Tag: bahasa

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang memiliki kosakata lengkap untuk menyebutkan sesuatu. Bahasa Inggris, yang katanya merupakan bahasa untuk komunikasi internasional, juga tak luput dari hal itu. Sebut saja kata soldier, misalnya. Jangan anggap kata ini asli dari bahasa Inggris. Sebenarnya kata tersebut diserap dari bahasa Prancis.

Karena alasan tidak memiliki kosakata yang lengkap itulah setiap bahasa di dunia ini menyerap kosakata dari bahasa lain. Ketika penyerapan terjadi, kata yang diserap itu haruslah disesuaikan penulisannya dengan bahasa yang menyerap kosakata itu. Penyerapan itu salah satunya disebabkan oleh penyesuaian pelafalan bahasa sumber dengan bahasa asal.

Umumnya penyesuaian pelafalan itu telah ditetapkan dalam suatu aturan, tak terkecuali bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia aturan itu disebut Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kosakata dari bahasa asing, salah satunya bahasa Inggris. Cukup banyak kata bahasa Inggris diserap oleh bahasa Indonesia, seperti ambulance dan photocopy. Kedua kata ini ketika digunakan dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan pelafalannya. Penyesuaian ini harus berpedoman pada Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Berdasarkan pedoman itu, ambulance harus ditulis ambulans. Jadi, bukan ambulan seperti yang ditulis oleh sebagian orang selama ini. Kasus yang hampir sama juga terjadi pada kata response. Kata yang juga dari bahasa Inggris ini ketika ditulis dalam bahasa Indonesia haruslah respons, bukan respon.

Photocopy juga harus disesuaikan penulisannya. Kata itu haruslah ditulis fotokopi, bukan photo kopi, photokopy, atau fotocopy. Aturan pengubahannya adalah sebagai berikut. Bila ph di depan vokal o, ph menjadi f, c menjadi k, dan y menjadi i. Ini juga berlaku pada kata-kata bahasa Inggris lainnya seperti phase menjadi fase dan comodity menjadi komoditas. Fotokopi juga tidak ditulis terpisah (foto kopi) karena dari bahasa sumbernya pun tidak mengalami perubahan.

Mari menulis sesuai dengan ejaan yang benar. []

Bahasa dan Penalaran: Makan Daging Ayam daripada Kambing

Bahasa dan Penalaran: Makan Daging Ayam daripada Kambing

Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing. Ini merupakan kalimat yang juga salah nalar. Kesalahan nalar kalimat itu terjadi akibat penghilangan bentuk yang dianggap sama, padahal penghilangan seperti itu justru menimbulkan salah nalar yang cukup besar.

Dalam anggapan sebagian orang, kalimat utuh kalimat tersebut adalah Ia lebih senang makan daging ayam daripada makan daging kambing. Jadi, untuk menghemat kata, kelompok kata makan daging setelah kata daripada dihilangkan saja sehingga menjadi Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing.

Kenyataannya, setelah penghilangan seperti yang disebutkan di atas dilakukan, yang terjadi justru kekacauan kalimat atau kalimat yang tak bernalar. Ini karena kalimat Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing bermakna ia senang makan daging ayam dan kambing pun senang makan daging ayam sebab yang dibandingkan adalah subjek kalimat. Kalimat itu dapat dilengkapi menjadi Ia lebih senang makan daging ayam daripada kambing makan daging ayam. Tentu saja ini tidak benar. Agar bernalar, kalimat tersebut harus disusun menjadi Ia lebih senang makan daging ayam daripada makan daging kambing. Perlu diingat bahwa penghilang makan daging setelah daripada tak dapat dilakukan meski sama dengan kelompok kata sebelum daripada. Ini karena penghilangan itu memunculkan kalimat yang tak bernalar.

Kesalahan penalaran dengan kasus yang sama seperti kasus di atas juga terdapat pada kalimat berikut: Mereka tidak paham dan mengerti keadaan politik dewasa ini. Zainal Arifin dan Farid Hadi dalam bukunya 1001 Kesalahan Berbahasa mengatakan bahwa kesalahan kalimat ini terletak pada kekurangcermatan penyusunan kalimat dalam menggunakan rincian, yaitu tidak paham dan mengerti. Tidak mungkin seseorang yang tidak paham politik dewasa ini sekaligus ia mengerti politik dewasa ini.

