Tag: badan dayah

28 Pimpinan Dayah Takengon Ikut Pelatihan Usaha Mandiri

28 Pimpinan Dayah Takengon Ikut Pelatihan Usaha Mandiri

TAKENGON – Badan Dayah Kabupaten Aceh Tengah melatih teungku-teungku dayah untuk mengembangkan wirausaha mandiri. Kegiatan ini diikuti oleh 28 pimpinan pondok pasantren dan dipusatkan di Hotel Penemas, Takengon Kota sejak 28 September 2015 hingga 1 Oktober 2015.

“Dengan adanya usaha mandiri, kiranya setiap dayah itu dapat memenuhi kebutuhan operasionalnya sehari-hari. Tapi dari kita (badan dayah-red) tetap kita bantu untuk penunjang pembangunan dayah” kata Kepala Kantor Pembinaan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Tengah, Amirullah, S,Ag, kepada portalsatu.com di Takengon, Selasa, 29 September 2015.

Pemateri yang dihadirkan dalam kegiatan ini berasal dari kalangan pengusaha, ahli pertanian, peternakan dan pegiat home industry.

Menurutnya dayah di Aceh Tengah memiliki cukup potensi untuk mengembangkan usaha mandiri. Kawasan Aceh Tengah, juga dinilai sebagai daerah yang tepat untuk melakukan pembibitan ternak dan usaha pertanian.

“Potensi inilah yang akan kita manfaatkan nantinya,” katanya.

Untuk mengimplementasikan teori yang telah diberikan kepada setiap perwakilan dayah, pihaknya akan mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menyediakan tanah yang bisa dikelola oleh setiap pasantren secara mandiri.

“Lahan produktif itu nantinya akan dikelola oleh setiap dayah. Dalam wacana kita usulkan dua hektar untuk untuk satu dayah. Mudah-mudahan pemerintah daerah dapat menyetujuinya,” ujarnya.

Amirullah juga mengaku, wacana penyediaan lahan produktif itu disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

“Dalam sambutan pak bupati juga mengarahkan agar dayah itu ada lahan produktif. Ini bukti pemda serius dalam hal pengembangan usaha mandiri oleh dayah,” katanya.[](bna)

Trik Bu Guru Fitri Buat Santri Betah di Dayah

Trik Bu Guru Fitri Buat Santri Betah di Dayah

REDELONG – Fitriana, 24 tahun, adalah salah satu guru di Dayah Terpadu Bustanul Arifin di Bener Meriah. Anak bungsu dari empat bersaudara ini sudah menjadi guru sejak akhir 2012.

Fitriana adalah alumnus Fakultas Tarbiyah Jurusan Bimbingan Konseling, UIN Ar Raniry Banda Aceh.

“Saya tamat 2013. Tapi sudah ngajar di sini sejak akhir 2012. Selain sebagai bimpen juga bertugas sebagai bendahara dan tata usaha,” kata gadis yang akrab dipanggil Fitri ini, Rabu, 26 Agustus 2015.

Fitri yang tinggal di Pondok Sayur dan masih single ini kerap menghadapi santri yang kurang betah. Khususnya yang masih baru.

“Santri baru yang belum satu bulan belum boleh pulang. Jadi mereka kerap rindu orangtua,” kata Fitri.

Untuk mengatasi hal itu, menurut Fitri biasanya akan memberi nasehat dan mengajak santri untuk terlibat dalam kegiatan berkesenian dan lainnya.[] (ihn)

Abuya Syarkawi: Aroma Dayah Dapat Membenahi Bangsa

Abuya Syarkawi: Aroma Dayah Dapat Membenahi Bangsa

REDELONG – Kepala Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah (BPPD), Bustami Usman, menghadiri milad ke-15 Dayah Terpadu Bustanul Arifin, Rabu, 26 Agustus 2015. Dayah yang terletak di Bener Meriah ini sudah memiliki ribuan el-bustany (santri) dan ratusan alumni yang sudah tersebar di berbagai dunia.

“Jadi, dayah ini sudah mendunia,” kata Bustami Usman kepada portalsatu.com.

