, di Masjid Al Ikhlas Leupung, pukul 10.00 WIB.

Rincian dari 120 warga tersebut  adalah 20 orang perwakilan dari tiap-tiap gampong yang berada di Kecamatan Leupung, yaitu Gampoeng Layeun, Pulot, Lamseunia, Meunasah Masjid, Meunasah Bak U, dan Deah Mamplam. Zakat diberikan dalam bentuk dana senilai Rp500 ribu per individu.

Putra Misbah, tim penyaluran zakat wilayah Leupung ke Portalsatu.com, mengatakan penyaluran zakat ini adalah agenda rutin Baitul Mal Aceh tiap tahunnya yang disalurkan dalam bentuk paket Ramadan.

“Di provinsi program ini giliran tiap tahunnya, tahun ini di Aceh Besar terpilih tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Leupung, Peukan Bada, Montasik, Indrapuri, Krung Barona Jaya, Darul Imarah, dan Darussalam,” kata Putra saat di temui Portalsatu.com di Masjid pagi tadi.

Ia melanjutkan, setiap warga yang menerima zakat tersebut adalah perolehan data yang diambil dari data masing-masing gampong yang dikirim ke Baitul Mal, lalu Baitul Mal meng croscek ulang akan kebenaran data.

“Dalam artian ini bukan tidak percaya, tetapi kita harus benar-benar croscek ke lapangan, karena orang yang berhak menerima zakat ini adalah benar-benar yang tergolong dalam asnaf yang delapan, jadi harus diperhatikan,” ujarnya.

Sementara itu, Sayusi, SE selaku Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Leupung, mengatakan sangat berterimakasih khususnya kepada Baitul Mal Aceh dan Pemerintahan Aceh pada umumnya terhadap penyaluran paket Ramadan dan menjelang Idul Fitri ini.

“Walaupun ada keterbatasan, namun Alhamdulillah kita terpilih menjadi bagian dari tujuh kecamatan dari seluruh Kabupaten di Aceh Besar dan di Leupung baru ini pertama kalinya. Oleh karena demikian kita selaku penerima berharap dan berdoa kepada yang memberi zakat melalui badan Baitul Mal Aceh kiranya dipermudahkan rezeki oleh Allah SWT,” katanya.

Dengan harapan kedepan nanti dengan adanya kemudahan rezeki para muzakki kiranya ada peningkatan pada tahun-tahun yang akan datang.

Hal serupa juga disampaikan Siti Hawa, 50 tahun, salah satu janda di Kecamatan Leupung berterimakasih kepada pihak yang telah membantu memberikan kepada mereka zakat berupa dana.

“Syukur Alhamdulillah kami selaku fakir miskin dan istri janda ini kepada Baitul Mal Aceh karena telah menolong kami untuk menyumbangkan dana semoga dapat kami manfaatkan untuk biaya kehidupan pokok selama Ramadan disertai Idul Fitri nanti,” ujarnya. [] (mal)

Foto: penerima zakat foto bersama petugas di Leupung. @ Zahratil Ainiah/portalsatu.com