Kesalahannya memang pada ketidaksejajaran kata tidak paham dan tidak mengerti. Akan tetapi, jika ingin berbicara tertib, cermat, dan bernalar kita harus lebih berhati-hati dalam mengungkapkan sesuatu. Kita pun tidak mungkin mengatakan Saya tidak senang dan rela pacar diambil orang, bukan? Oleh karena itu, penulisan yang benar untuk kalimat di atas adalah Mereka tidak paham dan tidak mengerti keadaan politik dewasa ini.[]

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Dalam sebuah koran lokal di Aceh yang terbit hari Jumat, 28 Desember 2009 terdapat sebuah penggalan berita yang berbunyi Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob gugur dan lima lainnya luka-luka.

Dari penggalan berita ini, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Pertama, benarkah seorang brimob yang kehilangan nyawanya karena tersengat listrik disebut gugur? Kedua, apakah yang menjadi standar sehingga seseorang yang kehilangan nyawa disebut sebagai gugur, meninggal, mati, wafat, atau mampus? Ketiga, seandainya enam warga tersengat listrik dan dari keenam warga itu satu orang meninggal, apakah kepada mereka juga pantas disebut gugur?

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketika seorang prajurit berjuang mempertahankan negaranya, lalu kehilangan nyawanya, tentu orang ini disebut gugur. Anggapan ini tentu saja terlepas dari niat si prajurit. Apakah ia berjuang untuk membela bangsanya atau untuk disebut sebagai pahlawan, kita tidak tahu. Yang pasti, seseorang yang kehilangan nyawa karena membela negara dikatakan gugur, bukan mati, meninggal, wafat, apalagi mampus.

Lantas, apakah prajurit yang kehilangan nyawa hanya karena tersengat listrik di markasnya dikatakan gugur? Untuk menjawab pertanyaan ini, cermatilah pengertian gugur yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa gugur berarti 1) jatuh sebelum masak (tentang buah-buahan); lahir sebelum waktunya (tentang bayi); runtuh (tentang tanah); 2) batal; tidak jadi; tidak berlaku lagi; 3) mati di pertempuran; 4) kalah; rontok.

Mari kita kaitkan pengertian gugur ini dalam konteks kalimat. Cermatilah kedua kalimat berikut ini!

  1. Dalam peristiwa tembak menembak antara brimob dan komplotan penjahat itu, seorang brimob kehilangan nyawanya.
  2. Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob kehilangan nyawanya dan lima lainnya luka-luka.
  3. Seorang brimob kehilangan nyawanya karena ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

Apakah untuk ketiga kasus ini brimob yang kehilangan nyawanya pantas disebut gugur? Secara semantik dan secara kontekstual hal ini tidak dapat diterima. Pantaskah seorang brimob yang kehilangan nyawanya hanya karena menyeberang jalan disebut gugur? Pantaskah seorang brimob yang tersengat listrik di markasnya disebut gugur?

Dalam ketiga kasus di atas, yang lebih pantas disebut gugur adalah kasus (a). Kasus (b) lebih pantas disebut meninggal, dan kasus (c) juga lebih pantas disebut meninggal. Mengapa demikian? Hal ini tentu saja berkaitan dengan nuansa makna yang dikandung oleh kata gugur, meninggal, dan mampus.

Sebagian Anda tentu beranggapan bahwa orang dapat menggunakan kata apa pun sesuka hatinya. Pemilihan kata tak perlu mengikuti aturan tertentu. Anggapan seperti ini tentu saja keliru. Ini karena bahasa bukan milik pribadi, melainkan milik masyarakat. Artinya, pemakaian bahasa dikontrol oleh masyarakat. Kita tak dapat menggunakan kata dengan “semena-mena”.

Jika tak percaya, silakan umumkan melalui loudspeaker masjid, “Nabi Muhammad sudah lama mampus”. Anda akan melihat reaksi umat Islam yang berang dengan pernyataan itu.

Akhirnya, berhatilah-hatilah dalam berbahasa.[]