Dayah Terpadu Bustanil Arifin menurut pimpinannya, Tengku Syarqawi Abd. Samad, didirikan pada 3 Agustus 2000 lalu. “Kami berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan tenaga pengajar di dayah ini,” kata Abuya Tgk Syarkawi.

Abuya juga mengajak dukungan semua pihak, termasuk dukungan kritik. “Demi masa depan dayah, kami mohon dukungan semua pihak agar kekurangan dan kelemahan dapat diperbaiki. Aroma dayah dapat memperbaiki keadaan bangsa” kata Abuya Syarkawi.

Dalam catatan BPPD Aceh, awalnya Dayah Bustanul Arifin hanya memberikan pendidikan kitab klasik secara non-formal. Tahun 2001 dan tahun 2004 baru dilakukan pengembangan. Kini, dayah ini sudah memiliki Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Tahun 2005 MTs dan MA berubah menjadi SMP dan SMA Terpadu Bustanul Arifin. Tahun 2011 dijajaki pendirian perguruan tinggi. Sedangkan pada 3 April 2013, Dayah Bustanul Arifin disetujui menggelola Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bustanul Arifin Prodi Bahasa Arab dengan SK Dirjend Pendis Nomor 779 Tahun 2013.

Dayah Bustanul Arifin awalnya berdiri di areal 1,5 Ha di Pondok Sayur (Kompleks Putri Sekarang). Pada 2012, sudah ada kompleks baru dengan luas areal tanah 6,5 Ha.

Dayah Bustanul Arifin memiliki tiga program unggulan; takhassus kutub turats, tahfidz al-qur’an dan reguler memiliki visi “Membentuk Generasi Sholeh dan Akram.” Di Dayah Terpadu Bustanil Arifin terdapat beberapa kitab yang dipelajari, diantaranya Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Ilmu Tafsir, Mukhtarul Ahadits, Bulughul Maram, Hadits Arba’in, Matan Taqrib, Al Bajuri, Minhajul Muslim, Fiqhus Sunnah, I’anattut Thalibin, dan Al Aq idah Islamiyah.

Selain itu juga terdapat kitab Tijanu Al darari, Kifayatul Awam, Mabadi Awaliyah, Taisiril Akhlak, Ta’lim Muta’alim, Husunul Hamidiyah, As-sulam, Qawa’idul Lughah, Muhtasar Ihya’ Ulumuddin, Khulasatul Nurul Yakin, Nurul Yaqin, Rahmatul Ummah, Bidayatul Mujtahid, Tarekh Tasyrik, Mustalah Hadits, Ilmu Tfsir Assuyuti, Lighatut Tayatub, Kitabul Tasrib, Al fiyah Ibnu Akil, Jawahirul Maknun, dan lain-lain.

Lia, Fitriani dan Eva Suriani yang ditemui mengatakan saat ini ada 400 santri putra dan 700 santri putri yang sedang menuntut ilmu di Bustanul Arifin yang dipimpin oleh Abuya Tgk Syarkawi Abd. Shamad.

“Ya, kami bertiga guru disini. Sudah sejak 2007 kami mengajar disini,” kata Lia, guru bahasa Indonesia yang dibenarkan rekannya sesama guru.

Sementara Munadi, 41 tahun, orangtua murid dari dua anak di Dayah Bustanul Arifin mengatakan memilih memberi pendidikan agama di dayah kepada anaknya sebagai bekal penyeimbang dalam kehidupan anak-anaknya. “Tanpa bekal agama saya khawatir masa depan anak-anak saya,” kata Munadi yang tinggal di Gayo Setia, Kecamatan Gajah Putih.[](bna)

Ada Stand Up Comedy di Milad Bustanul Arifin

Ada Stand Up Comedy di Milad Bustanul Arifin

REDELONG – Milad ke 15 Dayah Terpadu Bustanul Arifin yang dipusatkan di Bale Atu, Bukit, Bener Meriah, ikut diisi stand up comedy oleh santri bernama Dedy, Rabu, 26 Agustus 2015.

“Dedy dikasih tema hidup sehat. Jadilah Dedy rajin olah raga. Termasuk renang. Dedy jadi tahu banyak gaya renang. Mulai gaya bebas sampai gaya pergaulan bebas,” kata Dedy disambut ketawa hadirin.

Selain stand up comedy, milad dayah juga diisi penampilan didong oleh group The Fox Bujang Busfin.

“Kami ada 12 orang. Semua dari kelas 3 SMP. Dua hari ini kami sudah giat berlatih dibawah bimbingan Bang Fadli,” kata Angga To Weren yang bertindak sebagai syech.

Selain itu milad dayah ini juga disemarakkan dengan penampilan puisi tunggal dan group, drama, nasyid. Kegiatan ini juga turut menampilkan tausiah agama dengan tema Kebangkitan Agama, Pendidikan dan Bangsa yang disampaikan oleh Tengku Husaini Sasa, Sysy.[](bna)

Pemerintah Aceh Komit Dukung Dayah

Pemerintah Aceh Komit Dukung Dayah

REDELONG – Kepala Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, Bustami Usman, mewakili Gubernur Aceh, menghadiri Milad Dayah Terpadu Bustanul Arifin ke-16 di Bale Atu, Bukit, Bener Meriah, Rabu, 26 Agustus 2015.

Dalam sambutannya mewakili Gubernur Aceh, Kepala BPPD Aceh itu mengatakan akan terus memperbaharui komitmen pembinaan dan pendidikan dayah di Aceh. Menurut Bustami Usman, saat ini keluarga di Aceh semakin mempercayai dayah sebagai tempat pendidikan bagi putra putri mereka.

Di dayah, anak-anak sudah pasti ada kegiatan shalat lima waktunya. Mereka dikawal oleh pihak guru 24 jam sehingga terbebas dari serbuan kejahatan narkoba. Manajemen dayah juga makin baik dari waktu ke waktu. Silabus dayah juga makin disempurnakan dengan melibatkan ulama-ulama besar di Aceh.

“Bahkan ada dayah yang sudah memiliki dukungan radio. Jadi, jangkauan pendidikan agama makin meluas,” kata Bustami Usman.

Pemerintah Aceh, menurut Bustami Usman, terus mencermati kecenderungan positif ini dan akan terus berusaha agar anggaran untuk dayah meningkat.

“Kita harap anggaran untuk dayah dapat mencapai 700 milyar setiap tahun,” kata Bustami Usman usai acara.

Selama ini, tambah Bustami Usman dukungan untuk dayah sudah diberikan dalam berbagai bentuk, mulai untuk infrastrukur, sarana dan prasarana, juga untuk mendukung para guru di dayah.

“Intensif untuk guru di dayah, dari 1,5 juta sudah menjadi 3 juta pertahun. Ini untuk 13.000 guru dayah,” kata Bustami Usman. Bustami Usman yakin, masa depan Aceh akan bagus sebab dari dayah generasi muda akan menjadi pemimpin yang baik di masa depan.[](bna)

Foto: Pesona Indah di Dayah Gurah

Foto: Pesona Indah di Dayah Gurah

ANGIN sepoi-sepoi di bawah teriknya matahari langsung terasa saat memasuki perkarangan dayah yang terletak di kaki gunung kawasan Peukan Bada, Aceh Besar. Berdiri sejak tahun 1988, dayah ini bernama Babussa’adah. Akan tetapi masyarakat setempat kerap menyebutnya Dayah Gurah lantaran berada di Desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada. (Baca: Mengenal Dayah Gurah Peukan Bada)dayah gurah1 dayah gurah dayah gurah3 dayah gurah2

Dayah Diminta Jemput Bola

Dayah Diminta Jemput Bola

BANDA ACEH- Kepala Badan Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Bustami Usman, mengatakan santri dayah tidak boleh bersikap ekslusif dan harus membuka diri terhadap lingkungannya. Hal ini penting untuk membentuk citra positif bagi institusi dayah itu sendiri.

“Malahan dayah harus menjemput bola, artinya pimpinan dayah atau teungku-teungku alangkah baiknya harus ada program mengajar mengaji di tengah-tengah masyarakat atau di meunasah dan masjid yang ada disekitar dayah,” katanya kepada portalsatu.com kemarin, Rabu, 1 Juli 2015.

Dengan sikap terbuka ini katanya, akan memberikan nilai tambah bagi lembaga dayah itu sendiri, seiring dengan terpublikasikannya kegiatan-kegiatan yang ada di dayah.

“Kami juga sudah pernah menyampaikan pada pertemuan saat waktu pelatihan tentang hubungan dayah dengan masyarakat supaya dayah tidak boleh eksklusif, tetapi hal ini belum tersampaikan atau dipahami betul oleh semua dayah,” ujar Bustami.[] (ihn)

Melihat Aktivitas Sulok di Dayah Salafi Darussaadah Lhok Nibong

Melihat Aktivitas Sulok di Dayah Salafi Darussaadah Lhok Nibong

IDI RAYEUK – Dayah Darussa’adah Matang Peureulak, Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari Aceh Timur, merupakan salah satu dayah salafi yang kerap dipilih warga untuk melakukan ibadah suluk atau sulok ketika Ramadan tiba.

Bulan Ramadan ini misalnya, ada sekitar 600 orang yang melakukan suluk di dayah ini. Mayoritas jamaah suluk merupakan ibu-ibu yang umumnya berusia di atas 50 tahun. Suluk merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan sepanjang bulan Ramadan.

Dayah ini dipimpin oleh seorang ulama kharismatik Aceh yaitu Teungku H. Abdul Wahab, atau akrab disapa Abu Wahab Matang Peureulak.

“Yang paling banyak jamaah sulok ya Ramadan ini dengan jumlah lebih kurang 600 jamaah,” ujar salah satu jamaah sulok kepada portalsatu.com sore kemarin, Senin, 29 Juni 2015.

Pantuan portalsatu.com kemarin, begitu menjelang sore dayah menjadi lebih ramai karena dikunjungi oleh sanak keluarga jamaah yang datang menjenguk keluarganya. Untuk menjaga ketertiban pengunjung, pihak dayah membentuk panitia khusus yang berjaga di pintu gerbang dayah.

Para pengunjung ada yang datang hanya untuk menjenguk saja, ada juga yang datang untuk mengantarkan makanan berbuka bagi keluarganya. Sementara jamaah sulok sendiri mendiami balai-balai yang terdapat di dayah. Tak hanya sulok, ada juga jamaah yang melakukan ibadah kaluet.

Informasi yang dihimpun portalsatu.com, para jamaah yang sedang melakukan sulok dilarang mengonsumsi makanan yang berdarah seperti daging atau ikan. Para jamaah biasanya hanya mengonsumsi nasi dengan sayuran dan lauk yang tidak berdarah.

Selama melakukan ritual ini, para jamaah menempati kelambu yang sudah dipasang di setiap balai. Satu jamaah menempati satu kelambu agar ibadah yang dijalaninya bisa khusyuk. Di dayah ini, kegiatan sulok dimulai sejak hari pertama puasa dan berakhir pada hari raya nanti.

Meski berada di Aceh Timur, jamaah yang melakukan suluk did ayah ini berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Utara, Trieng Gadeng Pidie Jaya, Langsa, hingga Kuala Simpang Aceh Tamiang. Untuk jamaah yang dari luar daerah bisa memasak sendiri karena pihak dayah juga menyediakan tempat khusus untuk memasak. Kerinduan pada keluarga juga kerap dirasakan para jamaah.

Oh watee lagee nyoe keuh lon tingat u rumoh, tingat keu aneuk (kalau sedang beginilah saya teringat rumah, teringat anak),” ujar salah seorang jamaah, Jamaliah, 60 tahun, asal Geudong, Aceh Utara.

Namun kerinduan itu sirna mana kala para jamaah berkumpul untuk berbuka bersama.[] (ihn)

Dua Daerah Ini Punya Dayah Tipe A Terbanyak di Aceh

Dua Daerah Ini Punya Dayah Tipe A Terbanyak di Aceh

BANDA ACEH – Dua kabupaten di Aceh yaitu Pidie Jaya dan Bireuen termasuk dua daerah yang memiliki dayah tipe A terbanyak di Provinsi Aceh. Ini berdasarkan jumlah yang terdata di Badan Pendidikan dan Pembinaan Dayah Provinsi Aceh.

Kabid Data dan Program Badan Pendidikan dan Pembinaan Dayah Provinsi Aceh, Syamsul Bahri, mengatakan Pidie Jaya dan Bireuen masing-masing memiliki delapan dayah, diikuti Aceh Besar enam dayah dan Aceh Utara lima dayah.

Berikutnya di Aceh Timur dan Aceh Tenggara masing-masing terdapat tiga dayah, Aceh Selatan dan Aceh Singkil masing-masing dua dayah, serta Aceh Tamiang dan Aceh Jaya masing-masing satu dayah. Dayah-dayah yang disebutkan di atas tergolong dalam kategori tipe A.

“Dayah-dayah yang terdapat di daerah tersebut adalah sebagian besarnya dayah-dayah besar di Aceh,” katanya kepada portalsatu.com di ruang kerjanya pagi tadi, Senin, 29 Juni 2015.

Syamsul mencontohkan, dayah-dayah besar tersebut adalah Dayah Al-Furqan, Dayah Jeumala Amal, dan Dayah Darul Munawwarah Putra Putri yang terdapat di Pidie Jaya.

Sementara di Bireun ada Dayah Al Madinatut Diniyyah, Dayah Babussalam Putra Putri, Dayah Al Aziziyah dan Dayah Ummu Aiman. Serta Dayah Ulumuddin, Dayah Modern Yapena (terpadu) yang terdapat di Lhokseumawe.

“Dayah-dayah yang saya sebutkan tersebut, sebagian besarnya adalah dayah-dayah besar di Aceh,” ujarnya.[] (ihn)

Foto: Aktivitas di Dayah Rahmatul Huda di Lhoksukon, Aceh Utara @portalsatu.com/Zulkifli Anwar

Ada 1.055 Dayah yang Tersebar di Seluruh Aceh

Ada 1.055 Dayah yang Tersebar di Seluruh Aceh

BANDA ACEH – Kepala Bidang Data dan Program Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Syamsul Bahri, mengatakan secara keseluruhan ada 1.055 dayah di Aceh. Dari jumlah itu 482 di antaranya merupakan dayah bertipe dan 573 merupakan dayah non tipe.

Untuk dayah bertipe katanya, terdiri dari 371 dayah salafi dan 111 dayah terpadu. Sementara yang non tipe terdiri dari 552 dayah salafi dan 21 dayah terpadu.

“Ada dayah yang tergolong dalam beberapa tipe, tipa A ini sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang diterapkan dari Badan Dayah, sementara yang belum memenuhi kriteria digolongkan dalam non tipe,” katanya kepada portalsatu.com di ruang kerjanya pagi tadi, Senin, 29 Juni 2015.

Ia mengatakan ada dayah yang golongan non tipe atau golongan D, karena dayah tersebut tidak memenuhi persyaratan. Misalnya jumlah santri yang ada did ayah itu tidak sesuai kriteria yang ditetapkan Badan Dayah.

Jika dayah telah memiliki akte katanya, maka dayah tersebut bisa digolongkan sebagai tipe A. Sementara dayah non tipe umumnya merupakan dayah yang dikelola secara pribadi dan susah untuk disalurkan dana.

“Sekarang masih banyak juga dayah yang belum memenuhi kriteria dari Badan Dayah, artinya dayah-dayah non tipe ini nantinya akan diberi binaan dan inilah tugas Badan Dayah untuk membina dayah yang masih tergolong non tipe,” ujarnya.

Apalagi jika dayah itu milik pribadi, secara structural agak lemah dan jika pemimpinnya meninggal dunia otomatis santri pun bubar.

“Nah di sinilah tugas kami dari Badan Dayah untuk membina dayah-dayah ini agar menjadi yayasan,” katanya.

Syamsul melanjutkan mengenai akreditasi dayah, selama ini belum ada dayah yang terakreditasi resmi dari Kementrian Agama (Kemenag). Melainkan ada beberapa dayah yang memiliki Ma’had Ali, seperti Dayah Mudi Mesra, Abu Tanoh Mirah dan Dayah Darussalam di Labuhan Haji.

“Akreditasi dayah ada, tetapi akreditasi versi Badan Dayah yang telah mencukupi semua kriteria, sementara dari Kementerian Agama belum ada, kemarin juga pernah mengurus surat izin operasional agar beberapa dayah yang sudah memenuhi syarat agar diakui dengan akreditasi, tetapi belum berhasil,” katanya.[] (ihn)